Simak Kelebihan Beternak Ayam Pedaging vs Ayam Petelur

Simak Kelebihan Beternak Ayam Pedaging vs Ayam Petelur

Beda Ayam Pedaging dan Ayam Petelur

Setelah para poultry lovers mengetahui sejarah bangsa-bangsa unggas, termasuk mengetahui munculnya istilah ayam broiler. Sebenarnya istilah broiler masih secara umum ditunjukan untuk menjabarkan ayam yang ditujukan untuk produksi daging. Didunia peternakan ayam ini disebut ayam niaga pedaging yaitu ayam yang memiliki performa khusus yang mudah dikembangbiakan melalui pemeliharaan dalam kurun waktu 30-40 hari untuk dikonsumsi, sehingga ayam ini sangat menguntungkan apabila dibudidayakan sebagai penghasil daging (Siallagan, 2015).

Ayam Pedaging

Namun dimasyarakat terkenal dengan sebutan ayam bibit putih. Berdasarkan perkembangan dunia peternakan dewasa ini, setiap negara memiliki strain ayam niaga pedaging yang sudah lolos melalui kajian laboratorium bidang pembibitan. Strain ayam adalah istilah jenis/grup yang memiliki keunggulan-keunggulan spesifik sehingga dapat dipasarkan. Sebagai contoh strain ayam pedaging yang biasanya dibudidayakan di Indonesia antara lain CP 707, Starbro, dan Hybro.

Baca juga: Trik Meningkatkan Bobot Ayam Pedaging dengan Minyak Kelapa

Secara fisik strain-strain tersebut memiliki kualifikasi yang hampir sama, yaitu badan yang tegap, bulu berwarna putih, jengger dan pial berwarna merah serta warna bulu saat Day Old Chick (DOC) yaitu berwarna kuning cerah. Perbedaan terletak pada performa setiap strain dalam pencapaian bobot badan dalam setiap pemeliharaan.

Sebagai ilustrasi dalam pencapaian bobot panen ada tiga tipe pencapaian bobot badan (faktor manajemen di level normal/sama).

Pertama, pencapaian bobot minggu pertama dan kedua di level normal, bobot badan kurang lebih sesuai tabel pakan (setiap produsen pakan komplit memiliki standar pakan dan bobot mingguan) dan di minggu ketiga dan ke empat akan melesat tinggi/naik. Pada kondisi ini secara ilmu nutrisi, pencernaan ayam sudah memiliki pondasi nutrisi untuk frame tubuh, sehingga minggu-minggu selanjutnya sudah terfokus untuk pembentukan daging.

Kedua, tipe sedang mengikuti kenaikan bobot ayam sesuai tabel pakan sampai umur panen.

Ketiga, tipe negatif yaitu minggu pertama dan minggu kedua bobot tercapai namun pada minggu ketiga dan minggu keempat mengalami masa stagnan (stabil mengikuti tabel pakan) bahkan mengalami penurunan bobot. Perbedaan pencapaian tersebut dipengaruhi oleh keputusan setiap peternak dalam memilih manajemen pemeliharaan, termasuk memilih strain yang cocok dengan kondisi manajemen perkandangan.

Ayam Petelur

ayam petelur
ayam petelur

Beralih ke saudara dari ayam niaga pedaging, ada ayam niaga petelur yaitu ayam yang memiliki performa spesifik yang mudah dikembangkan melalu pemeliharaan terpadu untuk menghasilkan telur yang berkualitas. Ayam ini dikenal dimasyarakat sebagai ayam merah.

Sebagai contoh strain ayam petelur yang biasanya dibudidayakan di Indonesia antara lain tipe ringan : Leghorn dan tipe medium : Hysex dan Ross.

Menurut Rasyaf (1989), menerangkan bahwa Leghorns adalah penghasil telur yang sangat baik yang berwarna putih dengan rasio konversi pakan ke telur unggul sekitar 125 gram/dosin telur dengan kebutuhan air minum ad libitum yaitu dimana cara pemeliharaan ayam dengan pemberian air minum sesering mungkin atau tak terbatas. Sedangkan tipe medium memiliki rasio konversi pakan ke telur unggul sekitar 190 gram/dosin telur dengan kebutuhan air minum ad libitum.

Simak juga: Manajemen Brooding dalam Cara Ternak Ayam Broiler

Oleh karena itu, ayam niaga petelur tipe medium memiliki bobot tubuh yang lebih padat dan bobot yang lebih berat, serta tipe ini dapat digunakan sebagai tipe dwiguna. Menurut pengembangannya didunia peternakan, ayam tipe ringan maupun tipe medium memerlukan pemeliharaan yang relatif sama.

Setelah mengetahui perbedaannya, ada satu perihal penting dalam pengambilan keputusan untuk para poultry lovers yang hendak memelihara kedua tipe dari ayam niaga pedaging dan ayam niaga petelur yaitu pemilihan bibit unggul. Tahapan paling mudah dalam pemilihan bibit unggul dapat dipelajari dari Breeding farm dan Hatchery asal dari DOC tersebut, termasuk system pemeliharaan yang digunakan dan Biosecurity.

Oleh karena itu, setiap produsen ayam bibit memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing dan poultry lovers tentunya sudah mengetahui kebutuhan manajemen perkandangan, seperti kecocokan iklim kandang dengan kondisi DOC.

 

Kontributor : Rayudika APP, S. Pt.

 

Manajemen Brooding Dalam Cara Ternak Ayam Broiler

Manajemen Brooding Dalam Cara Ternak Ayam Broiler

Cara Ternak Ayam Broiler

PecintaSatwa.com – Hari-hari pertama kehidupan ayam broiler merupakan fase yang sangat kritis. Periode ini tidak hanya mempengaruhi kemampuan hidup ayam tersebut, namun juga kualitas produksi yang dapat dicapainya sebagai penghasil daging ayam konsumsi. Oleh karena itu para peternak dan pengusaha peternakan ayam broiler harus memahami manajemen brooding yang baik dalam Cara Ternak Ayam Broiler, sebagai awal untuk menghasilkan produk berkualitas.

brooding open house
brooding open house

48 jam awal hidupnya, tubuh day old chick (DOC) akan memaksimalkan fungsi imunitasnya, kinerja kelenjar tiroid dan saluran pencernaannya. Imunitas sebagai tameng yang penting untuk melawan agen infeksi, sedangkan kelenjar tiroid berperan penting menghasilkan hormon pertumbuhan yang tidak hanya berguna untuk meningkatkan massa otot, tapi juga untuk perkembangan tulang dan sel syaraf, sintesa protein, dan mentoleransi stres. Saluran pencernaan merupakan organ vital absrobsi nutrisi dalam tubuh untuk hidup dan berproduksi. Persiapan ini sebenarnya telah dimulai saat perkembangan janin dalam telur dan disempurnakan setelah menetas dengan memanfaatkan energi dari kuning telur, dan pakan/ransum periode starter.

Simak pula: 7 Hal Penting Keberhasilan Biosecurity Area Peternakan

Manajemen Brooding Ayam Broiler

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Cara Ternak Ayam Broiler yaitu manajemen Brooding pada 48 jam pertama adalah sebagai berikut:

  1. Suhu. Suhu kandang yang disarankan:
Umur Ayam Close House Open house
Minggu ke-1 29,4 – 31,0oC 32,2 oC
Minggu ke-2 26,7 – 28,3 oC 29,4 oC
Minggu ke-3 23,9 – 25,5 oC 26,7 oC
Minggu ke-4 23,9 oC 26,7 oC
Minggu ke-5 21,1 oC 23,9 oC
Minggu ke-6 21,1 oC 21,1 oC

Suhu kandang yang terlalu panas dapat menyebabkan dehidrasi pada anak ayam, suhu tubuhnya meningkat, dan tingkat konsumsinya menurun. Sedangkan suhu yang terlalu dingin dalam kandang dapat mengganggu perkembangan saluran pencernaan dan kelenjar tiroid.

  1. Kualitas Udara. Ventilasi dan aliran udara harus dipastikan berfungsi dengan baik, dapat digunakan exhoused fan atau blower apabila diperlukan untuk mengalirkan udara, sebagaimana pada kandang close house. Hal tersebut penting karena kotoran, sisa pakan, dan litter yang basah akan mengalami proses pembusukan yang manghasilkan gas amonia. Jika gas tersebut terperangkap dalam kandang, sulit mengalir keluar, akan menimbulkan masalah pernafasan bagi ayam-ayam yang dipelihara, akibatnya keseragaman bobot ayam akan sangat bervariasi, terjadi penurunan produksi, dan bahkan peningkatan angka mortalitas. Selain itu, ventilasi juga berfungs untuk menyeimbangkan kadar oksigen dalam kandang dan mengalirkan karbodioksida.
  1. Kelembaban. Usahakan kelembaban stabil dikisaran 60-70% untuk 3 minggu pertama, kemudian berlanjut 40-60% untuk 4 minggu berikutnya.
  1. Satu feeder tray sebaiknya digunakan tidak lebih untuk 80 ayam, tidak diletakkan di bawah pemanas. Setelah 5-6 hari baru gunakan alas hanging feeder. Tinggi tempat pakan disesuaikan dengan tinggi tembolok ayam. Kandungan ransum ayam periode starter sebaikanya mengandung energi sebesar EM 3000-3200 Kkal/kg, Protein 22-23%, Serat Kasar <7%, Lemak <8%, Ca 1% dan P 0,45%.

Baca: Trik Meningkatkan Bobot Ayam Pedaging dengan Minyak Kelapa

  1. Air. Suhu air sebaiknya sekitar 18 ΓÇô 24oC, dan tersedia kapanpun, serta sebanyak apapun (adlibitum). Pada 4-6 jam awal kedatangan DOC ke kandang, campurkan air dengan susu skim 3% untuk menstimulasi pertumbuhan vili-vili pada mukosa usus.
  1. Pencahayaan. Salah satu contoh program pencahayaan yang telah menghasilkan kualitas hidup yang baik bagi ayam broiler:
Umur Waktu Gelap Waktu Terang Intensitas Cahaya (Lux)
1-3 hari 0-1 jam 23-24 jam 30 – 40
4-5 hari 12 jam 12 jam 5 – 10
16-22 hari 8 jam 16 jam 5 – 10
23 hari – panen 1-6 jam 18-23 jam 5 – 10

 

Trik Meningkatkan Bobot Ayam Pedaging dengan Minyak Kelapa

Trik Meningkatkan Bobot Ayam Pedaging dengan Minyak Kelapa

Cara Meningkatkan Bobot Ayam Pedaging

PecintaSatwa.com – Berat hidup, persentase karkas, dan efisiensi pakan merupakan tolak ukur keberhasilan industri peternakan ayam pedaging. Tinggi rendahnya keuntungan yang didapat perusahaan dan peternak mitra tergantung pada ketiga komponen tersebut. Semakin tinggi berat hidup dan persentase karkas ayam masa panen, maka semakin tinggi pula laba yang dihasilkan, terlebih jika pakan yang dikonsumsi dapat ditekan seminimal mungkin dalam artian memiliki konversi pakan yang tinggi, tentunya berlipat ganda profit yang didapat karena semakin efisien penggunaan pakan.

Simak: Tips Pengaturan Pakan dan Minum yang Tepat pada Peternakan Ayam Broiler

70% biaya operasional peternakan ayam pedaging digunakan untuk pakan. Peningkatan keuntungan bisa diusahakan dengan menekan pembiayaan pakan dan memaksimalkan produksi yang ditunjukkan dengan persentase karkas. Banyak studi dilakukan para peneliti universitas dan R&D perusahan ayam broiler untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memaksimalkan hasil panenan, salah satunya adalah dengan suplementasi jenis lemak tertentu dalam pakan, minyak kelapa salah satunya.

Ransum Ayam Pedaging

Penambahan minyak kelapa dalam ransum ayam pedaging dapat meningkatkan palatabilitas (nafsu makan), dan mengurangi debu. Dari sisi produksi pun minyak kelapa dapat meringankan kerja mesin pembuat pellet. Minyak kelapa berfungsi untuk mempermudah penyerapan vitamin A, D, E, K, karoten dan kalsium di dalam saluran pencernaan, juga memenuhi kebutuhan asam lemak esensial serta meningkatkan efisiensi penggunaan energi dalam tubuh ayam.

Suplementasi 2-6% minyak jagung pada pakan ayam broiler dilaporkan dapat meningkatkan bobot hidup ayam. Pakan tersebut memiliki kandungan energi yang sangat tinggi, melebihi yang dibutuhkan oleh tubuhnya, ditambah dengan kadar protein pakan yang dibuat sedikit dibawah ambang menjadikan kelebihan energi akan dikonversi menjadi lemak tubuh.

Baca pula: Tips Pembersihan Kandang Unggas

Penambahan Minyak Kelapa pada Pakan Ayam

Heni Setyo Prayogi (2007), peneliti dari Universitas Brawijaya membuktikan bahwa penambahan minyak kelapa dalam pakan dapat meningkatkan berat hidup, persentase karkas dan konversi pakan. Dalam penelitiannya, digunakan 100 ekor ayam broiler jantan jenis Lohman berumur 3 minggu. Sampel tersebut dibagi menjadi 4 kelompok, 1 kelompok kontrol tanpa perlakuan dan 3 kelompok perlakuan dengan suplementasi minyak kelapa berturut turut sebesar 1%, 2%, dan 3%, seluruh kelompok dipelihara selama 4 minggu.

Setelah dilakukan pengamatan dan evaluasi, dapat disimpulkan bahwa teknik pakan tinggi energi dengan suplementasi minyak kelapa dalam pakan ayam broiler sebanyak 3% dapat meningkatkan bobot hidup sebanyak 8,1%, berat karkas 6,7% dan konversi pakan 12,5%, sedangkan suplementasi minyak kelapa 1% dan 2% menghasilkan peningkatan bobot hidup, berat karkas dan konversi pakan dibawah kelompok 3%

Keuntungan yang didapat dengan metode penambahan minyak kelapa dalam pakan sangat relativ, tergantung pada seberapa besar skala industri peternakan ayam pedaging yang dioperasikan dan harga minyak kelapa serta ketersediaannya di lapangan. Skala industri dengan ratusan ribu populasi, kemungkinan besar dapat menunjukkan keuntungan yang cukup besar dengan metode ini, dengan syarat biaya produksi tambahan untuk pengadaan minyak kelapa tidak lebih besar dari peningkatan pendapatan yang dihasilkan, dan juga dipertimbangkan potensi fluktuasi harga minyak kelapa sehubungan ketersediaannya di pasaran.

Baca: Cara Meningkatkan Produksi Telur Unggas

Eksplorasi fungsi bahan-bahan alam untuk meningkatkan produksi ternak sudah selayaknya terus digali, guna meningkatkan potensi peternakan negeri ini berbasis sumber daya lokal yang alami, aman dan mudah diterapkan.

 

Cara Meningkatkan Produksi Telur Unggas

Cara Meningkatkan Produksi Telur Unggas

Tips Memaksimalkan Produksi Telur Unggas

PecintaSatwa.com – Telur sudah menjadi makanan sehari-hari kita, sebagai salah satu sumber protein utama selain daging dan susu, karena itu industry peternakan ayam petelur sedemikan getol mengembangan bisnis hingga dapat mencapai hasil maksimal untuk memenuhi permintaan pasar yang tiada habisnya, salah satu jalan ditempuh adalah dengan mengembangkan teknologi pemeliharaan untuk meningkatkan performa produksi ayam, salah satunya dengan pengaturan sistem pencahayaan dalam pemeliharaan ayam untuk meningkatkan jumlah telur yang dihasilkan setiap harinya. Bagaimana caranya? (Simak: Beberapa Penyebab Produksi Telor Ayam Menurun)

Peran Cahaya dalam Meningkatkan Produksi Telur

Bagi bangsa unggas seperti ayam, cahaya memiliki beberapa peran penting, yaitu untuk fungsi penglihatan, sintesis vitamin D dan pelepasan hormon. Peran penting dalam mekanisme pelepasan hormon sudah terjadi sejak awal kehidupan unggas. Sebagaimana yang telah dilakukan para peternak yang memberikan lampu pada anak-anak ayam yang baru menetas (fase starter), selain berfungsi sebagai penghangat, cahaya lampu tersebut dapat memicu keluarnya hormon pertumbuhan pada anak ayam sehingga ia dapat mengkonsumsi pakan lebih banyak dengan konversi maksimal sehingga tumbuh pesat. Di masa-masa pertumbuhan berikutnya (fase grower), peran cahaya lebih khusus lagi, selain memicu hormon-hormon pertumbuhan, cahaya juga merangsang keluarnya hormon-hormon reproduksi yang dapat mempercepat atau mencegah tertundanya dewasa kelamin, sehingga unggas dapat segera menghasilkan telur-telur yang berkualitas. Selanjutnya bagaimana bisa penambahan cahaya dapat meningkatkan produksi telur unggas dibandingkan dengan unggas yang hanya mendapatkan cahaya matahari?

Perpanjangan waktu pencahayaan bagi unggas terus berlanjut hingga fase produksinya (layer). Unggas-unggas yang diberi pencahayaan matahari dan lampu tambahan atau lampu saja lebih dari 12 jam terbukti dapat meningkatkan produksi telurnya hingga 20-35% . Hal ini terjadi karena cahaya yang diterima oleh retina mata mempengaruhi otak unggas, tepatnya pada kelenjar pineal. Hormon melantonin yang dihasilkan oleh kelenjar pineal akan tertahan, sehingga kadarnya dalam plasma darah tidak berlebihan. Rendahnya kadar hormon melantonin dalam tubuh unggas merangsang hipotalamus untuk memproduksi hormon GnRH (Gonadotropin releasing hormon), hormon ini akan menstimulasi hipofisa anterior untuk meningkatkan produksi FSH (Follicle stimulating hormon) dan LH (Leutening hormon).

FSH dan LH merupakan hormon-hormon yang berpengaruh vital pada produksi telur. FSH akan  merangsang pematangan sel telur dalam indung telur, peningkatan hormon FSH dapat membuat bakal telur yang terbentuk semakin banyak, di samping itu tingginya jumlah sel telur yang matang juga meningkatkan produksi hormon estrogen dan progesterone yang juga andil peran penting dalam kinerja reproduksi.

Setelah FSH bekerja, selanjutanya giliran hormon LH yang beraksi. LH akan merangsang terjadinya ovulasi atau terlontarnya sel telur matang (oosit) dari indung telur ke saluran reproduksi bagian oviduk, uterus, hingga kloaka. Dalam saluran-saluran tersebut, oosit akan menyempurnakan wujudnya menjadi telur seutuhnya, seperti pertambahan komponen putih telur dan pembentukan kerabang / kulit telur. Setelah telur sempurna terbentuk dengan cangkang yang kuat, maka akan segera dikeluarakan melalui kloaka oleh unggas tersebut, proses ini lah yang disebut dengan bertelur. (Baca: Tips Pembersihan Kandang Unggas)

Secara alami, jika diperlihara dengan ventilasi pencahayaan yang baik, unggas di daerah tropis seperti Indonesia telah mendapatkan sekitar 12 jam cahaya matahari. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan, untuk memaksimalkan produksi telur unggas, lamanya pencahayaan dapat ditingkatkan hingga 16-17 jam, dengan rincian 12 jam cahaya matahari ditambah 4-5 jam pencahayaan lampu, atau dapat juga 16-17 jam penuh dengan cahaya lampu berintensitas 5 lux dan pakan dengan kadar protein kasar lebih dari 22,5%. Literature lain menyebutkan lamanya pencahayaan dapat ditingkatkan hingga 20 jam. Akan tetapi, lamanya cahaya yang diterima oleh unggas tidak disarankan hingga 24 jam, karena unggas membutuhkan waktu untuk beristirahat, apabila hal ini diabaikan, akan terjadi stress fisik yang berpengaruh besar pada produksi telur dan kesehatan unggas secara umum.

yuk kita panen telur…

 

Burung Puyuh Si “Manuk Londo”

Burung Puyuh Si “Manuk Londo”

Mengenal Burung Puyuh

PecintaSatwa.com – Namanya keren bukan?!, Manuk Londo. Tapi jangan salah, ini bukan bangsa burung dari negeri kincir angin. Manuk londo yang kita bahas disini merupakan penghasil telur kecil bertato yang rasanya gurih sekali, siapa lagi kalau bukan si kecil burung puyuh. (Baca: Jenis-jenis Burung Madu di Indonesia)

Di Jawa Timur, banyak dijumpai sentra peternakan burung puyuh seperti di kabupaten Trenggalek, Blitar, Tulungagung dan sekitarnya. Bersama dengan telur ayam dan telur bebek, telur puyuh selalu menjadi favorit masyarakat Indonesia, baik diolah sebagai camilan karena memang kecil-kecil- maupun sebagai menu makanan utama dalam keluarga. Sebagai sumber protein pun gizi telur puyuh bisa bersaing dengan telur ayam dan bebek.

Jenis-jenis Burung Puyuh di Dunia

Banyak jenis burung puyuh diseluruh penjuru dunia seperti Bob white quail, Colinus virgianus, blue breasted quail,turnix suciator, arborophila japonica, Rollus roul roul dan cortunix chinensis,akan tetapi yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia adalah burung puyuh Cortunix cortunix japonica, atau puyuh jepang. Burung kecil berkaki pendek ini mulai dikembang biakkan di Indonesia pada tahun 1979. Burung puyuh termasuk jenis burung produksi yang bisa terbang meski tidak terlalu tinggi dan lama. Sering kali burung puyuh dijadikan hewan coba penelitian untuk mempelajari suatu metode atau teknologi peningkatan produksi dan reproduksi bangsa unggas produksi. (Mengenal: Ayam Kate – Si Cebol nan Lucu)

Burung yang juga disebut gemak ini berwarna coklat bercak bercak, berbadan kecil bulat, dengan ekor pendek. Perkembangan tubuh burung puyuh relatif cepat, telur nya menetas setelah dierami selama 16-17 hari, 40-45 hari kemudian ia akan mulai menghasilkan telur. Tingkat produktivitasnya pun cukup tinggi. Apabila dipelihara dilingkungan yang ideal, dengan keadaan cuaca yang stabil, tidak pada masa pancarobah atau stress karena panas ekstrem atau hujan deras, populasi burung puyuh dapat berproduksi hingga 90%. Namun, apabila kondisi fisiknya tertekan keadaan lingkungan yang tidak stabil, produksi telurnya dapat menurun hingga 50-70%.

Setiap harinya per ekor burung puyuh dapat mengkonsumsi pakan sekitar 14-25g/hari. Setiap tahunnya ia dapat bertelur hingga 300 butir. Keberhasilan peternakan puyuh dapat dipengaruhi oleh faktor berikut: pembibitan (breeding), pakan (feeding) termasuk kadar nutrisi pakan, palatabilitas, kecernaan dan konversi pakan terhadap produksinya, dan terakhir adalah manajemen pemeliharaan.

Cara Budidaya Burung Puyuh

Seperti hal nya unggas produksi lainnya, budidaya burung puyuh biasanya dimulai dengan pemeliharaan DOQ (day old quail) / puyuh tetas sehari, atau dapat juga langsung memelihara burung puyuh siap bertelur dengan umur diatas 40 hari. Bibit puyuh / DOQ biasanya diperoleh dari peternak yang memang fokus menyediakan bibit puyuh. Dalam usaha tersebut, telur-telur fertil tidak dieramkan langsung pada induknya, namun digunakan sistem penetasan dengan mesin inkubator, mesin ini lebih menguntungkan karena dapat menghasilkan puyuh tetas yang lebih banyak sekali siklusnya. Proses penetasan dilakukan dengan suhu 37o– 40oC, dan ┬ákelembapan 55% selama 16-17 hari. Setelah sebelumnya telur difumigasi terlebih dahulu, dan di grading kualitasnya. Begitu menetas akan dilakukan sexing, seleksi jenis kelamin DOQ. Burung puyuh jantan akan dijual pada peternak dengan peruntukan daging konsumsi, sedangkan burung puyuh betina akan dijual sebagai bibit penghasil telur puyuh komersial. (Simak: Tips Pembersihan Kandang Unggas)

Pada masa awal pertumbuhannya (periode strater) burung puyuh membutuhkan pakan dengan kadar protein kasar minimal 24% dan energi 2900 kkal/kg, berlanjut ke periode grower dengan kandungan protein kasar sekitar 20% dan energi 2700 kkal/kg, dan pada fase layer burung puyuh membutuhkan pakan dengan protein kasar 22% dan energi 2900kkal/kg  untuk dapat berproduksi optimal di linkungan yang baik.

Lingkungan pemeliharaan yang ideal bagi burung puyuh sebaiknaya memiliki temperatur 20o-25oC dengan kelembapan 30-80%. Suhu kandang yang terlalu tinggi dapat membuat burung puyuh stress yang berimbas pada penurunan produksi telur, kerabang telur menjadi tipis serta mudah retak dan gangguan kesehatan, sedangkan kelembapan yang berlebihan merupakan kondisi ideal tumbuhnya bakteri yang dapat memperburuk keadaan hewan.

Sebagai hewan coba penelitian, burung puyuh tergolong hewan coba yang tidak mudah terpengaruh dengan berbagai perlakuan. Banyak penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan menggunakan suplementasi bahan-bahan tertentu, tidak menghasilkan perbedaan yang nyata, akan tetapi beberapa hal yang berpengaruh pada peningkatan produksi burung puyuh adalah dengan melakukan suplementasi minyak jagung dalam pakannya, selain itu juga dapat dilakukan metode perpanjangan masa pencahayaan.

Jika anda telaten, si kecil “Manuk Londo” ini dapat dijadikan patner yang menguntungkan untuk menggemukkan pundi-pundi rekening pribadi anda, selamat berternak!!!

 

Heboh! Benarkah Rabies Menyerang Ayam?

Heboh! Benarkah Rabies Menyerang Ayam?

Penyebab Rabies pada Ayam

PecintaSatwa.com – Jika sebelumnya ramai-ramai kasus rabies terjadi pada anjing dan manusia di Bali, kali ini di India ditemukan kasus rabies yang menyerang ayam. Sebagaimana yang dilaporkan oleh para peneliti, dan dipublikasikan oleh Julie Baby dkk. dalam jurnal ilmiah PLOS Neglected Tropical Disease, pada tanggal 22 Juli 2015

Rabies disebabkan virus genus Lissavirus, dalam family Rhabdoviridae. Virus tersebut mengakibatkan terjadinya radang otak fatal (encephalitis). Sebelumnya, diyakini bahwa rabies hanya menyerang golongan mamalia, tidak hanya anjing, kucing dan kera, bahkan di Indonesia pertama kali kasus rabies ditemukan pada seekor kuda (1884), kerbau (1889), kemudian seorang anak di Cirebon (1894). Kendati demikan, ternyata rabies juga rentan pada golongan hewan berdarah panas lainnya seperi unggas dan burung yang berada di daerah endemic dengan populasi anjing dalam jumlah besar. (Simak: 7 Hal Penting Keberhasilan Biosecurity Area Peternakan)

Penelitian Rabies pada Ayam

Para peneliti India ini mempelajari beberapa sampel ayam (Gallus domesticus) yang mati secara normal, dimana dilaporkan telah tergigit anjing 1 bulan yang lalu di bagian otot dadanya. Semula, ayam itu terlihat normal, diobati oleh pemiliknya dibagian lukanya, namun sebulan kemudian, kondisi ayamnya semakin memburuk, mulai lemah, menurun nafsu makannya dan mati. Saat di nekropsi (autopsi untuk hewan), tidak terdapat tanda-tanda lesi atau kerusakan organ dalam yang berarti, luka pada otot dadanya pun sudah sembuh. Bangkai ayam tersebut kemudian dibawa Rabies Diagnostic Laboratory – The Chief Disease Investigation Office – Departement of Animal Husbandry, Kerala-India, untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. (Baca: Tips Tekan Resiko Outbreak Avian Influenza saat musim hujan)

Setelah jaringan otak diperiksa lebih detail dengan metode Flourescent Antibody Test dilanjutkan dengan metode TagMan Real Time PCR, terdeteksi adanya nucleoprotein antigen virus rabies. Bahkan kode genetic yang didapat dari sampel tersebut memiliki kedekatan dengan kode genetic virus rabies yang berasal dari India, Srilanka dan Nepal.

Gejala Infeksi Rabies pada Ayam

Kasus rabies yang menyerang unggas memang belum umum, dan sangat jarang dilaporkan terjadi. Dalam kasus ini pun terdapat keunikan tersendiri, unggas yang digigit anjing tersebut masih dapat bertahan hidup hingga satu bulan tanpa menunjukkan gejala-gejala infeksi rabies yang khas, kecuali sebelum mati ayam tersebut tidak mau makan dan melemah. Luka bekas gigitan anjing juga dapat sembuh setelah diobati lokal oleh pemiliknya.

Hingga saat ini belum terdapat laporan tentang keganasan virus rabies yang menyerang unggas di India. Belum juga dapat dijawab apakah rabies tersebut dapat ditularkan oleh ayam sebagaimana anjing menularkannya, ataukah ayam hanya menjadi tempat transit virus rabies sementara waktu, apakah terjadi perkembang biakan dan berubahan struktur genetic virus rabies selama berada dalam otak ayam, dan apakah daging ayam tersebut tetap aman untuk dikonsumsi. Tentu dunia penasaran dengan fenomena ini dan bagaimana kelanjutannya, kita tunggu saja laporan berikutnya dari peneliti. Meski demikan tidak ada salahnya kita sebagai makhluk social yang hidup diantara manusia, hewan ternak, dan hewan peliharaan lebih hati-hati, waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini.

 

Ayam Kate – Si Cebol yang Lucu

Ayam Kate – Si Cebol yang Lucu

Memelihara Ayam Kate

PecintaSatwa.com – Diantara sekian banyak jenis ayam hias, bisa jadi ayam kate-lah yang paling banyak fans-nya! Apakah Anda sepakat dengan saya?

Bagaimana tidak, ayam kate memiliki bentuk yang unik dan menarik, suaranya juga bisa dibilang merdu. Karena bentuk fisiknya yang menarik inilah, apalagi jika ditambah ia bersuara merdu, maka ayam kate menjadi incaran banyak sekali pecinta ayam hias.

Meski kecil, si cebol ayam kate tidak minderan lho, lihat saja kalau ia sedang berjalan, jalannya itu terlihat penuh dengan percaya diri, malah kelihatan sombong!hehehe, ditambah kadang-kadang ia tidak segan untuk mengeluarkan suara lantangnya.

Jangan melihat ayam kate dengan sebelah mata ya, meski kecil namun ayam kate ini termasuk binatang mahal. Harganya per-ekornya biasanya berkisar setengah juta! Wow! Nilai jualnya bisa dilihat dari beberapa kriteria, antara lain warnanya, bobot yang ringan, bentuk leher menyerupai huruf S, kepala tertarik kebelakang, sayap menjuntai tegak lurus ke bawah, dan ekor pedang panjang serta berdiri tegak. ( Simak juga: Mengenal Penyakit Tetelo )

Beternak Ayam Kate

Beternak atau memelihara ayam kate tidak membutuhkan area yang luas, cukup di pekarangan rumah saja, atau di kebun belakang rumah. Tergantung sisa lahan di rumah Anda saja. Cara pemeliharaannya juga cukup mudah karena tidak perlu perlakuan-perlakuan khusus, jadi bisa dipelihara seperti layaknya Anda memelihara ayam kampung atau ayam rumahan lainnya. Meski begitu, karena harganya mahal jadi pemeliharaanya juga harus telaten yaa… jangan diumbar begitu saja ayamnya. Bahkan kalau perlu divaksin juga, supaya terhindar dari virus-virus penyakit yang mematikan seperti flu burung.

Nah, Anda juga harus lebih rajin menjaga kebersihan kandangnya. Kandang sebaiknya dibersihkan setiap hari, jangan lupa disemprot juga dengan desinfektan yang khusus buat semprot kandang dan tidak menyebabkan iritasi pada ayamnya.

Kandang juga harus dipastikan mendapat sinar matahari yang cukup, serta memiliki sirkulasi udara yang baik. Perlu disiapkan juga atap atau tutup kandang yang terbuat dari bahan yang kedap air untuk digunakan ketika hujan turun sewaktu-waktu.

Bagaimana mengawinkan ayam kate?

Mengawinkan ayam kate bisa dilakukan dengan cara memisahkan pasangan ayam kate sepasang-sepasang dalam satu tempat atau sangkar, supaya aktivitas kawin dapat dilakukan. Setelah itu ya… ditunggu saja! (Baca pula: Penyebab Produksi Telor Ayam Menurun)

Jika perkawinan berhasil maka induk betina akan bertelur kemudian mengeram serta menetas, nah, anakan ayam kate langsung dipisahkan ke satu wadah tersendiri dan di berikan suhu yang maksimal atau diberikan cahaya listrik yang 45 watt. Jaga agar suhunya tetap hangat.

Berdasarkan pengalaman para pembibit ayam kate, biasanya sepasang induk hanya bisa menghasilkan keturunan sepasang dan dua pasang paling banyak.

Anak ayam kate yang tadi sebaiknya dipelihara secara intensif di kandang, jangan diumbar di pekarangan. Meskipun si anak ayam kate lebih senang jalan-jalan atau berkeliaran, tahan saja di kandangnya. Atau buat kandang dengan ukuran yang lebih luas. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan si anak ayam kate. Soalnya kalau ia berkeliaran di luar kandangnya dan bercampur dengan ayam yang lain, ia bisa di-bully oleh ayam-ayam lain yang lebih besar ukurannya. Bisa diinjak-injak atau ditendang, dan bisa lebih berbahaya lagi jika ada predator macam musang atau anjing. Setidaknya sampai 1 atau 2 minggu, biarkan anak ayam kate satu sangkar dengan induknya, supaya ia bisa mendapatkan perawatan yang alami dan rasa aman.

Demikian kiranya yang dapat saya sampaikan tentang ayam kate disarikan dari berbagai sumber. Semoga menjadi informasi yang bermanfaat untuk Anda..

Kontributor: drh. M Arief E

 

Mengenal Penyakit Newcastle Disease (ND)

Mengenal Penyakit Newcastle Disease (ND)

Penyakit Newcastle Disease (ND) – Tetelo

ayam tetelo (gejala syaraf penyakit ND)

Sebenarnya penyakit ini sangat terkenal di dunia peternakan unggas, dengan sebutan tetelo. ND Merupakan salah satu strategis pada unggas, terutama peternakan ayam ras komersil, dan tidak jarang kemunculannya dikelirukan dengan penyakit Flu Burung (AI). Meskipun bernama Newcastle, yang juga merupakan nama sebuah kota di Inggris, penyakit ND ini ternyata asli dari Indonesia lho! Menurut sejarahnya, penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1926 di Indonesia oleh seorang bule yang bernama Kranevelt. Hanya saja, ketika ditemukan gejala penyakit yang sejenis juga terdeteksi di Inggris, peneliti di Inggris terlebih dahulu mempublikasikan nama penyakit ND dalam British Veterinary. hingga saat ini, penyakit ND telah menyebar secara luas ke berbagai wilayah di dunia. Penyakit ND disebabkan oleh virus RNA yaitu Avian Paramyxo Virus type 1, virus ini bersifat mengaglutinasikan sel-sel darah merah ayam. Sifat penyakitnya sangat menular. Penularan dari ayam ke ayam dapat terjadi via kotoran dan cairan dari saluran pernafasan, sedangkan penularan dari farm ke farm dapat terjadi melalui alat-alat yang terkontaminasi, orang, burung liar, atau angin. Virus penyebab ND mudah dibunuh dengan desinfektan.

Gejala Penyakit Newcastle Disease (Tetelo)

Gejala penyakit ND sangat bervariatif tergantung tingkat keganasan virus yang menyerangnya. Berdasarkan tingkat keganasannya, virus penyebab ND dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu: velogenic viscerotropic (tipe Asiatik), velogenic neurotropic (tipe Amerika), mesogenic, dan lentogenic. Gejala klinis yang jelas atau sering muncul diantaranya adalah gangguan saluran pernafasan (seperti cekrek atau ngorok, batuk, keluar lendir dari hidung), penurunan nafsu makan, feses khas berwarna hijau dan kadang disertai gumpalan putih, gejala kelainan syaraf terutama pada kaki, sayap, dan leher yang menjadikan leher terpelintir dan ayam berputar-putar, kemudian angka kematian tinggi antara 50% sampai 100%. Pada ayam layer / petelur yang sedang dalam masa produksi, dapat menurunkan produksi telur secara drastis hingga sampai 50%. Selain kuantitas, kualitas telur juga berubah. Kerabang telur berubah menjadi tidak normal (kasar, tipis, lembek, dan warna memudar hingga putih), kualitas putih telur menurun, begitu pula dengan daya tetasnya.

Baca: Tips Pembersihan Kandang Unggas

Jika dilakukan bedah bangkai pada ayam yang terinfeksi, maka akan ditemukan beberapa perubahan diantaranya pada saluran pernafasan ada peningkatan lendir atau eksudat, bisa juga sudah terjadi perdarahan, kantung udara keruh, dan sudah terjadi pneumonia pada paru-parunya. Perubahan yang khas dapat dilihat pada organ ventrikulus dan proventikulus, serta pada seka tonsilnya. Perhatikan perdarahan diantara ventrikulus dan proventikulus, atau perdarahan di puncak-puncak  kelenjar proventikulus. Perdarahan juga terjadi di seka tonsil. Sementara pada usus peradangan yang terjadi dapat berupa khataralis (eksudatif), haemorraghies (perdarahan), atau gabungan keduanya. Pada infeksi akut, perdarahan di usus ditemukan luas dan berbatas jelas. Pada ayam layer yang sedang dalam masa produksi, dapat ditemukan peradangan pada (calon) kuning telur, perdarahan, bentuk (calon) kuning telurnya menjadi tidak teratur, kadang-kadang sudah pecah di rongga perut.

Diagnosa Laboratorium Tetelo

vaksin ND

Diagnosa laboratorium sudah sewajarnya digunakan untuk meneguhkan diagnosa lapang. Diagnosa lab yang dapat dilakukan untuk menilai infeksi penyakit ND diantaranya tes titer antibody dengan HI test, uji ini yang paling mudah dan umum dilakukan. Selain itu dapat juga dengan menggunakan ELISA, Serum Neutralization Test, atau Fluorescent Antibody Test.

Diagnosa Banding Newcastle Disease

Diagnosa penyakit ND sering dikelirukan dengan beberapa penyakit pernafasan lainnya seperti IB, ILT, CRD, dan AI.

Kontrol Penyakit Newcastle Disease (tetelo)

Kontrol penyakit ND secara esensial tetap sama, yaitu dengan biosekuriti, penggunaan kombinasi vaksin ND live dan ND killed, serta program vaksinasi yang tepat.

 

 

Kontributor : Drh. Arief Ervana

 

Ancaman Avian Infuenza yang Menyerang Bebek

Ancaman Avian Infuenza yang Menyerang Bebek

Bebek Terkena Flu Burung

Bebek beresiko terkena flu burung

Akhir tahun 2012 dan sepanjang tahun 2013 hingga sekitar pertengahan tahun 2014 lalu, kita, khususnya para pelaku dunia perunggasan, dihebohkan dengan disiarkannya berita-berita kematian bebek dan atau itik-itik di berbagai daerah di Indonesia. Kasus kematian pada jenis unggas tersebut dikabarkan terjadi mendadak tanpa diawali dengan gejala klinis, dan tingkat kematiannya pun tinggi dalam satu populasi. Pada bulan September sampai dengan November 2012 dilaporkan terjadinya kematian yang cukup tinggi pada itik di daerah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sampai pada bulan Oktober 2013, perkembangan kasus kematian pada populasi itik telah dilaporkan dari 18 provinsi dengan total populasi itik yang mati sebesar 333.635 ekor.

Sejak pertama kali kasus ini merebak, berbagai pihak sudah menduga bahwa kematian yang tinggi pada populasi itik tersebut disebabkan oleh penyakit Avian Influenza(AI)/flu burung, meski ketika itu banyak juga yang meragukan karena selama ini itik dan jenis unggas air lainnya dikenal lebih tahan terhadap infeksi virus AI. Akhirnya pihak – pihak yang berkepentingan melakukan riset dan investigasi, untuk mengetahui dengan jelas apa penyebab dari penyakit infeksius yang menyebabkan kematian pada itik tersebut. Salah satu pihak yang melakukan riset dan investigasi ini adalah lembaga pemerintah terkait, yaitu Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates.

Virus Flu Burung pada Bebek

Hasil dari riset dan investigasi yang dilakukan oleh tim Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, seperti yang diungkapkan dalam Buletin Laboratorium Veteriner- Balai Besar Veteriner Wates Jogyakarta Ed. Oktober-Desember 2012, mengarah pada infeksi AI subtype H5N1. Lebih lanjut disebutkan juga bahwa berdasarkan hasil sekuensing, virus AI subtype H5N1 yang ditemukan bukan berasal dari garis keturunan H5N1 virus clade 2.1 yang telah endemis di Indonesia karena memiliki tingkat kekerabatan yang lebih tinggi terhadap virus-virus AI H5N1 dari clade 2.3.2.1. Berdasarkan analisis filogenetik, virus AI yang diisolasi dari kasus kematian pada itik tersebut digolongkan dalam clade 2.3.2.1. Berbagai pihak yang melakukan riset serupa, baik dari institusi pemerintah maupun swasta (perusahaan farmasi obat hewan) juga bermuara pada kesimpulan yang sama, yaitu ditemukannya virus AI H5N1 clade 2.3.2.1.

Wabah Flu Burung pada Bebek

Virus AI H5N1 clade 2.3.2.1 ini kemudian oleh masyarakat awam dikenal atau disebut sebagai AI bebek. Tidak seperti namanya, ternyata AI bebek ini juga kemudian diindikasikan menyerang ayam. Para peternak (atau pengusaha ternak?) ayam ras yang memiliki populasi diatas 20.000 ekor (sektor 3) dibuat khawatir dengan keberadaan dari AI bebek ini. Beberapa kasus kematian yang terjadi pada ayam ras, baik petelur maupun pedaging, pada saat itu hampir selalu dikaitkan dengan dugaan serangan AI bebek. Apalagi sepanjang tahun 2013 itu, isu yang beredar di antara para peternak adalah katanya AI bebek alias AI clade 2.3.2.1 ini lebih ganas daripada kelompok AI clade 2.1 yang telah terlebih dahulu endemis di Indonesia. Terus isu yang lain lagi, katanya vaksin AI yang ada selama ini karena menggunakan strain virus AI clade 2.1 tidak bisa digunakan lagi, harus diganti vaksin AI baru yang berisi virus AI clade 2.3.2.1. Isu-isu yang beredar saat itu tak pelak menimbulkan kepanikan, dan kebingungan para peternak (pengusaha ayam)!

Baca: Tips Membersihkan Kandang Unggas

Padahal, secara keilmuan istilah clade itu digunakan untuk kepentingan pemetaan saja, yang menunjukkan dimana posisi virus tersebut dalam keluarga besar virus AI yang digambarkan dalam sebuah pohon filogenetik (kalau dalam konteks manusia sama seperti pohon keluarga). Jadi istilah clade hubungannya sama ilmu epidemiologi, tidak ada hubungannya dengan keganasan atau sebutlah pathologi. Yang benar, baik clade 2.1 maupun clade 2.3.2.1 keduanya saama-sama ganas! Karena sama-sama High Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Hal ini sesuai juga dengan salah satu penelitian yang dilakukan di laboratorium Biosafety Level 3 dengan menggunakan metode Intravenous Pathogenicity Index (IVPI) untuk menguji patogenitas virus AI H5N1 clade 2.1.3 dan 2.3.2 pada ayam. Sebelumnya ayam ditantang dengan virus AI clade 2.1.3 dan 2.3.2. Hasilnya dilaporkan nilai patogenitas (pathogenicity index) kedua clade berada di atas angka 1,2. Menurut standar Office International des Epizooties (OIE) (2008), apabila pathogenicity index virus AI bernilai > 1,2 maka virus tersebut digolongkan dalam virus AI ganas atau HPAI.

Vaksin Avian Infuenza untuk Bebek

Kemudian, bagaimana yang terkait dengan katanya vaksin AI yang ada selama ini karena menggunakan strain virus AI clade 2.1 tidak bisa digunakan lagi, harus diganti vaksin AI baru yang berisi┬á virus AI clade 2.3.2.1? Terkait dengan hal tersebut, para peneliti dari Balai Besar Veteriner Bogor melakukan riset yang kemudian dipublikasikan di tahun 2014, sebuah publikasi yang berjudul “Efikasi Penerapan Vaksin AI H5N1 Clade 2.1.3 pada Itik Mojosari terhadap Tantangan Virus AI H5N1 Clade 2.3.2 pada Kondisi Laboratorium.” Hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan vaksin AI H5N1 clade 2.1.3 masih memiliki tingkat protektivitas yang tinggi terhadap tantangan virus AI H5N1 clade 2.3.2.

Berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang diperoleh dari beberapa hasil riset, yang dua diantaranya saya sebutkan di atas, dan semakin meningkatnya kecerdasan peternak dalam menyikapi suatu isu tertentu, pun dengan bantuan dari para dokter hewan lapangan yang memberikan input informasi yang benar, pelan tapi pasti (ancaman) AI bebek sudah mulai kehilangan eksistensi ~persisnya di akhir-akhir tahun 2014. Beritanya seolah hilang sendiri akhir-akhir ini, tidak seheboh seperti saat diawal kemunculannya. Tak lagi menjadi trending topic baik di media maupun di lapangan. Oh Ai Bebek, Riwayatmu Kini…

 

Kontributor: drh. Arief Ervana

 

7 Hal Penting Keberhasilan Biosecurity Area Peternakan

7 Hal Penting Keberhasilan Biosecurity Area Peternakan

Apa Sih Biosecurity

Biosecurity merupakan segala sesuatu yang dibuat, ditetapkan dan dijalankan untuk mengamankan peternakan dari berbagai hal yang dapat merugikan. Biosecurity dilakukan pada lingkungan farm, lingkungan kandang, pekerja kandang, peralatan kandang, serta kendaraan yang keluar masuk area peternakan. Hal tersebut mencakup sanitasi dan kebersihan dari daerah sekitar kandang, sanitasi pekerja kandang, sanitasi peralatan kandang dan kendaraan, mencegah burung-burung dan hewan liar masuk ke area farm, serta pemberian pakan dan air minum yang bersih dan bebas pencemar. Tidak ada program kesehatan manapun yang akan berjalan dengan baik tanpa diimbangi dengan program biosekuritas yang baik.

Bagaimana Biosecurity dilakukan

Setidaknya ada 7 hal yang dapat dikukan, yang merupakan bagian dari biosecurity atau program biosekuritas, yaitu:

Kontrol Lalu Lintas

pengunjung wajib mencelupkan kaki atau sepatunya kedalam desinfektan sebelum masuk area kandang

Kontrol lalu lintas yang dimaksud disini adalah mengontrol pergerakan atau lalu lalang manusia, misalnya melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk ke area farm dan hanya mengizinkan pekerja atau orang-orang tertentu saja yang berkepentingan. Orang yang boleh masuk ke area farm itu pun harus didesinfeksi terlebih dahulu, jika perlu mandi dan mengganti pakaian beserta sepatunya.

Biosekuritas yang ketat pada orang yang masuk ke area farm ini sudah wajar diterapkan di farm Sektor 1 dan 2. Sementara pada farm sektor 3 (komersial farm), meski tidak sampai mandi dan mengganti pakaian serta sepatu, setidaknya masih bisa didesinfeksi dengan sedikit semprot desinfektan dan celup sepatu, serta bisa dipastikan terlebih dulu bahwa orang yang bersangkutan tidak berasal dari farm lain. Tangan orang bisa juga menyebabkan infeksi dan harus didesinfeksi sebelum masuk bangunan kandang atau meninggalkannya. Jika terdapat banyak variasi umur di farm, maka pastikan kunjungan dilakukan dari kelompok umur yang paling muda ke yang paling tua.

Baca: Beberapa Penyebab Produksi Telor Ayam Menurun

Kontrol lalu lintas tidak hanya berlaku untuk orang tetapi juga untuk hewan seperti burung-burung liar , tikus, kumbang predator, serangga dan lainnya. Selain itu, lalu lintas kendaraan yang memasuki areal peternakan juga harus dimonitor secara ketat. Hanya kendaraan tertentu saja yang diizinkan masuk ke area farm, misalnya kendaraan pengangkut DOC atau pakan, itupun harus didesinfeksi dulu minimal dengan semprot desinfektan dan celup roda.

Recording atau Pencatatan

Biosecurity sepatu untuk pengunjung

Recording atau pencatatan riwayat flok merupakan cara yang termudah untuk mengetahui status kesehatan ayam. Setiap kandang harus memiliki lembar/buku pencatatan. Setiap hari operator kandang mencatat jumlah pakan yang diberikan, jumlah ayam yang mati dan di-culling, serta yang paling penting adalah performa ayam pada saat itu, misal pada ayam layer berarti yang dicatat adalah performa produksinya (dalam persen). Termasuk dalam recording adalah riwayat titer darahnya terhadap penyakit-penyakit tertentu, sebagai base line titre yang dapat dijadikan acuan jika ada masalah kesehatan yang tiba-tiba muncul.

Pembersihan Kandang

Proses pembersihan kandang merupakan salah satu faktor biosekuritas yang paling berat. Kegiatan ini utamanya dilakukan saat persiapan kandang, dan secara sekunder juga baiknya dilakukan selama periode pemeliharaan ayam. Tujuan dari kegiatan pembersihan kandang ini, antara lain; membuat kandang menjadi kandang baru kembali, memutus rantai kasus penyakit pada periode sebelumnya, serta menghilangkan atau menurunkan kuman penyebab penyakit yang ada di dalam dan sekitar (lingkungan) kandang.

Kontrol terhadap Pakan

Penjagaan kebersihan area kandang ayam

Kontrol terhadap pakan harus dilakukan secara ketat mengingat banyaknya agen penyakit dan toksin yang dapat mencemari makanan. Perhatikan kualitas bahan baku, lama penyimpanan bahan baku ataupun penyimpanan pakan jadi, serta pastikan pakan sudah mengandung toxin binder untuk mencegah berkembangnya toksin (zat racun) jamur.

Kontrol Air Minum

Kualitas air sangat penting karena kebutuhan minum ayam adalah 1.62 kali lipat dari jumlah pakan yang dikonsumsinya. Dilakukan juga penambahan kaporit/chlorine pada air minum. Tujuan dari klorinasi (pemberian kaporit/ klorin) adalah sebagai upaya sanitasi air minum yang dapat membunuh bakteri dan mikroorganisme lain yang mencemari air. Secara teratur lakukan flushing (penggelontoran) air di instalasi air di dalam kandang minimal seminggu sekali, dan pemeriksaan kualitas air minimal sekali dalam satu tahun yang meliputi pemeriksaan kimiawi (kesadahan, metal, mineral) dan bakteriologis.

Kontrol Limbah dan Ayam Mati (Bangkai)

Limbah harus dijauhkan dan dimusnahkan sejauh mungkin dari area farm. Lebih baik jika ada petugas khusus yang mengambil limbah ini secara teratur untuk dibuang atau dimusnahkan di luar area farm. Ayam mati sesegera mungkin diambil dari kandang dan setelah dilakukan pemeriksaan bedah pasca mati, secepatnya dibakar dan dibuang ke tempat lubang pembuangan di dalam peternakan.

Vaksinasi

Sebaik apapun program biosekuritas, tetap tidak akan sempurna tanpa program vaksinasi. Biosekuritas yang baik tetap akan pincang jika vaksinasi tidak berjalan, karena keduanya memang saling melengkapi. Jika Biosekuriti lebih pada perlindungan dari luar, maka vaksinasi bisa dibilang perlindungan dari dalam. Vaksinasi (dengan vaksin) yang baik berperan dalam memacu pembentukan antibodi (kekebalan) tubuh ayam sebelum kontak langsung dengan agen penyakit di lapangan. Tingkat kekebalan yang baik akan melindungi ayam terhadap infeksi agen penyakit, terutama virus, dan menghambat replikasi atau perbanyakan virus.

Selengkapnya soal vaksinasi, baca artikel VAKSINASI = ASURANSI KESEHATAN

 

Kontributor: drh. Arief Ervana

 

Manifestasi Subklinik AVIAN INFLUENZA

Manifestasi Subklinik AVIAN INFLUENZA

Gejala Klinis Avian Infuenza Subklinik

Ayam terlihat sehat – belum tentu terbebas dari flu burung subklinis

Avian Influenza (AI) merupakan penyakit viral yang mempengaruhi sistem pernbafasan, pencernaan, reproduksi, dan syaraf pada berbagai spesies burung. Penyakit AI memiliki dampak ekonomis yang penting pada industri perunggasan karena tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, penurunan produksi, dan peningkatan biaya penanggulangan, khususnya biaya sanitasi/desinfeksi Sudah umum diketahui bahwa ada dua jenis kelompok gejala klinis yang muncul ketika ada infeksi AI, dibedakan berdasarkan agen penyebabnya, apakah dari jenis LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza) atau HPAI (High Pathogenic Avian Influenza). Gejala klinis LPAI antara lain

  1. Penurunan produksi dengan kualitas kerabang lembek atau produksi terhenti
  2. Gangguan pernafasan (batuk, bersin, ngorok)
  3. Depresi
  4. Mortalitas rendah.

Sedangkan, gejala klinis HPAI antara lain

  1. Produksi turun drastis
  2. Gangguan pernafasan, sinusitis, edema kepala dan muka
  3. Perdarahan jaringan di bawah kulit diikuti kebiruan pd kulit terutama di kaki, kepala, dan pial
  4. Mortalitas tinggi (sampai 100%)
  5. Pada kasus perakut ayam mati mendadak tanpa ada gejala klinis.

Serangan Avian Infuenza juga bisa terjadi secara Subklinik

Manifestasi subklinik AI adalah suatu keadaan dimana unggas tampak sehat tetapi di dalam tubuhnya dapat dijumpai virus HPAI H5N1. Apa penyebabnya? Beberapa penyebab terjadinya manifestasi subklinik AI antara lain:

  1. Kondisi penyakit AI yang sudah endemik, dalam kondisi ini akan terjadi infeksi virus HPAI subtipe H5N1 secara alamiah dan menimbulkan respon kebal dengan titer antibodi yang tidak memadai.
  2. Penggunaan bibit vaksin AI yang kurang tepat, yaitu homologi bibit vaksin dan virus lapangan sangat rendah sehingga tidak terjadi netralisasi virus AI secara sempurna.
  3. Aplikasi vaksin yang tidak tepat, misalnya unggas hanya divaksin 1x saja tanpa adanya vaksinasi yang ke 2 (booster) sehingga terbentuk titer antibody yang tidak memadai.

Baca pula: Tips Pengaturan Pakan dan Minum Peternakan Ayam Broiler

Bagaimana jika Ayam sudah divaksin AI

Flu burung (ayam mati mendadak, kebiruan)

Nah, itu dia, pada dasarnya manifestasi subklinik AI terjadi apabila unggas membentuk respon kebal yang tidak memadai (tanggung), sehingga tidak mampu mengeliminasi virus yang menginfeksinya secara sempurna. Jadi, titer antibodi AI yang beredar di dalam tubuh tidak cukup tinggi dibandingkan dengan jumlah virus AI yang menginfeksi, sehingga masih ada virus yang lolos dari pemblokiran antibodi. Manifestasi subklinik bisa juga terjadi apabila vaksin dan virus lapangan secara serologis memiliki homologi yang rendah. Atau kemungkinan yang lainnya adalah, adanya kebocoran vaksin (vaccine break) pada penggunaan vaksin konvensional (resiko jika seed virus yang bersifat Pathogen tidak terinaktivasi sempurna) Karena itu, vaksin yang TEPAT seharusnya┬á memiliki kemampuan membentuk antibodi (performa titer antibodi) yang baik, dengan level protektivitas yang tinggi, dan mampu melindungi dalam waktu yang lama. Selain itu vaksin juga harus memiliki tingkat homologi yang tinggi dengan virus lapangan dan Seed virus dalam vaksin TIDAK PATHOGEN. Vaksin yang TEPAT itu ibarat seorang petinju hebat yang mampu memukul KO lawannya dalam sekali pukulan! Sehingga tidak ada manisfestasi subklinik, pun tidak ada shedding

MANIFESTASI SUBKLINIK DAN PENURUNAN PRODUKSI

Pernah suatu ketika peternak dihadapkan kepada masalah penurunan produksi telur yang sangat serius, meskipun diketahui faktor penyebabnya sangat banyak dan tidak berdiri sendiri. Opini yang terbentuk di kalangan peternak adalah penurunan produksi telur yang luar biasa ini ( 25-55%) dikaitkan dengan infeksi subklinik virus HPAI H5N1. Hipotesa yang bisa dibangun adalah, titer antibodi yang tidak memadai (tanggung) tidak mampu melakukan netralisasi virus yang menginfeksi secara sempurna dan virus HPAI yang lolos ini akan berpredileksi (menempati, menginfeksi) berbagai sel, termasuk sel telur. Mekanisme imunologi yang terjadi adalah sel tubuh akan melakukan penghancuran sel yang terinfeksi virus. Jika hal ini terjadi pada sel telur, maka proses pembentukan telur akan terhenti dan menyebabkan penurunan produksi telur. Semoga informasi ini bermanfaat.

Referensi : Wibawan IWT. 2012. Manifestasi Subklinik Avian Influenza pada Unggas: Ancaman Kesehatan dan Penanggulangannya. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Bogor, 22 Desember 2012.

 

Kontributor: drh. M. Arief Ervana

Beberapa Penyebab Produksi Telor Ayam Menurun

Beberapa Penyebab Produksi Telor Ayam Menurun

Keberhasilan Produksi Telor Ayam

variasi kualitas telur dalam satu kandang

Produksi telur yang prima tentu menjadi kunci keberhasilan pada peternak ayam petelur, bahkan bicara produksi telur bagi sebagian peternak bisa menjadi suatu hal yang sensitif. Sensitifnya bisa baik bisa juga tidak baik, tergantung pada performa produksinya, selain itu tergantung juga pada permintaan dan harga telur pada saat itu. Jika performa produksi baik, permintaan pasar lancar, dan harga telur juga sedang bagus-bagusnya pada saat itu, tentu tingkat keuntungan peternak pun akan menjadi sangat baik.

Bicara soal produksi telur yang prima, tentu tidak hanya dinilai dari segi jumlah atau kuantitasnya saja, tetapi juga dari segi kualitas telurnya. Nah, bagaimana jika yang terlihat adalah indikasi adanya penurunan produksi telur atau adanya kualitas telur yang kurang baik? Beberapa hal berikut ini mungkin adalah penyebabnya.

Mengapa Produksi Telor Menurun

Produksi telur turun sudah curiga ke penyakit? ND, IB, atau jangan-jangan AI?? Eits, tunggu dulu, ketika terjadi penurunan produksi tidak selalu diartikan adanya infeksi dari agen penyakit tertentu. Justru kecurigaan adanya infeksi agen penyakit adalah kecurigaan akhir setelah kita memeriksa bagaimana manajemen pemeliharaan, bagaimana kualitas pakan, dan adakah faktor-faktor yang menyebabkan stress pada ayam. Bicara manajemen pemeliharaan disini terutama soal sistem perkandangannya, apakah kandang yang merupakan rumah bagi ayam-ayam kita itu sudah menjadi rumah yang nyaman untuk bertelur? Mungkin penghuninya terlalu banyak alias terlalu padat populasinya? Mungkin suhu udara di dalam kandang tidak sesuai untuk ayam yang akan bertelur? Atau sirkulasi udara di dalam kandang kurang baik dan kadar amonia menjadi tinggi?

Baca Pula: Tips Pengaturan Pakan

Kepadatan populasi dalam kandang harus diperhatikan

Populasi yang terlalu padat di dalam kandang membuat ayam akan saling berebut bahkan saling mematuk untuk mendapatkan makanannya, selain itu menjadikan suhu di dalam kandang menjadi tidak nyaman. Suhu udara yang nyaman, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, dibutuhkan untuk produksi telur yang aman. Suhu udara yang nyaman untuk bertelur sekitar 23-27 0C. Kalau suhu udara terlalu panas ayam bisa stress dan terganggu produksi telurnya, dan kalau suhu udara terlalu dingin ayam akan meregulasi seluruh energi tubuhnya untuk tetap hangat-tidak untuk produksi telur. Sementara tingginya kadar amonia akan menyebabkan iritasi dan penyakit pernafasan pada ayam, kalau sudah sakit artinya proses produksi telur pun akan terganggu.

Pengaruh Kualitas Pakan Terhadap Produksi Telor

Lalu bagaimana kualitas pakan mempengaruhi produksi telur? jika kualitas pakannya tidak baik atau bahkan berjamur. Perhatikan komposisi atau kandungan protein dalam pakan, memasuki masa produksi ini kebutuhan proteinnya kurang lebih sekitar 17.5-19%.Jika komposisi protein dalam pakan ada dalam jumlah yang kurang maka itu akan memperlambat produksi telur. Kemudian komposisi Kalsium dalam pakan juga harus diperhatikan, setidaknya sekitar 3.3% dari total pakan. Kalsium selain bermanfaat untuk produksi telur secara kuantitas, juga bermanfaat untuk menjaga kualitas kerabang telur yang dihasilkan. Kekurangan kalsium bisa menyebabkan kerabang telur menjadi lunak atau pun mudah retak, atau bahkan menjadikan telur yang dikeluarkan tidak berkerabang. Selebihnya dapat pula ditambahkan vitamin dan mineral dalam bentuk premiks atau lewat air minum.

Telur berkualitas rendah kerabang lunak

Jika penurunan produksi telur terjadi secara mendadak bahkan ekstrem atau langsung drastis turunnya, kemungkinan terdapat serangan agen penyakit. Adanya serangan agen penyakit mengindikasikan turunnya daya tahan tubuh, dan penurunan daya tahan tubuh ini juga akan mempengaruhi produksi telur. Beberapa penyakit yang bisa menyebabkan penurunan produksi, seperti beberapa penyakit viral (ND, AI, IB, EDS), beberapa penyakit bakterial (Coryza, E. Colli), Mycoplasma, dan parasit (Leucocytozoon, cacing).

Penting Disimak: Tips Pembersihan Kandang Unggas

Penyakit viral lebih sering menjadi ΓÇÿtersangkaΓÇÖ turunnya produksi telur. Penyakit ND dan IB, selain menurunkan tingkat produksi, juga membuat kualitas telur berubah, misal warna kerabang menjadi pucat atau putih, ukuran telur kecil, kerabang tidak halus atau kasar seperti pasir pada gejala IB, dan putih telurnya lebih encer. Sementara penyakit AI bisa menurunkan produksi secara drastis hingga 40-50%! Tindak pencegahan sudah sepatutnya dilakukan sebelum agen viral menyerang, lakukan biosekuriti yang ketat dan vaksinasi yang tepat.

Simak: Vaksinasi Ayam = Asuransi Kesehatan

 

Kontributor: drh. Arief Ervana

Vaksinasi Ayam = Asuransi Kesehatan

Vaksinasi Ayam = Asuransi Kesehatan

Mengapa Ayam Perlu Vaksinasi?

ayam pasca vaksinasiVaksinasi yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar akan mengurangi resiko meledaknya penyakit infeksius terutama yang disebabkan oleh virus pada peternakan Anda. Vaksinasi adalah suatu mata rantai pencegahan sejak dari induk (breeding) sampai anak ayam (komersial). Bukankah mencegah selalu lebih baik daripada mengobati? Vaksinasi (dengan vaksin) yang baik berperan dalam memacu pembentukan antibodi (kekebalan) tubuh ayam sebelum kontak langsung dengan agen penyakit di lapangan. Tingkat kekebalan yang baik akan melindungi ayam Anda terhadap infeksi agen penyakit, terutama virus, dan menghambat replikasi atau perbanyakan virus. Hal demikian yang akan mencegah munculnya gejala klinik, terjadinya kematian, penurunan produksi, dan gangguan pertumbuhan.

Prosedur dan Jenis vaksinasi

Vaksinasi dan vaksin merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tata laksana atau prosedur vaksinasi yang benar harus didukung juga dengan produk vaksin yang paripurna. Pilihan jenis vaksin dan program vaksinasi yang mapan pada suatu lokasi proses vaksinasipeternakan biasanya akan diterapkan secara berulang atau terus menerus tiap periode pemeliharaan, dan tidak akan mudah untuk merubahnya tanpa ada alasan yang kuat, terutama untuk program atau jadwal vaksinasi. Dan progam atau jadwal vaksinasi antara peternakan satu dengan lainnya bisa saja berbeda, karenanya tidak perlu meniru 100% program vaksinasi peternakan lain yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan vaksinasi Anda. Alasan perbedaan yang paling utama biasanya adalah sejarah penyakit di suatu farm.

Kemudian untuk produk vaksin, pilihlah vaksin yang paripurna, artinya vaksin yang memiliki kemampuan membentuk antibodi (performa titer antibodi) yang baik, dengan level protektivitas yang tinggi, dan mampu melindungi dalam waktu yang lama. Vaksin yang paripurna itu ibarat seorang peetinju hebat yang mampu memukul KO lawannya dalam sekali pukulan!.

Evaluasi Keberhasilan Vaksinasi

pemeliharaan ayam broiler mulai day old chick (DOC) ayam umur sehariPengetahuan akan keberhasilan suatu program vaksinasi didapat dengan melakukan evaluasi performa vaksin, dengan uji serologis seperti tes HI (Haemaglutinasi Inhibisi) dan ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay). Selain untuk mengetahui performa vaksin, hasil dari evaluasi juga dapat digunakan untuk mengetahui lebih jelas kondisi kesehatan ayam saat divaksinasi, ada atau tidaknya kontak dengan virus lapang, pun untuk penentuan program vaksinasi yang tepat.

Tata laksana atau prosedur vaksinasi yang benar dan pilihan produk vaksin serta evaluasi performa vaksin dapat Anda diskusikan dengan para ahli (Dokter Hewan Perunggasan) dari perusahaan-perusahaan vaksin dan obat hewan yang tersebar di lapangan.

Hal yang harus diperhatikan agar hasil vaksinasi optimal, yaitu:

  • Vaksinasi hanya dilakukan pada ayam sehat.
  • Pastikan pelaksanaan vaksinasi dari persiapan vaksin (termasuk thawing) dan aplikasinya secara benar.
  • Berikan vaksin sesuai dengan dosis yang dianjurkan oleh pabrikan, dan pastikan ayam mendapatkan dosis yang tepat saat aplikasi.
  • Lakukan pengawasan selama pelaksanaan vaksinasi.
  • Kurangi hal-hal yang menyebabkan imunosupresif (stress tinggi, kualitas pakan buruk, padat, ventilasi kuyang, dll),

Sebagai tambahan, biasakan mencatat waktu vaksinasi (tanggal atau umur saat ayam divaksin), jenis vaksin yang digunakan serta no.batch vaksinnya. Vaksinasi (termasuk vaksin) yang baik merupakan asuransi kesehatan yang akan mencegah terjadinya penyakit yang bisa datang kapan saja.

Setelah dilakukan vaksinasi, kontrol kesehatan rutin setiap hari tetap harus dilakukan oleh tenaga operasional peternakan anda, konsultasikan segala hal yang merujuk pada gangguan kesehatan kepada dokter hewan yang bertugas di peternakan tersebut, sehingga gejala penyakit dapat terdeteksi sejak dini, dan proses pengobatan dapat segera dilakukan. Hal ini merupakan langkah yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan management kesehatan hewan farm yang anda kelola, jika diterapkan dengan baik dan disiplin, angka kejadian penyakit dapat diminimalisir, dengan demikan keuntungan yang diperoleh pun akan meningkat.

 

Kontributor : Drh. Arief Ervana

Tips Tekan Resiko Outbreak Avian Influenza saat Musim Hujan

Tips Tekan Resiko Outbreak Avian Influenza saat Musim Hujan

Waspada Avian Influenza

Musim hujan tahun 2014/2015 yang diprediksi akan sangat panjang, diperkirakan akan sampai pada bulan Juli 2015, dengan puncaknya yaitu pada Februari dan Maret 2015. Keadaan ini membawa suatu kekhawatiran tersendiri bagi peternak unggas komersil di Indonesia. Selain perubahan kondisi cuaca dan lingkungan yang tentu akan berdampak pada fisiologis ayam, salah satu yang menjadi musuh besar para peternak saat musim hujan adalah resiko munculnya penyakit Avian Influenza (AI).

Sudah menjadi rahasia umum kalau penyakit AI ini lebih suka (sering) mampir ke area peternakan pada saat musim hujan daripada saat musim panas. Kasus kejadian penyakit AI menjadi tinggi karena kelembaban yang tinggi pada saat musim hujan menjadi faktor pendukung terhadap perkembangbiakan dan penyebaran virus AI di lingkungan. Apalagi air juga merupakan media yang beresiko menyebarkan dan menularkan virus AI di area peternakan. Debit air yang tinggi pada saat musim hujan menjadi salah satu faktor resiko penyebaran penyakit ini. Tingginya kasus kejadian penyakit AI pada musim hujan seperti diungkapkan Dr. Drh. Kamaluddin Zarkasie dalam diagram data berikut ini :

Data kejadian AI

3 Cara Menekan Resiko Outbreak Avian Influenza

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menekan resiko outbreak AI saat musm hujan, yaitu:

  1. Memperketat manajemen pemeliharaan termasuk manajemen kesehatan ayam
  2. Meningkatkan biosekuriti baik pada personal maupun area kandang
  3. Melakukan vaksinasi dengan tepat.

Ayam harus diusahakan tetap berada dalam kondisi yang senyaman mungkin, sistem buka tutup tirai harus diatur sedemikian rupa karena angin biasanya cukup kencang saat musim hujan, pun pastikan tidak ada percikan air hujan yang masuk ke dalam kandang. Perlu diingat juga bahwa virus AI mampu bertahan lama di lingkungan, terutama pada kondisi lembab dan dingin.

Kelembaban yang tinggi juga dapat memicu pertumbuhan jamur yang mencemari pakan, untuk mencegahnya dapat dilakukan dengan penambahan toxin binder pada pakan.

Pemberian Vaksinasi AI dengan Tepat

Kontrol lalu lintas orang dan juga lalu lintas hewan seperti burung-burung liar, tikus, dsb. Lakukan desinfeksi kandang secara rutin dan perkuat vitalitas ayam dengan feed supplement atau vitamin. Yang paling penting, lakukan vaksinasi AI dengan tepat, artinya tepat vaksin, tepat jadwal, dan tepat cara. Vaksinasi AI terbukti secara nyata dapat menekan resiko kejadian AI di lapang.

Pada ayam pedaging, vaksinasi AI dapat diberikan setengah dosis saat ayam berumur 7 hari. Sedangkan pada ayam petelur, vaksinasi AI dapat diberikan satu dosis saat ayam berumur 5 minggu dan diulang di umur 10 minggu. Jadwal vaksinasi AI khususnya pada ayam petelur dapat berbeda-beda tergantung kondisi di masing-masing peternakan. Selebihnya monitoring titer antibodi terhadap AI dapat dilakukan secara rutin, selain untuk menentukan status kekebalan juga dapat dipakai sebagai acuan perlu dilakukan re-vaksinasi atau tidak.

 

Kontributor: drh. Arief Ervana M.

Tips Pengaturan Pakan dan Minum yang Tepat pada Peternakan Ayam Broiler

Tips Pengaturan Pakan dan Minum yang Tepat pada Peternakan Ayam Broiler

Manajemen Peternakan Ayam

peternakan ayam broiler modern

Seperti halnya manusia, pakan dan minum juga dapat dijadikan indikasi ayam sedang dalam kondisi sehat atau tidak. Ayam yang sehat akan menghabiskan jumlah pakannya terutama, sesuai dengan standar jumlah pakan harian/mingguan. Apalagi pada peternakan broiler yang targetnya adalah bobot badan, pakan menjadi indikasi utama keberhasilan manajemen pemeliharaan broiler. Keberhasilan pemberian pakan diukur dengan perhitungan konversi pakan atau Feed Convertion Ratio (FCR), yaitu perhitungan banyaknya pakan yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan. Semakin kecil angka konversi pakan, maka semakin tinggi tingkat keberhasilan pemberian pakan. Nah, sudah tepatkah pengaturan pakan dan minum pada peternakan broiler Anda?

Pemberian Pakan Ayam

Pemberian pakan dilakukan secara ad libitum(tidak terbatas), dan terkontrol. Jenis pakan yang diberikan pada ayam umur 1-4 hari adalah fine crumble, selanjutnya pada umur 5-21 hari jenis pakan yang diberikan adalah crumble, dan umur lebih dari 21 hari digunakan jenis pakan semi pellet. Sementara jenis pakan yang pellet murni biasanya sudah jarang digunakan, bahkan di beberapa farm sudah tidak digunakan karena secara empirik dinilai tidak efisien. Tempat pakan juga harus tersedia dalam jumlah yang mencukupi sehingga ayam dapat leluasa makan tanpa berebut dan berdesakan. Komposisi dari jenis-jenis pakan tersebut tidak terlalu berbeda, hanya tekstur dan ukurannya yang berbeda terutama karena menyesuaikan perkembangan paruh ayam. Contoh komposisi pakan seperti pada

Tabel Komposisi Pakan Ayam

Air Maks 12 %
Protein Kasar Min 22,5 %
Lemak 3% 7 %
Serat Kasar Maks 5 %
Abu Maks 7 %
Kalsium 0.9% 1,1 %
Phosphor 0.6% 0.9 %
Coccidiostat Min
Antibiotika Min

 

Pemberian pakan selama dua minggu pertama sebanyak 4 kali sehari yaitu pagi, siang, dan malam sebanyak 2 kali. Selanjutnya umur > 14 hari pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pagi, siang, dan malam. Awalnya pakan diberikan dengan menggunakan feeder tray, kemudian umur 7 hari tempat pakan gantung (hanging feeder) mulai dikenalkan tanpa pemasangan corongan pakan. Jumlah feeder tray dikurangi secara bertahap dan pada umur 15 hari telah memakai hanging feeder semua yang telah dipasang corongan (feeder tray bercorong). Selanjutnya ketinggian hanging feeder memakai patokan setinggi dada atau sekitar tembolok ayam. Perbandingan tempat pakan berkisar 30 ekor/feeder.

Pemberian Minum

ayam nipple drinker
nipple drinker

Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum(tidak terbatas), dan terkontrol. Pengaturan air minum juga sangat penting, karena kekurangan pasokan air minum dapat mengurangi laju pertumbuhan ayam. Tubuh anak ayam terdiri dari 80% air. Air sangat dibutuhkan untuk membantu pencernaan, pertumbuhan dan hidup khususnya pada 8-12 jam pertama. Air minum harus tersedia sepanjang waktu dan dipastikan terbebas dari kontaminasi. Dehidrasi 20% pada tubuh anak ayam dapat berakibat fatal.

Pada saat ayam umur 1-4 hari tempat air minum yang dipakai adalah baby drinker. Baby drinker ditempatkan di atas litter kurang lebih setinggi mata ayam, dialasi dengan papan/kayu supaya litter tidak basah kalau air tumpah. Namun setelah ayam berumur 4-5 hari, nipple sudah mulai diturunkan. Ketinggian nipple adalah 1-5 sentimeter di atas kepala ayam sehingga ayam bisa mengangkat kepalanya sekitar 900. Saat DOC datang, air minum yang digunakan dapat dicampur dengan gula 2% (Dextrose Monohydrate) sebagai sumber energi. Pada 5 hari pertama air minum ditambahkan dengan antibiotika dan multivitamin dalamdosiskecil.

Pemberian obat maupun vitamin dilakukan dengan cara mencampur obat dan vitamin tersebut ke dalam tandon air dengan memperhatikan kebutuhan air minum ayam dan suhu pada saat itu. Kebutuhan air minum per harinya seperti terlihat

Tabel Kebutuhan air minum selama pemeliharaan

Umur (hari) Kebutuhan Air minum / hari
0 – 7 50 liter / 1000 ekor
8 – 14 100 liter / 1000 ekor
15 – 21 150 liter / 1000 ekor
22 – 28 200 liter / 1000 ekor

Jumlah nipple drinker dalam satu kandang harus memenuhi kebutuhan tiap ekor ayam. Beberapa hal lainnya yang perlu diperhatikan antara lain:Ketinggian dan kualitas air minum. Tempat air minum selalu rutin dicek ketinggiannya dan disesuaikan agar nipple sejajar dengan paruh ayam dan disesuaikan dengan pertumbuhan tinggi ayam sehingga dalam waktu kurang lebih satu minggu sekali ketinggian nipple ditambah. Namun lebih tepatnya penambahan tinggi tempat ini mengikuti pertumbuhan ayam, yaitu tinggi mulut/tepi tempat minum diatur sejajar dengan punggung ayam.

Kualitas air sangat penting karena kebutuhan minum ayam adalah 1.62 kali lipat dari jumlah pakan yang dikonsumsinya. Perlu dilakukan juga penambahan kaporit/chlorine pada air minum. Tujuan dari klorinasi (pemberian kaporit/ klorin) adalah sebagai upaya sanitasi air minum yang dapat membunuh bakteri dan mikroorganisme lain yang mencemari air. Klorinasi dilakukan dengan cara memasukkan klorin sebanyak 3-5 ppm ke dalam air minum. Umumnya klorin dijual di pasaran dalam bentuk kaporit atau calcium hypochlorite (CaOCl2). Jika kaporitnya murni, untuk memperoleh kadar yang tepat dalam air minum dibutuhkan 6-10 gram kaporit tiap 1.000 liter air. Namun jika kaporit yang dimiliki hanya berkonsentrasi 50%, dosis kaporit yang digunakan menjadi dua kali lipat, yaitu 12-20 gram tiap 1.000 liter air.

Tempat minum dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Jika memungkinkan, setidaknya setiap 2 kali dalam setahun dilakukan pengujian terhadap air minum atau uji sanitasi air minum yang digunakan untuk memastikan bahwa air minum tersebut mengandung mineral atau bahan organik dalam jumlah yang dapat diterima serta mengetahui ada atau tidaknya kontaminasi mikroba serta cemaran logam berat pada air minum.

Baca juga: Ayam Ketawa yg Nilainya Mahal

 

Kontributor : Drh. Arief Ervana