Kukang – Primata Kecil Bermata Belok

Kukang – Primata Kecil Bermata Belok

Kukang (Nycticebus coucang)

PecintaSatwa.com – Mungkin jenis primata yang paling akrab dengan sahabat PESAT adalah si monyet ekor panjang atau nama lainnya Macaca fasicularis. Memang jenis primata itulah yang lebih banyak di eksploitasi oleh para oknum-oknum tidak bertanggung jawab dengan memaksanya menjadi hewan pekerja, lepas dari sifat bebasnya di alam liar. selain itu, dapat pula dipelihara oleh para penyanyang hewan yang kurang paham dengan konsep animal welfare. Sebagai seorang Pecinta Satwa, sebaiknya hal ini benar-benar harus kita hindari, karena jenis-jenis primata tersebut merupakan golongan hewan liar, dan bukan termasuk hewan-hewan terdomestikasi alami layaknya hewan kesayangan (anjing dan kucing) dan hewan ternak.

Selain monyet ekor panjang, jenis primata kecil seperti kukang mulai banyak diburu menjadi hewan peliharaan, hingga populasi kukang di alam liar pun merosot tajam dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, saat ini konservasi kukang terus digalakkan baik oleh pemerintah maupun NGO swasta demi lestarinya si primata bermata belok.

Sebaran dan Habitat Kukang

Kukang (Nycticebus coucang) tersebar di berbagai wilayah nusantara dengan sebutan yang berbeda beda. Di pulau jawa ia disebut pukang atau tukang, di Sumatera bernama kamalasan dan bulang, di Sunda terkenal sebagai muka dan di Kalimantan biasa dengan sebutan kalkang atau pukang.

Baca: Kukang Jawa yang Langka

Karakteristik kukang yang paling khas terletak pada ukuran tubuhnya yang kecil, dengan telapak tangan empuk dan lebar, telinga kecil, ekor pendek, kepala bulat dengan moncong runcing dan pendek. Rambut kukang berwarna coklat atau keabu-abuan di seluruh tubuhnya, dengan garis dari kepala sampai punggung atau hingga pangkal ekor bewarna cokelat gelap. Bayi kukang berwarna abu-abu keperakan, kemudian akan berubah warna menjadi cokelat keabu-abuan setelah berusia lebih dari sebelas minggu. Panjang tubuh kukang 25-38 cm, dan berat badannya 1-2 kg saja.

Masa kawin kukang terjadi dua kali dalam satu tahun. Kukang biasanya beranak tunggal, kadang dapat kembar meski jarang sekali. Induk kukang akan bunting selama 90-193 hari sebelum akhirnya melahirkan. Bayi kukang akan diasuh oleh induknya hingga 90 hari, dan kemudian dapat hidup mandiri di hutan hingga 12-20 tahun.

Sebagai hewan nokturnal, kukang sangat peka dengan cahaya dengan intensitas tinggi. Ia lebih banyak beraktivitas di malam hari. Sebelum matahari terbit ia akan segera kembali ke sarangnya setelah semalaman berburu makanan. Jenis makanan yang disukai kukang terdiri dari serangga, buah-buahan kecil, cicak, tikus kecil, dan hewan kecil lainnya.

Simak pula: 6 Hal yang Harus di ketahui tentang Kukang

Kukang dapat memanjat pohon dengan kecepatan 2 km/jam, namun tidak secepat itu di tanah (200-300 m/jam). Ia lebih suka hidup di atas pepohonan, jarang berada di tanah. Sehari kukang dapat tidur lebih dari 15 jam di dahan pohon atau rumpun bambu, dengan posisi menekuk tubunya hingga kepala dan tangan berada di antara kedua pahanya.

9 Fakta yang Harus Diketahui Tentang Gajah

9 Fakta yang Harus Diketahui Tentang Gajah

  1. Semakin panas habitatnya semakin besar telinga gajah. Gajah afrika memiliki lebar daun telingan yang paling besar dibandingkan dengan jenis gajah lainya, sesuai dengan habitatnya yang memiliki iklim terpanas. Pada daun telinga gajah, terdapat banyak pembuluh darah, salah satu fungsinya adalah untuk mengeluarkan panas tubuhnya, dengan cara mengepakkannya dalam posisi diam. (Baca: Cara Membedakan Gajah Asia vs Gajah Afrika)
  2. Gading atau taring gajah merupakan modifikasi gigi seri rahang atas, mulai tumbuh pada usia 6-12 bulan menggantikan gigi susu, bertumbuh 17 cm setiap tahunnya. Gading digunakan menggali untuk menemukan akar, air, dan garam; menguliti dan menandai pohon; menyingkirkan batang pohon yang menghalangi jalan; sekaligus sebagai senjata saat berkelahi. Gajah afrika memiliki gading baik pada pejantan maupun betinanya. sedangkan gajah asia, hanya terdapat gading pada gajah jantan, dan jarang ditemukan pada betinanya. Taring gajah asia terbesar yang pernah ditemukan sepanjang 3,02 m dengan berat 39 kg.
  3. Gajah tidak dapat melompat dan berderap, namun dapat berjalan cepat dan merupakan perenang handal. Dengan berjalan cepat, gajah dapat melaju 18 km/jam. Selain itu gajah dapat berenang sejauh 48 km dengan kecepatan 2,1 km/jam, juga dapat berenang tanpa menyentuh dasar hingga 6 jam lamanya.
  4. Dalam sehari gajah dapat memakan tumbuhan sebanyak 150 kg, dan minum 40 L air, karena itu biasanya gajah hidup disekitar sumber air. Gajah hanya memerlukan waktu 3-4 jam / hari untuk tidur.
  5. Gajah dianggap sebagai spesies kunci. Ia dapat menggali sumber air tanah dengan gadingnya, kemudian terus memperbesarnya saat ia mandi, sumber air ini juga digunakan banyak hewan lainnya untuk bertahan hidup. Kekuatan gajah menumbangkan pohon dapat menjadikan sabana menjadi padang rumput. Gajah juga dapat menggali gua, yang dapat ditempati oleh hewan lainnya seperti serangga, kalelawar, dan hyrax. Gajah berperan menyebarkan benih tanaman. Biji buah-buahan yang dimakannya tidak mengalami perubahan apapun, hingga saat dikeluarkan lagi bersama kotoran, biji tesebut segera dapat bertunas dan tumbuh menjadi tanaman baru. ( Perlu diketahui: Satwa Liar BUKAN Hewan Peliharaan)
  6. Hanya gajah betina yang hidup berkoloni. Dipimpin oleh gajah betina tertua yang disebut Matriark, dapat beranggotakan lebih dari 10 ekor yang terdiri dari beberapa pasang induk dan anak. Matriark akan memimpin hingga akhir hayatnya, kemudian ketika ia mati akan digantikan oleh saudaranya atau anak perempuan tertuanya. Koloni-koloni gajah betina juga saling berinteraksi, hingga membentuk klan yang terdiri dari beberapa kelompok gajah. Klan tersebut biasanya bekerja sama untuk mempertahankan wilayah atau sumber air saat musim kemarau dari klan lain. Gajah jantan jarang dijumpai membentuk koloni, terkadang ada meski hanya berupa kelompok kecil yang terdiri dari 2 ekor gajah jantan.
  7. Gajah bersedih jika gajah lain dalam kawanannya mati. Sebagaimana dilaporkan oleh peneliti, hormone stress (kortikostreon) gajah-gajah dalam satu koloni akan meningkat drastis ketika anggota kawanannya mati. Gajah dapat bertahan hidup rata-rata selama 60-70 tahun, gajah asia bernama Lin Wang dilaporkan tutup usia saat berumur 86 tahun.
  8. Gajah jantan lebih agresif saat musth (birahi). Musth mulai dialami oleh gajah jantan pada usia 15 tahun dan stabil pada usia 35 tahun. Pada gajah muda biasanya musth terjadi pada bulan Januari-Mei, sedangkan pada gajah yang lebih tua pada bulan Juni-Desember. Gajah musth dapat dilihat dari keluarnya cairan dari daerah pelipisnya (kelenjar temporal), berjalan dengan kepala terangkat dan berayun, melambaikan satu telinga, bersuara gaduh dan mengorek tanah dengan taring. Apabila terjadi perkelahian, gajah yang sedang musth biasanya akan menang. ( Ketahui: Daftar Hewan yang Hampir Musnah di Bumi)
  9. Gajah baru lahir disambut dengan bahagia dalam kawanan dengan berkumpul mengelilingnya dan menyentuh serta membelainya dengan belalai. Gajah terlahir dengan berat sekitar 120 kg dan tinggi 85 cm. Dalam hal pengasuhan, antar induk saling menjaga anak satu sama lain. Jika terdapat bahaya maka anak-anak gajah akan ditempatkan di tengah-tengah koloni sebagai perlindungan.

 

Inilah Daftar Hewan yang Hampir Musnah di Bumi

Inilah Daftar Hewan yang Hampir Musnah di Bumi

Hewan Paling Langka di Dunia

“Siapa yang kuat, Dia yang bertahan!”

PecintaSatwa.com – Seleksi alam terus berjalan di planet ini, setiap harinya semua spesies di Bumi berlomba lomba untuk bertahan hidup, bekerjaran dengan perubahan-perubahan yang terjadi dan meningkatkan kemampuan adaptasinya. Hewan, dan tumbuhan bahkan manusia harus mau berjuang jika ingin populasinya terus lestari, meski saat ini manusia sudah overpopulated sehingga mendesak mundur populasi hewan dan tumbuhan demi peningkatan kawasan pemukiman dan industri untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Lantas, salahkah manusia jika melakukan hal tersebut demi kelangsungan hidup? (Baca pula: Indonesia Siaga 1 untuk Hewan-hewan ini)

Adanya hewan dan tumbuhan merupakan bagian ekosistem planet Bumi, keberdaannya dibutuhkan sebagai penyeimbang lingkungan, dimana setiap komponen makhluk memiliki perannya masing-masing yang saling berhubungan, sebagai sebuah simbiosis. Karena itu kelestariannya harus diusahakan semaksimal mungkin untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di Bumi yang seimbang.

Ulasan berikut ini akan membahas beberapa spesies yang hampir punah di dunia, sekaligus menjadi PR besar bagi negara habitatnya untuk melakukan konservasi demi peningkatan populasi dan pencegahan kepunahan, mari kita simak

Beberapa jenis hewan yang paling terancam punah di dunia:

Kura-Kura Hutan Arakan

Sebagaimana namanya. kura-kura hutan arakan dijumpai di bukit arakan, daerah Myanmar barat. Sebelumnya dipercaya bahwa jenis kura-kura ini telah punah, hingga ditemukannya kembali pada tahun 1994. Saat ini kemungkinan tidak lebih dari 100 ekor kura-kura hutan arakan yang hidup di alam. (Perlu diketahui: Satwa Liar BUKAN Peliharaan)

Iberian Lynx

iberian lynx

Kerabat kucing ini berasal dari Spanyol dan Portugal, bernama lain Pardel Linx dan Spanish Linx, di alam hanya tersisa sekitar 84-143 ekor iberin linx dewasa.

Oxolotl

oxolotl

Termasuk jenis salamander yang sangat unik, terkadang disebut juga sebagai ikan monster karena bentuknya yang khas, seakan akan memiliki banyak lengan.

Macaw Biru

macaw biru

Burung Macaw Biru merupakan burung asli Brazilia, dinamai juga Spix’s Macaw, diperkirakan jumlahnya saat ini tidak lebih dari 93 ekor. (Simak juga: 5 Prinsip Kesejahteraan Hewan)

Badak Jawa

badak jawa criticaly edangered

Disebut juga sebagai badak bercula satu, saat ini diduga populasinya hanya 72 ekor di dunia. Perburuan liar demi mengambil tanduknya telah menurunkan jumlah hewan ini begitu cepat. Cula nya dihargai 30.000 USD perkilogram di pasar gelap, disinyalir digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional.

Buaya Siam

Kurang dari 70 ekor buaya siam yang tersisa saat ini, habitatnya di wilayah Asia Tenggara. Langkahnya buaya siam terjadi karena perluasan lahan pertanian yang dilakukan penduduk mendesak habitat alaminya, selain itu penggunaan pestisidan dan pupuk kimia juga menurunkan kualitas air tempat hidupnya.

Brown Spider Monkey

Habitat Brown Spider Monkey berada di Kolombia utara, dan bagian barat laut Venezuela. Dinamai laba-lab cokelat kerena ia memiliki lengan panjang guna mengayun dan memanjat di kanopi hutan, dari dahan ke dahan pohon lain. Saat ini, populasinya diperkirakan tinggal 60 ekor, merosotnya jumlah Brown Spider Monkey diduga kerna perburuan liar dan perdagangan satwa langkah.

Serigala Mexico

Saat ini hanya terdapat sekitar 340 ekor kawasan US dan Mexico. Penyebab kepunahannya diperkirakan karena menurunnya hewan buruan sebagai sumber makanan di habitatnya seperti bangsa rusa. Serigala mexico termasuk keluarga gray wolfi secara genetic yang paling sedikit jumlahnya di dunia. (Simak juga: Daftar Merah Satwa dalam Standart Tingkat Keterancaman Satwa Liar di Dunia)

Lumba-Lumba Baiji

lumba-lumba baiji

Jumlah lumba-lumba Baiji diperkirakan tinggal tidak lebih dari 20 ekor di alam.

Northern White Rhinoceros

Northern White Rhinoceros

Badak jenis ini tersisa kurang dari 10 ekor saat ini, berada di pusat konservasi California dan Czech Republic. Karena jumlahnya yang benar-benar sedikit, sepanjang waktu badak-badak putih ini dikawal oleh petugas khusus untuk melindunginya dari para pemburu.

 

Beda Harimau Sumatera VS Harimau Bengal

Beda Harimau Sumatera VS Harimau Bengal

Perbedaan Harimau Bengal dan Harimau Sumatra

PecintaSatwa.com – Siapa yang tak kenal dengan Harimau, si kucing besar dari hutan belantara, meski kebanyakan orang hanya mengenalnya di kebun binatang dan acara-acara alam liar d televisi. Ada beberapa jenis harimau di muka bumi ini, namun bagi orang-orang asia khususnya Indonesia, yang paling sering dipertunjukkan di kebun binatang adalah Harimau Sumatera dan Harimau Bengal, karena memang kedua jenis hariamu ini sudah menjadi ikon hewan khas asia disamping panda cina, gajah asia, dan orang utan, bahkan harimau Bengal dijadikan sebagai lambing Negara Bangladesh, sebagaimana Burung Rajawali menjadi lambang Negara kita.

Beda: Orangutan Sumatra VS Orangutan Kalimantan

harimau bengal

Tahukah anda bahwa kedua jenis harimau diatas sebenarnya memiliki kekerabatan yang sangat dekat, yakni satu spesies panthera tigris, akan tetapi keduanya masih memiliki ke khas-an tersendiri sehingga dibedakan dalam subspesies.

Berikut beberapa hal yang dapat anda amati untuk membedakan kedua subspecies harimau Bengal dan Sumatera ini:

Harimau Bengal Harimau Sumatera
Sub species Panthera tigris tigris Panthera tigris sumatrae
Habitat Wilayah India, Bangladesh, Nepal, Bhutan, Cina dan Myanmar, dengan tingkat adaptasi yang tinggi sehingga dapat hidup di dataran tinggi hutan Himalaya yang sangat dingin hingga hutan mangrove yang hangat di Sunderban India. Sumatera, Indonesia. Di hutan dataran rendah, lereng gunung dan hutan-hutan gunung
Ukuran Tubuh Pejantannya dapat mencapai berat 235 kg, dengan panjang hampir 3 m, dan tinggi 90-120 cm diukur dari pundah hingga kaki Pejantannya dapat mencapai berat 120 kg, dengan panjang sekitar 2,5 m, betinanya dapat mencapai berat 75-110 kg dengan panjang 2,15 – 2,3 m. Tubuh rampingnya sangat mempermudahnya untuk berlari cepat mengejar mangsa
Corak Tubuh Warna tubuh dasarnya kuning hingga orange terang dengan garis-garis coklat gelap atau hitam, perut bagian dalamnya berwana putih dengan garis hitam, dan ekornya berwarna putih dengan cincin-cincin hitam. Beberapa harimau Bengal dapat mengalami mutasi warna menjadi warna dasar putih atau hitam, dengan garis-garis hitam Warna dasar tubuhnya kuning keemasan dengan garis-garis hitam yang lebih rapat dibanding Harimau Bengal. Perut bagian dalamnya berwarna putih dengan garis hitam, sedangkan ekornya kuning cerah dengan cincin cincin hitam. Struktur kulit di antara jari-jarinya membuatnya menjadi perenang handal.
Status konservasi versi IUCN Endangered, saat ini kemungkinan masih terdapat sekitar 2000 ekor di seluruh dunia Critical endangered. Hanya sekitar 300 ekor harimau yang hidup di seluruh dunia

 

Harimau mulai dewasa secara seksual pada umur 4-5 tahun untuk pejantan dan 3-4 tahun untuk betina. Pada saat musim kawin mereka akan mencari pasangan masing-masing, dan bersama-sama selama beberapa hari. Setelah lewat masa kawin, kedua harimau ini akan berpisah kembali. Sang betina kemudian akan bunting selama 16 minggu, mendekati masa kelahiran ia akan mencari sarang yang nyaman. Harimau dapat melahirkan 3 hingga lebih anak harimau dalam satu kali kelahiran, dengan berat sekitar 1 kg. anak harimau ini akan tetap di dalam sarangnya, disusui oleh induknya, karena apabila harimau jantan menemui anak harimau, secara alami ia akan berusaha membunuhnya. Saat umur 1,5 – 2 tahun, anak-anak harimau ini siap untuk tumbuh dewasa tanpa asuhan induknya, anak harimau jantan akan pergi lebih jauh dari sarang induk, sedangkan anak harimau betina cenderung membuat teritori dekat-dekat dengan induknya.

Beda: Merak Hijau vs Merak Biru

Penurunan populasi harimau secara drastis setiap tahunnya sebagian besar disebabkan perburuan liar. Para pemburu mengincar kulit dan kepala harimau untuk diolah sebagai barang antik seperti karpet atau pakaian, juga daging dan taringnya yang hingga saat ini masih dipercaya sebagai bahan obat-obatan tradisional.

Simak: Macan Tutul – Predator Tersukses di Dunia

Jika masih ada bahan lain untuk mengobati penyakit, kenapa kita harus membunuh harimau yang hampir punah, biarkan mereka hidup lestari di alam liar..

 

Indonesia Siaga 1 untuk Satwa-Satwa ini

Indonesia Siaga 1 untuk Satwa-Satwa ini

Hewan Paling Langka di Indonesia

PecintaSatwa.com – Sudah bukan rahasia lagi, bahwa Indonesia merupakan surga plasma nutfah dunia. Berbagai spesies hewan dan tumbuhan hidup dan berkembang dengan baik di negeri ini, dengan keanegaraman habitat yang tersedia, seperi hutan tropis, pegunungan, padang rumput, sungai, dan lautan luas. Namun sayangnya kekayaan variasi jenis flora dan fauna di Indonesia semakin hari semakin menipis, karena ledakan populasi penduduk yang mendesak habitat alaminya demi dibukanya lahan untuk pemukiman dan industri, selain itu perburuan liar oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab juga memperparah keadaan yang memprihatinkan ini.

Saat ini terdapat 73 spesies hewan di Indonesia yang dikategorikan dalam status critical endangered atau sangat terancam punah oleh lembaga konservasi dunia, International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Disamping itu, 170 spesies berstatus endangered (terancam) dan 523 spesies Vulnerable (Rentan).

Beberapa hewan asli Indonesia, yang hampir-hampir menjadi sejarah kekayaan nusantara:

Sumatran Ground Cuckoo

Di Indonesia disebut burung Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis). Saat ini diperkirakan berjumlah sekitar 70-400 di habitatnya.

Rusa Bawean

rusa bawean

Axis kuhli. Berasal dari Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Jumlahnya di tahun 2004 terdata sekitar 250-300 ekor

Elang Flores

Elang endemic Flores, Nisaetus floris. Jenis burung yang merupakan subspecies dari elang Brontok ini diperkirakan tinggal 150-300 ekor di alam liar.

Kura-Kura Hutan Sulawesi

Bernama Latin Leucocephalon yuwonoi, populasinya saat ini kurang dari 250 ekor. Kura-kura langkah dengan tempurung pipih berwarna cokelat ini terancam punah tidak hanya karena rusaknya ekosistem habitatnya, akan tetapi juga karena diburu untuk dijadikan santapan manusia.

Badak Sumatera

Badak Bercula Dua (Dicerorhinus sumatrensis) asli pulau Sumatera yang hanya berjumlah dibawah 275 ekor. Badak Sumatera merupakan badak terkecil, salah satu dari lima badak yang masih ada di bumi.

Macan Kumbang

macan kumbang

Disebut juga macan Tutul Jawa atau Leopard Jawa (Panthera pardus melas). Berdasarkan data IUCN tahun 2008, jumlahnya saat ini kurang dari 250 ekor di alam. Macan kumbang dapat ditemui di hampir semua Taman Nasional di Pulau Jawa, mulai dari Ujung Kulon hingga Baluran, akan tetapi populasi terbesar macan kumbang terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. (baca: CITES – Standart Legalitas Perdagangan Satwa Internasional)

Pesut Mahakam

pesut mahakam

Bernama lain Irrawaddy Dolphin, habitatnya di sungai Mahakam. Lumba-luma air tawar ini diperkirakan tidak lebih dari 70 ekor yang masih hidup sekarang.

Dendrolagus mairy

Lebih umum dengan nama Kangguru Pohon Wondiwoi. Jenis kangguru endemik Papua ini populasinya diduga hanya berkisar 50 ekor saja saat ini.

Badak Jawa

badak jawa

Terkenal dengan sebutan badak bercula satu, saat ini hanya dapat ditemui di Taman Nasional Ujung kulon, Provinsi Banten. Berdasarkan sensus tahun 2011, jumlah badak bercula satu yang masih hidup saat ini tinggal 35-45 ekor saja. Jumlahnya terus merosot tajam di alam karena semakin sempit habitatnya, juga karena terdapat suatu kepercayaan bahwa cula badak jawa dapat menjadi obat tradisional, sehingga semakin marak perburuan liar terjadi.

Jika bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?

Jika bukan saat ini, kapan lagi?

Kalaupun dapat menyembuhkan, apakah harus ditukar dengan pembantaian?

Jangan tunggu kekayaan alam kita menjadi sejarah yang hanya dapat dikagumi di museum satwa berupa awetan dan diorama…

 

 

Bagaimana Membedakan Gajah Asia dan Gajah Afrika

Bagaimana Membedakan Gajah Asia dan Gajah Afrika

Ciri Khas Gajah Asia dan Gajah Afrika

Gajah, Binatang yang amat besar, hidungnya panjang, telinganya lebar…

PecintaSatwa.com – Jika anda pernah mengenyam pendidikan taman kanak-kanak atau sekolah dasar pasti tidak asing dengan syair diatas. Penggalan kalimat diatas acapkali diajarkan para ibu guru saat mengenalkan kita pada satwa terbesar di daratan planet yang masih hidup hingga saat ini. Gajah pun selalu menjadi favorit anak-anak apabila berkunjung ke kebun binatang, tingkahnya yang lucu, dan badannya yang besar menjadi ketertarikan tersendiri bagi para pengunjung, namun tau kah anda bahwa terdapat 2 jenis gajah di bumi ini, yakni Gajah Asia dan Gajah Afrika.(Simak: 7 Jenis Burung Kakatua Nusantara)

gajah Asia

Sebagaimana namanya, kedua jenis gajah tersebut hidup di belahan dunia berbeda, di benua Afrika dan di benua Asia dan sekitarnya, akan tetapi tidak hanya itu saja perbedaannya. Terdapat beberapa hal yang sangat khas di antara kedua gajah tersebut yang menjadikan satu sama lain sangat spesial dan berbeda. Berikut diantaranya:

Gajah Afrika Gajah Asia
Ukuran Tubuh 2,5 – 4 meter diukur dari pundak hingga kaki, dengan titik tertinggi di pundaknya. berat badannya berkisar 2.268 – 6.350 kg 2 – 3 meter diukur dari pundak hingga kaki, dengan titik tertinggi di punggungnya. berat badannya berkisar 2.041 – 4.990 kg
Habitat Daerah sub-sahara Afrika dan hutan hujan di daerah afrika barat dan tengah serta di sekitar Gurun Sahel di Mali Hutan hujan dan padang semak belukar di wilayah Nepal, India, dan Asia Tenggara seperti Thailand dan Indonesia
Spesies Loxodonta African (African savannah elephant) dan Loxodonta cyclotis (gajah hutan afrika) Elephas Maximus, dengan sub spesies: Elephas maximus indicus (india), Elephas maximus maximus (Sirlanka), Elephas maximus sumatranus (Indonesia), Elephas maximus borneensis (Indonesia)
Struktur kulit Terlihat lebih berkerut kerut Tampak lebih halus
Bentuk Telinga Lebih besar dan lebar hingga menutup leher seluruhnya Cenderung lebih kecil, tidak terlalu menutup lehernya.
Bentuk badan Mirip trapesium, dengan bagian sempit di daerah dada dan terus melebar hingga perut bagian belakang. Dengan punggung berbentuk cekung Lebih berbentuk bujur sangkar, panjang dan lebarnya hampir sama antar bagian depan dan belakang. Dengan punggung berbentuk cembung.
Bentuk kepala Dahi tidak terbelah membentuk benjolan Terdapat lekukan di dahi, terlihat seperti 2 bukit.
Gading Baik jantan maupun betina memiliki gading. Gading jantan biasanya lebih besar dari betina Umumnya hanya dimiliki gajah jantan, gajah betina kadang hanya memiliki gading yang rudimenter atau tanpa gading.
Belalai Tidak terlalu keras, memiliki banyak cincin-cincin, berujung menyerupai 2 jari Lebih keras, dengan cincin yang lebih sedikit, dan ujung menyerupai satu jari
Kuku kaki Kaki depan berkuku 4 kadang 5, kaki belakang berkuku 3 kadang 4 Kaki depan berkuku 5, kuku belakang berkuku 4 kadang 5
Status konservasi, versi IUCN Vulnerable, diperkirakan terdapat 470.000 ekor gajah afrika diseluruh dunia Endangered, belum diketahui tepatnya jumlah gajah asia yang masih bertahan hidup diseluruh dunia.

 

Gajah Afrika vs Gajah Asia

gajah afrika

Baik Gajah Afrika maupun Gajah Asia sehari-hari mengkonsumsi, dedaunan, rumput, buah-buahan dan akar, mereka menggunakan belalainya untuk memetik daun buah yang ada di pohon, mengambil rumput di tanah, dan menggunakan gadinngya untuk menggali tanah mencari akar-akaran yang segar. Jumlah makanan yang dapat ia konsumsi pun beragam tergantung pada usia dan berat badannya. Gajah dewasa biasanya dapat mengkonsumsi makanan hingga 136kg/hari. (Baca: Lumba-Lumba Humpback – Mamalia Putih dari Pasific)

Anak gajah dilahirkan seberat 91 kg dengan tinggi sekitar 1 meter setelah dikandung oleh induknya selama 22 bulan. Setelah dilahirkan ia akan diasuh oleh induknya dann terus tumbuh dengan pesat, bobotnya akan bertambah 1-1,5 kg setiap harinya. Pada umur 2-3 tahuan ia siap disapih oleh induknya. Anak gajah jantan akan berkelana sendiri sedangkan anak gajah betina akan mengikuti koloni ibunya. Pada umur 13-20 tahun, anak gajah ini telah mencapai usia dewasa untuk kawin. Gajah dapat hidup secara alami di alam liar hingga 10-50 tahun bahkan lebih.

Setidaknya punya tujuh puluh tahun..Tak bisa melompat kumahir berenang..Bahagia melihat kawanan betina..Berkumpul bersama sampai ajal..

Besar dan berani berperang sendiri.. Yang aku hindari hanya semut kecil.. Otak ini cerdas kurakit berangka.. Wajahmu tak akan pernah aku lupa.. (Gajah by Tulus)

 

Zebra, Jerapah atau Kuda? Coba Tebak !!

Zebra, Jerapah atau Kuda? Coba Tebak !!

Mengenal Okapi

PecintaSatwa.com – Hewan ini sangatlah unik, bentuk wajah dan kepalanya sekalem Jerapah, si leher panjang, namun dia “bercelana” zebra, porstur tubuhnya mirip kuda, banyak juga yang mengatakan bahwa hewan langkah ini juga memiliki kedekatan rupa dengan rusa. Sayangnya si hewan unik yang kita bahas disini sangatlah langkah, tidak semua kebun binatang di dunia memilikinya, bahkan di Indonesia, maka tak heran jika sangat sedikit orang yang mengenalnya. Dialah OKAPI. (Ketahui: CITES – Standart Legalitas Perdagangan Satwa Internasional)

okapi muda

Okapi (Okapia johnstoni) merupakan hewan asli benua Hitam, Afrika Tengah tepatnya di Republic Kongo. Meski secara penampilan, khusunya bagian kaki belakangnya sangat mirip dengan motif zebra, ternyata secaga garis kekeluargaan (taksonomi) Okapi lebih dekat kekerabatannya dengan Jerapah, dalam satu family Giraffidae, dengan klasifikasi sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Mamalia

Order : Artiodactyla

Family : Giraffidae

Genus : Okapia

Species : Okapia johnstoni

Morfologi Okapi

okapi dewasa

Secara morfologi, okapi memiliki tinggi 1,5 meter diukur dari pundaknya, dengan rata-rata panjang tubuh sekitar 2,5 meter, dan berat berkisar 200-350kg. Meski tidak semirip sepupunya, jerapah, okapi tergolong memiliki leher yang panjang, dengan telinga lebar yang fleksibel . wajah, tenggorokan dan dada okapi berwarna putih keabu-abuan, sedangkan tubuh okapi berwanra coklat kemerahan, dengan garis-garis putih disekitar kaki depan, panggul, dan kaki belakang, juga warna putih di bagian bawah keempat kakinya, nampak seperti pemain sepak bola dengan kaus kaki putih panjangnya. Okapi jantan memiliki tanduk kecil yang disebut ossicones sedangkan okapi betina tidak memilikinya.

Habitat Okapi

Okapi termasuk hewan herbivora, pemakan tumbuh-tumbuhan seperti rumput, dedaunan, tunas, buah dan jamur. Hewan ini lebih aktif pada siang hari, saat matahari bersinar. Tidak seperti kebanyakan hewan herbivora lainnya yang lebih sering hidup berkoloni, okapi lebih menyukai hidup sendiri, sangat melindungi tertorinya, dan hanya bergabung dengan jenisnya saat musim kawin tiba.

Okapi betina akan bunting selama 440-450 hari, dengan proses kelahiran berlangsung selama 3-4 jam, kemudian ia akan merawat anaknya secara sembunyi sembunyi. Okapi kecil terlahir dengan berat 14-30 kg, ia mulai belajar berdiri sejak beberapa menit setelah dilahirkan sebagaimana bangsa ruminansia lainnya, biasanya dapat tegak berdiri dan melangkah mencari puting susu induknya skitar 30-60 menit setelah kelahiran. Susu induk merupakan makanan utama bayi okapi, hingga 3 bulan ia dapat mulai mengkonsumsi dedaunan sebagai tambahan, dan disapih induknya pada umur 6 bulan. Secara alami di habitatnya, okapi dapat hidup hingga 20-30 tahun.

Hewan endemic Republik Kongo ini, biasa hidup di hutan hutan tropis dengan ketinggian 500-1500 diatas permukaan laut. Saat ini statusnya Endagered dalam IUCN (The Internationan Union for The Conservation of Nature of Natural Resourses), dibawah perlindungangan Pemerintah Republic Kongo. Dari tahun ketahun jumlah okapi di habitatnya semakin menurun akibat penjarahan hutan dan perburuan liar, diperkirakan saat ini di alam liar jumlahnya hanya tinggal 25.000 ekor. Karena itu di tempat asalnya, konservasi okapi telah dijalankan sejak 1987.

Yuk kita lindungi satwa dunia demi keseimbangan ekosistem bumi kita tercinta…

 

Jalak Bali – Burung Langka dari Pulau Dewata

Jalak Bali – Burung Langka dari Pulau Dewata

Jalak Bali

koin rupiah dengan jalak bali tergambar di atasnya

Jika Anda punya uang koin 200 rupiah, coba lihat gambar yang ada di atasnya. Ya, itulah gambar dari Jalak Bali, salah satu burung yang paling terancam punah di dunia. Burung endemik Pulau Dewata ini menjadi simbol tak tergantikan dari Bali, dengan kecantikan bulunya yang eksotis, ditambah lagi dengan kicauannya yang indah membuatnya menjadi primadona di kalangan pengamat burung di Indonesia. Sayangnya, dua hal ini justru menjadi bahaya bagi burung jalak bali itu sendiri. Para pemburu pun berlomba-lomba menangkap burung ini untuk dijual dengan harga yang mahal, membuat populasinya semakin berkurang dari hari ke hari.

Ciri khas Jalak Bali

Seperti namanya, Jalak Bali memang termasuk dalam keluarga burung jarang (sturnidae), dan berada di genus tunggal Leucopsar. Penampilannya memang sangat berbeda dengan burung jalak pada umumnya, dengan tubuh yang kelihatan gendut dan ditutupi oleh bulu tebal berwarna putih salju. Tubuhnya berukuran sedang (25 cm) dan memiliki pola hitam di ujung sayap dan ekor. Salah satu ciri khas yang paling menarik dari burung Jalak Bali adalah kulit tanpa bulu berwarna biru di muka, bersanding dengan jambulnya yang panjang menawan. Dengan warnanya ini, burung jalak bali menjadi salah satu burung paling mempesona di bumi pertiwi.

Baca: Jenis-jenis burung Madu

jambul jalak bali yang menawan

Tidak seperti burung jalak lain, burung Jalak Bali lebih suka beraktivitas di atas tajuk pohon dan jarang sekali turun ke permukaan tanah, kecuali untuk minum dan mencari material sarang. Burung ini mencari makanan berupa buah-buahan, larva serangga, cacing, dan serangga kecil yang hidup di tajuk hutan. Burung ini bersarang di dalam lubang pohon, satu betina bisa menghasilkan dua atau tiga butir telur. Pada saat musim kawin, burung jantan akan mengeluarkan kicauan yang keras diikuti dengan tarian naik-turun yang menarik. Kicauan burung jalak bali ini juga menjadi salah satu atraksi alam yang menarik untuk disaksikan.

Penangkaran Jalak Bali

Jalak Bali pertama kali ditemukan pada tahun 1910 dan dideskripsikan oleh Erwin Stresseman pada tahun 1912. Pada masa tersebut, burung ini kemungkinan besar bisa ditemui di seluruh dataran Bali, dengan jumlah populasi sekitar 300-900 ekor. Namun, perburuan besar-besaran membuat jumlahnya turun drastis, hingga pada tahun 1990 jumlahnya hanya tinggal 15 ekor dan hanya bisa ditemukan di aera Taman Nasional Bali Barat. Pada tahun 1991, Jalak Bali resmi ditetapkan sebagai fauna simbol Provinsi Bali, dan program pelestarian mulai dilakukan secara besar-besaran.

Kisah: Gelatik Jawa yang Terusir dari rumahnya

Program perlindungan, penangkaran ex-situ dan pelepasliaran sedikit memberi harapan pada masa depan burung tersebut, namun tingkat keberhasilan hidup individu hasil pelepasliaran masih

jalak bali remaja

diragukan. Hal ini terbukti pada tahun 2001, dengan adanya laporan yang menyebutkan bahwa hanya ada sekitar 6 individu yang tersisa di alam liar. Jatuhnya populasi ini diperkirakan terjadi karena individu hasil pelepasliaran tidak mampu berkembang biak di habitat aslinya, sehingga gagal dalam menggandakan populasi burung jalak bali di alam. Proses pelepasliaran di Taman Nasional Bali Barat terus berlanjut dengan program yang telah disempurnakan, dan berhasil menggandakan populasi Jalak Bali menjadi 35 ekor di tahun 2007 dan sekitar 50 ekor di tahun 2008.

Cara: Menikmati Kicauan Burung Tanpa Mengurung

Selain di Taman Nasional Bali Barat, Jalak Bali juga dilepasliarkan di Nusa Penida, meskipun pulau ini diduga tidak termasuk dalam habitat asli Jalak Bali sebelum populasinya menurun drastis. Proses introduksi Jalak Bali di pulau ini cukup sukses, hingga pada tahun 2009 terdapat sekitar 60 individu dewasa dan 62 individu remaja yang terdapat di pulau tersebut. Burung-burung ini diduga dapat beradaptasi dan berkembang-biak dengan baik di pulau tersebut, dengan proteksi dari masyarakat lokal yang bersama-sama menjaga burung Jalak Bali dari pemburu ilegal.

Populasi Jalak Bali

jalak bali si langka dari pulau dewata

Saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 115 individu Jalak Bali dewasa di alam liar dan 1000 individu di penangkaran, memberikan harapan yang cerah bagi kelangsungan burung Jalak Bali di alamnya. Akan tetapi, populasi tersebut belum stabil, dan hanya ada sedikit catatan tentang keberhasilan reproduksi burung ini di alam liar. Hal ini membuat burung Jalak Bali masih dikategorikan sebagai sangat terancam punah (Critically Edangered) oleh IUCN, dengan masa depan yang masih tidak jelas. CITES memasukan burung Jalak Bali di dalam daftar Appendix 1, sehingga burung ini dilarang untuk diekspor ke luar negeri. Burung ini juga dilindungi oleh PP no 7 tahun 1999 sehingga dilarang untuk diburu, diperjualbelikan, atau dipelihara secara pribadi.

 

 

 

 

 

 

Sang Garuda – Elang Jawa yang Eksotis

Sang Garuda – Elang Jawa yang Eksotis

Asal Usul Sang Garuda

elang jawa muda

Jika kita melihat sebuah ruang kelas, wajah burung yang satu ini akan selalu terlihat bertengger di bagian depan, tepat di atas foto presiden dan wakilnya. Ya!, burung Garuda sang lambang negara Indonesia dan Filipina ini memang makhluk legenda. Berasal dari mitologi Hindu tentang seekor burung berbadan manusia yang menjadi tunggangan sang dewa Wisnu. Memang mustahil melihat garuda asli di dunia nyata, namun elang berjambul yang satu ini memang terlihat sangat mirip dengan sang Garuda. Inilah Elang Jawa, sang Garuda dari bumi pertiwi.

Berdasarkan Keppres no 4 Tahun 1993, Elang Jawa bersama beberapa satwa lainnya diangkat sebagai Satwa Nasional yang menjadi kebanggaan bumi pertiwi. Elang yang juga menjadi maskot klub sepakbola PSS Sleman ini memang sangat karismatik, terlebih dengan jambulnya yang sangat mirip dengan sang Garuda yang menjadi lambang negara NKRI. Tidak salah kalau burung ini sering disebut sebagai burung Garuda oleh para pengamat burung yang terpesona akan kegagahannya ketika terbang di angkasa.

Baca: Hiu Paus – Raksasa Ramah dari Lautan tropis

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) atau Javan Hawk-Eagle merupakan elang berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 60 cm. Ciri-ciri Elang Jawa yang paling dapat dikenali adalah jambulnya yang khas, berwarna hitam dan menjulang gagah di atas kepalanya. Elang Jawa dewasa memiliki bulu punggung yang gelap, dengan warna coklat kemerahan di sisi kepala, coretan vertikal di tenggorokan, dan garis-garis horizontal hitam di dada dengan latar putih. Elang Jawa muda atau juvenil juga memiliki jambul, namun dengan coklat pucat yang seragam di tubuh bagian depan. Saat terbang, burung ini dapat dikenali dari sayapnya yang membulat, menekuk ke atas membentuk huruf, dan adanya garis-garis hitam di pinggir sayap.

Habitat Elang Jawa

elang jawa ketika terbang

Seperti namanya, Elang Jawa memang hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa, meskipun terdapat beberapa catatan dari Bali. Elang berjambul ini menyukai daerah hutan pegunungan, hutan perbukitan dan daerah perkebunan hingga ketinggian 3000 mdpl, namun juga terdapat satu catatan dari hutan yang dekat dengan laut di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur. Elang ini sering menunggu mangsanya di tajuk-tajuk pohon, menyambar berbagai macam hewan kecil seperti tikus, tupai, ayam-hutan, dan kadal.

Sama seperti burung pemangsa lain, Elang Jawa hidup berpasangan dalam satu teretori yang luas. Burung ini mulai bereproduksi di usia 3-4 tahun, dan biasanya hanya akan kawin dengan satu pasangan yang sama seumur hidupnya (monogami). Musim kawin Elang Jawa terjadi antara bulan Mei-September, namun ada juga catatan sarang aktif dari bulan Januari hingga Juni. Diperkirakan elang ini sebenarnya dapat berbiak sepanjang tahun, tergantung kondisi cuaca dan ketersediaan mangsa. Namun, tidak semua pasangan berhasil membesarkan telurnya akibat dirampok oleh satwa lain, seperti kera dan manusia, sehingga pasangan tersebut harus menunggu hingga musim berikutnya.

elang jawa di sarangnya

Sarang Elang Jawa dibuat di atas pohon dengan ketinggian antara 40-50 meter. Pohon sarang yang dipilih biasanya terpisah dari pohon lain untuk menghindari gangguan satwa lain, termasuk manusia. Sarang terbuat dari ranting-ranting kering yang dikumpulkan oleh kedua calon induk yang berbiak. Seekor betina biasanya hanya menghasilkan satu butir telur setiap 2-3 tahun, sehingga tingkat reproduksi burung ini tergolong rendah. Telur Elang Jawa berukuran sekitar 58×48 mm dan membutuhkan waktu sekitar 45-50 hari untuk menetas.

Penyebab Elang Jawa yang makin langka

Di samping rendahnya tingkat reproduksi, perburuan dan kerusakan habitat juga menjadi ancaman yang serius bagi keberlangsungan hidup spesies ini. Seperti yang telah kita ketahui, kerusakan hutan di Pulau Jawa begitu parah, sehingga hanya ada sedikit habitat yang tersisa bagi elang berjambul ini itupun harus berbagi dengan beberapa jenis elang lain, seperti Elang Hitam dan Elang-ular Bido. Di tengah keterbatasan wilayah hidup dan semakin menipisnya populasi mangsa, Elang Jawa juga harus menghadapi ancaman dari pemburu yang tergiur akan harganya yang mahal. Statusnya sebagai satwa nasional justru menjadi senjata berbahaya bagi burung ini, karena ada banyak orang yang ingin memilikinya hanya demi prestise semata.

Ketahui: 8 Fakta Unik tentang Burung Merak

Data terakhir pada tahun 2010 menunjukan bahwa setidaknya terdapat 108-542 pasang Elang Jawa yang tersisa di alam, dengan

elang jawa dewasa di kebun binatang

nilai tengah 325 pasang. Dengan tingkat perburuan dan kerusakan habitat yang terjadi, diperkirakan jumlah ini akan terus menurun dari waktu ke waktu. Pada tahun 2004 hingga 2010 diperkirakan ada 220 ekor Elang Jawa yang menghilang dari habitatnya, kemungkinan besar akibat penangkapan untuk dijadikan hewan peliharaan dan falconry ilegal. Hal ini berarti terdapat sekitar 22 ekor Elang Jawa yang ditangkap setiap tahunnya, sehingga bisa diperkirakan populasi elang karismatik ini akan habis di tahun 2025 atau bahkan lebih cepat!

Fakta ini menunjukan bahwa lambang negara kita ini benar-benar terancam punah. IUCN mengkategorikan burung Elang Jawa sebagai terancam punah (Edangered), dengan peluang untuk punah >20% dalam kurun waktu 20 tahun. Burung ini juga termasuk dalam daftar CITES Appendix 1 dan PP no 7 tahun 1999, yang berarti seluruh tindakan penangkapan, perburuan, jual-beli dan kepemilikan atas alasan apapun (seperti falconry) dilarang oleh hukum, dan pelanggar dapat dijatuhi hukuman penjara hingga 5 tahun. Namun, rendahnya kesadaran masyarakat ditambah kurangnya pengawasan membuat populasi Elang Jawa tetap terancam, sehingga masa depannya pun masih belum jelas.

“Ik ben Garoeda, Vishnus Vogel, die zijn vleugels uitlaat hoog boven uw eilanden”

(Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu, yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu)

Raden Mas Noto Soeroto, dikutip ole Ir. Soekarno pada peluncuran Maskapai Garuda di tahun 1949

 

Hiu Paus – Raksasa Ramah dari Lautan Tropis

Hiu Paus – Raksasa Ramah dari Lautan Tropis

Ikan Hiu Paus

hiu paus ramah terhadap penyelam

Bulan Februari lalu kita dikejutkan oleh berita mengenai tersangkutnya seekor Hitu Tutul/Hiu Paus di kanal Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton, Probolinggo, Jawa timur. Ikan raksasa ini diketahui terdampar di dalam kanal sempit dan dangkal, sehingga tidak bisa kembali ke lautan lepas. Setelah usaha penyelamatan yang dilakukan selama beberapa hari dan menarik perhatian beberapa media nasional, hiu tersebut pun akhirnya mati dan dikuburkan di daerah tersebut. Nah, sebenarnya apa sih ikan hiu paus itu? Jawabannya ada di bawah ini. Yuk, kita simak sama-sama!

Amati: 7 Jenis Burung Kakatua Nusantara

Ikan hiu paus (Rhincodon typus) atau Whale Shark merupakan sejenis ikan hiu yang sering ditemukan di perairan tropis di seluruh dunia. Ikan ini tidak memiliki tulang keras (osteon) alias hanya memiliki tulang rawan di seluruh tubuhnya, sehingga dimasukan dalam kelas Chondricthyes bersama ikan pari dan ikan hiu lainnya. Nama paus yang disematkan di belakang namanya ini merujuk pada ukurannya yang sangat besar mencapai panjang 12,5 meter dan berat 21,5 metrik ton, hampir sama besar dengan berbagai jenis paus yang hidup di lautan. Ukurannya yang besar ini menjadikan Hiu Paus dinobatkan sebagai ikan terbesar di dunia, serta hewan tanpa tulang keras terbesar di lautan. Wow!

mulut hiu paus dapat mencapai lebar 1,5 meter

Hiu paus disebut juga sebagai hiu tutul di beberapa daerah pesisir di Indonesia. Kata tutul ini merujuk pada pola totol-totol putih di atas tubuhnya yang hijau kebiruan. Hiu raksasa ini menyukai daerah lautan terbuka, namun menghindari kedalaman samudra. Hiu ini sering bersifat migran dan sering berpindah tempat dalam jarak yang jauh dalam sebuah rombongan besar. Pada musim-musim tertentu, hiu ini dapat ditemui begitu dekat dengan pantai dan bahkan muara sungai, seperti di daerah pantai utara Pulau Jawa. Terkadang hiu ini mengalami disorientasi atau terjebak di aliran air surut sehingga terdampar di pantai, seperti yang terjadi di Paiton, Probolinggo atau di Parangtritis beberapa tahun yang lalu.

Sifat Hiu Paus

Meskipun besar, jangan bayangkan ikan ini seperti hiu ganas di film Jaws. Hiu raksasa ini justru bersifat sangat ramah kepada manusia dan hewan-hewan lain di lautan. Makanan utama hewan ini adalah plankton (organisme kecil yang hidup di laut) serta udang dan ikan yang berukuran sangat kecil. Saat makan, ikan ini berenang dengan lamban dan menghisap ratusan galon air laut ke dalam mulutnya yang hampir selebar 1,5 meter, untuk menyaring makanannya yang kecil-kecil. Ratusan baris gigi di dalam mulutnya tidak pernah digunakan untuk menggigit apapun, sehingga ikan ini sering disebut sebagai raksasa lambut alias the gentle giant.

Baca juga: Kukang Jawa yang langka

Selain hewan-hewan yang super kecil, hiu paus diketahui tidak pernah menyerang makhluk lain di lautan, termasuk manusia. Para penyelam bahkan dapat berenang dengan sangat dekat dengan hiu ini, bahkan menyentuhnya langsung tanpa takut diserang oleh sang raksasa lautan. Hiu ini cenderung jinak dan akan tetap berenang dengan tenang di sekitar penyelam, memberikan pemandangan yang spektakuler bagi para penyelam yang melihatnya secara langsung. Hal ini dimanfaatkan oleh operator selam untuk menawarkan paket menyelam bersama hiu paus di beberapa lokasi favorit satwa raksasa ini, seperti di Pantai Cendrawasih, Papua. Bagi Anda yang tidak bisa menyelam, Anda juga bisa melihat satwa ini dari atas kapal sewaan, seperti yang sering ditawarkan di Pantai Pasir Putih, Situbondo, Jawa Timur, pada musim-musim tertentu.

hiu paus sang raksasa yang ramah

Sayangnya, tidak semua orang menghormati keindahan raksasa lautan berbintik putih ini. Perburuan hiu paus masih dilakukan di beberapa wilayah di dunia, meskipun beberapa negara telah melarang hal tersebut. Hal ini menyebabkan populasi hiu semakin menurun, dan statusnya pun dinaikan menjadi rentan (Vulnurable) oleh IUCN pada tahun 2005. Untungnya, industri wisata yang mengandalkan keberadaan si hiu paus membuat masyarakat sadar bahwa hiu ini jauh lebih berharga ketika hidup bebas di alam dibandingkan ketika dalam keadaan mati akibat perburuan. Hal ini memberi masa depan yang cerah bagi si hiu paus ini untuk tetap menjadi raksasa yang ramah di birunya lautan tropis Indonesia.

 

 

7 Jenis Burung Kakatua Nusantara

7 Jenis Burung Kakatua Nusantara

Mengenal Jenis-jenis Burung Kakatua

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan terungkapnya penyelundupan puluhan ekor Kakatua Jambul Kuning yang menjadi buah bibir di dunia maya. Burung langka ini disekap dalam botol-botol minum dengan keadaan yang menyedihkan bahkan, beberapa ekor burung menemui ajal sebelum sempat diselamatkan oleh petugas yang berwenang. Kisah ini tentu saja menjadi coretan besar dalam daftar panjang perdagangan satwa dilindungi di Indonesia,yang kondisinya semakin mengkhawatirkan dari waktu ke waktu. Nah, seberapa kenal sih Anda dengan burung yang satu ini?

Kakatua atau dalam bahasa inggris disebut cockatoo merupakan salah satu kelompok burung berparuh bengkok dari ordo Psittaciformes, bersama dengan burung serindit, betet, makaw dan bayan. Ciri khas dari kelompok burung ini adalah paruhnya yang kuat dan melengkung, digunakan untuk berbagai macam aktifitas seperti membuka biji tanaman, membuat lubang di pohon, atau bahkan sebagai tangan untuk memanjat dan bergelantungan. Anggota kelompok ini juga terkenal akan kecerdasannya dalam mengenali bentuk, menggunakan alat, bahkan berhitung; sehingga tidak jarang kakatua disebut sebagai salah satu burung terpintar di dunia.

Baca: Jenis Burung Kacamata (Pleci)

Meskipun burung paruh bengkok tersebar di hampir seluruh dunia, burung kakatua hanya bisa dijumpai di beberapa tempat di Filipina, Indonesia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Australia. Di Indonesia sendiri burung kakatua hanya bisa ditemui di bagian timur garis weber, mulai dari Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. Masing-masing jenis kakatua memiliki habitat kesukaan yang berbeda, mulai dari hutan mangrove, hutan hujan, hutan terbuka, hingga daerah pegunungan. Sarang burung kakatua dibuat di dalam lubang pohon yang aman dari gangguan predator dan manusia.

Ada sekitar 21 jenis kakatua di dunia, dan 7 diantaranya berada di Indonesia. Hampir semua jenis tersebut bersifat terancam punah akibat kerusakan habitat dan perburuan untuk dijadikan hewan peliharaan. Jenis-jenis burung kakatua yang bisa ditemui di Indonesia antara lain:

1. Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)

Burung kakatua jambul kuning atau Sulphur-crested Cockatoo merupakan jenis kakatua yang paling dikenal dan paling sering diperjual-belikan. Burung ini hanya bisa ditemukan di Nusa Tenggara, Sulawesi, dan beberapa pulau kecil di sekitarya. Bentuknya mirip sekali dengan kakatua koki yang berukuran lebih besar dan sama-sama memiliki jambul berwarna kuning. Perbedaan utama kedua burung ini adalah adanya warna kuning pucat di bagian pipi kakatua jambul kuning, ukurannya yang lebih kecil, serta warna jambulnya yang lebih cerah hampir oranye.

Sebagai salah satu burung favorit untuk hewan peliharaan, perburuan menjadi ancaman utama bagi kelestarian burung tersebut. Di antara tahun `1980 hingga 1992, diperkirakan sekitar 100.000 ekor burung kakatua jambul kuning yang diekspor dari Indonesia, mengakibatkan penurunan populasi yang sangat drastis dan terus berlangsung hingga sekarang. Saat ini hanya ada kurang dari 7000 ekor burung kakatua jambul kuning yang tersisa di alam, membuatnya berstatus kritis (Critically Edangered) menurut IUCN. Burung ini dilindungi oleh PP no 7 tahun 1999 dan konvensi CITES, sehingga aktivitas jual-beli, pemeliharaan dan perburuan dilarang oleh negara dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara bagi yang melanggarnya.

2. Kakatua Koki (Cacatua gallerita)

kakatua koki

Kakatua Koki, Kakatua Jambul Kuning Besar atau dalam bahasa inggris disebut sebagai Sulphur-crested Cockatoo merupakan jenis kakatua yang berukuran besar. Burung kakatua ini bisa ditemui di Papua dan Australia, beserta beberapa pulau kecil di sekitarnya. Seperti yang disebutkan sebelumnya, burung kakatua koki sangat mirip dengan kakatua jambul kuning, namun berukuran lebih besar, warma jambul lebih pucat, dan jarang memiliki bercak kuning di pipunya.

Kakatua Koki tidak memiliki nasib seburuk Kakatua Jambul-kuning, dan statusnya di IUCN pun berada di kategori resiko rendah (Low Risk). Populasinya pun cenderung lebih banyak dan lebih stabil dibandingkan kakatua jambul kuning. Namun, perdagangan dan perburuan burung ini terus terjadi di Indonesia, sehingga burung ini pun termasuk dalam daftar satwa dilindungi oleh PP no. 7 tahun 1999.

3. Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis)

kakatua maluku

Burung Kakatua Maluku, Kakatua Seram atau Salmon-crested Cockatoo juga merupakan kakatua berukuran besar yang bisa mencapai panjang 52 cm dan berat 850 gram. Burung kakatua ini merupakan spesies endemik di Maluku Selatan dan tidak bisa dijumpai di tempat lain di duni, mendiami hutan dataran rendah di bawah ketinggian 1000 mdpl. Ciri dari burung kakatua maluku adalah jambulnya yang berwarna merah muda, bulu yang agak kemerahan, dan sedikit warna kuning di bagian bawah sayap dan ekor.

Kakatua Maluku berstatus rentan atau Vulnurable menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Burung ini memiliki distribusi yang terbatas dan populasinya terus menurun akibat perburuan untuk dijadikan hewan peliharaan. Hal ini membuat burung Kakatua Maluku termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh PP no 7 tahun 1999 dan dilarang untuk dimiliki, dijual, atau diburu dalam bentuk hidup dan mati.

4. Kakatua Putih (Cacatua alba)

kakatua putih

Kakatua Putih, Kakatua Jambul Putih atau White Cockatoo merupakan burung endemik Indonesia yang hanya bisa ditemui di Pulau Halmahera, Ternate, Tidore, Bacan, Mandioli dan Kasiruta di Maluku Utara. Sesuai dengan namanya, burung ini memiliki jambul berwarna putih yang seragam dengan bulu di seluruh tubuhnya, kecuali sedikit warna kuning di bagian bawah sayap dan ekor. Karena sama-sama berjambul putih, burung ini sering salah teridentifikasi dengan Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana) yang berukuran lebih kecil.

Kisah: Wiwik Kelabu – Burung Pembawa Pesan Kematian

Sama seperti spesies sebelumnya, burung kakatua jambul putih terancam oleh kepunahan akibat perburuan untuk dijadikan satwa peliharaan. Burung ini termasuk dalam kategori terancam (Edangered) oleh IUCN, dengan populasi di alam antara 42.000-138.000 pada tahun 1993 dan terus menurun sejak saat itu. Anehnya, spesies ini justru tidak terdaftar dalam lampiran daftar satwa dilindungi dalam PP no 7 tahun 1990, membuat keberadaannya semakin terancam.

5. Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiana)

kakatua tanimbar

Kakatua Tanimbar atau Tanimbar Corella merupakan burung kakatua berukuran kecil yang endemik di kepulauan Tanimbar, Maluku Utara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, burung ini mirip dengan Kakatua Putih karena sama-sama memiliki jambul putih, namun berukuran lebih kecil dan memiliki warna merha muda di bagian mukanya. Kakatua tanimbar memiliki panjang sekitar 30 cm dan berat antara 250-300 gram.

Burung Kakatua Tanimbar berstatus mendekati terancam (near theratened), namun populasinya cenderung masih stabil meskipun terus berkurang akibat perburuan. Burung ini termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi di PP no 7 tahun 1990 dan dilarang untuk dipelihara dan diperjual-belikan.

6. Kakatua Rawa (Cacatua sanguinea)

kakatua rawa

Kakatua Rawa atau Little Corella memang cukup jarang dikenal di Indonesia. Spesies ini dapat ditemui di Papua dan Australia, dan memiliki rupa yang mirip dengan kakatua tanimbar. Burung ini memiliki panjang antara 35-40 cm, sedikit lebih besar dari kakatua tanimbar. Seluruh tubuhnya juga berwarna putih dengan sedikit polesan merah jambu di bagian mukanya.

Burung kakatua rawa tidak terancam punah dan berstatus resiko rendah (least concern). Populasinya yang masih terbilang aman membuat burung ini tidak termasuk dalam daftar satwa burung dilindungi, namun perburuan yang terus berlanjut bisa saja membuatnya punah di masa depan.

7. Kakatua Raja (Probosciger atterimus)

kakatua raja

Kakatua Raja atau Palm Cockatoo merupakan burung kakatua terbesar di dunia, dengan panjang mencapai 60 cm dan berat 1,2 kilogram. Berbeda dengan 6 spesies kakatua yang telah dibahas sebelumnya, burung ini memiliki bulu berwarna hitam pekat di seluruh tubuhnya, kecuali pipinya yang merah menyala. Jambulnya panjang dan bercokol diatas paruhnya yang besar, membuatnya tampak spektakuler. Burung ini dapat ditemui di Papua dan sebagian kecil Australia bagian utara.

Burung kakaktua raja termasuk dalam daftar burung yang dilindungi oleh undang-undang. Perburuan masih menjadi ancaman utama bagi burung ini, meskipun tidak terlalu serius seperti pada kakatua jambu-kuning. Burung ini digolongkan sebagai satwa dengan resiko kepunahan rendah (last concern) oleh IUCN, dan termasuk dalam daftar Appendix 1 CITES sehingga dilarang untuk diekspor.

Simak juga: Animal Welfare – 5 Prinsip Kesejahteraan untuk Hewan

Nah, begitulah sedikit cerita mengenai jenis-jenis burung kakatua yang ada di Indonesia. Keindahan burung ini menjadi harta kekayaan yang berharga yang harus disaksikan oleh anak-cucu kita, karena itu sudah seharusnya kita melindungi satwa langka ini. Memelihara bukan berarti menyayangi, karena burung ini akan jauh lebih aman dan berguna bila berada di habitatnya yang asli, bebas di alam.

 

Binturong – Antara Kucing, Musang, dan Beruang

Binturong – Antara Kucing, Musang, dan Beruang

Binturong

binturong

Apa yang terjadi jika seekor kucing kawin dengan seekor beruang? Ya, memang terdengar tidak lazim, tapi mungkin itulah yang pertama kali dipikirkan oleh para ahli zoologi di masa lampau ketika pertama kali bertemu dengan binturong. Ya, hewan karnivora asli Indonesia ini memang unik: badan dan tengkoraknya besar seperti beruang, dengan cakar yang bisa disembunyikan layaknya kucing. Hal inilah yang membuat mereka menamainya bear-cat, campuran antara kucing dan beruang yang enigmatik dari hutan di Asia Tenggara.

Ciri Khas Binturong

Faktanya, binturong bukanlah kucing ataupun beruang secara taksonomis, hewan yang memiliki nama ilmiah Arctitis binturong ini termasuk dalam keluarga Viveridae atau musang-musangan. Ciri khas dari famili ini adalah badan yang memanjang dengan tungkai pendek dengan 5 jari di masing-masing kakinya, cakar yang dapat ditarik masuk secara tidak sempurna, serta kelenjar bau yang ada di dekat anus. Binturong merupakan anggota terbesar dari keluarga tersebut, dengan panjang tubuh mencapai 90 cm dan berat 32 kg. Tubuhnya pun terlihat lebih gemuk dan lebih kuat dibandingkan dengan musang pada umumnya, membuatnya lebih terlihat seperti beruang mini dengan ekor yang panjang.

Simak juga: 8 Fakta Unik tentang Burung Merak

Arctitis binturong

Badan binturong yang besar ditutupi oleh rambut-rambut kasar berwarna hitam keperakan. Ekornya panjang dan gemuk, penuh dengan otot kuat yang membuatnya bisa digunakan untuk menggenggam tajuk pohon untuk bergelantungan. Tengkoraknya pendek seperti kucing, dengan taring yang besar khas hewan karnivora, meskipun sebenarnya hewan ini lebih menyukai buah-buahan sebagai makanan utamanya. Matanya yang besar digunakan membantunya dalam beraktivitas di malam hari, sesuai dengan sifatnya yang nokturnal.

Habitat Binturong

Secara global, Binturong tersebar di hutan Asia Tenggara dan Asia Selatan, mulai dari bagian utara India, Nepal, Bangladesh, Yunnan, serta seluruh negara ASEAN hingga Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Hewan ini jarang ditemui di habitatnya, yang terdiri atas hutan yang lebat dengan banyak tempat persembunyian hingga ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Hal ini disebabkan oleh kemampuan bersembunyinya yang baik, ditambah lagi dengan kebiasaannya yang suka beraktivitas di tajuk-tajuk pohon tertinggi di hutan.

Binturong aktif di siang dan malam hari, namun lebih sering melakukan aktivitasnya di senja hari. Binturong jarang melompat karena tubuhnya yang besar, dan lebih sering turun ke tanah jika tidak ada dahan yang bersambung ke pohon lain di tajuk hutan. Dengan menggunakan cakarnya, hewan ini memanjat dahan secara perlahan-lahan sambil berpegangan dengan ekornya yang kuat. Giginya yang besar digunakan selain untuk berburu, juga untuk mempertahankan dirinya dari ancaman yang berbahaya.

Meskipun termasuk dalam ordo karnivora, binturong merupakan satwa omninvora yang memakan baik hewan lain maupun tumbuh-tumbuhan. Buah beringin atau ficus merupakan makanan utama satwa besar ini, disamping beberapa jenis buah-buahan lain yang bisa ditemukan di hutan. Selain itu, binturong juga berburu berbagai hewan-hewan kecil seperti burung dan telurnya, hewan-hewan pengerat, reptil kecil, dan lain-lain. Hal ini membuat binturong bisa bertahan hidup di hutan, dengan berbagai pilihan makanan yang bisa ia pilih sesuka hati.

Binturong Bukan Peliharaan

Saat ini, binturong termasuk dalam status vulnurable dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Hal ini disebabkan oleh berbagai macam ancaman yang dihadapi satwa unik ini, khususnya perburuan dan kerusakan habitat. Hewan ini diburu karena dianggap organ tubuhnya dapat menjadi ramuan obat yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Beberapa orang juga memburu Binturong untuk dijadikan peliharaan eksotis, meskipun sebenarnya hal ini dilarang oleh hukum. Selain itu, penebangan hutan dan pembukaan lahan juga semakin mempersempit wilayah hidupnya, membuat hewan ini semakin terancam.

Baca pula: CITES – Standar Legalitas Perdagangan Satwa Internasional

Akan sayang sekali jika satwa unik ini hilang dari muka bumi akibat kerakusan manusia yang tidak ada habisnya. Sudah menjadi tugas kita untuk melindungi keberadaan binturong di alam sebagai salah satu harta warisan dari nenek moyang untuk anak cucu kita. Mari lindungi si kucing-beruang ini, dan berhenti membeli satwa liar untuk dijadikan hewan peliharaan.

 

Macan Tutul – Predator Tersukses di Dunia

Macan Tutul – Predator Tersukses di Dunia

Macan Tutul – Kucing Besar Pemanjat

jaguar dari amerika selatan mirip dengan macan tutul, namun sedikit lebih berotot dengan pola roseta yang lebih jarang

Siapa sih yang tidak kenal dengan predator yang satu ini? Kucing besar bernama latin Panthera pardus ini memang terkenal dengan pola tutul di bulunya yang cantik. Selain kecantikannya, macan tutul juga dikenal dengan keahliannya dalam memanjat pohon, berbeda dengan kucing besar lain yang cenderung lebih suka berada di tanah. Namun, tahukah Anda bahwa macan tutul merupakan kucing liar dengan persebaran paling luas di dunia serta diakui sebagai salah satu predator paling sukses di muka bumi? Macan tutul atau yang dikenal sebagai leopard dalam bahasa inggris merupakan satu dari lima kucing besar yang ada di dunia yang tergabung dalam genus Panthera. Ciri khas dari kelompok ini adalah tengkorak yang besar, kemampuan untuk mengaum, serta ketidakmampuan untuk mendengkur (purring) seperti kucing pada umumnya. Dibandingkan dengan kucing besar lain seperti singa (P. leo), harimau (P. tigris) dan Jaguar (P. onca), macan tutul memiliki badan yang kecil, dengan kaki yang pendek, tengkorak yang besar, serta ekor yang panjang.

Baca pula: Binturong – Antara Musang, Kucing dan Beruang

macan tutul jawa hanya bisa ditemukan di pulau Jawa

Warna bulu macan tutul bervariasi dari kuning pucat hingga keemasan. Pola bulunya lebih tepat disebut sebagai roseta daripada tutul yang solid, berbentuk seperti lingkaran terbuka dengan warna kuning di tengahnya. Badannya penuh dengan otot yang kuat yang digunakan untuk memanjat pohon. Ekornya yang panjang digunakan untuk menjaga keseimbangan di atas kanopi pohon yang tinggi, membuatnya lebih ahli bermanuver di ketinggian dibandingkan kucing besar lain seperti harimau dan singa.

Macan Tutul, Macan Kumbang, dan Jaguar

Selain warna yang normal, beberapa populasi macan tutul juga memiliki variasi bulu yang berwarna hitam polos di seluruh tubuhnya, atau sering disebut sebagai macan kumbang. Variasi warna ini merupakan kelainan genetik yang disebut dengan melanisme, menyebabkan produksi pigmen hitam yang berlebihan dan membuatnya terlihat hitam polos meskipun sebenarnya masih terdapat pola tutul di badannya ketika dilihat dari dekat. Macan tutul berwarna hitam ini lebih umum ditemukan di habitat hutan yang lebat, karena membuatnya lebih mudah menyamar di kegelapan hutan untuk berburu mangsa.

Beberapa orang sering salah kaprah dan menyebut macan tutul berwarna hitam sebagai jaguar (Panthera onca). Jaguar memang mirip dengan macan tutul, dan beberapa populasi juga memiliki variasi warna hitam layaknya macan tutul. Perbedaan kedua jenis ini terletak pada bentuk tubuh jaguar yang lebih besar dan lebih berisi. Pola roseta pada jaguar juga lebih padat daripada macan tutul, dengan warna oranye terang di dalam pola tersebut. Wilayah persebarannya keduanya pun berbeda

macan tutul memiliki tubuh yang lebih kecil dan pola roseta yang lebih rapat dari jaguar

macan tutul bisa dijumpai di Asia dan Afrika, sementara jaguar hanya bisa ditemui di Amerika Selatan.

Habitat Macan Tutul Sang Predator Tersukses

Macan tutul memang memiliki wilayah persebaran yang sangat luas di dua benua: Afrika dan Asia. Habitatnya pun sangat beragam; mulai dari hutan musim di Siberia, hutan hujan tropis di Asia Tenggara, hingga ke daerah sub sahara di Afrika dan India. Tidak ada kucing liar lain yang bisa hidup di tipe habitat yang begitu beragam seperti macan tutul, membuatnya menjadi kucing paling sukses di muka bumi setelah kucing domestik dan anjing peliharaan.

Simak juga: Owa Jawa – Sang Pesinden yang terancam Punah

Kemampuan macan tutul untuk hidup di berbagai tipe habitat ini tentunya didukung oleh daya adaptasi yang sangat hebat. Macan tutul diketahui memiliki variasi mangsa yang sangat luas, mulai dari hewan kecil seperti tikus, ikan dan burung hingga rusa dan kerbau liar yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Hewan ini juga sering disebut sebagai pemangsa oportunis yang mampu memangsa apapun di sekitarnya, termasuk bangkai hewan yang sudah mati. Hal inilah yang membuat macan tutul dapat bertahan hidup di wilayah yang keras, termasuk di wilayah yang tidak bisa ditempati oleh kucing besar lainnya. Selain kemampuan berburu, kesuksesan macan tutul juga didukung oleh keahliannya dalam memanjat pohon. Badan macan tutul tergolong kecil namun kuat, dengan kaki yang pendek dan kepala yang besar, membuatnya dapat memanjat pohon sambil membawa mangsa berukuran besar.

Otot lehernya yang sangat kuat mampu menahan beban yang berat bahkan pernah ada catatan seekor macan tutul membawa seekor jerapah muda ke atas pohon di Afrika. Kemampuan memanjat ini membantu macan tutul untuk bersaing dengan predator lain seperti harimau, singa dan hyena yang tidak bisa memanjat pohon sebaik macan tutul. Mangsa berukuran besar bisa disimpan diatas pohon, mengurangi resiko kelaparan ketika populasi mangsa menurun. Terakhir, macan tutul juga diberkati dengan kemampuan berkamuflase yang luar biasa. Baik macan tutul normal maupun macan kumbang hitam dapat bersembunyi dengan baik di habitatnya, mempermudah proses berburu dan membantunya bersembunyi dari bahaya termasuk dari manusia. Kemampuan ini membuat macan tutul sulit untuk dideteksi, bahkan di wilayah yang cukup padat dengan manusia, tanpa ada satu orangpun yang mengetahuinya. Bisa jadi ada seekor macan tutul yang hidup di kebun Anda saat ini, namun Anda tidak mengetahuinya sama sekali. Hiii!

Konflik Macan Tutul dan Manusia

macan tutul terkenal akan kemampuan memanjatnya, yang merupakan salah satu faktor keberhasilannya menghuni berbagai habitat di dunia

Meskipun disebut sebagai predator puncak, macan tutul sangat jarang sekali menyerang manusia, kecuali ketika sedang terdesak. Hanya ada sedikit kasus dimana macan tutul menyerang manusia, dan lebih sedikit lagi manusia yang terbunuh dalam serangan tersebut. Macan tutul sendiri sangat pemalu dan lebih suka menjauhi daerah yang ramai oleh manusia, dan hanya ada segelintir kasus dimana macan tutul memasuki pedesaan untuk mencuri hewan ternak bukan memangsa manusia itu sendiri. Konflik antara macan tutul dan manusia ini sebagian besar terjadi akibat habitat macan tutul yang telah rusak. Perambahan hutan besar-besaran membuat macan tutul kehabisan mangsa dan tidak punya pilihan lain selain mencuri ternak manusia yang telah merusak habitatnya. Masyarakat yang marah seringkali memburu macan tutul ini baik untuk membalas dendam maupun untuk diambil kulitnya membuat populasi macan tutul turun drastis selama beberapa dekade terakhir. Hal ini membuat macan tutul dikategorikan sebagai hampir terancam punah (Near Threatened) oleh IUCN sedikit lebih baik dibandingkan harimau dan singa, namun tetap dapat punah dalam waktu dekat.

Ada juga: Kancil – Spesies Rusa Kecil yang makin Langka

Di Indonesia sendiri macan tutul hanya bisa dijumpai di pulau Jawa, diwakili oleh anak jenis endemik (P. pardus melas) yang tidak bisa ditemui di tempat lain di dunia. Persebarannya terpencar-pencar di beberapa fragmen hutan yang tersisa di pulau ini, mulai dari Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat hingga Taman Nasional Baluran di ujung timur. Beberapa konflik antara macan tutul dan manusia terjadi di Jawa Barat dan Jawa Tengah, dan seringkali macan tutul itu sendiri yang menjadi korban dan semakin menekan jumlah populasinya mendekati kepunahan. Selain perburuan, kerusakan habitat juga menjadi musuh besar bagi macan tutul, khususnya di pulau Jawa yang padat dengan penduduk. Hal ini tentu disayangkan, mengingat macan tutul merupakan satwa kharismatik yang dilindungi undang-undang. Jangan sampai keserakahan manusia menghapuskan keberadaan macan tutul dari bumi pertiwi, biarkan sang pemburu dapat hidup dan lestari.

 

8 Fakta Unik tentang Burung Merak

8 Fakta Unik tentang Burung Merak

Burung Merak

Merak Congo

Siapa sih yang tidak kenal merak? Burung yang satu ini terkenal akan kecantikan warna bulunya yang elegan, sekaligus

mistis, hingga mampu membuat siapapun terpana. Warna bulunya yang cerah menarik perhatian setiap mata yang meliriknya. Ekornya yang sangat panjang berhiaskan pola mata yang indah selalu menarik untuk dilihat, apalagi ketika sedang dikembangkan penuh di atas kepalanya. Sungguh suatu ciptaan Tuhan yang luar biasa.

 

Baca pula: Lumba-Lumba Humpback

Nah, tahukah Anda bahwa merak berasal dari famili yang sama dengan ayam? Selain itu, tahukah Anda bahwa ada tiga jenis merak di dunia? Lalu, apakah Anda pernah mendengar mitos tentang burung merak yang selalu mengikuti jejak harimau? Ya, kali ini kami akan mengulas beberapa fakta menarik dari burung yang luar biasa ini.

1. Terdapat 3 jenis burung merak di dunia

Kata merak atau dalam bahasa inggris disebut dengan peafowl atau peacock merujuk pada 3 jenis burung berukuran besar dari 2 genus, yaitu Pavo dan Afropavo. Genus Pavo terdiri atas 2 spesies merak, yaitu Merak Hijau (Pavo musticus) yang tersebar di seluruh dataran Indochina, Semenanjung Malaya dan kedua ujung timur Pulau Jawa, serta Merak Biru (Pavo cristatus) yang hanya ada di India dan Srilanka. Sementara itu, genus Afropavo hanya terdiri dari satu spesies, yaitu Merak Kongo (Afropavo congoensis) yang merupakan endemik negara Kongo, Afrika Barat.

2. Merak merupakan saudara dekat ayam domestik

Ketiga jenis merak termasuk dalam famili Galliformes, yang berisi berbagai unggas penghuni tanah termasuk ayam, kalkun, kuau, sempidan, dan lain-lain. Ciri khas dari famili ini adalah kebiasaannya mencari makan di tanah, kaki yang kuat untuk mengais lantai hutan, pola terbang yang berat dan jarang, serta suara yang khas pada masing-masing spesies. Semua ciri ini dapat ditemukan di tubuh merak, sehingga burung ini dimasukan dalam famili yang sama dengan ayam domestik.

3. Merak Kongo adalah satu-satunya merak di Afrika

Merak Kongo baru dijumpai di awal abad ke-19 dan dideskripsikan sebagai merak jenis baru dari genus yang berbeda. Tidak seperti kedua saudaranya yang berada di Asia, merak Kongo tidak memiliki ekor yang memanjang, baik jantan dan betina, sehingga dianggap sebagai bentuk primitif dari burung merak di masa lampau. Ciri merak modern yang masih melekat di burung ini adalah pola mata (ocelli) di ekornya yang kehijauan, muka yang tidak tertutup bulu, serta warna biru gelap yang indah di bagian leher hingga dada bagian bawah.

4. Perbedaan merak hijau dan merak biru

Perbedaan Merak Hijau dan Merak Biru

Sekilas keduanya memang tampak mirip, namun sebenarnya sangat berbeda baik dari segi wilayah persebaran maupun segi morfologisnya. Merak biru atau merak India jantan memiliki bulu biru gelap yang mendominasi leher hingga dada bagian bawah dan punggung hitam bergaris putih tebal, sementara betinanya berwarna coklat dengan sedikit aksen hijau di leher dan dada. Sementara itu, merak hijau jantan dan betina sama-sama memiliki bulu hijau tembaga berpola sisik di leher hingga dada, dengan punggung coklat bergaris samar, serta jambul yang lebih mencolok daripada merak biru.

5. Merak putih adalah merak biru dengan kelainan genetis

Anda mungkin sering melihat merak berwarna putih di kebun binatang. Sebenarnya merak putih bukanlah jenis merak yang berbeda, melainkan merak biru yang memiliki kelainan genetis. Kelainan gen ini bisa leukisme (terjadi karena pigmen tubuh sangat sedikit sehingga berwarna lebih pucat dari normal) atau albinisme (pigmen tubuh hilang sama sekali, ditandai dengan warna merah di mata. Di alam jarang terdapat merak yang benar-benar berwarna putih, dan merak putih di kebun binatang merupakan hasil perkawinan selektif yang ketat untuk menghasilkan pola warna yang unik.

6. Merak dalam karya seni manusia

Karena kharismanya yang unik, burung ini selalu abadi dalam berbagai karya seni di seluruh dunia. Gambar-gambar merak bisa kita jumpai di dalam porselain Tiongkok, topeng Reog Ponorogo, hingga berbagai karya lukis klasik di masa Renaisans Eropa. Di India, burung ini dipercaya sebagai tunggangan Ganesha, dewa kemakmuran dan ilmu pengetahuan di mitologi Hindu. Salah seorang sastrawan genius Indonesia, W.S. Rendra pun disebut sebagai sang buruk merak karena keanggunannya dalam merangkai kata, persis seperti keanggunan merak di tengah hutan.

7. Bulu merak membuatnya sering diburu oleh manusia

Seperti hewan eksotik lain, kecantikan burung merak justru menjadi kelemahan utamanya. Bulunya yang cantik membuat banyak orang memburunya untuk dijadikan hiasan, ornamen seni, hewan peliharaan hingga ritual-ritual tertentu. Misalnya saja di Jawa Timur, bulu merak digunakan sebagai hiasan topeng Reog Ponorogo, yang tentunya membutuhkan seekor merak untuk diambil bulunya. Hal ini sangat miris, mengingat populasi burung ini menjadi semakin langka akibat perburuan dan perusakan habitat.

8. Merak hijau adalah hewan langka yang dilindungi

Berbeda dengan saudara dekatnya dari India yang umum dijumpai di habitatnya, merak hijau merupakan burung langka yang sudah sulit ditemui di sebagian besar wilayah persebarannya. Burung ini termasuk dalam kategori terancam punah (Edangered) menurut IUCN karena populasi yang menurun secara cepat dan hilangnya spesies ini disebagian besar habitatnya di masa lampau. Keterancaman ini terjadi akibat berbagai hal, seperti perburuan, perubahan habitat, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri, merak hijau hanya bisa ditemukan di beberapa titik yang terisolasi satu sama lain. Salah satu tempat yang umum dihuni oleh burung ini diantaranya adalah Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat dan Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo serta Taman Nasional Meru Betiri di ujung timur. Beberapa fragmen populasi mungkin tersebar di beberapa wilayah terpencil di Jawa Tengah, seperti di Ungaran, Semarang, namun mereka sangat sulit untuk dijumpai.

Nah begitulah sedikit cerita tentang burung merak yang sangat cantik dan menginspirasi banyak orang. Semoga burung ini tetap lestari, sehingga generasi selanjutnya masih bisa melihat keindahan bulunya yang legendaris.

 

Owa – Primata Yang Hobi Menyanyi

Owa – Primata Yang Hobi Menyanyi

Owa Indonesia

siamang dengan kantung suara
siamang dengan kantung suara

Jika Anda berkunjung ke kebun binatang di pagi hari, Anda pasti akan mendengar berbagai macam suara binatang yang bernyanyi bersahut-sahutan. Salah satu nyanyian paling mencolok datang dari area primata, dihuni oleh puluhan monyet dan kera yang sedang bersemangat di pagi hari. Di sinilah Anda akan menemukan kera berlengan panjang yang sibuk bergelayutan dari satu dahan ke dahan lain, berteriak sesuka hati, dan bernyanyi dengan suara keras yang bisa didengar hingga jarak 1 kilometer. Kera-kera berlengan panjang ini adalah Owa, para penyanyi hutan dari hutan hujan Asia Tenggara.

Tidak banyak orang yang mengenal Owa, kelompok primata yang termasuk dalam suku hylobatidae. Kelompok kera berlengan panjang ini disebut gibbon dalam bahasa inggris, dan hanya bisa ditemukan di hutan hujan tropis di seluruh daratan Asia Tenggara; termasuk Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Kelompok primata ini juga sering disebut lesser ape atau kera kecil, merujuk pada perawakannya yang tidak berekor (ciri khas kera) dan ukurannya yang lebih kecil dari kera-kera lain di dunia (seperti Orangutan, Simpanse dan Gorila).

Jenis Owa

Keluarga hylobatidae sendiri terdiri atas setidaknya 17 jenis owa dari 4 genus yang berbeda, beberapa bersifat endemik dan hanya bisa ditemukan di daerah atau pulau tertentu. Di Indonesia terdapat setidaknya 7 jenis Owa yang tersebar di beberapa hutan hujan yang tersisa di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Owa Jawa (Hylobates moloch), misalnya, hanya bisa ditemukan di beberapa hutan yang tersisa di Jawa Barat hingga Jawa Tengah; sementara Siamang Kerdil atau Bilou (Hylobates klossi) hanya ditemukan di Mentawai. Siamang (Symphalangus syndactyus) merupakan anggota terbesar dari keluarga ini, dan tersebar di Sumatra dan beberapa daerah di Semenanjung Malaya.

Owa merupakan hewan arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktunya di atas kanopi pohon yang tinggi, dan jarang sekali turun ke tanah kecuali sedang terdesak. Tidak seperti hewan arboreal lain yang melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, Owa memiliki teknik khusus yang disebut dengan branchiating; berayun-ayun dari dahan ke dahan dengan tangannya yang panjang. Kemampuan berayun ini didukung oleh beberapa fitur spesial di tubuhnya, seperti bahu yang fleksibel, jari yang panjang, serta sendi pergelangan tangan yang dapat terlepas sementara waktu untuk mendukung manuvernya di pepohonan. Ketiga hal ini membuat Owa dinobatkan sebagai hewan arboreal tercepat di dunia, dengan kecepatan maksimal hingga 55 km/jam!

Baca: Tentang kukang

Tidak seperti primata lain, Owa merupakan hewan monogami yang setia pada pasangannya. Mereka hidup berpasangan atau dalam kelompok keluarga kecil, terdiri dari 2 ekor induk dan 1-2 ekor anak yang akan pergi mencari daerah sendiri setelah dewasa. Mereka tinggal dalam satu daerah teretori yang cukup luas, mencakup puluhan hektar hutan dengan berbagai sumber makanan yang tersedia di dalamnya. Satwa ini cukup sensitif dengan kehadiran Owa asing di daerah kekuasannya, dan akan bertindak agresif pada setiap penyusup yang datang. Untuk menandai daerah kekuasaan masing-masing.

Ciri Khas Owa

hylobates albibarbis ungko branchiating

Ciri lain dari Owa adalah suaranya yang unik dan keras yang digunakan untuk menandai daerah kekuasaan mereka. Beberapa jenis owa memiliki kantung tenggorokan yang dapat membesar dan berfungsi sebagai ruang resonansi untuk menghasilkan suara yang keras dengan nada yang tepat bahkan bisa terdengar hingga jarak 1 km. Satwa ini memiliki berbagai tipe suara yang unik, mulai dari lengkingan, dengungan, hingga teriakan keras dan bersemangat. Setiap jenis owa memiliki lagu dan genre sendiri, yang merupakan perpaduan yang khas dari masing-masing jenis suara tersebut. Misalnya saja, Siamang memiliki suara yang keras dan mengentak seperti penyanyi rock, sementara Owa Jawa memiliki lagu yang lebih lembut seperti jazz atau campursari. Unik sekali ya?

Sayangnya, keberadaan satwa cantik ini terganggu akibat ulah beberapa manusia yang tidak bertanggung jawab. Beberapa jenis Owa terancam karena kehilangan habitat hidupnya yang terus dirambah untuk dijadikan kebun sawit, perumahan, pertambangan, dan penebangan liar. Tingkahnya yang unik juga membuat Owa sering diburu untuk dijadikan hewan peliharaan, membuat harganya cukup mahal di pasaran. Hal ini membuat beberapa jenis Owa digolongkan dalam daftar spesies terancam punah (edangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Di Indonesia, seluruh jenis Owa dilindungi oleh undang-undang no 5 tahun 1990 dan dilarang untuk dipelihara, diburu, maupun diperjual-belikan atas alasan apapun, dengan hukuman maksimal 5 tahun penjara bagi siapapun yang melanggarnya.

Sebagai satwa khas Asia Tenggara, sudah sepantasnya kita mengenal dan melindungi keberadaan dan habitat para penyanyi hutan ini. Atas alasan tersebut, selama beberapa minggu ke depan kami akan menyajikan beberapa artikel mengenai jenis-jenis owa dengan suara unik yang ada di Indonesia, mulai dari Siamang si penyanyi rock dan seriosa, Owa jawa yang beraliran jazz, siamang kerdil yang blues, dan lain-lain. Semoga Anda bisa menikmati artikel tersebut, dan semoga kita bisa mengenal lebih dekat satwa unik yang satu ini. Salam!

Simak pula: Penetasan Tukik – Penyelamatan Penyu Hijau