Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?

Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?

Mengapa Sapi Tidak Birahi

Sapi Birahi
Sapi Birahi

Di pedesaan, pada peternakan rakyat sering kali dijumpai kasus-kasus gangguan reproduksi, hal ini tentunya sangat meresahkan para peternak, karena sapi betina yang dipelihara terus membutuhkan biaya pakan dan pemeliharaan, namun tak kunjung bunting dan beranak sebagai keuntungan utama peternak. Umumnya kasus yang terjadi adalah sapi sapi indukan atau dara (belum pernah melahirkan) tidak kunjung menunjukkan gejala birahi / brai / bengah, sehingga tidak dapat dikawinkan baik menggunakan metode kawin suntik maupun kawin alam.

Apa sih Tanda-tanda Sapi Birahi?

Tanda-tanda sapi birahi biasa disingkat dengan 3A (Abang-Aboh-Anget / Alat kelamin luar merah, bengkak dan hangat), 2B (Bengah-Bengah / teriak-teriak), 2C (Clingak-Clinguk / Gelisah dan menaiki atau dinaiki sapi lain), dan 1D (Dlewer / keluar lendir kental trasparan dari kelamin).Meski tidak kesemua tanda terlihat jelas, gejala birahi tersebut sangat khas pada sapi betina yang telah mengalami pubertas dan sehat, lain hal nya dengan ternak yang mengalami gangguan reproduksi seperti hipofungsi ovarium, tidak satupun tanda birahi diatas terlihat, bahkan hingga berbulan bulan atau bertahun tahun, dimana semestinya birahi terus berulang 21 hari sekali setiap periodenya, jika ternak tidak bunting.

Postur indukan yang baik - siap dikawinkan
Postur indukan yang baik – siap dikawinkan

Tidak terjadinya siklus reproduksi normal pada ternak, yang disebabkan karena kegagalan atau insufisiensi produksi hormon gonadotropin yang berdampak pada tidak optimalnya atau bahkan kegagalan folliculogenesis (pembentukan folikel) di dalam ovarium / indung telur.

Karena di dalam ovarium tidak terbentuk folikel yang mengandung sel telur, hormon-hormon yang berasal dari ovarium pun tidak dapat diproduksi, seperti esterogen dan progesterone, sehingga hewan tidak mengalami gejala birahi.

Etiologi Hipofungsi ovarium

Hipofungsi ovarium, biasanya terjadi pada sapi perah dengan produksi tinggi, indukan yang baru pertama kali beranak, dan sapi yang masih menyusui pedetnya. Ada beberapa factor yang menyebabkan kondisi ini:

  • Defisiensi nutrisi yang menyebabkan hipofungsi (penurunan kinerja) organ;
  • Efek musim dan suhu lingkungan yang ekstrim;
  • Masalah genetik dengan lamanya rekondisi fungsi ovarium pasca beranak;
  • Respon suckling / menyusui (endocrine feedback reaction).Aktifitas menyusui akan menstimulasi sekresi hormon prolactin, yang menyebabkan perpanjangan masa unoestrous (tidak birahi) pasca melahirkan. Prolactin dapat mengurangi sensitifitas ovarium khususnya pada tingkatan kadar hormon-hormon pemicu birahi

Dampak produksi tinggi sapi perah terhadap hipofungsi ovarium, masih menjadi perdebatan, beberapa peneliti melaporkan terjadinya efek yang signifikan dan berpengaruh langsung, akan tetapi beberapa peneliti lainnya menyatakan bahwa produksi susu yang tinggi tidak memiliki pengaruh langsung terhadap fungsi ovarium, hanya saja keadaan ini akan menyebabkan penurunan berat badan dan defisiensi nutrisi yang menyebabkan terjadinya penurunan fungsi indung telur.

Defisiensi nutrisi karena gangguan metabolisme atau kurang pakan
Defisiensi nutrisi karena gangguan metabolisme atau kurang pakan

Kekurangan energi merupakan hal yang penting, terutama jika menyebabkan penurunan berat badan yang drastis, hal ini biasanya terjadi pada sapi dara yang baru pertama kali melahirkan dimana fisiknya masih dalam keadaan bertumbuh. Terlebih jika sapi setiap harinya hanya menkonsumsi jerami padi, sebagai limbah pertanian dari sawah peternak, tanpa selingan pakan tinggi protein seperti konsentrat, penurunan bobot badan drastis setelah melahirkan rawan terjadi, bahkan saat kebuntingan trakhir pun hewan dalam kondisi berat badan kurang dari standar, sedang kebutuhan energi sangat besar untuk penopang kehidupan janin dan sapi itu sendiri.

Defisiensi mineral seperti pospor, copper, cobalt, magnesium, serta asupan fito-esterogen (tanaman yang memiliki kandungan kimia mirip hormon reproduksi) dapat menginisiasi terjadinya hipofungsi ovarium. Disamping itu gangguan metabolism yang parah seperti ketosis juga menyebabkan gejala serupa.

Gejala Klinis Hipofungsi Ovarium

  • Hewan tidak menunjukkan gejala birahi baik itu dara maupun indukan (dapat terjadi selama beberapa siklus).
  • Pada pemeriksaan palpasi rektal yang dilakukan dokter hewan atau petugaskesehatan hewan, ovarium teraba kecil, rata dan halus, khususnya pada dara, folikel masih premature sebesar 1.5cm; tidak teraba adanya corpus luteum baik yang sedang berkembang maupun regresi; pada sapi indukkan, terkadang ovarium teraba dengan bentuk yang tidak beraturan karena adanya sisa korpus luteum dan korpus albican yang telah lama teregresi sehingga terkadang rancu untuk membedakannya dengan folikel yang baru berkembang

Untuk meneguhkan diagnosis, pemeriksaan kedua dapat dilakukan pada hari ke 10 setelah pemeriksaan pertama, jika ovarium tersebut hipofungsi maka tidak aka nada perubahan yang terjadi dari pemeriksaan pertama, namun jika ovarium tersebut normal, maka akan terbentuk corpus luteum.

Terapi Siklus Birahi Sapi

Perbaikan pakan dan nutrisi harus dilakukan, khususnya peningkatan asupan energi, untuk rekondisi berat badan ternak dan menjaga kestabilan metabolism tubuhnya.

Stimulasi aktivitas ovarium dapat dilakukan dengan menginduksi pertumbahan folikel dan siklus birahi normal menggunakan obat-obatan hormonal berdasarkan dari pemeriksaan dokter hewan sebelumnya. Pengobatan ini juga akan mengakibatkan terjadinya superovulasi, karena itu pada birahi pertama yang terjadi setelah pengobatan tidak disarankan untuk mengawinkan ternak tersebut.

 

Literatur: Arthur GH, dkk. 1989. Veterinary Reproduction and Obstetric 6th Edition. Bailliere Tindal: London

 

8 Hal Menarik Tentang Reproduksi Kelinci

8 Hal Menarik Tentang Reproduksi Kelinci

Cara Memelihara Kelinci

Beternak kelinciBeternak kelinci bukan merupakan hal umum disekitar kita. Akhir-akhir ini animo masyarakat untuk memelihara kelinci mulai meningkat, mulai dari kelinci hias, hingga kelinci yang sengaja digemukkan untuk konsumsi. Berbagai jenis kelinci mulai dikembangkan, dengan sifat-sifat yang diinginkan konsumen, kebutuhan kelinci dipasaran pun semakin meningkat.

Jika anda tertarik untuk beternak kelinci, khususnya dibidang pembibitan, anda harus mempelajari hal-hal penting perihal reproduksinya. Beberapa ulasan dibawah ini adalah penjelasan singkat mengenai point-point utama manajemen reproduksi kelinci yang patut anda perhatikan.

1. Ciri – ciri kelinci birahi dan perkawinan yang sukses

Kelinci akan menunjukan gejala birahi ketika mencapai usia puber. Jenis kelinci kecil betina akan mengalami fase birahi ketika berusia 4-5 bulan sedangkan pada kelinci ras besar akan birahi pada usia 9-11 bulan. Kelinci yang birahi atau masuk masa kawin akan menunjukan tanda-tanda seperti gelisah, terdengar sangat ribut, menggerutu, dan juga akan menepuk-nepukan kakinya, untuk menarik perhatian kelinci jantan. Setelah pejantan mendekati betina maka akan terjadi perkawinan, berakhirnya perkawinan ditandai dengan pejantan jatuh ke samping betina, setelah itu akan terjadi pembuahan padar rahim kelinci betina, dan berlanjut ke fase kebuntingan.

2. Masa kebuntingan kelinci

Kelinci memiliki masa kebuntingan yang relatif lebih singkat dibandingkan hewan mamalia peliharaan lain seperti kucing dan anjing. Masa kebuntingan kelinci rata-rata adalah 29 – 35 hari dengan masa kebuntingan rata-rata 32 hari, jumlah anak yang dilahirkan relatif banyak, sekitar 4-12 anak kelinci dalam sekali periode melahirkan.

cara memelihara kelinciUntuk memastikan seekor kelinci hamil atau tidak disarankan untuk memeriksakan kelinci ke dokter hewan 2 minggu pasca perkawinan. Pada usia kebuntingan 2 minggu, kantung amnion pada janin akan terbentuk. Pada usia kebuntingan 4 minggu, tengkorak dan tubuh janin sudah tumbuh dengan sempurna. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan USG (Ulta Sono Graphy)

3. Kelinci akan membuat liang dan sarang untuk anaknya

Menjelang hari kelahiran seekor keinci akan membuat liang-liang didalam tanah sebagai sarang anak yang akan dilahirkan. Kelinci juga akan mengumpulkan benda-benda seperti ranting ataupun bulu badan nya untuk membuat sarang. Beberapa jenis kelinci peliharaan biasanya dibuatkan tempat khusus  (nest box) yang tertutup sebagai tempat berlindung anak kelinci yang akan dilahirkan, selain itu dibutuhkan jerami-jerami kering untuk membuat sarang.

4. Kebiasaan kelinci mencabut rambut pada bagian perut

Kelinci memiliki kebiasaan unik mencabuti rambut yang berada disekitar perut ketika akan melahirkan dan setelah melahirkan, tujuan nya adalah untuk membuat bagian puting susu tidak terlalu banyak bulu yang mengumpul sehinga menyulitkan anak kelinci untuk menyusu. Rambut kelinci juga akan dikumpulkan oleh induk kelinci untuk membuat sarang dan menghangatkan anak-anak mereka dari cuaca lingkungan yang tidak bersahabat

5. Kelinci betina sangat agresif dan mudah stress

Menjelang hari kelahiran kelinci akan sangat mudah sekali stress sehingga, kelinci yang hamil sebaiknya dipisahkan dengan pejantan, karena apabila dibiarkan maka kelinci betina akan bertindak sangat agresif. Suasana yang tenang juga dibutuhkan oleh betina yang akan melahirkan oleh sebab itu ketika kelinci pada hari prediksi lahir, interaksi kelinci dengan manusia harus dikurangi, begitu pun ketika anak kelinci lahir. Hal ini sangatlah penting, karena berbeda dengan kucing peliharaan, kelinci yang stress akan  bersifat kanibal memakan anak yang dilahirkan

6. Tanda anak kelinci sudah lahir

Masa kebuntingan kelinciHal yang dapat menjadi pertanda bahwa kelinci sudah lahir adalah kondisi liang yang dibuat oleh induk kelinci, induk kelinci akan menutup liang dengan jerami ataupun ranting pepohonan apabila ada anak kelinci didalamnya. Di alam tujuan menutup liang adalah untuk memanipulasi agar predator tidak dapat menemukan sarang kelinci. Ketika induk akan memasuki sarang maka liang akan dibuka kembali dan akan ditutup kembali ketika induk pergi

 

7. Kapan induk kelinci menyusui anaknya?

Kelinci hanya menyusui anaknya satu kali sehari, sehingga terkadang ketika kita memiliki kelinci dan mengetahui bahwa kelinci sudah melahirkan kita tidak melihat anak kelinci yang disusui. Induk akan menyusui kelinci waktu pagi hari (subuh) dan kembali beraktifitas seperti biasa diwaktu siang hari

8. Umur anak kelinci keluar dari liang

Pada usia 2 minggu anak – anak kelinci akan mulai keluar dari liang yang dibuat oleh induk, di usia tersebut anak kelinci mulai belajar makan rumput atau sayuran

 

 

Mengenal 4 Spesies Macaca – Monyet Asli Bumi Pertiwi

Mengenal 4 Spesies Macaca – Monyet Asli Bumi Pertiwi

Macaca Monyet Asli Indonesia

Indonesia terkenal akan keindahan alamnya, dan pasti berbagai jenis flora dan fauna yang ada di bumi pertiwi ini. Termasuk macaca, terdapat 12 macam spesies macaca di Indonesia. Beberapa spesies bahkan terancam punah maka dari itu sudah tugas kita untuk menjaga spesies tersebut tetap ada di muka bumi ini. Berikut 4 spesies diantara 12 spesies macaca yang ada di Indonesia,

Macaca fascicularis

Macaca fascicularis atau yang kita kenal dengan monyet ekor panjang. Monyet ini banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia, bahkan beberapa orang menggantungkan hidup dengan memanfaatkan monyet ini sebagai topeng monyet. Monyet ekor panjang tersebar hampir diseluruh daerah di Indonesia dan Asia Tenggara.

Ciri fisik monyet ini dapat dilihat dari ekornya yang panjang sehingga monyet ini dinamai pula monyet ekor panjang, seluruh tubuhnya ditutupi bulu berwarna keabuan hingga coklat kehitaman. Monyet ini aktif pada siang hari dan menghabiskan waktunya diatas pohon. mereka hidup secara berkelompok, betina bunting selama + 6 bulan,dan biasanya mereka melahirkan hanya satu ekor anak dalam sekali kebuntingan.

Habitat primate berekor panjang ini adalah hutan hujan tropis, dan seringkali ditemukan di dekat hutan sekunder yang berbatasan dengan penduduk karena kemudahan dalam mendapat makanan. M. fasicularis biasanya mengkonsumsi buah-buahan, dan serangga. Kesehariannya banyak dihabiskan untuk menjelajah, bersosialisasi dan mencari makan. Macaca fasicularis dapat hidup selama 31 tahun. Adapun status konservasi monyet ini adalah tidak dilindungi.

Macaca nigra

Macaca nigra atau yang kita kenal dengan nama Yaki merupakan satwa endemik Sulawesi. Sekujur tubuh yaki dipenuhi oleh bulu hitam, kecuali pada daerah punggung dan selangkangan yang berwarna agak terang serta daerah sekitar pantat yang berwarna kemerahan. Yaki memiliki ekor yang sangat pendek dan jambul dikepala. Yaki adalah satwa yang aktif di siang hari dan dominan berada di atas pohon. 60% makanannyaadalah buah-buahan tetapi ia juga makan serangga, daun, biji, dan vertebrata kecil.

Habitat yaki adalah hutan primer. Ia hidup berkelompok. Masa kebuntingannormanya adalah + 6 bulan, yaki betina biasanya melahirkan anakkembali dengan selang waktu 18 bulan. Yaki tidak mengenal musim kawin, ia dapat kawin sepanjang tahun.

Banyaknya perburuhan liar terhadap satwa ini menyebabkan populasinya terus turun daru tahun ke tahun makadari itu primataasli Sulawesi ini termasuk dalam satwa dengan status hampir punah (endangered) menurut IUCN. Selainitujugatermasuk dalam CITES Apendix II.

Yaki berperan dalam pelestarian ekosistem hutan, ia menyebarkan biji buah buahan di hutan yang sangat penting untuk menjaga regenerasi hutan.Ancaman populasi yaki adalah hilangnya habitat, perburuhan untuk diambil dagingnya dan perdagangan satwa ilegal. Yaki termasuk satwa paling terancam di Sulawesi.

Macaca nemestrina

Macaca nemestrina atau yang akrab kita sapa dengan sebutan beruk. Di Indonesia beruk dapat di jumpai di Kalimantan dan Sumatra.Karena ekornya yang pendek maka hewan ini disebut juga pig tailed macaque. Beruk termasuk satwa terestrial meskipun sesekali ia beraktivitas di kanopi pohon. Beruk beraktivitas di siang hari. Makanan beruk kebanyakan buah dan serangga. Beruk mampu hidup selama 26 tahun. Beruk betina lebih kecil dari beruk jantan, Berwarna coklat keemasan dengan bagian punggung berwarna kehitaman. Ekor monyet ini lebih pendek dari panjang badannya.

Jumlah beruk di alam dipercaya mengalami penurunan sebanyak 30% dalam 30-36 tahun belakangan, akibat perburuhan dan hilangnya habitat. Beruk masuk dalam IUCN red List dan Cites Apendix II. Di Sumatra hewan ini diburu untuk dilatih memanjat kelapa. Status konservasi monyet ini adalah terancam.

Macaca pagensis

Macaca pagensis atau ΓÇ£beruk mentawai: menurut IUCN Redlist berstatus Critically Endangered tingkatan terakhir sebelum punah. Dari namanya beruk ini merupakan satwa endemik Pulau Mentawai. Beruk mentawai oleh masyarakat lokal disebut pula bokoi. Ciri fisik M. pagensis sama seperti beruk lain perbedaanya pada rambut bagian pipi yang berwarna lebih gelap. Kulit wajah beruk mentawai berwarna hitam dengan mata coklat. Seperti monyet lain monyet ini memiliki kantong pipi yang berguna untuk menyimpan makanan.Berukmenawai merupakan satwa diurnal, beraktivitas di siang hari dengan memakan berbagai jenis daun, buah, bunga dan biji-bijian.

Habitat bokoi hanya tersebar di 3 pulau di kepulauan mentawai ( Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan). Bokoi memilih hidup di berbagai habitat seperti hutan bakau, hutan primer, hutan pesisir, hutan sekunder, hingga hutan dekat pemukiman. Habitat bokoi terancam akibat deforestasi, perburuhan serta pertambahan penduduk. Populasi yang menurun drastis membuat beruk satu ini terancam punah.

*Sumber:

www.iwf.or.id

IUCN Redlist

pin.primate.wisc.edu

 

Kontributor: drh. Mardini Kusumojati

Tips Pembersihan Kandang Unggas

Tips Pembersihan Kandang Unggas

Kebersihan Kandang Menurunkan Resiko Penyakit Unggas

Kandang ayam pasca panen setelah dilakukan sanitasi
Kandang ayam pasca panen setelah dilakukan sanitasi

Rasa-rasanya ungkapan rumahku itu surgaku tidak hanya berlaku bagi kita saja sebagai manusia, tapi juga bagi ayam-ayam kita. Bagaimana tidak? Ayam modern sekarang dengan kemajuan tingkat genetiknya yang mampu berproduksi secara optimal, tapi menjadi mudah terprovokasi dengan stressor atau hal-hal yang dapat membuat stres pada ayam. Karenanya mereka sangat prioritas pada tingkat kenyamanan, dan keamanan di rumahnya. Kenyamanan dari segi kualitas udara, kelembaban, cahaya, air, dsb. Kemanan dari segala jenis bahaya utamanya yang dapat mengancam kesehatan. Termasuk satu hal ini yang akan kita bahas, yang membuat kenyamanan sekaligus keamanan rumah ayam dari ancaman penyakit, yaitu KEBERSIHAN.

Proses pembersihan kandang merupakan salah satu faktor biosekuritas yang paling berat. Kegiatan ini utamanya dilakukan saat persiapan kandang, dan secara sekunder juga baiknya dilakukan selama periode pemeliharaan ayam Anda. Tujuan dari kegiatan pembersihan kandang ini, antara lain; membuat kandang menjadi kandang baru kembali, memutus rantai kasus penyakit pada periode sebelumnya, serta menghilangkan atau menurunkan kuman penyebab penyakit yang ada di dalam dan sekitar (lingkungan) kandang.

Tahapan Membersihkan Kandang Unggas

Mari kita telisik cara atau tahapan pembersihan kandang yang dapat dilakukan.Pertama-tama kotoran ayam dan sisa-sisa hasil pemeliharaan periode sebelumnya dikeluarkan segera setelah

Kandang ayam telah disanitasi persiapan DOC datang
Kandang ayam telah disanitasi persiapan DOC datang

panen, liter diangkut keluar dari kandang sejauh mungkin, usahakan tidak berceceran, tidak mencemari jalan atau pintu masuk kandang, dan ditutup rapat. Lalu pencucian kandang dan semua peralatan termasuk tirai dilakukan secara bertahap. Semua bagian kandang disapu sampai bersih, termasuk seluruh rangkaian kabel listrik, kipas angin, dan ventilasi. Semua peralatan setelah dikeluarkan juga harus dibersihkan dari debu yang menempel kemudian cuci dengan sabun, dibilas sampai besih, dan jangan lupa didesinfeksi. Instalasi air minum tidak hanya dibersihkan tempat air minumnya saja tapi juga salurannya.

Penyemprotan dilakukan dari belakang dan bekerja mulai dari atap bangunan pertama kali, lalu dinding dan terakhir lantai. Kemudian penting untuk diingat juga bahwa pengapuran baru dilakukakn setelah kandang benar-benar bersih. Bagian luar kandang seperti teras, saluran air, kawat, atap dan halaman juga diperlakukan sama. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar kandang termasuk jalan masuk ke dalam areal peternakan, disertai dengan desinfeksi yang rutin sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi ancaman wabah penyakit.

Desinfeksi dilakukan secara rutin setidaknya dua kali setiap minggu dengan menggunakan desinfektan seperti phenol, iodine, atau amonium quartener dengan dosis sesuai anjuran pabrikannya selama periode pemeliharaaan. Selain itu, sediakan juga bak untuk celup kaki di dekat pintu masuk kandang, juga bak untuk mencuci peralatan kandang sewaktu-waktu dibutuhkan. Pastikan larutan desinfektan yang digunakan diganti secara rutin jika sudah nampak kotor. Mari jaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar kandang, karena Kebersihan adalah pangkal dari Kesehatan!

 

Kontributor : Drh. Arief Ervana

Babi Bali – Babi Liar yang Bernilai Tinggi

Babi Bali – Babi Liar yang Bernilai Tinggi

Mengapa Babi digemari

Keunggulan Babi BaliSebagai salah satu ragam biodiversitas fauna di Indonesia, Babi merupakan salah satu ternak yang banyak dibudidayakan masyarakat Negeri ini setelah Sapi, Kambing-Domba, dan Unggas. Keberagaman yang menjadi identitas bangsa juga menjadi faktor penting mengapa populasi babi juga perlu dilestarikan. Babi merupakan komoditas tersendiri bagi rakyat yang menekuni usaha peternakan babi. Hewan ini mudah dibudidayakan karena bisa beradaptasi dengan baik bahkan dengan lingkungan yang tidak bagus sekalipun, babi merupakan hewan penghasil daging yang banyak digemari masyarakat Indonesia khususnya untuk masakan chinesse food, masakan khas bali,dan masakan khas beberapa daerah lainnya yang memiliki kepercayaan dan tradisinya tersendiri dalam hal pengolahan daging babi sebagai sajian keluarga.

Peternakan Babi Bali

Peternakan babi telah banyak ditemukan meskipun dalam skala yang kecil maupunskalabesardalam industry. Keberadaan babi menjadi sumber kebutuhan protein hewani yang bisa didapatkan oleh masyarakat, seperti halnya jenis daging merah lainnya.Babi yang sering diternakkan di daerah Banyuwangi sebagian besar berjenis Babi Bali. Dilihatdari morfologinya, Babi Bali memiliki kemiripan dengan babi hutan atau babi liar. Babi Bali merupakan salah jenis fauna asli Indonesia. Babi Bali disinyalir merupakan hasil perkawinan induk babi lokal dengan babi liar asia (Sus vittatus).

Letak geografis yang sangat dekat dengan Bali memang menjadi salah satu faktor mengapa populasi babi Bali di Banyuwangi juga diternakkan. Kemiripan iklim, lingkungan dan adat istiadat bagi sebagian masyarakat Banyuwangi yang beragama hindu juga sering mendatangkan babi Bali sebagai binatang peliharaannya.

Ciri Utama Babi Bali

  • Kulit dan bulu didominasi oleh warna abu-abu kehitaman. Namun ada beberapa yang memiliki corak putih karena mewarisi sifat dari induk babi putih lokal.
  • Ciri-ciri morfologi yang paling khas adalah bentuk tulang belakang babi ini yang menyerupai manusia yakni lengkungan pada daerah punggung sehingga bila terlalu gemuk, perut bisa menyentuh dasar tanah.
  • Struktur telinga yang tegak dan panjang sekitar 8-10 cm
  • Tinggi badan 50 cm serta panjang tubuh mencapai 90 cm.
  • Dalam sekali melahirkan, babi Bali bisa mencapai 10-12 ekor bayi dan itu ideal sesuai dengan jumlah puting susu yang terdapat di daerah dada hingga perut yakni 6 pasang.

Keunggulan Babi Bali

budidayaan Babi BaliKarkas Babi Bali ini sebagian besar akan dilapisi oleh jaringan lemak yang sangat tebal. Presentase lemak bisa mencapai sepertiga dari karkas. Babi dewasa yang siap untuk dipotong bisa mencapai bobot 90 Kg. Sifat khas dari daging babi yang sangat empuk meski memiliki ketebalan yang besar juga dimiliki oleh babi Bali. Rasio pertumbuhan babi Bali juga sangat tinggi bila dibandingkan dengan babi impor. Pola pemeliharaan yang sangat tradisional, bahkan dalam lingkungan kumuh pun masih bisa memungkinkan babi ini untuk berkembang baik sebagai hewan ternak rakyat.

Babi Bali ini sering digunakan dalam acara adat yakni persembahan dalam upacara keagamaan maupun hidangan syukuran. Selain sebagai hewan yang diambil dagingnya, Babi Bali juga dijadikan hewan pemburu dan penjaga rumah bagi warga yang tinggal di area hutan. Hal ini tentu wajar karena Babi Bali masih mewarisi sifat liar dari NenekMoyangnya. Bahkan keberadaan babi di setiap rumah warga bisa menjadi simbol tertentu dalam status sosial masyarakat.

Ke-khas-an Babi Bali tentu bukan hanya menjadi alasan betapa pentingnya usaha pembudidayaan Babi Bali, tingkat konsumsi masyarakat yang cenderung stabil dan akan terus meningkat karena mahalnya daging sapi, juga menjadi pertimbangan utama untuk terus melakukan perkembangan di bidang peternakan babi. Bagaimanapun juga keberadaan plasma nutfah dari spesies babi merupakan kekayaan negara yang patut terus dijaga kelestariannya.Cukuplah kita berlarian mengejar pemenuhan daging sapi nasional dengan importasi besar-besaran yang selalu diperdepatkan, jangan sampai kita harus mengimpor daging babijuga di kemudian hari, saat kita memiliki jenis ternak unggul yaitu Babi Bali.Lebih baik menggalakkan usaha pembibitan ternak, dari pada Negeri Tercinta menjadi bibit pundi-pundi kekayaan bangsa lain, dari usaha importasi ternak.

Stomatitis – Sariawan Pada Reptil

Stomatitis – Sariawan Pada Reptil

Penyebab Stomatitis

iguana sehat
iguana sehat

Kejadian keradangan pada mulut (sariawan) dalam istilah medis disebut stomatitis, hal ini juga sering terjadi pada reptil. Infeksi terjadi karena adanya respon tubuh hewan yang mengalami stres, disebabkan karena perubahan temperatur suhu yang tidak sesuai di lingkungan, overcrowding, parasit internal maupun eksternal, trauma, serta kekurangan nutrisi terutama kekurangan vitamin C. Stres akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh reptil menurun dan membuat infeksi mudah terjadi. Jenis-jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan stomatitis termasuk bakteri, virus dan fungi. Pseudomonas, Aeromonas, Salmonella, Klebsiella dan Mycobacterium merupakan bakteri penyebab terjadinya stomatitis.

Gejala klinis Stomatitis

Gejala klinis yang tampak sangat bervariasi tergantung jumlah sariawan yang terbentuk dan derajat keparahan, tergantung fase dalam infeksi. Biasanya reptil akan mengalami penurunan nafsu makan atau bahkan tidak mau makan sama sekali, keluarnya cairan berwarna putih ke kuningan dari mulut dan berbau tidak sedap, adanya hipersalivasi (keluarnya cairan liur terus menerus), kebengkakkan pada sekitar daerah mulut, mulut tidak dapat ditutup kembali, dan kebengkakkan gusi ataupun kerusakan jaringan disekitar mulut dapat terjadi. Pada kejadian yang sifatnya sudah kronis akan tampak massa pada garis mulut yang berwarna kekuningan atau keabu-abuan.

iguana sariawan
iguana sariawan

Pada beberapa kasus terlihat mulut seperti memiliki akar sehingga pada kondisi ini sering disebut mouth rot. Pada kejadian yang sangat parah, kepala dapat membengkak dan infeksi dapat menyebar sampai ke bagian rahang dan atau bagian tulang kepala (cranium), gigi mungkin banyak yang terlepas, dan akan menyebabkan infeksi sampai ke saluran pernafasan hingga paru (pneumonia). Bakteri dapat berpindah melalui ductus hardian yang merupakan saluran yang menghubungkan dari mulut ke bagian sinus dekat mata, sehingga dapat mengakibatkan mata terinfeksi dan terjadi kebengkakkan. Apabila tidak segera ditangani dengan cepat maka reptil dapat kehilangan mata akibat infeksi.

Enteritis atau keradangan pada usus juga dapat terjadi karena sel-sel yang mengalami kerusakan bersama bakteri tercerna kedalam saluran pencernaan, pada daerah yang menglami luka akan menyebabkan bakteri lebih mudah masuk kedalam saluran peredaran darah (bakterimia) dan apabila menginfeksi organ vital akan menyebabkan kejadian yang fatal dan berujung ke kematian pada hewan.

Diagnosa Stomatitis

Untuk mendiagnosa stomatitis, dokter hewan akan melihat dari gejala klinis yang nampak kemudian dapat dilakukan pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui derajat infeksi dan juga kultur bakteri/ jamur pada mukosa ataupun cairan yang keluar. Fungsi kultur adalah untuk mengetahui jenis bakteri atau jamur yang menginfeksi, pada pemeriksan lanjut dapat dilakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan)

Penanganan Stomatitis

Apabila reptil anda mengalami kejadian stomatitis segeralah membawanya ke dokter hewan untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit, apabila kejadian masih dalam tahap yang belum parah, dokter hewan akan memberikan antibiotik khusus untuk untuk mengurangi jumlah bakteri yang merugikan dan apabila kejadian sudah pada fase lanjut dapat dilakukan operasi pengangkatan bagian yang mengalami kerusakan. Penanganan yang dapat dilakukan dirumah adalah dengan memberikan antiseptik secara rutin dan juga memperbaiki manajemen pemeliharaan

Pencegahan Stomatitis

Pencegahan yang dapat dilakukan dirumah diantaranya adalah: mencegah terjadinya stress pada hewan dan memberikan nutrisi makanan yang cukup. Untuk reptil, kadar kelembaban udara dan juga temperatur sangat berpengaruh untuk meningkatkan kejadian stres, sehingga manajemen temperatur dan kelembaban sangat dibutuhkan untuk pemeliharaan reptil, selain itu kita juga harus melihat asupan nutrisi dengan memberikan variasi pakan agar kebutuhan nutrisi seimbang, konsultasikan kesehatan reptil pada dokter hewan minimal 6 bulan sekali.

 

Virus Mematikan Penyebab Panleukopenia Pada Kucing

Virus Mematikan Penyebab Panleukopenia Pada Kucing

Feline Parvo Virus

kitten penderita panleukopenia
Kitten penderita panleukopenia

Feline Panleukopenia atau dikenal sebagai Feline Infectious Enteritis adalah salah satu penyakit yang sangat mematikan untuk kucing. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi feline parvovirus yang menyebabkan keradangan pada bagian saluran pencernaan (gastrointestinal). Feline parvovirus termasuk virus DNA, masuk kedalam famili Parvoviridae, virus menginfeksi melalui mulut atau hidung kemudian menuju limfoglandula pada bagian tonsil dan tenggorokan setelah itu virus akan menghancurkan sel-sel yang aktif melakukan pembelahan pada sel-sel sumsum tulang, jaringan limfoid, epitel usus dan retina.

Virus akan menekan produksi sel darah putih yang ada pada sumsum tulang sehingga jumlah seluruh sel darah putih berkurang, karena itulah penyakit ini dinamakan panleukopenia. Pada saluran pencernaan (intestinum/ usus halus) virus menyebabkan ulser yang memicu adanya diare, diare yang berlebihan akan menyebabkan cairan yang kaya akan elektrolit akan terbuang dan mengakibatkan dehidrasi, akibat kekebalan tubuh berkurang infeksi sekunder bakteri akan muncul.

Pada induk kucing yang bunting, virus akan menular secara intraplacental dan akan menginfeksi embrio atau janin yang sedang berkembang secara cepat sehingga dapat menyebabkan kematian pada embrio, mumifikasi, abortus atau still birth ( lahir tetapi mati). Infeksi pada saat kelahiran akan menyebabkan kerusakan pada bagian otak sehingga memicu gangguan sistem syaraf pusat yang berakibat adanya inkordinasi dan berujung kematian.

Virus ini banyak ditemukan pada produk sekresi dan eksresi kucing seperti feses, urin, cairan muntah, air liur (saliva) pada fase akut dari penyakit dan dapat bertahan pada feses kucing selama 6 minggu setelah masa penyembuhan.

Gejala klinis infeksi virus

Sebagian besar infeksi dari virus panleukopenia berlangsung secara akut. Kucing yang terinfeksi kebanyakan berusia muda (dibawah 1 tahun). Gejala klinis yang terlihat yaitu demam, nafsu makan berkurang, lesu, gejala muntah akan terlihat 1-2 hari setelah adanya demam. Diare merupakan gejala yang tampak terakhir, muntah dan diare terjadi secara teratur, diare dapat disertai dengan darah.

tes kit - deteksi antigen parvovirus
Tes kit – Deteksi antigen parvovirus

Dehidrasi parah akan terus berlangsung selama periode infeksi walaupun kucing meminum cairan dalam jumlah banyak. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya depresi, dehidrasi dan terkadang adanya rasa sakit dibagian perut. Pada anak kucing yang terinfeksi panleukopenia akan mengalami kematian dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala klinis.

 

Diagnosa Infeksi Feline Parvo Virus

Kucing yang mengindikasi adanya infeksi virus dapat didiagnosa dengan menggunakaan pemeriksaan darah. Pada pemeriksaan darah, akan tampak adanya penurunan jumlah leukosit. Pemeriksaan lain dengan menggunakan test kit khusus yang digunakan untuk mengetahui antigen virus, hasil positif akan di tunjukan pada test kit dengan adanya dua garis pada alat pemeriksaan.

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi tidak dapat dilakukan pada kucing yang sedang bunting, mengalami imunosupresi, sakit atau usia kucing masih dibawah 4 mingu. Kucing divaksinasi pada umur 8-10 minggu kemudian diulang pada usia 12-14 minggu, dan kemudian diulang setiap tahun sekali.

Penangganan

Apabila kucing menderita gejala klinis yang telah ditunjukan diatas ada baiknya segera menghubungi dokter hewan untuk mendapatkan penanganan dengan cepat, dan apabila kucing telah didiagnosa mengalami panleukopenia, pemilik dianjurkan melakukan disinfeksi kandang hewan dengan menggunakan larutan TH4 atau dengan menggunakan larutan Natrium Hipoklorit (NaOCL), dalam satu populasi kucing harus diberi tambahan vitamin dan nutrisi agar stamina tetap terjaga.

Simethal – Sapi Bule di Indonesia

Simethal – Sapi Bule di Indonesia

Pembibitan Sapi Simethal

Akhir-akhir ini harga daging sapi terus saja meroket, karena stok sapi dalam negri tidak berkembang signifikan, sedangkan konsumsi masyarakat melonjak tajam setiap tahunnya. Berbagai cara telah ditempuh pemerintah untuk mengupayakan swasembada daging sapi, mulai program ditahun 2005, 2010, hingga 2014. Berbagai trobosan sistem peternakan dan teknologi terus dikembangkan, salah satunya adalah dengan metode kawin suntik / Inseminasi buatan dengan menggunakan sperma bibit pejantan dari ras murni sapi berproduktifitas tinggi, dimana hampir semuanya bukan ras sapi asli Negeri ini, beberapa diantaranya adalah sapi Simenthal, Sapi Limosin, Sapi Brahman, Sapi Aberdeen Angus, dan ras-ras hasil silangan bibit murni tersebut.

Pure breed sapi simenthal

Para peternak pun antusias mengikuti perkembangan teknologi di dunia pembibitan sapi, dengan mengaplikasikan teknologi inseminasi buatan pada ternak peliharaan mereka. Bibit pejantan yang paling diminati masyarakat, salah satunya adalah sapi simenthal. Sapi yang biasa disebut sapi ΓÇ£MetalΓÇ¥ ini menjadi favorit karena keunggulan performa tubuhnya dan kualitas daging yang dihasilkan. Sudah menjadi suatu tradisi jika anda berkunjung ke pasar hewan saat ini, harga sapi bakalan silangan simenthal (cross breed) akan cenderung lebih mahal dibanding dengan sapi-sapi jenis lokal seperti sapi PO, sapi bali, dan sapi Madura.

Ciri Khusus Sapi Simethal

Sapi Simenthal termasuk ras (breed) golongan bos Taurus, seperti halnya kebanyakan sapi asli asia barat dan benua eropa. Simenthal bersama breed Frisan Holstein merupakan breed utama di Eropa. Sesuai dengan tempat pertama kali jenis sapi ini dibiakkan, Simme Valey (Lembah Simme, red.) di Oberland Berner ΓÇô Swiss, sapi ini disebut Simenthal dimana suku kata tambahan ΓÇ£thalΓÇ¥ atau ΓÇ£talΓÇ¥ juga berarti lembah (valley) dalam bahasa jerman. Sapi simenthal juga dikenal dengan berbagai nama di beberapa negara, di Jerman disebut Fleckvien, di perancis bernama Pie Rouge, Montbeliarde, Abodance, sedangkan di Italia terkenal sebagai Pezzata Rosa.

Perawakan khas sapi Simenthal yang besar tinggi dan tegap menjadikannya priamadona di dunia peternakan. Breed ini mudah dikenali, baik yang pure breed maupun cross breed, berdasarkan karakternya yang menciri sebagai berikut:

  • Berwarna kuning coklat hingga coklat gelap kemerahan diseluruh tubuh, kecuali daerah wajah dan kaki bagian bawah dan ujung ekor berwana putih
  • Daerah sekitar mata kebanyakan berbentuk lingkaran berwarna coklat kemerahan, berfungsi untuk membantu sistem pencahayaan yang diterima mata.
  • Nostril / cermin hidung berwarna merah muda cerah.
  • Bertanduk sedang, tidak terlalu panjang
  • Perawakan tinggi, panjang, bertulang besar.

Perkembang-biakkan Sapi Simenthal

Sapi simenthal, tercatat telah dikembang biakkan secara luas di swiss, dalam literature pertama tentang peternakan di tahun 1800an. Berikut ringkasan perjalanan panjang sapi simenthal dari swiss ke seluruh dunia:

  • 1400an : dilaporkan bahwa telah dilakukan impor besar-besaran sapi simenthal di Italia.
  • 1785 : pembatasan ekspor sapi simenthal dari swiss diberlakukan
  • 1887 : sapi simenthal mulai menyebar di berbagai Negara di benua Amerika
  • 1890 : diketahui penyebaran sapi simenthal telah meluas hingga 6 benua
  • 1895 : Afrika Selatan mulai mengembang biakkan sapi simenthal
  • 1897 : pertama kalinya sapi simenthal masuk Guatemala
  • 1918 : Ekspansi ke Brazilia
  • 1922 : Argentina mengimpor sapi simenthal
  • Abad ke-19: telah menyebar di kawasan Eropa Timur, Balkan, dan Rusia

Keunggulan Sapi Simenthal

Begitu panjang sejarah penyebaran sapi yang juga dikenal dengan nama Abodance ini, tak lepas dari berbagai keunggulannya. Sapi simenthal merupakan sapi multi purpose, dapat dijadikan penghasil susu, daging dan dimanfaatkan tenaga nya untuk pekerjaan pertanian. Di Amerika, Simenthal lebih difokuskan sebagai penghasil daging, lain halnya dengan di Eropa yang memanfaatkannya produksi susunya untuk menghasilkan susu segar, mentega dan keju berkualitas tinggi.

Selain kelebihan tersebut diatas, beberapa hal yang patut dibanggakan dari performa sapi asli lembah Simme ini, diantaranya:

  • Cepat mengalami pubertas sehingga dapat segera dikawinkan
  • Mudah beranak, Calving Interval (jarak masa beranak) pendek
  • Prosentase karkas tinggi (58%%-62%), kaki depan dan belakang bagian atas berisi daging dengan ketebalan otot optimal
  • Tumbuh kembang cepat, sapi betina dapat tumbuh hingga mencapai berat 700-900kg, dan sapi jantan hingga 1300kg
  • Pertambahan bobot badan harian (Average Daily Gain) tinggi, karena sapi simenthal memiliki kapasitas rumen yang besar, sehingga dapat menampung pakan lebih dari jumlah yang dibutuhkan, hasilnya pertambahan bobot badan akan cepat meningkat.
  • Produksi susu tinggi, dengan sifat maternal yang baik

Kekurangan Sapi Simenthal

Disamping keunggulannya yang banyak dilirik sebagai prospek bisnis berkeuntungan tinggi, Sapi simenthal juga memiliki beberapa kekurangan yang harus diperhatikan dan diwaspadai oleh para peternak, yakni:

  • Sapi iklim subtropis, sulit beradaptasi dengan suhu lingkungan yang terlalu panas, dengan kelembaban yang tinggi. Saat ini, di Amerika terus dilakukan penelitian-penelitian untuk menghasilkan breed sapi simenthal dengan ketahan tubuh tinggi, dan kemampuan beradaptasi yang baik.
  • Jenis sapi besar berbobot tinggi, akan tetapi bobot optimal tidak akan dapat dicapai dengan hanya mengandalkan pakan hijauan. Untuk memaksimalkan pertumbuhan otot dan tulangnya, diperlukan pakan grain tinggi protein (konsentrat), dengan perhitungan khusus dari segi kandungan dan jumlah asupan hariannya.

Silangan Sapi Simenthal di Indonesia

Di Indonesia sediri, telah dikembangkan breed silangan sapi Simenthal melalu teknologi kawin suntik. Dimana sapi betinanya merupakan sapi lokal dengan produktifitas lebih rendah dengan simenthal, namun kemampuan adaptasi dan ketahanan tubuh yang luar biasa, di inseminasi buatan dengan menggunakan semen beku sapi simenthal yang di impor langsung dari Negara-negara yang membudidayakannya. Hasilnya, sapi cross tersebut memiliki perawakan sapi simenthal, dengan ketahanan tubuh yang kuat. Oleh karena itulah, pesona sapi simenthal (cross) dikalangan peternak di Indoesia selalu dapat diunggulkan, dengan harga yang tinggi dan kualitas yang tidak diragukan lagi.

 

Vanami – Udang Populer yang Mudah Dibudidayakan

Vanami – Udang Populer yang Mudah Dibudidayakan

Budidaya Udang Vanami

Udang VanamiUdang vanami (Penaeus vannamei) sangat familiar di kalangan petani tambak terutama masyarakat yang melakukan budidaya perikanan air tawar. Vanami adalah penyebutan yang lazim digunakan dalam pemasaran udang vanami. Udang vanami juga sering disebut sebagai udang berkaki putih karena dari pigmen warna yang didominasi oleh putih keabu-abuan. Cangkang atau kulit udang (chitosan) dari udang vanami mendominasi 60% dari panjang tubuh. Jumlah kaki vanami membujur 75% dari panjang tubuh. Panjang vanami dewasa bisa mencapai 23 cm dan lingkar tubuh sekitar 9 cm. Vanami betina diketahui memiliki perkembangan yang lebih cepat dari vanami jantan karena vanami betina mengalami siklus tertentu pada saat pemijahan.

Peta Produksi dan Budidaya Vanami

Budidaya vanami paling tinggi dikembangkan di Asia Tenggara. Indonesia merupakan negara terbesar kedua setelah Thailand yang menghasilkan vanami dengan kualitas yang tinggi. Pembudidaya tambak vanami melihat potensi yang sangat besar sehingga produksi yang tinggi juga meningkatkan ekspor vanami berkembang pesat. Sampai saat ini negara China, India, dan sebagian di Amerika Selatan memulai budidaya vanami sendiri karena melihat kemiripan iklim dengan Asia Tenggara. Vanami sangat cocok dikembangkan di lingkungan tropis dan memiliki kelembaban sedang. Ketinggian daratan dibandingkan air laut juga menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya vanami. Tidak jarang Indonesia menjadi negara percontohan budidaya vanami oleh negara lain yang ingin mengembangkan budidaya serupa.

Dari hasil observasi sampel di salah satu tambak yang dibina oleh Balai Pembibitan dan Perbenihan Perikanan diketahui dalam sekali produksi bisa mencapai 50 Ton. Lama pembudidayaan vanami diperkirakan bisa dipanen usia 110-150 hari tergantung hasil sampling pertambahan bobot udang. Satu ekor bisa mencapai 30-35 gram dan itu ditaksir sudah mencapai batas maksimal untuk bisa dipanen dan dikonsumsi.

Manajemen Produksi dan Perbenihan Vanami

Manajemen reproduksi juga menjadi salah satu cara tata kelola pelestarian dan pemurnian vanami air tawar. Vanami akan memasuki usia matang saat 6-7 bulan. Selain berdasarkan usia, pertambahan bobot juga menjadi salah satu ciri dan syarat matang vanami yakni jantan sebesar 20 gram dan betina 28 gram. Vanami Kolam Vanamibetina yang telah mengalami proses pemijahan akan bertelur dalam jumlah besar yakni 100.000-250.000 per sekali siklus dengan diameter telur hanya sebesar 0,22 mm. Selanjutnya telur tersebut akan mengalami masa inkubasi dan menetas setelah usia 16-18 jam. Larva yang telah menetas harus tetap dipelihara dalam kolam sampai usia 26-31 hari menjelang bibit larva disemai di tambak atau kolam budidaya air tawar. Larva tersebut akan dapat bertahan dengan memakan fitoplankton maupun zooplankton.

Selama masa penyemaian benih larva untuk dibudidayakan, debit dan volume air dalam tambak juga patut diperhatikan. Idelanya luas tambak berkisar 5-30 ha dengan kedalaman 0,7-1,2 m. Salah satu metode ekstensifikasi budidaya vanami dengan meminimalkan sistem pompa aerasi dan pemberian pakan dengan kadar formula protein rendah dapat mengkontrol perkembangan vanami hingga masa panen. Dalam sekali panen melalui cara ekstensifikasi diperoleh 150-500 Kg/ha/panen dengan catatan satu tahun mengalami dua kali masa panen.

Keunggulan Budidaya Vanami

Beberapa keunggulan yang dimiliki dari budidaya udang vanami ini antara lain FCR (Feed Conversion Rate) yang sangat rendah antara 1-1,2 sehingga mampu menekan biaya produksi. Nafsu makan yang tinggi dengan penambahan bobot yang sangat cepat juga dapat meningkatkan hasil saat panen. Selain itu, sifat tahan penyakit dan cepat beradaptasi di lingkungan yang kurang baik tentu menjadi alasan bahwa vanami memang sangat mudah dibudidayakan. Dalam pemasaran udang vanami pun sangat mudah dan diminati oleh pasar luar negeri sehingga potensi budidaya vanami menjadi komoditas ekspor dibidang perikanan. Pola pembudidayaan yang sangat minim teknologi pun masih mampu menghasilkan produk panen yang tinggi sehingga budidaya vanami ini juga digemari oleh petani lintas usaha.

 

Penetasan Tukik Adalah Penyelamatan Penyu Hijau

Penetasan Tukik Adalah Penyelamatan Penyu Hijau

Peningkatan Populasi Penyu Hijau

Tukik dilepasPenyu hijau (Chelonia mydas) merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan IUCN Red list. Upaya untuk mempertahankan populasi penyu salah satunya dengan menjaga reproduksi penyu saat penetasan bayi penyu atau tukik. Tukik merupakan anakan penyu yang ditetaskan dalam jumlah banyak.

Jumlah Telur Penyu

Penyu merupakan hewan ovipar yang bereproduksi dengan mengeluarkan telur-telur bakalan tukik. Normalnya penyu dapat bertelur sekitar 90-120 butir telur per sekali masa bertelur (nesting). Masa nesting penyu pada malam hari dan bisa mencapai 5 kali selama 11 hingga 18 hari. Praktis ada sekitar 500-800 butir telur yang bisa dihasilkan oleh seekor penyu betina dewasa dalam seminggu.

Ancaman Telur Penyu

Kolam tukik
Kolam tukik

Dengan jumlah telur per nesting yang luar biasa banyak, mengapa jumlah penyu masih termasuk daftar merah satwa yang harus dipertahankan eksistensinya? Kemanakah tukik yang berasal dari 500-800 butir telur yang dihasilkan oleh seekor penyu betina dewasa? Tentu bukan hanya disebabkan oleh kerusakan habitat maupun perburuan penyu secara besar-besaran melainkan sistem penetasan penyu yang tidak didukung sehingga presentase tetas tukik masih rendah. Bahaya bagi telur-telur penyu setelah masa nesting induk penyu antara lain, abrasi pesisir laut, kerusakan yang dibuat manusia, serta ancaman predator bagi telur penyu. Faktor-faktor itulah yang justru menyebabkan populasi penyu hijau masih perlu mendapat perhatian.

Sistem Penetasan Telur Penyu

Pentingnya membuat sistem hatchery yakni pola penetasan buatan untuk menggantikan telur yang telah ditaruh induk penyu di dalam pasir akan sangat membantu meningkatkan presentase tetas tukik.

Rumah hatchery tukik
Rumah hatchery tukik

Berikut ini adalah hal yang bisa dilakukan untuk membuat sistem hatchery telur penyu :

  1. Membuat sebuah pondokan untuk rumah hatchery dengan ventilasi yang cukup. Diperlukan jarak sekitar 10-25 meter dari garis pantai untuk mengantisipasi pasang surut air dan abrasi pesisir oleh air laut.
  2. Dari hasil riset Burgess et al., (2006) dianjurkan bahwa temperatur yang digunakan selama masa inkubasi adalah 26 derajat celcius. Temperatur maksimal adalah 30 derajat celcius, namun pertumbuhan tukik tidak seoptimal ketika pada suhu 26 derajat celcius baik dari ukuran tubuh maupun aktivitas pasca tetas..
  3. Di sekitar rumah pondokan lebih baik diberi kawat untuk mencegah bahaya predator seperti tikus, biawak, ular, dan musang.
  4. Dalam satu lubang pasir yang dibuat oleh seekor induk penyu bisa untuk menampung seluruh jumlah telur dalam sekali masa nesting, artinya perlu dibuat lubang yang sama dengan kedalaman kurang lebih 15-20 cm untuk menampung sejumlah telur dari satu induk. Penting juga untuk diberi jaring disekitar timbunan pasir untuk menghindari predator dari tanah. Timbunan pasir sebaiknya tidak basah dan tidak terlalu kering agar temperatur yang telah diterapkan tidak berubah.
  5. Langkah terakhir adalah pemberian name tag berupa papan penanda yang berisikan identitas telur, jumlah telur, tanggal dipindah, serta spesies penyu apabila ditemukan ada perbedaan varian.
  6. Penting juga diperhatikan bahwa selama pemindahan telur penyu dari dalam pasir asal nesting ke sistem hatchery dianjurkan tidak melebihi 2 jam serta posisi telur harus tetap sama dan tidak diperkenankan untuk dibolak-balik karena akan mengganggu masa embrionik.
  7. Telur-telur tersbut akan menetaskan tukik kurang lebih selama 45-60 masa inkubasi. Setelah masa tersebut, tukik sebaiknya jangan dilepaskan ke laut. Biarkan di kolam berisi air laut dan beradaptasi selama 14 hari. Terkadang tukik yang kurang aktif akan diketahui saat berada di dalam kolam sedangkan tukik yang aktif bisa langsung dilepaskan ke laut.
  8. Pelepasan tukik-tukik ke laut juga diperkenankan untuk disebar pada berbagai arah. Hal ini untuk meminimalisir adanya populasi besar dalam satu arus yang memancing perhatian predator seperti burung elang untuk memangsa.
  9. Tukik-tukik yang telah dilepaskan ke laut akan cepat beradaptasi dengan memakan fitoplankton, zooplankton maupun alga yang terdapat di permukaan laut.

Penerapan sistem hatchery untuk membantu penetasan telur penyu memegang peranan penting dalam meningkatkan populasi tukik sebagai bakal penyu. Efisiensi tetas hingga mencapai 100% akan memberi manfaat lebih untuk menyelamatkan populasi penyu hijau dari daftar merah IUCN. Tindakan konservasi secara nyata terhadap satwa-satwa di Indonesia sudah selayaknya menjadi upaya kita bersama untuk menjaga daftar plasma nutfah yang terselamatkan.

 

Referensi :

Burgess, E., Booth, D., Lanyon, J. 2006. Swimming performance of hatchling green turtles is affected by incubation temperature. Coral Reefs, 25: 341-349.

 

Sapi Madura Ternak Primadona dari Tanah Madhureh

Sapi Madura Ternak Primadona dari Tanah Madhureh

Asal Usul Sapi Madura

Sapi Madura merupakan salah satu plasma nutfah asli Indonesia. Menurut sejarah, Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara banteng (Bos taurus) dengan sapi Zebu (Bos indicus). Namun, ada teori yang mengaitkan bahwa sapi Madura juga dilahirkan dari persilangan Bos sondaicus dengan Bos indicus. Hal ini dibuktikan dari ciri fisiknya yakni sapi Madura beberapa memiliki punuk yang sifat ini diwariskan oleh Bos sondaicus serta warna cokelat keputih-putihan yang diwariskan oleh Bos indicus.

Karapan Sapi Madura
Karapan Sapi Madura

Sapi Madura ini mayoritas mendiami pulau Madura, serta daerah-daerah yang penduduk didominasi dari suku Madura. Dari sekian banyak lingkungan peternak yang memelihara sapi Madura, Pulau Sapudi ditetapkan sebagai daerah pemilik bibit-bibit unggul dan asli sapi Madura serta diharapkan dapat mempertahankan mutu genetik di masa depan. Pulau Sapudi menjadi harapan sebagai penjaga plasma nutfah asli dari salah satu sapi khas Indonesia yakni Sapi Madura. Plasma nutfah merupakan substansi agen pewaris sifat dari induk baik itu sebagian maupun keseluruhan dari tubuh serta jasad renik. Dengan adanya plasma nutfah pada sapi Madura yang dimiliki Indonesia, akan menjadi aset serta kekayaan nusantara yang bisa dikembangkan dalam rangka peningkatan ilmu pengetahuan dan program nasional.

Karakteristik Sapi Madura

Sapi Madura memiliki karakter fisik yang tidak jauh berbeda dengan induk aslinya yakni banteng dan sapi zebu. Sapi Madura baik yang mendiami Pulau Sapudi, maupun Pulau Madura dan sekitarnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Warna kulit cokelat kemerahan
  2. Pada daerah kaki depan dan belakang serta abdomen berwarna agak keputih-putihan dengan batas gariswarna yang tidak jelas
  3. Umumnya bertanduk pendek, pada jantan lebih panjang dari betina. Tanduk pada jantan bisa mencapai 10-20 cm.
  4. Punuk pada sapi Madura relatif kecil.

Selain ciri-ciri fisik, menurut Karnaen dan Arifin (2007), sapi Madura secara fisiologis dan biologi memiliki ciri-ciri :

  1. Usia pubertas sapi Madura berkisar antara 510-640 hari
  2. Rata-rata panjang siklus birahi pada musim kemarau lebih panjang dibandingkan dengan siklus birahi pada musim hujan, sebaliknya rata-rata lama periode birahi pada musim hujan lebih pendek dibandingkan dibandingkan dengan lama periode birahi pada musim kemarau
  3. Beberapa sifat reproduksi dan produksi sapi Madura pada musim hujan dan musim kemarau tidak sama.

Keunggulan Sapi Madura

Sapi Madura memiliki keunggulan yang sangat menguntungkan dan mendukung peternakan dengan cara tradisional. Maksud dalam hal ini, sifat sapi Madura yang tahan iklim tropis, bertahan dalam kualitas pakan yang kurang bagus, serta lebih tahan dari penyakit infeksi menjadikan sapi ini primadona bagi peternak yang tidak perlu mengeluarkan cost produksi terlalu tinggi

Sapi Madura pemenang kontes

Sapi Madura merupakan sapi potong yang sangat mudah dipelihara. Selain itu, Sapi Madura juga menjadi sapi adat dimana diperuntukkan budaya Karapan Sapi oleh masyarakat asli suku Madura. Tenaga sapi Madura juga banyak dimanfaatkan peternak untuk membantu pekerjaan baik berladang maupun berkebun serta sebagaialat transportasi sederhana untuk menjalankan kereta.

Untuk meningkatkan populasi sapi Madura juga mudah dilakukan dengan intensifikasi pemuliaan bibit ternak. Keunggulan sapi Madura yang mudah dibiakkan karena angka konsepsi yang tinggi seharusnya menjadikan populasi sapi Madura dapat terus meningkat dari tahun ke tahun. Usaha lain adalah dengan menyilangkan sapi Madura dengan jenis sapi lain, namun alangkah lebih baik jika mutu genetik yang asli dari sapi Madura tetap dipertahankan, sehingga plasma nutfah dari sapi Madura tetap terjaga.

Referensi :

Karnaen dan Arifin, J. 2007. Kajian Produktivitas Sapi Madura. J ilmu ternak 7(2):135-139

 

Demam 3 Hari pada Sapi

Demam 3 Hari pada Sapi

Penyebab Sapi Pilek/Flu

Musim pancaroba yang biasa terjadi setiap pergantian musim sering kali meresahkan para peternak sapi. Hawa yang terkadang dingin kemudian panas dan gerah setiap harinya membuat daya tahan tubuh menurun, tidak hanya pada peternaknya namun juga pada sapi-sapi yang dipeliharanya. Sapi-sapi tersebut biasanya terlihat lesu, demam dan nafsu makan menurun. Leleran hidung yang menyertai terjadinya gejala lainnya menjadikan penyakit ini khas disebut peternak sapi pilek atau sapi flu, sedangkan di dunia kedokteran hewan lebih umum dikatakan sebagai penyakit demam tiga hari.

Penyakit yang bersinonim dengan Bovine Ephimeral Fever (BEF) ini merupakan penyakit yang bersifat akut (terjadi dengan cepat dalam hitungan hari), dengan angka kejadian penyakit yang tinggi, namun angka kematian dibawah 1%. BEF secara alami terdapat di benua Afrika, dan Asia. Pada tahun 1963 diketahui mulai memasuki benua Australia yang mana disinyalir berasal dari Indonesia.

BEF disebabkan oleh virus Rhabdovirus, satu family dengan virus penyebab penyakit Rabies. Virus tersebut menyebar melalui bantuan vector / agen pembawa, yaitu serangga dan nyamuk. Di dalam tubuh nyamuk, virus tidak hanya terangkut dan berpindah namun juga bertumbuh kembang menjadi banyak. Sapi menjadi sakit apabila mengalami kontak langsung berupa gigitan dengan vector, terlebih saat hawa berangin basah dan lembab yang dapat menyebarkan vector hingga radius 100 Km, bahkan lebih.

Demam 3 Hari Sapi

Ciri-ciri Sapi Bovine Ephimeral Fever

Sapi yang mengalami BEF, akan terlihat lesu, nafsu makannya dan minumnya menurun, agak gemetar, demam sekitar 2-40C lebih tinggi dari suhu normal, lebih sering tiduran, frekuensi nafas dan detak jantung meningkat, terdapat leleran hidung dan mata, terjadi kepincangan sehari setelah demam dimana kaki yang pincang dapat berbeda setiap harinya, kontraksi rumen terhenti, kadang disertai diare atau konstipasi, dan pada sapi perah produksi terjadi penurunan jumlah susu yang dihasilkan secara drastik.

Pencegahan dan Pengobatan BEF

Pada dasarnya tidak terdapat metode pengobatan secara khusus pada penyakit ini. Apabila keadaan ternak baik, masih mau makan minum meski tidak sebanyak biasanya saat sehat, demam tiga harinya akan mulai membaik di hari ke-3 dan sembuh seperti semula pada hari ke 5. Untuk mendukung kondisi tubuh ternak dalam proses penyembuhan, pemberian vitamin A,D,E, B dan C dalam air minum dapat dilakukan oleh peternak selama 3-5 hari.

Saat kondisi demam, sapi lebih sering memilih makanan, lebih menyukai makanan yang segar dan berair seperti hijauan, dan mengacuhkan makanan kering seperti konsentrat. Makanan beraroma kuat, manis dan disukai sapi seperti buah nangka dan jagung muda dapat diberikan untuk meningkatkan nafsu makan ternak, namun tidak berlebihan, cukup sebagai topping atau taburan diatas pakan hijauan.

Ciri-ciri BEF

Infeksi Sekunder BEF

Penyakit BEF dapat menjadi berbahaya apabila disertai dengan infeksi sekunder. Saat virus penyebab BEF menurunkan kekebalan tubuh sapi, bakteri disekitarnya akan mudah menginfeksi dan terjadilah demam yang semakin lama dan disertai kondisi ternak yang memburuk setiap harinya. Oleh karena itu, apabila peternak melihat kondisi sapinya semakin lesu, atau tidak menyentuh makanan sama sekali sehari penuh, maka sebaiknya peternak memanggil dokter hewan setempat, sehingga dapat dilakukan terapi infeksi sekunder dan supportif pada hewan penderita.

 

 

Tips Merawat Anak Kucing

Tips Merawat Anak Kucing

Bagaimana Merawat Anak Kucing

Jika tiba-tiba di jalan anda menemukan anak kucing terlantar pasti rasanya ingin sekali membawanya pulang karena terlihat lucu atau kasihan, tapi disisi lain anda pasti bingung bagaimana cara merawatnya, betul begitu kan? Jadi dibawah ini ada beberapa informasi yang mungkin berguna untuk anda yang ingin merawat anak kucing.

Sebelumnya harus dipastikan dulu bahwa anak kucing yang ditemukan benar-benar terlantar dan tidak terlihat ada induknya. Tapi walaupun si induk tidak ada disekitarnya bukan berarti anak kucing itu terlantar. Bila anak kucing tersebut bersih, gemuk, dan tidur dengan nyamannya bisa jadi anak kucing itu punya induk yang merawatnya. Bila anak kucing itu kotor, kurus, dan mengeong terus karena kelaparan maka kemungkinan dia terlantar dan terpisah dari induknya. (Note: Idealnya anak kucing tidak boleh dipisahkan dari induk dan saudaranya hingga usia 8-10 minggu)

Cara Membersihkan Anak Kucing

Setelah membawa anak kucing ke rumah, bersihkan dengan kain yang lembut dan kering. Letakkan anak kucing di sebuah kotak yang aman, nyaman, dan tentunya hangat. Untuk menciptakan suasana hangat bisa dengan cara melapisi kotak dengan kain tebal dan hangat, dapat juga ditambahkan lampu dengan daya 5-10 Watt di atas kotaknya.

Sumber Nutrisinya Utama Anak Kucing

Menyusui anak kucing dengan botol

Anak kucing lepas sapih hingga umur 8-10 minggu dan hanya mengkonsumsi susu sebagai sumber nutrisinya hingga umur 5 minggu (mereka belum boleh diberi makanan tambahan┬á hingga umur 4 – 5 minggu). Akan tetapi perlu diingat bahwa kucing tidak dianjurkan meminum susu sapi (mengandung laktosa) karena bisa menyebabkan diare. Susu formula khusus untuk anak kucing bisa di dapat di petshop atau bisa konsultasi dengan dokter hewan terdekat.

 

 

Kebutuhan Susu Anak Kucing

Menyusui anak kucing dengan spuit
Menyusui anak kucing dengan spuit

0 hr 1 mg: 2-4 ml/sekali minum (kebutuhannya 24ml/hari)

1 mg: 3-6 ml/sekali minum (kebutuhannya 32ml/hari)

2 mg: 6-8 ml/sekali minum (kebutuhannya 54ml/hari)

3 mg: 8-10 ml/sekali minum (kebutuhannya 80ml/hari)

4 mg: 10-13 ml/sekali minum (kebutuhannya 104ml/hari)

Jadwal Pemberian Susu Anak Kucing

0 hr : setiap 3 jam/1x (kebutuhannya 8x/ hari)

3 mg: setiap 4 jam/1x (kebutuhannya 5x/ hari)

4 mg: setiap 5 jam/1x (kebutuhannya 5x/ hari)

4-5 mg: 4-5x/hari (mulai dikenalkan dengan pakan basah kalengan dan susu formula)

Cara Menyusui Anak Kucing Yang Benar
Cara Menyusui Anak Kucing Yang Benar

Masih banyak hal-hal lain yang perlu diketahui untuk dapat merawat anak kucing terlantar dengan, terutama yang masih baby So wait for Next Week (to be continue :D)

Referensi

Kraemer, M. 2013. Caring for the Orphaned Kitten. SPCA Serving Erie Country

McCray, C. 2014. Kitten Care Handbook. Kitten Rescue

 

 

Kontributor: drh. Galuh Prawesti Prameswari