Hewan-hewan yang Hidup di Artik dan Antartika

Hewan-hewan yang Hidup di Artik dan Antartika

Hewan-Hewan Kutub

PecintaSatwa.com – Seperti yang kita tahu, bahwa daerah kutub merupakan daerah yang bersuhu paling rendah didunia. Karena hal ini lah, daerah Kutub menjadi tempat yang sangat sedikit ditinggali. Kutub utara (Artik) dan kutub Selatan (Antartika) merupakan daratan es yang sangat luas bersuhu sangat rendah berada dibawah 0 derajat celcius. Meskipun mempunyai suhu yang sangat ektrem yaitu -34oC di Artik dan -51oC di Antartika kawasan tersebut tetap memiliki kekayaan ekosistem yang patut dibanggakan. Salah satu ekosistem yang mendukung kehidupan di kedua kutub tersebut adalah keragaman fauna yang hidup di dalamnya.

Simak juga: Inilah Daftar Hewan yang Hampir Musnah di Bumi

Meskipun menjadi satu-satunya tempat yang tidak bisa di tinggali oleh reptil tidak ada mamalia darat asli yang hidup didalamnya, Antartika mempunyai samudera yang penuh dengan biota laut. Berkebalikan dengan Antartika, kawasan Artik justru mempunyai lebih dari 24 spesies mamalia. Apabila kedua ekosistem tersebut digabungkan, maka akan menjadi hunian bagi populasi burung laut terbesar di dunia, hunian bagi sejumlah besar plankton air, paus, walrus, anjing laut, dan beruang kutub. Hewan-hewan tersebut sanggup bertahan hidup dalam iklim yang keras melalui adaptasi dan perilaku khas. Selama musim dingin berlangsung, jenis-jenis tertentu akan ada yang berpindah ke area yang lebih hangat, berhibernasi, dan mengembangkan ciri-ciri istimewa untuk melindungi dirinya dari suhu dingin.

Inilah hewan-hewan yang dapat hidup di Artik dan Antartika :

Pinguin Adelia

pinguin adelia
pinguin adelia

Pinguin Adelia merupakan spesies pinguin asli dari Benua Antartika dan paling banyak dikenal oleh para peneliti dan para pengunjung yang datang ke benua ini. Tingginya antara 60 sampai 75 cm dengan berat badan sekitar 3-6 kg. Bagian belakang dan bagian atas kepalanya tertutup dengan bulu hitam dan kebiru-biruan, sedangkan bagian dadanya tertutup dengan bulu putih mulus. Pinguin Adelia dapat menyelam dibawah gumpalan es sampai sedalam 4 m dan dapat melompat kembali keatas gumpalan es terapung setinggi 2 m dari air. Pada saat menuruni pantai, sayapnya akan dibentangkan untuk menjaga keseimbangan. Hewan ini mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan tidak takut dengan kehadiran manusia, sebab baginya musuh utamanya adalah burung camar laut yang suka memakan telur dan anak-anaknya. Selain itu musuh Pinguin Adelia adalah anjing laut dan ikan paus pembunuh yang menyerang Pinguin Adelia pada saat berada di air. Pada saat musim dingin, pinguin ini akan mencari makan di tepi luar balok balok es dan akan kembali naik ke gumpalan-gumpalan es yang terapung untuk kembali ketempat bertelurnya. Pinguin Adelia akan membangun sarang di pantai berkerikil tempat mereka berkembang biak, yaitu dengan cara mengorek lubang dengan kaki-kakinya yang berselaput dan kemudian memagari lubang tersebut dengan lingkaran kerikil.

Burung Tern

 

burung tern
burung tern

Burung Tern adalah burung dari arktik yang melakukan perjalanan keliling tahunan dengan penerbangan migrasi sejauh 35.000 km. Penerbangan migrasi ini terjauh diantara perjalanan dari bangsa burung manapun . Burung ini membuat sarang secara berkoloni . Beberapa jenis burung ini membangun sarang dari rumput laut dan belukar.

 

 

 

 

 

Burung Ptarmigan

burung ptarmigan berkamulflase dengan lingkungan bersalju
burung ptarmigan berkamulflase dengan lingkungan bersalju

Banyak hewan di arktik mempunyai bulu yang berbeda pada saat musim yang berbeda. Pada saat musim dingin burung ptarmigan berbulu putih sehingga sulit terlihat dilingkungan yang bersalju. Sedangkan pada saat musim panas ia menumbuhkan bulu bulu coklat atau abu abu untuk membaur dengan karang, tanah, dan tumbuhan sehingga dapat digunakan sebagai senjata untuk menghindari musuh atau pemangsa.

Terdapat banyak jenis burung ptarmigan yg merupakan burung asli misalnya:
Lagopus rupestris terdapat di Greenland

Lagopus hemileaurus terdapat di Pulau Kutub Spitsbergen

Lagopus Lucurus terdapat dikarang kanada dan Barisan Gunung Amerika Serikat
Baca juga: 7 Jenis Kakatua Nusantara

Kelinci Sepatu Salju

kelinci snowshoe
kelinci snowshoe

Kelinci atau terwelu termasuk bangsa Lagomorpia yang mempunyai kaki belakang lebih panjang dan kuat dari pada kaki depannya. Kaki belakannya memungkinkannya berlari dengan kecepatan 70 km/jam. Kelinci ini termasuk herbivora murni, karena selama musim panas makanannya adalah rumput, tumbuh tumbuhan lainnya. Pada saat musim dingin mereka makan biji-bijian, perdu kering, ranting dan kulit pohon. Hewan ini mengeluarkan makanan yang sudah dicerna bersama kotorannya (makanan ini bisa disebut gintil lambung), kemudian gintil lambung ini dimakan lagi, dicerna untuk kedua kali dan vitamin-vitamin yang penting akan diserap.

Unik bukan? Siapa tahu kelak anda berkesempatan mengunjungi benua putih dikedua ujung bumi ini.

 

 

Kontributor : Maria

Junior Milan dan Talkshow PET TALK untuk Petlovers

Junior Milan dan Talkshow PET TALK untuk Petlovers

Talkshow PET TALK

PecintaSatwa.com – Nama Caesar Milan bagi para Doglovers dan pecinta satwa umumnya pasti sudah sangat familiar. Kemampuannya untuk memahami karakter anjing, dengan memanfaatkan psikologi dan behaviournya menjadikan ia bergelar Dog Whisperer. Namanya yang mendunia, sudah tidak diragukan lagi sepak terjangnya di bidang pelatihan anjing dan dog behaviorist expert. Namun kali ini yang juga mulai ramai dikalangan media internasional bukan lagi Caesar Milan, akan tetapi sang putra kesayangannya Andre Milan. (Ketahui juga: Daftar Merah Satwa dalam Standart Tingkat Keterancaman Satwa Liar di Dunia)

Andre milan dan ayahnya Caesar Milan

Sebagaimana dilansir dalam nationalgeographic.com, putra the dog whisperer ini sedang menapaki karirnya di dunia jurnalistik dengan program terbarunya PET TALK, sebuah program talk show yang ditayangakan pada Nat Geo Wild’s Weekly Series. Program ini fokus membahas serba serbi hewan, seperti kesadaran masyarakat terhadap animal welfare, permasalahan dan solusi untuk satwa, dan penghobi hewan. Pembicara yang dihadirkan pun beragam, mulai dari dokter hewan, polisi, pelatih anjing, hingga para owners. Pria 21 tahun ini juga langsung turun ke jalan, untuk berbincang dengan anak-anak muda yang ia temui membahas isu-isu terbaru tentang satwa. (Baca: Tips Perlunya Vaksinasi pada Anjing dan Kucing)

Si Junior Milan memang sangat terinspirasi oleh ayahnya, sejak kecil ia kerap mengikuti ayahnya saat sedang menangani anjing sebagai spesialisasinya. Ia juga mencintai anjing bagaimana adanya, meski berisik, kotor, atau menjengkelkan. Ia dan ayahnya memiliki passion yang besar dengan dunia anjing.

Pada beberapa episode PET TALK yang telah ditayangkan telah menyajikan topik-topik menarik, contohnya kunjungan Andre Milan ke Mini Farm di Atlanta yang khusus memelihara hewan-hewan mini yang unik, juga episode tentang anjing bertalenta khusus yang dilatih untuk mendeteksi bom, narkotika bahkan penyakit, menakjubkan bukan?!. Disetiap episodenya selalu tersirat pesan-pesan untuk para petlovers, seperti sterilkan peliharaanmu, luangkan waktumu untuk bercanda dengan hewan kesayanganmu, dan pesan-pesan moral bagi generasi muda agar peduli dan mencintai hewan peliharaan sebagai bagian dari kehidupannya.

 

Penyakit Tumor Ternyata Ada di Jaman Dinosaurus

Penyakit Tumor Ternyata Ada di Jaman Dinosaurus

PecintaSatwa.com – Jika banyak orang menganggap bahwa penyakit tumor atau kanker merupakan penyakit modern akibat banyaknya bahan-bahan konsumsi tercemar ternyata tidak seluruhnya benar. Penyakit ini juga diderita oleh hewan-hewan purba yang berukuran super besar, sang legenda Dinosaurus.

Penemuan dinosaurus dengan bekas luka, patah tulang, dan bekas perkelahian lainnya sudah sangat biasa bagi arkeolog. Fenomena yang menggemparkan akhir-akhir ini adalah ditemukannya 2 tipe kanker tulang yang berbeda pada individu yang sama, yakni osteoma dan polkadot-like hemangioma pada tulang vertebrae bagian ekor. ( Baca: 8 Fakta Unik tentang Burung Merak)

Tumor tulang ini ditemukan pada Titanosaurus, keluarga dinosaurus raksasa dengan leher panjang, dan ekor panjang paleo beast. Penemuan ini termasuk penemuan yang sangat langkah dan saat ini terus dipelajari oleh para peneliti di Federal University of Rio de Jenairo Brazilia, sebagaimana yang diberitakan oleh www.livescience.com.

Selain perkembangan zoology dijaman purba, adanya 2 tipe tumor tulang yang ditemui pada Titanosaurus akan menjadi suatu informasi yang sangat penting bagi berbagai bidang keilmuan, seperti paleontologist, dan bahkan kedokteran modern.

 

Ayam Purba atau Chicken from The Hell?

Ayam Purba atau Chicken from The Hell?

PecintaSatwa.com – Para peneliti purbakala (paleontologist) tampaknya sedang panen informasi jaman pra sejarah di akhir tahun 2015, mereka berhasil menemukan sel darah merah dan serat kolagen tulang dinosaurus yang diperkirakan hidup 75 juta tahun yang lalu. Penemuan ini mereka dapatkan di situs penggalian dinosaurus terbesar di dunia, di Scotland’s Scenic Isle of Skye.

Emma Schachner dari University of Utah, mengatakan bahwa dinosaurus yang ditemukan tersebut, sejenis Raptor raksasa, namun memiliki bentuk kepala yang mirip ayam, dan diperkirakan berbulu saat dia hidup. Tinggi hewan purba ini sekitar 10 kali dengan menampakan yang menyeramkan.

Bisa jadi dia kakek buyut ayam modern saat ini sebelum giginya rontok hehehe…

 

Perjuangan Sepasang Kekasih Meng-Klon-kan Anjing Kesayangannya

Perjuangan Sepasang Kekasih Meng-Klon-kan Anjing Kesayangannya

PecintaSatwa.com – Desember 2015. Laura Jacques (29 thn) dan Richard Remde (43thn), sepasang kekasih dari West Yorksire sedang merayakan kebahagian mereka di pengunjung tahun 2015 ini. pasalnya pada tanggal 26 Desember 2015 tepat pada Boxing day anak anjing yang mereka idam-idamkan lahir, klon dari anjing boxer mereka yang tutup usia beberapa bulan yang lalu, Dylan.

Dylan semasa hidup

100.000 USD atau setara dengan 67.000 telah mereka keluarkan demi mendapatkan klon Dylan. Mereka mengirimkan sampel tubuh Dylan pada Soaam Biotech Research Fondation, sebuah laboratorium di Korea Selatan yang melayani cloning hewan secara komersial, sebagaimana yang dilasir pada www.theguardian.com. Hebatnya, jaringan tubuh yang digunakan dalam proses ini diambil sekitar 12 hari setelah Dylan tutup usia, dimana biasanya jaringan tersebut harusnya diisolasi kurang dari 1 minggu.

Jacques telah memelihara dan mengasuh Dylan sejak ia puppy. Bagi Jacques, Dylan adalah anak kesayangan, kehidupannya. Perginya Dylan menjadi pukulan berat baginya. Dylan dinyatakan menderita tumor otak pada tanggal 11 juni 2015, 19 hari kemudian Dylan pergi untuk selamanya karena gangguan kinerja jantungnya akibat penyakit yang dideritanya. Tanggal 2 Juli Dylan disimpan beku, sebelum dikremasi. Selang 2 hari Remde terbang ke Korea Selatan untuk menyerahkan sample Dylan yang akan di klon, tapi sayangnya sampel tersebut masih belum memenuhi syarat.

11 Juli 2015, Remde kembali ke Korea Selatan untuk mengantarkan sampel Dylan yang kedua, sampel ini dinyatakan dapat tumbuh dan diproses. Setelah itu, peneliti di Korea Selatan menyatakan telah didapatkan kebuntingan menggunakan embrio berinti sel 100% DNA Dylan. Hingga pada tanggal 26 Desember lahirlah salinan Dylan. Jacques mengatakan, bahwa anjing boxer kecilnya ini sangat mirip sekali dengan Dylan ketika kecil, bahkan corak warna ditubuhnya sama persis tempatnya dengan yang dimiliki Dylan.

 

 

Animal Welfare – 5 Prinsip Kesejahteraan Untuk Hewan

Animal Welfare – 5 Prinsip Kesejahteraan Untuk Hewan

Menjadi Penyayang Binatang ?

Burung Macau

Masih ingat kasus penyelundupan 21 ekor burung kakak tua jambul kuning pada tanggal 4 Mei 2015 yang digagagalkan oleh Polsek Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya? Puluhan burung cantik endemis Papua ini dimasukkan ke dalam botol air mineral, dibawa dari Papua untuk diperjual belikan di pulau Jawa melalui perjalanan laut. Baik media cetak, televisi dan internet ramai membahasnya. Berbagai gerakan bermunculan, para aktivis dan netizen penyayang hewan menyerukan Selamatkan si jambul kuning #savesijambulkuning.

Tapi kenapa kita peduli??? Haruskah kita peduli????

Ya!!!.. kita harus!!! Itu lah satu jawaban bulat yang harus kita tegaskan, bukan karena kita pecinta satwa, bukan karena kita pemelihara hewan kesayangan, dan bukan karena kita pertenak, tapi karena kita Manusia. Manusia yang beradab, manusia yang mendengungkan hak asasinya, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, dan hak untuk bahagia, tentu peduli dengan hak kelayakan hidup untuk hewan, yakni animal welfare, Kesejahteraan Hewan.

Banyak jenis hewan disekitar kita, ada yang hidup bebas liar di alam terbuka, ada yang bersahabat dengan kita, bahkan menjadi bagian dalam keluarga, ada yang menjadi bagian dalam mata pencaharian, ada pula yang berkontribusi dalam kemajuan penelitan dan pendidikan. Bagaimana kita harus mensejahterakannya?

 

Llama

Sebagaimana kita, manusia, hewan diciptakan Tuhan di alam ini dengan fitrahnya, perannya tersendiri untuk keseimbangan hidup dunia. Hewan-hewan ternak digembalakan dan dipelihara untuk diambil manfaatnya sebagai bahan konsumsi, hewan kesayangan dirumah kita untuk memberikan kehangatan, kebahagian dan ketentraman, begitu pula dengan jenis hewan lain, mereka hidup dengan kemanfaatannya.

 

Prinsip Animal Welfare

Dasar dari kesejahteraan hewan yang harus kita pahami di terapkan, -seperti yang dijelaskan oleh John Webster- adalah mengusahakan hewan disekitar kita untuk dapat hidup normal alami, sehat dan bugar, serta bahagia. Lebih terperinci dari 3 konsep Webster tersebut, terdapat 5 prinsip animal welfare secara general, diantaranya :

  1. Baboon

    Bebas dari rasa lapar dan haus. Sebagai pemilik atau pemelihara hewan, kita wajib untuk menjamin ketersediaan makanan untuk hewan yang menjadi tanggung jawab kita. Makanan yang baik, bernutrisi, menyehatkan dan menjaga kelangsungan hidupnya. Disamping itu, air bersih juga harus mudah didapatkan hewan disekitarnya secara ad libitum atau tak terbatas.

  2. Bebas dari ketidaknyamanan. Hewan patut mendapatkan lingkungan yang nyaman, tempatnya untuk beristirahat, bermain dan beraktivitas, baik di rumah, di peternakan, di kandang, maupun di lingkungan penampungan hewan sementara / animal shelter.
  3. Bebas dari rasa sakit dan penyakit. Penjagaan kesehatan hewan tentunya harus diperhatikan. Vaksinasi rutin sesuai kebutuhannya harus dilakukan, begitu juga apabila kondisi hewan terlihat kurang baik, sepantasnya kita memberikan terapi medis dan perawatan yang baik
  4. Bebas mengekspresikan perilaku normal dan alami. Dalam hal ini, biarkan hewan kesayangan anda menjadi dirinya seutuhnya, jangan paksakan ia meniru kebiasaan kita sebagai manusia, seperti memberinya baju dengan kain tebal yang membuat kulitnya iritasi, memberi asesoris yang berlebihan, mengurangi bagian tubuh agar terlihat cantik (potong ekor dan potong telinga), atau melatihnya untuk melakukan atraksi dengan siksaan dan pukulan. Biarkan dia berprilaku selayaknya dia hidup.
  5. Bebas dari rasa takut dan tekanan. Hidari untuk menghardik, membentak, apalagi memukul hewan. sentuhlah dengan kasih sayang, dan pandanglah ia sebagai makhluk ciptaan Sang Kuasa yang berharga, yang tak patut dihina.

Konsep Animal Welfare

Harimau

Saat ini, konsep animal welfare telah menjadi prinsip setiap organisasi didunia yang berhubungan dengan kehidupan hewan, seperti OIE/WAHO (world animal health organization), FAO (food and agriculture organization) dan WHO (World healt organization). Sehingga disetiap langkah kerjanya selalu mempertimbangkan kesejahteraan hewan, baik pada hewan ternak, hewan kesayangan, hewan coba, dan satwa liar.

Pada tata laksana pemeliharaan hewan ternak, prinsip kesejahteraan hewan ditekankan pada sistem pemeliharaan yang ideal, kapasitas kandang yang tepat tidak terlalu padat, dan perlakuan yang baik saat penyembelihan, dengan metode secepat dan seaman mungkin sehingga hewan tidak merasakan kesakitan terlalu lama.

Disisi lain, dalam dunia penelitian penggunaan hewan coba selalu diawasi. Para peneliti yang akan menggunakan hewan coba dalam penelitiannya wajib mengikuti sidang dengan komisi etik yang terdiri dari dokter hewan berwenang untuk membahas mengenai metode penelitian dan seberapa jauh hewan tersebut berkontribusi. Komisi etik harus memastikan bahwa jumlah hewan coba yang digunakan tidak terlalu banyak, metode yang akan diterapkan tidak terlalu menyakitkan, dan pemeliharaan yang dilakukan sesuai dengan standar kebutuhan hewan tersebut. Hewan coba yang sering digunakan dalam penelitian yaitu tikus, mencit, monyet, kelinci, dan unggas.

Rusa tutul

Demikian halnya dengan aplikasi animal welfare pada hewan kesayangan. Kini telah banyak non government organization (NGO) internasional dan nasional yang mengkampanyekan tentang kesejahteraan hewan pada hewan kesayangan seperti world animal protection, international fund for animal welfare, dan masih banyak lagi. Mereka membuat panduan untuk menjaga populasi hewan, mengedukasi pemilik hewan maupun masyarakat umum mengenai pentingnya kesejahteraan bagi hewan dan cara bagaimana hidup berdampingan dengan hewan sehingga tidak ada hewan yang tersiksa selama dipelihara manusia.

 

Aturan Perdagangan dan Konservasi Satwa

Di bidang konservasi satwa liar, aturan kesejahteraan hewan tercantum dalam kesepakatan international yang disusun pada tahun 1964 oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), dengan anggota 1200 lembaga pemerintah dan non-pemerintah dari seluruh dunia yang aktif di bidang pelestarian lingkungan, IUCN list berisikan daftar panjang klasifikasi hewan berdasarkan tingkat kelangkahannya. Selain itu juga ada CITES (Convention on International Trade of Edangered Species), perjanjian multilateral untuk mengatur perdagangan satwa liar. CITES telah disepakati oleh 180 negara di dunia, termasuk Indonesia (diratifikasi dalam Keputusan Pemerintah no. 43 tahun 1978). Dengan tujuan untuk melindungi hewan-hewan langka yang terancam punah terutama akibat perburuan liar dan perdagangan di pasar gelap.

Zebra

Sedangkan di Indonesia, Kewajiban pelaksanaan animal welfare secara nasional telah diatur dalam UU 2009 No 18 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. pada bab VI pasal 61 dijelaskan bahwa daging yang beredar dipasaran harus mengikuti cara penyembelihan dalam asas kesejahteraan hewan, disamping itu, pada pasal 66-67 dijelaskan mengenai animal welfare yang harus dilakukan secara manusiawi, pasal ini sinkron dengan prinsip global 5 freedom for animal. Dalam UU tersebut juga dijelaskan tentang adanya hukuman / sanksi untuk para perlanggar undang-undang. Karena itu lah, para pelanggar kesejahteraan hewan di Indonesia dapat dipidanakan atau dituntut dipengadilan atas dasar pelanggaran UU yang dilakukan.

 

CITES – Standar Legalitas Perdagangan Satwa Internasional

CITES – Standar Legalitas Perdagangan Satwa Internasional

Regulasi Perdagangan Satwa Internasional

Beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas soal IUCN Red List, standar kelangkaan satwa di dunia. Dari daftar ini, kita bisa mengetahui bagaimana status suatu spesies makhluk hidup di alam

Trenggiling (Manis javanica)

terancam punah, punah di alam, atau aman-aman saja. Hal ini tentu sangat penting untuk diperhatikan para pecinta satwa agar bisa dengan bijak memilih satwa yang ingin dipelihara, sehingga tidak mengganggu populasinya di alam. Dengan memahami regulasi nasional dan international, kita juga bisa serta berperan aktif dalam mencegah perdagangan satwa langka di Indonesia, sehingga satwa-satwa yang luar biasa tersebut masih bisa memenuhi perannya yang penting di ekosistem.

Bicara soal perdagangan satwa liar, sebenarnya ada satu sistem lagi yang kita pahami untuk mengetahui legalitas aktifitas jual-beli satwa dan tumbuhan secara internasional disebut sebagai CITES (Convention on International Trade of Edangered Species). Berbeda dengan IUCN yang merupakan sebuah lembaga internasional, CITES merupakan perjanjian multilateral (antar-negara) yang mengatur perdagangan satwa liar yang disepakati oleh 180 negara di dunia, termasuk Indonesia (diratifikasi dalam Keputusan Pemerintah no. 43 tahun 1978). Tujuan dari kesepakatan ini adalah melindungi spesies-spesies langka yang terancam punah terutama akibat perburuan dan perdagangan, baik hidup maupun mati seperti badak dan gajah yang diburu karena permintaan yang tinggi terhadap cula dan gading mereka.

Nah, dalam konvensi ini terdapat skala prioritas yang hampir mirip seperti skala keterancaman IUCN, hanya saja lebih sederhana dan hanya terdiri dari 4 kategori yang disebut sebagai Appendix. Masing-masing kategori memiliki peraturan dengan tingkat keketatan yang berbeda, tergantung dari tingkat keterancaman spesies tersebut dan seberapa besar pengaruh perdagangan internasional terhadap populasi globalnya. Semakin tinggi tingkatannya, spesies tersebut semakin dilarang untuk diperjualbelikan secara internasional, baik dalam keadaan hidup atau mati, dan baik dalam keadaan utuh ataupun fragmen tubuhnya (misal, cula badak, gading gajah dan kulit harimau). Nah, penasaran kan kategori apa saja yang ada di konvensi ini? Yuk kita bahas!

CITES (Convention on International Trade of Edangered Species)

  1. Appendix I

Terdiri dari sekitar 1200 spesies hewan dan tumbuhan, dan menempati prioritas tertinggi di konvensi ini. Spesies yang termasuk dalam Appendix 1 pada dasarnya dilarang untuk diperjualbelikan di lingkungan internasional, kecuali untuk tujuan tertentu seperti penelitian dan konservasi eks-situ. Hampir seluruh spesies yang termasuk dalam daftar ini dilindungi oleh undang-undang negaranya masing-masing, termasuk di Indonesia. Beberapa contoh dari satwa yang termasuk dalam daftar ini antara lain Kukang (Nycticebus spp), Gajah Asia (Elephas maximus), Badak Sumatra (Dirhinocreros sumatrae), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Harimau Sumatra (Pantherra tigris sumatrae), dan kedua jenis Orangutan (Pongo pygmaeus dan P. abelii).

Diperlukan izin expor dan impor yang ketat untuk memindahkan spesies dari daftar ini dari satu negara ke negara lain. Negara pengekspor harus memeriksa bahwa izin impor dari negara pengimpor sudah benar, dan memasikan negara tersebut mampu merawat satwanya dengan baik. Khusus untuk keturunan dari satwa liar Appendix I yang dilahirkan di dalam penangkaran, statusnya turun menjadi Appendix II dengan sistem regulasi yang lebih longgar namun bukan berarti bisa dijual bebas dari satu negara ke negara lain.

  1. Appendix II

Terdiri dari 21000 spesies, dan merupakan prioritas perlindungan kedua setelah Appendix 1. Spesies dalam daftar ini tidak benar-benar terancam kepunahan, namun bisa saja terancam apabila tidak ada regulasi yang ketat mengenai perdagangannya. Selain itu, keturunan dari satwa Appendix 1 yang dilahirkan/ditetaskan di penangkaran juga termasuk dalam kategori ini. Beberapa contoh dari satwa di kategori Appendix II antara lain Paok Pancawarna (Pitta guajana), Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus), Tiong Emas (Graculus religiosa) Trenggiling (Manis javanica) dan Tarsius (Tarsius spp).

Sama seperti Appendix I, pemindahan satwa dalam kategori ini diatur dalam sistem regulasi yang ketat, namun dalam batasan tertentu dapat diperjual-belikan untuk kepentingan komersial. Diperlukan surat-surat yang lengkap untuk dapat mengekspor individu atau bagian tubuh satwa tersebut dari suatu negara anggota, namun tidak selalu membutuhkan izin impor untuk memasuki negara lain (tergantung kebijakan negara masing-masing). Spesies di kategori ini pada dasarnya masih diperjualbelikan setiap tahun, namun suatu saat bisa statusnya dinaikan ke Appendix I.

  1. Appendix III

Terdiri dari 150 jenis satwa dan tumbuhan. Berbeda dari kedua kategori sebelumnya, spesies-spesies di daftar ini disarankan oleh negara anggota yang berusaha melindungi spesies tersebut di wilayah payung hukumnya masing-masing, dan memerlukan kerjasama negara lainnya untuk membatasi perdagangan spesies tersebut di dunia internasional. Spesies yang termasuk dalam daftar ini perdagangannya dibatasi dari negara pengusul, namun biasanya tidak dibatasi di negara lain. Tidak ada satupun satwa dari Indonesia yang masuk ke dalam kategori ini.

  1. Non-appendix

Seluruh spesies satwa dan tumbuhan selain daftar termasuk dalam kategori ini dan bisa diperdagangkan bebas secara internasional, meskipun ada kemungkinan statusnya ditingkatkan di masa depan.

Nah, bila Anda berniat untuk mengimpor atau mengekspor hewan tertentu, ada baiknya Anda memahami peraturan ini. Perlu diperhatikan bahwa meskipun suatu satwa bisa diperjualbelikan secara internasional, belum tentu satwa tersebut benar-benar legal untuk dipelihara dan diperjualbelikan secara nasional sesuai perundang-undangan (misalnya, burung-madu dari famili Nectarinidae termasuk non-appendix namun dilindungi oleh undang-undang). Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai jenis hewan yang termasuk dalam kategori tertentu, Anda bisa mengunjungi situs resmi CITES (http://www.cites.org/eng/app/appendices.php) atau bertanya pada organisasi konservasi satwa di kota Anda.

Mari, kita lindungi satwa liar asli Indonesia!

 

Daftar Merah Satwa dalam Standar Tingkat Keterancaman Satwa Liar di Dunia

Daftar Merah Satwa dalam Standar Tingkat Keterancaman Satwa Liar di Dunia

International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia begitu kaya dengan berbagai macam fauna yang tersebar di seluruh pulaunya. Jutaan spesies hewan menghuni kepulauan ini, beberapa bersifat endemik dan hanya bisa dijumpai di daerah-daerah tertentu. Sayangnya, dari jumlah yang besar ini, tidak sedikit fauna asli Indonesia yang terancam punah akibat berbagai alasan, mulai dari perusakan habitat, perburuan, hingga kehadiran spesies invasif yang berbahaya. Hal ini tentu membuat kita bertanta-tanya, seberapa banyak satwa Indonesia yang benar-benar terancam punah? Hewan apa saja yang benar-benar terancam punah di kepulauan ini?

Tidak semua orang tahu tentang jawaban dari dua pertanyaan di atas. Meskipun sebagian besar masyarakat mengerti tentang terancamnya beberapa jenis hewan tenar seperti Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), hanya sedikit yang benar-benar paham tentang status keterancaman satwa di negeri ini. Sebut saja Kukang (Nycticebus sp), primata nokturnal imut yang sebenarnya amat terancam punah dan dilindungi undang-undang, tapi masih sering dijumpai di pasar hewan dan dipelihara oleh masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh ketidak-tahuan masyarakat tentang betapa terancamnya suatu spesies satwa dan status perlindungannya, sehingga permintaan jenis tersebut di pasar hewan selalu bertambah dari waktu ke waktu.

Daftar Merah IUCN (IUCN Red List)

Lantas, bagaimana sih cara mengetahui status konservasi dan tingkat keterancaman suatu satwa di alam?

Salah satu jawaban paling mudah adalah dengan memahami Daftar Merah IUCN (IUCN Red List), daftar paling komprehensif mengenai status keterancaman berbagai spesies organisme yang ada di Bumi. Daftar ini mulai disusun pada tahun 1964 oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), organisasi internasional yang beranggotakan 1200 institusi pemerintah dan non-pemerintah dari seluruh dunia yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Pada tahun 2012, daftar ini berisi sekitar 42000 spesies hewan dan tumbuhan dari berbagai takson di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Dalam IUCN Red List, seluruh organisme digolongkan dalam 7 kategori berdasarkan kemungkinan spesies tersebut untuk punah di masa depan. Penggolongan ini didasarkan pada perkiraan populasi di alam, persebaran alami, habitat dan ekologi, serta berbagai ancaman yang dapat menyebabkan kepunahan bagi spesies tersebut. Hal ini membuat daftar merah IUCN menjadi rujukan utama berbagai kalangan dalam menentukan status perlindungan suatu spesies dan prioritas konservasinya baik institusi pemerintah, peneliti, organisasi non-profit, dan lain-lain.

Ketujuh kategori dalam IUCN Red List

  1. Low Concern (LC), berisi jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang tidak mengalami keterancaman yang dapat mempengaruhi populasinya secara ekstrem. Jenis organisme yang termasuk dalam kategori ini bisa dikatakan aman dari kepunahan, dengan jumlah populasi yang besar, persebaran yang luas, dan memiliki tingkat adaptasi tinggi. Berbagai hewan yang biasa kita temui di sekitar kita termasuk dalam kategori ini, seperti Burung Gereja (Passer montanus) dan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster).
  2. Near Threatened (NT) atau Low Risk (LR), terdiri atas jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang mulai mengalami keterancaman dengan penurunan populasi yang nyata, meskipun belum mengarah ke kepunahan. Jenis organisme yang termasuk dalam kategori ini biasanya mengalami tren penurunan jumlah di alam, namun populasinya masih cukup besar dengan kemungkinan punah yang kecil. Meskipun begitu, ancaman yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan penurunan populasi yang lebih besar, sehingga spesies tersebut dapat dinaikan statusnya ke kategori selanjutnya (Vulnurable). Di Indonesia terdapat sekitar 388 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, beberapa di antaranya adalah Walet Gunung (Collocalia vulcanorum), Itik Benjut (Anas gibberifrons), dan Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus).
  3. Vulnurable (VU), merupakan kategori organisme yang mulai menunjukan keterancaman yang serius dengan trend penurunan populasi yang sangat tajam. Jenis-jenis hewan dan tumbuhan di kategori ini belum tentu bisa punah dalam waktu dekat, namun bila ancaman dibiarkan dapat menyebabkan keberadaan spesies ini semakin terancam dan statusnya dapat dinaikan ke kategori selanjutnya, Edangered. Terdapat sekitar 550 jenis hewan di Indonesia yang berada di kategori ini, seperti berbagai macam karang (Acropora sp), Kuskus Beruang (Auilorps ursinus) dan Luntur Gunung (Apalharpactes reindwardtii).
  4. Edangered (EN), berisi jenis-jenis organisme yang keberadaanya di alam benar-benar terancam dan dengan kemungkinan punah lebih dari 50% dalam 20 tahun ke depan. Organisme dalam kategori ini biasanya dilindungi oleh undang-undang, dan memiliki populasi yang kecil dengan persebaran yang terbatas. Ada 195 spesies satwa yang termasuk dalam kategori ini di Indonesia, seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), Paus Fin (Balaenoptera physalus), Banteng (Bos javanicus), Anoa dataran rendah (Bubalus depresicornis), dan Penyu Hijau (Chelonia mydas).
  5. Critically Edangered (CR), merupakan kategori yang sangat kritis dan berisi berbagai jenis satwa dan tumbuhan yang sangat rentan terhadap kepunahan. Spesies yang termasuk dalam kategori ini bisa punah dalam waktu dekat, dengan populasi yang sangat kecil, persebaran yang sangat terbatas, dan ancaman yang benar-benar besar. Satwa yang termasuk dalam kategori ini sebagian besar dilindungi oleh undang-undang dan dilarang untuk dipelihara atau diperjual-belikan. Indonesia memiliki 72 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, beberapa diantaranya cukup terkenal seperti Orangutan Sumatra (Pongo abelii), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), dan Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea).
  6. Extinct in Wild (EW), salah satu kategori terburuk dimana tidak ada lagi populasi yang tersisa dari spesies tersebut di alam, namun masih ada beberapa individu yang hidup di penangkaran. Spesies dalam kategori ini tidak ditemui lagi di habitat aslinya dalam waktu yang lama, sehingga dianggap telah punah secara ekologis. Terkadang, suatu spesies dapat diturunkan statusnya dari kategori ini ketika individu di penangkaran berkembang biak dan dilepasliarkan di alam, atau ditemukan populasi yang masih tersisa di habitat aslinya. Contoh: Kondor Kalifornia (Gymnogyps californianus) di Amerika Serikat sempat dinyatakan punah di alam pada tahun 1987, sebelum usaha captive breeding yang dilakukan pemerintah membuahkan hasil berupa beberapa individu yang dilepaskan kembali ke alam, menurunkan statusnya menjadi Critically Edangered.
  7. Extinct (EX), merupakan kategori paling buruk dan berisi jenis-jenis satwa dan tumbuhan yang benar-benar dianggap punah, baik di alam maupun di penangkaran. Organisme dalam kategori ini dianggap telah hilang dari muka bumi secara keseluruhan, meskipun ada kemungkinan beberapa individu yang tersisa di alam. Pada tingkat spesies, Indonesia hanya memiliki 2 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, yaitu Coryphomis buehleri (tikus raksasa) dan Macrobrachium leptodactylus (sejenis udang air tawar), namun pada tingkat subspesies terdapat beberapa nama yang cukup dikenal masyarakat, seperti Harimau Jawa (Pantherra tigris sondaicus) dan Harimau bali (P. t. balica).

Perlu dipahami: Satwa Liar Bukan Hewan Peliharaan

Selain ketujuh kategori di atas, ada juga 2 kategori tambahan bagi jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang masih belum jelas statusnya, yaitu Not Evaluated (NE) dan Data Deficient (DD). Not Evaluated berisi daftar jenis organisme yang belum diketahui informasi apapun mengenai populasinya, sementara Data Deficient merupakan kategori organisme dengan hasil penelitian yang minim. Organisme dalam kategori ini belum tentu langka atau sebaliknya, namun sulit untuk diteliti karena pemalu atau sebab alasan lainnya. Salah satu contoh hewan Indonesia yang termasuk dalam kategori ini adalah Kancil Jawa (Tragulus javanicus), rusa pemalu yang sangat sulit ditemukan di habitat aslinya.

Nah, begitulah sedikit penjelasan tentang IUCN Red List, standar kelangkaan dan keterancaman satwa di seluruh dunia. Dengan pengetahuan tentang daftar ini, Anda bisa mengerti tentang satwa apa saja yang terancam di Indonesia dan mengetahui status konservasi satwa tersebut. Sebagai pecinta satwa yang baik, ada baiknya kita tidak memelihara satwa liar apapun, apalagi satwa langka yang termasuk dalam kategori terancam seperti yang dijelaskan di atas. Bila Anda menemukan satwa langka yang dipelihara atau diperjual-belikan, segera laporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat untuk ditindak dan dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Untuk mengetahui daftar lengkap mengenai tingkat keterancaman suatu spesies, Anda bisa mengunjungi situs IUCN Red list di http://iucnredlist.org. Semoga satwa liar Indonesia tetap lestari selamanya!

Sumber: IUCN Red List

 

Mengenal Listeria Monocytogenes: Kontaminan Produk Pangan Asal Hewan

Mengenal Listeria Monocytogenes: Kontaminan Produk Pangan Asal Hewan

Produk Pangan yang Terkontaminasi

listeria

Beberapa waktu yang lalu  kita dikejutkan dengan berita tentang foodborn diseaselisteriosis yang ditemukan pada apel impor asal amerika. Listeriosis merupakan penyakit yang dapat menular melalui makanan yang terkontaminasi bakteri Listeria monocytogenes. Bakteri ini bersifat patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Bakteri ini merupakan kontaminan dan dapat ditemukan di berbagai belahan dunia dan tersebar luas di lingkungan. Menurut The Center for Food Security and Public Health (2005), Listeria dapat menginfeksi manusia melalui daging dan ikan mentah, susu sapi perah yang tidak terpasteurisasi, dan sayuran yang belum termasak dengan baik. Menurut OIE dalam chapter 2.9.7 gejala klinis Listeriosis pada hewan menunjukkan gejala enchepalitis, septicaemia dan aborsi. Sedangkan pada manusia menunjukkan gejala yang sama yaitu meningitis, septicaemia, serta menunjukkan gejala flu seperti demam dan manifestasi gastrointestinal. Meskipun begitu listeriosis termasuk dalam penyakit yang angka morbiditasnya cukup rendah sedangkan mortalitasnya cukup tinggi yang angkanya mencapai 20-30 %.

Hewan yang dapat Terinfeksi

hewan yang dapat terinfeksi Listeria monocytogenes

Beberapa hewan yang dapat terinfeksi Listeria monocytogenes adalah golongan mamalia, burung, ikan dan krustaceae. Gejala klinis Listeriosis sering tampak pada ruminansia, pada babi jarang memperlihatkan sedangkan burung merupakan hewan karier (pembawa). Infeksi yang terbanyak pada hewan bersifat subklinis namun dapat bersifat sporadis yang dapat meniimbukan outbreak. Ruminansia merupakan golongan hewan yang memiliki peran penting sebagai sumber infeksi kepada manusia melalui kontaminasi produk pangan asal hewan. Transmisi langsung pada hewan terjadi pada waktu melahirkan tetapi hal ini jarang terjadi. Listeriosis termasuk dalam golongan penyakit yang menular melalui makanan (food-borne disesase). Berdasarkan data Center of Diease Control (CDC)beberapa individu yang memiliki resiko ternfeksi Listeria secara serius diantaranya adalah wanita hamil, anak yang baru lahir, indvidu dengan sisterm imun yang lemah, individu dengan penyakit kanker, diabeter, atau penyakit ginjal, serta individu yang sedang dalam terapi glukokortisoid. Metode deteksi Listeriosis melalui identifikasi penyebab diare dengan menumbuhkan sampel feses ke dalam medium pertumbuhan Listeria. Selain itu pemeriksaan rutin dengan melakukan isolasi Listeria dari cairan spinal, darah dan persendian merupakan metode yang cukup efektif. Penggunaan Magnetic-resonance Imaging (MRI) digunakan untuk konfirmasi perubahan batang otak.

Pengobatan dan Perawatan

Pengobatan Listeriosis dapat dilakukan menggunakan antibiotik. Individu dengan kategori resiko tinggi (wanita hamil, orang dewasa dan individu dengan sistem imun yang lemah) dengan gejala klinis demam serta kepala pusing setelah makan makanan yang terkontaminasi Listeria harus mendapatkan perawatan secara intensif. Jika individu yang memakan makanan kontaminasi Listeria tetapi tidak menunjukkan gejala klinis tetap membutuhkan pengobatan meskipun dia bukan bagian dari kategori resiko tinggi yang tertular. Menurut The Center for Food Security and Public Health (2005), pencegahan Listeriosis dapat dilakukan dengan menerapkan keamanan pangan (food safety). Beberapa upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah mencuci sayuran dengan bersih, memasak dengan baik produk pangan asal hewan serta menghindari minum susu yang tidak terpasturisasi. Listeria monocytogenes sangat peka terhadap bahan kimia seperti 1% sodium hypochlorite, 70% ethanol atau glutaraldehyde. Selain itu, bakteri tersebut dapat mati dengan teknik termal yaitu pada suhu 121┬░C selama minimum 15 menit. Bakteri ini akan mati dalam proses pemasakan dan pasteurisasi. Mengingat pentingnya Listeriosis dalam aspek kesehatan masyarakat veteriner, maka perlu adanya surveilans bakteri kontaminan tersebut pada beberapa produk pangan asal hewan seperti daging, susu, dan telur agar tidak terjadi lagi kejadian listeriosis pada masyarakat Indonesia serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan kuat dengan produk pangan asal hewan. Baca: Tips Memilih Sapi akalan yang Menguntungkan

 

Tips Mewaspadai Bahaya Mikotoksin

Tips Mewaspadai Bahaya Mikotoksin

Waspada Mikotoksin, Pastikan Pakan Ternak dalam Keadaan Baik

waspada mikotoksinSektor pertanian merupakan salah satu poros perekonomian Indonesia yang menjadi penopang sumber pendapatan negara. Bentang alam dan faktor geologis Indonesia yang subur mendukung negeri ini sebagai kawasan agraris. Sektor pertanian juga sangat erat dikaitkan dengan sektor peternakan yang sama-sama mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Beberapa hasil pertanian seperti jagung, padi, gandum, dan hijauan tak lepas dari fungsinya juga sebagai bahan pakan ternak komersial. Selain menjadi bahan makanan pokok bagi manusia, komoditas pertanian juga bisa diolah menjadi pendukung aspek peternakan.

Mikotoksin Yang Mencemari Komoditas

Masalah baru di sektor pertanian adalah adanya mikotoksin yang mencemari komoditas hasil para petani. Telah ditemukan mikotoksin jenis zearalenon yang bisa memberi dampak sistemik pada ternak yang mengkonsumsi pakan hasil komoditas pertanian tersebut. Berdasarkan laporan FAO menyatakan bahwa 25% tanaman yang menjadi bahan pakan ternak di dunia telah terkontaminasi mikotoksin yang berakibat menurunnya produktifitas ternak dan terganggunya fungsi reproduksi. Laporan tersebut dikuatkan oleh hasil riset dari Nuryono yang menemukan kontaminasi mikotoksin zearalenon sebesar 85,7% pada komoditas jagung di Indonesia melalui uji Enzyme Linked Immuno-Sorbent Assay (ELISA) dan High Performance Liquid Chromatography (HPLC).

Gambar jagung yang terkontaminasi Fusarium graminearum

Infeksi Jamur Fusarium sp

Kondisi iklim Indonesia yang termasuk kawasan tropis dengan kelembaban yang tinggi juga menjadi salah satu faktor tingginya infeksi jamur Fusarium sp yang dapat menghasilkan mikotoksin pada hasil tanaman. Dampak yang diakibatkan oleh infeksi jamur bila disertai dengan produk mikotoksin pada tanaman akan sangat berbahaya bila dikonsumsi ternak. Zearalenon bersifat fitoestrogenik yang artinya adalah senyawa estrogen yang berasal dari tumbuhan. Bahaya yang diakibatkan pada ternak yang keracunan zearalenon dapat mengganggu siklus birahi, kematian embrio dini, abortus, bahkan menurunnya fungsi reproduksi ternak dan infertilitas.

Waspada Termakannya Mikotoksin

Kondisi tersebut jelas merugikan terutama pada industri peternakan ayam dan sapi komersial. Industri ayam dan sapi yang salah satu bahan pakannya mengandalkan hasil tani untuk pakan ternak, tentu harus diwaspadai dengan baik untuk mencegah termakannya mikotoksin ke dalam tubuh. Zearalenon telah diamati sebagai salah satu mikotoksin yang berbahaya pada tanaman jagung, oat dan hijauan kering (hay). Upaya pencegahan dari bahaya mikotoksin telah banyak dilakukan dengan mencampurkan bahan absorber yang digunakan untuk menetralisir pakan yang tercemar. Senyawa aluminosilikat dan charcoal disinyalir dapat mendegradasi bahan aktif mikotoksin yang sangat reaktif bila masuk metabolisme tubuh. Penambahan vitamin dan mineral sebagai bahan tambahan juga sangat membantu meningkatkan proses recovery tubuh bila terkena mikotoksin.

Upaya Pencegahan

Peternak dan pengusaha di bidang peternakan kini harus tetap mewaspadai bahaya mikotoksin lain yang mengkontaminasi pakan ternaknya seperti aflatoksin, okratoksin, deoksinivalenol, dan fumonisin. Bukan tidak mungkin upaya pencegahan dengan menggunakan senyawa aluminosilikat dan charcoal menjadi tidak efektif lagi karena membutuhkan bahan pakan tambahan untuk mendegradasi kompleks mikotoksin. Namun, upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah masuknya mikotoksin secara bijak adalah dengan memastikan bahan pakan ternak bebas dari jamur dengan penyimpanan yang higiene dan tentunya memenuhi kaidah BAIK (Bebas hama, Aman, Ideal dan Komplit).