Animal Welfare – 5 Prinsip Kesejahteraan Untuk Hewan

Animal Welfare – 5 Prinsip Kesejahteraan Untuk Hewan

Menjadi Penyayang Binatang ?

Burung Macau

Masih ingat kasus penyelundupan 21 ekor burung kakak tua jambul kuning pada tanggal 4 Mei 2015 yang digagagalkan oleh Polsek Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya? Puluhan burung cantik endemis Papua ini dimasukkan ke dalam botol air mineral, dibawa dari Papua untuk diperjual belikan di pulau Jawa melalui perjalanan laut. Baik media cetak, televisi dan internet ramai membahasnya. Berbagai gerakan bermunculan, para aktivis dan netizen penyayang hewan menyerukan Selamatkan si jambul kuning #savesijambulkuning.

Tapi kenapa kita peduli??? Haruskah kita peduli????

Ya!!!.. kita harus!!! Itu lah satu jawaban bulat yang harus kita tegaskan, bukan karena kita pecinta satwa, bukan karena kita pemelihara hewan kesayangan, dan bukan karena kita pertenak, tapi karena kita Manusia. Manusia yang beradab, manusia yang mendengungkan hak asasinya, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, dan hak untuk bahagia, tentu peduli dengan hak kelayakan hidup untuk hewan, yakni animal welfare, Kesejahteraan Hewan.

Banyak jenis hewan disekitar kita, ada yang hidup bebas liar di alam terbuka, ada yang bersahabat dengan kita, bahkan menjadi bagian dalam keluarga, ada yang menjadi bagian dalam mata pencaharian, ada pula yang berkontribusi dalam kemajuan penelitan dan pendidikan. Bagaimana kita harus mensejahterakannya?

 

Llama

Sebagaimana kita, manusia, hewan diciptakan Tuhan di alam ini dengan fitrahnya, perannya tersendiri untuk keseimbangan hidup dunia. Hewan-hewan ternak digembalakan dan dipelihara untuk diambil manfaatnya sebagai bahan konsumsi, hewan kesayangan dirumah kita untuk memberikan kehangatan, kebahagian dan ketentraman, begitu pula dengan jenis hewan lain, mereka hidup dengan kemanfaatannya.

 

Prinsip Animal Welfare

Dasar dari kesejahteraan hewan yang harus kita pahami di terapkan, -seperti yang dijelaskan oleh John Webster- adalah mengusahakan hewan disekitar kita untuk dapat hidup normal alami, sehat dan bugar, serta bahagia. Lebih terperinci dari 3 konsep Webster tersebut, terdapat 5 prinsip animal welfare secara general, diantaranya :

  1. Baboon

    Bebas dari rasa lapar dan haus. Sebagai pemilik atau pemelihara hewan, kita wajib untuk menjamin ketersediaan makanan untuk hewan yang menjadi tanggung jawab kita. Makanan yang baik, bernutrisi, menyehatkan dan menjaga kelangsungan hidupnya. Disamping itu, air bersih juga harus mudah didapatkan hewan disekitarnya secara ad libitum atau tak terbatas.

  2. Bebas dari ketidaknyamanan. Hewan patut mendapatkan lingkungan yang nyaman, tempatnya untuk beristirahat, bermain dan beraktivitas, baik di rumah, di peternakan, di kandang, maupun di lingkungan penampungan hewan sementara / animal shelter.
  3. Bebas dari rasa sakit dan penyakit. Penjagaan kesehatan hewan tentunya harus diperhatikan. Vaksinasi rutin sesuai kebutuhannya harus dilakukan, begitu juga apabila kondisi hewan terlihat kurang baik, sepantasnya kita memberikan terapi medis dan perawatan yang baik
  4. Bebas mengekspresikan perilaku normal dan alami. Dalam hal ini, biarkan hewan kesayangan anda menjadi dirinya seutuhnya, jangan paksakan ia meniru kebiasaan kita sebagai manusia, seperti memberinya baju dengan kain tebal yang membuat kulitnya iritasi, memberi asesoris yang berlebihan, mengurangi bagian tubuh agar terlihat cantik (potong ekor dan potong telinga), atau melatihnya untuk melakukan atraksi dengan siksaan dan pukulan. Biarkan dia berprilaku selayaknya dia hidup.
  5. Bebas dari rasa takut dan tekanan. Hidari untuk menghardik, membentak, apalagi memukul hewan. sentuhlah dengan kasih sayang, dan pandanglah ia sebagai makhluk ciptaan Sang Kuasa yang berharga, yang tak patut dihina.

Konsep Animal Welfare

Harimau

Saat ini, konsep animal welfare telah menjadi prinsip setiap organisasi didunia yang berhubungan dengan kehidupan hewan, seperti OIE/WAHO (world animal health organization), FAO (food and agriculture organization) dan WHO (World healt organization). Sehingga disetiap langkah kerjanya selalu mempertimbangkan kesejahteraan hewan, baik pada hewan ternak, hewan kesayangan, hewan coba, dan satwa liar.

Pada tata laksana pemeliharaan hewan ternak, prinsip kesejahteraan hewan ditekankan pada sistem pemeliharaan yang ideal, kapasitas kandang yang tepat tidak terlalu padat, dan perlakuan yang baik saat penyembelihan, dengan metode secepat dan seaman mungkin sehingga hewan tidak merasakan kesakitan terlalu lama.

Disisi lain, dalam dunia penelitian penggunaan hewan coba selalu diawasi. Para peneliti yang akan menggunakan hewan coba dalam penelitiannya wajib mengikuti sidang dengan komisi etik yang terdiri dari dokter hewan berwenang untuk membahas mengenai metode penelitian dan seberapa jauh hewan tersebut berkontribusi. Komisi etik harus memastikan bahwa jumlah hewan coba yang digunakan tidak terlalu banyak, metode yang akan diterapkan tidak terlalu menyakitkan, dan pemeliharaan yang dilakukan sesuai dengan standar kebutuhan hewan tersebut. Hewan coba yang sering digunakan dalam penelitian yaitu tikus, mencit, monyet, kelinci, dan unggas.

Rusa tutul

Demikian halnya dengan aplikasi animal welfare pada hewan kesayangan. Kini telah banyak non government organization (NGO) internasional dan nasional yang mengkampanyekan tentang kesejahteraan hewan pada hewan kesayangan seperti world animal protection, international fund for animal welfare, dan masih banyak lagi. Mereka membuat panduan untuk menjaga populasi hewan, mengedukasi pemilik hewan maupun masyarakat umum mengenai pentingnya kesejahteraan bagi hewan dan cara bagaimana hidup berdampingan dengan hewan sehingga tidak ada hewan yang tersiksa selama dipelihara manusia.

 

Aturan Perdagangan dan Konservasi Satwa

Di bidang konservasi satwa liar, aturan kesejahteraan hewan tercantum dalam kesepakatan international yang disusun pada tahun 1964 oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), dengan anggota 1200 lembaga pemerintah dan non-pemerintah dari seluruh dunia yang aktif di bidang pelestarian lingkungan, IUCN list berisikan daftar panjang klasifikasi hewan berdasarkan tingkat kelangkahannya. Selain itu juga ada CITES (Convention on International Trade of Edangered Species), perjanjian multilateral untuk mengatur perdagangan satwa liar. CITES telah disepakati oleh 180 negara di dunia, termasuk Indonesia (diratifikasi dalam Keputusan Pemerintah no. 43 tahun 1978). Dengan tujuan untuk melindungi hewan-hewan langka yang terancam punah terutama akibat perburuan liar dan perdagangan di pasar gelap.

Zebra

Sedangkan di Indonesia, Kewajiban pelaksanaan animal welfare secara nasional telah diatur dalam UU 2009 No 18 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. pada bab VI pasal 61 dijelaskan bahwa daging yang beredar dipasaran harus mengikuti cara penyembelihan dalam asas kesejahteraan hewan, disamping itu, pada pasal 66-67 dijelaskan mengenai animal welfare yang harus dilakukan secara manusiawi, pasal ini sinkron dengan prinsip global 5 freedom for animal. Dalam UU tersebut juga dijelaskan tentang adanya hukuman / sanksi untuk para perlanggar undang-undang. Karena itu lah, para pelanggar kesejahteraan hewan di Indonesia dapat dipidanakan atau dituntut dipengadilan atas dasar pelanggaran UU yang dilakukan.

 

CITES – Standar Legalitas Perdagangan Satwa Internasional

CITES – Standar Legalitas Perdagangan Satwa Internasional

Regulasi Perdagangan Satwa Internasional

Beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas soal IUCN Red List, standar kelangkaan satwa di dunia. Dari daftar ini, kita bisa mengetahui bagaimana status suatu spesies makhluk hidup di alam

Trenggiling (Manis javanica)

terancam punah, punah di alam, atau aman-aman saja. Hal ini tentu sangat penting untuk diperhatikan para pecinta satwa agar bisa dengan bijak memilih satwa yang ingin dipelihara, sehingga tidak mengganggu populasinya di alam. Dengan memahami regulasi nasional dan international, kita juga bisa serta berperan aktif dalam mencegah perdagangan satwa langka di Indonesia, sehingga satwa-satwa yang luar biasa tersebut masih bisa memenuhi perannya yang penting di ekosistem.

Bicara soal perdagangan satwa liar, sebenarnya ada satu sistem lagi yang kita pahami untuk mengetahui legalitas aktifitas jual-beli satwa dan tumbuhan secara internasional disebut sebagai CITES (Convention on International Trade of Edangered Species). Berbeda dengan IUCN yang merupakan sebuah lembaga internasional, CITES merupakan perjanjian multilateral (antar-negara) yang mengatur perdagangan satwa liar yang disepakati oleh 180 negara di dunia, termasuk Indonesia (diratifikasi dalam Keputusan Pemerintah no. 43 tahun 1978). Tujuan dari kesepakatan ini adalah melindungi spesies-spesies langka yang terancam punah terutama akibat perburuan dan perdagangan, baik hidup maupun mati seperti badak dan gajah yang diburu karena permintaan yang tinggi terhadap cula dan gading mereka.

Nah, dalam konvensi ini terdapat skala prioritas yang hampir mirip seperti skala keterancaman IUCN, hanya saja lebih sederhana dan hanya terdiri dari 4 kategori yang disebut sebagai Appendix. Masing-masing kategori memiliki peraturan dengan tingkat keketatan yang berbeda, tergantung dari tingkat keterancaman spesies tersebut dan seberapa besar pengaruh perdagangan internasional terhadap populasi globalnya. Semakin tinggi tingkatannya, spesies tersebut semakin dilarang untuk diperjualbelikan secara internasional, baik dalam keadaan hidup atau mati, dan baik dalam keadaan utuh ataupun fragmen tubuhnya (misal, cula badak, gading gajah dan kulit harimau). Nah, penasaran kan kategori apa saja yang ada di konvensi ini? Yuk kita bahas!

CITES (Convention on International Trade of Edangered Species)

  1. Appendix I

Terdiri dari sekitar 1200 spesies hewan dan tumbuhan, dan menempati prioritas tertinggi di konvensi ini. Spesies yang termasuk dalam Appendix 1 pada dasarnya dilarang untuk diperjualbelikan di lingkungan internasional, kecuali untuk tujuan tertentu seperti penelitian dan konservasi eks-situ. Hampir seluruh spesies yang termasuk dalam daftar ini dilindungi oleh undang-undang negaranya masing-masing, termasuk di Indonesia. Beberapa contoh dari satwa yang termasuk dalam daftar ini antara lain Kukang (Nycticebus spp), Gajah Asia (Elephas maximus), Badak Sumatra (Dirhinocreros sumatrae), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Harimau Sumatra (Pantherra tigris sumatrae), dan kedua jenis Orangutan (Pongo pygmaeus dan P. abelii).

Diperlukan izin expor dan impor yang ketat untuk memindahkan spesies dari daftar ini dari satu negara ke negara lain. Negara pengekspor harus memeriksa bahwa izin impor dari negara pengimpor sudah benar, dan memasikan negara tersebut mampu merawat satwanya dengan baik. Khusus untuk keturunan dari satwa liar Appendix I yang dilahirkan di dalam penangkaran, statusnya turun menjadi Appendix II dengan sistem regulasi yang lebih longgar namun bukan berarti bisa dijual bebas dari satu negara ke negara lain.

  1. Appendix II

Terdiri dari 21000 spesies, dan merupakan prioritas perlindungan kedua setelah Appendix 1. Spesies dalam daftar ini tidak benar-benar terancam kepunahan, namun bisa saja terancam apabila tidak ada regulasi yang ketat mengenai perdagangannya. Selain itu, keturunan dari satwa Appendix 1 yang dilahirkan/ditetaskan di penangkaran juga termasuk dalam kategori ini. Beberapa contoh dari satwa di kategori Appendix II antara lain Paok Pancawarna (Pitta guajana), Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus), Tiong Emas (Graculus religiosa) Trenggiling (Manis javanica) dan Tarsius (Tarsius spp).

Sama seperti Appendix I, pemindahan satwa dalam kategori ini diatur dalam sistem regulasi yang ketat, namun dalam batasan tertentu dapat diperjual-belikan untuk kepentingan komersial. Diperlukan surat-surat yang lengkap untuk dapat mengekspor individu atau bagian tubuh satwa tersebut dari suatu negara anggota, namun tidak selalu membutuhkan izin impor untuk memasuki negara lain (tergantung kebijakan negara masing-masing). Spesies di kategori ini pada dasarnya masih diperjualbelikan setiap tahun, namun suatu saat bisa statusnya dinaikan ke Appendix I.

  1. Appendix III

Terdiri dari 150 jenis satwa dan tumbuhan. Berbeda dari kedua kategori sebelumnya, spesies-spesies di daftar ini disarankan oleh negara anggota yang berusaha melindungi spesies tersebut di wilayah payung hukumnya masing-masing, dan memerlukan kerjasama negara lainnya untuk membatasi perdagangan spesies tersebut di dunia internasional. Spesies yang termasuk dalam daftar ini perdagangannya dibatasi dari negara pengusul, namun biasanya tidak dibatasi di negara lain. Tidak ada satupun satwa dari Indonesia yang masuk ke dalam kategori ini.

  1. Non-appendix

Seluruh spesies satwa dan tumbuhan selain daftar termasuk dalam kategori ini dan bisa diperdagangkan bebas secara internasional, meskipun ada kemungkinan statusnya ditingkatkan di masa depan.

Nah, bila Anda berniat untuk mengimpor atau mengekspor hewan tertentu, ada baiknya Anda memahami peraturan ini. Perlu diperhatikan bahwa meskipun suatu satwa bisa diperjualbelikan secara internasional, belum tentu satwa tersebut benar-benar legal untuk dipelihara dan diperjualbelikan secara nasional sesuai perundang-undangan (misalnya, burung-madu dari famili Nectarinidae termasuk non-appendix namun dilindungi oleh undang-undang). Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai jenis hewan yang termasuk dalam kategori tertentu, Anda bisa mengunjungi situs resmi CITES (http://www.cites.org/eng/app/appendices.php) atau bertanya pada organisasi konservasi satwa di kota Anda.

Mari, kita lindungi satwa liar asli Indonesia!

 

Daftar Merah Satwa dalam Standar Tingkat Keterancaman Satwa Liar di Dunia

Daftar Merah Satwa dalam Standar Tingkat Keterancaman Satwa Liar di Dunia

International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia begitu kaya dengan berbagai macam fauna yang tersebar di seluruh pulaunya. Jutaan spesies hewan menghuni kepulauan ini, beberapa bersifat endemik dan hanya bisa dijumpai di daerah-daerah tertentu. Sayangnya, dari jumlah yang besar ini, tidak sedikit fauna asli Indonesia yang terancam punah akibat berbagai alasan, mulai dari perusakan habitat, perburuan, hingga kehadiran spesies invasif yang berbahaya. Hal ini tentu membuat kita bertanta-tanya, seberapa banyak satwa Indonesia yang benar-benar terancam punah? Hewan apa saja yang benar-benar terancam punah di kepulauan ini?

Tidak semua orang tahu tentang jawaban dari dua pertanyaan di atas. Meskipun sebagian besar masyarakat mengerti tentang terancamnya beberapa jenis hewan tenar seperti Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), hanya sedikit yang benar-benar paham tentang status keterancaman satwa di negeri ini. Sebut saja Kukang (Nycticebus sp), primata nokturnal imut yang sebenarnya amat terancam punah dan dilindungi undang-undang, tapi masih sering dijumpai di pasar hewan dan dipelihara oleh masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh ketidak-tahuan masyarakat tentang betapa terancamnya suatu spesies satwa dan status perlindungannya, sehingga permintaan jenis tersebut di pasar hewan selalu bertambah dari waktu ke waktu.

Daftar Merah IUCN (IUCN Red List)

Lantas, bagaimana sih cara mengetahui status konservasi dan tingkat keterancaman suatu satwa di alam?

Salah satu jawaban paling mudah adalah dengan memahami Daftar Merah IUCN (IUCN Red List), daftar paling komprehensif mengenai status keterancaman berbagai spesies organisme yang ada di Bumi. Daftar ini mulai disusun pada tahun 1964 oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), organisasi internasional yang beranggotakan 1200 institusi pemerintah dan non-pemerintah dari seluruh dunia yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Pada tahun 2012, daftar ini berisi sekitar 42000 spesies hewan dan tumbuhan dari berbagai takson di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Dalam IUCN Red List, seluruh organisme digolongkan dalam 7 kategori berdasarkan kemungkinan spesies tersebut untuk punah di masa depan. Penggolongan ini didasarkan pada perkiraan populasi di alam, persebaran alami, habitat dan ekologi, serta berbagai ancaman yang dapat menyebabkan kepunahan bagi spesies tersebut. Hal ini membuat daftar merah IUCN menjadi rujukan utama berbagai kalangan dalam menentukan status perlindungan suatu spesies dan prioritas konservasinya baik institusi pemerintah, peneliti, organisasi non-profit, dan lain-lain.

Ketujuh kategori dalam IUCN Red List

  1. Low Concern (LC), berisi jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang tidak mengalami keterancaman yang dapat mempengaruhi populasinya secara ekstrem. Jenis organisme yang termasuk dalam kategori ini bisa dikatakan aman dari kepunahan, dengan jumlah populasi yang besar, persebaran yang luas, dan memiliki tingkat adaptasi tinggi. Berbagai hewan yang biasa kita temui di sekitar kita termasuk dalam kategori ini, seperti Burung Gereja (Passer montanus) dan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster).
  2. Near Threatened (NT) atau Low Risk (LR), terdiri atas jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang mulai mengalami keterancaman dengan penurunan populasi yang nyata, meskipun belum mengarah ke kepunahan. Jenis organisme yang termasuk dalam kategori ini biasanya mengalami tren penurunan jumlah di alam, namun populasinya masih cukup besar dengan kemungkinan punah yang kecil. Meskipun begitu, ancaman yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan penurunan populasi yang lebih besar, sehingga spesies tersebut dapat dinaikan statusnya ke kategori selanjutnya (Vulnurable). Di Indonesia terdapat sekitar 388 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, beberapa di antaranya adalah Walet Gunung (Collocalia vulcanorum), Itik Benjut (Anas gibberifrons), dan Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus).
  3. Vulnurable (VU), merupakan kategori organisme yang mulai menunjukan keterancaman yang serius dengan trend penurunan populasi yang sangat tajam. Jenis-jenis hewan dan tumbuhan di kategori ini belum tentu bisa punah dalam waktu dekat, namun bila ancaman dibiarkan dapat menyebabkan keberadaan spesies ini semakin terancam dan statusnya dapat dinaikan ke kategori selanjutnya, Edangered. Terdapat sekitar 550 jenis hewan di Indonesia yang berada di kategori ini, seperti berbagai macam karang (Acropora sp), Kuskus Beruang (Auilorps ursinus) dan Luntur Gunung (Apalharpactes reindwardtii).
  4. Edangered (EN), berisi jenis-jenis organisme yang keberadaanya di alam benar-benar terancam dan dengan kemungkinan punah lebih dari 50% dalam 20 tahun ke depan. Organisme dalam kategori ini biasanya dilindungi oleh undang-undang, dan memiliki populasi yang kecil dengan persebaran yang terbatas. Ada 195 spesies satwa yang termasuk dalam kategori ini di Indonesia, seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), Paus Fin (Balaenoptera physalus), Banteng (Bos javanicus), Anoa dataran rendah (Bubalus depresicornis), dan Penyu Hijau (Chelonia mydas).
  5. Critically Edangered (CR), merupakan kategori yang sangat kritis dan berisi berbagai jenis satwa dan tumbuhan yang sangat rentan terhadap kepunahan. Spesies yang termasuk dalam kategori ini bisa punah dalam waktu dekat, dengan populasi yang sangat kecil, persebaran yang sangat terbatas, dan ancaman yang benar-benar besar. Satwa yang termasuk dalam kategori ini sebagian besar dilindungi oleh undang-undang dan dilarang untuk dipelihara atau diperjual-belikan. Indonesia memiliki 72 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, beberapa diantaranya cukup terkenal seperti Orangutan Sumatra (Pongo abelii), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), dan Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea).
  6. Extinct in Wild (EW), salah satu kategori terburuk dimana tidak ada lagi populasi yang tersisa dari spesies tersebut di alam, namun masih ada beberapa individu yang hidup di penangkaran. Spesies dalam kategori ini tidak ditemui lagi di habitat aslinya dalam waktu yang lama, sehingga dianggap telah punah secara ekologis. Terkadang, suatu spesies dapat diturunkan statusnya dari kategori ini ketika individu di penangkaran berkembang biak dan dilepasliarkan di alam, atau ditemukan populasi yang masih tersisa di habitat aslinya. Contoh: Kondor Kalifornia (Gymnogyps californianus) di Amerika Serikat sempat dinyatakan punah di alam pada tahun 1987, sebelum usaha captive breeding yang dilakukan pemerintah membuahkan hasil berupa beberapa individu yang dilepaskan kembali ke alam, menurunkan statusnya menjadi Critically Edangered.
  7. Extinct (EX), merupakan kategori paling buruk dan berisi jenis-jenis satwa dan tumbuhan yang benar-benar dianggap punah, baik di alam maupun di penangkaran. Organisme dalam kategori ini dianggap telah hilang dari muka bumi secara keseluruhan, meskipun ada kemungkinan beberapa individu yang tersisa di alam. Pada tingkat spesies, Indonesia hanya memiliki 2 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, yaitu Coryphomis buehleri (tikus raksasa) dan Macrobrachium leptodactylus (sejenis udang air tawar), namun pada tingkat subspesies terdapat beberapa nama yang cukup dikenal masyarakat, seperti Harimau Jawa (Pantherra tigris sondaicus) dan Harimau bali (P. t. balica).

Perlu dipahami: Satwa Liar Bukan Hewan Peliharaan

Selain ketujuh kategori di atas, ada juga 2 kategori tambahan bagi jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang masih belum jelas statusnya, yaitu Not Evaluated (NE) dan Data Deficient (DD). Not Evaluated berisi daftar jenis organisme yang belum diketahui informasi apapun mengenai populasinya, sementara Data Deficient merupakan kategori organisme dengan hasil penelitian yang minim. Organisme dalam kategori ini belum tentu langka atau sebaliknya, namun sulit untuk diteliti karena pemalu atau sebab alasan lainnya. Salah satu contoh hewan Indonesia yang termasuk dalam kategori ini adalah Kancil Jawa (Tragulus javanicus), rusa pemalu yang sangat sulit ditemukan di habitat aslinya.

Nah, begitulah sedikit penjelasan tentang IUCN Red List, standar kelangkaan dan keterancaman satwa di seluruh dunia. Dengan pengetahuan tentang daftar ini, Anda bisa mengerti tentang satwa apa saja yang terancam di Indonesia dan mengetahui status konservasi satwa tersebut. Sebagai pecinta satwa yang baik, ada baiknya kita tidak memelihara satwa liar apapun, apalagi satwa langka yang termasuk dalam kategori terancam seperti yang dijelaskan di atas. Bila Anda menemukan satwa langka yang dipelihara atau diperjual-belikan, segera laporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat untuk ditindak dan dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Untuk mengetahui daftar lengkap mengenai tingkat keterancaman suatu spesies, Anda bisa mengunjungi situs IUCN Red list di http://iucnredlist.org. Semoga satwa liar Indonesia tetap lestari selamanya!

Sumber: IUCN Red List