Tahukah Anda Tanda Babi Betina Birahi dan Perkawinannya?

Tahukah Anda Tanda Babi Betina Birahi dan Perkawinannya?

Panjangnya Siklus Birahi Babi Betina

PecintaSatwa.com – Di alam bebas babi betina yang memulai mencari pejantan beberapa hari sebelum terjadinya birahi. Signoret dkk (1979) telah melakukan pengujian dengan menggunakan suatu jalan / lorong bersimpang yang berbentuk T. Ia mendapatkan, babi-babi betina yang mendekati waktu birahi (pro estrus), dan yang sedang birahi (estrus), sangat merangsang pejantan. Rangsangan tersebut berlanjut sampai dua hari setelah mencapai puncak birahi. Dalam keadaan uji memilih, pejantan memperlihatkan reaksi agak memilih antara babi betina yang birahi dan yang tidak birahi. Hal ini mendukung pengamatan tentang peranan awal babi betina dalam hubungan seksual.

Peternak Duduk di Punggung Babi

Babi betina birahi akan menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut: pembengkakkan dan memerahnya vulva sejak 2-6 hari sebelum birahi, keluarnya lendir dari vagina, malas, dan terkadang menciumi vulva betina lainnya dalam satu koloni. Mereka juga menaiki dan diam jika dinaiki sesamanya, serta menurun nafsu makannya, pada beberapa breed juga terlihat babi betina menegakkan dan menggerakkan telinganya (ear pricking) ketika birahi. Tanda birahi lainnya yang sangat penting ialah babi betina akan berdiri kaku dan tidak bergerak, kemudian membungkukkan punggungnya (Lordosis) bahkan diam jika peternak duduk diatas punggungnya. Apabila dipelihara dalam suatu kelompok, babi betina juga akan melakukan gerakan gigi yang khas, dan juga berkeliling, berjalan-jalan mencari pejantan dalam koloni tersebut.

Siklus birahi babi betina

Panjangnya siklus birahi babi betina berkisar 21 hari, lama birahi rata-rata 40-60 jam, meski terdapat beberapa kasus babi betina yang dapat birahi hingga 5 hari. estrus pubertal biasanya terjadi lebih singkat (47 jam), diperiode selanjutnya akan lebih lama hingga 57 jam bahkan lebih, singkat dan lamanya siklus birahi juga dipengaruhi oleh breed, musim, panjang pencahayaan matahari, dan abnormalitas endokrin. Ovulasi akan terjadi pada paruh terakhir masa birahi (38-42 jam setelah terjadinya oestrus), karena itu paling baik jika babi betina birahi dikawinkan 2 kali, pada saat awal diketahuinya birahi dan akhir birahinya. Proses ovulasi terjadi selama 3,8 jam (Buisson dkk, 1970), ovulasi akan terjadi 4 jam lebih cepat pada babi betina yang telah dikawinkan daripada yang tidak dikawinkan (signoret, 1973).

Intensitas birahi babi betina dapat ditingkatkan dengan rangsangan bau pejantan yang berasal dari feromonnya, penglihatan, kontak fisik, dan rangsangan suara music (pernah diteliti penggunakan kaset chant de Coeur dari Perancis, responnya sangat baik). Aroma feromon dapat diproduksi secara sintetis dalam bentuk spray, disamping itu secara alami dapat juga dibuat dengan mengisolasi cairan gelain dari preputium, dan menghangatkannya dengan sebuah pot/cawan, hingga mengeluarkan aroma menggoda untuk babi betina.

Interaksi Sosial Pre-Mating pada Babi

Interaksi social antara babi betina dan pejantan dimulai dengan kontak hidung satu sama lain dan terus berlanjut ke proses selanjutnya. Dengan memperlihatkankan punggung saja betina tidak cukup merangsang pejantan, untuk memberikan respon selanjutnya dan juga mempercepat pejantan menaikinya. Setelah kontak hidung dengan hidung, diikuti dengan tahapan rangsangan selanjutnya, seperti menciumi vulva dan bagiang samping betina, menggigit dan mendorong betina, respon berteriak pejantan, dan peran serta hormone feromon yang diproduksi dari gugus androsten kelenjar ludah pada mandibula pejantan.

Interaksi social antara babi betina dan pejantan

Hemsworth dkk (1978) melaporkan bahwa lamanya pejantan menciumi badan samping betina berkorelasi positif dengan tingkat konsepsi dan jumlah anak yang lahir (litter size). Selain itu, memberikan kesempatan bagi babi betina yang dikandangkan berpasangan dengan pejantan, akan mengoptimalkan rangsangan pejantan sebelum perkawinan, juga dapat meningkatkan angka konsepsi dan litter size. Sedangkan pada babi betina yang dikandangkan secara individu, rangsangan sebelum dilakukan inseminasi buatan akan menurunkan angka konsepsi dan litter size secara signifikan.

Pada kandang berpasangan, pejantan akan merangsang efisiensi reproduksi secara efektif dengan mempengaruhi waktu dan tingkat ovulasi, serta tingkat fertilitas. Kebalikannya dengan betina yang dikandangkan secara individu, jika dicampurkan dengan pejantan saat sebelum dikawinkan, terlebih pejantan tersebut adalah babi jantan dewasa yang pertama kali dipasangkan dengannya, akan terjadi stress scara psikologis sehingga berpengaruh pada performa reproduksinya. Penelitian-penelitian tersebut diatas membuktikan pentingnya faktor-faktor psiko-seksual kompleks yang berpengaruh pada fertilitas dan fekunditas babi.

Pejantan akan merangsang efisiensi reproduksi

Perkawinan pada Babi

Tanda terakhir akan terjadinya kopulasi adalah ketika seekor babi betina berdiri tanpa bergerak selama 5 menit, kemudian terjadilah kopulasi dengan waktu yang cukup panjang sekitar 3-20 menit. Pada peternakan babi intensif, babi jantan sering dikenakan kawat ring di hidungnya untuk mempermudah penanganannya, mencegah perusakan lantai kandang, dan juga mencegah babi jantan menyeruduk betinanya yang dapat berpengaruh buruk pagi tingkat reproduksinya, termasuk keberhasilan perkawinannya. (Baca: Tingkah Laku Reproduksi Babi)

Pada saat menaiki, pejantan memegang betina dengan kaki depannya dan meletakkan perutnya sepanjang punggung betina. Panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan penis dan memasukkannya ke dalam vagina bervariasi, tergantung pada pengalaman pejantan. Pejantan yang tidak berpengalaman, beberapa kali menaiki dari depan, dan samping sebelum dapat memasukkan penisnya. Ejakulasi terjadi pada saat kepala penis terkait pada serviks babi betina.

Sikap diam betina merupakan suatu stimulus yang paling penting untuk terjadinya kopulasi pada semua jenis hewan. akan tetapi, dalam kasus perkawinan babi, betina harus berdiri diam selama beberapa menit, karena proses ejakulasi babi jantan cukup lama. Selama kopulasi terjadi, pejantan beberapa kali mendorong betina. Pejantan mengeluarkan semen dalam jumlah cukup banyak dibandingkan sapi jantan, sekitar 500ml. jika tahapan ejakulasi selesai, pejantan akan turun, menarik penisnya dan memasukkannya kembali kedalam preputium. kemudian pada fase istirahat pejantan akan menjilati betinanya.

Dalam peternakan babi, disarankan untuk mengawinkan babi betina muda dengan pejantan tua yang berpangalaman, dan sebaliknya betina tua yang berpengalaman dalam masa puncak birahi dapat dikawinkan dengan pejantan muda untuk melatihnya. Babi betina muda, biasanya menolak jika akan dikawinkan pertama kali, karena itu babi betina muda dapat ditemani oleh babi betina lainnya yang lebih dewasa dan tidak dalam keadaan birahi, karena dapat mengacaukan focus pejantan. Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengawinkan babi betina muda adalah dengan mengikatnya, namun cara ini akan menyebabkan stress yang berdampak pada angka konsepsi dan litter size sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. (Simak: Babi Bali – Babi Liar Bernilai Tinggi)

Perlu diingat dalam manajemen perkawinan babi, babi betina yang akan aktif mencari pejantan. Kontak social yang terjadi akan berkembang menjadi konkat seksual. Dilain pihak, pejantan akan menunggu tanda-tanda komunikasi birahi dari babi betina yang mendekat. Proses perangsangan pada perkawinan babi membutuhkan waktu yang cukup lama. Di alam, sepasang babi akan tetap bersama selama satu minggu dan kawin 7-11 kali dalam 70 jam periode kawin.

 

Pentingnya Susu Pengganti Bagi Pedet Pedaging Baru Lahir

Pentingnya Susu Pengganti Bagi Pedet Pedaging Baru Lahir

Susu untuk Pedet Baru Lahir

PecintaSatwa.com – Fase kritis dalam kehidupan pedet ada di awal masa kehidupannya. Perawatan pada hari-hari pertama setelah ia dilahirkan memiliki peranan penting untuk menentukan kualitas tumbuh kembang pedet selanjutnya. Karena itu penanganan pedet baru lahir harus diperhatikan sebaik-baiknya, agar pedet tidak kekurangan nutrisi.

Pedet baru lahir harus mendapatkan kolostrum pada 24 jam pertama dari induknya untuk menguatkan imunitas tubuhnya. Akan tetapi pada kasus tertentu pedet tidak bisa mendapatkan kolostrum induknya karena induk tutup usia pasca melahirkan atau induk tidak memiliki sifat keibuan (maternity) yang baik. Karena itulah peternak harus memberi perhatian ekstra apabila memiliki pedet dengan kondisi tersebut. (Baca: Merawat Pedet Sapi Pedaging Part 1)

Teknik Memberi Susu untuk Pedet Baru Lahir

Pada induk yang memiliki maternity kurang baik, pedet harus diberi kolostrum induknya dengan cara memerah susu induknya, demi keamanan peternak dapat melakukannya di kandang jepit, atau di kandang pemeliharaan dengan pengamanan tali. Kolostrum harus diperah semaksimal mungkin, kemudian langsung diminumkan pedetnya semampu pedet tersebut minum, jika masih ada sisanya, dapat disimpan di lemari pendingin untuk diminumkan beberapa jam kemudian. (Baca pula: Persiapan Kelahiran pada Sapi)

Sedangkan pada pedet yang induknya tutup usia, kolostrum yang diberikan dapat berupa kolostrum beku yang diambil dari induk sapi 1-3 hari pasca melahirkan. Kolostrum tersebut sebaiknya di pasteurisasi dulu sebelum diberikan, atau dapat pula langsung dihangatkan / thawing sebelum diberikan. suhu susu yang mirip dengan hangatnya susu dari ambing induk dapat meningkatkan nafsu menyusu pedet.

Susu CMR (Calf Milk Replacer)

Setelah pemberian kolostrum di hari pertama, hari selanjutnya hingga 3-4 bulan pedet harus tetap diberi susu pengganti untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, biasanya peternak menggunakan susu CMR (calf milk replacer), susu afkir, susu induk lain, atau susu beku. Susu afkir, berharga paling murah, susu ini biasanya berasal dari susu curah untuk manusia yang baru saja kadaluarsa, akan tetapi keamananya dari susu ini masih dipertanyakan.

Peternak yang memelihara beberapa ekor sapi pedaging yang sedang menyusui atau sapi perah yang sedang laktasi relatif lebih mudah mengasuh pedet ini, karena susu pedet piatu masih dapat diambilkan dari susu induk lain baik ia dilatih untuk menyusu sendiri ke induk tersebut, atau diperahkan oleh peternak.

Berbeda dengan pedet sapi perah, pedet sapi pedaging tidak dapat diberi susu CMR sebagai asupan nutrisinya di minggu-minggu pertama. Lambung pedet susu pedaging cenderung lebih sensitif, sering dijumpai adanya kematian mendadak pada minggu pertama akibat radang pada saluran pencernaan pedet yang ditandai dengan adanya diare, lemas dan penurunan nafsu makan. (Simak juga: Apa Saja Penyebab Keracunan pada Ternak)

Pedet sapi pedaging yang tidak diasuh induknya, lebih baik diberi susu sapi murni yang dapat dibeli peternak di tempat penampungan susu setempat. Apabila terlalu mahal, peternak dapat memerah susu sapi induk lain yang juga sedang menyusui, kemudian. diberikan kepada pedet sebagian sedangkan sebagian lainnya dibekukan di freezer. hindari penggunaan susu CMR dan susu afkir pada minggu pertama dan kedua.

Susu Pengganti Bagi Pedet

Pada beberapa kasus, pedet masih menunjukkan gejala diare dan lemas meski telah diberi susu sapi murni atau susu beku yang diencerkan, apabila keadaan ini terjadi segera hubungi tenaga medis untuk diberikan terapi antibiotic dan vitamin, selanjutnya lebih baik susu pedet diganti dengan susu formula untuk bayi usia 0-6 bulan.

Susu formula bayi usia 0-6 bulan memiliki partikel yang lebih lembut, sehingga tidak mengiritasi lambung pedet. Harga susu formula memang sangat mahal namun jika dibandingkan dengan kerugian kematian pedet, jumlah tersebut masih dapat dijangkau oleh peternak.

Susu formula digunakan selama satu minggu penuh. Pada minggu ke 2-3, susu formula dapat mulai dicampur dengan CMR sedikit demi sedikit dengan perbandingan susu formula 75% dan CMR 25% selama 3 hari, dilanjutkan dengan 50% susu formula dan 50% susu CMR di 3 hari berikutnya, hingga pedet dapat menerima susu CMR 100%. Perpindahan pakan dari susu formula ke susu CMR harus dilakukan perlahan-lahan agar tubuh pedet tidak stress, dan nafsu makannya stabil. Apabila program ini dapat dilakukan dengan lancar, pada minggu ke 3 peternak sudah dapat menggunaka susu CMR 100% untuk pedet pedagingnyanya hingga masuk masa sapih. Namun apabila ditengah masa transisi terjadi shock atau penurunan kondisi tubuh pedet, maka sesegera mungkin beri ia 100% susu formula, biasanya tubuh pedet akan berangsur angsur membaik, hingga siap dilakukan masa transisi kembali.

Selama minggu-minggu awal pemberian susu pada pedet, tetap kenalkan ia dengan hijauan dan konsentrat sedikit demi sedikit. Hindari pemberian hijauan atau konsentrat yang berlebihan sebelum pedet berusia 2 bulan, karena lambung mekanis penggiling seratnya (rumen) belum terbentuk sempurna, hal demikian akan menyebabkan terjadinya kembung yang sangat berbahaya bagi pedet. Cukup berikan ia hijauan dan konsentrat sebagai perkenalan saja. (Ketahui pula: Demam 3 Hari pada Sapi)

Jika kita memandang hewan peliharaan dan hewan ternak kita sebagai kehidupan, tidak akan ada yang terlalu mahal untuknya.. sebagai makhluk yang bernyawa ia berhak mendapatkan yang baik dari kita yang memeliharanya, hingga dikemudian hari ia akan memberikan kebaikan kepada kita sebagaimana fitrahnya di bumi ini.

 

Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 2)

Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 2)

Tips Merawat Pedet Sapi Pedaging

PecintaSatwa.com – Menyambung artikel sebelumnya Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 1) . Memasuki usia delapan minggu atau 2 bulan, pedet sudah mulai banyak mengkonsumsi konsentrat dan hijauan. Pakan tambahan ini sudah menjadi salah satu pakan utama selain susu induknya. Pada industri peternakan yang telah memproduksi pakan konsentrat khusus pedet, dengan formula yang mencukupi kebutuhan pedet, pedet usia 2 bulan sudah dapat disapih dari induknya dan dipanen.

Teknik penyapihan Pedet Pedaging dilakukan dengan tahapan dibawah ini:

  • Dalam satu kandang usahakan terdapat beberapa pasang induk-pedet dengan umur yang mendekati seragam (idealnya 5-8 pasang / kandang)
  • Ambil satu induk setiap dua hari sekali, pindahkan ke kandang yang cukup jauh sehingga pedet tidak dapat melihat induknya. Pedet akan memanggil-manggil induknya selama satu hari, kemudian ia akan menyusu ke induk lain sambil mengkonsumsi hijauan dan konsentrat yang tersedia. Stress pedet tidak akan berlangsung lama, karena ia masih bisa menyusu ke induk lain dan terus bermain bersama teman-temannya. Lakukan tahapan ini hingga semua pedet tersapih.
  • Pedet siap dipanen, sebelum pedet didistribusikan sebaiknya pedet diberi vitamin anti stress dan penambah nafsu makan untuk menjaga stabilitas tubuhnya selama dalam perjalanan.

Penyapihan pedet pada usia 2 bulan yang dilakukan industri pembibitan dan penggemukan sapi potong terbukti masih dapat menghasilkan pedet berkualitas dengan rata-rata pertambahan bobot badan (average daily gain / ADG) lebih dari 1 kg / hari / ekor. Tanpa menemui kendala yang berarti. Akan tetapi, setelah diteliti lebih lanjut, semakin lama pedet menyusu dan diasuh induknya, semakin baik performa tumbuh kembang yang dihasilkan.

Saat disapih, pedet akan mengalami masa adaptasi yang berat, dari pakan susu sebagai pakan pokok ke pakan hijauan dan konsentrat. Pada masa-masa ini biasanya berat badan pedet akan turun drastis dan kembali naik stabil setelah 2-4 minggu kemudian. Namun pada pedet yang disapih pada umur 4 bulan, masa adaptasi peralihan pakan pedet terjadi tidak terlalu lama, penurunan bobot badan pun tidak drastis, performa tubuh pedet terlihat lebih besar dan kuat dengan tumbuh kembang yang progresif. (Pelajari juga: Amankah Daging Sapi Fasciolasis)

Program Penyapihan Pedet Sapi Pedaging

Efektifitas dan efisiensi penyapihan pada usia 2 atau 4 bulan sangat beragam, tergantung dari skala industri dan peruntukan industri tersebut. Apabila pada peternakan rakyat, penyapihan 4 bulan lebih banyak dilakukan untuk mencegah terjadinya shock yang berlebihan pada pedet yang menyebabkan pedet stress dan sakit. Sedangkan pada peternakan skala sedang hingga besar, penyapihan usia 2 bulan lebih banyak dipilih karena pedet dapat segera dijual dengan harga yang tinggi, dan induknya dapat segera di IB kembali untuk menghasilkan kebuntingan selanjutnya.

Program sapih pedet usia 2 bulan lebih diminati perusahaan peternakan, dengan sistem pembibitan 1 pedet pertahun, dimana dibagi menjadi 9 bulan untuk kebuntingan, 2 bulan untuk pengasuhan pedet sekaligus persiapan rahim kembali, dan 1-1,5 bulan untuk proses IB. apabila disetiap tahapan tidak ditemui kendala yang signifikan, didukung dengan keadaan indukan yang sehat dan manajemen pemeliharaan yang baik, program satu pedet per tahun tidak mustahil dicapai oleh perusahan pembibitan. Berhasilnya program ini merupakan panen raya bagi perusahaan, karena cash flow dapat lebih cepat berputar dengan angka yang cukup besar. (Pelajari pula: Waspada Cacing Hati pada Sapi)

Peliharalah sapi-sapi anda dengan kasih sayang dan animal welfare, penuhilah kebutuhannya dan berilah fasilitas yang layak, karena pedet yang baik akan dihasilkan oleh indukan yang bahagia. Selamat beternak!

 

Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 1)

Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 1)

Bagaimana Merawat Pedet Sapi Pedaging

PecintaSatwa.com – Setelah dinanti selama 9 bulan lebih akhirnya lahir juga sang pedet, senyum peternak selalu merekah jika pedetnya terlahir normal dan sehat. Pedet jantan biasanya cenderung lebih disukai karena memang lebih mahal harganya, terlebih jika hasil inseminasi buatan (IB) dengan bibit sapi impor, maka akan terlahir pedet cross dengan performa tubuh yang kokoh dan besar, sebagaimana perwujudan induk jantannya yang digunakan, seperti sapi Simenthal, Limosin, dan Brahman.

Pedet betina biasanya dihargai 1-2 juta dibawah harga pedet jantan, ini pun tidak masalah bagi peternak karena pedet betina ini masih bisa terus dipelihara untuk dijadikan indukan, dan mulai di IB 1,5 tahun kemudian. Pedet-pedet tersebut akan benar-benar menjadi panenan besar bagi peternak apabila tumbuh dengan baik dan sehat terutama di bulan-bulan awal kehidupannya, karena itu para peternak, pengusaha peternakan dan anak kandang harus dapat mengusai teknik pengasuhan pedet sapi pedaging di awal pertumbuhan, agar dapat mencapai hasil maksimal.

Cara Merawat Pedet Sapi Pedaging

Merawat pedet sapi pedaging sebenarnya tidak serumit sapi perah, karena biasanya pedet akan dibiarkan menyusu dengan induknya hingga beberapa bulan. Dibawah pengasuhan sang induk, pedet dapat tumbuh dengan baik, berbeda halnya dengan pedet sapi perah yang langsung dipisahkan dari sang induk ketika baru saja lahir, tentu membutuhkan perawatan ekstra hati-hati. (Baca juga: Persiapan Kelahiran pada Sapi)

Beberapa saat setelah terlahir, pedet akan dirawat induknya dengan baik. Bagi induk dengan maternity (sifat keibuan) yang baik, ia akan menjilati hidung, kepala dan seluruh tubuh anaknya begitu terlahir, hingga bersih dan kering. Jilatan ini berfungsi untuk merangsang pedet bernafas sekaligus sebagai stimulasi sel-sel syaraf diseluruh tubuh pedet. Induk cenderung bersifat protektif terhadap anaknya, peternak harus berhati-hati jika mendekati sang pedet, karena induk yang protektif biasanya akan menyerang siapa pun di dekat anaknya.

Apabila induk tidak terlalu galak, atau maternity induk tidak terlalu bagus, peternak dapat mengelap tubuh pedet dengan handuk kering, terutama bagian moncongnya. Pastikan hidung pedet bersih dari air ketuban, jika diperlukan dapat digunakan syringe tanpa jarum untuk menghisap cairan dalam hidung pedet, sehingga pedet dapat langsung bernafas dengan lancar. Setelah itu, pastikan pedet dapat berdiri sendiri dan menyusu pada induknya, sepuasnya menghisap kolostrum.

Kolustrum sangat penting bagi pertumbuhan pedet, karena kandungan immunoglobulin dan antibody maternal dari sang induk. Zat-zat tersebut berfungsi sebagai imunitas pertama bagi pedet agar tidak rentan terhadap penyakit. Usus pedet hanya dapat menyerap nutrisi penting dalam kolostrum secara maksimal selama 24 jam pertama pasca dilahirkan. Karena itu pemberian kolostrum pada hari pertama wajib dilakukan oleh peternak.

Aktifitas Pedet Sapi Pedaging

Satu minggu pertama kelahiran pedet, aktifitasnya akan mulai meningkat. Setiap pagi, siang, sore dan malam hari pedet akan menyusu pada induknya, setelah kekenyangan ia akan tidur dekat sang induk atau di tempat yang nyaman, ia juga akan berlarian kesana kemari layaknya anak-anak sedang bermain riang gembira, apalagi jika dalam satu kandang terdapat lebih dari satu pedet, segera akan terbentuk “geng” anak-anak sapi yang hobi bermain dan saling menyusu antar induk.

Memasuki minggu kedua, pedet akan mulai mencoba memakan hijauan. Pertama kali ia akan mengunyah daunnya saja dan meninggalkan bagian batang yang keras. Pakan hijauan pada masa ini masih bersifat sebagai ‘cemilan’, sedangkan pakan utamanya masih susu dari induknya. Apabila pedet dipisahkan dari induknya, pastikan tidak memberikan hijauan terlalu banyak pada usia ini, cukup sedikit saja sebagai perkenalan. Usus pedet 2 minggu belum siap menerima pakan tinggi serat, sehingga rawan terjadi kembung apabila pedet terlalu banyak mengkonsumsi hijauan.

Minggu ketiga dan keempat, pedet mulai menjilat konsentrat, sebagai perkenalan. Pedet bersama induknya akan makan bersama dalam satu palungan. Pedet juga sudah mulai meminum air minum dalam kandang selain makanan dan minuman pokoknya, dari ambing sang induk. Pada usia ini, pakan non susu masih bersifat coba-coba atau cemilan pedet, susu induk tetap menjadi pakan yang utama. ( Simak: Sapi Madura – Ternak Primadona)

Memasuki usia delapan minggu atau 2 bulan, pedet sudah mulai banyak mengkonsumsi konsentrat dan hijauan. Pakan tambahan ini sudah menjadi salah satu pakan utama selain susu induknya. Pada industri peternakan yang telah memproduksi pakan konsentrat khusus pedet, dengan formula yang mencukupi kebutuhan pedet, pedet usia 2 bulan sudah dapat disapih dari induknya dan dipanen.

Berlanjut ke part 2 >>

 

 

Lebih Dekat dengan Anjing Chihuahua

Lebih Dekat dengan Anjing Chihuahua

Anjing Chihuahua

Sahabat Pecinta Satwa, jika anda menggemari anjing ras kecil, anda pasti tertarik dengan anjing kecil yang mendunia bersama penyayangnya yang cantik, kaya raya, dan banyak disorot media. Ya! Paris Hilton dan anjing Chihuahua nya. Anjing kecil nan elok ini sering terekam awak media berjalan bersama nona cantiknya, di berbagai acara di penjuru dunia. Berpose cantik, anggun dan mewah tak ingin kalah dengan sang nona, artis sekaligus pengusaha hotel dunia turun temurun.

paris hilton dan chihuahua

Banyak ilmuwan yang menduga bahwa si kecil cetar ini berasal dari negeri tirai bambu, tapi memang secara resmi diklaim sebagai anjing asli meksiko. Diduga Chihuahua pertama kali medarat di daratan amerika pada tahun 1890an, relative baru bukan?! Namun karakter dan wajahnya yang menggemaskan, menjadi ia segera melejit menjadi primadona bersama sang bintang Hollywood. (Simak: Gagahnya Anjing Rotweiller)

Chihuahua memang si kecil cabe rawit. Jangan heran jika tubuh kecilnya itu menyimpan hati yang besar, baik, pemberani disertai otak yang cerdas. Anjing terkecil didunia ini pun tergolong jenis anjing yang mudah dilatih, tidak bandel dan menyusahkan, dapat menjadi pilihan anda jika ingin mengadopsi anjing kesayangan dirumah.

Ciri Alami Anjing Chihuahua

Chihuahua secara alami memiliki kemampuan yang baik sebagai anjing pengawas, bersifat protektif, dan tidak ragu untuk berdiri didepan anda untuk menghadapai lawan yang lebih besar darinya, sungguh pemberani bukan..?, namun meski begitu, anjing Chihuahua tidak disarankan dipelihara jika anda memiliki bayi atau balita dirumah, kemungkinan karena sifatnya yang terkadang posesif dan kurang memiliki keahlian sebagai pengasuh yang baik.

Secara anatomi, Chihuahua dapat tumbuh setinggi 15-23cm, dengan berat 2-3kg. dari pengalaman para penyanyang Chihuahua, ia dapat hidup hingga lebih dari 12 tahun. Bentuk kepala khas Chihuahua menyerupai buah apple, dengan mata bulat yang lebar dan telinga segitiga seperti telinga kalelawar. Anjing kecil ini terbagi menjadi dua jenis, long hair dan shorthair dengan banyak variasi warna, sepeti coklat muda, coklat tua, kuning kemerahan, hitam dan coklat khaki yang menarik, kebanyakan setiap ekor hanya memiliki satu warna, jarang sekali dijumpai Chihuahua dengan warna kombinasi.

Jika anda tertarik mengadopsi Chihuahua, anda harus sering melakukan perawatan / grooming sekitar seminggu sekali, gunakan sampo anjing yang tepat, tidak terlalu basa yang bisa membuat kulit anjing kering, berkerak dan bulu rontok. Untuk kebutuhan exercise, si kecil tidak terlalu banyak membutuhkannya, cukup sekitar 1 jam sehari berjalan santai, sebagai sarana untuk merenggangkan otot-otot tubunya, sekaligus sebagai sarana bersosialisai untuknya, karena umumnya Chihuahua memang sangat mudah bersosialisasi dengan manusia dan anjing ras lain.

Waspadai Kesulitan Kelahiran Chihuahua

Sebagaimana ras anjing kecil lainnya, Anjing Chihuahua sering mengalami kasus kesulitan melahirkan karena bentuk pinggul induknya yang kecil (distokia maternal), atau sering kali diperparah juga dengan ukuran puppies yang terlalu besar akibat ia dikawinkan dengan anjing ras lain yang berukuran lebih besar darinya (crossbreed), akibatnya kesulitan kelahiran ini semakin berganda (distokia fetalis).

Apabila anda memelihara sepasang atau Chihuahua betina dirumah, disarankan agar memperhatikan siklus reproduksinya. Apabila anda memang berniat mengawinkannya, anda harus memastikan bahwa pasangannya satu ras dengan anjing anda, selain itu catat pula tanggal kawinnya. Satu bulan kemudian, anda sebaiknya memeriksakan anjing anda ke Rumah Sakit Hewan (RSH) untuk mengetahui status kebuntingannya, dan letak janinnya menggunakan alat Ultrasonography (USG). Jika positif bunting, anda akan dapat mengetahui perkiraan usia kebuntingannya berdasarkan diameter kepala janin yang terlihat di layar USG, sehingga anda dapat memperkirakan rentang tanggal kelahirannya.

Kebuntingan Chihuahua

Kebuntingan anjing berkisar 64-68 hari, pada hari ke 62-63 anda dapat membawa kembali anjing kesayangan anda ke Rumah Sakit Hewan untuk mendapatkan perawatan intensif pra kelahiran. Jika keadaannya normal, dan besar janin tidak berlebihan, Chihuahua dapat melahirkan normal dengan bantuan dokter hewan ahli, karena memang prosesnya relative sulit, jika ditengah-tengah prosesnya terjadi gangguan seperti induk terlalu lelah, tidak kuat merejan, atau anak tersangkut, dokter hewan akan segera melakukan tindakan bedah Caesar saat itu juga.

Berbeda hal nya jika pada awal pemeriksaan telah terpantau keadaan Chihuahua yang tidak memungkinkan melahirkan normal karena keadaan induk atau janinnya, maka operasi Caesar akan segera dijadwalkan oleh dokter hewan ketika sudah masuk hari perkiraan lahir, dan kondisi kesehatan induk telah dipersiapkan sebelumnya.

Banyak kasus yang memperihatinkan, ketika owner kurang memperhatikan keadaan anjingnya, membiarkan ia melahirkan sendiri, dan baru membawa anjingnya ke RSH, setelah keadaannya lemas, atau janin telah separuh keluar, hal ini tentu sangatlah membahayakan bagi induk dan puppies, karena induk yang kelelahan, perjuangan hidupnya akan lebih berat. Begitu juga dengan puppiesnya, setiap rejanan akan menekan pernafasannya, apabila dibiarkan terlalu lama, kemungkinan untuk selamat juga semakin kecil.

Oleh karena itu, sebagai owner yang bijak kita harus memperhatikan┬á anjing kesayangan kita, tanggung jawab nyawa sebagai sesama makhluk hidup harus mendasari setiap tindakan yang kita lakukan. Terlebih anjing kesayangan sudah menjadi bagian dari keluarga yang selalu dirindukan…

 

Amankah Daging Sapi Fasciolasis?

Amankah Daging Sapi Fasciolasis?

Memilih Daging Sapi yang Aman

PecintaSatwa.com – Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang serba serbi fasciolasis yang menyerang sapi, bagaimana alurnya dan kerugian yang dihasilkan. Lalu, bagaimana dengan produk sapi yang kita konsumsi? Apakah aman jika kita mengkonsumsi daging sapi menderita fasciolasis? Bagaimana dengan sayur sayuran yang kita makan?, dimana sayur tersebut ditanam pada lahan basah tempah sibut Limnea rubigenosa hidup dan bekembang?

Banyak sapi yang baru diketahui menderita fasicolasis setelah disembelih, terutama pada sapi yang dipelihara oleh peternakan rakyat, saat organ hatinya diperiksa akan tampak kelainan-kelainan yang disebabkan oleh cacing hati. Peternak tidak menyadari hal demikian ketika memeliharanya, karena kemungkinan kasus ini terjadi secara kronis, dalam jangka waktu yang lama, perlahan namun pasti membuat ternak menderita, sedangkan peternak hanya melihat sapinya yang tak kunjung gemuk meski banyak makan, sehingga sang peternak pun menjualnya untuk disembelih. (Baca: Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?)

Pemeriksaan Daging Sapi di Pemotongan

Di rumah potoh hewan (RPH), dilakukan pemeriksaan antemortem (sebelum disembelih) dan post mortem (setelah disembelih), sebagai kontrol kualitas atas daging sapi yang dipotong di RPH tersebut. Jika dijumpai adanya kelainan hati karena fasiciolasis, makan dokter hewan di RPH tersebut akan menyatakan sapi tersebut layak dikonsumsi dengan syarat. Daging/otot sapi dapat dikonsumsi semua, kecuali bagian hatinya harus dibuang, begitu pula dengan organ dalam lainnya, apabila dinilai masih baik dan normal, dapat dinyatakan layak konsumsi, namun juga sudah terjadi kelainan akibat penyakit tersebut, maka seluruh organ dalam sapi wajib diafkir, tidak untuk dikonsumsi.

Sebenarnya hati sapi yang rusak karena fasciolasis tidak menyebabkan penyakit pada manusia jika mengkonsumsinya, karena stadium cacing yang aktif menyerang hewan atau manusia adalah dalam bentuk metacercaria yang banyak menempel pada tumbuh-tumbuhan air atau yang ditanam di lahan basah. Tapi, kenapa hati dan organ dalam tersebut dilarang untuk dikonsumsi?

Daging dan Organ Dalam Sapi yang Layak Dikonsumsi

Demi melindungi konsumen, kelayakan produk hewan untuk dikonsumsi didasarkan oleh 4 kriteria yaitu ASUH, Aman-Sehat-Utuh-Halal, sebagaimana tertuang dalam Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia, No18 Tahun 2009, Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Aman dari penyakit berbahaya yang menular melalui kontak maupun konsumsi, Sehat bergizi dan bernutrisi bagi manusia, utuh dalam kondisi baik tidak kurang suatu apapun karena penyakit, dan halal karena disembelih dengan baik sesuai syariat islam. Hal ini disepakati dan dan disahkan pemerintah untuk menjaga konsumen dari resiko terkena penyakit dan menjaga keamanan batin konsumen sesuai dengan kepercayaan agamanya.

Hati dan organ dalam sapi yang rusak karena fasciolasis digolongkan dalam kedaan tidak utuh dan tidak sehat. Tidak utuh karena sudah terjadi kelainan, yang menyebabkan bentuknya berubah dari keadaan normal menjadi tidak sehat karena jaringan hati dan organ dalam tersebut telah mengalami kerusakan sehingga nilai gizi nya telah menurun jauh dibandingkan dengan organ sehat. Karena itulah, organ yang rusak dinyatakan tidak layak dikonsumsi, sedangkan daging/otot yang sehat dapat dikonsumsi dengan aman.

Hal terpeting yang harus kita waspadai adalah sayur-sayuran yang kita makan. Karena sayuran yang ditanam di media basah atau di air beresiko mengandung stadium aktif cacing, dalam bentuk kista maupun metacercaria. Apabila dalam mengolahnya tidak benar-benar hygen, bukan tidak mungkin kita terjangkit fasciolasis. (Simak: Apa Saja Penyebab Keracunan Ternak)

Sayur sayuran seperti kangkung, sawi, selada air, harus dicuci terlebih dahulu sebelum dimasak. Lebih baik anda mencucinya dengan air mengalir selama beberapa saat hingga bersih. Sabun pencuci buah dan sayur dapat juga digunakan, namun tetap bilas sayur anda dengan air mengalir hingga tidak ada sisa licin dan aroma sabun yang tertinggal, dan yang paling utama adalah tahap memasaknya. Masak sayur-sayuran hingga matang, meski tidak sampai terlalu lunak atau berubah warna, pastikan sayuran anda matang sebelum dihidangkan. Kurangi mengonsumsi salad, yang terdiri dari sayur-sayuran mentah terlebih jika anda tidak mengetahui asal sayuran tersebut dan bagaimana metode menanamnya.

Stay happy and keep healthy

 

Mengapa Terjadi Radang Ambing pada Sapi

Mengapa Terjadi Radang Ambing pada Sapi

Penyebab Radang Ambing pada Sapi (Mastitis)

PecintaSatwa.com – Radang ambing (mastitis) lebih sering diderita oleh sapi perah dari pada sapi potong. Penyakit ini tergolong penyakit strategis, bukan karena keganasannya yang membahayakan nyawa ternak, namun karena penurunan produksi susu secara drastis yang sangat membahayakan ‘dompet’ peternak, sehingga bukan hanya sapinya yang sakit, peternaknya pun bisa sakit-sakitan karena stress dengan penurunan pendapatannya. (Simak juga: Hati-hati Cacing Hati pada Sapi)

Faktor Terjadinya Mastitis pada Sapi

Mastitis terjadi karena adanya infeksi mikroorganisme baik bakteri, jamur maupun ragi yang menyerang ambing sapi, level infeksi dipengaruhi beberapa faktor seperti tingkat laktasi, umur sapi, dan ketuntasan pemerahan. Bakteri yang menyerang dapat berbagai macam, biasanya merupakan bakteri normal yang ada di lingkungan, namun menjadi berbahaya ketika jumlahnya berlebihan, contohnya Staphylococcus sp. dan Streptococcus sp..

california mastitis test

Bakteri-bakteri infeksius tersebut dapat masuk ke ambing sapi dan menyerangnya disebabkan adanya situasi mendukung perkembangbiakan, seperti adanya luka pada ambing karena kasarnya proses pemerahan, atau karena tergores sesuatu di lantai kandanag sehingga menjadi jalan masuknya bakteri, hal ini diperparah dengan kebersihan kandang yang kurang optimal, jumlah bakteri di sekitar sapi pun semakin banyak dan siap menyerang sapi disaat pertahanan tubuhnya lemah, seperti pada masa-masa pergantian cuaca, panas menyengat atau hujan deras yang sangat dingin.

Selain keadaan diatas, kemungkinan terjadinya mastitis dapat meningkat ketika usia ternak semakin tua, setelah mengalami masa laktasi yang begitu lama menyebabkan otot-otot disekitar ambingnya tidak sekuat dan serapat waktu muda, terlebih pada ternak dengan riwayat produksi susu tinggi. (Baca pula: Demam 3 Hari pada Sapi)

Proses pemerahan yang tidak higene dan tidak tuntas juga memperbesar potensi mastitis. Pemerahan harus dilakukan secara teratur dan tuntas, biasanya sehari dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Pemerahan yang tidak tuntas akan menyebabkan terbentuknya endapan / pengapuran susu di diambing sapi yang dapat menginisiasi terjadinya keradangan. Pemerahan dengan menggunakan milking machine pun harus diperhatikan dengan baik penggunaannya. Alat harus selalu bersih sebelum dipakai, dan dicuci dengan air hangat dicampur desinfektan setelah digunakan. Meski diperah menggunakan mesin, pada akhir pemerahan peternak juga harus memerah dengan menggunakan tangan untuk memastikan proses pemerahan telah tuntas, tidak terdapat sisa susu lagi yang keluar.

Gejala Klinis Radang Ambing pada Sapi (Mastitis)

Gejala klinis mastitis yang dapat diamati oleh peternak antara lain: terjadi penggumpalan pada susu saat diperah bahkan warna susu dapat berubah menjadi kekuningan, adanya penurunan produksi susu, saat dilakukan uji alkohol di tempat penampungan susu maka susu akan terlihat pecah. Pada kondisi yang cukup parah, nafsu makan sapi akan berkurang, sapi mengalami demam, pada bagian ambing akan teraba panas, merah dan lebih sensitif. Apabila mastitis telah diderita dalam jangka waktu yang lama (kronis), ambing sapi dapat mengeras, tampak adanya luka radang bahkan membusuk, ambing tidak dapat menghasilkan susu, dan hanya keluar cairan bening kekuningan. Mastitis biasanya menyerang ambing per-quartir (bagian), dari keempat ambing, mungkin hanya satu atau dua yang terinfeksi, namun tetap waspada karena infeksi dapat menular ke ambing yang lain, hingga kesemua ambing terkena mastitis. (Ketahui pula: Persiapan Kelahiran pada Sapi)

Tidak semua kasus mastitis menunjukkan gejala klinis yang jelas. Pada kasus mastitis subklinis, gejala-gejala diatas sangat jarang terlihat, akan tetapi secara pelan dan pasti, lambat laun produksi susu akan terus menurun. Karena itu, biasanya tenaga medis veteriner melakukan pemeriksaan rutin tahunan untuk mengetahui timbulnya penyakit ini menggunakan tes CMT (California Mastitis Test).

Pencegahan Radang Ambing pada Sapi

Tindakan pencegahan mastitis harus dilakukan secara sinergis antara peternak dan tenaga medis kedokteran hewan dari dinas peternakan di kawasan peternak, atau bersama dengan perusahan kemitraan setempat. Penanggulangan mastitis dapat diawali dengan menjagaaan sanitasi kandang yang baik, kebersihan lantai, alat perah, dan tangan peternak saat pemerahan harus diperhatikan. Manajamen pemeliharaan, pakan dan kandang juga harus sesuai dengan standard peternakan yang baik dan benar. Vaksinasi juga dapat dilakukan dengan menggunakan strain vaksin yang sesuai dengan agen infeksi di daerah setempat. Saat ini dinas peternakan sudah mulai menggalakkan vaksinasi mastitis sebagai pencegahan aktif dan mendukung produski susu dalam negeri.

Kerja sama antar pihak yang sinergis akan menghasilkan pencegahan optimal, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati kan…

 

Heboh! Benarkah Rabies Menyerang Ayam?

Heboh! Benarkah Rabies Menyerang Ayam?

Penyebab Rabies pada Ayam

PecintaSatwa.com – Jika sebelumnya ramai-ramai kasus rabies terjadi pada anjing dan manusia di Bali, kali ini di India ditemukan kasus rabies yang menyerang ayam. Sebagaimana yang dilaporkan oleh para peneliti, dan dipublikasikan oleh Julie Baby dkk. dalam jurnal ilmiah PLOS Neglected Tropical Disease, pada tanggal 22 Juli 2015

Rabies disebabkan virus genus Lissavirus, dalam family Rhabdoviridae. Virus tersebut mengakibatkan terjadinya radang otak fatal (encephalitis). Sebelumnya, diyakini bahwa rabies hanya menyerang golongan mamalia, tidak hanya anjing, kucing dan kera, bahkan di Indonesia pertama kali kasus rabies ditemukan pada seekor kuda (1884), kerbau (1889), kemudian seorang anak di Cirebon (1894). Kendati demikan, ternyata rabies juga rentan pada golongan hewan berdarah panas lainnya seperi unggas dan burung yang berada di daerah endemic dengan populasi anjing dalam jumlah besar. (Simak: 7 Hal Penting Keberhasilan Biosecurity Area Peternakan)

Penelitian Rabies pada Ayam

Para peneliti India ini mempelajari beberapa sampel ayam (Gallus domesticus) yang mati secara normal, dimana dilaporkan telah tergigit anjing 1 bulan yang lalu di bagian otot dadanya. Semula, ayam itu terlihat normal, diobati oleh pemiliknya dibagian lukanya, namun sebulan kemudian, kondisi ayamnya semakin memburuk, mulai lemah, menurun nafsu makannya dan mati. Saat di nekropsi (autopsi untuk hewan), tidak terdapat tanda-tanda lesi atau kerusakan organ dalam yang berarti, luka pada otot dadanya pun sudah sembuh. Bangkai ayam tersebut kemudian dibawa Rabies Diagnostic Laboratory – The Chief Disease Investigation Office – Departement of Animal Husbandry, Kerala-India, untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. (Baca: Tips Tekan Resiko Outbreak Avian Influenza saat musim hujan)

Setelah jaringan otak diperiksa lebih detail dengan metode Flourescent Antibody Test dilanjutkan dengan metode TagMan Real Time PCR, terdeteksi adanya nucleoprotein antigen virus rabies. Bahkan kode genetic yang didapat dari sampel tersebut memiliki kedekatan dengan kode genetic virus rabies yang berasal dari India, Srilanka dan Nepal.

Gejala Infeksi Rabies pada Ayam

Kasus rabies yang menyerang unggas memang belum umum, dan sangat jarang dilaporkan terjadi. Dalam kasus ini pun terdapat keunikan tersendiri, unggas yang digigit anjing tersebut masih dapat bertahan hidup hingga satu bulan tanpa menunjukkan gejala-gejala infeksi rabies yang khas, kecuali sebelum mati ayam tersebut tidak mau makan dan melemah. Luka bekas gigitan anjing juga dapat sembuh setelah diobati lokal oleh pemiliknya.

Hingga saat ini belum terdapat laporan tentang keganasan virus rabies yang menyerang unggas di India. Belum juga dapat dijawab apakah rabies tersebut dapat ditularkan oleh ayam sebagaimana anjing menularkannya, ataukah ayam hanya menjadi tempat transit virus rabies sementara waktu, apakah terjadi perkembang biakan dan berubahan struktur genetic virus rabies selama berada dalam otak ayam, dan apakah daging ayam tersebut tetap aman untuk dikonsumsi. Tentu dunia penasaran dengan fenomena ini dan bagaimana kelanjutannya, kita tunggu saja laporan berikutnya dari peneliti. Meski demikan tidak ada salahnya kita sebagai makhluk social yang hidup diantara manusia, hewan ternak, dan hewan peliharaan lebih hati-hati, waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini.

 

Bagaimana Memilih dan Membangun Terrarium yang Baik

Bagaimana Memilih dan Membangun Terrarium yang Baik

Memilih dan Membangun Terrarium untuk Reptil

PecintaSatwa.com – Seiring dengan berkembangnya hobi memelihara reptil dan amfibi, penjualan terarium meningkat pesat. Ada banyak jenis terrarium yang bisa Anda temukan di pasaran, mulai dari akuarium bekas yang sederhana hingga yang ditujukan khusus bagi satu jenis reptil tertentu. Nah, sebagai rumah bagi calon hewan kesayangan Anda, ada baiknya Anda mempersiapkan terrarium sebaik mungkin sebelum membeli hewan peliharaan. Seperti apa sih caranya memilih dan membangun terrarium yang baik? Yuk kita bahas!

Yang Perlu Diperhatikan dalam Membangun Terrarium

  1. Bahan Terrarium

Ada banyak macam pilihan terrarium, mulai dari kaca hingga plastik mika. Terrarium kaca mungkin bukan ditujukan bagi reptil, melainkan untuk hewan-hewan akuatik (akuarium). Meskipun harganya lebih murah, terrarium kaca mudah pecah dan berat, sehingga lebih sulit untuk dibersihkan. Terrarium kaca juga mudah menyerap dan melepaskan panas, sehingga suhu di dalamnya cenderung tidak stabil. Bila Anda berniat untuk memelihara hewan yang sensitif terhadap perubahan suhu atau sering mengotori terrarium, ada baiknya Anda memilih terrarium berbahan plastik. (Baca pula: Memilih Terrarium untuk Kura-Kura Darat)

  1. Ukuran
Terrarium kura-kura

Ada banyak ukuran terrarium yang tersedia, mulai dari pet house berukuran kecil hingga sangat besar. Sesuaikan ukuran terrarium dengan hewan yang akan Anda pelihara, sehingga hewan kesayangan Anda bisa tinggal dengan nyaman di rumah barunya. Kura-kura kecil, misalnya, bisa dipelihara dalam terrarium dengan panjang 20-30 cm dan lebar 10-15 cm. Bagi kadal, panjang terrarium harus berukuran setidaknya 1,5 hingga 2,5 kali panjang tubuhnya. Bagi ular, sisi terpanjang terrarium harus berukuran minimal setengah kali panjang tubuhnya. Sedangkan untuk satwa arboreal, disarankan untuk memakai terrarium yang agak tinggi sehingga Anda bisa menggantung lebih banyak tempat bertengger agar mereka bisa merasa nyaman.

Kondisi terrarium yang terlalu besar juga tidak baik bagi satwa. Satwa kecil dapat merasa stress atau kesulitan menangkap mangsa bila terrariumnya terlalu besar. Terrarium yang besar juga cenderung sulit untuk diatur suhunya, serta memerlukan lebih banyak lampu/watt yang lebih tinggi untuk menjaga suhu optimal bagi hewan kesayangan Anda.

  1. Lampu dan sumber hangat

Karena terrarium biasanya diisi oleh hewan berdarah dingin yang tidak bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri, keberadaan lampu penghangat hampir mutlak diperlukan agar satwa bisa tinggal dengan nyaman. Ada berbagai macam lampu yang dapat Anda gunakan untuk reptil, mulai dari lampu UVB, UVA, lampu infrared, dan lain-lain. Pada dasarnya, lampu yang direkomendasikan bagi reptil adalah lampu full-spectrum yang dapat memancarkan baik sinar UVA yang memungkinkan reptil melihat dengan baik, sinar UVB sebagai peransang sintesis vitamin D di tubuh reptil, serta hawa panas untuk menghangatkan tubuh reptil. Jika memungkinkan, letakan terrarium di lokasi yang sering terkena cahaya matahari sehingga satwa bisa berjemur secara alami. (Mengenal: Leopard Gecko – Tokek yang Menggemaskan)

Anda juga harus mengetahui waktu aktif satwa peliharaan Anda sesuai dengan jenisnya. Satwa nokturnal hanya aktif di malam hari, sehingga Anda disarankan untuk menyediakan ‘waktu gelap’ agar mereka bisa merasa seperti di habitat aslinya. Beberapa orang menggunakan bohlam hitam (black bulb) sebagai sumber panas bagi satwa nokturnal, padahal lampu ini cenderung berbahaya karena menghasilkan spektrum UV C yang dapat mengakibatkan kangker kulit baik pada manusia dan hewan.

  1. Isi terrarium

Isi terrarium bisa menjadi hal yang vital bagi kesehatan satwa kesayangan Anda. Beberapa orang mungkin lebih suka dengan terrarium yang simpel dan hanya berisi beberapa barang, seperti tempat minum dan tempat bersembunyi. Ada juga yang suka mengisi terrarium dengan berbagai macam hiasan agar terlihat cantik serta sebagai sarana hiburan bagi satwa yang dipelihara. Keduanya sah-sah saja, asal seluruh kebutuhan utama hewan yang dipelihara terpenuhi di dalamnya.

Isi terrarium juga harus sesuai dengan jenis satwa yang dipelihara. Reptil akuatik seperti kura-kura tentu membutuhkan banyak air di terrariumnya, namun jangan lupakan satu titik kering untuk berjemur dan beristirahat. Hewan yang terbiasa hidup di gurun (misal, leopard gecko) mungkin tidak memerlukan banyak air, namun usahakan agar air selalu tersedia. Hewan arboreal seperti bunglon dan monopohon membutuhkan banyak ranting-ranting pohon (alami ataupun artifisial) dan tempat bergelantungan yang banyak agar mereka merasa seperti berada di habitat aslinya. (Simak juga: Merawat dan Memelihara Godzilla Mini di Rumah)

Nah, begitulah beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan rumah yang sehat bagi satwa kesayangan kita. Ingat, Anda harus mempelajari segala seluk beluk satwa yang akan Anda peroleh sebelum membawanya pulang, sehingga Anda bisa lebih mudah merawatnya. Selamat menyusun terrarium bagi satwa impian!

 

Hati-Hati Cacing Hati pada Sapi

Hati-Hati Cacing Hati pada Sapi

Cacing Hati pada Sapi

PecintaSatwa.com – Pernah jadi panitia kurban, atau melihat proses penyembelihan sapi? Pernah melihat hati sapi yang berlubang-lubang tidak normal sperti spons baik di pasar maupun penyembelihan?, hal demikian biasanya disebabkan karena adanya infestasi parasit cacing hati (Fasciola sp.) pada liver sapi tersebut. Berbahayakah bagi sapi, dan bagi kita yang mengkonsumsi dagingnya, mari kita simak ulasan berikut ini.

Fasciolasis disebut juga distomatosis merupakan penyakit yang disebabkan cacing jenis trematoda, Fasciola sp, lebih sering terjadi di daerah basah, berhujan, dan memikili aliran air berlimpah, sangat jarang terjadi di daerah kering. di Indonesia, kejadian faciolasis umumnya disebabkan oleh spesies Fasciolas gigantica yang menyerang hewan-hewan ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan kadang dijumpai pada babi. Cacing ini dapat masuk dan menyebabkan penyakit pada hewan diperantai oleh sejenis siput air, Limnea rubigenosa. (Simak: Sapi Bali – Ternak Asli Nusantara)

Didalam tubuh siput, cacing mengalami pertumbuhan dan perkembang biakan, setelah itu keluar ke alam bebas, berenang-renang di air dan menempel pada tumbuham dalam bentuk metacercaria, hingga setinggi 2/3 tinggi tumbuhan. Metacercaria akan terus tumbuh menjadi cacing muda saat menempel di tumbuhan. Apabila tumbuhan tersebut termakan oleh ternak, maka cacing akan terus berkembang dalam perut ternak, hingga pecah kistanya dan mengeluarkan cacing muda. Cacing tersebut akan menembus usus halus (duodenum), ke perineum, menuju hati dan menembusnya hingga saluran empedu, ditempat tersebut cacing muda akan terus berkembang dan bertelur selama 10-12 minggu.

Didalam liver penderita, cacing dewasa akan menghisap  darah hewan hingga terjadi anemia, mengurangi produksi empedu dan menyebabkan pengerasan (fibrosis) pada hati, terkadang disertai dengan diare. Kerusakan hati yang parah akan memicu teradinya ikterus (penyakit kuning), pembengkakan, dan ascites (penimbunan cairan di rongga perut). Kejadian ini akan mengurangi produksi ternak secara signifikan. Sapi akan berangsur angsur semakin kurus, meski makan nya banyak ia tidak akan tampak gemuk, produksi wool pada domba pun akan berkurang drastis.

Ciri-ciri Sapi Terkena Cacing Hati

fasciola gigantica, penyebab fasciolasis sapi di indonesia

Sapi yang terkena fasciolasis, akan Nampak tidak segar, lemah, kurus, anemia, pembengkakan pada daerah rahang bawah, suara jantung mendebur, kotoran sapi setengah cair dan berwarna hitam sering dijumpai, dan terkadang hingga ambruk jika kejadian penyakit sudah terlalu berat. (Baca: Simethal – Sapi Bule di Indonesia)

Pada sapi yang telah disembelih atau di nekropsi, sapi penderita akan menampakkan organ dalam yang pucat hingga kekuningan, pembengkakan dapat dilihat pada daerah rahang bawah, kelenjar susu, atau disekitar testis, terjadi penebalan dan pengapuran pada saluran empedu, hati sapi mengeras dengan permukaan tidak rata, apabila dibelah akan terlihat banyak cacing dewasa baik pada saluran-saluran maupun pada jaringan hati.

Adanya infestasi cacing hati dalam tubuh sapi dapat didiagnosa secara sederhana menggunakan mikroskop, dengan melihat keberadaan telur cacing dalam kotoran sapi. Pemeriksaan ini biasanya rutin dilakukan industri peternakan dengan metode random sampling sebelum dilakukan terapi untuk memantau perkiraan angka timbulnya penyakit.

Pencegahan Cacing Hati pada Sapi

Pada industry sapi pedaging, pencegahan sekaligus terapi fasiolasis dilakukan mulai ternak datang ke peternakan dengan pemberian obat cacing per oral. Pemberian obat cacing ini dapat setiap 1,5 hingga 2 bulan. Pengobatan tunggal sekali waktu, tidak terbukti efektif karena sapi selalu berpotensi terinfestasi fasciola karena konsumsi pakan hariannya adalah rumput-rumputan yang dapat mengandung sejumlah metacercaria.

Untuk meminimalisir timbulnya fasciolasis, sebaiknya hijauan untuk pakan ternak dipotong setelah pukul sepuluh pagi, dimana matahari sudah bersinar menghangatkan tumbuh-tumbuhan. Hijauan yang telah dipotong lebih baik tidak langsung diberikan kepada ternak, angin-anginkan ditempat yang teduh minimal 12 jam, atau esok hari nya baru diberikan kepada ternak. (Baca: Tips Memilih Sapi Bakalan yang Menguntungkan)

Karena kehidupan ternak merupakan bagian dari hidup kita, pemeliharaan yang baik harus kita usahakan semaksimal mungkin, demi sehatnya ternak dan stabilnya usaha peternakan yang kita jalankan. Selamat beternak..!

 

Tingkah Laku Reproduksi Babi

Tingkah Laku Reproduksi Babi

Reproduksi Babi

PecintaSatwa.com – Dalam keadaan liar, babi tinggal di daerah padat dalam kelompok keluarga kecil dengan satu atau lebih babi btina dengan keturunannya. Jantan dewasa tinggal terpisah dan bergabung dengan kelompok betina dewasa hanya pada saat kawin, proses ini menyebabkan perkawinan terjadi pada beberapa fase, sebagaimana yang diteliti oleh Signoret dkk (1979). (Baca: Babi Bali – Babi Liar Bernilai Tinggi)

Pembibitan Babi

Dalam peternakan modern, pembibitan babi dilakukan dengan memelihara babi betina dalam satu koloni, dengan mendekatkan kandang koloni babi betina tersebut dengan kandang babi jantan (imbangan populasi tidak dipertimbangkan), hal ini akan dapat menstimulasi aktifitas reproduksi babi betina (biostimuli), dibandingkan dengan pemeliharaan intensif babi betina tanpa babi jantan. Karena babi betina membutuhkan stimulasi babi jantan secara visual, bau dan audio (suara) untuk mengoptimalkan perkembangan system dan siklus reproduksinya. Bahkan, meski babi jantan dan betina tidak digabungkan dalam satu koloni, stimulasi visual, suara dan aroma khas babi jantan yang diletakkan didekat kandang betina akan tetap dapat berefek baik bagi reproduksi babi betina.

Masa Pubertas Babi

Kematangan seksual babi terjadi relative cepat. Pada babi jantan, pubertas terjadi pada umur 110-125 hari. pada awal pubertas, sudah terdapat spermatozoa fertile didalam testis namun kualitas dan jumlahnya masih belum mencukupi terjadinya pembuahan ovum. Ereksi penis baru terjadi setelah babi jantan berusia 4 bulan, dan sempurna pada umur 5 bulan. Ejakulasi pertama dapat dilakukan babi jantan setelah berumur 5-8 bulan. Jumlah kandunagn sperma dan volume semen babi akan terus meningkat hingga umur 18 bulan, setelah itu cenderung stabil.

Dewasa kelamin babi betina, relative lebih lama dibandingkan pada babi jantan. Babi betina mencapai pubertas pada usia 6-8 bulan, dan baru dapat bunting serta beranak pada umur 1 tahun. Selama fase pre-pubertal, ovarium babi betina berisi banyak folikel kecil (diameter 2-4mm) dan beberapa folikel medium (6-8mm). Keadaan ini akan terus berkembang hingga dewasa, pada babi betina dewasa pada fase luteal hingga awal fase folikuler, ovariumnya akan berisi sekitar 50 folikel kecil, kemudian terus berkembang dan terseleksi hingga tinggal 10-20 besar (8-11mm) pada fase proestrus dan estrus . berat uterus sebelum masa pubertas berkisar 30-60 gram, mendekati pubertas uterus akan berkembang hingga seberat 150-250 gram. Perkembangan uterus akan memicu peningkatan aktifitas steroidogenic ovarium, selama fase prepubertas. (Baca juga: Thoroughbred Horse – Si Anggun Berdarah Panas)

Umur pubertas sangat dipengaruhi oleh tingkat nutrisi, lingkungan social, berat badan, musim, breed, dan manajemen infeksi penyakit atau infestasi parasit. Babi betina mencapai kematangan seksual pada umur 183-247 hari. dengan rataan 209 hari, tergantung karakter masing-masing breed. Pada kasus keturunan hasil inbreeding, pubertas tercapai lebih lama, sekitar 243 hari. begitu pula dengan keturunan cross breed, maturity cenderung diatas rata-rata, yakni berkisar 228 hari. pemanfaatan pejantan sebagai detector pubertas dapat mempercepat terjadinya dewasa kelamin pada babi jantan karena terjadinya biostimulasi yang dipengaruhi keberadaan babi jantan.

 

Thoroughbred Horse – Si Anggun Berdarah Panas

Thoroughbred Horse – Si Anggun Berdarah Panas

Sejarah Kuda Thorougbred

PecintaSatwa.com – Sebagai penggemar dan penikmat olahraga berkuda atau sekedar kalangan akademis nama ini sering sekali terdengar. Tidak mengherankan apabila banyak orang dari negeri kita menyebut nama TB. Sebenarnya siapa sih Thorougbred itu?

Sejarah dimulai tahun 1600-an ketika pada jaman tersebut kuda masih merajai jalanan di berbagai belahan dunia, beberapa orang berpengaruh saat itu di Inggris, Turki, Arab dan Amerika Serikat menginginkan kuda dengan karakteristik tinggi, jenjang, berlari cepat dan daya tahan yang bagus. Perlu diingat sampai tahun tersebut ilmu genetika tentang kuda belum begitu maju, hanya percobaan inseminasi buatan pada kuda yang terjadi dari jazirah arab. (Baca: Tips Memilih Sapi Bakalan yang Menguntungkan)

Persilangan Beberapa Jenis Kuda Unggul dan Terbaik

Kuda TB Champion

Berbekal dengan cara trial and error, persilangan beberapa kuda merubah jalan cerita dunia perkudaan, kuda arab dapat dianggap sebagai cikal bakal berbagai jenis kuda di dunia. Menurut keterangan penjelajah dunia Marco Polo saat berkunjung ke India tahun 1290. Para sultan di India telah menyebar luaskan kuda arab ke berbagai negara lain di Asia. Salah satu caranya adalah melalui hadiah perkawinan. Melalui ekspansi tentara arab ke berbagai penjuru Negara pada awal abad pertengahan, maka kuda arab menyebar ke berbagai penjuru dunia. Kuda arab tersebut kemudian dikawin silangkan dengan kuda lokal di daerah masing-masing negara. Sampai saat ini telah dikenal lima ekor kuda pejantan arab yang terkemuka, masing-masing bernama The Byerley Turk (1684), The Leeds Arabian (1965), The Dardley Arabian (1700), The Alcock Arabian (1704), dan The Godolphin Arabian (1730). Nama dari kuda pejantan ini akan kita temukan pada silsilah keturunan kuda jenis Throughbred yang tersebar di seluruh dunia.

Mengenali kuda jenis ini tergolong mudah, selain bentuk fisik yang bagus, warna yang sangat umum dapat dijumpai seperti bopong, dawuk, napas, jeragem. Selain itu jika kita perhatikan dari leher, kuda ini memiliki leher yang lebih panjang dari kuda jenis lain, bentuk dada yang lebih ramping daripada kuda jenis cold blood dan kuku yang berukuran besar. Sifat yang sangat antusias terhadap orang dan cenderung aktif.

Kuda Thoroughbred Masuk Indonesia

Thoroughbred Indonesia mulai dikenalkan sejak 1960-an saat keputusan dari Presiden Soeharto tentang perbaikan mutu kuda. Tim kavaleri kuda TNI AD pada akhirnya mulai mendatangkan beberapa pejantan unggulan dan melakukan kawin silang dengan kuda lokal Indonesia. Thoroughbred termasuk salah satu jenis kuda yang dikembangbiakkan, dan mulai 1990 PORDASI mengadakan kelas khusus Thoroughbred Indonesia. Kuda ini sendiri sebenarnya merupakan persilangan kuda Thoroughbred asli Australia dengan kuda lokal kita. Sehingga banyak dikenal sebagai kuda G atau kuda keturunan. Sampai saat ini Indonesia sudah memiliki G7 yang artinya keturunan ke 7 dari Thoroughbred asli. Tahun 2010 baru ini pemangku kepentingan sudah menetapkan adanya ras baru dimulai dari kuda G5- seterusnya mengingat susunan genetikanya sudah berbeda dari kedua induknya, Hal ini ditandai dengan adanya PP dari menteri pertanian. (Simak cerita: Sang Garuda – Elang Jawa yang Eksotis)

Nah, cukup menarik bukan pengetahuan tentang kuda Thoroughbred ini. walaupun sebenarnya cukup banyak tersebar di dekat masyarakat, namun tidak banyak orang yang tahu juga kalau kuda ini bisa digunakan sebagai kuda pacu maupun kuda tunggang. Sebagai info beberapa saat lalu sebelum kepolisian kita memiliki kuda jenis worm blood di kesatuan mereka, Thoroughbred juga digunakan tim reaksi cepat untuk membubarkan masa saat berdemontrasi, dan upacara penyambutan tamu negara.

Kontributor: APW

 

Serak Jawa – Si Hantu Sahabat Petani

Serak Jawa – Si Hantu Sahabat Petani

Mitologi Burung Hantu

“Matahari tenggelam… hari mulai malam…Terdengar burung hantu … suaranya merdu….”

PecintaSatwa.com – Anda pasti tahu penggalan lagu di atas, kan? Ya, lagu masa kecil ini selalu mengingatkan kita pada burung hantu, si satwa nokturnal yang selalu ada di tradisi masyarakat dunia. Orang-orang Yunani menghubungkan burung hantu dengan dewi mereka, Athena, sebagai lambang kecerdasan dan kreatifitas. Di sisi lain, beberapa budaya menganggap burung hantu sebagai pembawa sial, bersifat mistis, atau memiliki hubungan dengan roh-roh dari alam ghaib. Hmm, apakah burung hantu memang seseram yang kita kira ya? (Baca juga: Mengenal Jenis Burung Pleci di Indonesia)

Mungkin hanya sedikit dari Anda yang pernah melihat burung hantu secara langsung di alam liar, itupun tidak setiap hari. Sebagai satwa nokturnal, jarang sekali kita bisa melihat burung hantu secara langsung, apalagi dengan sifatnya yang cukup sensitif dengan keberadaan manusia. Tapi bila Anda cukup jeli dan mau menyisihkan waktu untuk mengamati satwa unik ini, Anda mungkin bisa menemukannya dengan cukup mudah bahkan di atas atap rumah Anda sendiri!

Serak Jawa

Di Indonesia, ada satu jenis burung hantu yang cukup umum ditemukan di seluruh habitat, mulai dari hutan, perkebunan, persawahan, hingga daerah desa dan perkotaan. Serak Jawa (Tyto alba) nama burung hantu tersebut memang dikenal sebagai spesies kosmopolitan, alias sangat mudah beradaptasi di berbagai lingkungan yang berbeda. Burung ini dapat dijumpai di seluruh dunia, kecuali kutub utara dan kutub selatan, mengintai tikus dan hewan-hewan kecil di malam hari dengan pendengarannya yang sangat sensitif. Dengan sayap yang didesain khusus untuk terbang tanpa menghasilkan suara, burung ini dapat menerkam mangsanya di kegelapan total, tanpa sempat terdeteksi oleh mangsanya yang malang. Luar biasa, bukan?

Selain kemampuan berburunya yang unik, Serak Jawa juga dikenal karena warna tubuhnya yang cantik, didominasi oleh warna putih dengan tutul-tutul kelabu dan coklat. Suaranya yang serak dan mungkin terdengar menakutkan, berupa teriakan memilukan yang dapat terdengar hingga beberapa ratus meter. Hal inilah yang membuat beberapa kalangan masyarakat mengaitkan keberadaan burung ini dengan hal-hal yang bersifat mistis, meskipun sebenarnya mereka bukanlah satwa yang berbahaya bagi manusia. (Tips: Cara Menikmati Kicauan Burung Tanpa Harus Mengurung)

Di balik sifatnya yang agak horor, Serak Jawa merupakan salah satu komponen ekosistem yang penting dalam menjaga keseimbangan alam. Sebagai predator puncak, Serak Jawa mengendalikan populasi satwa yang menjadi mangsanya, khususnya tikus yang menjadi hama di sawah. Karena kemampuannya dalam memberantas tikus, beberapa petani menganggap burung ini sebagai teman mereka. Beberapa kelompok petani di Jawa Tengah bahkan membangun sarang buatan di sawah mereka, dengan harapan si Serak Jawa akan berkembang biak dan menjadi pembasmi hama yang efektif dan ramah lingkungan.

Serak Jawa Tidak untuk Dipelihara

Sayangnya, banyak individu Serak Jawa yang ditangkap dan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan. Tingkahnya yang lucu serta bentuknya yang aneh membuat sebagian masyarakat ingin memilikinya di rumah. Tentu saja, rumah manusia bukanlah habitat yang cocok bagi satwa liar, apalagi bila harus dirantai atau dikurung di dalam kandang sempit seperti yang sering kita lihat di pasar burung. Semua jenis burung hantu sangat mudah merasa stress, dan biasanya akan mati kurang dari satu bulan ketika dipelihara. Bila Anda benar-benar suka dengan burung hantu, ada baiknya Anda tidak memeliharanya di rumah, namun cukup melindunginya dengan menjaga habitatnya di alam liar. (Yuk simak: Mengenal Wiwik Kelabu – Burung Pembawa Pesan Kematian)

Nah, jika Anda tertarik mengamati burung hantu di habitat aslinya, Anda bisa mencari informasi keberadaan burung tersebut dari kelompok pengamat burung di kota Anda. Khusus untuk Serak Jawa yang angker, Anda bisa menemukannya di gedung-gedung tua atau daerah persawahan di sekitar rumah Anda. Kalau Anda melihat bayangan putih melintas atau mendengar teriakan serak yang mengejutkan, jangan lari! Bisa jadi itu adalah si Serak Jawa, sahabat petani yang penuh misteri…

 

Mengenal Gagahnya Anjing Rotweiller

Mengenal Gagahnya Anjing Rotweiller

Anjing Rottweiler

PecintaSatwa.com – Pasti banyak diantara Anda yang agak seram melihat anjing jenis Rotweiler, warnanya yang gelap dengan tampang galak membuat kebanyakan orang menghindarinya, atau bahkan lari terbirit-birit ketika di gonggongi di jalan, terlebih bagi para pembaca yang jarang berinteraksi dengan anjing.

Rottweiler memang tampak sangar sekaligus gagah. Karakternya yang kuat dan keangkuhan penampakannya membuatnya cocok dijadikan sebagai anjing penjaga, juga sebagai sahabat baik para pecinta satwa yang bersifat tegas pemberani. Namun jangan salah, dibalik wajah seram dan mengintimidasi yang dimilikinya, Rotweiler tetap memiliki kelembutan jiwa anjing, sehingga dapat dijadikan hewan kesayangan yang patuh dan baik. (Simak juga: Yuk Ketahui Cara Mengawinkan Anjing)

Ciri Fisik Anjing Rotweiller

Ciri fisik rotweiller sangatlah khas, hampir keseluruhan tubuhnya berwarna hitam, kecuali daerah sekitar dada, area mulut, kaki bagian bawah dan dalamnya berwarna coklat keemasan. Telinganya kecil menekuk kebawah, berlidah merah mudan dan bulunya lembut. Rotweiller termasuk dalam kelompok anjing berukuran medium dengan tinggi berkisar 58-69 cm, dan berat normal sekitar 38-59 Kg, dan masa hidup rata-rata 10 hingga 11 tahun.

Di Jerman Selatan, anjing ras Rotweiller biasanya bertugas sebagai anjing penjaga ternak sapi, karena sifatnya yang bertanggung jawab pemberani, dan protektif, didukung dengan wajah garang, layaknya securiti perusahaan.

Kesan galak dan garang Rotweiller sebenarnya bukan suatu hal yang mutlak melekat pada Ras Rotweiller, dengan pelatihan yang tegas oleh owner yang berpengalaman, rotweiller dapat menjadi anjing yang baik hati, penyabar dan patuh, dengan catatan saat melatih owner harus selalu waspada dan berjaga, menghindarkan anjing tersebut dari hal-hal yang memicu agresifitasnya.

Latihan Anjing Rotweiller

Anjing asli Jerman ini, sangatlat energik dan kuat, karena itu dibutuhkan latihan (daily exercise) dalam waktu yang cukup lama (lebih dari 2 jam) untuk membuatnya sehat, tidak strees. Sedangkan untuk latihan kebutuhan, dibutuhkan kesabaran, ketegasan, dan waktu lebih lama dari yang dibutuhkan jenis anjing ramah seperti Golden Retriever.

Dalam hal bersosialisasi dengan manusia dan hewan lain, rotweiller memiliki kemampuan cukup baik, ia responsive dan dapat bekerja sama dalam tim, akan tetapi sebagai owner anda harus selalu waspada dan berdisiplin tinggi dalam melatihnya.

Keunggulan Anjing Rotweiller

Rotweiller relatif pintar menjaga kebersihan tubuhnya, ia tidak terlalu sering membutuhkan grooming, mandikan rotweiller kesayangan anda seminggu atau dua minggu sekali, tergantung kebutuhannya. Terlalu sering memandikan juga tidak baik, karena dapat merusak kesahatan kulit dan rambutnya, membuatnya kering dan mudah rontok. Begitu pun dengan terlalu jarang memandikan juga kurang baik, ia akan merasa tidak nyaman dengan keringat dan aroma tubunya. (Baca pula: Mengenal Anjing German Sherped)

Ketegasan, kekuatan dan kedisiplinan dalam melatih Rotweiller kesayangan anda, bukan berarti harus dengan tindakan keras tidak beradab, seperti memukul, melukai, atau berkata kasar. Didikan seperti itu mungkin membuatnya patuh kepada Anda, tapi ia akan memendam kebencian yang sangat berbahaya bagi anda dan orang-orang disekitar anda. Latihlah Rotweiller dengan ketegasan dan kasih sayang, terapkan kedisiplinan dengan imbalan hadiah, bukan hukuman yang menyiksa, dan selalu tepati janji anda jika ia dapat mematuhi anda sebagai masternya, karena semua hewan memiliki hak untuk sejahtera sesuai dengan jenis dan peran hidupnya. So.. perlakukanlah ia dengan baik hati, ia akan mengerti sebesar apa Anda menyanginya, dan ia akan melindungi Anda dengan hidupnya.

 

Yuk Ketahui Cara Mengawinkan Anjing

Yuk Ketahui Cara Mengawinkan Anjing

Tips Mengawinkan Anjing

PecintaSatwa.com – Mengawinkan anjing betina adalah kebahagian tersendiri bagi para owner, terlebih jika anjing tersebut sudah menjadi anggota keluarga yang cintai. Moment ini akan menjadi peristiwa sakral yang mengharukan bagi orang tua angkat si kaki empat ini, bahkan dibeberapa Negara mulai banyak pemilik anjing yang mengadakan pesta dan upacara perkawinan untuk anjing kesayangannya layaknya menikahkan anak gadisnya. Akan tetapi, jangan sembarangan mengawinkan anjing anda. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan keberhasilan perkawinan tersebut hingga kebuntingan dan kelahiran. Simak ulasan dibawah ini:

Kapankah anjing betina pengalami pubertas?

Setiap ras anjing memiliki perbedaan umur pubertasnya. Anjing chow chow tergolong ras anjing yang paling cepat puber, ras ini biasanya mengalami birahi pertama pada umur 5 bulan. Sedangkan jenis ras lain rata-rata mulai menunjukkan gejala birahi pada umur 8-9 bulan. Pada beberapa kasus, pubertas dapat tertunda hingga umur 24 bulan, jika hal ini terjadi perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih lanjut untuk mengetahui kesehatan organ reproduksinya.

Anjing betina siap dikawinkan umur berapa?

Anjing betiana baru layak atau siap dikawinkan pada umur 11-18 bulan, paling lambat umur 30 bulan untuk perkawinanya. Meskipun anjing anda sudah birahi sebelum di bawah umur 11 bulan, jangan dikawinkan terlebih dahulu, karena secara fisiologis tubuhnya belum dewasa meski peran reproduksi sudah berjalan. Hal ini berpengaruh pada kondisinya saat kebuntingan terjadi, proses kelahiran dan puppies yang dihasilkan. Pejantan yang mengawininya pertama kali pun usahakan berumur tidak kurang dari 17-19 bulan. Di masa ini anjing jantan dinilai sudah dapat menghasilkan sperma berkualitas optimal untuk perkawinan. (Yuk mengenal: Anjing Samoyed – Si Bola Bulu Putih)

Bagaimana gejala-gejala birahi anjing betina?

Birahi anjing betina salah satunya ditandai dengan sikap diamnya saat dinaiki pejantan, cenderung menyingkap ekornya ke salah satu sisi jika sekitar pangkal ekor / perineal disentuh.

Leleran darah darah dari alat kelamin akan tampak dari sebelum terjadinya birahi (masa proestrus), lamanya sekitar 9 hari. Masa birahi dimualai biasanya setelah tidak lagi keluar leleran darah, namun berganti dengan keluarnya leleran kuning kental.

Kapankah waktu paling tepat mengawinkan anjing betina?

Masa paling baik untuk mengawinkan anjing betina adalah sekitar 10-14 hari setelah pertama kali terlihat adanya leleran darah, atau sekitar 2-3 hari setelah keluar leleran kekuningan. Pada beberapa anjing, terkadang tidak menunjukkan gejala mengeluarkan leleran kekuningan, bahkan cenderung terlihat mengeluarkan darah terus menerus hingga puncak birahi bahkan hingga beberapa hari setelah birahi berakhir. Oleh sebab itu ketelitian pemilik untuk mengamati timbulnya gejala awal birahi sangat dibutuhkan untuk menentukan tanggal perkawinan yang tepat. (Baca juga: Kesulitan Melahirkan pada Anjing)

Penundaan perkawinan apakah baik dilakukan?

Jika anda benar-benar ingin anjing kesayangan anda memiliki keturunan, lebih baik anda tidak melakukannnya. Penundaan perkawinan dapat mengurangi kesuburan anjing betina, menjadikan ia lebih sulit bunting dan berhenti birahi lebih awal dari seharusnya. Perkawinan terbaik lebih disarankan pada siklus birahi yang terjadi pada umur 11-18 bulan.

Bagaimana dengan perkawinan antar breed

Perkawinan silang / antar breed pada anjing sangat tidak disarankan, karena secara medis setiap breed memiliki kepekaan berbeda pada obat-obatan, jadi jika anjing tersebut sedang dalam perwatan dokter hewan, ia akan mendapatkan terapi sesuai dengan ras-nya. Obat-obatan tertentu dapat berbahaya bagi salah satu ras anjing, namun tetap aman dan bermanfaat untuk ras lain. (Simak juga: Terapi Anti Kutu, Pentingkah???)

Selain itu, perkawinan silang juga dapat merusak performa murni suatu breed, jika hal ini terus terjadi maka lambat laun ciri khas fisik suatu ras anjing tidak akan muncul pada keturunannya, termasuk dengan tempramennya. Anjing hasil perkawinan silang cenderung sulit ditebak tempramennya, hal ini tentu mempersulit kita untuk melatihnya, merawatnya, dan mengajaknya bersosialisasi.