Ini Lho Ragam Babi Asli Indonesia

Ini Lho Ragam Babi Asli Indonesia

Babi Asli Indonesia

PecintaSatwa.com – Kebutuhan daging babi nasional saat ini sudah mencapai 7.204.768 ekor pertahun, angka ini harus terus ditingkatkan sebesar 1,15% pertahun berdasarkan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjenakkeswan). Permintaan pasar setinggi itu menjadi angin segar bagi para pengusaha dan peternak babi, binis ini pun semakin menjanjikan.

sulawesi warty pig
sulawesi warty pig

Kekayaan nusantara pun termasuk dengan keaneragaman hayati. Saat ini, Indonesia memiliki 5 spesies babi dari 8 spesies babi di dunia, 52 dari 90 breed babi di planet Bumi ini pun tersebar di kawasan Asia Tenggara termasuk tanah air kita. Lebih dari separuh jumlah spesies babi dunia yang dimiliki Indonesia merupakan jenis babi dengan kualitas daging unggulan, mampu beradaptasi dengan baik meski hanya mengkonsumsi limbah pertanian dan limbah rumah tangga. Ibarat kata, babi indonesia dapat mengubah sampah menjadi daging berkualitas wahid.

javan warty pig
javan warty pig

Jumlah kebutuhan daging babi nasional yang tinggi ternyata tidak memiliki titik temu yang menguntungkan dengan banyaknya jenis babi lokal negeri ini. Populasi babi lokal terus menurun dari tahun ke tahun, salah satunya disebabkan karena peternak (50%) masih memelihara babi dengan sistem ekstensif atau tradisional sebagi usaha sampingan keluarga. 45% diantaranya mulai menggunakan sistem semi intensif, dan hanya 5 % peternak babi menggunakan sistem intensif, itu pun lebih memilih jenis babi impor sebagai komoditasnya.

babi rusa
babi rusa

Dapat dimaklumi, apabila peternak lebih memilih jenis babi impor. Perbedaan laju pertumbuhan harian / average daily gain (ADG) yang dapat dicapai babi lokal seperti babi Bali hanyak sekitar 0,14%, sedangkan babi impor seperti jenis White Large bisa dua kali lipatnya bahkan lebih. Dilemanya, penelitian mengenai teknologi budidaya babi masih sangat minim di Indonesia, karena kebanyakan peneliti masih berfokus pada sektor unggas dan ruminansia. Paradigma inilah yang harus segera dirubah. Babi lokal kita pun dapat menjadi produk unggulan apabila antara peternak, peniliti dan pemerintah bekerja sinergis mengembangkannya.

Spesies Babi Lokal Indonesia

Berikut ini, adalah 5 spesies dan jenis babi lokal yang terdapat di Indonesia, mari kita simak bersama:

  • Sus Sacrofa :

Spesies babi domestik atau disebut juga sebagai Sus sacrofa domestica. Satu spesies dengan babi impor seperti Landrace dan Hampshire, namun berbeda breed dan varian. Diantaranya sebagai berikut:

 

babi bali
babi bali

Babi Bali : didaerah timur berwana hitam dan berambut kasar, punggung melengkung, tapi perut menggantung, moncong sedikit lebih panjang. Babi di daerah utara, selatan dan tengah berpunggung melengkung, perut membesar, belang putih pada kaki, moncong pendek, telinga runcing

Baca: Babi Bali – Babi liar yang bernilai Tinggi

 

babi timor
babi timor

Babi Kupang, Babi Timor : ukuran tubuh sedang, bentuk kepala kecil, taring tidak melekat saat tua, tulang punggung tidak kokoh, warna dominan hitam, kombinasi putih dan merah bata, berambut kasar terutama pada punggung, kaki dan moncong

 

babi toba
babi toba

Babi Nias, Babi Toba, Babi Samosir, berada di Sumtera Utara, berwarna hitam keabuan, punggung melengkung kadang ada yang datar, badan besar rendah hingga menyentuh tanah, moncong panjang, telinga kecil dan runcing

 

babi toraja

Babi Toraja: banyak di Sulawesi Selatan, khususnya di Toraja Utara, sering disebut babi kampong, berwana hitam atau kehitaman, kepala kecil, telinga agak runcing, punggung melengkung dan ukuran tubuh sedang

Jenis Babi Liar yang Hidup di Indonesia

bearded pig
bearded pig

Selain jenis terdomestikasi, 4 dari 5 spesies babi lokal merupakan jenis babi liar, jumlahnya juga terus menurun setiap tahun akibat perburuan liar di alam, bisa jadi beberapa tahun kedepan variasi babi-babi ini hanya tinggal diorama apabila tidak kita jaga kelestariannya. Diantaranya sebagai berikut:

  • Sus verrucosus: Javan warty pig (variasi warna beragam, mulai hitam legam hingga merah pucat. Ukuran tubuh kecil hingga besar)
  • Sus barbatus: Bearded pig / babi berjanggut (berbadan panjang sekitar 100-160cm dan berat rata-rata 100 kg)
  • Sus celebensis: Sulawesi warty pig (berukuran sedang, berkaki pendek, berat 40-70 kg, bewarna hitam, kadang ada yang cokelat kemerahan atau kekuningan, rambut berwarna lebih terang pada moncong dan perut)
  • Babyroussa babyrussa: Babirusa (kaki panjang, kepa kecil dan hampir tidak berambut. Pejantannya memiliki gigi taring besar membelok keatas ata berbentuk spiral)

Simak juga: Tingkah Laku Reproduksi Babi

Cukuplah swasembada daging sapi yang sulit terkejar, swasembada daging daging babi harus terlaksana dengan memanfaatkan sumber daya alam asli negeri tercinta.

Cintailah Plodhuk Plodhuk Indonesiaaaaa….

 

Pembibitan Babi, Banyak Anak Banyak Rezeki

Pembibitan Babi, Banyak Anak Banyak Rezeki

Pembibitan Babi

PecintaSatwa.com – Usaha breeding farm agaknya sudah harus dikembangkan maksimal. Tingginya kebutuhan daging konsumsi nasional menjadi tantangan tersendiri untuk dipenuhi, belum lagi kenaikannya setiap tahun. Bakalan dan ternak pasca sapih akan terus menipis apabila usaha pembibitan tidak digalakkan karena dari usaha tersebutlah dihasilkan calon-calon ternak sebagai bahan baku industri feedlot. Tak terkecuali untuk peternakan babi.

Babi tergolong hewan ternak yang berprospek tinggi. Kemampuan beradaptasi yang tinggi didukung dengan jumlah anakan sekali lahir dapat lebih dari 10 menjadikannya sebagai hewan ternak primadona di dunia. Oleh karena itu, dalam artikel sederhana ini akan dibahas seluk-beluk pembibitan babi dan tips untuk para peternak.

Target ideal pembibitan Babi

  • Tingkat reproduksi: 10-11 piglet/kelahiran, sehingga 2 gilt/sow (induk babi) minimal menghasilkan 20-22 piglet yang sehat setiap tahun
  • Survival rate 85% hingga sapih. Kadang kala banyaknya anakan yang dilahirkan induk babi, terdapat beberapa ekor yang tidak bertahan, bisa kerena lahir lemah, kalah bersaing saat menyusu, jumlah ambing induk kurang dari jumlah anak yang dilahirkan, atau karena induk tidak memiliki sifat keibuan (maternity) yang baik.
  • Laju pertumbuhan: dari anak babi (piglet) baru lahir dengan berat 1-1,5 kg dapat mencapai 90 kg setelah 170 hari dan karkas 77%,
  • Feed Confertion Rate / FCR 3,5 kg, maksudnya untuk menghasilkan pertambahan berat hidup 1 kg, dibutuhkan pakan tidak lebih dari 3,5 kg bahan kering.
  • Untuk penggemukan dapat dipanen pada umur 4-6 bulan dengan berat 45-65 kg, dengan catatan tumbuh sehat dengan average daily gain minimal 0,2 kg / hari
  • Induk betina dapat berproduksi bagus hingga berumur 5 thn, atau 4-6 kali beranak. Apabila lebih dari umur tersebut produktivitas indukan masih bagus, dapat dibibitkan kembali hingga performa reproduksi turun atau kondisi tubuh tidak optimal

Baca : Tahukah Anda Tanda Babi Betina Birahi dan Perkawinannya?

superior gilt
superior gilt

Indukan babi betina yang baik:

  • Induk (gilts) superior, dapat beranak 9-10 anakan (piglet)/kebuntingan
  • Meternity bagus
  • Memiliki 12-14 ambing
  • Sehat, berkaki kuat, otot tebal dan performa tubuh proporsional

Reproduksi Babi

  • Pejantan minimal berumur 7,5 bulan, paling optimal setelah 15 bulan-4 tahun, rasio: 1 pejantan untuk 10-12 betina
  • Betina minimal 7 bulan
  • Siklus birahi / estrus betina 18-24 hari, normalnya 21 hari sekali, panjang birahi 12-60 jam
  • Lama kebuntingan 114 hari (3 bulan, 3 minggu, 3 hari)

Merawat induk babi dan piglet

  • Sejak 1 minggu sebelum melahirkan tempatkan di kandang yang bersih, kering dan hangat, dilapisi bedding berupa pasir, jerami atau serbuk gergaji
  • 35% piglet yang lahirkan tidak bertahan hingga sapih, kerena diserang induk, lahir lemah, diare, persaingan menyusu, tidak mampu bertahan dengan lingkungan
  • Apabila jumlah piglet yang dilahirkan lebih dari jumlah ambing, kelebihan jumlah piglet tersebut disusukan ke induk lain atau diberi susu sapi
  • Piglet yang baru lahir dipotong gigi runcing nya, dan tali pusarnya hingga tersisa 2,5-3,5cm, beri iodin
  • Piglet umur 3-5 hari dan umur 2 minggu diberi multivitamin yang mengandung zat besi (Fe) untuk mencegah anemia
  • Piglet mulai diajari makan setelah berumur 1 minggu
  • Deworming / pemberian obat cacing piglet dilakukan umur 3-5 minggu
  • Penyapihan umur 8 minggu
  • Terapi anti kutu mulai umur 7-8 minggu
  • Indukan dapat dikawinkan hingga 6 kali beranak atau hingga umur 4-5 tahun, apabila produksi masih baik, dapat trus menjadi bibit.

Simak: Ini Lho Ragam Babi Asli Indonesia

Recording yang perlu dilakukan

  • Performa Pejantan
  • Produktifitas indukan betina
  • Pertumbuhan piglet pasca sapih
  • Pertumbuhan grower dan finisher

Selamat beternak…!

 

Tahukah Anda Tanda Babi Betina Birahi dan Perkawinannya?

Tahukah Anda Tanda Babi Betina Birahi dan Perkawinannya?

Panjangnya Siklus Birahi Babi Betina

PecintaSatwa.com – Di alam bebas babi betina yang memulai mencari pejantan beberapa hari sebelum terjadinya birahi. Signoret dkk (1979) telah melakukan pengujian dengan menggunakan suatu jalan / lorong bersimpang yang berbentuk T. Ia mendapatkan, babi-babi betina yang mendekati waktu birahi (pro estrus), dan yang sedang birahi (estrus), sangat merangsang pejantan. Rangsangan tersebut berlanjut sampai dua hari setelah mencapai puncak birahi. Dalam keadaan uji memilih, pejantan memperlihatkan reaksi agak memilih antara babi betina yang birahi dan yang tidak birahi. Hal ini mendukung pengamatan tentang peranan awal babi betina dalam hubungan seksual.

Peternak Duduk di Punggung Babi

Babi betina birahi akan menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut: pembengkakkan dan memerahnya vulva sejak 2-6 hari sebelum birahi, keluarnya lendir dari vagina, malas, dan terkadang menciumi vulva betina lainnya dalam satu koloni. Mereka juga menaiki dan diam jika dinaiki sesamanya, serta menurun nafsu makannya, pada beberapa breed juga terlihat babi betina menegakkan dan menggerakkan telinganya (ear pricking) ketika birahi. Tanda birahi lainnya yang sangat penting ialah babi betina akan berdiri kaku dan tidak bergerak, kemudian membungkukkan punggungnya (Lordosis) bahkan diam jika peternak duduk diatas punggungnya. Apabila dipelihara dalam suatu kelompok, babi betina juga akan melakukan gerakan gigi yang khas, dan juga berkeliling, berjalan-jalan mencari pejantan dalam koloni tersebut.

Siklus birahi babi betina

Panjangnya siklus birahi babi betina berkisar 21 hari, lama birahi rata-rata 40-60 jam, meski terdapat beberapa kasus babi betina yang dapat birahi hingga 5 hari. estrus pubertal biasanya terjadi lebih singkat (47 jam), diperiode selanjutnya akan lebih lama hingga 57 jam bahkan lebih, singkat dan lamanya siklus birahi juga dipengaruhi oleh breed, musim, panjang pencahayaan matahari, dan abnormalitas endokrin. Ovulasi akan terjadi pada paruh terakhir masa birahi (38-42 jam setelah terjadinya oestrus), karena itu paling baik jika babi betina birahi dikawinkan 2 kali, pada saat awal diketahuinya birahi dan akhir birahinya. Proses ovulasi terjadi selama 3,8 jam (Buisson dkk, 1970), ovulasi akan terjadi 4 jam lebih cepat pada babi betina yang telah dikawinkan daripada yang tidak dikawinkan (signoret, 1973).

Intensitas birahi babi betina dapat ditingkatkan dengan rangsangan bau pejantan yang berasal dari feromonnya, penglihatan, kontak fisik, dan rangsangan suara music (pernah diteliti penggunakan kaset chant de Coeur dari Perancis, responnya sangat baik). Aroma feromon dapat diproduksi secara sintetis dalam bentuk spray, disamping itu secara alami dapat juga dibuat dengan mengisolasi cairan gelain dari preputium, dan menghangatkannya dengan sebuah pot/cawan, hingga mengeluarkan aroma menggoda untuk babi betina.

Interaksi Sosial Pre-Mating pada Babi

Interaksi social antara babi betina dan pejantan dimulai dengan kontak hidung satu sama lain dan terus berlanjut ke proses selanjutnya. Dengan memperlihatkankan punggung saja betina tidak cukup merangsang pejantan, untuk memberikan respon selanjutnya dan juga mempercepat pejantan menaikinya. Setelah kontak hidung dengan hidung, diikuti dengan tahapan rangsangan selanjutnya, seperti menciumi vulva dan bagiang samping betina, menggigit dan mendorong betina, respon berteriak pejantan, dan peran serta hormone feromon yang diproduksi dari gugus androsten kelenjar ludah pada mandibula pejantan.

Interaksi social antara babi betina dan pejantan

Hemsworth dkk (1978) melaporkan bahwa lamanya pejantan menciumi badan samping betina berkorelasi positif dengan tingkat konsepsi dan jumlah anak yang lahir (litter size). Selain itu, memberikan kesempatan bagi babi betina yang dikandangkan berpasangan dengan pejantan, akan mengoptimalkan rangsangan pejantan sebelum perkawinan, juga dapat meningkatkan angka konsepsi dan litter size. Sedangkan pada babi betina yang dikandangkan secara individu, rangsangan sebelum dilakukan inseminasi buatan akan menurunkan angka konsepsi dan litter size secara signifikan.

Pada kandang berpasangan, pejantan akan merangsang efisiensi reproduksi secara efektif dengan mempengaruhi waktu dan tingkat ovulasi, serta tingkat fertilitas. Kebalikannya dengan betina yang dikandangkan secara individu, jika dicampurkan dengan pejantan saat sebelum dikawinkan, terlebih pejantan tersebut adalah babi jantan dewasa yang pertama kali dipasangkan dengannya, akan terjadi stress scara psikologis sehingga berpengaruh pada performa reproduksinya. Penelitian-penelitian tersebut diatas membuktikan pentingnya faktor-faktor psiko-seksual kompleks yang berpengaruh pada fertilitas dan fekunditas babi.

Pejantan akan merangsang efisiensi reproduksi

Perkawinan pada Babi

Tanda terakhir akan terjadinya kopulasi adalah ketika seekor babi betina berdiri tanpa bergerak selama 5 menit, kemudian terjadilah kopulasi dengan waktu yang cukup panjang sekitar 3-20 menit. Pada peternakan babi intensif, babi jantan sering dikenakan kawat ring di hidungnya untuk mempermudah penanganannya, mencegah perusakan lantai kandang, dan juga mencegah babi jantan menyeruduk betinanya yang dapat berpengaruh buruk pagi tingkat reproduksinya, termasuk keberhasilan perkawinannya. (Baca: Tingkah Laku Reproduksi Babi)

Pada saat menaiki, pejantan memegang betina dengan kaki depannya dan meletakkan perutnya sepanjang punggung betina. Panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan penis dan memasukkannya ke dalam vagina bervariasi, tergantung pada pengalaman pejantan. Pejantan yang tidak berpengalaman, beberapa kali menaiki dari depan, dan samping sebelum dapat memasukkan penisnya. Ejakulasi terjadi pada saat kepala penis terkait pada serviks babi betina.

Sikap diam betina merupakan suatu stimulus yang paling penting untuk terjadinya kopulasi pada semua jenis hewan. akan tetapi, dalam kasus perkawinan babi, betina harus berdiri diam selama beberapa menit, karena proses ejakulasi babi jantan cukup lama. Selama kopulasi terjadi, pejantan beberapa kali mendorong betina. Pejantan mengeluarkan semen dalam jumlah cukup banyak dibandingkan sapi jantan, sekitar 500ml. jika tahapan ejakulasi selesai, pejantan akan turun, menarik penisnya dan memasukkannya kembali kedalam preputium. kemudian pada fase istirahat pejantan akan menjilati betinanya.

Dalam peternakan babi, disarankan untuk mengawinkan babi betina muda dengan pejantan tua yang berpangalaman, dan sebaliknya betina tua yang berpengalaman dalam masa puncak birahi dapat dikawinkan dengan pejantan muda untuk melatihnya. Babi betina muda, biasanya menolak jika akan dikawinkan pertama kali, karena itu babi betina muda dapat ditemani oleh babi betina lainnya yang lebih dewasa dan tidak dalam keadaan birahi, karena dapat mengacaukan focus pejantan. Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengawinkan babi betina muda adalah dengan mengikatnya, namun cara ini akan menyebabkan stress yang berdampak pada angka konsepsi dan litter size sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. (Simak: Babi Bali – Babi Liar Bernilai Tinggi)

Perlu diingat dalam manajemen perkawinan babi, babi betina yang akan aktif mencari pejantan. Kontak social yang terjadi akan berkembang menjadi konkat seksual. Dilain pihak, pejantan akan menunggu tanda-tanda komunikasi birahi dari babi betina yang mendekat. Proses perangsangan pada perkawinan babi membutuhkan waktu yang cukup lama. Di alam, sepasang babi akan tetap bersama selama satu minggu dan kawin 7-11 kali dalam 70 jam periode kawin.

 

Tingkah Laku Reproduksi Babi

Tingkah Laku Reproduksi Babi

Reproduksi Babi

PecintaSatwa.com – Dalam keadaan liar, babi tinggal di daerah padat dalam kelompok keluarga kecil dengan satu atau lebih babi btina dengan keturunannya. Jantan dewasa tinggal terpisah dan bergabung dengan kelompok betina dewasa hanya pada saat kawin, proses ini menyebabkan perkawinan terjadi pada beberapa fase, sebagaimana yang diteliti oleh Signoret dkk (1979). (Baca: Babi Bali – Babi Liar Bernilai Tinggi)

Pembibitan Babi

Dalam peternakan modern, pembibitan babi dilakukan dengan memelihara babi betina dalam satu koloni, dengan mendekatkan kandang koloni babi betina tersebut dengan kandang babi jantan (imbangan populasi tidak dipertimbangkan), hal ini akan dapat menstimulasi aktifitas reproduksi babi betina (biostimuli), dibandingkan dengan pemeliharaan intensif babi betina tanpa babi jantan. Karena babi betina membutuhkan stimulasi babi jantan secara visual, bau dan audio (suara) untuk mengoptimalkan perkembangan system dan siklus reproduksinya. Bahkan, meski babi jantan dan betina tidak digabungkan dalam satu koloni, stimulasi visual, suara dan aroma khas babi jantan yang diletakkan didekat kandang betina akan tetap dapat berefek baik bagi reproduksi babi betina.

Masa Pubertas Babi

Kematangan seksual babi terjadi relative cepat. Pada babi jantan, pubertas terjadi pada umur 110-125 hari. pada awal pubertas, sudah terdapat spermatozoa fertile didalam testis namun kualitas dan jumlahnya masih belum mencukupi terjadinya pembuahan ovum. Ereksi penis baru terjadi setelah babi jantan berusia 4 bulan, dan sempurna pada umur 5 bulan. Ejakulasi pertama dapat dilakukan babi jantan setelah berumur 5-8 bulan. Jumlah kandunagn sperma dan volume semen babi akan terus meningkat hingga umur 18 bulan, setelah itu cenderung stabil.

Dewasa kelamin babi betina, relative lebih lama dibandingkan pada babi jantan. Babi betina mencapai pubertas pada usia 6-8 bulan, dan baru dapat bunting serta beranak pada umur 1 tahun. Selama fase pre-pubertal, ovarium babi betina berisi banyak folikel kecil (diameter 2-4mm) dan beberapa folikel medium (6-8mm). Keadaan ini akan terus berkembang hingga dewasa, pada babi betina dewasa pada fase luteal hingga awal fase folikuler, ovariumnya akan berisi sekitar 50 folikel kecil, kemudian terus berkembang dan terseleksi hingga tinggal 10-20 besar (8-11mm) pada fase proestrus dan estrus . berat uterus sebelum masa pubertas berkisar 30-60 gram, mendekati pubertas uterus akan berkembang hingga seberat 150-250 gram. Perkembangan uterus akan memicu peningkatan aktifitas steroidogenic ovarium, selama fase prepubertas. (Baca juga: Thoroughbred Horse – Si Anggun Berdarah Panas)

Umur pubertas sangat dipengaruhi oleh tingkat nutrisi, lingkungan social, berat badan, musim, breed, dan manajemen infeksi penyakit atau infestasi parasit. Babi betina mencapai kematangan seksual pada umur 183-247 hari. dengan rataan 209 hari, tergantung karakter masing-masing breed. Pada kasus keturunan hasil inbreeding, pubertas tercapai lebih lama, sekitar 243 hari. begitu pula dengan keturunan cross breed, maturity cenderung diatas rata-rata, yakni berkisar 228 hari. pemanfaatan pejantan sebagai detector pubertas dapat mempercepat terjadinya dewasa kelamin pada babi jantan karena terjadinya biostimulasi yang dipengaruhi keberadaan babi jantan.

 

Babi Bali – Babi Liar yang Bernilai Tinggi

Babi Bali – Babi Liar yang Bernilai Tinggi

Mengapa Babi digemari

Keunggulan Babi BaliSebagai salah satu ragam biodiversitas fauna di Indonesia, Babi merupakan salah satu ternak yang banyak dibudidayakan masyarakat Negeri ini setelah Sapi, Kambing-Domba, dan Unggas. Keberagaman yang menjadi identitas bangsa juga menjadi faktor penting mengapa populasi babi juga perlu dilestarikan. Babi merupakan komoditas tersendiri bagi rakyat yang menekuni usaha peternakan babi. Hewan ini mudah dibudidayakan karena bisa beradaptasi dengan baik bahkan dengan lingkungan yang tidak bagus sekalipun, babi merupakan hewan penghasil daging yang banyak digemari masyarakat Indonesia khususnya untuk masakan chinesse food, masakan khas bali,dan masakan khas beberapa daerah lainnya yang memiliki kepercayaan dan tradisinya tersendiri dalam hal pengolahan daging babi sebagai sajian keluarga.

Peternakan Babi Bali

Peternakan babi telah banyak ditemukan meskipun dalam skala yang kecil maupunskalabesardalam industry. Keberadaan babi menjadi sumber kebutuhan protein hewani yang bisa didapatkan oleh masyarakat, seperti halnya jenis daging merah lainnya.Babi yang sering diternakkan di daerah Banyuwangi sebagian besar berjenis Babi Bali. Dilihatdari morfologinya, Babi Bali memiliki kemiripan dengan babi hutan atau babi liar. Babi Bali merupakan salah jenis fauna asli Indonesia. Babi Bali disinyalir merupakan hasil perkawinan induk babi lokal dengan babi liar asia (Sus vittatus).

Letak geografis yang sangat dekat dengan Bali memang menjadi salah satu faktor mengapa populasi babi Bali di Banyuwangi juga diternakkan. Kemiripan iklim, lingkungan dan adat istiadat bagi sebagian masyarakat Banyuwangi yang beragama hindu juga sering mendatangkan babi Bali sebagai binatang peliharaannya.

Ciri Utama Babi Bali

  • Kulit dan bulu didominasi oleh warna abu-abu kehitaman. Namun ada beberapa yang memiliki corak putih karena mewarisi sifat dari induk babi putih lokal.
  • Ciri-ciri morfologi yang paling khas adalah bentuk tulang belakang babi ini yang menyerupai manusia yakni lengkungan pada daerah punggung sehingga bila terlalu gemuk, perut bisa menyentuh dasar tanah.
  • Struktur telinga yang tegak dan panjang sekitar 8-10 cm
  • Tinggi badan 50 cm serta panjang tubuh mencapai 90 cm.
  • Dalam sekali melahirkan, babi Bali bisa mencapai 10-12 ekor bayi dan itu ideal sesuai dengan jumlah puting susu yang terdapat di daerah dada hingga perut yakni 6 pasang.

Keunggulan Babi Bali

budidayaan Babi BaliKarkas Babi Bali ini sebagian besar akan dilapisi oleh jaringan lemak yang sangat tebal. Presentase lemak bisa mencapai sepertiga dari karkas. Babi dewasa yang siap untuk dipotong bisa mencapai bobot 90 Kg. Sifat khas dari daging babi yang sangat empuk meski memiliki ketebalan yang besar juga dimiliki oleh babi Bali. Rasio pertumbuhan babi Bali juga sangat tinggi bila dibandingkan dengan babi impor. Pola pemeliharaan yang sangat tradisional, bahkan dalam lingkungan kumuh pun masih bisa memungkinkan babi ini untuk berkembang baik sebagai hewan ternak rakyat.

Babi Bali ini sering digunakan dalam acara adat yakni persembahan dalam upacara keagamaan maupun hidangan syukuran. Selain sebagai hewan yang diambil dagingnya, Babi Bali juga dijadikan hewan pemburu dan penjaga rumah bagi warga yang tinggal di area hutan. Hal ini tentu wajar karena Babi Bali masih mewarisi sifat liar dari NenekMoyangnya. Bahkan keberadaan babi di setiap rumah warga bisa menjadi simbol tertentu dalam status sosial masyarakat.

Ke-khas-an Babi Bali tentu bukan hanya menjadi alasan betapa pentingnya usaha pembudidayaan Babi Bali, tingkat konsumsi masyarakat yang cenderung stabil dan akan terus meningkat karena mahalnya daging sapi, juga menjadi pertimbangan utama untuk terus melakukan perkembangan di bidang peternakan babi. Bagaimanapun juga keberadaan plasma nutfah dari spesies babi merupakan kekayaan negara yang patut terus dijaga kelestariannya.Cukuplah kita berlarian mengejar pemenuhan daging sapi nasional dengan importasi besar-besaran yang selalu diperdepatkan, jangan sampai kita harus mengimpor daging babijuga di kemudian hari, saat kita memiliki jenis ternak unggul yaitu Babi Bali.Lebih baik menggalakkan usaha pembibitan ternak, dari pada Negeri Tercinta menjadi bibit pundi-pundi kekayaan bangsa lain, dari usaha importasi ternak.