Jauhkan Burung Anda dari Benda-Benda Ini

Jauhkan Burung Anda dari Benda-Benda Ini

Benda Yang Menyebabkan Keracunan pada Burung

PecintaSatwa.com – Seperti halnya anak-anak balita yang memasuki fase oral, mengeksplorasi sekitarnya dengan memasukkan benda-benda ke dalam rongga mulutnya, burung pun memiliki behavior serupa. Rasa ingin tahunya yang tinggi, membuat burung selalu ingin mencoba-coba alias ‘icip-icip’ benda-benda disekitarnya yang menarik baik berupa makanan, maupun kandang dan peralatannya, namun tahu kah anda bahwa perilaku demikian bisa berbahaya bagi burung peliharaan anda?

Baca: Cara Menikmati Burung Kicauan Tanpa Harus Mengurung

Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Laurie Hess DVM, DABVP, seorang dokter hewan dengan spesialisasi unggas dan burung, beberapa benda disekitar kita dapat meracuni burung. Kadang kala kasus keracunan pada burung sangat spesifik tergantung pada spesies burung tersebut, akan tetapi lebih baik tetap dihindari sebagai langkah pencegahan terjadinya keracunan pada burung kesayangan anda.

Beberapa benda berikut ini patut anda waspadai, agar tidak di makan Burung:

perkutut

Cokelat. Tidak hanya anjing dan kucing saja yang peka dengan cokelat. Kudapan manis ini mengandung caffeine dan theobromine yang menyebabkan muntah dan diarea pada burung, selain itu juga dapat meningkatkan detak jantung, mengakibatkan hiperaktif, tremor, kejang dan kematian mendadak. Semakin tinggi kadar cocoa dalam cokelat tersebut seperti pada dark chocolate semakin mematikan bagi burung. Lebih aman anda memberi buah pisang dan anggur sebagai makanan tambahan si burung.

Buah Apokat. Didalamnya terdapat persin┬╕ derivat asam lemak yang dapat menyebabkan gagal jantung, tekanan respirasi dan kematian tiba-tiba pada banyak jenis burung. Kandungan persin paling banyak ada pada bagian daunnya. Beberapa jenis apokat memang diketahui aman untuk jenis burung tertentu seperti Lories, akan tetapi hingga saat ini belum dapat dipastikan dengan akurat jenis apokat apa saja yang aman bagi jenis burung mana saja. Oleh karena itu, ada baikknya hindari memberi apokat sebagai camilan burung.

Bawang Merah dan Bawang Putih. Bawang merah mengandung senyawa sulfur yang menginisiasi kerusakan sel darah merah sehingga terjadi anemia, selain itu bawang merah juga dapat mengiritasi mulut dan saluran pencernaan burung. Sedangkan bawang putih, mengandung allicin yang juga menyebabkan terjadinya anemia.

Logam berat khususnya timah, Zinc dan Copper. Bahan logam banyak terdapat disekitar kita, seperti peralatan rumah tangga dan perkakas pertukangan. Selain itu kandungan logam juga dapat ditemukan dalam cat, minyak, solder, paku, kawat, aksesoris dan mainan yang sering dipatuk dan dikunyah oleh burung peliharaan dalam kandang. Logam berat, khususnya timah, zinc dan copper dapat menyebabkan intoksikasi berat pada golongan burung.

Sejumlah kandungan logam berat pada burung dapat mengakibatkan kelainan syaraf dan menyebabkan muntah, gangguan pencernaan, gejala neurologis, inkordinasi hingga kejang. Sebenarnya kasus keracunan logam berat dapat diatasi apabila segera ditangani saat gejala awal muncul.

Ikuti: Serak Jawa – Si Hantu Sahabat Petani

Garam dan Lemak. Garam yang berlebihan akan mengganggu keseimbang elektrolit cairan tubuh yang dapat berlanjut pada terjadinya kehausan abnormal, dehidrasi, dan gangguan ginjal hingga kematian. Sedangkan lemak yang berlebihan dalam pakan, seperti halnya pada manusia dapat memicu peningkatan kadar kolesterol dalam darah, sebagai awal terjadinya penyakit jantung dan strok.

Biji buah. Bagian daging buah memang aman dan menyehatkan bagi burung seperti apel, anggur, jeruk, labu, tomat, melon, mangga, delima dan berry, akan tetapi bijinya merupakan racun yang mematikan. Didalam biji buah-buahan tersebut terkandung cardio-toxic cyanide yang dapat meracuni dalam sirkulasi darah.

Caffein. Jangan coba-coba berbaik hati pada burung kesayangan anda dengan berbagi kopi atau teh pagi hari. dua minuman paling diminati di dunia tersebut mengandung caffein yang berakibat sangat buruk bagi bangsa burung. Caffein dapat menyebabkan peningkatan detak jantung, aritmia, hiperaktif, bahkan henti jantung. Lebih baik beri campuran sari buah-buahan yang aman seperti apel bagi si kecil berbulu yang anda pelihara demi kesehatan jantungnya.

Simak: Beda Merak Hijau vs Merak Biru

Kasus keracunan merupakan kasus darurat, kecepatan anda membawa si burung ke dokter hewan berbanding lurus dengan persentase kesembuhannya, karena itu jangan ragu untuk segera mengkonsultasikannya pada dokter hewan terdekat apabila anda melihat gejala keracunan yang paling awal seperti lesu, muntah, dan diare.

Keep your birdie healthy and happy.. kwik kwik..!

 

Beda Merak Hijau dan Merak Biru

Beda Merak Hijau dan Merak Biru

Perbedaan Merak Hijau vs Merak Biru

PecintaSatwa.com – Siapa yang tak kenal dengan Merak, si-burung cantik berekor kipas. Hampir di semua kebun binatang di Indonesia ia selalu menjadi primadona, dengan atraksi indahnya saat memamerkan ekor kipasnya yang begitu besar. Taukah anda, bahwa si cantik dengan ekor menawan itu sebenarnya adalah merak jantan?. Merak jantan mengembangkan bulu-bulu penutup ekornya yang sangat indah untuk menarik perhatian betinanya, sebagaimana jenis bangsa burung-burung lainnya yang memiliki ritual khusus berupa tarian atau keelokan bulu pejantan guna mempersunting pujaan hatinya di musim kawin. (Baca: 8 Fakta Unik tentang Burung Merak)

Kingdom : Animalia

Phymlum : Cordata

Class : Aves

Order : Galliformes

Famili : Phasianidae

Subfamili : Phasianinae

Genus : Pavo

Spesies : Pavo municus, Pavo cristatus

Burung merak termasuk dalam keluarga Phasianidae, yang terdiri dari tiga jenis di dunia, yakni Merak Hijau, Merak Biru, dan Merak Kongo, setiap spesies burung merak tersebut berasal dari belahan dunia yang berbeda, dan memiliki karakteristik yang unik. Merak hijau dan merak biru, lebih familiar di Indonesia karena dipelihara secara eksitu oleh kebun binatang dan taman satwa di nusantara. Kedua jenis merak tersebut sepintas terlihat mirip, namun  jika diamati lebih detail, terdapat beberapa perbedaan yang khas:

merak biru

Beda Burung Merak Hijau dan Merak Biru

Perbedaan Merak Hijau Merak Biru
Spesies Pavo muticus, dikenal juga sebagai Merak Jawa dan Dragonbird Pavo cristatus, dikenal juga sebagai Merak India
Warna Bulu Hijau keemasan Biru gelap mengkilap
Ukuran Tubuh  Merak Jantan Jantan dewasa dapat mencapai panjang 300 cm, dengan berat sekitar 5 kg, berjambul tegak dengan penutup ekor yang panjang Jantan dewasa dapat mencapai panjang 230cm, memiliki jambul berbentuk kipas tegak berwana biru, dan memiliki penutup ekor berwana hijau yang panjang
Ukuran Tubuh Merak Betina Lebih kecil dari merak jantan, sekitar 110 cm dengan berat 1,1 kg, bulu berwarna hijau keabuan, kurang mengkilap, tidak memiliki jambul dan bulu panjang penutup ekor Lebih kecil dari pejantannya , bulunya berwarna cokelat kehijauan tidak mengkilap dengan garis-garis hitam dan tidak memiliki bulu penutup ekor
Habitat Padang rumput dalam hutan terbuka di pulau Jawa-Indonesia tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo, dan kemungkinan juga terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Meru Betiri, selain ini juga ditemukan di Indocina, dan China. Sebelumnya pernah dilaporkan terdapat juga di Bangladesh, India dan Malaysia, namun kini telah punah Padang rumput dalam hutan terbuka di India, Srilanka, Bhutan, Nepal dan Pakistan. Pernah dilaporkan juga terdapat di Bangladesh, akan tetapi kemungkinan besar telah punah saat ini
Status Konservasi Endangered (IUCN), Apendix II (CITES), di alam diperkirakan terdapat kurang dari 800 ekor Least Concern (IUCN)
Pengaruh budaya Burung nasional India, bagian dari mitologi agama Hindu, dan Buddha serta kebudayaan lainnya.

 

Baik merak hijau maupun merak biru memakan aneka serangga, dedaunan, biji-bijian, buah-buahan, pucuk daun dan hewan-hewan kecil seperti cacing, dan laba-laba. (Tips: Cara Menikmati Kicauan Burung tanpa Mengurungnya)

Pada musim kawin, sang pejantan akan beratraksi di depan betinanya, dengan memamerkan bulu penutup ekornya yang berbentuk kipas dengan indahnya, ketika melebar, bulu ekor tersebut akan menyerupai kipas besar dengan dengan bulatan-bulatan menyerupai mata berwana biru. Burung merak jantan, termasuk golongan burung poligami, memiliki lebih dari satu pasangan. Setelah terjadi perkawinan, merak betina akan bertelur dan menetaskan 3-6 telurnya tiap kali musim kawin. (Simak: Indonesia Siaga 1 untuk Satwa ini)

 

Serak Jawa – Si Hantu Sahabat Petani

Serak Jawa – Si Hantu Sahabat Petani

Mitologi Burung Hantu

“Matahari tenggelam… hari mulai malam…Terdengar burung hantu … suaranya merdu….”

PecintaSatwa.com – Anda pasti tahu penggalan lagu di atas, kan? Ya, lagu masa kecil ini selalu mengingatkan kita pada burung hantu, si satwa nokturnal yang selalu ada di tradisi masyarakat dunia. Orang-orang Yunani menghubungkan burung hantu dengan dewi mereka, Athena, sebagai lambang kecerdasan dan kreatifitas. Di sisi lain, beberapa budaya menganggap burung hantu sebagai pembawa sial, bersifat mistis, atau memiliki hubungan dengan roh-roh dari alam ghaib. Hmm, apakah burung hantu memang seseram yang kita kira ya? (Baca juga: Mengenal Jenis Burung Pleci di Indonesia)

Mungkin hanya sedikit dari Anda yang pernah melihat burung hantu secara langsung di alam liar, itupun tidak setiap hari. Sebagai satwa nokturnal, jarang sekali kita bisa melihat burung hantu secara langsung, apalagi dengan sifatnya yang cukup sensitif dengan keberadaan manusia. Tapi bila Anda cukup jeli dan mau menyisihkan waktu untuk mengamati satwa unik ini, Anda mungkin bisa menemukannya dengan cukup mudah bahkan di atas atap rumah Anda sendiri!

Serak Jawa

Di Indonesia, ada satu jenis burung hantu yang cukup umum ditemukan di seluruh habitat, mulai dari hutan, perkebunan, persawahan, hingga daerah desa dan perkotaan. Serak Jawa (Tyto alba) nama burung hantu tersebut memang dikenal sebagai spesies kosmopolitan, alias sangat mudah beradaptasi di berbagai lingkungan yang berbeda. Burung ini dapat dijumpai di seluruh dunia, kecuali kutub utara dan kutub selatan, mengintai tikus dan hewan-hewan kecil di malam hari dengan pendengarannya yang sangat sensitif. Dengan sayap yang didesain khusus untuk terbang tanpa menghasilkan suara, burung ini dapat menerkam mangsanya di kegelapan total, tanpa sempat terdeteksi oleh mangsanya yang malang. Luar biasa, bukan?

Selain kemampuan berburunya yang unik, Serak Jawa juga dikenal karena warna tubuhnya yang cantik, didominasi oleh warna putih dengan tutul-tutul kelabu dan coklat. Suaranya yang serak dan mungkin terdengar menakutkan, berupa teriakan memilukan yang dapat terdengar hingga beberapa ratus meter. Hal inilah yang membuat beberapa kalangan masyarakat mengaitkan keberadaan burung ini dengan hal-hal yang bersifat mistis, meskipun sebenarnya mereka bukanlah satwa yang berbahaya bagi manusia. (Tips: Cara Menikmati Kicauan Burung Tanpa Harus Mengurung)

Di balik sifatnya yang agak horor, Serak Jawa merupakan salah satu komponen ekosistem yang penting dalam menjaga keseimbangan alam. Sebagai predator puncak, Serak Jawa mengendalikan populasi satwa yang menjadi mangsanya, khususnya tikus yang menjadi hama di sawah. Karena kemampuannya dalam memberantas tikus, beberapa petani menganggap burung ini sebagai teman mereka. Beberapa kelompok petani di Jawa Tengah bahkan membangun sarang buatan di sawah mereka, dengan harapan si Serak Jawa akan berkembang biak dan menjadi pembasmi hama yang efektif dan ramah lingkungan.

Serak Jawa Tidak untuk Dipelihara

Sayangnya, banyak individu Serak Jawa yang ditangkap dan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan. Tingkahnya yang lucu serta bentuknya yang aneh membuat sebagian masyarakat ingin memilikinya di rumah. Tentu saja, rumah manusia bukanlah habitat yang cocok bagi satwa liar, apalagi bila harus dirantai atau dikurung di dalam kandang sempit seperti yang sering kita lihat di pasar burung. Semua jenis burung hantu sangat mudah merasa stress, dan biasanya akan mati kurang dari satu bulan ketika dipelihara. Bila Anda benar-benar suka dengan burung hantu, ada baiknya Anda tidak memeliharanya di rumah, namun cukup melindunginya dengan menjaga habitatnya di alam liar. (Yuk simak: Mengenal Wiwik Kelabu – Burung Pembawa Pesan Kematian)

Nah, jika Anda tertarik mengamati burung hantu di habitat aslinya, Anda bisa mencari informasi keberadaan burung tersebut dari kelompok pengamat burung di kota Anda. Khusus untuk Serak Jawa yang angker, Anda bisa menemukannya di gedung-gedung tua atau daerah persawahan di sekitar rumah Anda. Kalau Anda melihat bayangan putih melintas atau mendengar teriakan serak yang mengejutkan, jangan lari! Bisa jadi itu adalah si Serak Jawa, sahabat petani yang penuh misteri…

 

Mengenal Perilaku Burung Bondol

Mengenal Perilaku Burung Bondol

Sahabat pecinta satwa setelah mengetahui ciri dan morfologi burung bondol jawa atau yang lebih dikenal dengan sebutan burung pipit – Lengkapnya simak disini

Tingkah laku Burung Bondol

Kebiasaan burung bondol adalah hidup berpasangan atau berkelompok dan mudah bercampur dengan bondol jenis lain. Makanan utama burung ini adalah padi dan biji rumput. Bondol jawa juga sering ditemui di lingkungan pedesaan dan kota, terutama di dekat persawahan. Memakan padi dan aneka biji-bijian, bondol jawa kerap mengunjungi sawah, padang rumput, lapangan terbuka bervegetasi dan kebun. Burung ini sering turun ke atas tanah atau berayun-ayun pada tangkai bunga rumput memakan bulir biji-bijian.

Penyebaran Burung Bondol

Penyebaran bondol jawa meliputi Singapura, Sumatera Selatan, Jawa, Bali dan Lombok. Bondol Jawa di daerah Jawa dan Bali umum ditemui dan tersebar luas sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, mengunjungi daerah garapan dan padang rumput alami, membentuk kelompok pada masa panen padi tetapi biasanya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bondol jawa makan di permukaan tanah atau mengambil biji dari bulir rumput, menghabiskan banyak waktu dengan bersiul dan membersihkan bulunya di pohon-pohon besar. Sarang berbentuk bola berongga longgar terbuat dari potongan rumput dan bahan lain, diletakkan cukup tinggi di atas pohon di antara benalu, ketiak tangkai palem atau tempat tertutup lainnya. Berbiak sepanjang tahun. Telur empat atau lima butir berwarna putih (MacKinnon, 1993).

Baca: Jenis-jenis Burung Madu di Indonesia

Bondol jawa umumnya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil, termasuk bercampur dengan jenis bondol lainnya seperti dengan bondol peking (L. punctulata). Kelompok pada mulanya terdiri dari beberapa ekor saja, akan tetapi di musim panen padi kelompok ini dapat membesar mencapai ratusan ekor. Kelompok akan tampak di sore hari pada saat terbang dan hinggap bersama-sama di pohon tempat tidurnya. Kelompok yang besar seperti ini dapat menjadi hama yang sangat merugikan petani padi.

Bondol jawa dapat berkembang biak sepanjang tahun dan bertelur empat atau lima butir setiap kali peneluran dengan telur berwarna putih (MacKinnon 1990, Priyambodo 2009). Burung ini sering bersarang di pekarangan dan halaman rumah, di pohon-pohon yang bertajuk rimbun, pada ketinggian 2-10 m di atas tanah. Bondol jawa tercatat berkembang biak sepanjang tahun, setiap kali bertelur bondol jawa meletakkan 4-5 butir telur yang berwarna putih. Besarnya sekitar 14 x 10 mm. Namun dalam kelompok, terutama ketika bertengger bersama, suara-suara ini jadi cukup membisingkan. Demikian pula suara anak-anaknya yang baru menetas. Bondol jawa terutama tersebar di Jawa dan Bali, hingga ketinggian 1.500 m dpl.

Simak: 7 Jenis Burung Kakatua Nusantara

Konsumsi pakan Burung Bondol

Bondol jawa memiliki peran yang lebih penting sebagai hama padi karena kemampuan reproduksi dan konsumsi yang tinggi sehingga memiliki kemampuan merusak lebih besar dibandingkan bondol peking. Di area pertanian biasanya, burung mulai menyerang tanaman padi ketika padi sudah mulai berisi. Penyerangan ini bisa sangat merugikan petani karena dilakukan secara berkoloni atau berkelompok dalam jumlah yang besar. Satu kelompok bisa terdiri dari paling sedikit 5 ekor, dan tiap kelompok mudah bergabung dengan jenis kelompok lainnya membentuk kelompok yang lebih besar. Meskipun dianggap sebagai hama namun keberadaannya dapat digunakan sebagai indikator kerusakan lingkungan. Keberadaan burung bondol jawa semakin berkurang akhir-akhir ini. Faktor yang menjadi penyebabnya antara lain adalah penggunaan insektisida dan pestisida yang berpengaruh terhadap kesehatan burung bondol jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Hernowo JB dan Prasetyo. 1985. Studi Pengaruh Tanaman Pekarangan Terhadap Keanekaragaman Jenis Burung Daerah Pemukiman Penduduk Perkampungan DI Wilayah Tingkat II Bogor. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Mac Kinnon J., Phillips K, Van Balen B., 1998. Burung-burung di sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Puslitbang Biologi – LIPI

Sumariadi, Wildian, Yusfi M., 2013. Aplikasi Mikrokontroler AT89S52 Sebagai Pengontrol Sistem Pengusir Burung Pemakan Padi dengan Bunyi Sirine. Jurnal Fisika Unand Vol. 2.

 

Burung Bondol Jawa – Si Hama Padi

Burung Bondol Jawa – Si Hama Padi

Burung Bondol Jawa

Indonesia merupakan salah satu negara prioritas utama dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati karena memiliki keanekaragaman hayati yang paling besar di dunia. Kepulauan Sunda Besar yaitu Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (termasuk Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam) memiliki peran yang sangat penting dalam penyelidikan alam oleh Alfred Russel Wallace pada jaman Ratu Victoria (Mc Kinnon, 1998). Setelah lebih dari seratus lima puluh tahun masa penelitian Wallace hubungan antar fauna yang ada pada saat ini semakin parah karena rusaknya hutan-hutan kita. Jika kita tidak menyusun dokumentasi mengenai penyebaran burung secara cepat dan tepat maka informasi mengenai burung dapat hilang selamanya.

Simak juga: Jenis Burung Kacamata (Pleci)

Burung merupakan salah satu satwa yang dijumpai hampir di setiap tempat dan mempunyai posisi penting sebagai salah satu kekayaan satwa Indonesia. Jenisnya sangat beranekaragam dan masing-masing jenis memiliki nilai keindahan tersendiri. Hidupnya memerlukan syarat-syarat tertentu yaitu adanya kondisi habitat yang cocok dan aman dari segala macam gangguan (Hernowo, 1985).

Ada banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi para petani padi sebelum sampai pada masa panen, salah satu diantaranya adalah masalah hama. Salah satu hama padi yang sangat mengganggu petani adalah burung pemakan padi. Burung pemakan padi ini banyak jenisnya, antara lain burung pipit atau bondol jawa (Lonchura lecogastroides), bondol peking (Lonchura punctulata), bondol haji (Lonchura maja), manyar jambul (Ploceus manyar), manyar emas (Ploceus hypoxanthus), dan burung gereja erasia (Passer montanus) (Sumariadi dkk, 2013).

Jenis Burung Bondol

Jenis burung yang paling tinggi tingkat konsumsinya terhadap gabah adalah burung bondol. Itulah sebabnya burung-burung jenis ini dikatagorikan sebagai burung yang merugikan bagi petani. Burung bondol juga termasuk burung yang mudah bergabung dengan jenis burung lain yang satu spesies dengannya.Setidaknya ada 21 spesies burung bondol. Beberapa diantaranya adalah Bondol peking (Lonchura punctulata) Bondol jawa (Lonchura leucogastroides) Bondol haji (Lonchura maja) Bondol perut-putih (Lonchura leucogastra). Bondol peking (Lonchura leucogastroides) disebut juga bondol dada sisik, pipit pinang, emprit, piit bondol atau Scaly-breasted munia termasuk dalam Famili Estrildidae.

Morfologi Burung Bondol Jawa

Bondol jawa dewasa mempunyai bentuk tubuh padat berukuran kecil (sekitar 11 cm), berat 9-10 gr, berwarna coklat hitam dan putih. Tubuh bagian atas coklat tidak berburik, muka dan bagian dada atas hitam bagian samping perut dan bagian rusuk putih bagian bawah ekor coklat gelap. Burung muda dengan dada dan perut coklat kekuningan kotor.

Baca: Cara Menikmati Kicauan tanpa Mengurung

Burung jantan tidak berbeda dengan betina dalam penampakannya. Iris mata coklat; paruh bagian atas kehitaman, paruh bawah abu-abu kebiruan (MacKinnon, 1993). Paruh burung bondol jawa berbentuk kecil, lancip, pipih dengan panjang paruh atas dan bawah hampir sama. Bentuk paruh ini disesuaikan untuk mengambil makanan berupa biji-bijian dan mampu untuk memisahkan kulit luar pembungkus padi maupun biji-bijian kecil lainnya. Sayap butung ini mempunyai bentang sayap ┬▒ 16 cm, mempunyai kemempuan terbang rendah dan mengepakkan sayapnya dengan cepat untuk membentuk gerakan seperti melompat dengan jangkauan yang cukup panjang. Bentuk kaki ramping kecil, mempunyai empat jari yang terdiri dari tiga jari berada di posisi depan dan satu jari berada diposisi belakang yang membuat burung ini mampu bertengger pada batang pohon maupun rumput. Masing-masing jari memiliki kuku. Secara fisiologis bondol jawa mempunyai kemiripan dengan jenis burung-finch yang lain. Mempunyai metabolisme yang cepat, denyut jantung sangat cepat sehingga dalam auskultasi jantung sangat sulit untuk menghitungnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hernowo JB dan Prasetyo. 1985. Studi Pengaruh Tanaman Pekarangan Terhadap Keanekaragaman Jenis Burung Daerah Pemukiman Penduduk Perkampungan DI Wilayah Tingkat II Bogor. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Mac Kinnon J., Phillips K, Van Balen B., 1998. Burung-burung di sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Puslitbang Biologi – LIPI

Sumariadi, Wildian, Yusfi M., 2013. Aplikasi Mikrokontroler AT89S52 Sebagai Pengontrol Sistem Pengusir Burung Pemakan Padi dengan Bunyi Sirine. Jurnal Fisika Unand Vol. 2.

 

Mengenal Beberapa Jenis Burung Kacamata  (Pleci) di Indonesia

Mengenal Beberapa Jenis Burung Kacamata (Pleci) di Indonesia

Spesies Burung Kacamata

Beberapa tahun belakangan, masyarakat Indonesia mulai melirik burung kacamata alias pleci. Hal ini membuat harga burung ini melonjak berkali-kali lipat di pasaran, selain itu juga menjadikan sebagian besar orang memburu burung kecil bermata putih ini secara besar-besaran, mengurangi populasinya secara drastis meskipun belum terancam punah. Nah, tahukah Anda bahwa sebenanrya ada lebih dari satu jenis burung pleci di Indonesia? Ya, semua burung kacamata termasuk dalam keluarga zosteropidae, yang tersebar di benua Afrika, Asia dan Australia. Nama burung kacamata merujuk pada lingkar keperakan di dekat matanya, yang memang terlihar seperti kacamata. Burung ini terkenal suka hidup dalam kelompok yang besar, dengan suara mencicit yang ribut namun juga merdu. Nah, Berikut ini sedikit ulasan tentang 6 jenis terumum dari 34 spesies burung kacamata yang ada di Indonesia. Yuk kita kenali mereka lebih dekat!

Kacamata Biasa (Zosterops palpebrosus)

kacamata biasa ras melanurus yang jumlahnya semakin menurun akibat perburuan

Merupakan jenis burung kacamata yang paling mudah ditemukan di Indonesia bagian barat, khususnya Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Persebaran global burung ini sangatlah luas, membentang dari India utara sampai Cina selatan dan Asia Tenggara. Burung ini juga cukup umum dijual di pasar burung, dan dikenal dengan nama pleci. Perburuan yang berlebihan menyebabkan keberadaan burung ini mulai menghilang di beberapa tempat, namun secara umum populasinya masih cukup banyak dan belum terancam punah.

Baca pula: Jenis-jenis Burung Madu

Pada umumnya burung kacamata biasa memiliki warna zaitun di tubuh bagian atas, dengan tubuh bagian bawah yang berbeda di beberapa ras yang ada di dunia. Di Indonesia sendiri terdapat 2 ras, yaitu ras buxtoni di Sumatra, Kalimantan dan Jawa bagian barat, serta ras melanurus di bagian Pulau Jawa yang lain. Pada ras buxtoni, tubuh bagian bawahnya berwarna kuning dengan sisi tubuh berwarna abu-abu, sementara ras melanurus memiliki warna kuning polos di tubuh bagian bawah. Kedua ras ini sama-sama memiliki piringan putih seperti kacamata dan warna hitam di bagian muka yang merupakan ciri khas dari burung kacamata.

Kacamata Gunung (Zosterops montanus)

kacamata gunung tidak memiliki pita kuning di tengah dada danperutnya, serta arna kuning di depan mata

Seperti namanya, burung ini menyukai daerah pegunungan sebagai habitat utamanya, khususnya yang berada di ketinggian antara 1500-3000 meter dari permukaan laut. Burung ini cukup umum ditemukan di beberapa hutan pegunungan di Filipina, Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, namun sangat jarang ditemukan di bawah ketinggian 1800 mdpl. Secara kasar, bentuknya sangat mirip dengan burung kacamata biasa ras buxtoni, namun seluruh tubuh bagian bawah berwarna abu-abu tanpa garis kuning yang bisa ditemukan pada jenis kacamata lain.

 

 

 

 

Kacamata Laut (Zosterops chloris)

kacamata laut dengan warna kuning yang cerah, dan hanya bisa ditemukan di pesisir pulau kecil

Lagi-lagi nama burung ini menunjukan habitatnya, yang memang selalu berdekatan dengan lautan. Kacamata laut tersebar di beberapa pulau-pulau kecil di laut Jawa, seperti Kepulauan Seriu, Karimun Jawa, Nusa Tenggara, hingga Belitung, Karimata dan Papua Barat. Burung ini menyukai semak-semak di dekat pantai, tempat mereka berkumpul dalam gerombolan besar dan mencari serangga bersama-sama. Bentuknya sangat mirip dengan kacamata biasa ras melanurus, namun sedikit lebih besar dengan bagian dahi yang lebih gelap dan tubuh bagian bawah kuning lemon.

Simak: Fakta Unik tentang Burung Merak

 

 

Kacamata Jawa (Zosterops flavus)

Meskipun disebut sebagai kacamata jawa, burung ini juga bisa ditemukan di Kalimantan dan Madura. Habitatnya terbatas di daerah pesisir dan hutan bakau, yang beberapa tahun belakangan semakin berkurang akibat pembangunan. Secara kasar, burung ini juga sangat mirip dengan kacamata laut dan kacamata biasa, dengan perbedaan utama terletak pada bagian depan mata yang tidak dihiasi warna hitam seperti pada burung kacamata yang lain.

Opior Jawa (Lophozosterops javanicus)

opior jawa dengan lingkar mata yang tidak terlalu jelas

Burung ini cukup berbeda bila dibandingkan dengan 4 jenis sebelumnya. Seperti namanya, opior jawa merupakan burung endemik di Pulau Jawa dan Bali, tersebar di beberapa gunung-gunung tinggi di atas ketinggian 1500 meter dari permukaan laut. Burung ini memiliki ukuran yang lebih besar dari burung kacamata lain (sekitar 13 cm) dengan warna yang lebih buram. Terdapat beberapa ras di Indonesia, dengan variasi warna putih di mata yang berbeda satu sama lain. Ras di Jawa Barat tidak memiliki warna putih di mata sama sekali, membuatnya tampak sangat berbeda dari burung kacamata yang lain.

 

 

Opior Mata Hitam (Chlorocgarus emilieae)

opior kalimantan dengan lingkar mata hitam yang unik

Dalam bahasa inggris burung disebut sebagai mountian black-eye, merujuk pada lingkar matanya yang hitam, berbeda dari burung kacamata lain yang berwarna putih. Burung ini merupakan jenis endemik Kalimantan dan hanya bisa ditemukan di beberapa gunung tertinggi di pulau tersebut, seperti G. Kinabalu, G. Trus Madi, dan lain-lain. Burung ini cukup jarang ditemukan, dan memiliki suara siulan merdu seperti burunga anis yang sangat berbeda dengan jenis burung kacamata lain di Indonesia.

Cara: Menikmati Kicauan Burung tanpa Mengurung

Nah begitulah sedikit ulasan mengenai burung bermata putih yang cantik ini. Semoga burung ini bisa bertahan dari ancaman perburuan yang terus terjadi di Indonesia.

 

 

Cara Menikmati Kicauan Burung Tanpa Harus Mengurung

Cara Menikmati Kicauan Burung Tanpa Harus Mengurung

Tips Mengundang Burung-burung ke Rumah Kita

Burung betet biasa

Di Indonesia, budaya memelihara burung dalam sangkar sudah menjadi hal yang sangat umum di masyarakat. Merdunya kicau burung selalu menjadi pelengkap yang indah bagi suasana rumah impian, mengundang banyak orang untuk menghadirkan burung di kediaman masing-masing. Sayangnya, sebagian besar burung-burung tersebut merupakan hasil tangkapan liar, sehingga populasinya di alam pun semakin berkurang. Burung-burung peliharaan yang dulu umum ditemukan di alam seperti Gelatik Jawa (Padda oryzivora) kini semakin jarang terlihat, sebagian besar akibat ulah para pemburu yang menjual burung-burung tersebut ke kolektor. Lantas, apakah ada cara lain untuk menghadirkan kicauan burung-burung tersebut ke halaman rumah tanpa harus mengganggu populasinya di alam?

Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya adalah perubahan mendasar pada mindet dan perilaku kita. Cara ini sudah dipraktekan oleh sebagian besar masyarakat dari negara maju di Eropa dan Amerika. Masyarakat di negara-negara tersebut juga suka dengan kehadiran suara dan tingkah laku burung di halaman rumah mereka bedanya, mereka tidak menghadirkan burung-burung tersebut secara paksa di dalam sangkar, namun dengan mengundangnya ke perkarangan mereka masing-masing. Hal ini bukan saja membuat mereka dapat menikmati keberadaan burung liar di rumah, tapi juga memberi sedikit habitat tambahan bagi burung-burung yang semakin tergusur oleh laju urbanisasi manusia.

Cara Menghadirkan Kicauan Burung ke Halaman Rumah

bird feeder

Nah, bagi Anda yang ingin menikmati kehadiran burung di rumah tanpa harus mengurung mereka, ini dia beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mengundang mereka ke halaman belakang:

  1. Mengenal Jenis Burung di Sekitar Rumah

Tak kenal, maka tak sayang. Ya, sebelum mengundang tamu-tamu bersayap ini ke halaman rumah, ada baiknya Anda mengetahui jenis-jenis dan karakter burung yang ada di sekitar rumah. Bila Anda tinggal di daerah perkotaan yang padat, Anda mungkin akan beranggapan tidak akan ada burung bagus yang singgah di halaman rumah. Ini tidak sepenuhnya benar, mungkin Anda hanya kurang teliti dalam mengamati jenis-jenis burung di sekitar rumah. Di kota Jakarta yang sangat padat, misalnya, masih bisa dijumpai jenis-jenis cantik seperti Betet Biasa (Psittacula alexandri) dan Kepudang Kuduk Hitam (Oriolus chinensis) keduanya bisa diundang ke halaman rumah dengan teknik khusus. Cobalah bertanya pada komunitas pengamat burung di kota Anda untuk mendapatkan informasi lengkap tentang burung di daerah rumah.

  1. Menanam Tanaman yang Tepat
buah talok

Ada 3 unsur utama yang harus dipenuhi sebuah lingkungan agar burung mau datang ke lokasi tersebut: air, makanan, dan perlindungan. Dua dari kebutuhan tersebut makanan dan perlindungan bisa disediakan oleh tanaman yang Anda tanam di halaman rumah, sehingga akan menarik perhatian burung-burung liar untuk singgah di tempat tersebut. Beberapa pohon yang disukai burung antara lain Talok atau Ceri (Muntinga calabura) dan Beringin (Ficus sp), atau jenis-jenis pohon lain dengan buah yang kecil dan lembut. Burung-burung seperti Kutilang (Pynonotus aurigaster), Merbah Cerukcuk atau Trotokan (P. goaivier), Cabai Jawa (Diaceum trochilleum) dan Burung-madu Sriganti (Nectarinia jugularis) sangat menyukai buah yang dihasilkan oleh pohon-pohon tersebut.

Nah, sebagai tempat perlindungan, Anda bisa menanam berbagai macam semak di batas-batas halaman rumah Anda. Hal ini berfungsi dalam memberi rasa nyaman dan aman bagi si burung, sehingga mereka bisa lari bersembunyi ketika merasakan ada bahaya mendekat. Berbagai jenis tanaman semak berbunga juga bisa menjadi pilihan yang bagus, baik sebagai tempat bersembunyi burung maupun sebagai tambahan makanan bagi burung-burung tersebut.

  1. Menambahkan Bird Feeder, Bird Bath dan nest box

Meskipun sudah ada makanan alami, terkadang kita juga perlu menambahkan makanan tambahan untuk memancing jenis-jenis tertentu datang ke halaman kita. Anda cukup menaruh biji-bijian di atas nampan pendek yang ditaruh di atas tiang/digantung di bawah pohon, dan beberapa jenis burung pemakan biji seperti Burung Gereja (Passer montanus) dan Bondol (Lonchurra spp) akan datang dengan sendirinya. Potongan buah seperti pisang dan pepaya juga bisa mengundang burung-burung pemakan buah seperti Kutilang, Kerak Kerbau (Acridotheres javanicus) dan Kepodang, namun mereka cenderung sensitif dan agak sulit disogok dengan makanan gratis.

sarang buatan (nest box)

Sama seperti bird feeder, tempat mandi burung (bird bath) dan sarang buatan (nest box) juga bisa menjadi sogokan yang bagus bagi para burung liar di sekitar rumah. Cukup dengan nampan berisi air, Anda bisa membuat bird bath sederhana yang mampu mengundang burung untuk mandi dan membersihkan bulu-bulunya yang kotor di sore hari. Anda juga bisa membeli nestbox di toko-toko burung dan menggantungnya di pohon yang tinggi untuk mengundang burung-burung yang bersarang di dalam lubang, seperti Kerak Kerbau, Betet Biasa, dan Gelatik-batu Kelabu (Parus major).

  1. Catat!

Salah satu alasan kenapa orang-orang di luar negeri sangat menggandrungi kegiatan backyard birding adalah adanya kepuasaan ketika mereka mendapati jenis burung aneh, cantik atau langka di halaman belakang mereka. Mereka biasa mencatat jenis-jenis burung apa saja yang datang ke halaman rumah masing-masing, membuat daftar panjang dengan foto sebagai bukti kesuksesan mereka dalam mengundang burung ke halaman rumah. Anda juga bisa melakukan hal ini untuk menambah kepuasan atau sekadar mengevaluasi seberapa ampuh undangan yang Anda lakukan ke burung-burung di sekitar rumah. Anda bisa membeli buku panduan mengamati burung untuk mengidentifikasi jenis-jenis burung yang datang ke rumah, kemudian mencatatnya atau mengabadikannya dengan kamera.

Jika Cara Mendatangkan Burung Belum Berhasil, Apa yang harus anda lakukan

Nah, jika semua hal diatas telah Anda lakukan namun belum ada satupun burung yang datang, apa yang harus dilakukan? Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah bersabar, karena burung perlu waktu untuk mengenali habitat baru yang baru saja Anda buat. Cobalah untuk meminimalisir gangguan di halaman rumah agar burung bisa leluasa mengenal rumah Anda lebih baik, setidaknya sampai mereka merasa lebih nyaman untuk datang setiap hari. Bila burung tak kunjung datang, cobalah mengotak-atik lagi formula taman Anda agar benar-benar cocok bagi burung-burung yang berkunjung. Jika semuanya lancar, Anda bisa menikmati suara burung yang indah setiap hari tanpa harus menculiknya dari habitat aslinya di alam.

 

Jenis-jenis Burung Madu di Indonesia

Jenis-jenis Burung Madu di Indonesia

Mengenal Jenis-jenis Burung Madu di Indonesia

Jika Anda memiliki pohon yang berbunga di perkarangan, siap-siap kedatangan tamu bersayap yang satu ini. Beberapa ekor burung kecil dengan paruh yang panjang akan datang ke pohon berbunga di rumah Anda, mencicip nektar segar yang ditawarkan oleh bunga warna-warni di pohon tersebut. Warna bulunya yang semarak akan semakin mempercantik taman Anda, sementara tingkahnya yang lucu akan selalu menjadi hiburan yang menarik untuk dinikmati setiap pagi. Mereka adalah burung madu, si penyerbuk bunga yang cantik nan jelita.

Sebagai satwa yang penting dalam proses penyerbukan bunga, sudah sepantasnya kita mengenal burung kecil yang satu ini. Seluruh jenis burung madu termasuk dalam famili nectarinidae, memiliki ciri khas paruh yang panjang dan melengkung serta warna yang terang dan mencolok beberapa jenis bahkan memiliki warna metalik yang memukau. Burung ini tersebar di seluruh area tropis dan subtropis Asia, Australia dan Afrika, menghuni berbagai tipe habitat mulai dari hutan lebat, hutan skunder, perkebunan, hingga daerah perkotaan dan perkarangan rumah manusia. Sesuai namanya, burung ini mengkonsumsi nektar bunga sebagai makanan utamanya, disamping berbagai jenis serangga yang ditangkap dari cabang-cabang pohon.

Burung Madu berbeda dengan Burung Kolibri

Meskipun mirip, burung madu tidak sama dengan burung kolibri yang kita kenal di televisi. Burung kolibri termasuk dalam famili trochilidae dan memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan burung walet dibandingkan dengan burung-burung petengger, termasuk burung madu. Melalui evolusi konvergen, kedua jenis burung yang tidak berkerabat ini sama-sama memiliki morfologi khusus untuk mengambil nektar bunga yang sedang mekar, seperti paruh dan lidah yang panjang. Perbedaanya, kaki burung kolibri tidak terlalu berkembang dengan baik, sehingga mereka lebih suka terbang diam sambil mengepakan sayap (hovering) ketika berburu makanan. Burung madu sebenarnya juga bisa melakukan hal tersebut, namun morfologi sayapnya tidak terlalu baik untuk terbang dalam waktu yang lama dan lebih suka bertengger saat berburu makanan.

Simak: Burung Alap-alap Kawah

Perbedaan lain dari kedua golongan burung ini adalah persebarannyaΓÇöburung kolibri hanya bisa ditemui di benua Amerika, sementara burung madu tersebar luas di Asia, Australia dan Afrika. Keduanya sama-sama menyukai nektar bunga dan serangga, namun burung madu lebih suka memakan serangga bila dibandingkan dengan burung kolibri. Morfologi paruh keduanya juga sangat berbedaΓÇömeskipun panjang, paruh burung kolibri cenderung berbentuk lurus, sementara burung madu memiliki paruh yang melengkung.

Jenis Burung Madu yang Hidup di Indonesia

Ada sekitar 132 jenis burung madu di dunia, dan 23 diantaranya bisa ditemui di Indonesia. Masing-masing jenis memiliki warna, bentuk, ukuran dan habitat yang berbeda-beda. Burung madu dari genus Cynniris atau Nectarinia, misalnya, merupakan jenis yang sangat kosmopolit alias bisa ditemukan di habitat manusia, mulai dari perkebunan, pedesaan, taman-taman kota, hingga perkarangan rumah yang memiliki pohon berbunga. Genus Anthreptes warnanya paling beragam dengan aksen metalik pada individu jantan, dengan paruh yang tidak terlalu panjang melengkung. Genus Aethopyga merupakan anggota tercantik dari kelompok burung ini, memiliki warna bulu campuran merah, kuning dan hijau/ungu metalik yang luar biasa. Terakhir, ada genus Arachnotera, si pemakan laba-laba yang berukuran besar dan dengan paruh yang super panjang.

Nah, berikut ini adalah beberapa jenis burung madu yang umum dijumpai di Indonesia:

  1. Burung-madu Sriganti (Olive-backed Sunbird/Nectarinia jugularis)

Merupakan burung madu paling umum di Indonesia, tersebar dari ujung Sumatra hingga Maluku dan Nusa Tenggara. Jenis ini bersifat kosmopolit dan sangat mudah ditemui di beberapa tipe habitat yang berdekatan dengan manusia,. Sesuai dengan namanya, burung ini memiliki punggung dan sayap berwarna hijau zaitun yang kontras dengan perut dan dadanya yang kuning cerah. Pada burung jantan, terdapat aksen biru metalik yang mencolok di bagian tenggorokan dan kepala, membuatnya terlihat mencolok di kanopi pohon. Suaranya yang melengking ck-ck-ck..criii crii criii menjadi penanda utama kehadiran burung kecil yang satu ini.

  1. Burung-madu Kelapa (Plain-throated Sunbird/Anthreptes moluccensis)

Bentuknya hampir mirip dengan burung-madu sriganti, namun memiliki ukuran lebih besar dengan paruh yang tidak terlalu melengkung. Warna metalik di kepala individu jantan berwarna coklat kemerahan, berbeda dengan burung-madu sriganti yang biru. Burung madu yang satu ini juga cukup umum ditemui di daerah pedesaan, namun tidak terlalu menyukai daerah perkotaan yang ramai, meskipun masih bisa ditemui di beberapa taman kota tertentu. Sesuai dengan namanya, burung ini senang sekali menghisap madu dari bunga kelapa.

  1. Burung-madu Jawa (Javan Sunbird/Aethopyga mystacalis) dan Burung-madu Ekor Merah (Temmnicks Sunbird/Aethopyga temmnickii)

Keduanya memiliki bentuk yang mirip dan sama-sama menawan: warna merah menyala di seluruh badan dengan sayap kehijauan dan aksen ungu metalik di muka. Perbedaan keduanya hanya terdapat di ekor burung-madu jawa berwarna ungu, sementara burung madu ekor-merah memiliki ekor merah. Keduanya agak jarang ditemukan, dan lebih menyukai hutan skunder dengan gangguan manusia yang minim. Burung-madu Ekor-merah bisa ditemui di seluruh Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan dan Jawa, sementara Burung-madu Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa.

  1. Pijantung Kecil (Little Spiderhunter/Arachnotera longirostra)

Berbeda dengan burung-madu, Pijantung berukuran lebih besar dengan paruh yang lebih panjang, tanpa warna metalik yang mencolok. Sesuai dengan nama inggrisnya, burung ini senang sekali menangkap laba-laba sebagai mangsanya, disamping nektar bunga dan serangga lain. Burung ini tersebar di seluruh India dan Asia Tenggara hingga Kalimantan dan Bali, namun tidak ditemukan di Indonesia bagian timur. Warna leher bagian dalamnya dan lingkar mata putih menjadi ciri khas utama burung ini.

Burung Madu Dilindungi Undang-undang

Selain keempat jenis burung-madu di atas, masih ada 19 jenis lain yang agak jarang ditemukan, namun juga menarik untuk diamati. Sayangnya, beberapa orang sering memburu dan menangkap burung ini untuk dijadikan hewan peliharaan di dalam kandang atau dijual di pasar hewan. Meskipun tidak terlalu terancam, burung-madu dilindungi undang-undang no. 5 tahun 1990 karena perannya sebagai pembantu penyerbukan bunga di alam, sehingga aktivitas memelihara dan memburu burung ini dilarang secara hukum.

Bila suatu saat nanti burung-burung cantik ini punah dari habitatnya, keseimbangan ekosistem akan terganggu. Berbagai efek negatif akan terjadi baik bagi lingkungan maupun manusia yang tinggal di atasnya. Tentu kita tidak mau hal tersebut terjadi, bukan? Jadi mari lestarikan si Cantik doyan madu ini.

Baca: Mengenal Burung Wiwik Kelabu

 

Kisah Gelatik Jawa yang Terusir dari Rumah Sendiri

Kisah Gelatik Jawa yang Terusir dari Rumah Sendiri

Burung Gelatik Jawa

Burung gelatikBagi Anda yang menghabiskan masa kecil di daerah pedesaan, burung yang satu ini tidak akan asing di mata Anda. Paruhnya yang besar mencolok selalu menandakan kehadirannya yang paling tidak disukai para petani. Konon, satu gerombolan besar Gelatik Jawa (Padda oryzivora) bisa menghabiskan satu petak sawah hanya dalam satu hari, membuatnya menjadi salah satu hama padi paling berbahaya sebelum tahun 1990. Anehnya, sekarang burung ini menjadi sangat jarang terlihat, bahkan hilang bak ditelan bumi. Tidak ada lagi suara cicitannya yang khas, pipi putihnya yang lucu, atau siluet hitamnya saat terbang dari satu petak sawah ke petak lain pemandangan yang sangat berbeda dari 2 dekade yang lalu. Kemana mereka pergi?

Gelatik Jawa atau dalam bahasa inggris disebut Javan Sparrow merupakan burung berukuran sedang (16 cm) yang berasal dari suku estrildidae. Seperti spesies lain di suku tersebut, Gelatik Jawa memiliki paruh yang tebal dan kuat, digunakan untuk memecahkan biji-bijian seperti padi yang menjadi makanan utamanya. Burung ini memiliki tubuh yang agak bantet, dengan warna merah yang mencolok di paruh, kaki dan irisnya, sementara bagian tubuh yang lain didominasi oleh bulu abu-abu gelap. Kepalanya hitam dengan corak putih yang terlihat kontras, sementara bagian perutnya berwarna merah keabu-abuan.

Baca juga: Lassie – Anjing Gembala

Burung endemik Pulau Jawa dan Bali ini merupakan hewan yang cukup sosial, hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil serta berpergian bersama-sama. Mereka sangat aktif di pagi dan sore hari, mencari makan di areal persawahan atau rerumputan yang tinggi, kemudian tidur bersama-sama di dahan-dahan pohon yang cukup tinggi di malam hari. Burung ini termasuk cavity nester alias bersarang di lubang pohon, meskipun mereka juga sering membangun sarang di lubang-lubang lain, seperti celah-celah tebing, lubang-lubang di bangunan, atau bahkan di sela-sela batuan candi yang berumur ratusan tahun.

Gelatik Jawa yang mulai terusik

Seperti yang disinggung di atas, John MacKinnon salah satu ornitolog ternama yang menuliskan buku tentang burung-burung di Indonesia menyebut bahwa burung ini awalnya merupakan salah satu burung paling umum di tanah Jawa. Burung ini sering membentuk koloni besar yang bergerilya dari satu sawah ke sawah lain, mencari bulir-bulir padi yang sudah matang dan merunduk. Bersama jenis-jenis burung pemakan biji lain, Gelatik Jawa dapat menciptakan kerusakan yang cukup parah bagi para petani yang sedang panen, sehingga dijuluki sebagai salah satu hama paling berbahaya bagi industri pertanian di Indonesia.

Hal ini berubah pada tahun 1960 hingga 1970-an, ketika tren memelihara burung sedang memuncak di Indonesia. Warna yang menarik, bentuk tubuh yang unik, rupa yang menggemaskan serta perilaku yang lucu membuat banyak orang tertarik untuk menangkap dan memelihara burung ini di dalam kandang. Hal ini memicu penangkapan besar-besaran burung ini demi memenuhi kebutuhan pasar bukan hanya domestik, tapi juga pasar internasional. Penangkapan besar-besaran ini ditambah perubahan habitat yang cukup signifikan membuat populasi Gelatik Jawa berkurang drastis. Hanya dalam beberapa tahun, burung ini seakan lenyap dari daerah asalnya, hingga International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukan spesies ini dalam daftar rentan punah (Vulnurable).

Di Pulau Jawa, burung ini sudah sangat sulit ditemukan, kecuali di beberapa titik yang sangat tersebar seperti di kota Yogyakarta dan Taman Nasional Baluran, Situbondo. Di Bali, keberadaannya masih cukup baik dan masih bisa ditemukan di beberapa areal persawahan, meskipun tidak seumum beberapa dekade yang lalu. Sawah-sawah yang dulunya penuh dengan suara unik mereka kini menjadi sepi, lebih sering dikunjungi oleh burung-burung bondol yang bentuknya tidak semenarik Gelatik Jawa.

Gelatik Jawa Menyebar ke beberapa Negara

Yang mengejutkan, populasi burung ini justru hadir dalam jumlah besar di negara lain, seperti Singapura, Vietnam, China, hingga Brazil dan Hawaii. Burung-burung ini berasal dari burung peliharaan yang terlepas, baik sengaja maupun tidak disengaja, dan berkembang biak hingga membentuk populasi yang cukup stabil tanpa ancaman penangkapan seperti yang mereka alami di tanah air mereka sendiri. Gelatik Jawa seakan terusir dari rumah mereka sendiri di Pulau Jawa dan akhirnya memilih untuk hidup di tanah perantauan yang jauh lebih aman. Ironis…

Sebagai pecinta satwa, sudah seharusnya kita menjaga keberadaan satwa identitas Pulau Jawa ini agar tidak punah di rumahnya sendiri. Mari, kita undang kembali kicauan mereka ke sawah, karena Sang Gelatik harus pulang ke Negerinya..

Simak pula: Alap-alap Kawah – Satwa Tercepat didunia

 

Mengenal Wiwik Kelabu – Burung Pembawa Pesan Kematian

Mengenal Wiwik Kelabu – Burung Pembawa Pesan Kematian

Burung Wiwik Kelabu

Wiwik kelabu jantan

Anda yang pernah tinggal di daerah pedesaan pasti pernah mendengar mitos tentang burung kedasih, burung pembawa pesan kematian. Ada banyak masyarakat yang percaya bahwa siulan burung tersebur merupakan petunjuk bahwa akan ada orang meninggal di daerah setempat. Akibat mitos tersebut, banyak orang yang ketakutan ketika mendengar suara burung ini di dekat rumah mereka. Lantas, benarkah mitos tersebut? Seperti apa sih bentuk burung ini yang sesungguhnya? Yuk, kita kenali lebih dekat si pembawa maut ini!

Cacomantis merulinus, atau yang lebih sering disebut kedasih atau srikedasih merupakan burung dari keluarga cuculidae, dan tersebar di hampir seluruh Asia Tenggara, China dan India. Nama resminya yang dipakai di kalangan peneliti adalah Wiwik Kelabu, merujuk pada warna tubuhnya yang sebagian besar abu-abu. Sebenarnya bentuk burung ini tidak seseram reputasinya di masyarakat, dengan dada dan perut berwarna oranye terang yang terlihat cantik. Mungkin satu-satunya hal yang agak menakutkan dari burung ini adalah matanya yang berwarna merah menyala, itupun jarang terlihat jelas bila kita tidak mengamatinya dari dekat.

Seperti jenis lain di keluarga cuculidae, burung Wiwik Kelabu cenderung pemalu, sulit ditemukan wujud aslinya, dan lebih sering terlihat di tempat-tempat yang sepi, termasuk kuburan. Cara termudah untuk mengetahui keberadaannya adalah melalui suaranya yang khas, siulan dengan nada tinggi dan menyayat hati wiiik..wiiik…wikwikwikwik berulang-ulang. Di saat-saat tertentu, burung ini memiliki lagu yang berbeda, yaitu siulan rendah ku ku ku ku yang memang terdengar seperti nyanyian sedih. Mungkin kombinasi antara suara yang sendu ditambah hobinya yang suka bersembunyi di tempat sepi membuat masyarakat sering menyangkut-bautkan burung ini dengan kematian.

Wiwik Kelabu – Si Parasit Sarang

Anakan wiwik kelabu dan induk palsunya

Sebenarnya, gelar pembawa kematian masih bisa disematkan bagi burung ini, setidaknya bagi calon anak burung dari spesies lain yang masih berada di dalam telur. Seperti burung dari keluarga cuculidae yang lain, Wiwik Kelabu tidak mengerami telurnya sendiri, melainkan menitipkan telur tersebut ke sarang burung-burung kecil dari jenis lain seperti cikrak (Phylloscopus sp). Sang induk yang akan bertelur akan mencari sarang burung lain yang belum dierami, meletakan satu butir telurnya di sarang tersebut, kemudian langsung meninggalkannya begitu saja.

Baca: Kisah Gelatik Jawa yang Terusir dari Rumah Sendiri

Biasanya, telur palsu dari si Wiwik Kelabu memiliki corak yang sama dengan telur di sarang yang sama, sehingga burung pemilik sarang akan tertipu. Sang pemilik sarang asli akan mengerami telur di sarang tersebut, baik telur asli maupun telur yang palsu hingga menetas. Anakan Wiwik Kelabu menetas lebih cepat dari telur pemilik sarang yang asli, kemudian dia akan mendorong telur-telur lain hingga jatuh dari sarang dan mati. Dengan cara ini, anakan Wiwik Kelabu tidak akan memiliki pesaing dan mendapatkan suplai makanan yang jauh lebih banyak dari induk tirinya. Unik sekali, ya?

Meskipun terdengar kejam, perilaku parasit sarang ini menunjukan bagaimana uniknya dunia hewan yang ada di sekitar kita. Perilaku tersebut juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem di alam dengan membatasi populasi burung yang menjadi inang dari anak burung Wiwik Kelabu tersebut. Hal ini seharusnya dapat menyadarkan kita tentang betapa pentingnya keberadaan burung-burung ini di habitat aslinya, berusaha bertahan hidup sambil terus memerankan perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam agar tetap lestari sepanjang waktu.

Ya, itulah sekilas cerita tentang si Wiwik Kelabu, burung pembawa kematian. Terserah Anda ingin tetap percaya atau tidak terhadap mitos tersebut, yang jelas burung-burung ini akan tetap bernyanyi dan menghiasi alam dengan lagu sendunya sepanjang waktu.

Simak pula: Alap-alap Sawah – Satwa Tercepat Di Dunia

 

Ini Lho Alap-alap Kawah – Satwa Tercepat di Dunia

Ini Lho Alap-alap Kawah – Satwa Tercepat di Dunia

Alap-alap Kawah adalah penerbang tercepat di dunia

alap-alap kawahApa sih hewan tercepat di dunia? Sebagian besar orang mungkin akan menjawab Cheetah, si kucing pelari dari Afrika yang bisa berlari hingga kecepatan 120 km/jam. Sebagian lain mungkin akan menjawab kuda, kijang, dan hewan-hewan lain yang berlari di darat. Tapi kalau kita bertanya tentang siapa hewan tercepat di langit, jawabannya adalah burung ini: Alap-alap Kawah, sang penerbang tercepat di dunia!

Alap-alap Kawah (Falco peregrinus) atau yang dalam bahasa inggris disebut Peregrine Falcon merupakan burung pemangsa dari keluarga falconidae. Seperti burung pemangsa lain, alap-alap kawah diberkati dengan paruh yang tajam dan cakar yang kuat, tercipta khusus untuk menangkap dan membunuh mangsanya. Berbeda dengan elang yang berasal dari suku accipitridae, Alap-alap memiliki sayap yang sempit dan berbentuk segitiga, didesain khusus untuk bisa terbang dengan cepat dan efisien. Kecepatan Alap-alap kawah bisa mencapai 320 km/jam, hampir 2 kali lipat kecepatan berlari cheetah!Dengan kecepatan yang luar biasa ini, Alap-alap Kawah pun diakui bukan hanya sebagai penerbang tercepat di dunia, namun juga makhluk tercepat di kerajaan hewan!

Menarik untuk disimak: Ikan Napoleon

Burung berukuran sedang ini tersebar di hampir seluruh dunia, dari dataran tundra di ujung utara dan selatan bumi hingga ke daerah tropis di ekuator. Dengan panjang antara 35-58 cm dan berat antara 330 sampai 1500 gram, Alap-alap Kawah termasuk dalam burung pemangsa berukuran sedang. Corak tubuhnya bervariasi dari satu subspesies dengan subspesies lain, namun umumnya berwarna hitam kebiruan di bagian atas, dengan tubuh bagian bawah putih bercoret-coret hitam. Salah satu ciri utama burung ini adalah sayapnya yang kaku dan terlihat agak tumpul ketika terbang, serta topeng di mukanya yang khas.

Cara Alap-alap Kawah Memburu Mangsa

Tidak seperti burung pemangsa lain, Alap-alap Kawah lebih suka menangkap mangsa yang terbang dibandingkan mangsa yang ada di permukaan tanah. Beberapa mangsa kesukaannya antara lain burung merpati, bebek liar, burung-burung pantai, hingga kelelawar. Untuk menangkap mangsanya yang tidak biasa ini, si penerbang cepat ini punya teknik khusus yang disebut stooping terjun bebas dari ketinggian dengan sayap terlipat dan langsung menabrak mangsa dengan cakarnya yang tajam. Dengan manuver inilah Alap-alap Kawah bisa mendapatkan kecepatannya yang legendaris, didukung dengan bentuk tubuhnya yang sangat aerodinamis, menyerupai tetesan air yang turun dari langit. Dalam sekali tabrak, bisa dipastikan mangsanya akan langsung menemui ajalnya.

Habitat Alap-alap Kawah

Alap-alap menukik
Alap-alap menukik

Burung Alap-alap Kawah termasuk spesies yang sangat kosmopolit alias mudah beradaptasi dengan lingkungan apapun. Burung ini dapat ditemui di seluruh tipe habitat, mulai dari hutan, daerah terbuka, daerah pertanian, pemukiman rural, hingga daerah perkotaan yang padat penduduknya. Mereka umumnya bersarang di tebing-tebing terjal di pegunungan atau di pinggir laut, meskipun ada banyak catatan lokasi sarang di atas gedung-gedung tinggi di daerah perkotaan. Di Indonesia sendiri, catatan keberadaan burung ini didominasi oleh subspesies yang bermigrasi dari belahan bumi utara pada musim dingin, meskipun ada pula subspesies lokal yang tinggl sepanjang tahun.

Seperti halnya jenis burung pemangsa lain, Alap-alap Kawah dilindungi oleh Undang-undang no 5 tahun 1990 dan dilarang untuk diburu, ditangkap, diperjual-belikan, atau dipelihara atas alasan apapun. Meskipun penyebarannya luas dan populasinya masih cukup banyak, keberadaan burung ini tetap terancam oleh perubahan habitat skala besar, keracunan pestisida, kekurangan mangsa, serta perburuan. Tren pemeliharaan burung pemangsa atau falconry masih menjadi ancaman yang serius bagi keberadaan burung ini di Indonesia.

Jika Anda benar-benar cinta terhadap satwa ini, ada baiknya Anda tidak memeliharanya di rumah, melainkan cukup mengamatinya di alam liar bersama kelompok-kelompok pengamat burung di kota Anda. Mari jaga kelestarian satwa liar di sekitar kita, dan biarkan si raja udara ini tetap mengepakkan sayapnya yang gagah di angkasa!

Silahkan baca juga: Lumba-lumba Humpback