Cara Tahu Umur Sapi dari Giginya

Cara Tahu Umur Sapi dari Giginya

Metode Formasi Gigi pada Sapi

PecintaSatwa.com – Sudah dikenal luas dikalangan peternak sapi dan pebisnis daging tentang metode perkiraan umur sapi melalui pemeriksaan gigi. Tanggalnya gigi susu dan tumbuhnya gigi seri permanent dapat digunakan untuk mengetahui kisaran umur sapi dengan melihat jumlah dan tingkat ke-aus-an gigi, namun apakah metode ini tepat??.

Penentuan usia sapi secara akurat dan pasti hanya dapat dilakukan melalui recording, yakni pencatatan data diri ternak mulai tanggal ia lahir dan informasi kesehatan lainnya. Hal ini tentulah sangat sulit dilakukan jika ternak yang dibeli sudah dewasa, berasal dari supplier, bukan dari peternak yang mengetahui betul kapan sapinya lahir. Karena itu perkiraan umur sapi dengan mengamati formasi gigi dapat di jadikan solusi praktis untuk mengetahui umur sapi. (

Formasi gigi Sapi

Baca: Pentingnya Susu Pengganti bagi Pedet Pedaging yang Baru Lahir)

Keakuratan metode formasi gigi memang tidak dapat dikatakan akurat dan pasti, akan tetapi metode ini cukup tepat untuk mengetahui kisaran umur sapi tersebut, bukan umur pasti sapi. Penentuan kisaran umur sapi penting untuk dilakukan dalam pemeliharaan sapi terlebih dalam skala industry, baik feedlot, breeding, maupun dairy.

Pada industri penggemukan sapi, umur sapi digunakan sebagai salah satu patokan untuk menentukan kualitas pertumbuhan dan dagingnya, sapi yang masih muda, sehat, dan tidak terlalu kurus adalah pilihan yang tepat sebagai sapi bakalan, karena tingkat pertumbuhannya sangat cepat, di masa keemasan pertumbuhan. Kecuali, untuk stock jual sapi kurban, sapi bakalan yang akan dipelihara harus sudah poel (tanggal gigi), sebagai salah satu persyaratan kurban dalam kepercayaan agama Islam.

Untuk peternakan pembibitan, biasanya sapi dara yang belum pernah beranak yang menjadi pilihan utama, dengan umur di bawah 2 tahun, untuk mempermudah penatalaksanaan program reproduksi dan rekam medisnya. sedangkan sapi-sapi tua diatas 6-7 tahun lebih sering dihindari karena diperkirakan sudah pernah beranak 3 hingga 5 kali, hal ini tentunya kurang menguntungkan bagi industry pembibitan sapi.

Beda Gigi Susu dan Gigi Permanen pada Sapi

Sebagian besar pedet (anak sapi) telah bergigi saat dilahirkan, giginya akan terus tumbuh sempurna menjadi gigi susu, gigi pertama hewan sebelum dewasa. Gigi susu berbentuk menyerupai segi lima, dengan permukan runcing di atas, dan bagian meramping kearah gusi. Gigi susu ini akan bertahan hingga umur 2 tahun, kemudian tanggal digantikan oleh gigi seri permanen. Gigi seri permanen berbentuk lebih besar hampir persegi, kokoh, kuat dan lebih halus permukaanntya dari pada gigi susu. Biasanya gigi seri permanent akan tumbuh sepasang-sepasang menggantikan gigi susu mulai dari gigi seri 1 yang terletak di bagian tengah formasi gigi, atau yang terdepan dari mulut. (Ketahui: Cara Merawat Pedet Sapi Pedaging)

Cara Mengetahui Umur Melalui Gigi Sapi

Untuk mengetahui umur sapi melalui gigi, anda perlu membuka mulut sapi, mengamati gigi nya dan membandingkan dengan gigi yang lainnya. Anda tidak dapat langsung membuka mulut sapi ketika menjumpainya, tentu saja ia akan berontak, dan satu kibasan kepalanya saja cukup membuat tangan anda keseleo, berhati hati lah.

Pertama-tama, hadling/pegang sapi dengan baik. Jika ia berkeluh hidung, pegang tali keluh hidungnya, agak ditarik sedikit hingga ia tidak berontak, cukup sedikit saja menariknya, jangan terlalu menyakitinya jika si sapi sudah menuruti kehendak Anda. Lakukan handling dengan tangan kanan, dengan kuat dan hati-hati. Kemudian dengan tangan kiri anda yang bebas, buka mulut sapi, bagian bibir sebelah bawah dan amati giginya, apakah sudah tumbuh gigi seri permanent, ataukan masih gigi kecil meruncing?? Catat pengamantan anda dan bandingkan dengan tabel indikator usia berdasarkan gigi seri permanen, jika anda tidak hafal.

Jika terlalu sulit bagi anda untuk melakukannya sendiri, karena kemampuan handling membutuhkan jam terbang yang tinggi, anda dapat menggunakan tali untuk mengikat tali keluh hidung dan menaikkan posisi kepala sapi, sehingga kedua tangan Anda bebas untuk mengamati gigi sapi. Namun ingat, ikatkan tali tersebut pada pagar atau tiang yang benar-benar kuat, hindari mengikatkannya pada ranting pohon atau kayu rapuh.

Jika cara kedua masih sulit, Anda bisa minta tolong kepada petugas kandang untuk handling sapi, dan anda bebas mengkesplorasi gigi sapi. Jangan terlalu lama mengamatinya, karena dalam keadaan di handling , sebenarnya sapi merasa sedikit sakit karena hidungnya ditarik, dia bisa saja berontak. Itu berbahaya bagi anda dan petugas kandang yang menemani anda, jadi lakukan pengamatn gigi dengan cepat dan tepat.

Kategori Indikasi Umur Sapi Berdasarkan Gigi

Setelah anda mendapatkan data jumlah gigi seri permanent yang telah tumbuh dan tingkat keausannya, Anda dapat menentukan umurnya berdasarkan kategori berikut:

  1. Gigi susu penuh, belum ditemukan gigi seri permanen = dibawah 2 tahun
  2. 2 gigi seri permanen = 2 tahun 3 bulan
  3. 4 gigi seri permanen = 3 tahun
  4. 6 gigi seri permanen = 3 tahun 6 bulan
  5. 8 gigi seri permanen = 4 tahun
  6. Gigi seri permanen tampak aus = sapi tua, lebih dari 4 tahun

Cukup sederhana bukan, silahkan anda terapkan pada ternak peliharaan anda dirumah, dan selalu berhati hati saat handling, demi keselamatan Anda dan petugas kandang Anda. Selamat Mencoba…

 

Pentingnya Susu Pengganti Bagi Pedet Pedaging Baru Lahir

Pentingnya Susu Pengganti Bagi Pedet Pedaging Baru Lahir

Susu untuk Pedet Baru Lahir

PecintaSatwa.com – Fase kritis dalam kehidupan pedet ada di awal masa kehidupannya. Perawatan pada hari-hari pertama setelah ia dilahirkan memiliki peranan penting untuk menentukan kualitas tumbuh kembang pedet selanjutnya. Karena itu penanganan pedet baru lahir harus diperhatikan sebaik-baiknya, agar pedet tidak kekurangan nutrisi.

Pedet baru lahir harus mendapatkan kolostrum pada 24 jam pertama dari induknya untuk menguatkan imunitas tubuhnya. Akan tetapi pada kasus tertentu pedet tidak bisa mendapatkan kolostrum induknya karena induk tutup usia pasca melahirkan atau induk tidak memiliki sifat keibuan (maternity) yang baik. Karena itulah peternak harus memberi perhatian ekstra apabila memiliki pedet dengan kondisi tersebut. (Baca: Merawat Pedet Sapi Pedaging Part 1)

Teknik Memberi Susu untuk Pedet Baru Lahir

Pada induk yang memiliki maternity kurang baik, pedet harus diberi kolostrum induknya dengan cara memerah susu induknya, demi keamanan peternak dapat melakukannya di kandang jepit, atau di kandang pemeliharaan dengan pengamanan tali. Kolostrum harus diperah semaksimal mungkin, kemudian langsung diminumkan pedetnya semampu pedet tersebut minum, jika masih ada sisanya, dapat disimpan di lemari pendingin untuk diminumkan beberapa jam kemudian. (Baca pula: Persiapan Kelahiran pada Sapi)

Sedangkan pada pedet yang induknya tutup usia, kolostrum yang diberikan dapat berupa kolostrum beku yang diambil dari induk sapi 1-3 hari pasca melahirkan. Kolostrum tersebut sebaiknya di pasteurisasi dulu sebelum diberikan, atau dapat pula langsung dihangatkan / thawing sebelum diberikan. suhu susu yang mirip dengan hangatnya susu dari ambing induk dapat meningkatkan nafsu menyusu pedet.

Susu CMR (Calf Milk Replacer)

Setelah pemberian kolostrum di hari pertama, hari selanjutnya hingga 3-4 bulan pedet harus tetap diberi susu pengganti untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, biasanya peternak menggunakan susu CMR (calf milk replacer), susu afkir, susu induk lain, atau susu beku. Susu afkir, berharga paling murah, susu ini biasanya berasal dari susu curah untuk manusia yang baru saja kadaluarsa, akan tetapi keamananya dari susu ini masih dipertanyakan.

Peternak yang memelihara beberapa ekor sapi pedaging yang sedang menyusui atau sapi perah yang sedang laktasi relatif lebih mudah mengasuh pedet ini, karena susu pedet piatu masih dapat diambilkan dari susu induk lain baik ia dilatih untuk menyusu sendiri ke induk tersebut, atau diperahkan oleh peternak.

Berbeda dengan pedet sapi perah, pedet sapi pedaging tidak dapat diberi susu CMR sebagai asupan nutrisinya di minggu-minggu pertama. Lambung pedet susu pedaging cenderung lebih sensitif, sering dijumpai adanya kematian mendadak pada minggu pertama akibat radang pada saluran pencernaan pedet yang ditandai dengan adanya diare, lemas dan penurunan nafsu makan. (Simak juga: Apa Saja Penyebab Keracunan pada Ternak)

Pedet sapi pedaging yang tidak diasuh induknya, lebih baik diberi susu sapi murni yang dapat dibeli peternak di tempat penampungan susu setempat. Apabila terlalu mahal, peternak dapat memerah susu sapi induk lain yang juga sedang menyusui, kemudian. diberikan kepada pedet sebagian sedangkan sebagian lainnya dibekukan di freezer. hindari penggunaan susu CMR dan susu afkir pada minggu pertama dan kedua.

Susu Pengganti Bagi Pedet

Pada beberapa kasus, pedet masih menunjukkan gejala diare dan lemas meski telah diberi susu sapi murni atau susu beku yang diencerkan, apabila keadaan ini terjadi segera hubungi tenaga medis untuk diberikan terapi antibiotic dan vitamin, selanjutnya lebih baik susu pedet diganti dengan susu formula untuk bayi usia 0-6 bulan.

Susu formula bayi usia 0-6 bulan memiliki partikel yang lebih lembut, sehingga tidak mengiritasi lambung pedet. Harga susu formula memang sangat mahal namun jika dibandingkan dengan kerugian kematian pedet, jumlah tersebut masih dapat dijangkau oleh peternak.

Susu formula digunakan selama satu minggu penuh. Pada minggu ke 2-3, susu formula dapat mulai dicampur dengan CMR sedikit demi sedikit dengan perbandingan susu formula 75% dan CMR 25% selama 3 hari, dilanjutkan dengan 50% susu formula dan 50% susu CMR di 3 hari berikutnya, hingga pedet dapat menerima susu CMR 100%. Perpindahan pakan dari susu formula ke susu CMR harus dilakukan perlahan-lahan agar tubuh pedet tidak stress, dan nafsu makannya stabil. Apabila program ini dapat dilakukan dengan lancar, pada minggu ke 3 peternak sudah dapat menggunaka susu CMR 100% untuk pedet pedagingnyanya hingga masuk masa sapih. Namun apabila ditengah masa transisi terjadi shock atau penurunan kondisi tubuh pedet, maka sesegera mungkin beri ia 100% susu formula, biasanya tubuh pedet akan berangsur angsur membaik, hingga siap dilakukan masa transisi kembali.

Selama minggu-minggu awal pemberian susu pada pedet, tetap kenalkan ia dengan hijauan dan konsentrat sedikit demi sedikit. Hindari pemberian hijauan atau konsentrat yang berlebihan sebelum pedet berusia 2 bulan, karena lambung mekanis penggiling seratnya (rumen) belum terbentuk sempurna, hal demikian akan menyebabkan terjadinya kembung yang sangat berbahaya bagi pedet. Cukup berikan ia hijauan dan konsentrat sebagai perkenalan saja. (Ketahui pula: Demam 3 Hari pada Sapi)

Jika kita memandang hewan peliharaan dan hewan ternak kita sebagai kehidupan, tidak akan ada yang terlalu mahal untuknya.. sebagai makhluk yang bernyawa ia berhak mendapatkan yang baik dari kita yang memeliharanya, hingga dikemudian hari ia akan memberikan kebaikan kepada kita sebagaimana fitrahnya di bumi ini.

 

Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 2)

Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 2)

Tips Merawat Pedet Sapi Pedaging

PecintaSatwa.com – Menyambung artikel sebelumnya Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 1) . Memasuki usia delapan minggu atau 2 bulan, pedet sudah mulai banyak mengkonsumsi konsentrat dan hijauan. Pakan tambahan ini sudah menjadi salah satu pakan utama selain susu induknya. Pada industri peternakan yang telah memproduksi pakan konsentrat khusus pedet, dengan formula yang mencukupi kebutuhan pedet, pedet usia 2 bulan sudah dapat disapih dari induknya dan dipanen.

Teknik penyapihan Pedet Pedaging dilakukan dengan tahapan dibawah ini:

  • Dalam satu kandang usahakan terdapat beberapa pasang induk-pedet dengan umur yang mendekati seragam (idealnya 5-8 pasang / kandang)
  • Ambil satu induk setiap dua hari sekali, pindahkan ke kandang yang cukup jauh sehingga pedet tidak dapat melihat induknya. Pedet akan memanggil-manggil induknya selama satu hari, kemudian ia akan menyusu ke induk lain sambil mengkonsumsi hijauan dan konsentrat yang tersedia. Stress pedet tidak akan berlangsung lama, karena ia masih bisa menyusu ke induk lain dan terus bermain bersama teman-temannya. Lakukan tahapan ini hingga semua pedet tersapih.
  • Pedet siap dipanen, sebelum pedet didistribusikan sebaiknya pedet diberi vitamin anti stress dan penambah nafsu makan untuk menjaga stabilitas tubuhnya selama dalam perjalanan.

Penyapihan pedet pada usia 2 bulan yang dilakukan industri pembibitan dan penggemukan sapi potong terbukti masih dapat menghasilkan pedet berkualitas dengan rata-rata pertambahan bobot badan (average daily gain / ADG) lebih dari 1 kg / hari / ekor. Tanpa menemui kendala yang berarti. Akan tetapi, setelah diteliti lebih lanjut, semakin lama pedet menyusu dan diasuh induknya, semakin baik performa tumbuh kembang yang dihasilkan.

Saat disapih, pedet akan mengalami masa adaptasi yang berat, dari pakan susu sebagai pakan pokok ke pakan hijauan dan konsentrat. Pada masa-masa ini biasanya berat badan pedet akan turun drastis dan kembali naik stabil setelah 2-4 minggu kemudian. Namun pada pedet yang disapih pada umur 4 bulan, masa adaptasi peralihan pakan pedet terjadi tidak terlalu lama, penurunan bobot badan pun tidak drastis, performa tubuh pedet terlihat lebih besar dan kuat dengan tumbuh kembang yang progresif. (Pelajari juga: Amankah Daging Sapi Fasciolasis)

Program Penyapihan Pedet Sapi Pedaging

Efektifitas dan efisiensi penyapihan pada usia 2 atau 4 bulan sangat beragam, tergantung dari skala industri dan peruntukan industri tersebut. Apabila pada peternakan rakyat, penyapihan 4 bulan lebih banyak dilakukan untuk mencegah terjadinya shock yang berlebihan pada pedet yang menyebabkan pedet stress dan sakit. Sedangkan pada peternakan skala sedang hingga besar, penyapihan usia 2 bulan lebih banyak dipilih karena pedet dapat segera dijual dengan harga yang tinggi, dan induknya dapat segera di IB kembali untuk menghasilkan kebuntingan selanjutnya.

Program sapih pedet usia 2 bulan lebih diminati perusahaan peternakan, dengan sistem pembibitan 1 pedet pertahun, dimana dibagi menjadi 9 bulan untuk kebuntingan, 2 bulan untuk pengasuhan pedet sekaligus persiapan rahim kembali, dan 1-1,5 bulan untuk proses IB. apabila disetiap tahapan tidak ditemui kendala yang signifikan, didukung dengan keadaan indukan yang sehat dan manajemen pemeliharaan yang baik, program satu pedet per tahun tidak mustahil dicapai oleh perusahan pembibitan. Berhasilnya program ini merupakan panen raya bagi perusahaan, karena cash flow dapat lebih cepat berputar dengan angka yang cukup besar. (Pelajari pula: Waspada Cacing Hati pada Sapi)

Peliharalah sapi-sapi anda dengan kasih sayang dan animal welfare, penuhilah kebutuhannya dan berilah fasilitas yang layak, karena pedet yang baik akan dihasilkan oleh indukan yang bahagia. Selamat beternak!

 

Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 1)

Merawat Pedet Sapi Pedaging (Part 1)

Bagaimana Merawat Pedet Sapi Pedaging

PecintaSatwa.com – Setelah dinanti selama 9 bulan lebih akhirnya lahir juga sang pedet, senyum peternak selalu merekah jika pedetnya terlahir normal dan sehat. Pedet jantan biasanya cenderung lebih disukai karena memang lebih mahal harganya, terlebih jika hasil inseminasi buatan (IB) dengan bibit sapi impor, maka akan terlahir pedet cross dengan performa tubuh yang kokoh dan besar, sebagaimana perwujudan induk jantannya yang digunakan, seperti sapi Simenthal, Limosin, dan Brahman.

Pedet betina biasanya dihargai 1-2 juta dibawah harga pedet jantan, ini pun tidak masalah bagi peternak karena pedet betina ini masih bisa terus dipelihara untuk dijadikan indukan, dan mulai di IB 1,5 tahun kemudian. Pedet-pedet tersebut akan benar-benar menjadi panenan besar bagi peternak apabila tumbuh dengan baik dan sehat terutama di bulan-bulan awal kehidupannya, karena itu para peternak, pengusaha peternakan dan anak kandang harus dapat mengusai teknik pengasuhan pedet sapi pedaging di awal pertumbuhan, agar dapat mencapai hasil maksimal.

Cara Merawat Pedet Sapi Pedaging

Merawat pedet sapi pedaging sebenarnya tidak serumit sapi perah, karena biasanya pedet akan dibiarkan menyusu dengan induknya hingga beberapa bulan. Dibawah pengasuhan sang induk, pedet dapat tumbuh dengan baik, berbeda halnya dengan pedet sapi perah yang langsung dipisahkan dari sang induk ketika baru saja lahir, tentu membutuhkan perawatan ekstra hati-hati. (Baca juga: Persiapan Kelahiran pada Sapi)

Beberapa saat setelah terlahir, pedet akan dirawat induknya dengan baik. Bagi induk dengan maternity (sifat keibuan) yang baik, ia akan menjilati hidung, kepala dan seluruh tubuh anaknya begitu terlahir, hingga bersih dan kering. Jilatan ini berfungsi untuk merangsang pedet bernafas sekaligus sebagai stimulasi sel-sel syaraf diseluruh tubuh pedet. Induk cenderung bersifat protektif terhadap anaknya, peternak harus berhati-hati jika mendekati sang pedet, karena induk yang protektif biasanya akan menyerang siapa pun di dekat anaknya.

Apabila induk tidak terlalu galak, atau maternity induk tidak terlalu bagus, peternak dapat mengelap tubuh pedet dengan handuk kering, terutama bagian moncongnya. Pastikan hidung pedet bersih dari air ketuban, jika diperlukan dapat digunakan syringe tanpa jarum untuk menghisap cairan dalam hidung pedet, sehingga pedet dapat langsung bernafas dengan lancar. Setelah itu, pastikan pedet dapat berdiri sendiri dan menyusu pada induknya, sepuasnya menghisap kolostrum.

Kolustrum sangat penting bagi pertumbuhan pedet, karena kandungan immunoglobulin dan antibody maternal dari sang induk. Zat-zat tersebut berfungsi sebagai imunitas pertama bagi pedet agar tidak rentan terhadap penyakit. Usus pedet hanya dapat menyerap nutrisi penting dalam kolostrum secara maksimal selama 24 jam pertama pasca dilahirkan. Karena itu pemberian kolostrum pada hari pertama wajib dilakukan oleh peternak.

Aktifitas Pedet Sapi Pedaging

Satu minggu pertama kelahiran pedet, aktifitasnya akan mulai meningkat. Setiap pagi, siang, sore dan malam hari pedet akan menyusu pada induknya, setelah kekenyangan ia akan tidur dekat sang induk atau di tempat yang nyaman, ia juga akan berlarian kesana kemari layaknya anak-anak sedang bermain riang gembira, apalagi jika dalam satu kandang terdapat lebih dari satu pedet, segera akan terbentuk “geng” anak-anak sapi yang hobi bermain dan saling menyusu antar induk.

Memasuki minggu kedua, pedet akan mulai mencoba memakan hijauan. Pertama kali ia akan mengunyah daunnya saja dan meninggalkan bagian batang yang keras. Pakan hijauan pada masa ini masih bersifat sebagai ‘cemilan’, sedangkan pakan utamanya masih susu dari induknya. Apabila pedet dipisahkan dari induknya, pastikan tidak memberikan hijauan terlalu banyak pada usia ini, cukup sedikit saja sebagai perkenalan. Usus pedet 2 minggu belum siap menerima pakan tinggi serat, sehingga rawan terjadi kembung apabila pedet terlalu banyak mengkonsumsi hijauan.

Minggu ketiga dan keempat, pedet mulai menjilat konsentrat, sebagai perkenalan. Pedet bersama induknya akan makan bersama dalam satu palungan. Pedet juga sudah mulai meminum air minum dalam kandang selain makanan dan minuman pokoknya, dari ambing sang induk. Pada usia ini, pakan non susu masih bersifat coba-coba atau cemilan pedet, susu induk tetap menjadi pakan yang utama. ( Simak: Sapi Madura – Ternak Primadona)

Memasuki usia delapan minggu atau 2 bulan, pedet sudah mulai banyak mengkonsumsi konsentrat dan hijauan. Pakan tambahan ini sudah menjadi salah satu pakan utama selain susu induknya. Pada industri peternakan yang telah memproduksi pakan konsentrat khusus pedet, dengan formula yang mencukupi kebutuhan pedet, pedet usia 2 bulan sudah dapat disapih dari induknya dan dipanen.

Berlanjut ke part 2 >>

 

 

Amankah Daging Sapi Fasciolasis?

Amankah Daging Sapi Fasciolasis?

Memilih Daging Sapi yang Aman

PecintaSatwa.com – Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang serba serbi fasciolasis yang menyerang sapi, bagaimana alurnya dan kerugian yang dihasilkan. Lalu, bagaimana dengan produk sapi yang kita konsumsi? Apakah aman jika kita mengkonsumsi daging sapi menderita fasciolasis? Bagaimana dengan sayur sayuran yang kita makan?, dimana sayur tersebut ditanam pada lahan basah tempah sibut Limnea rubigenosa hidup dan bekembang?

Banyak sapi yang baru diketahui menderita fasicolasis setelah disembelih, terutama pada sapi yang dipelihara oleh peternakan rakyat, saat organ hatinya diperiksa akan tampak kelainan-kelainan yang disebabkan oleh cacing hati. Peternak tidak menyadari hal demikian ketika memeliharanya, karena kemungkinan kasus ini terjadi secara kronis, dalam jangka waktu yang lama, perlahan namun pasti membuat ternak menderita, sedangkan peternak hanya melihat sapinya yang tak kunjung gemuk meski banyak makan, sehingga sang peternak pun menjualnya untuk disembelih. (Baca: Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?)

Pemeriksaan Daging Sapi di Pemotongan

Di rumah potoh hewan (RPH), dilakukan pemeriksaan antemortem (sebelum disembelih) dan post mortem (setelah disembelih), sebagai kontrol kualitas atas daging sapi yang dipotong di RPH tersebut. Jika dijumpai adanya kelainan hati karena fasiciolasis, makan dokter hewan di RPH tersebut akan menyatakan sapi tersebut layak dikonsumsi dengan syarat. Daging/otot sapi dapat dikonsumsi semua, kecuali bagian hatinya harus dibuang, begitu pula dengan organ dalam lainnya, apabila dinilai masih baik dan normal, dapat dinyatakan layak konsumsi, namun juga sudah terjadi kelainan akibat penyakit tersebut, maka seluruh organ dalam sapi wajib diafkir, tidak untuk dikonsumsi.

Sebenarnya hati sapi yang rusak karena fasciolasis tidak menyebabkan penyakit pada manusia jika mengkonsumsinya, karena stadium cacing yang aktif menyerang hewan atau manusia adalah dalam bentuk metacercaria yang banyak menempel pada tumbuh-tumbuhan air atau yang ditanam di lahan basah. Tapi, kenapa hati dan organ dalam tersebut dilarang untuk dikonsumsi?

Daging dan Organ Dalam Sapi yang Layak Dikonsumsi

Demi melindungi konsumen, kelayakan produk hewan untuk dikonsumsi didasarkan oleh 4 kriteria yaitu ASUH, Aman-Sehat-Utuh-Halal, sebagaimana tertuang dalam Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia, No18 Tahun 2009, Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Aman dari penyakit berbahaya yang menular melalui kontak maupun konsumsi, Sehat bergizi dan bernutrisi bagi manusia, utuh dalam kondisi baik tidak kurang suatu apapun karena penyakit, dan halal karena disembelih dengan baik sesuai syariat islam. Hal ini disepakati dan dan disahkan pemerintah untuk menjaga konsumen dari resiko terkena penyakit dan menjaga keamanan batin konsumen sesuai dengan kepercayaan agamanya.

Hati dan organ dalam sapi yang rusak karena fasciolasis digolongkan dalam kedaan tidak utuh dan tidak sehat. Tidak utuh karena sudah terjadi kelainan, yang menyebabkan bentuknya berubah dari keadaan normal menjadi tidak sehat karena jaringan hati dan organ dalam tersebut telah mengalami kerusakan sehingga nilai gizi nya telah menurun jauh dibandingkan dengan organ sehat. Karena itulah, organ yang rusak dinyatakan tidak layak dikonsumsi, sedangkan daging/otot yang sehat dapat dikonsumsi dengan aman.

Hal terpeting yang harus kita waspadai adalah sayur-sayuran yang kita makan. Karena sayuran yang ditanam di media basah atau di air beresiko mengandung stadium aktif cacing, dalam bentuk kista maupun metacercaria. Apabila dalam mengolahnya tidak benar-benar hygen, bukan tidak mungkin kita terjangkit fasciolasis. (Simak: Apa Saja Penyebab Keracunan Ternak)

Sayur sayuran seperti kangkung, sawi, selada air, harus dicuci terlebih dahulu sebelum dimasak. Lebih baik anda mencucinya dengan air mengalir selama beberapa saat hingga bersih. Sabun pencuci buah dan sayur dapat juga digunakan, namun tetap bilas sayur anda dengan air mengalir hingga tidak ada sisa licin dan aroma sabun yang tertinggal, dan yang paling utama adalah tahap memasaknya. Masak sayur-sayuran hingga matang, meski tidak sampai terlalu lunak atau berubah warna, pastikan sayuran anda matang sebelum dihidangkan. Kurangi mengonsumsi salad, yang terdiri dari sayur-sayuran mentah terlebih jika anda tidak mengetahui asal sayuran tersebut dan bagaimana metode menanamnya.

Stay happy and keep healthy

 

Mengapa Terjadi Radang Ambing pada Sapi

Mengapa Terjadi Radang Ambing pada Sapi

Penyebab Radang Ambing pada Sapi (Mastitis)

PecintaSatwa.com – Radang ambing (mastitis) lebih sering diderita oleh sapi perah dari pada sapi potong. Penyakit ini tergolong penyakit strategis, bukan karena keganasannya yang membahayakan nyawa ternak, namun karena penurunan produksi susu secara drastis yang sangat membahayakan ‘dompet’ peternak, sehingga bukan hanya sapinya yang sakit, peternaknya pun bisa sakit-sakitan karena stress dengan penurunan pendapatannya. (Simak juga: Hati-hati Cacing Hati pada Sapi)

Faktor Terjadinya Mastitis pada Sapi

Mastitis terjadi karena adanya infeksi mikroorganisme baik bakteri, jamur maupun ragi yang menyerang ambing sapi, level infeksi dipengaruhi beberapa faktor seperti tingkat laktasi, umur sapi, dan ketuntasan pemerahan. Bakteri yang menyerang dapat berbagai macam, biasanya merupakan bakteri normal yang ada di lingkungan, namun menjadi berbahaya ketika jumlahnya berlebihan, contohnya Staphylococcus sp. dan Streptococcus sp..

california mastitis test

Bakteri-bakteri infeksius tersebut dapat masuk ke ambing sapi dan menyerangnya disebabkan adanya situasi mendukung perkembangbiakan, seperti adanya luka pada ambing karena kasarnya proses pemerahan, atau karena tergores sesuatu di lantai kandanag sehingga menjadi jalan masuknya bakteri, hal ini diperparah dengan kebersihan kandang yang kurang optimal, jumlah bakteri di sekitar sapi pun semakin banyak dan siap menyerang sapi disaat pertahanan tubuhnya lemah, seperti pada masa-masa pergantian cuaca, panas menyengat atau hujan deras yang sangat dingin.

Selain keadaan diatas, kemungkinan terjadinya mastitis dapat meningkat ketika usia ternak semakin tua, setelah mengalami masa laktasi yang begitu lama menyebabkan otot-otot disekitar ambingnya tidak sekuat dan serapat waktu muda, terlebih pada ternak dengan riwayat produksi susu tinggi. (Baca pula: Demam 3 Hari pada Sapi)

Proses pemerahan yang tidak higene dan tidak tuntas juga memperbesar potensi mastitis. Pemerahan harus dilakukan secara teratur dan tuntas, biasanya sehari dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Pemerahan yang tidak tuntas akan menyebabkan terbentuknya endapan / pengapuran susu di diambing sapi yang dapat menginisiasi terjadinya keradangan. Pemerahan dengan menggunakan milking machine pun harus diperhatikan dengan baik penggunaannya. Alat harus selalu bersih sebelum dipakai, dan dicuci dengan air hangat dicampur desinfektan setelah digunakan. Meski diperah menggunakan mesin, pada akhir pemerahan peternak juga harus memerah dengan menggunakan tangan untuk memastikan proses pemerahan telah tuntas, tidak terdapat sisa susu lagi yang keluar.

Gejala Klinis Radang Ambing pada Sapi (Mastitis)

Gejala klinis mastitis yang dapat diamati oleh peternak antara lain: terjadi penggumpalan pada susu saat diperah bahkan warna susu dapat berubah menjadi kekuningan, adanya penurunan produksi susu, saat dilakukan uji alkohol di tempat penampungan susu maka susu akan terlihat pecah. Pada kondisi yang cukup parah, nafsu makan sapi akan berkurang, sapi mengalami demam, pada bagian ambing akan teraba panas, merah dan lebih sensitif. Apabila mastitis telah diderita dalam jangka waktu yang lama (kronis), ambing sapi dapat mengeras, tampak adanya luka radang bahkan membusuk, ambing tidak dapat menghasilkan susu, dan hanya keluar cairan bening kekuningan. Mastitis biasanya menyerang ambing per-quartir (bagian), dari keempat ambing, mungkin hanya satu atau dua yang terinfeksi, namun tetap waspada karena infeksi dapat menular ke ambing yang lain, hingga kesemua ambing terkena mastitis. (Ketahui pula: Persiapan Kelahiran pada Sapi)

Tidak semua kasus mastitis menunjukkan gejala klinis yang jelas. Pada kasus mastitis subklinis, gejala-gejala diatas sangat jarang terlihat, akan tetapi secara pelan dan pasti, lambat laun produksi susu akan terus menurun. Karena itu, biasanya tenaga medis veteriner melakukan pemeriksaan rutin tahunan untuk mengetahui timbulnya penyakit ini menggunakan tes CMT (California Mastitis Test).

Pencegahan Radang Ambing pada Sapi

Tindakan pencegahan mastitis harus dilakukan secara sinergis antara peternak dan tenaga medis kedokteran hewan dari dinas peternakan di kawasan peternak, atau bersama dengan perusahan kemitraan setempat. Penanggulangan mastitis dapat diawali dengan menjagaaan sanitasi kandang yang baik, kebersihan lantai, alat perah, dan tangan peternak saat pemerahan harus diperhatikan. Manajamen pemeliharaan, pakan dan kandang juga harus sesuai dengan standard peternakan yang baik dan benar. Vaksinasi juga dapat dilakukan dengan menggunakan strain vaksin yang sesuai dengan agen infeksi di daerah setempat. Saat ini dinas peternakan sudah mulai menggalakkan vaksinasi mastitis sebagai pencegahan aktif dan mendukung produski susu dalam negeri.

Kerja sama antar pihak yang sinergis akan menghasilkan pencegahan optimal, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati kan…

 

Hati-Hati Cacing Hati pada Sapi

Hati-Hati Cacing Hati pada Sapi

Cacing Hati pada Sapi

PecintaSatwa.com – Pernah jadi panitia kurban, atau melihat proses penyembelihan sapi? Pernah melihat hati sapi yang berlubang-lubang tidak normal sperti spons baik di pasar maupun penyembelihan?, hal demikian biasanya disebabkan karena adanya infestasi parasit cacing hati (Fasciola sp.) pada liver sapi tersebut. Berbahayakah bagi sapi, dan bagi kita yang mengkonsumsi dagingnya, mari kita simak ulasan berikut ini.

Fasciolasis disebut juga distomatosis merupakan penyakit yang disebabkan cacing jenis trematoda, Fasciola sp, lebih sering terjadi di daerah basah, berhujan, dan memikili aliran air berlimpah, sangat jarang terjadi di daerah kering. di Indonesia, kejadian faciolasis umumnya disebabkan oleh spesies Fasciolas gigantica yang menyerang hewan-hewan ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan kadang dijumpai pada babi. Cacing ini dapat masuk dan menyebabkan penyakit pada hewan diperantai oleh sejenis siput air, Limnea rubigenosa. (Simak: Sapi Bali – Ternak Asli Nusantara)

Didalam tubuh siput, cacing mengalami pertumbuhan dan perkembang biakan, setelah itu keluar ke alam bebas, berenang-renang di air dan menempel pada tumbuham dalam bentuk metacercaria, hingga setinggi 2/3 tinggi tumbuhan. Metacercaria akan terus tumbuh menjadi cacing muda saat menempel di tumbuhan. Apabila tumbuhan tersebut termakan oleh ternak, maka cacing akan terus berkembang dalam perut ternak, hingga pecah kistanya dan mengeluarkan cacing muda. Cacing tersebut akan menembus usus halus (duodenum), ke perineum, menuju hati dan menembusnya hingga saluran empedu, ditempat tersebut cacing muda akan terus berkembang dan bertelur selama 10-12 minggu.

Didalam liver penderita, cacing dewasa akan menghisap  darah hewan hingga terjadi anemia, mengurangi produksi empedu dan menyebabkan pengerasan (fibrosis) pada hati, terkadang disertai dengan diare. Kerusakan hati yang parah akan memicu teradinya ikterus (penyakit kuning), pembengkakan, dan ascites (penimbunan cairan di rongga perut). Kejadian ini akan mengurangi produksi ternak secara signifikan. Sapi akan berangsur angsur semakin kurus, meski makan nya banyak ia tidak akan tampak gemuk, produksi wool pada domba pun akan berkurang drastis.

Ciri-ciri Sapi Terkena Cacing Hati

fasciola gigantica, penyebab fasciolasis sapi di indonesia

Sapi yang terkena fasciolasis, akan Nampak tidak segar, lemah, kurus, anemia, pembengkakan pada daerah rahang bawah, suara jantung mendebur, kotoran sapi setengah cair dan berwarna hitam sering dijumpai, dan terkadang hingga ambruk jika kejadian penyakit sudah terlalu berat. (Baca: Simethal – Sapi Bule di Indonesia)

Pada sapi yang telah disembelih atau di nekropsi, sapi penderita akan menampakkan organ dalam yang pucat hingga kekuningan, pembengkakan dapat dilihat pada daerah rahang bawah, kelenjar susu, atau disekitar testis, terjadi penebalan dan pengapuran pada saluran empedu, hati sapi mengeras dengan permukaan tidak rata, apabila dibelah akan terlihat banyak cacing dewasa baik pada saluran-saluran maupun pada jaringan hati.

Adanya infestasi cacing hati dalam tubuh sapi dapat didiagnosa secara sederhana menggunakan mikroskop, dengan melihat keberadaan telur cacing dalam kotoran sapi. Pemeriksaan ini biasanya rutin dilakukan industri peternakan dengan metode random sampling sebelum dilakukan terapi untuk memantau perkiraan angka timbulnya penyakit.

Pencegahan Cacing Hati pada Sapi

Pada industry sapi pedaging, pencegahan sekaligus terapi fasiolasis dilakukan mulai ternak datang ke peternakan dengan pemberian obat cacing per oral. Pemberian obat cacing ini dapat setiap 1,5 hingga 2 bulan. Pengobatan tunggal sekali waktu, tidak terbukti efektif karena sapi selalu berpotensi terinfestasi fasciola karena konsumsi pakan hariannya adalah rumput-rumputan yang dapat mengandung sejumlah metacercaria.

Untuk meminimalisir timbulnya fasciolasis, sebaiknya hijauan untuk pakan ternak dipotong setelah pukul sepuluh pagi, dimana matahari sudah bersinar menghangatkan tumbuh-tumbuhan. Hijauan yang telah dipotong lebih baik tidak langsung diberikan kepada ternak, angin-anginkan ditempat yang teduh minimal 12 jam, atau esok hari nya baru diberikan kepada ternak. (Baca: Tips Memilih Sapi Bakalan yang Menguntungkan)

Karena kehidupan ternak merupakan bagian dari hidup kita, pemeliharaan yang baik harus kita usahakan semaksimal mungkin, demi sehatnya ternak dan stabilnya usaha peternakan yang kita jalankan. Selamat beternak..!

 

Persiapan Kelahiran pada Sapi

Persiapan Kelahiran pada Sapi

Apa Saja Persiapan Kelahiran Sapi

PecintaSatwa.com – Kelahiran pedet tentu sangat ditunggu-tunggu oleh para peternak, terlebih peternak rakyat yang manjadikan sapinya sebagai tabungannya, pedetlah bonus dari tabungan yang sudah lama dinanti. Secara alami sapi dapat melahirkan sendiri tanpa bantuan manusia, akan tetapi ada beberapa kondisi yang disebabkan kebiasaan-kebiasaan saat pemeliharaan seperti selalu mengikat sapi dalam kandang, membuat resiko kesulitan kelahiran terjadi pada induk sapi. Karena itu pada masa-masa menjelang kelahiran, peternak harus ekstra waspada dan memberi perhatian lebih pada sang mama sapi.

Sejak diketahui bunting muda melalui pemeriksaan per rektal (ngrogoh jawa red.), peternak harus sudah mulai berhati-hati memelihara sapinya. Induk sapi sebaiknya tidak dipekerjakan di ladang, kebersihan kandang pun harus diperhatikan, jangan sampai ada lantai licin yang membahayakan sapi. Dokter hewan atau paramedic yang memeriksa kebuntingan muda biasanya akan memberikan suntikan vitamin dan menyarankan peternak untuk menambahkan mineral pada makanan sapi dengan menjaga kebuntingan dan mengoptimalkan tumbuh kembang janin dalam rahim sapi. (Perlu Anda tau: Apa Saja Penyebab Keracunan pada Ternak? )

Persiapan Kelahiran Pedet

Setelah masuk kebuntingan 8 bulan, sebaiknya kandang melahirkan dan kandang pedet sudah mulai dipersiapkan. Lebih baik sapi tidak ditali terus menerus. Pemeliharaan sistem koloni / beberapa ekor sapi dilepaskan dalam satu kandang terbukti lebih baik dan dapat mengurangi kemungkinan kesulitan melahirkan / distokia pada sapi. Lantai kandang sebaiknya berupa lantai bermatras, atau lantai yang telah dilapisi sebuk gergaji, untuk memudahkan induk sapi berdiri dalam keadaan bunting tua dan  bergerak melatih otot panggul, hindari lantai ubin yang licin agar sapi tidak terpeleset.

Pada usia kebuntingan akhir, tenaga medis veteriner akan melakukan pemeriksaan per rektal kembali untuk memastikan posisi sapi. Dikatakan normal tanpa kesulitan apabila kepala dan kaki depan pedet sudah berada di depan mulut rahim, besar kepala dan bahu pedet tidak lebih besar dari rongga panggul induknya. Apabila terdiagnosa adanya abnormalitas posisi, tenaga medis akan memberikan sedikit pijatan lembut untuk merangsang janin berotasi ke posisi normal, kemudian akan diinformasikan kepada peternak tentang kondisi ini, sehingga pada hari kelahiran peternak telah siap apabila perlu dilakukan penarikan, atau bahkan operasi Caesar jika diperlukan, sebagai langkah terakhir.

Pakan untuk Sapi Hamil

Sejak kebuntingan 8 bulan biasanya mulai dilakukan pemberian konsentrat dengan porsi lebih banyak, sebagai support produksi susunya kelak, terutama pada sapi perah, yang biasa disebut nyethut (Jawa red.). induk sapi diberi konsentrat sebanyak perkiraan susu yang dapat dihasilkan sapi dengan rumus X prediksi produksi susu. Apabila diperkirakan sapi tersebut dapat memproduksi 20 Liter susu / hari, maka konsentrat yang diberikan sebanyak 10 kg / hari. Perlakuan ini tetap dilanjutkan hingga induk sapi melahirkan dan masuk masa laktasi, disesuaikan dengan peningkatan jumlah porduksi.

Konsentrat yang diberikan harus memiliki imbangan mineral kalsium dan fosfor yang cukup, idealnya 2:1 untuk mencegah terjadinya ambruk pada masa menjelang dan pasca kelahiran. Karena selama masa kebuntingan mineral untuk tumbuh kembang janin dan produksi susu diserap dari tulang, karena itu sebagai imbangan harus diberi asupan mineral tambahan dari makanan.

Masa-masa mendekati kelahiran biasanya induk sapi mulai mengalami penurunan nafsu makan, padahal untuk melahirkan dibutuhkan tenaga yang cukup besar, berasal dari asupan nutrisi yang cukup. Peternak harus pintar-pintar membujuk sang induk untuk makan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nafsu makan sapi adalah dengan menaburkan jenis pakan tertentu yang memiliki aroma lezat yang disukai sapi, sehingga pakan dibawahnya pun dimakan, seperti ditambahkan buah nangka, kelapa, atau konsentrat yang wangi dan disukai sapi.

Tanda-Tanda Sapi Sebelum Melahirkan

Beberapa hari menjelang kelahiran, akan terlihat leleran bening atau kekuningan pada alat kelamin luar sapi (vulva), konsistensinya kental dan semakin banyak saat mendekati hari kelahiran. Ambing sapi akan terlihat besar merekah, keempat putingnya terlihat menegang memerah dan membesar, beberapa induk sudah terlihat meneteskan susu. Pergerakan sapi mulai terlihat berat, dan lebih sering duduk.

Saat masa-masa melahirkan, akan terlihat sapi mulai gelisah. Duduk sambil melihat bagian perutnya, berdiri, pindah mencari tempat yang nyaman, dengan mengendus-ngendus daerah disekitranya. Pada proses kelahiran, sapi biasanya dalam posisi rebah samping, terus merejan, keluar air ketuban (pecah ketuban), mulai keluar kaki depan sapi, kemudian moncong mulai terlihat, hingga setengah badan mulai terlihat keluar, diakhiri dengan keluarnya pedet secara sempurna. Beberapa ekor sapi, akan berdiri saat pedet baru keluar setengah badan, kemudian karena gerakan tubuh induk dan tarikan gaya gravitasi, tubuh pedet pun keluar dengan sempurna dan jatuh di alas kandang. (Simak pula: Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?)

Proses Kelahiran Pedet

Pedet baru lahir
Pedet baru lahir

Induk akan menjilati pedetnya sesaat setelah melahirkan. Jilatan ini berfungsi untuk membersihkan tubuh pedet dari sisa-sisa air ketuban, sekaligus sebagai pijatan untuk merangsang kinerja syaraf dan pernafasan pedet. 15-30 menit kemudian, pedet akan mulai belajar berdiri, kemudian terjatuh, kemudian berdiri lagi, terus menerus hingga dapat berdiri dan melangkah mencari puting susu induk. Kurang dari 60 menit setelah kelahiran biasanya pedet sudah mulai menyusu pada induknya untuk pertama kali, dengan lahapnya menghisap kolostrum yang berperan penting bagi daya kekebalan tubuh pedet.

Proses kelahiran diatas terjadi dalam keadaan normal dan alami tanpa kesulitan. Peternak atau anak kandang cukup memantaunya dari jauh, tidak perlu terlalu dekat karena dapat membuat sang induk tidak nyaman, sehingga lebih lama prosesnya. Anak kandang dapat meninggalkan induk dan pedet tersebut setelah pedet menyusu dan menyundul ambing induknya, sebagai tanda pedet tersebut sehat, dan normal.

Untuk kasus khusus yang diperlukan penarikan atau perlakuan tertentu, peternak dapat berkordinasi dengan tenaga medis setempat atau bersama-sama kelompok ternak melakukan pemantauan hingga pertolongan darurat jika diperlukan. Bagaimana pun saat melahirkan sang induk akan berjuang keras untuk anaknya, sudah seharusnya sebagai peternak kita menyayanginya dengan memberi dukungan dan pertolongan secepat mungkin jika diperlukan.

 

Apa Saja Penyebab Keracunan pada Ternak?

Apa Saja Penyebab Keracunan pada Ternak?

Kasus Keracunan pada Ternak

PecintaSatwa.com – Keracunan dapat menyebabkan kematian tiba-tiba dan kerugian yang besar bagi peternak. Karena itu, para peternak dan karyawan di sektor peternakan sebaiknya mendapatkan pelatihan untuk mengenali agen-agen pembawa racun, tanda-tanda keracunan dan penanggulanan kasus keracunan darurat. Sehingga ketika gejala keracuna terjadi, para petugas kandang segera cepat tanggap melakukan pertolongan darurat semaksimal mungkin.( Simak: Sapi Limosin – The Blondy Cattle )

Keracunan masal di padang penggembalaan

Setiap bahan racun memiliki mekanisme kerja berbeda, menimbulkan variasi gejala klinis yang berbeda pula, berikut ini beberapa bahan yang sering menyebabkan keracunan pada ternak:

  • Asam Sianida. Zat ini dikandung beberapa jenis tumbuhan, seperti: daun singkong, rumput sudan, rumput panahan, sorghum, Johnson grass, black cherry dan choke cerry. Pada ternak yang mengalami keracunan sianida akan mengalami kejang, diare, ber-airmata, sesak nafas. Tutup usia dapat terjadi paling cepat 15 menit setelah gejala pertama muncul, tergantung dari jumlah racun yang dikonsumsi dan keadaan fisik ternak.
  • Alfafa. Tumbuhan ini mengandung protein yang cukup tinggi, banyak diantara perusahaan per-susuan menggunakan alfafa sebagai salah satu bahan pakannya, namun waspadalah jika menggunakan alfafa layu, karena saat proses pelayuan, coumarin dalam alfafa berubah menjadi dicoumarin yang dapat merusak protrombin dalam darah, akibatnya masa pembekuan darah menjadi lebih lama. . alfafa layu sangat tidak disarankan dikonsumsi oleh ternak yang baru mengalami tindakan bedah, akan terjadi pendarahan terus menurus dan penundaan wound healing, hal ini tentu saja sangat berbahaya.
  • Botulism. Racun ini dihasilkan oleh Clostridium botulinum, biasanya terdapat pada pakan kemasan / pakan kalengan yang menjadi campuran pakan sapi di industri. Perlu diwaspadai apabila dalam kemasan kaleng tersegel terdapat bentuk yang tidak wajar, seperi kaleng terlalu menggembung. Botulism diproduksi oleh tubuh bakteri. Saat bakteri hidup, racun tersebut inaktif, namun ketika bakteri mati dan hancur tubuhnya maka racun itupun keluar, menjadi sangat berbahaya.
  • Arsenik. Pakan mengandung arsenic dapat disebabkan karena disimpan dalam gudang yang dengan atap berbahan arsen, selain itu juga digunakan obat-obatan mengandung arsen dalam peternakan, penggunaan racun tikus yang memiliki kandungan arsen sangat berbahaya. Sapi potong dan unggas sangat peka dengan arsen. Saat keracunan, ternak akan mengalami diare berwana hitam, tidak mau makan, otot-otot bergetar, kejang, adanya rasa sakit dibagian perut (kolik), bahkan dapat terjadi kematian mendadak tanpa gejala klinis.
  • Nitrat. Keracunan nitrat dapat terjadi pada sapi, babi, unggas yang diberi pakan hijauan terfermentasi dengan kandungan nitrat tinggi saat proses pembuatannya. Disamping itu, hijauan segar khususnya yang muda dapat mengandung nitrat berlebihan apabila dalam penanamannya menggunakan pupuk berkadar nitrat tinggi, kualitas tanah tempat menanam rumput mengandung nitrat berlebihan, atau adanya kondisi tertentu yang menyebabkan bakteri pengubah nitrat dalam tanah seperti clostridia tumbuh semakin cepat. Hewan yang mengalami keracunan nitrat, biasanya akan mengalami penurunan produksi susu, gangguan kebuntingan, matanya kebiruan, kembung, diare, kolik, dan sesak nafas.
  • Mercury. Bahan kimia ini didapat dari bahan pakan hasil sampingan industri yang diolah secara kimiawi menggunakan mercury. Pemeriksaan racun dan logam perlu dilakukan pada bahan-bahan jenis ini sebelum dicampurkan dalam pakan, selain pemeriksaan kadar nutrisi. Gejala klinis keracunan mercury mirip seperti keracunan arsen, namun pada kejadilan yang kronis dapat dilihat adanya penurunan berat badan secara drasitis, radang lambung, radang gusi hingga gigi tanggal, radang ginjal, nafsu makan menurun, dan sapi banyak mengeluarkan air liur / ngiler. ( Anda perlu tahu: Tips Memilih Sapi Bakalan yang Menguntungkan )

Pencegahan Keracunan pada Ternak

Kasus keracuan sangat berbahaya bagi ternak, gejala klinis yang ditunjukkan dapat berbeda pada setiap individu, tergantung pada jumlah zat yang meracuni dan kondisi tubuh ternak. Pemeriksaan kandungan kimia dan logam pada bahan pakan perlu dilakukan secara rutin sebagai tindakan antisipatif. Manajemen penataan gudang pakan juga harus diperhatikan, gunakan prinsip FIFO (first in first out), jangan menimbun bahan pakan terlalu lama, terlebih dalam kondisi gudang yang lembab dan padat. Rawatlah hewan ternak sebagaimana anda menghargai diri sendiri, dengan demikian mereka akan memberikan hasil terbaik untuk Anda. Selamat beternak!

 

Sapi Limousin – The Blondy Cattle

Sapi Limousin – The Blondy Cattle

Bibit Sapi Limousine

Sahabat Pecinta satwa, di artikel sebelumnya sudah dibahas tentang sapi simenthal, generasi sapi unggul yang umum dijadikan bibit pejantan oleh peternak di Indonesia. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tidak hanya sapi simenthal saja yang menjadi favorit untuk dibudidayakan, masih ada beberapa breed unggulan lainnya sebagai pilihan menu para peternak jika ingin ngunduh mantu untuk sapi betina peliharaannya, sehingga dihasilkan pedet cross breed dengan performa bagus dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Salah satu breed tersebut adalah Sapi Limousin.

sapi limousine

Seperti hal nya sapi simenthal, Limousin merupakan breed sapi sub species Bos (primigenius) Taurus, berasalh dari benua asia bagian barat, sehingga lebih terkenal dengan sebutan sapi eropa / continental. Termasuk dalam keluarga bos Taurus bersama sapi limousine dan simenthal, diantaranya: Angus, Charolais, Hereford, Senepol, dan golongan sapi perah.

 

Asal-Usul Sapi Limousine

pure breed limousin

Sesuai dengan namanya, sapi berbadan besar ini berasal dari kawasan Limousine dan Marche di Negara Perancis bagian barat. Sapi limousine mulai diekspor besar-besaran dari Perancis pada tahun 1960an, dan hingga kini telah tersebar setidaknya di 70 negara. Sebenarnya sapi limousine bukanlah breed sapi yang terbesar, akan tetapi limousine memiliki kombinasi genetic yang seimbang sehingga menjadikannya sebagai premium breed dengan karakter profitable. Secara alami, berwana coklat emas cerah hingga kemerahan gelap, dimana daerah disekitar mata dan kaki bagian bawah berwarna agak terang, karena itu sapi biasa dijuluki sapi pirang atau The Blondy Cattle. Selain itu, asalnya sapi limousine merupakan jenis sapi bertanduk, namun saat ini jenis limousine yang berkembang luas adalah sapi tanpa tanduk dengan warna lebih gelap hingga kehitaman.

 

Keunggulan Utama Sapi Limousine

Sapi limousine populer dan diminati dibanyak Negara hingga diekspor dalam skala besar, tak lepas dari banyak kelebihannya sebagai sapi pedaging yang berprospek untuk dibudidayakan.

Sapi limousine banyak diminati peternak

 

Sapi limosin unggul

Nilai lebih yang bisa didapatkan dari sapi jenis limousine adalah sebagai berikut:

  1. Berbadan panjang, besar dan padat.
  2. Karkas (bagian tubuh sapi tanpa kepala-kaki-kulit-jerohan) tinggi, berkisar 62-68%. Dimana 75% nya berupa daging / otot, bentuk pertulangan yang baik dengan proporsi tulang di banding daging, 1 : 4,7
  3. Texture daging bagus, lemak minim (lemak intramuskuler hanya 7%), pertumbuhan otot maksimal, jenis daging yang sangat diminati pasar.
  4. Pertambahan bobot harian / average daily gain untuk pedet hingga bakalan 1,16 kg/hari, dan untuk sapi bakalan yang mulai masuk feedlot 1,5 kg/hari
  5. Cocok dipelihara di daerah dengan curah hujan tinggi, dengan iklim sedang.
  6. Bobot lahir pedet tidak terlalu besar, sehingga proses kelahirannya mudah dan angka kematian neonatal rendah
  7. Calving rate (jumlah kelahiran dari ternak yang bunting) 93%, dan fertilitasnya 98%
  8. Sapi betina akan terus bertumbuh hingga umur 6-8 tahun, dan relative konstan hingga umur 10-12 tahun, karena itu lah masa produktif sapi betina limousine lebih panjang sehingga dapat beranak berkali kali.

Pembibitan Sapi Limousine di Indonesia

Di Indonesia sendiri, sapi cross breed Limosin sangat digemari peternak, seperti sapi jenis Limpo (silangan antara sapi limosin dan peranakan ongole / PO), yang memiliki pertumbuhan optimal dan kemampuan adaptasi yang sangat baik. Para peternakpun dapat dengan mudah mengawinkan ternak mereka dengan bibit limousine dengan kualitas genetic unggulan dan terseleksi, melalui teknologi inseminasi buatan menggunakan semen beku yang dipanen dari sapi-sapi limousine impor dan pernakanannya, untuk mendapatkan pedet pewaris sifat unggul sapi limousine, tumbuh besar dan bernilai tinggi.

 

Sapi Bali – Ternak Asli Nusantara

Sapi Bali – Ternak Asli Nusantara

Mengenal Sapi Bali

Dikalangan peternak sapi dan masyarakat pulau Bali-Lombok, sapi bali sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di padang gembala yang hijau dan luas di kedua pulau tersebut sering terlihat koloni sapi bali sedang merumput, turun minum dan bermain bersama kawannannya. Sepintas sapi-sapi tersebut terlihat liar tak bertuan, bahkan kadang kala tak bertali dan bebas berlarian, namun jika dicermati lagi, di sisi padang gembala itu akan kita temui para peternak yang menggembala ternaknya. Hal ini umum dilakukan masyarakat pedesaan pulau Bali dan Lombok, memelihara ternaknya dengan sistem pasture (gembala).

Sapi yang bernama latin Bos sondaicus ini merupakan sapi asli Indonesia yang populasinya terbanyak dengan penyebaran yang luas dibanding dengan jenis sapi lokal lainnya, seperti sapi madura dan sapi aceh. Sapi bali terdapat di sebagian besar propinsi di Indonesia, jumlah sapi bali terbanyak hingga saat ini terdapat di propinsi Bali, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan.

Ciri Khas Sapi Bali

Warna coklat bata hingga kehitaman merupakan ciri khas sapi bali, disamping warna putih di kaki bagian bawah yang membuat sapi bali sering dijuluki sebagai sapi berkaus kaki. Warna

tubuh sapi bali dapat berubah sesuai dengan umur nya, pada sapi jantan akan terlahir dengan warna sawo matang, kemudian puber di usia 1,5 tahun dengan warna coklat kemerahan, selanjutnya akan terus menggelap dan menjadi coklat gelap hingga hitam pada umur 3 tahun. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh hormone reproduksi yang dihasilkannya, karena itulah, sapi dewasa yang dikebiri akan dapat berubah warna dari coklat kehitaman menjadi coklat muda atau merah bata.

Selain warnanya yang menciri, sapi bali dapat dikenali dengan badannya yang sedang padat dengan dada dalam, tidak berpunuk, kaki ramping pendek menyerupai kerbau, memiliki garis belut/garis hitam memanjang mulai gumba hingga pangkal ekor, cermin hidung dan ujung ekor berwana hitam dan bertanduk arah keluar untuk jantan dan kedalam untuk betina.

Sejarah Sapi Bali

Para peneliti menduga bahwa sapi bali berasal dari banteng liar (Bibos bantheng) terdomestikasi sebelum 3500 SM di Indonesia atau Indochina, kemiripan genetic antara kedua jenis family bovidae ini sangatlah dekat, hingga kini populasi banteng liar masih dapat dijumpai di hutan lindung Baluran di ujung timur pulau jawa dan di hutan ujung kulon, Jawa Barat. Pusat terjadinya domestikasi diperkirakan di pulau bali, karena pulau bali diketahui sebagai pusat gen / bank gen sapi bali, disamping itu sapi bali yang berasal dari Nusa Penida diyakini sebagai pure breed sapi bali di Indonesia.

Penyebaran sapi bali mulai tercatat pada tahun 1890 dimana pemerintah Belanda mengirimkan ribuan sapi bali ke Sulawesi untuk langsung didistribusikan kepada para peternak disana, sejak saati itulah sapi bali mulai berkembang pesat di seulawesi.

Sedangkan perjalanan sapi bali ke pulau Lombok terjadi mulai abad ke-19, dibawa oleh Raja-Raja yang datang dan pergi dari pulau Bali. Selain penyebaran dalam negeri, sejarah juga mencatat popularitas sapi bali pada abad ke 19 yang diekspor ke luar negeri, yakni ke semenajung Cobourg – Australia untuk diperkenalkan pada tahun 1827 dan 1849, kemudian diekspor sebagai sapi kebiri untuk dipotong di Hongkong, Filipina, dan hawai, juga dikirim ke Texas, USA dan New South Wales untuk diteliti lebih lanjut.

Ketenaran pengiriman sapi bali dari pulau dewata ternayata tidak dapat bertahan lama, sejak wabah penyakit jembarana pada tahun 1964, pulau bali sudah tidak diperbolehkan mengeluarkan sapi bakalan, peran ini pun akhirnya digantikan oleh propinsi Nusa Tenggara Barat yang juga memiliki populasi sapi bali dalam jumlah besar.

Keunggulan Sapi Bali

Minat masyarakat terhadap sapi bali dari jaman ke jaman terjadi sedemikian rupa karena sapi asli nusantara ini memiliki banyak keunggulan yang prospek bagi dunia peternakan, diantaranya: mudah beradaptasi bahkan dilingkungan yang buruk, subur / cepat beranak, Conception Rate (jumlah ternak bunting dari populasi yang dikawinkan) sekitar 85,9%, Calving Rate (jumlah kelahiran yang terjadi dari populasi yang bunting) berkisar 70-81%, Karkasnya sebesar 52-57,7%, cita rasa daging yang kuat, dan kadar lemak rendah dan tanpa marbling cocok untuk masakan asli indonesia seperi rending dan bakso, namun memang kurang cocok untuk di olah sebagai steak.

Dilain pihak, sapi bali juga memiliki beberapa kelemahan yang harus diperhatikan, yakni: peka terhadap penyakit jembrana dan Malignant Catarrhal Fever dimana tingkat kematiannya dapat mencapai 100%, akan tetapi diketahui sapi bali asli Nusa Penida memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut, sehingga saat ini telah dimanfaatkan untuk pembuatan vaksinnya. Selain itu, produktifitas dan reproduktifitas sapi bali dapat menurun jika dilakukan perkawinan silang dengan sapi yang berbeda sub genusnya, hal tersebut akan menghasilkan sapi jantan steril, yang mana struktur dan fungsi organ reproduksinya tidak berkembang normal. Oleh karena itulah, saat ini sedang digalakkan pemurnia genetic sapi bali dengan mengawinkannya dengan Banteng liar yang merupakan asal muasal variasi genetic sapi bali.

 

Tips Memilih Sapi Bakalan Yang Menguntungkan

Tips Memilih Sapi Bakalan Yang Menguntungkan

Cara Memilih Sapi Bakalan yang Baik

bakalan yang baik-dahi lebar-hidung pendek
Bakalan yang baik-dahi lebar-hidung pendek

Seleksi sapi bibit untuk bisnis penggemukan merupakan salah satu poin penting dalam usaha peternakan.Sapi bakalan dengan performa unggul memiliki potensi tumbuh kembang yang baik, kondisi fisik yang stabil dan pertambahan bobot badan optimal selama masa pemeliharaan, sehingga usaha ini dapat memberi keuntungan maksimal bagi peternak.

Sapi bakalan unggul harus memenuhi kriteria performa tubuh dan kesehatan. Peternak harus jeli memperhatikan kondisi fisik sapi tersebut sebelum membelinya, karena proses seleksi adalah start usaha peternakan yang menjadi salah satu penentu keberhasilan penggemukan sapi pedaging.

Kriteria Performa Sapi Bakalan

  • Jenis sapi. Jenis sapi cross simenthal, cross brahman, dan cross angus memiliki sifat genetis yang baik untuk digemukkan. Jenis sapi silangan biasanya dihasilkan dari perkawinan inseminasi buatan. Sapi cross ini dapat dikenali dengan melihat ciri-ciri fisik indukan pejatannya. Contohnya: untuk simenthal cross biasanya berbadan besar, tinggi dan panjang, berwarna coklat kemerahan, kecuali bagian muka berwarna putih, cermin hidung / cingur berwarna merah muda.
  • Bentuk badan. Sapi berbadan pajang, dan berpostur tinggi dengan pertulangan yang kokoh. Berat sapi sebaiknya 300-400kg.
  • Posisi berdiri: harus lurus kokoh, berhatikan bentuk kaki belakang dan depan, jangan sampai anda memilih sapi yang kakinya mulai menyudut /

Menarik disimak: Sapi Bali – Ternak Asli Nusantara

  • jika anda berniat untuk menjual sapi saat kurban dengan masa penggemukan normal (90-120 hari), pilih lah sapi yang sudah poel / tanggal gigi nya, karena sapi poel adalah syarat utama sapi kurban disamping sehat dan normal.
  • Sapi dengan tulang kaki kecil banyak diminati oleh pembeli untuk disembelih karena proposi daging tinggi dan prosentase tulangnya lebih rendah. Akan tetapi, hal ini menjadi dilema tersendiri dalam proses pemeliharaannya, karena sapi bertulang kaki keci akan rawan mengalami patah tulang apabila badannya terlalu gemuk sedangkan kaki tidak terlalu kokoh menopang, akibatnya jika terjadi insiden terpeleset atau jatuh, kemungkinan patah tulang akan semakin besar. Karena itu, lebih baik anda memilih sapi dengan tulang kaki yang sedang dan kokoh.
  • Sapi sehat dicirikan dengan kondisi kulit dan rambut yang sehat juga. Rambut (bulu) sapi yang sehat akan terlihat halus, mengkilap, dan tanpa parasit. Sedangkan sapi berambut kusam, berdiri dan kasar merupakan salah satu ciri sapi terinfestasi parasite cacing dalam pencernaannya.

Baca Pula: Sapi Limousin

  • Bentuk badan. Sapi dengan bentuk badan panjang menyerupai persegi panjang (dilihat mulai dari belakang kaki depan (dada) hingga depan kaki belakang (perut) merupakan ciri sapi yang baik untuk digemukkan, hindari sapi berbadan trapesium dimana dada nya sempit dan perutnya lebar. Disamping itu perhatikan bentuk perutnya. Pilih lah sapi dengan perut besar namun tidak menggantung (tampak samping), dan simetris kanan kiri (tampak belakang) tidak terlalu melembung besar, kecuali pada sapi yang telah makan akan terihat perut kiri lebih besar (normal).
  • Tulang punggung yang baik harus lurus, tidak melengkung. Hal ini penting karena tulang punggung adalah penahan utama perut, disaat sapi digemukkan dengan porsi pakan yang banyak dibutuhkan tulang punggung yang kuat dan lurus.

Kondisi fisik Sapi Bakalan

bakalan yang baik-postur tegap seimbang
Bakalan yang baik-postur tegap seimbang
  • Tanduk: normal, sehat tidak terluka, lebih baik juga tidak patah
  • Telinga: terasa hangat tubuh, tidak terlalu panas atau dingin
  • Mulut: bersih tanpa busa, air liur tidak berlebihan
  • Hidung: basah mengkilap, tidak kering dan panas
  • Mata: bersih cerah
  • Keluh hidung dan tali leher: longgar tanpa luka
  • Pernafasan: normal, tidak tampak berat (ngongsroh) atau terlalu cepat (ngos ngosan)
  • Kotoran: lembek normal, tidak diare
  • Kaki: normal tidak pincang

Seleksi ketat mutlak harus dilakukan dalam usaha penggemukan sapi pedaging. Jika anda dapat memilih sapi bakalan dengan kualitas unggulan, maka potensi pertambahan berat bada harian juga akan semakin tinggi sehingga dapat menghasilkan keuntungan maksimal.

Simak pula: Penyebab Demam 3 Hari pada Sapi

 

Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?

Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?

Mengapa Sapi Tidak Birahi

Sapi Birahi
Sapi Birahi

Di pedesaan, pada peternakan rakyat sering kali dijumpai kasus-kasus gangguan reproduksi, hal ini tentunya sangat meresahkan para peternak, karena sapi betina yang dipelihara terus membutuhkan biaya pakan dan pemeliharaan, namun tak kunjung bunting dan beranak sebagai keuntungan utama peternak. Umumnya kasus yang terjadi adalah sapi sapi indukan atau dara (belum pernah melahirkan) tidak kunjung menunjukkan gejala birahi / brai / bengah, sehingga tidak dapat dikawinkan baik menggunakan metode kawin suntik maupun kawin alam.

Apa sih Tanda-tanda Sapi Birahi?

Tanda-tanda sapi birahi biasa disingkat dengan 3A (Abang-Aboh-Anget / Alat kelamin luar merah, bengkak dan hangat), 2B (Bengah-Bengah / teriak-teriak), 2C (Clingak-Clinguk / Gelisah dan menaiki atau dinaiki sapi lain), dan 1D (Dlewer / keluar lendir kental trasparan dari kelamin).Meski tidak kesemua tanda terlihat jelas, gejala birahi tersebut sangat khas pada sapi betina yang telah mengalami pubertas dan sehat, lain hal nya dengan ternak yang mengalami gangguan reproduksi seperti hipofungsi ovarium, tidak satupun tanda birahi diatas terlihat, bahkan hingga berbulan bulan atau bertahun tahun, dimana semestinya birahi terus berulang 21 hari sekali setiap periodenya, jika ternak tidak bunting.

Postur indukan yang baik - siap dikawinkan
Postur indukan yang baik – siap dikawinkan

Tidak terjadinya siklus reproduksi normal pada ternak, yang disebabkan karena kegagalan atau insufisiensi produksi hormon gonadotropin yang berdampak pada tidak optimalnya atau bahkan kegagalan folliculogenesis (pembentukan folikel) di dalam ovarium / indung telur.

Karena di dalam ovarium tidak terbentuk folikel yang mengandung sel telur, hormon-hormon yang berasal dari ovarium pun tidak dapat diproduksi, seperti esterogen dan progesterone, sehingga hewan tidak mengalami gejala birahi.

Etiologi Hipofungsi ovarium

Hipofungsi ovarium, biasanya terjadi pada sapi perah dengan produksi tinggi, indukan yang baru pertama kali beranak, dan sapi yang masih menyusui pedetnya. Ada beberapa factor yang menyebabkan kondisi ini:

  • Defisiensi nutrisi yang menyebabkan hipofungsi (penurunan kinerja) organ;
  • Efek musim dan suhu lingkungan yang ekstrim;
  • Masalah genetik dengan lamanya rekondisi fungsi ovarium pasca beranak;
  • Respon suckling / menyusui (endocrine feedback reaction).Aktifitas menyusui akan menstimulasi sekresi hormon prolactin, yang menyebabkan perpanjangan masa unoestrous (tidak birahi) pasca melahirkan. Prolactin dapat mengurangi sensitifitas ovarium khususnya pada tingkatan kadar hormon-hormon pemicu birahi

Dampak produksi tinggi sapi perah terhadap hipofungsi ovarium, masih menjadi perdebatan, beberapa peneliti melaporkan terjadinya efek yang signifikan dan berpengaruh langsung, akan tetapi beberapa peneliti lainnya menyatakan bahwa produksi susu yang tinggi tidak memiliki pengaruh langsung terhadap fungsi ovarium, hanya saja keadaan ini akan menyebabkan penurunan berat badan dan defisiensi nutrisi yang menyebabkan terjadinya penurunan fungsi indung telur.

Defisiensi nutrisi karena gangguan metabolisme atau kurang pakan
Defisiensi nutrisi karena gangguan metabolisme atau kurang pakan

Kekurangan energi merupakan hal yang penting, terutama jika menyebabkan penurunan berat badan yang drastis, hal ini biasanya terjadi pada sapi dara yang baru pertama kali melahirkan dimana fisiknya masih dalam keadaan bertumbuh. Terlebih jika sapi setiap harinya hanya menkonsumsi jerami padi, sebagai limbah pertanian dari sawah peternak, tanpa selingan pakan tinggi protein seperti konsentrat, penurunan bobot badan drastis setelah melahirkan rawan terjadi, bahkan saat kebuntingan trakhir pun hewan dalam kondisi berat badan kurang dari standar, sedang kebutuhan energi sangat besar untuk penopang kehidupan janin dan sapi itu sendiri.

Defisiensi mineral seperti pospor, copper, cobalt, magnesium, serta asupan fito-esterogen (tanaman yang memiliki kandungan kimia mirip hormon reproduksi) dapat menginisiasi terjadinya hipofungsi ovarium. Disamping itu gangguan metabolism yang parah seperti ketosis juga menyebabkan gejala serupa.

Gejala Klinis Hipofungsi Ovarium

  • Hewan tidak menunjukkan gejala birahi baik itu dara maupun indukan (dapat terjadi selama beberapa siklus).
  • Pada pemeriksaan palpasi rektal yang dilakukan dokter hewan atau petugaskesehatan hewan, ovarium teraba kecil, rata dan halus, khususnya pada dara, folikel masih premature sebesar 1.5cm; tidak teraba adanya corpus luteum baik yang sedang berkembang maupun regresi; pada sapi indukkan, terkadang ovarium teraba dengan bentuk yang tidak beraturan karena adanya sisa korpus luteum dan korpus albican yang telah lama teregresi sehingga terkadang rancu untuk membedakannya dengan folikel yang baru berkembang

Untuk meneguhkan diagnosis, pemeriksaan kedua dapat dilakukan pada hari ke 10 setelah pemeriksaan pertama, jika ovarium tersebut hipofungsi maka tidak aka nada perubahan yang terjadi dari pemeriksaan pertama, namun jika ovarium tersebut normal, maka akan terbentuk corpus luteum.

Terapi Siklus Birahi Sapi

Perbaikan pakan dan nutrisi harus dilakukan, khususnya peningkatan asupan energi, untuk rekondisi berat badan ternak dan menjaga kestabilan metabolism tubuhnya.

Stimulasi aktivitas ovarium dapat dilakukan dengan menginduksi pertumbahan folikel dan siklus birahi normal menggunakan obat-obatan hormonal berdasarkan dari pemeriksaan dokter hewan sebelumnya. Pengobatan ini juga akan mengakibatkan terjadinya superovulasi, karena itu pada birahi pertama yang terjadi setelah pengobatan tidak disarankan untuk mengawinkan ternak tersebut.

 

Literatur: Arthur GH, dkk. 1989. Veterinary Reproduction and Obstetric 6th Edition. Bailliere Tindal: London

 

Simethal – Sapi Bule di Indonesia

Simethal – Sapi Bule di Indonesia

Pembibitan Sapi Simethal

Akhir-akhir ini harga daging sapi terus saja meroket, karena stok sapi dalam negri tidak berkembang signifikan, sedangkan konsumsi masyarakat melonjak tajam setiap tahunnya. Berbagai cara telah ditempuh pemerintah untuk mengupayakan swasembada daging sapi, mulai program ditahun 2005, 2010, hingga 2014. Berbagai trobosan sistem peternakan dan teknologi terus dikembangkan, salah satunya adalah dengan metode kawin suntik / Inseminasi buatan dengan menggunakan sperma bibit pejantan dari ras murni sapi berproduktifitas tinggi, dimana hampir semuanya bukan ras sapi asli Negeri ini, beberapa diantaranya adalah sapi Simenthal, Sapi Limosin, Sapi Brahman, Sapi Aberdeen Angus, dan ras-ras hasil silangan bibit murni tersebut.

Pure breed sapi simenthal

Para peternak pun antusias mengikuti perkembangan teknologi di dunia pembibitan sapi, dengan mengaplikasikan teknologi inseminasi buatan pada ternak peliharaan mereka. Bibit pejantan yang paling diminati masyarakat, salah satunya adalah sapi simenthal. Sapi yang biasa disebut sapi ΓÇ£MetalΓÇ¥ ini menjadi favorit karena keunggulan performa tubuhnya dan kualitas daging yang dihasilkan. Sudah menjadi suatu tradisi jika anda berkunjung ke pasar hewan saat ini, harga sapi bakalan silangan simenthal (cross breed) akan cenderung lebih mahal dibanding dengan sapi-sapi jenis lokal seperti sapi PO, sapi bali, dan sapi Madura.

Ciri Khusus Sapi Simethal

Sapi Simenthal termasuk ras (breed) golongan bos Taurus, seperti halnya kebanyakan sapi asli asia barat dan benua eropa. Simenthal bersama breed Frisan Holstein merupakan breed utama di Eropa. Sesuai dengan tempat pertama kali jenis sapi ini dibiakkan, Simme Valey (Lembah Simme, red.) di Oberland Berner ΓÇô Swiss, sapi ini disebut Simenthal dimana suku kata tambahan ΓÇ£thalΓÇ¥ atau ΓÇ£talΓÇ¥ juga berarti lembah (valley) dalam bahasa jerman. Sapi simenthal juga dikenal dengan berbagai nama di beberapa negara, di Jerman disebut Fleckvien, di perancis bernama Pie Rouge, Montbeliarde, Abodance, sedangkan di Italia terkenal sebagai Pezzata Rosa.

Perawakan khas sapi Simenthal yang besar tinggi dan tegap menjadikannya priamadona di dunia peternakan. Breed ini mudah dikenali, baik yang pure breed maupun cross breed, berdasarkan karakternya yang menciri sebagai berikut:

  • Berwarna kuning coklat hingga coklat gelap kemerahan diseluruh tubuh, kecuali daerah wajah dan kaki bagian bawah dan ujung ekor berwana putih
  • Daerah sekitar mata kebanyakan berbentuk lingkaran berwarna coklat kemerahan, berfungsi untuk membantu sistem pencahayaan yang diterima mata.
  • Nostril / cermin hidung berwarna merah muda cerah.
  • Bertanduk sedang, tidak terlalu panjang
  • Perawakan tinggi, panjang, bertulang besar.

Perkembang-biakkan Sapi Simenthal

Sapi simenthal, tercatat telah dikembang biakkan secara luas di swiss, dalam literature pertama tentang peternakan di tahun 1800an. Berikut ringkasan perjalanan panjang sapi simenthal dari swiss ke seluruh dunia:

  • 1400an : dilaporkan bahwa telah dilakukan impor besar-besaran sapi simenthal di Italia.
  • 1785 : pembatasan ekspor sapi simenthal dari swiss diberlakukan
  • 1887 : sapi simenthal mulai menyebar di berbagai Negara di benua Amerika
  • 1890 : diketahui penyebaran sapi simenthal telah meluas hingga 6 benua
  • 1895 : Afrika Selatan mulai mengembang biakkan sapi simenthal
  • 1897 : pertama kalinya sapi simenthal masuk Guatemala
  • 1918 : Ekspansi ke Brazilia
  • 1922 : Argentina mengimpor sapi simenthal
  • Abad ke-19: telah menyebar di kawasan Eropa Timur, Balkan, dan Rusia

Keunggulan Sapi Simenthal

Begitu panjang sejarah penyebaran sapi yang juga dikenal dengan nama Abodance ini, tak lepas dari berbagai keunggulannya. Sapi simenthal merupakan sapi multi purpose, dapat dijadikan penghasil susu, daging dan dimanfaatkan tenaga nya untuk pekerjaan pertanian. Di Amerika, Simenthal lebih difokuskan sebagai penghasil daging, lain halnya dengan di Eropa yang memanfaatkannya produksi susunya untuk menghasilkan susu segar, mentega dan keju berkualitas tinggi.

Selain kelebihan tersebut diatas, beberapa hal yang patut dibanggakan dari performa sapi asli lembah Simme ini, diantaranya:

  • Cepat mengalami pubertas sehingga dapat segera dikawinkan
  • Mudah beranak, Calving Interval (jarak masa beranak) pendek
  • Prosentase karkas tinggi (58%%-62%), kaki depan dan belakang bagian atas berisi daging dengan ketebalan otot optimal
  • Tumbuh kembang cepat, sapi betina dapat tumbuh hingga mencapai berat 700-900kg, dan sapi jantan hingga 1300kg
  • Pertambahan bobot badan harian (Average Daily Gain) tinggi, karena sapi simenthal memiliki kapasitas rumen yang besar, sehingga dapat menampung pakan lebih dari jumlah yang dibutuhkan, hasilnya pertambahan bobot badan akan cepat meningkat.
  • Produksi susu tinggi, dengan sifat maternal yang baik

Kekurangan Sapi Simenthal

Disamping keunggulannya yang banyak dilirik sebagai prospek bisnis berkeuntungan tinggi, Sapi simenthal juga memiliki beberapa kekurangan yang harus diperhatikan dan diwaspadai oleh para peternak, yakni:

  • Sapi iklim subtropis, sulit beradaptasi dengan suhu lingkungan yang terlalu panas, dengan kelembaban yang tinggi. Saat ini, di Amerika terus dilakukan penelitian-penelitian untuk menghasilkan breed sapi simenthal dengan ketahan tubuh tinggi, dan kemampuan beradaptasi yang baik.
  • Jenis sapi besar berbobot tinggi, akan tetapi bobot optimal tidak akan dapat dicapai dengan hanya mengandalkan pakan hijauan. Untuk memaksimalkan pertumbuhan otot dan tulangnya, diperlukan pakan grain tinggi protein (konsentrat), dengan perhitungan khusus dari segi kandungan dan jumlah asupan hariannya.

Silangan Sapi Simenthal di Indonesia

Di Indonesia sediri, telah dikembangkan breed silangan sapi Simenthal melalu teknologi kawin suntik. Dimana sapi betinanya merupakan sapi lokal dengan produktifitas lebih rendah dengan simenthal, namun kemampuan adaptasi dan ketahanan tubuh yang luar biasa, di inseminasi buatan dengan menggunakan semen beku sapi simenthal yang di impor langsung dari Negara-negara yang membudidayakannya. Hasilnya, sapi cross tersebut memiliki perawakan sapi simenthal, dengan ketahanan tubuh yang kuat. Oleh karena itulah, pesona sapi simenthal (cross) dikalangan peternak di Indoesia selalu dapat diunggulkan, dengan harga yang tinggi dan kualitas yang tidak diragukan lagi.

 

Sapi Madura Ternak Primadona dari Tanah Madhureh

Sapi Madura Ternak Primadona dari Tanah Madhureh

Asal Usul Sapi Madura

Sapi Madura merupakan salah satu plasma nutfah asli Indonesia. Menurut sejarah, Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara banteng (Bos taurus) dengan sapi Zebu (Bos indicus). Namun, ada teori yang mengaitkan bahwa sapi Madura juga dilahirkan dari persilangan Bos sondaicus dengan Bos indicus. Hal ini dibuktikan dari ciri fisiknya yakni sapi Madura beberapa memiliki punuk yang sifat ini diwariskan oleh Bos sondaicus serta warna cokelat keputih-putihan yang diwariskan oleh Bos indicus.

Karapan Sapi Madura
Karapan Sapi Madura

Sapi Madura ini mayoritas mendiami pulau Madura, serta daerah-daerah yang penduduk didominasi dari suku Madura. Dari sekian banyak lingkungan peternak yang memelihara sapi Madura, Pulau Sapudi ditetapkan sebagai daerah pemilik bibit-bibit unggul dan asli sapi Madura serta diharapkan dapat mempertahankan mutu genetik di masa depan. Pulau Sapudi menjadi harapan sebagai penjaga plasma nutfah asli dari salah satu sapi khas Indonesia yakni Sapi Madura. Plasma nutfah merupakan substansi agen pewaris sifat dari induk baik itu sebagian maupun keseluruhan dari tubuh serta jasad renik. Dengan adanya plasma nutfah pada sapi Madura yang dimiliki Indonesia, akan menjadi aset serta kekayaan nusantara yang bisa dikembangkan dalam rangka peningkatan ilmu pengetahuan dan program nasional.

Karakteristik Sapi Madura

Sapi Madura memiliki karakter fisik yang tidak jauh berbeda dengan induk aslinya yakni banteng dan sapi zebu. Sapi Madura baik yang mendiami Pulau Sapudi, maupun Pulau Madura dan sekitarnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Warna kulit cokelat kemerahan
  2. Pada daerah kaki depan dan belakang serta abdomen berwarna agak keputih-putihan dengan batas gariswarna yang tidak jelas
  3. Umumnya bertanduk pendek, pada jantan lebih panjang dari betina. Tanduk pada jantan bisa mencapai 10-20 cm.
  4. Punuk pada sapi Madura relatif kecil.

Selain ciri-ciri fisik, menurut Karnaen dan Arifin (2007), sapi Madura secara fisiologis dan biologi memiliki ciri-ciri :

  1. Usia pubertas sapi Madura berkisar antara 510-640 hari
  2. Rata-rata panjang siklus birahi pada musim kemarau lebih panjang dibandingkan dengan siklus birahi pada musim hujan, sebaliknya rata-rata lama periode birahi pada musim hujan lebih pendek dibandingkan dibandingkan dengan lama periode birahi pada musim kemarau
  3. Beberapa sifat reproduksi dan produksi sapi Madura pada musim hujan dan musim kemarau tidak sama.

Keunggulan Sapi Madura

Sapi Madura memiliki keunggulan yang sangat menguntungkan dan mendukung peternakan dengan cara tradisional. Maksud dalam hal ini, sifat sapi Madura yang tahan iklim tropis, bertahan dalam kualitas pakan yang kurang bagus, serta lebih tahan dari penyakit infeksi menjadikan sapi ini primadona bagi peternak yang tidak perlu mengeluarkan cost produksi terlalu tinggi

Sapi Madura pemenang kontes

Sapi Madura merupakan sapi potong yang sangat mudah dipelihara. Selain itu, Sapi Madura juga menjadi sapi adat dimana diperuntukkan budaya Karapan Sapi oleh masyarakat asli suku Madura. Tenaga sapi Madura juga banyak dimanfaatkan peternak untuk membantu pekerjaan baik berladang maupun berkebun serta sebagaialat transportasi sederhana untuk menjalankan kereta.

Untuk meningkatkan populasi sapi Madura juga mudah dilakukan dengan intensifikasi pemuliaan bibit ternak. Keunggulan sapi Madura yang mudah dibiakkan karena angka konsepsi yang tinggi seharusnya menjadikan populasi sapi Madura dapat terus meningkat dari tahun ke tahun. Usaha lain adalah dengan menyilangkan sapi Madura dengan jenis sapi lain, namun alangkah lebih baik jika mutu genetik yang asli dari sapi Madura tetap dipertahankan, sehingga plasma nutfah dari sapi Madura tetap terjaga.

Referensi :

Karnaen dan Arifin, J. 2007. Kajian Produktivitas Sapi Madura. J ilmu ternak 7(2):135-139