Nutrisi untuk Kambing dan Domba

Nutrisi untuk Kambing dan Domba

Pakan untuk Kambing dan Domba

PecintaSatwa.com – Seperti halnya sapi, kambing dan domba termasuk golongan ruminansia, keduanya memiliki lambung ganda dan memanfaatkan kerja bakteri rumen dalam sistem pencernaannya, karena itulah manajemen pakan pada peternakan kambing dan domba hampir mirip dengan sapi, namun tentu saja dengan jumlah yang berbeda berdasarkan ukuran tubuhnya.

Pakan yang dikonsumsi ternak, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya dan berproduksi, baik berupa perkembangan otot (daging) dan lemak juga pertumbuhan tubuh serta janin yang dikandung. Kebutuhan tersebut harus dipenuhi dengan pakan yang mengandung nutrisi seimbang diantaranya energi, protein, serat, lemak, vitamin, mineral dan air.

Baca: Tips Menghindari Polio Kambing dengan Ransum Pakan yang Tepat

Sebagaimana hewan herbivora lainnya, pakan utama kambing dan domba berupa tumbuh-tumbuhan, dapat berasalah dari jenis Forage seperti golongan rerumputan dan leguminosa dan roughage seperti jerami dan dedaunan limbah pertanian. Hijauan tersebut merupakan pakan basal kambing dan domba, karena itu proporsinya mendominasi, bahkan dapat dijadikan pakan tunggal terutama bagi para peternak tradisional dengan sistem ekstensif / penggembalaan.

Dedaunan untuk Kambing dan Domba

rumput dan dedaunan untuk pakan kambing dan domba
rumput dan dedaunan untuk pakan kambing dan domba

Tidak hanya rerumputan, beberapa jenis dedaunan juga sangat digemari kambing dan domba, contohnya daun turi, daun kedelai, daun kacang panjang, daun kaliandra, daun kacang tanah, daun lamtoro dan daun gamal. Jenis dedaunan tersebut sangat baik untuk ternak karena mengandung protein yang tinggi, akan tetapi beberapa jenis diantara mengandung zat anti nutrisi yang berbahaya bagi ternak, oleh sebab itulah sebaiknya dedaunan pakan ternak dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Dalam proses pelayuan / diangin-anginkan, zat anti nutrisi dalam dedaunan akan menguap, sehingga kadarnya menurun, tidak berdampak nyata bagi ternak.

Simak: Penyakit Orf dan Myasis pada Kambing dan Domba

Pemberian jenis hijauan sebanyak 10% dari berat badan berupa rumput maupun dedaunan merupakan pilihan peternak, namun apabila keduanya diberikan bersamaan dengan persentase tertentu akan dapat menghasilkan performa produksi yang lebih baik. Pada kambing dan domba usia lepas sapih disarankan memberi rumput sebesar 60% dan dedaunan 40%, usia dewasa dengan rumput 75% dan dedaunan 25%, pada kambing dan domba bunting rasionya sama dengan cempe sapihan, sedangkan pada tahap menyusui rasio rumput dan dedaunan 50:50.

Pakan Pelengkap untuk Kambing dan Domba

Tumbuh kembang kambing dan domba dapat maksimal dan berproduksi lebih baik apabila disamping diberi pakan hijauan juga diberi pakan pelengkap berupa konsentrat. Konsentrat, dibuat dengan menformulasi berbagai bahan pakan untuk menghasilkan pakan pelengkap yang tinggi protein dengan kandungan serat kasar (SK) dibawah 18% dan Total Digestible Nutrient (TDN) lebih dari 60%

Konsentrat yang diberikan pada kambing dan domba bertujuan untuk menutupi kekurangan zat gizi yang berasal dari hijuan, selain itu juga berfungsi sebagai sumber energi dan protein. Permasalahannya, harga konsentrat cenderung mahal, hal ini dapat disiasati peternak dengan menformulasikan konsentrat secara mandiri maupun dalam lingkup kelompok peternak. Agar lebih ekonomis, bahan pakan yang digunakan sebaiknya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Jenis limbah pabrik dan hasil samping pertanian dapat digunakan, diantaranya bungkil kedelai, bungkil kletheng, polard, bekatul, bungkil sawit, ampok jagung, onggok, molases, tepung tulang ikan dan masih banyak lagi.

Baca juga: Beternak Kambing Impor dan Peranakannya

Untuk kambing dan domba dewasa dengan tujuan penggemukan (12-18 bulan) dapat diberi konsentrat dengan kandungan Protein kasar (PK) 14-16%. Lain halnya denga pemeliharaan indukan domba yang akan dikawinkan, lebih baik diberi konsentrat dengan PK 18-20%, sedangkan pada ternak bunting dan laktasi dibutuhkan konsentrat dengan 14-16 dan tambahan kalsium, bisa melalui mineral blok. Konsentrat harian kambing dan domba dapat diberikan sebanyak 1-3% dari berat badan, tergantung fase produksinya. Pemberian konsentrat berlebihan sangat tidak disarankan pada jenis hewan ruminansia, karena dapat memicu tarjadinya acidosis metabolic.

Penyakit Orf dan Myasis pada Kambing dan Domba

Penyakit Orf dan Myasis pada Kambing dan Domba

Penyakit yang Menyerang Hewan-hewan Ruminansia

Di artikel sebelumnya pecintasatwa.com telah membahas beberapa breed domba dan kambing unggul untuk dibudidayakan baik jenis kambing dan domba lokal maupun impor dan peranakannya. Kali ini pecintasatwa.com akan mengulas tentang penyakit orf dan myasis, yang sering dijumpai pada kambing dan domba serta bagaimana cara mengatasi dan mencegahnya.

Penyakit Kambing dan Domba – Orf

Penyakit orf dapat menyerang hewan-hewan ruminansia, namun kasus tersebut lebih banyak dijumpai pada kambing dan domba terutama yang berumur 3-6 bulan. Orf disebabkan oleh virus parapox dari famili poxviridae. Penyakit ini termasuk zoonosis, dapat menular pada manusia.

Pada kambing atau domba penderita orf akan terlihat adanya ruam-ruam dan bintil-bintil merah disekitar moncong, basah bahkan bernanah. Beberapa hari kemudian, lesi tersebut akan menjadi kerak-kerak keropeng. Peradangan yang terjadi di moncong dapat menyebar ke bagian wajah yang lainnya seperti mata, dagu, dahi.

orf pada domba

Rasa gatal yang sangat akan dirasakan oleh kambing dan domba penderita orf, untuk mengurangi rasa gatal biasanya ternak akan menggosok-gosokan wajahnya pada kayu atau dinding kandang, rasa gatal yang mengganggu menyebabkan nafsu makan ternak menurun drastis, sehingga bobot badannya pun akan menurun drastis.

Tidak ada pengobatan yang efektif untuk menangani orf, karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Terapi antibiotika mungkin akan diberikan oleh dokter hewan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri. Multivitamin juga penting sebagai pendukung kondisi ternak terutama untuk meningkatkan nafsu makannya, dengan harapan kambing dan domba cukup kuat untuk bertahan dan memproduksi antibodi sebagai penawar alami penyakit tersebut. Pada ternak yang cukup kuat dengan infeksi virus tidak terlalu parah, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya setelah 4-6 minggu.

Simak: Tips Menghindari Polio Kambing dengan Ransum yang Tepat

Orf dapat menular dengan cepat, segera isolasi ternak-ternak dengan indikasi orf di kandang karantina yang cukup jauh dari kandang pemeliharaan. Kandang yang semula ditempati juga harus disemprot dengan desinfektan dan dikosongkan selama sekitar 1 bulan. Langkah pencegahan penyakit orf hanya dapat dilakukan dengan vaksinasi pada umur 1 bulan, kemudian dibooster pada bulan ke 2-3. Reaksi kekebalan akan timbul 7 hari setelah vaksinasi hingga 8-28 bulan kemudian.

 

Penyakit Kambing dan Domba – Myasis

Myasis merupakan istilah untuk luka terbuka yang diperparah dengan berkembangnya larva (belatung) didalamnya. Larva tersebut akan terus tumbuh dan menembus jaringan otot semakin dalam hingga memperbesar daerah perlukaan. Myasis dapat terjadi apabila kambing atau domba terluka baik karena tusukan, goresan atau gesekan permukaan kasar hingga tampak kulit bagian dalamnya dan keluar darah. Aroma darah yang anyir khas akan mengundang lalat untuk hinggap di luka tersebut. Lalat tidak hanya hinggap saja, ia juga menaruh telur-telurnya pada luka tersebut. Bentuk myais sangat khas, berupa lubang luka terbuka.

myasis

Telur lalat pada luka akan segera menetas menjadi larva, selanjutnya terus tumbuh dan berkembang pada luka tersebut. Larva hidup dengan memakan jaringan kulit dan rembesan darah sehingga dapat memperbesar luka dan memperlambat proses penyembuhan. Kambing dan domba yang mengalami myasis dapat menurun nafsu makannya akibat rasa nyeri dan tidak nyaman pada luka tersebut.

Peternak dapat memberi pertolongan pada ternak dengan kasus myasis menggunakan air tembakau. Daun tembakau kering atau tembakau rokok direndam dengan air selama beberapa jam, kemudian air rendaman ini disiram atau disemprotkan pada luka myasis hingga bagian dalam. Tak lama kemudian, biasanya larva akan keluar, ambil larva-larva yang keluar, dan bersihkan luka dengan antiseptik. Lebih praktis lagi jika peternak memiliki semprotan larvasida. Myasis dapat dicegah dengan menyemprotkan larvasida pada luka terbuka yang baru terbentuk setelah sebelumnya dibersihkan dengan antiseptik seperti iodin.

Baca: Jenis Kambing Asli Indonesia

Pengobatan

Metode pengobatan diatas merupakan tahapan pertolongan pertama yang dapat dilakukan peternak secara mandiri di kandang. Pada kasus ringan, pertolongan tersebut terbukti efektif, ternakpun berangsur-angsur membaik, namun apabila peternak menjumpai kasus yang sudah parah, lebih baik segera menghubungi dokter hewan, agar ternak secepatnya dapat ditangani lebih lanjut.

 

Jenis-Jenis Domba Budidaya di Indonesia

Jenis-Jenis Domba Budidaya di Indonesia

Budidaya Domba di Indonesia

PecintaSatwa.com – Bisnis peternakan di Indonesia terus menggeliat tak henti, berkejaran dengan kebutuhan penduduk akan bahan pangan penghasil protein hewani. Disamping daging ayam dan sapi, daging kambing dan domba juga menjadi sasaran utama komditas peternakan yang terus meningkat permintaannya di pasaran, terutama di masa-masa hari Raya Idul Adha, atau hari Raya Kurban, kebutuhan kambing dan domba menanjak drastis, sebagai bagian dari ceremony keagamaan yang telah membudaya dalam masyrakat. (Baca: Beternak Kambing Import dan Peranakannya)

Oleh karena itu berbagai cara dilakukan oleh para peternak untuk meningkatkan produksi ternaknya, termasuk diantaranya adalah memilih jenis / breed domba berkualitas untuk dibudidayakan, sehingga menghasilkan panenan maksimal.

Beberapa jenis domba unggul yang banyak dipilih oleh para peternak karena kelebihannya:

Domba Gembel

domba ekor tipis

Disebut juga sebagai domba ekor tipis. Domba gembel, termasuk golongan domba kecil untuk peruntukan daging, domba ini biasa dipotong setelah bobotnya mencapai 20-30kg. meski domba gembel jantan dapat mencapai bobot 30-35 dan domba betina 15-20kg. Pejantan domba gembel memiliki tanduk melingkar, sedangkan betinanya tidak bertanduk. Domba ekor tipis memiliki warna rambut dominan putih dengan sedikit warna hitam disekitar mata.

Domba gembel merupakan jenis domba asli Indonesia yang bersifat multipara atau dapat melahirkan lebih dari 1 anak dalam sekali kebuntingan, biasanya dapat menghasilkan 2-5 anakan kembar sekali lahir. Domba gembel banyak terdapat di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur.

Domba Ekor Gemuk

domba ekor gemuk

Seperti halnya domba ekor tipis, domba ekor gemuk dibudidayakan sebagai domba pedaging. Karakter yang khas dari domba ini adalah bagian ekornya yang menggemuk, memiliki deposit lemak yang tebal. Pejantan domba ekor gemuk dapat tumbuh hingga 40-60kg dengan tinggi badan 40-65cm, sedangkan betinanya hingga 25-35kg dengan tinggi badan 52-60cm. domba yang disebut kibas di Jawa ini memiliki warna rambut dominan putih, tanpa tanduk dan karakter wol kasar. (Simak pula: Jenis-jenis Kambing Asli Indonesia)

Domba ekor gemuk banyak dijumpai di Jawa Timur (termasuk Madura), pulau-pulau di Nusa Tenggara dan di Sulawesi Selatan dengan sebutan Domba Donggala.

Domba Garut

domba garut

Domba garut terkenal sebagai domba aduan, dengan tanduk besarnya yang kuat dan melengkung ke bawah dan lehernya yang kuat. Diduga domba garut berasal dari persilangan 3 jenis domba, yakni Domba Ekor Tebal, Domba Merino dan Domba Parahyangan, kemudian secara turun menurun dikembang biakkan di Priangan dan sekitarnya, karena itu domba garut juga disebut domba Priangan

Domba garut memiliki variasi warna yang beragam, yakni putih, coklat, hitam atau kombinasi ketiganya. Pejantan dewasa domba garut dapat mencapai bobot lebih dari 60kg dengan tanduk besar yang khas, sedangkan betina dewasa lebih dari 30kg, tanpa tanduk.

Domba Batur

domba batur

Sebagaimana namanya, domba ini banyak dibudidayakan di daerah Batur, Banjarnegara Jawa Tengah. Domba batur dihasilkan dari persilangan domba ekor tipis, domba Suffolk dan domba texel. Domba ini tergolong domba besar dengan bobot pejantan dewasanya lebih dari 90kg, dan betinanya lebih dari 80kg. domba batur berwarna putih diseluruh tubuhnya dan muka, tanpa memiliki tanduk, baik jantan maupun betinanya.

Dombos

dombos

Dombos atau Domba Texel Wonosobo berasal dari Belanda, sengaja didatangkan oleh Pemerintah pada tahun 1954-1955 untuk dikembangkan di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun sayangnya domba Texel dari negeri Kincir Angin ini tidak dapat berkembang dengan baik, sehingga domba Texel yang masih tersisa dipindahkan ke Wonosobo oleh Pemerintah, dan di daerah tersebutlah Domos dapat berkembang dengan baik.

Domba Texel merupakan jenis domba pedaging dengan bobot pejantan dewasa dapat mencapai 100kg. setiap harinya pertambahan bobot badan yang dapat dicapai domos berkisar 265-285 gram/ekor/hari apabila dipelihara secara intensif. Di samping itu, Domos juga penghasil wol yang baik, dengan karakter wol keriting spiral halus berwarna putih yang terdapat hampir di seluruh tubuhnya kecuali kepala, perut bagian dalam dan perut bagian dalam. (Baca: Kambing PE – Kambing Blasteran Hindi Lokal Multifungsi)

Domba Merino

domba merino

Domba Merino termasuk domba berukuran sedang, pejantan dewasanya dapat mencapai bobot 70-80 kg, sedangkan betinanya 50-60 kg. domba yang terkenal dengan kualitas wolnya ini berasal dari kawasan Asia Kecil, namun saat ini telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, khususnya negara-negara subtropis, karena memang domba merino lebih cocok dipelihara di daerah 4 musim.

 

 

Beternak Kambing Impor dan Peranakannya

Beternak Kambing Impor dan Peranakannya

Kambing Impor dan Peranakannya

  1. Kambing Etawa
kambing etawa

Di Negri asalnya, India. Kambing ini juga dipanggil kambing Jamnapari. Kambing ettawa sudah popular diseluruh dunia sebagai kambing penghasil susu, disamping bentuk fisiknya yang besar dan kuat dibanding dengan kambing lokal Indonesia, sehingga juga pejantannya juga diperuntukkan sebagai kambing pedaging.

Harga susu kambing ettawa yang mahal, dan semakin boomingnya produk-produk kesehatan dan kecantikkan yang berbahan susu kambing ettawa, membuat budidaya kambing ini menjadi incaran para pebisnis dan peternak lokal. Setiap hari nya kambing ettawadapat memproduksi susu hingga 3 liter, paling banyak dibandingkan dengan jenis kambing lainnya, harga susu nya pun bisa mencapai 4-5 kali harga per liter susu sapi.

Bentuk telinga panjang menjuntai ke bawah menjadi ciri khas kambing ettawa, bahkan ketika ia disilangkan dengan jenis kambing lain, maka bentuk telinganya ini selalu menjadi sifat dominan yang diwariskan pada keturunannya. Kambing ettawa jantan dapat tumbuh hingga 90-127cm dengan berat 91kg, sedangkan betinanya dapat mencapai 92cm dengan berat 63kg. (Simak : Jenis-jenis Kambing Asli Indonesia)

  1. Kambing Boer
kambing boer

Kambing ini dijuluki sebagai kambing pedaging yang sebenarnya. Kambing asli benua hitam ini dapat tumbuh pesat hingga mencapai 120-150 kg untuk pejantan, dan betinanya 80-90 kg. di usia 5-6 bulan bobot badannya sudah setara bahkan lebih dari kambing kacang, sekitar 30-45kg, dan akan terus berkembang dengan pertambahan bobot harian 0.02-0.04kg/hari.

Kambing boer juga unggul dengan kemampuan adaptasinya yang begitu hebat. Ia dapat hidup di suhu ekstrim dibawah 0oC hingga suhu panas 40-43oC, baik di daerah pegunungan, semak belukar, padang rumput, dan lembah berbatu. Kekebalan tubuhnya yang baik, dan sifat-sifat unggulnya selalu menjadi minat utama para peternak untuk memilih kambing boer.

Warna putih di seluruh tubuh sangat khas pada kambing boer, kecuali bagian mukanya yang cenderung berwarna kecokelatan. Bentuk tubuh kambing boer tampak padat, panjang dan lebar, dengan kaki pendek, telinganya panjang menggantung.

  1. Kambing Saanen
kambing saanen

Kambing Saanen lebih diperuntukkan sebagai kambing penghasil susu. Kambing ini genotip asli Swiss barat, dari lembah Saanen. Di negeri asalnya ia merupakan jenis utama kambing penghasil susu, akan tetapi perkembangannya kurang baik di Indonesia karena kepekaannya pada suhu panas Negara tropis. Karena itu, kambing saanen yang dijumpai di Indonesia bukanlah kambing saanen murni, akan tetapi jenis yang telah disilangkan dengan kambing Etawa, namun tetap dinamai kambing saanen.

Ciri kambing Saanen yang paling khas adalah warna tubuhnya yang putih,atau krem muda, berbulu pendek disertai titik hitam di ambing, telinga dan hidung. Kambing saanen memliki ekor yang pendek dan tanduk baik pada jantan maupun betinya. Kambing jantan dewasa dapat mencapai berat 68-91kg, dan tinggi 81-94cm, sedangkan berat dewasa betinanya berkisar 36-63 kg. sekali masa laktasi, kambing ini dapat memproduksi susu hingga 740kg.

  1. Kambing Jawarandu
Kambing jawarandu

Dikalangan peternak kambing disebut juga sebagai kambing Bligon, Gumbolo, Kacukan dan Koplo. Kambing Jawarandu merupakan hasil persilangan kambing ettawa dan kambing kacang, akan tetapi lebih dominan sifat kambing kacang.

Secara fisik ia memiliki telinga besar terjuntai seperti kambing etawa, namun fisiknya tidak sebesar etawa, kambing dewasanya mencapai berat 40kg dengan tanduk kecil dan warna-warna yang lebih mirip jenis warna kambing jantan. Susu yang dapat diproduksinya lebih banyak dari kambing kacang, yakni 1,5L/hari, separuh dari yang dapat dihasilkan kambing ettawa.

  1. Kambing Peranakan Etawa (PE)
Kambing peranakan etawa

Namanya sudah menunjukkan asalnya, kambing PE merupakan peranakan antara kambing ettawa dan kambing kacang, namun secara fisik ia lebih menyerupai kambing etawa dengan tingkat adaptasi sebaik kambing kacang. Saat ini kambing PE sangat popular di kalangan peternak kambing, baik dimanfaatkan sebagai penghasil susu maupun penghasil daging, karena itu tidak heran jika anda mudah menjumpainya dimanapun, hampir seluruh Indonesia telah dijelajahi kambing PE.

Sebagaimana indukannya, kambing PE memiliki telinga panjang yang terkulai ke bawah selayaknya kambing Etawa, selain ia juga memiliki bulu panjang di bagian dagu, paha bagian belakang, dan kaki, disertai dengan tanduk kecilnya yang pendek.

Kambing PE dewasa jantan dapat mencapai berat 90an kg, sedangkan betina 60kg, dengan produksi susu 3L/hari, tak kalah dibanding dengan kambing ettawa asli.

  1. Kambing Gembrong
Kambing gembrong

Kambing gembrong, boleh dikata sebagai kambing gondrong. Karena ia tergolong jenis kambing longhair. Panjang rambutnya dapat mencapai 25-35cm, dapat menutupi wajahnya yang menyebabkan ia kesulitan makan, karena itu secara rutin peternak harus memotong bulunya minimal sekali setahun.

Kambing ini lebih banyak berada di pulau Bali bagian timur, terutama di Kabupaten Karangasem. Akan tetapi secara genetic, kambing gembrong bukanlah ras kambing asli Indonesia, ia berasal dari silangan kambing khasmir dan kambing turki. Tempat asalnya yang dingin mewariskan karakter longhair, meski telah dipelihara didaerah tropis, karakter ini tetap menjadi ciri khasnya meski tidak sepanjang induk asalnya.

Kambing gembrong memiliki keterikatan yang unik dengan masyrakat Bali bagian timur, khususnya daerah pesisir, dimana potongan rambutnya biasa digunakan nelayan untuk mengundang ikan datang, meski hingga sekarang belum dapat dijelaskan secara ilmiah keterkaitannya. Cara ini sudah umum digunakan masyarakat pasisir timur pulau Bali. Selain itu, juga dipercaya bahwa hanya pejantan yang tidak dikawinkan yang dapat menghasilkan rambut lebat dan baik untuk tradisi ini, karena itu lah peternak yang memiliki kambing gembrong jantan jarang mau mengawinkan kambingnya, akhirnya karena kepercayaan ini, laju pertumbuhan kambing gembrong sangat lambat, akibatnya jumlah kambing gembrong semakin menurun dari waktu ke waktu.

Kambing gembrong dewasa dapat mencapai berat 32-45 kg dengan tinggi 58-65 cm. warna rambut putih lebih dominan dijumpai, meski beberapa memiliki warna coklat atau coklat muda.

  1. Kambing Kosta
kambing kosta

Kambing Kosta tidak berasal dari costarica, meski namanya sangat barat, kambing ini ternyata berasal dari persilangan antara kambing kacang dan kambing khasmir. Saat ini kambing kosta banyak dibudidayakan di DKI Jakarta dan Provinsi Banten, meski jumlahnya terus menyusut setiap tahunnya.

Motif garis sejajar pada bagian kanan dan kiri kambing kosta merupakan ciri khasnya yang unik, disamping bentuk tubuhnya yang sedang, hidung rata dan adanya bulu rewos pada kaki belakangnya meski tak sepanjang yang dimiliki kambing Etawa. Postur tubuh kambing kosta lebih padat dan besar di bagian kaki belakang dan sekitarnya, karena itu sangat cocok dijadikan kambing pedaging. (Pelajari juga: Tips Menghindari Polio Kambing dengan Ransum yang Tepat)

  1. Kambing Boerawa
Kambing boerawa

Jenis Boerawa didapat dari mengawinkan pejantan kambing Boer dan Betianya kambing Etawa, dengan tujuan menghasilakan jenis kambing dwiguna yang memiliki perawakan besar seperti kedua indukannya, daging yang berkualiatas dan adaptasi yang baik seperti kambing boer dan produksi susu yang tinggi dan berkualitas seperi kambing ettawa. Para peternak kambing di Lampung sudah mulai banyak memilih kambing Boerawa sebagai komoditas usahanya.

 

Jenis – Jenis Kambing Asli Indonesia

Jenis – Jenis Kambing Asli Indonesia

Memilih Jenis Kambing Lokal untuk Budidaya

PecintaSatwa.com – Bertumbuhnya perekonomian Indonesia tak ayal meningkatkan level sosial masyarakat juga, hal ini pun diiringi dengan melejitnya kebutuhan daging masyarakat dari tahun ke tahun. Berbagai solusi alternatif diusulkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan daging nasional tanpa impor, salah satunya adalah dengan pengembangan peternakan kambing, untuk mengalihkan kebutuhan daging sapi. Lantas mengapa dipilih daging kambing sebagai subtitusinya?? Sebagaimana kita tau, kambing merupakan ternak penghasil daging yang dapat tumbuh lebih cepat dibanding sapi, disamping itu ia merupakan jenis hewan ruminansia multipara yang dapat menghasilkan lebih satu anak dalam satu kali kelahiran, berbeda dengan sapi yang hingga saat ini pengusahaan bunting kembar sangat beresiko karena memang sapi tergolong ruminansia unipara. (Baca: Kambing PE kambing blasteran Hindi lokal yang multifungsi)

Para investor dibidang peternakan saat ini pun mulai beramai-ramai menginvestasikan dananya untuk mengembangkan peternakan kambing, terlebih jika nasionalisme kita tinggi, lebih baik membudidayakan dan mengkonsumsi daging kambing disaat lumbung daging sapi kita sedang lesu daripada harus impor, membeli produk bangsa lain, yang hanya memperkaya mereka dan menurunkan kemandirian dan kreatifitas kita. Bagi anda yang mulai tertarik untuk membudidayakan kambing, beberapa jenis kambing dibawah ini dapat anda jadikan pilihan produk unggulan anda:

Kambing Lokal Asli Indonesia

  1. Kambing Marica
kambing marica

Kambing ini merupakan kambing asli Indonesia, tepatnya berasal dari provinsi Sulawesi Selatan. Banyak di jumpai disekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng, Kota Makasar dan sekitarnya. Jumlah kambing marica saat ini tidak terlalu banyak, bahkan mulai menuju kelangkahan, karena itu sebelum hewan ini hanya berada dalam wilayah konservasi, sudah selayaknya kita serius membudidayakannya.

Fisik kambing Marica tidak terlalu besar, sebagaimana jenis kambing lokal Indonesia. Karakter kambing marica yang khas, adalah tanduk kecilnya diantara 2 telinga pendek tegak, kambing ini cenderung lincah dan agresif. Salah satu keunggulan kambing ini terletak pada kemampuan adaptasinya, ia dapat bertahan hidup dengan baik pada musim kemarau yang minim pakan, bahkan dilahan kering dengan curah hujan rendah.

  1. Kambing Muara
kambing muara

Nama kambing ini didasarkan pada tempat asalnya di Tapanuli Utara – Provinsi Sumatera Utara, tepatnya di kecamatan Muara. Tubuh kambing muara terlihat lebih kompak dan tegak, ia memiliki beberapa variasi warna seperi cokelat kemerahan, putih, hitam yang saling bercampur, bahkan satu ekor kambing dapat memiliki 3 hingga 4 warna.

  1. Kambing Samosir
kambing samosir

Disebut juga dengan kambing Batak atau Kambing Putih. Kambing ini telah turun temurun dipelihara oleh masyarakat pulau Samosir di tengah danau Toba, Provinsi Sumatera Utara. Awalnya kambing samosir digunakan sebagai kambing persembahan pada jaman agama animisme, dengan syarat harus kambing berwarna putih bersih, karena itu masyarakat setempat sangat selektif membudidayakan kambing samosir, dan hanya meneruskan keturunan kambing yang berwarna putih dominan saja, sehingga tak heran saat ini jenis kambing samosir paling umum dijumpai berwarna putih dominan.

Secara fisik, sebenarnya kambing samosir sangat mirip dengan kambing kacang yang dibudidayakan di sumatera utara, tapi karena sudah menjadi legenda turun temurun sebagai hewan ternak masyarakat samosir, nama kambing samosir selalu lekat di hati masyarakat Toba.

  1. Kambing Kacang
kambing kacang

Kambing kacang merupakan jenis kambing lokal yang bersebarannya paling luas di Indonesia, kambing ini pun banyak dijadikan indukan untuk disilangkan dengan jenis kambing unggul lainnya baik sesama kambing lokal maupun jenis kambing yang berasal dari belahan dunia lainnya.

Kambing kacang memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa baik di lingkungan tropis, suhu yang panas disertai dengan terbatasnya makanan pada musim kemarau tidak menghalangi kambing kacang terus tumbuh. Oleh karena itu lah, kambing kacang umumnya dijadikan salah satu indukan kambing unggul persilangan, diharapkan jenis kambing baru yang didapat akan mewarisi kemampuan adaptasi kambing kacang, sehingga dapat berproduksi dengan baik di Negara tropis seperti Indonesia.

Ukuran tubuh kambing kacang tidak terlalu besar, berkisar 60-65cm dengan berat 30kg untuk pejantan dan 56cm dengan berat 25 kg untuk betina. Baik jantan maupun betina memili tanduk dan bulu pendek, variasi warnanya beragam seperti hitam, putih, coklat, dan kombinasinya. Kambing kacang tergolong kambing pedaging. (Simak: Tips Menghindari Polio Kambing dengan Ransum yang Tepat)

  1. Kambing Lakor
kambing lakor

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2912/Kpts/OT.140/6/2011 tanggal 17 Juni 2011, kambing lakor di sah kan sebagai sumber daya genetik asli Indonesia yang berasal dari Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku

Untuk jenis kambing lokal Indonesia, kambing lakor tergolong cukup besar, pejantan kambing lakor dapat mencapai bobot 70 kg dengan tinggi 76cm, sedangkan betinanya sekitar 40kg dengan tinggi sekitar 68cm.

Tubuh kambing lakor berwarna dominan warna polos dengan kombinasi belang putih atau kehitaman, dengan warna kepala lebih gelap dari badannya.

 

Tips Menghindari Polio Kambing dengan Ransum Pakan Tepat

Tips Menghindari Polio Kambing dengan Ransum Pakan Tepat

Polio pada Kambing

Polio pada Kambing
Polio pada Kambing

Penyakit polio sangat sering terdengar, karena banyaknya kasus yang terjadi di lapangan. Kasus terbaru yang bisa digali tentang penyakit ini sebenarnya tidak hanya familiar sebagai jenis penyakit yang menyerang manusia terutama balita. Polio pada hewan juga menjadi salah satu penyakit strategis yang meski jarang terjadi namun angka kematian yang ditimbulkan sangat tinggi. Bagi peternak terutama peternak kambing seharusnya tidak asing dengan salah satu penyakit mematikan ini.

Penyebab polio kambing

Polio kambing atau biasa dikenal dengan Polioencephalomalacia (PEM) merupakan salah satu penyakit metabolik. Penyakit ini menyerang sistem saraf dan koordinasi gerak. Penyebab utama penyakit yang bersifat metabolik ini adalah defisiensi vitamin B1 (Thiamin).

Sistem pencernaan kambing yang tergolong hewan ruminansia sangat bergantung dengan kondisi mikrobial rumen. Pemberian pakan butiran kering dan rasio konsentrat yang terlalu tinggi pada rumen kambing sangat berpengaruh pada aktivitas mikroba rumen. Dalam kondisi intake pakan butiran kering dan konsentrat berlebihan, mikroba rumen terutama spesies Bacillus aneurinolyticus dan Clostridium sporogenes akan menghasilkan tiaminase. Tiaminase inilah yang berpotensi memecah tiamin dan mengakibatkan kegagalan katabolisme karbohidrat. Kekurangan sumber energi dan glukosa dari karbohidrat akan mengurangi sistem koordinasi dan neuromuskular yang berujung pada kejadian penyakit PEM ini.

Baca: Kambing PE – Kambing Lokal yang Multifungsi

Selain pemberian pakan dan konsentrat yang mampu menginduksi tiaminase berlebihan sehingga berdampak defisiensi tiamin, terdapat faktor lain yang menyebabkan produksi tiaminase berlebih antara lain, penggunaan terapi antiprotozoa amprolium dalam jangka waktu yang lama, penggunaan antihelmintik dalam dosis tinggi, konsumsi pakan yang terkontaminasi sulfur, dan pola pakan grazing yang dikembangkan dengan pupuk pasterurisasi.

Kenalilah gejala polio kambing

Polio Mata Kambing
Polio Mata Kambing

Meskipun jarang terjadi namun perkembangan penyakit ini dapat bersifat kronis bahkan akut yang berakibat kematian mendadak. Seperti pada umumnya kambing yang mati mendadak, manifestasi terburuk penyakit PEM ini bisa dikelirukan kematian akibat kembung (bloat) bahkan keracunan pakan. Tanda spesifik yang bisa diamati untuk membedakan dengan penyakit lain, PEM ini menunjukkan gejala sempoyongan saat berjalan dengan kepala dan leher ditengadahkan ke atas. Tanda lain bisa dideteksi dengan adanya peningkatan temperatur tubuh, detak jantung dan respirasi yang meningkat. Kelumpuhan pada otot terutama pada kaki dan rahang bawah tampak bila penyakit bersifat akut. Tanda yang sangat khas akan tampak kaku otot pada mata, nystagmus serta kekeruhan pada bola mata sehingga bisa dikelirukan dengan penyakit pink eye.

Ini lho: Sapi Madura – Ternak Primadona

Terapi polio kambing

Penyakit ini sudah tampak jelas hanya dengan melihat gejala umum dan spesifik serta keterangan dari pemilik tentang pola ransum pakan yang dikonsumsi kambing. Pengobatan cepat yang bisa diberikan adalah dengan terapi vitamin B1, anti radang dan terapi cairan jika diperlukan. Terapi tersebut dapat meringankan efek inflamasi dan mengganti nutrisi dari karbohidrat yang berkurang drastis akibat defisiensi tiamin.

Mencegah polio kambing dapat dilakukan dengan formulasi pakan yang tepat sesuai nutrisi ideal kambing. Penggunaan hijauan, pakan kering dan konsentrat yang dikombinasikan dengan mineral yang dibutuhkan kambing akan sangat membantu mencegah penyakit polio. Hindarilah penggunaan pakan kering dan konsentrat dalam rasio terlalu tinggi terlalu sering yang dapat beresiko tinggi pula menyebabkan penyakit polio.

Simak pula: Sapi tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?

 

Kambing PE – Kambing Blasteran Hindi-Lokal yang Multifungsi

Kambing PE – Kambing Blasteran Hindi-Lokal yang Multifungsi

Asal Usul Kambing PE

Kambing Ettawa menjadi salah satu jenis ruminansia kecil yang dimanfaatkan produksi susunya. Kambing yang diyakini berasal dari India ini memang memiliki keunggulan sebagai hewan produksi susu selain susu sapi yang biasa dikonsumsi oleh manusia. Kambing ettawa dikatakan berasal dari India karena memiliki ciri fisik layaknya kambing Jamnapari yang banyak diternakkan dan memiliki populasi kolosal di daerah Agra dan Ettawa. Kambing ettawa yang diimpor dari India ini telah disilangkan dengan kambing lokal Indonesia oleh masyarakat dan menghasilkan kambing peranakan ettawa (PE) yang kini banyak digandrungi oleh komunitas pecinta kambing. Bahkan melalui usaha peternakan baik skala kecil maupun besar, keberadaan kambing PE kini bisa menjadi produsen susu alternatif disamping hasil sapi perah.

Kambing PE sangat mudah dipelihara karena beberapa alasan, yakni kecocokan dengan kondisi lingkungan terutama daerah dingin, postur tubuh yang proporsional, serta tidak membutuhkan lahan dan modal yang terlalu banyak untuk memeliharanya. Alasan itulah yang membuat banyak kambing PE diternakkan, terlebih lagi masih banyak masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani, sehingga dengan memelihara kambing PE dapat menjadi tabungan dan aset tersendiri diluar panenan sebagai penghasilan utamanya.

Ciri Khas Kambing PE

Kambing PE memiliki ciri fisik yang khas. Seperti asal bibitnya dari India yakni kambing ettawa, kambing PE memiliki gesture tubuh tegak dengan kepala dan leher yang tinggi menjulang, sementara tulang punggung hingga pinggul melengkung ke bawah. Ekor kambing PE juga pendek dan tegak. Keempat kakinya sangat kokoh, sehingga apabila dilihat tampak sangat gagah untuk seekor kambing. Kambing PE identik dengan perpaduan waran hitam, putih dan cokelat dengan mayoritas didominasi warna hitam pada kepala hingga leher dan putih pada seluruh tubuhnya. Bagiandahi juga tampak lebih cembung, bergelambir dan cukup besar.

Dominasi bulu lebat dan panjang juga membuat kambing PE tampak lebih elegan. Ciri khas yang lebih spesifik adalah kambing PE memiliki telinga yang panjang dan menjulur ke bawah serta struktur rahang bawah yang tampak lebih maju dari rahang atas. Tak heran dengan struktur rahang tersebut, kambing PE lebih menyukai pakan yang digantung daripada di atas tanah. Terlebih pakan rumput yang berukuran pendek akan sangat menyulitkan proses prehensi sebelum dimastikasi oleh hewan ruminan ini. Bahkan begitu panjangnya telinga dari kambing PE akan menyulitkan melihat pakan yang berada di atas tanah karena ketika menundukkan kepala bisa jadi telinga akan sampai terlebih dahulu di atas tanah dan menutupi area pakan rumput.

Masa Reproduksi Kambing PE

Kambing PE akan mencapai masa siap kawin pada usia 18-19 bulan. Selanjutnya betina yang telah bunting dapat melahirkan anak pertama pada kisaran usia 23-24 bulan. Berdasarkan pengalaman seringkali kambing PE malahirkan 2 ekor anak bahkan bisa jadi 3-4 ekor anak yang dilahirkan dalam sekali proses partus. Pertambahan bobot lebih cepat pada anakan jantan. Pasca kelahiran baik jantan maupun betina memiliki bobot kisaran 3-4 Kg. Namun pada usia setahun bobot jantan bisa mencapai 40 Kg. Bobot tersebut 10 Kg lebih tinggi dari betina yang berusia setahun yang hanya berkisar 30-35 Kg.

Keunggulan Kambing PE

Pemerahan Susu Kambing PE
Pemerahan Susu Kambing PE

Keunggulan beternak kambing PE terikat erat dengan fungsi dan manfaatnya. Kambing PE memiliki produksi susu yang cukup tinggi dengan volume antara 1-4 liter per hari. Komposisi solid non fat (SNF) yang rendah dan nutrisi yang tak kalah dari susu sapi menjadikan konsumsi susu kambing PE juga digemari oleh konsumen. Hanya saja dibutuhkan cara tertentu untuk mengurangi bau dan aroma susu yang sedikit prengus karena identik dengan lemak kambing pada umumnya.

Beternak kambing PE juga dapat dimanfaatkan dagingnya,karenaproposidagingnya relative lebihbanyakdarikambinglokal. Tidak jarang apabila sudah tidak berproduksi susu secara ideal, maka pilihan untuk mengambil manfaat daging kambing PE sering dilakukan peternaknya, khususnya untuk hari raya idul qurban dan peringatan aqiqah anak serta pesta dan perayaan hari-hari tertentu.

Sebagian penghobi dan penggemar kambing PE juga sering mengikutkan ke dalam kontes dan memiliki kelas tersendiri dengan kategori yang sesuai dengan porsi kambing kontes. Begitu multigunanya kambing PE, sehingga memang tak salah apabila masyarakat kita sangat mengaguminya.