Jauhkan Burung Anda dari Benda-Benda Ini

Jauhkan Burung Anda dari Benda-Benda Ini

Benda Yang Menyebabkan Keracunan pada Burung

PecintaSatwa.com – Seperti halnya anak-anak balita yang memasuki fase oral, mengeksplorasi sekitarnya dengan memasukkan benda-benda ke dalam rongga mulutnya, burung pun memiliki behavior serupa. Rasa ingin tahunya yang tinggi, membuat burung selalu ingin mencoba-coba alias ‘icip-icip’ benda-benda disekitarnya yang menarik baik berupa makanan, maupun kandang dan peralatannya, namun tahu kah anda bahwa perilaku demikian bisa berbahaya bagi burung peliharaan anda?

Baca: Cara Menikmati Burung Kicauan Tanpa Harus Mengurung

Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Laurie Hess DVM, DABVP, seorang dokter hewan dengan spesialisasi unggas dan burung, beberapa benda disekitar kita dapat meracuni burung. Kadang kala kasus keracunan pada burung sangat spesifik tergantung pada spesies burung tersebut, akan tetapi lebih baik tetap dihindari sebagai langkah pencegahan terjadinya keracunan pada burung kesayangan anda.

Beberapa benda berikut ini patut anda waspadai, agar tidak di makan Burung:

perkutut

Cokelat. Tidak hanya anjing dan kucing saja yang peka dengan cokelat. Kudapan manis ini mengandung caffeine dan theobromine yang menyebabkan muntah dan diarea pada burung, selain itu juga dapat meningkatkan detak jantung, mengakibatkan hiperaktif, tremor, kejang dan kematian mendadak. Semakin tinggi kadar cocoa dalam cokelat tersebut seperti pada dark chocolate semakin mematikan bagi burung. Lebih aman anda memberi buah pisang dan anggur sebagai makanan tambahan si burung.

Buah Apokat. Didalamnya terdapat persin┬╕ derivat asam lemak yang dapat menyebabkan gagal jantung, tekanan respirasi dan kematian tiba-tiba pada banyak jenis burung. Kandungan persin paling banyak ada pada bagian daunnya. Beberapa jenis apokat memang diketahui aman untuk jenis burung tertentu seperti Lories, akan tetapi hingga saat ini belum dapat dipastikan dengan akurat jenis apokat apa saja yang aman bagi jenis burung mana saja. Oleh karena itu, ada baikknya hindari memberi apokat sebagai camilan burung.

Bawang Merah dan Bawang Putih. Bawang merah mengandung senyawa sulfur yang menginisiasi kerusakan sel darah merah sehingga terjadi anemia, selain itu bawang merah juga dapat mengiritasi mulut dan saluran pencernaan burung. Sedangkan bawang putih, mengandung allicin yang juga menyebabkan terjadinya anemia.

Logam berat khususnya timah, Zinc dan Copper. Bahan logam banyak terdapat disekitar kita, seperti peralatan rumah tangga dan perkakas pertukangan. Selain itu kandungan logam juga dapat ditemukan dalam cat, minyak, solder, paku, kawat, aksesoris dan mainan yang sering dipatuk dan dikunyah oleh burung peliharaan dalam kandang. Logam berat, khususnya timah, zinc dan copper dapat menyebabkan intoksikasi berat pada golongan burung.

Sejumlah kandungan logam berat pada burung dapat mengakibatkan kelainan syaraf dan menyebabkan muntah, gangguan pencernaan, gejala neurologis, inkordinasi hingga kejang. Sebenarnya kasus keracunan logam berat dapat diatasi apabila segera ditangani saat gejala awal muncul.

Ikuti: Serak Jawa – Si Hantu Sahabat Petani

Garam dan Lemak. Garam yang berlebihan akan mengganggu keseimbang elektrolit cairan tubuh yang dapat berlanjut pada terjadinya kehausan abnormal, dehidrasi, dan gangguan ginjal hingga kematian. Sedangkan lemak yang berlebihan dalam pakan, seperti halnya pada manusia dapat memicu peningkatan kadar kolesterol dalam darah, sebagai awal terjadinya penyakit jantung dan strok.

Biji buah. Bagian daging buah memang aman dan menyehatkan bagi burung seperti apel, anggur, jeruk, labu, tomat, melon, mangga, delima dan berry, akan tetapi bijinya merupakan racun yang mematikan. Didalam biji buah-buahan tersebut terkandung cardio-toxic cyanide yang dapat meracuni dalam sirkulasi darah.

Caffein. Jangan coba-coba berbaik hati pada burung kesayangan anda dengan berbagi kopi atau teh pagi hari. dua minuman paling diminati di dunia tersebut mengandung caffein yang berakibat sangat buruk bagi bangsa burung. Caffein dapat menyebabkan peningkatan detak jantung, aritmia, hiperaktif, bahkan henti jantung. Lebih baik beri campuran sari buah-buahan yang aman seperti apel bagi si kecil berbulu yang anda pelihara demi kesehatan jantungnya.

Simak: Beda Merak Hijau vs Merak Biru

Kasus keracunan merupakan kasus darurat, kecepatan anda membawa si burung ke dokter hewan berbanding lurus dengan persentase kesembuhannya, karena itu jangan ragu untuk segera mengkonsultasikannya pada dokter hewan terdekat apabila anda melihat gejala keracunan yang paling awal seperti lesu, muntah, dan diare.

Keep your birdie healthy and happy.. kwik kwik..!

 

Beda Merak Hijau dan Merak Biru

Beda Merak Hijau dan Merak Biru

Perbedaan Merak Hijau vs Merak Biru

PecintaSatwa.com – Siapa yang tak kenal dengan Merak, si-burung cantik berekor kipas. Hampir di semua kebun binatang di Indonesia ia selalu menjadi primadona, dengan atraksi indahnya saat memamerkan ekor kipasnya yang begitu besar. Taukah anda, bahwa si cantik dengan ekor menawan itu sebenarnya adalah merak jantan?. Merak jantan mengembangkan bulu-bulu penutup ekornya yang sangat indah untuk menarik perhatian betinanya, sebagaimana jenis bangsa burung-burung lainnya yang memiliki ritual khusus berupa tarian atau keelokan bulu pejantan guna mempersunting pujaan hatinya di musim kawin. (Baca: 8 Fakta Unik tentang Burung Merak)

Kingdom : Animalia

Phymlum : Cordata

Class : Aves

Order : Galliformes

Famili : Phasianidae

Subfamili : Phasianinae

Genus : Pavo

Spesies : Pavo municus, Pavo cristatus

Burung merak termasuk dalam keluarga Phasianidae, yang terdiri dari tiga jenis di dunia, yakni Merak Hijau, Merak Biru, dan Merak Kongo, setiap spesies burung merak tersebut berasal dari belahan dunia yang berbeda, dan memiliki karakteristik yang unik. Merak hijau dan merak biru, lebih familiar di Indonesia karena dipelihara secara eksitu oleh kebun binatang dan taman satwa di nusantara. Kedua jenis merak tersebut sepintas terlihat mirip, namun  jika diamati lebih detail, terdapat beberapa perbedaan yang khas:

merak biru

Beda Burung Merak Hijau dan Merak Biru

Perbedaan Merak Hijau Merak Biru
Spesies Pavo muticus, dikenal juga sebagai Merak Jawa dan Dragonbird Pavo cristatus, dikenal juga sebagai Merak India
Warna Bulu Hijau keemasan Biru gelap mengkilap
Ukuran Tubuh  Merak Jantan Jantan dewasa dapat mencapai panjang 300 cm, dengan berat sekitar 5 kg, berjambul tegak dengan penutup ekor yang panjang Jantan dewasa dapat mencapai panjang 230cm, memiliki jambul berbentuk kipas tegak berwana biru, dan memiliki penutup ekor berwana hijau yang panjang
Ukuran Tubuh Merak Betina Lebih kecil dari merak jantan, sekitar 110 cm dengan berat 1,1 kg, bulu berwarna hijau keabuan, kurang mengkilap, tidak memiliki jambul dan bulu panjang penutup ekor Lebih kecil dari pejantannya , bulunya berwarna cokelat kehijauan tidak mengkilap dengan garis-garis hitam dan tidak memiliki bulu penutup ekor
Habitat Padang rumput dalam hutan terbuka di pulau Jawa-Indonesia tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo, dan kemungkinan juga terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Meru Betiri, selain ini juga ditemukan di Indocina, dan China. Sebelumnya pernah dilaporkan terdapat juga di Bangladesh, India dan Malaysia, namun kini telah punah Padang rumput dalam hutan terbuka di India, Srilanka, Bhutan, Nepal dan Pakistan. Pernah dilaporkan juga terdapat di Bangladesh, akan tetapi kemungkinan besar telah punah saat ini
Status Konservasi Endangered (IUCN), Apendix II (CITES), di alam diperkirakan terdapat kurang dari 800 ekor Least Concern (IUCN)
Pengaruh budaya Burung nasional India, bagian dari mitologi agama Hindu, dan Buddha serta kebudayaan lainnya.

 

Baik merak hijau maupun merak biru memakan aneka serangga, dedaunan, biji-bijian, buah-buahan, pucuk daun dan hewan-hewan kecil seperti cacing, dan laba-laba. (Tips: Cara Menikmati Kicauan Burung tanpa Mengurungnya)

Pada musim kawin, sang pejantan akan beratraksi di depan betinanya, dengan memamerkan bulu penutup ekornya yang berbentuk kipas dengan indahnya, ketika melebar, bulu ekor tersebut akan menyerupai kipas besar dengan dengan bulatan-bulatan menyerupai mata berwana biru. Burung merak jantan, termasuk golongan burung poligami, memiliki lebih dari satu pasangan. Setelah terjadi perkawinan, merak betina akan bertelur dan menetaskan 3-6 telurnya tiap kali musim kawin. (Simak: Indonesia Siaga 1 untuk Satwa ini)

 

Bagaimana Memilih dan Membangun Terrarium yang Baik

Bagaimana Memilih dan Membangun Terrarium yang Baik

Memilih dan Membangun Terrarium untuk Reptil

PecintaSatwa.com – Seiring dengan berkembangnya hobi memelihara reptil dan amfibi, penjualan terarium meningkat pesat. Ada banyak jenis terrarium yang bisa Anda temukan di pasaran, mulai dari akuarium bekas yang sederhana hingga yang ditujukan khusus bagi satu jenis reptil tertentu. Nah, sebagai rumah bagi calon hewan kesayangan Anda, ada baiknya Anda mempersiapkan terrarium sebaik mungkin sebelum membeli hewan peliharaan. Seperti apa sih caranya memilih dan membangun terrarium yang baik? Yuk kita bahas!

Yang Perlu Diperhatikan dalam Membangun Terrarium

  1. Bahan Terrarium

Ada banyak macam pilihan terrarium, mulai dari kaca hingga plastik mika. Terrarium kaca mungkin bukan ditujukan bagi reptil, melainkan untuk hewan-hewan akuatik (akuarium). Meskipun harganya lebih murah, terrarium kaca mudah pecah dan berat, sehingga lebih sulit untuk dibersihkan. Terrarium kaca juga mudah menyerap dan melepaskan panas, sehingga suhu di dalamnya cenderung tidak stabil. Bila Anda berniat untuk memelihara hewan yang sensitif terhadap perubahan suhu atau sering mengotori terrarium, ada baiknya Anda memilih terrarium berbahan plastik. (Baca pula: Memilih Terrarium untuk Kura-Kura Darat)

  1. Ukuran
Terrarium kura-kura

Ada banyak ukuran terrarium yang tersedia, mulai dari pet house berukuran kecil hingga sangat besar. Sesuaikan ukuran terrarium dengan hewan yang akan Anda pelihara, sehingga hewan kesayangan Anda bisa tinggal dengan nyaman di rumah barunya. Kura-kura kecil, misalnya, bisa dipelihara dalam terrarium dengan panjang 20-30 cm dan lebar 10-15 cm. Bagi kadal, panjang terrarium harus berukuran setidaknya 1,5 hingga 2,5 kali panjang tubuhnya. Bagi ular, sisi terpanjang terrarium harus berukuran minimal setengah kali panjang tubuhnya. Sedangkan untuk satwa arboreal, disarankan untuk memakai terrarium yang agak tinggi sehingga Anda bisa menggantung lebih banyak tempat bertengger agar mereka bisa merasa nyaman.

Kondisi terrarium yang terlalu besar juga tidak baik bagi satwa. Satwa kecil dapat merasa stress atau kesulitan menangkap mangsa bila terrariumnya terlalu besar. Terrarium yang besar juga cenderung sulit untuk diatur suhunya, serta memerlukan lebih banyak lampu/watt yang lebih tinggi untuk menjaga suhu optimal bagi hewan kesayangan Anda.

  1. Lampu dan sumber hangat

Karena terrarium biasanya diisi oleh hewan berdarah dingin yang tidak bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri, keberadaan lampu penghangat hampir mutlak diperlukan agar satwa bisa tinggal dengan nyaman. Ada berbagai macam lampu yang dapat Anda gunakan untuk reptil, mulai dari lampu UVB, UVA, lampu infrared, dan lain-lain. Pada dasarnya, lampu yang direkomendasikan bagi reptil adalah lampu full-spectrum yang dapat memancarkan baik sinar UVA yang memungkinkan reptil melihat dengan baik, sinar UVB sebagai peransang sintesis vitamin D di tubuh reptil, serta hawa panas untuk menghangatkan tubuh reptil. Jika memungkinkan, letakan terrarium di lokasi yang sering terkena cahaya matahari sehingga satwa bisa berjemur secara alami. (Mengenal: Leopard Gecko – Tokek yang Menggemaskan)

Anda juga harus mengetahui waktu aktif satwa peliharaan Anda sesuai dengan jenisnya. Satwa nokturnal hanya aktif di malam hari, sehingga Anda disarankan untuk menyediakan ‘waktu gelap’ agar mereka bisa merasa seperti di habitat aslinya. Beberapa orang menggunakan bohlam hitam (black bulb) sebagai sumber panas bagi satwa nokturnal, padahal lampu ini cenderung berbahaya karena menghasilkan spektrum UV C yang dapat mengakibatkan kangker kulit baik pada manusia dan hewan.

  1. Isi terrarium

Isi terrarium bisa menjadi hal yang vital bagi kesehatan satwa kesayangan Anda. Beberapa orang mungkin lebih suka dengan terrarium yang simpel dan hanya berisi beberapa barang, seperti tempat minum dan tempat bersembunyi. Ada juga yang suka mengisi terrarium dengan berbagai macam hiasan agar terlihat cantik serta sebagai sarana hiburan bagi satwa yang dipelihara. Keduanya sah-sah saja, asal seluruh kebutuhan utama hewan yang dipelihara terpenuhi di dalamnya.

Isi terrarium juga harus sesuai dengan jenis satwa yang dipelihara. Reptil akuatik seperti kura-kura tentu membutuhkan banyak air di terrariumnya, namun jangan lupakan satu titik kering untuk berjemur dan beristirahat. Hewan yang terbiasa hidup di gurun (misal, leopard gecko) mungkin tidak memerlukan banyak air, namun usahakan agar air selalu tersedia. Hewan arboreal seperti bunglon dan monopohon membutuhkan banyak ranting-ranting pohon (alami ataupun artifisial) dan tempat bergelantungan yang banyak agar mereka merasa seperti berada di habitat aslinya. (Simak juga: Merawat dan Memelihara Godzilla Mini di Rumah)

Nah, begitulah beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan rumah yang sehat bagi satwa kesayangan kita. Ingat, Anda harus mempelajari segala seluk beluk satwa yang akan Anda peroleh sebelum membawanya pulang, sehingga Anda bisa lebih mudah merawatnya. Selamat menyusun terrarium bagi satwa impian!

 

Serak Jawa – Si Hantu Sahabat Petani

Serak Jawa – Si Hantu Sahabat Petani

Mitologi Burung Hantu

“Matahari tenggelam… hari mulai malam…Terdengar burung hantu … suaranya merdu….”

PecintaSatwa.com – Anda pasti tahu penggalan lagu di atas, kan? Ya, lagu masa kecil ini selalu mengingatkan kita pada burung hantu, si satwa nokturnal yang selalu ada di tradisi masyarakat dunia. Orang-orang Yunani menghubungkan burung hantu dengan dewi mereka, Athena, sebagai lambang kecerdasan dan kreatifitas. Di sisi lain, beberapa budaya menganggap burung hantu sebagai pembawa sial, bersifat mistis, atau memiliki hubungan dengan roh-roh dari alam ghaib. Hmm, apakah burung hantu memang seseram yang kita kira ya? (Baca juga: Mengenal Jenis Burung Pleci di Indonesia)

Mungkin hanya sedikit dari Anda yang pernah melihat burung hantu secara langsung di alam liar, itupun tidak setiap hari. Sebagai satwa nokturnal, jarang sekali kita bisa melihat burung hantu secara langsung, apalagi dengan sifatnya yang cukup sensitif dengan keberadaan manusia. Tapi bila Anda cukup jeli dan mau menyisihkan waktu untuk mengamati satwa unik ini, Anda mungkin bisa menemukannya dengan cukup mudah bahkan di atas atap rumah Anda sendiri!

Serak Jawa

Di Indonesia, ada satu jenis burung hantu yang cukup umum ditemukan di seluruh habitat, mulai dari hutan, perkebunan, persawahan, hingga daerah desa dan perkotaan. Serak Jawa (Tyto alba) nama burung hantu tersebut memang dikenal sebagai spesies kosmopolitan, alias sangat mudah beradaptasi di berbagai lingkungan yang berbeda. Burung ini dapat dijumpai di seluruh dunia, kecuali kutub utara dan kutub selatan, mengintai tikus dan hewan-hewan kecil di malam hari dengan pendengarannya yang sangat sensitif. Dengan sayap yang didesain khusus untuk terbang tanpa menghasilkan suara, burung ini dapat menerkam mangsanya di kegelapan total, tanpa sempat terdeteksi oleh mangsanya yang malang. Luar biasa, bukan?

Selain kemampuan berburunya yang unik, Serak Jawa juga dikenal karena warna tubuhnya yang cantik, didominasi oleh warna putih dengan tutul-tutul kelabu dan coklat. Suaranya yang serak dan mungkin terdengar menakutkan, berupa teriakan memilukan yang dapat terdengar hingga beberapa ratus meter. Hal inilah yang membuat beberapa kalangan masyarakat mengaitkan keberadaan burung ini dengan hal-hal yang bersifat mistis, meskipun sebenarnya mereka bukanlah satwa yang berbahaya bagi manusia. (Tips: Cara Menikmati Kicauan Burung Tanpa Harus Mengurung)

Di balik sifatnya yang agak horor, Serak Jawa merupakan salah satu komponen ekosistem yang penting dalam menjaga keseimbangan alam. Sebagai predator puncak, Serak Jawa mengendalikan populasi satwa yang menjadi mangsanya, khususnya tikus yang menjadi hama di sawah. Karena kemampuannya dalam memberantas tikus, beberapa petani menganggap burung ini sebagai teman mereka. Beberapa kelompok petani di Jawa Tengah bahkan membangun sarang buatan di sawah mereka, dengan harapan si Serak Jawa akan berkembang biak dan menjadi pembasmi hama yang efektif dan ramah lingkungan.

Serak Jawa Tidak untuk Dipelihara

Sayangnya, banyak individu Serak Jawa yang ditangkap dan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan. Tingkahnya yang lucu serta bentuknya yang aneh membuat sebagian masyarakat ingin memilikinya di rumah. Tentu saja, rumah manusia bukanlah habitat yang cocok bagi satwa liar, apalagi bila harus dirantai atau dikurung di dalam kandang sempit seperti yang sering kita lihat di pasar burung. Semua jenis burung hantu sangat mudah merasa stress, dan biasanya akan mati kurang dari satu bulan ketika dipelihara. Bila Anda benar-benar suka dengan burung hantu, ada baiknya Anda tidak memeliharanya di rumah, namun cukup melindunginya dengan menjaga habitatnya di alam liar. (Yuk simak: Mengenal Wiwik Kelabu – Burung Pembawa Pesan Kematian)

Nah, jika Anda tertarik mengamati burung hantu di habitat aslinya, Anda bisa mencari informasi keberadaan burung tersebut dari kelompok pengamat burung di kota Anda. Khusus untuk Serak Jawa yang angker, Anda bisa menemukannya di gedung-gedung tua atau daerah persawahan di sekitar rumah Anda. Kalau Anda melihat bayangan putih melintas atau mendengar teriakan serak yang mengejutkan, jangan lari! Bisa jadi itu adalah si Serak Jawa, sahabat petani yang penuh misteri…

 

Merawat dan Memelihara “Godzila Mini” di Rumah (Part 2)

Merawat dan Memelihara “Godzila Mini” di Rumah (Part 2)

Membangun Ikatan dengan Iguana

PecintaSatwa.com – Setelah membahas cara merawat dan memelihara Iguana pada Bagian 1. Kini Anda dapat mulai membangun chemistry atau pendekatan dengan Iguana peliharaan Anda. Iguana yang baru sampai di rumah membutuhkan waktu untuk beristirahat. Jangan dekati atau memegang iguana yang baru sampai, tinggalkan selama beberapa minggu sampai mereka merasa terbiasa dengan lingkungan barunya. Satu-satunya kontak yang bisa Anda lakukan adalah ketika memberi mereka makan, mengganti air minum, atau membersihkan terariumnya yang kotor. (Anda perlu tau: Stomatitis – Sariawan pada Reptil)

Iguana memerlukan waktu untuk terbiasa dengan tangan manusia. Jangan langsung menggenggam iguana secara paksa, lakukan secara perlahan-lahan agar mereka tidak merasa terancam. Awali kontak dengan mengelus-elus badan iguana secara lembut selama beberapa hari, kemudian coba angkat iguana dengan genggaman yang lembut dengan hati-hati. Iguana memiliki gigi dan cakar tajam yang digunakan ketika mereka merasa terancam, jadi berhati-hatilah saat Anda berusaha membuat ikatan dengan si iguana tersebuti. Ketika sudah terbiasa, Anda dapat membawa si godzila mini ini ke mana-mana. Tidak semua iguana bersifat sama, karena mereka memiliki karakter masing-masing. Ada iguana yang anteng dan tidak banyak bergerak, ada juga iguana yang agresif atau sering takut dengan manusia. Kenalilah karakter iguana Anda masing-masing, sehingga si iguana lebih asyik diajak bermain dan tidak mudah stress.

Cara Membersihkan Iguana

Memandikan iguana

Iguana harus dimandikan paling tidak 2 atau 3 kali seminggu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan badan iguana agar terbebas dari berbagai macam penyakit. Pada umumnya, iguana merupakan satwa akuatik yang suka berenang, sehingga waktu mandi bisa menjadi saat-saat yang menyenangkan bagi mereka. Namun, hal ini kembali lagi pada karakter masing-masing iguana yang Anda pelihara, karena ada iguana yang suka bermain air, dan ada juga yang langsung panik begitu menyentuh air. Untuk memandikan iguana, cukup rendam mereka di dalam air di dalam bak yang agak tinggi. Air yang digunakan tidak boleh terlalu dingin, tapi juga tidak boleh terlalu panas. Untuk awalan, rendam iguana Anda di air yang tidak terlalu dalam, paling tidak hingga setinggi setengah tubuh iguana tersebut. Bila mereka terlihat menikmatinya (tidak panik), Anda bisa menambah sedikit air sampai mereka bisa berenang dengan bebas. Berikan tempat dangkal di dalam bak agar iguana bisa beristirahat ketika kelelahan setelah berenang.

Makanan dan Minuman Iguana

Iguana merupakan hewan herbivora dan hanya memakan sayur-sayuran serta sedikit buah-buahan. Anda bisa memberi makan berbagai macam sayuran seperti bayam, sawi, bit, wortel, kacang panjang, dan lain-lain, serta sedikit selingan buah seperti apel, pir dan jeruk. Jangan pernah memberikan makanan tinggi protein seperti serangga atau makanan kucing/anjing ke iguana, hal ini bisa menyebabkan penyakit gagal ginjal yang mematikan. Anda juga tidak boleh terlalu sering memberikan buah-buahan manis, cukup berikan sebagai selingan/makanan ringan setiap beberapa hari sekali. (Baca pula: Lengkapi Peralatan Sebelum Memelihara Sugar Glider)

Sebagian orang menganggap iguana tidak perlu diberi minum, karena mereka mendapatkan cairan dari makanannya. Hal ini sebenarnya salah, karena iguana juga memerlukan air minum yang selalu tersedia di dalam kandang. Bersihkan tempat minumnya paling tidak seminggu sekali, karena iguana suka buang kotoran di dalam air. Nah begitulah sedikit cerita tentang cara memelihara iguana yang baik. Semoga Anda dapat merawat iguana dengan benar sehingga si godzila mini bisa tumbuh besar hingga berpuluh-puluh tahun mendatang!

 

Merawat dan Memelihara “Godzila Mini” di Rumah (Part 1)

Merawat dan Memelihara “Godzila Mini” di Rumah (Part 1)

Cara Memelihara Iguana

PecintaSatwa.com – Kalau kemarin kita sudah membahas soal jenis-jenis iguana di dunia, sekarang saatnya kita berbicara soal cara merawat iguana yang tepat. Ya, sebagai satwa yang tergolong anteng dan mudah jinak, iguana menjadi satwa peliharaan yang sering digandrungi orang yang belum terlalu mengenal reptil. Mereka tidak terlalu agresif seperti biawak, tidak penakut seperti kura-kura, dan bentuknya pun lebih lucu bila dibandingkan ular atau reptil-reptil sangar lain. Bahkan, mungkin iguana adalah satu-satunya reptil yang senang digendong dan dimanja layaknya kucing, membuatnya semakin asyik untuk dipelihara. (Baca: Berbagai Jenis Morph Iguana di Dunia)

Nah, seperti reptil lain, memelihara iguana membutuhkan komitmen yang kuat. Perlu diingat bahwa iguana merupakan reptil yang dapat hidup selama puluhan tahun, sehingga memerlukan komitmen jangka panjang dari pemiliknya untuk merawatnya seumur hidup. Iguana hijau juga dapat tumbuh sangat besar, mencapai panjang 1,5 meter dan berat 8 kg, dan terkadang bisa bersifat agresif bila tidak dirawat dengan baik.

Nah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebelum memelihara iguana ada baiknya Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan ini terlebih dahulu:

1.Apakah Anda mau berkomitmen untuk merawat iguana selama puluhan tahun masa hidupnya?

  1. Apakah Anda akan bosan setelah memeliharanya selama beberapa tahun?
  2. Apakah Anda memiliki dana, waktu dan ruang yang cukup untuk merawat iguana sampai besar nanti?
  3. Apakah keluarga Anda setuju untuk ikut menjaga dan memlihara iguana tersebut?
  4. Apakah Anda siap untuk merawat iguana tersebut dengan segala resiko yang dimiliki?

Kalau Anda bisa menjawab “ya” untuk seluruh pertanyaan tersebut, itu berarti Anda sudah benar-benar siap untuk memelihara si “godzila” mini ini!

Memilih Iguana untuk Dipelihara

Green iguana

Sekarang, saatnya berbicara soal cara memilih iguana yang tepat untuk dipelihara. Anda harus menentukan ukuran dan jenis kelamin iguana yang akan Anda rawat selama beberapa tahun ke depan. Iguana ukuran bayi lebih sering dipilih karena harganya murah, mudah dijinakan, dan tidak terlalu memakan tempat. Iguana jantan cenderung lebih agresif, namun penampilannya jauh lebih menarik dibandingkan iguana betina saat dewasa. Keagresifannya ini bisa dikurangi jika Anda mampu merawat dan menjinakannya dengan benar. Ketika memilih iguana, perhatikan kelengkapan anggota tubuh mereka. Iguana yang baik tidak boleh cacat, bertubuh proporsional (tidak kurus), aktif bergerak ketika dipegang, dan memiliki nafsu makan yang besar. Perhatikan adanya tanda-tanda kerusakan di sisik iguana, khususnya bila si penjual menempatkan lebih dari satu ekor iguana di dalam kandang yang sama.

Menyiapkan Habitat Iguana

Iguana ukuran bayi bisa dipelihara di dalam terrarium, seperti hanya reptil lain. Anda bisa menggunakan terarium mika berukuran besar yang banyak dijual di toko-toko, sementara akuarium kaca tidak direkomendasikan karena mudah rusak. Gunakan substrat berupa karpet reptil atau kertas koran, dan jangan gunakan substrat pasir atau serbuk gergaji yang dapat tertelan dan menimbulkan penyakit yang serius. Letakan tempat makan dan minum yang mudah digapai, cuci wadah tersebut paling tidak seminggu sekali. Iguana adalah satwa arboreal yang suka memanjat, jadi pastikan terdapat beberapa ranting di dalam terariumnya. ( Simak juga: Leopard Gecko – Tokek yang Menggemaskan)

Seperti halnya reptil lain, iguana juga perlu tempat untuk berjemur. Untuknya kita hidup di negara tropis, sehingga penghangat tidak terlalu diperlukan selama Anda meletakan terarium di tempat yang terkena cahaya matahari, seperti di pinggir jendela. Bila Anda tidak memiliki sudut ruangan yang terkena cahaya matahari langsung, Anda bisa menggunakan lampu reptil yang sering dijual di toko hewan. Anda juga bisa menjemur iguana di bawah sinar matahari selama 1-2 jam setiap pagi di dalam terarium tertutup, sehingga iguana tidak akan kabur.

Perlu diingat bahwa iguana bisa tumbuh dengan cepat. Hanya dalam beberapa bulan, ukuran iguana bisa bertambah beberapa kali lipat sehingga tidak cocok lagi ditempatkan di kandangnya yang lama. Anda bisa menggunakan terarium baru yang lebih besar, atau membangun kandang outdoor dari kawat yang aman. Bila iguana Anda sudah cukup jinak, Anda juga bisa membiarkannya berkeliaran bebas tanpa kandang di suatu ruangan, namun hal ini tidak direkomendasikan untuk hobiis pemula.

Selanjutnya: Merawat dan Memelihara “Godzila Mini” di Rumah (Part 2) >>>

 

Leopard Gecko – Tokek yang Menggemaskan

Leopard Gecko – Tokek yang Menggemaskan

Kadal Gecko

PecintaSatwa.com – Tokek atau gecko dikenal sebagai hewan pemalu, karena bentuknya yang unik dan sering kali mengagetkan ketika ia keluar dari balik lemari, tidak jarang ada orang yang kurang suka terhadap gecko. Reptil yang berkerabat dengan cicak ini memiliki suara unik yang sering dihubungkan dengan hal-hal mistis oleh sebagian kecil kalangan masyarakat. Beberapa orang juga percaya bahwa tokek bisa menyembuhkan beberapa penyakit, hal inilah yang memancing perburuan besar-besaran untuk mendapatkan daging dan kulitnya yang berharga tinggi. Terakhir, ada juga yang mengganggap hewan ini cukup cantik untuk dijadikan satwa peliharaan di rumah. Duh, tokek kok dipelihara ya?

Ya, bagi kalangan pecinta reptil, tokek atau gecko bukan merupakan satwa yang asing untuk dipelihara. Kebanyakan gecko yang dipelihara bukanlah tokek rumah yang biasa kita kenal, namun gecko impor dengan warna dan bentuk yang bermacam-macam. Bagi para pecinta reptil, warna tubuh yang menawan dan perilaku yang unik mengalahkan rasa jijik yang selama ini dirasakan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Ciri Khusus Leopard Gecko

leopard geckoSalah satu jenis gecko yang sering dipelihara adalah Leopard Gecko (Eublepharis macularius), satwa cantik yang berasal dari gurun pasir di India, Pakistan, dan Afganistan. Sesuai namanya, leopard gecko memiliki berbagai corak tutul di tubuhnya, mirip dengan macan tutul, dengan warna latar kuning dan sedikit pucat di kepala dan ekor. Leopard gecko bersifat unik karena tidak seperti gecko lain, reptil ini memiliki kelopak mata yang bisa digerakan. Gecko ini juga tidak memiliki alat penghisap di permukaan kakinya, sehingga tidak bisa memanjat bidang vertikal. ( Intip juga: Macan Tutul – Predator Tersukses di Dunia )

Melalui proses domestifikasi dan perkawinan selektif yang ketat, para breeder mengembangkan berbagai morph (bentuk) leopard gecko yang beraneka-ragam, baik dari segi corak dan warna dasar. Salah satu contoh morph yang paling sering ditemui adalah albino, tangarine, red-eyed, dan lavender. Semakin unik dan langka morph yang dimiliki, semakin mahal pula harga leopard gecko tersebutΓÇöbeberapa morph bahkan bisa seharga puluhan jutaan rupiah!

Memelihara Leopard Gecko di Terrarium

Leopard gecko memiliki ukuran yang tepat untuk dipelihara di terrarium, dengan panjang hewan dewasa bisa mendekati 30 cm. Beberapa orang memelihara leopard gecko di dalam terarium mika, terarium kaca, atau box dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Kandang yang terlalu sempit bisa menyebabkan timbulnya penyakit akibat sirkulasi

Terarium untuk leopard gecko
Terarium untuk leopard gecko

udara dan kelembapan yang kurang baik. Karena hewan bersifat sangat teretorial, satu terarium hanya bisa diisi oleh satu ekor leopard gecko.

Seperti reptil pada umumnya, leopard gecko membutuhkan berbagai macam aksesoris yang harus tersedia di dalam terariumnya. Beberapa aksesoris wajib bagi leopard gecko antara lain lampu penghangat, tempat bersembunyi, serta tempat untuk minum. Sebagai hewan terestrial, leopard gecko tidak memerlukan batang tumbuhan untuk dipanjat, Anda hanya perlu menyediakan beberapa batu di atas substrat pasir sebagai tempat si gecko beraktivitas.

Makanan Leopard Gecko

Gecko merupakan satwa karnivora yang hanya memakan hewan lain, khususnya serangga. Terdapat berbagai macam makanan leopard gecko yang bisa Anda berikan; seperti jangkrik, ulat hongkong, atau bayi tikus alias pinkies. Anda harus menyesuaikan jenis makanan dengan ukuran si gecko, dengan aturan ukuran mangsa harus lebih kecil dari jarak antara kedua mata gecko di masing-masing sisi kepala. Anda bisa memberi mangsa dalam kondisi setengah mati, namun lebih baik jika diberikan dalam keadaan hidup agar si gecko aktif bergerak mengejar mangsa yang ditawarkan. ( Kenali: Animal Welfare – 5 Prinsip Kesejahteraan untuk Hewan )

Leopard gecko kecil memerlukan asupan mineral, kalsium dan vitamin D3 agar bisa tumbuh dengan baik. Sayangnya, nutrisi-nutrisi ini hanya terdapat dalam jumlah kecil di dalam mangsa yang tersedia bagi si gecko. Solusinya, Anda bisa melumuri mangsa dengan bubuk kalsium sebelum diberikan ke gecko, sehingga si leopard gecko bisa menelan kalsium yang diberikan. Ada juga cara lain yang disebut dengan gut loading,yaitu memberi makan nutrisi berupa kalsium dan vitamin ke dalam tubuh mangsa sebelum diberikan ke gecko yang dipelihara.

Penyakit Leopard Gecko

Terdapat beberapa penyakit yang umum diderita oleh Leopard Gecko, antara lain:

  1. Metabolic Bone Disease (MBD), merupakan penyakit yang disebabkan karena kurangnya asupan kalsium dan vitamin D3. Gecko yang terkena penyakit ini terlihat lemah, tulang yang rapuh, keanehan pada pertumbuhan kaki/punggung/ekor, tubuh yang kaku atau bergetar, serta turunnya nafsu makan. Sulit sekali mengembalikan kondisi gecko yang terkena penyakit ini.
  2. Dycedisis, merupakan penyakit yang sering muncul pada reptil. Penyakit ini disebabkan oleh kegagalan berganti kulit akibat kurangnya kelembapan atau faktor-faktor lain. Kulit yang harusnya terlepas bisa tersangkut di beberapa bagian tubuh, seperti mata, tungkai, atau sebagian ekor. Tanpa penanganan, penyakit ini bisa menyebabkan infeksi yang serius.
  3. Pneumonia, penyakit paru-paru akibat kelembapan udara yang terlalu tinggi. Kondisi kandang yang becek atau terlalu kecil bisa menyebabkan munculnya penyakit ini. Gejala yang sering timbul antara lain munculnya gelembung lendir di bagian hidung, serta frekuensi bernafas yang aneh dan ΓÇ£beratΓÇ¥.
  4. Gastoenteritis, disebabkan oleh bakteri atau protozoa yang menginfeksi saluran pencernaan gecko. Leopard gecko yang terserang menunjukan gejala diare, dengan kotoran yang basah atau bahkan berdarah (kotoran leopard gecko yang sehat kering dan padat). Penyakit ini bisa disebabkan oleh sanitasi kandang yang kurang baik. Bila tidak ditangani, gecko bisa terkena dehidrasi, ogah makan, dan akhirnya mati.

Jika gecko Anda mengalami salah satu penyakit tersebut, segera bawa mereka ke dokter hewan yang terpercaya. Jangan mencoba mengobati penyakit leopard gecko tersebut tanpa pengetahuan yang cukup, apalagi menggunakan obat-obatan untuk manusia.

Nah, begitulah sedikit ulasan tentang leopard gecko, si reptil ningrat yang tidak menjijikan. Semoga artikel ini bermanfaat!

 

Berbagai Jenis Morph Iguana di Dunia

Berbagai Jenis Morph Iguana di Dunia

Warna Warni Iguana dan Keningratannya

PecintaSatwa.com – Siapa sih yang tidak kenal iguana? Ya!, kadal hijau yang satu ini memang sudah cukup umum dipelihara di Indonesia, bahkan sebelum tren memelihara reptil berkembang. Bentuk tubuhnya yang unik layaknya godzila membuat banyak orang jatuh cinta pada satwa yang satu ini. Iguana memang tergolong reptil yang cukup menyenangkan untuk dipelihara, dengan sifat yang jinak serta bersahabat. Makanan iguana pun tergolong mudah untuk didapatkan,

Green iguana
Green iguana

berupa kombinasi sayuran hijau dan buah-buahan yang biasa dijumpai di pasar.

Jenis – Jenis Iguana di Dunia

Nah, tahukah Anda kalau sebenarnya terdapat cukup banyak jenis iguana di dunia? Ya, kata iguana sebenarnya merujuk pada satu suku kadal, iguanidae, dengan anggota yang cukup beragam. Ada sekitar 48 spesies iguana dari 8 genus yang ada di dunia, mulai dari iguana hijau, iguana laut, iguana batu, iguana gurun, dan lain-lain. Nah, dari 48 spesies ini, hanya iguana hijau yang paling sering dijual dan dipelihara di Indonesia serta sebagian besar wilayah lain di dunia. Iguana lain sangat jarang dijual, dan beberapa spesies tergolong langka dan dilindungi oleh negaranya masing-masing. (Ketahui pula: Stomatitis – Sariawan pada Reptil)

Iguana Albino
Iguana Albino

Iguana hijau memiliki permintaan yang cukup besar dari seluruh dunia, sehingga berdirilah beberapa breeder yang mengembang-biakan iguana untuk dipasarkan. Seiring dengan berjalannya waktu, para pengembang iguana pun menghasilkan morph atau warna lain dari iguana hijau melalui perkawinan selektif, seperti warna biru, merah, atau albino . Jadi, kalau Anda yang menemukan iguana yang berwarna bukan hijau di pasaran, sebenarnya itu hanyalah iguana hijau dengan kelainan genetik, bukan spesies yang berbeda.

Morph Iguana yang ada

Nah, berikut ini adalah beberapa contoh morph iguana yang sering dijual di pasaran, yuk kita lihat!

  1. Green

Sebagai morph normal, iguana dengan warna hijau paling mudah ditemukan di pasaran dengan harga yang cukup terjangkau. Jenis iguana ini berwarna hijau di seluruh tubuhnya, dengan sedikit corak kehitaman di beberapa titik seperti ekor dan punggung. Pada jantan berukuran besar, warna muka bisa berubah keabu-abuan tergantung sifat genetiknya.

Hypomelanistic iguana
Hypomelanistic iguana

Beberapa iguana muda juga memiliki sedikit corak biru di bagian mukanya.

  1. Albino

Iguana albino memiliki warna kuning cerah di seluruh tubuhnya, dengan mata berwarna merah. Warna kuning cerah ini bisa berubah menjadi agar kemerahan ketika dewasa. Iguana albino berasal dari perkawinan selektif yang dilakukan oleh para breeder agar mendapatkan bentuk yang menarik. Sifat albino sendiri merupakan kelainan genetik yang membuat hewan tidak memiliki pigmen warna di tubuhnya, dicirikan oleh mata hewan yang berwarna kemerahan. Harganya? Tentu saja mahal.

  1. Blue
Blue iguana
Blue iguana

Seperti namanya, morph iguana ini memiliki warna hiju-kebiruan di seluruh tubuh, dengan beberapa corak abu-abu di muka. Iguana dengan corak ini biasanya berasal dari bagian selatan Amerika, seperti Peru, atau hasil dari selective breeding yang ketat. Bila Anda ingin memelihar iguana biru yang masih kecil, Anda harus berhati-hati karena ada beberapa individu iguana yang hanya berwarna biru ketika muda, namun berubah menjadi hijau ketika sudah dewasa.

Selain iguana biru, ada juga yang disebut sebagai iguana axanthic dengan harga yang lebih mahal. Bentuknya mirip dengan iguana biru, namun warna birunya lebih menyala. Selain itu, iguana axanthic juga memiliki gen yang dibutuhkan untuk membuat snow iguana yang berwarna putih (lihat di bawah), sehingga menjadi buruan para breeder di dunia.

  1. Snow
Snow Iguana
Snow Iguana

Snow atau Blizzard iguana merupakan salah satu morph paling langka dan paling mahal. Iguana snow memiliki warna putih susu di seluruh tubuhnya, dengan mata merah khas albino. Iguana ini bisa dihasilkan dari perkawinan selektif antara iguana biru axanthic dengan iguana albino. Cukup sulit memperoleh keturunan dengan karakter ini, membuatnya digolongkan sebagai ΓÇÿreptil ningratΓÇÖ dengan harga selangit.

  1. False Red Iguana
False red iguana
False red iguana

Iguana ini disebut iguana merah palsu karena warna merahnya tidak menutupi seluruh tubuh. Hanya bagian atas dari iguana ini yang berwarna merah, sementara perutnya tetap berwarna hijau. Harganya memang sedikit lebih mahal dari iguana hijau, namun jauh lebih murah dari red flame iguana yang bisa mencapai jutaan rupiah. Jangan tertipu!

  1. Red Flame Iguana

Iguana yang satu ini mirip dengan false red iguana, hanya saja warna merahnya jauh lebih menyala, dengan bagian perut yang juga berwarna merah. Harganya lebih mahal dari false red iguana, jadi banyak orang yang menjual false red iguana sebagai red flame iguana demi memperoleh keuntungan singkat. Berhati-hatilah dalam

Red flaming iguana
Red flaming iguana

membeli iguana yang tepat agar tidak mudah tertipu.

  1. Hypomelanistic

Morph iguana ini memiliki warna hijau yang lebih cerah dan pucat dibandingkan iguana hijau normal. Hal ini disebabkan karena kurangnya pigmen melanin (hitam) di tubuh mereka, membuatnya terlihat lebih pucat. Iguana jenis ini membutuhkan suplemen vitamin yang lebih lengkap, dan harganya pun cukup mahal. ( Simak: Ular Terbesardi Dunia)

Nah, begitulah sedikit cerita tentang jenis-jenis iguana hijau yang dipelihara di dunia. Selain iguana tadi, ada juga beberapa iguana spesies lain yang diperjual-belikan, seperti Cuban Rock Iguana, Rhino Iguana dll, namun sepertinya jenis-jenis tersebut belum masuk ke pasar Indonesia. Saran kami, jika Anda

seorang pemula dan ingin memelihara iguana sebagai teman bermain, cukup beli iguana hijau normal dengan harga yang terjangkau. Jika Anda bisa merawatnya dengan baik, iguana ini bisa menjadi teman bermain yang asyik di rumah.

 

Ular Terbesar Di Dunia

Ular Terbesar Di Dunia

PecintaSatwa.com – Ada beberapa jenis ular yang memiliki ukuran tubuh yang tak lazim. Ada yang panjangnya mencapai belasan bahkan hingga puluhan meter. Ular-ular besar ini biasanya tidak memiliki bisa. Namun mereka memiliki cengkraman dan lilitan yang sangat kuat.Salah satunya terdapat di Indonesia.

Bermacam-macam jenis ular telah muncul dan tertangkap oleh bidikan kamera. Bahkan, akhir-akhir ini media sempat dihebohkan dengan kedatangan ular memangsa para buaya.Lalu apa sajakah hewan-hewan itu? Maka dari itu, yuk kita simak artikel tentang ular terbesar di dunia di bawah ini.

Ular Titanoboa

Ular titanoboa memiliki panjang yang sama dengan sebuah bus. Ular ini dipercaya telah hidup kurang lebih 58 sampai 60 juta tahun yang lalu.

Phyton guihua

Phyton Guihua hidup di pulau sumatera. Ia mempunyai panjang sekitar 15 meter dengan beratsekitar 447kg. Konon katanya, ular ini telah memangsa beberapa orang, sehingga masyarakat berinisiatif untuk menangkapnya. (Simak juga:Merawat Ball python Impor yang Mogok Makan)

Anaconda Hijau

Anaconda Hijau

Ular yang satu ini tidak memiliki bisa. Namun, berat yang ia miliki mencapai 100kg. Ia juga mempunyai panjang sekitar kurang lebih 12 meter. Spesies ini hanya ditemukan di sungai amazon.Ular ini sangat menyeramkan, ia biasa memangsa monyet bahkan buaya!

Anaconda sungai abuna

Sesuai dengan namanya, anaconda ini hidup di sekitaran sungai Abuna Rio, Brazil.Ular ini memiliki panjang sekitar 14 meter. Ia kerap diburu oleh masyarakat karena dianggap sering menyerang kapal yang lewat di sekitarnya. (Kamu Perlu tau:Tips Memberi Makan Ular yang Baru Menetas)

Phyton Filiphina

Phyton Filipina atau juga bisa disebut Phyton Burma ini berasal dari Asia Tenggara. Ular ini hidup di tempat yang banyak mengandung air dan habitat pepohonan. Keberadaannya sangatlah menjadi ancaman bagi manusia.

Boa China

Ular Boa China mempunyai panjang sekitar kurang lebih 16 meter.Ia pernah menghebohkan media China beberapa tahun yang lalu.Ular ini dijumpai oleh pekerja pembangunan jalan yang ada di Kota Guping-Jiangxi China. Ketika para pekerja sedang menebang hutan untuk dijadikan pelebaran jalan, seketika itu mereka bertemu dengan sosok ular ini. Akhirnya, sang ular pun ramai dibicarakan di dunia maya.

 

Kontributor: awfasehat

 

Memelihara Tarantula

Memelihara Tarantula

Mitos Seputar Tarantula

Tarantula, siapa yang tidak mengetahui nama laba-laba terbesar didunia ini, sosok laba-laba yang besar dan menakutkan tentunya membuat sebagian orang merasa takut. Menurut mitos yang beredar dalam masyarakat, gigitan tarantula dapat menyebabkan kematian pada manusia, tapi tahu kah anda? Mitos tersebut tidaklah benar, karena laporan kasus medis hingga saat ini, belum ada kematian manusia yang diakibatkan oleh gigitan Tarantula.

Tarantula jenis Lasiodora parahybana
Tarantula jenis Lasiodora parahybana

Di Tanah air, Tarantula kini menjadi salah satu hewan peliharan exotic animal (satwa liar yang diperlihara sebagai hewan peliharaan) yang digemari untuk dipelihara di rumah. Namun pemilik tetap harus memperhatikan aspek keamanan hewan ini. Meski cukup jinak untuk dipelihara, tarantula sebagai satwa liar tidak kehilangan akan insting liarnya, oleh sebab itu bagi pemula harus bisa mengetahui jenis Tarantula dan juga sifat karakteristiknya agar lebih mudah dalam pemeliharaannya.

Ingat Hal Ini Sebelum Memelihara Tarantula

Cara handling Tarantula

Sebelum kita memelihara Tarantula ada baiknya kita harus memperhatikan setidaknya tiga hal yang menjadi acuan keamanan memelihara Tarantula ataupun spesies hewan eksotik lainya, yaitu :

  • Pengenalan terhadap spesies hewan yang akan dipelihara,
  • Bagaimana penanganan umum dan khusus hewan tersebut,
  • Metode / cara untuk penanganannya (handling).

Macam-Macam Spesies Tarantula

Tarantula adalah salah satu jenis laba-laba yang dikelompokkan dalam bangsa Theraphosidae. Di Indonesia, terdapat sedikitnya 900 macam spesies tarantula. Tarantula dengan kaki besar dan tubuh berbulu yang banyak dikenal orang adalah American Tarantula (tarantula Amerika). Jenis inilah yang banyak diternakkan dan bahkan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan. Secara umum Tarantula dibedakan menjadi dua kelas yaitu New World dan Old World. Old World merupakan jenis Tarantula yang tersebar luas di kawasan Asia Pasifik, dengan ciri – ciri bulu di badannya tidak terlalu banyak dan sifatnya agresif. Tingkat agresifitas tarantula jenis ini diperlihatkan dengan intensitas menggigit yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas New World, contoh Tarantula dalam kelas ini diantaranya : Pterinochilus murinus, Haplopelma schmidti, Haplopelma lividum.

Tarantula New World merupakan jenis Tarantula yang tersebar luas di wilayah Benua Amerika dan sekitarnya, dengan ciri ciri: bulu yang lebih lebat dan cenderung lebih tenang terhadap manusia, Tarantula jenis ini lebih suka menggali tanah. Di alam liar, pertahanan Tarantula jenis ini lebih cenderung dilakukan dengan cara melepas bulu bulu yang membuat gatal daripada menggunakan taringnya untuk menggigit, contoh Tarantula jenis ini diantaranya : Grammastola rosea, Acanthoscurria geniculata, Avicularia avicularia, Theraphosa blondi, Lasiodora parahybana.

Habitat Tarantula

Berdasarkan habitatnya Tarantula dibedakan menjadi dua tipe yaitu teresial dan aboreal. Tipe terestial merupakan Tarantula yang hidup di bawah Tanah, dan memiliki karakteristik gerakan yang lebih lamban dan juga warna yang tidak terlalu mencolok. Sedangkan Tarantula tipe aboreal, merupakan jenis tarantula yang tinggal di tebing ataupun pepohonan, Tarantula jenis ini memiliki gerakan yang cepat dan warna yang lebih mencolok. Bagi pemula lebih disarankan memilih Tarantula New World dengan sifat yang tidak agresif dan tidak terlalu cepat bergerak, agar lebih mudah handling nya. Tarantula tidak memiliki racun yang mematikan ke manusia tetapi bulu yang tumbuh ditarantula terkadang menimbulkan alergi bagi para pemelihara.

Jadi cermatlah ketika akan memelihara hewan eksotik, pemahaman yang mendalam tentang sifat dan karakteristik serta mengetahui cara handling dan pemeliharaan yang baik tentunya akan membuat kita aman dan nyaman ketika memelihara.

 

Pyramiding Pada Kura-kura

Pyramiding Pada Kura-kura

Apa Sih Pyramiding Pada Kura-kura?

Bagi sebagian kalangan pecinta kura-kura, mungkin masih belum mengetahui apa yang dimaksud dengan pyramiding, pyramiding merupakan salah satu masalah utama yang terjadi pada kura-kura yang dipelihara dan sengaja didomestikasikan. Pyramiding adalah peningkatan pertumbuhan pada bagian karapas / scute selama periode pertumbuhan kura-kura, pertumbuhan yang terjadi bukanlah pertumbuhan normal karena pertumbuhan terjadi sangat cepat.

Pada fase pertumbuhan normal, masing-masing scute berkembang dalam posisi horizontal dan kemudian dilanjutkan dengan peningkatan ukuran diameter dari masing-masing scute secara keseluruhan. Selama pertumbuhan normal scute akan membesar secara perlahan dan garis pertumbuhan terlihat halus dan akan membentuk suatu ring yang semakin lama akan terus membesar .

Penyebab Pyramiding Kura-kura

Pada kura-kura yang mengalami pyramiding pertumbuhan karapas (bagian cangkang kura-kura atas) baru berlangsung sangat cepat dan abnormal, garis pertumbuhan scute yang seharusnya horizontal berubah menjadi kearah vertikal dan lama kelamaan akan membentuk ring yang terlihat seperti piramida.

Struktur karapas normal pada kura – kura, garis pertumbuhan pada scute terlihat halus

Kejadian ini sangat jarang ditemukan pada kura-kura darat yang berada di alam liar. Pemberian pakan yang tidak bervariasi pada kura-kura darat yang dipelihara menyebabkan asupan pakan yang tidak seimbang dan adanya defisiensi (kekurangan) vitamin, protein, mineral yang dibutuhkan oleh kura-kura darat, hal ini tentunya akan menimbulkan masalah deformitas tubuh yang kurang baik bagi kura-kura.

Faktor Penyebab Pertumbuhan Cangkang Abnomal

Scute yang telah mengalami pyramiding tidak dapat dikembalikan kembali ke bentuk yang normal, tetapi pertumbuhan cangkang dapat dikembalikan normal untuk mencegah adanya abnormalitas pertumbuhan scute. Hal-hal yang dapat menimbulkan pertumbuhan cangkang abnomal adalah pemberian pakan yang tidak seimbang dan kurangnya protein yang masuk kedalam tubuh, juga mineral kalsium-fosfor yang tidak seimbang, selain itu faktor lain seperti intensitas pemberian sinar ultraviolet serta faktor kelembaban ikut berperan dalam pertumbuhan.

Pakan Kura-kura yang baik

Pemberian jenis pakan yang baik harus disesuaikan dengan jenis kura-kura darat yang dipelihara. Kura-kura herbivora, biasanya diberi variasi pakan sayuran seperti buncis, kacang panjang dan brokoli, sayuran tersebut memiliki kandungan mineral fosfor yang tinggi. Karena itulah akan lebih baik jika pemberian pakan yang sama setiap harinya tidak dilakukan terus menerus, lebih baik dicampur dengan jenis sayuran lain sebagai imbangan nutrisi. Pemberian pelet juga tidak boleh diberikan secara terus menerus, akan lebih baik jika dilengkapi dengan pemberian hijauan. Komposisi pakan hijauan dan pakan kering yang seimbang akan membantu proses perkembangan dan pertumbuhan yang normal optimal.

 

Kukang Jawa Yang Langka

Kukang Jawa Yang Langka

Mengenal Kukang Jawa Yang Langka

Di dunia terdapat 14 jenis kukang yang 3 diantaranya hidup di Indonesia. Ketiga jenis kukang

kukang jawa (Nycticebus javanicus)
kukang jawa (Nycticebus javanicus)

tersebut adalah kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang borneo (N. menagensis), dan kukang besar (N. coucang). Kukang Jawa merupakan satwa liar yang banyak ditemukan di beberapa hutan dan perkebunan di propinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Akibat tingginya nilai ekonomi dan kepercayaan mistis masyarakat terhadap kukang jawa, hewan ini sering menjadi buruan warga, sehingga populasinya terus menurun dari tahun ke tahun, karena itulah kukang jawa berstatus endangered / jumlahnya didunia sangat sedikit. Kukang jawa bahkan termasuk dalam Daftar 25 Primata Terlangka di Dunia (Top 25 Most Endangered Primates) versi IUCN.

Kukang vs Kuskus

Beberapa orang berpikir kukang dan kuskus (genus Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, Strigocuscus, dan Trichosurus) adalah hewan yang sama, akan tetapi hal ini tidak tepat. Untuk membedakan kukang dan kuskus sangatlah muda kuskus memiliki kantong dan berekor panjang sementara kukang tidak. Selain itu, kukang memiliki ciri fisik yang khas dan membedakannya dengan primata lain yaitu pola garpu tala diatas mata. Pola inilah yang dijadikan acuan untuk membedakan antar spesies dalam genus Nycticebus.

Permasalahan Kukang Jawa

jenis- jenis kukang

Perburuan dan rusaknya habitat Kukang jawa merupakan masalah besar yang dihadapi oleh primata ini. Akibat perburuan, populasi kukang jawa menurun drastis di alam. Tidak hanya itu, setiap kukang jawa yang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal juga tidak bernasib lebih baik. Kukang hasil buruan biasanya telah melalui berbagai perlakuan, salah satunya pemotongan gigi. Pemotongan gigi dilakukan dengan alasan untuk melindungi pemilik dari gigitan kukang tetapi hal ini sungguh salah. Gigi depan kukang yang tajam merupakan sarana untuk melindungi diri dan hidupnya. Pemotongan gigi yang dilakukan pedagang hanya menggunakan alat seadanya dan tidak sampai pada akarnya, yang mengakibatkan sisa gigi dalam gusi lama kelamaan akan membusuk, sehingga kukang akan susah makan yang berakibat pada terganggunya kesehatan. Beberapa kukang juga mengalami proses bleaching atau pemutihan dengan tujuan untuk memudarkan warna bulunya sehingga dapat dijual dengan harga yang mahal. Semua hal itu dilakukan untuk menambah pundi-pundi uang pedagang hewan liar bukan untuk kebaikan kukang.

Kukang Bukan Binatang Peliharaan

Beberapa orang berpikir dengan memelihara kukang dan berbagai satwa liar lain yang mereka temui di pasar hewan akan membantu. Dengan memberi satwa liar rumah baru dan kasih sayang maka hidup mereka akan lebih baik. Tetapi hal ini tidaklah benar. Satwa liar haruslah hidup di alam, alam merupakan tempat terbaik untuk mereka bukan rumah kita. Yang harus kita lakukan adalah mulai menempatkan kembali satwa liar pada habitatnya. Dengan menjaga habitat satwa liar kita dapat membantu mereka tetap lestari.

 

Kontributor: drh. Mardini KusumoJati

 

Mengenal Perilaku Burung Bondol

Mengenal Perilaku Burung Bondol

Sahabat pecinta satwa setelah mengetahui ciri dan morfologi burung bondol jawa atau yang lebih dikenal dengan sebutan burung pipit – Lengkapnya simak disini

Tingkah laku Burung Bondol

Kebiasaan burung bondol adalah hidup berpasangan atau berkelompok dan mudah bercampur dengan bondol jenis lain. Makanan utama burung ini adalah padi dan biji rumput. Bondol jawa juga sering ditemui di lingkungan pedesaan dan kota, terutama di dekat persawahan. Memakan padi dan aneka biji-bijian, bondol jawa kerap mengunjungi sawah, padang rumput, lapangan terbuka bervegetasi dan kebun. Burung ini sering turun ke atas tanah atau berayun-ayun pada tangkai bunga rumput memakan bulir biji-bijian.

Penyebaran Burung Bondol

Penyebaran bondol jawa meliputi Singapura, Sumatera Selatan, Jawa, Bali dan Lombok. Bondol Jawa di daerah Jawa dan Bali umum ditemui dan tersebar luas sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, mengunjungi daerah garapan dan padang rumput alami, membentuk kelompok pada masa panen padi tetapi biasanya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bondol jawa makan di permukaan tanah atau mengambil biji dari bulir rumput, menghabiskan banyak waktu dengan bersiul dan membersihkan bulunya di pohon-pohon besar. Sarang berbentuk bola berongga longgar terbuat dari potongan rumput dan bahan lain, diletakkan cukup tinggi di atas pohon di antara benalu, ketiak tangkai palem atau tempat tertutup lainnya. Berbiak sepanjang tahun. Telur empat atau lima butir berwarna putih (MacKinnon, 1993).

Baca: Jenis-jenis Burung Madu di Indonesia

Bondol jawa umumnya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil, termasuk bercampur dengan jenis bondol lainnya seperti dengan bondol peking (L. punctulata). Kelompok pada mulanya terdiri dari beberapa ekor saja, akan tetapi di musim panen padi kelompok ini dapat membesar mencapai ratusan ekor. Kelompok akan tampak di sore hari pada saat terbang dan hinggap bersama-sama di pohon tempat tidurnya. Kelompok yang besar seperti ini dapat menjadi hama yang sangat merugikan petani padi.

Bondol jawa dapat berkembang biak sepanjang tahun dan bertelur empat atau lima butir setiap kali peneluran dengan telur berwarna putih (MacKinnon 1990, Priyambodo 2009). Burung ini sering bersarang di pekarangan dan halaman rumah, di pohon-pohon yang bertajuk rimbun, pada ketinggian 2-10 m di atas tanah. Bondol jawa tercatat berkembang biak sepanjang tahun, setiap kali bertelur bondol jawa meletakkan 4-5 butir telur yang berwarna putih. Besarnya sekitar 14 x 10 mm. Namun dalam kelompok, terutama ketika bertengger bersama, suara-suara ini jadi cukup membisingkan. Demikian pula suara anak-anaknya yang baru menetas. Bondol jawa terutama tersebar di Jawa dan Bali, hingga ketinggian 1.500 m dpl.

Simak: 7 Jenis Burung Kakatua Nusantara

Konsumsi pakan Burung Bondol

Bondol jawa memiliki peran yang lebih penting sebagai hama padi karena kemampuan reproduksi dan konsumsi yang tinggi sehingga memiliki kemampuan merusak lebih besar dibandingkan bondol peking. Di area pertanian biasanya, burung mulai menyerang tanaman padi ketika padi sudah mulai berisi. Penyerangan ini bisa sangat merugikan petani karena dilakukan secara berkoloni atau berkelompok dalam jumlah yang besar. Satu kelompok bisa terdiri dari paling sedikit 5 ekor, dan tiap kelompok mudah bergabung dengan jenis kelompok lainnya membentuk kelompok yang lebih besar. Meskipun dianggap sebagai hama namun keberadaannya dapat digunakan sebagai indikator kerusakan lingkungan. Keberadaan burung bondol jawa semakin berkurang akhir-akhir ini. Faktor yang menjadi penyebabnya antara lain adalah penggunaan insektisida dan pestisida yang berpengaruh terhadap kesehatan burung bondol jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Hernowo JB dan Prasetyo. 1985. Studi Pengaruh Tanaman Pekarangan Terhadap Keanekaragaman Jenis Burung Daerah Pemukiman Penduduk Perkampungan DI Wilayah Tingkat II Bogor. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Mac Kinnon J., Phillips K, Van Balen B., 1998. Burung-burung di sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Puslitbang Biologi – LIPI

Sumariadi, Wildian, Yusfi M., 2013. Aplikasi Mikrokontroler AT89S52 Sebagai Pengontrol Sistem Pengusir Burung Pemakan Padi dengan Bunyi Sirine. Jurnal Fisika Unand Vol. 2.

 

Burung Bondol Jawa – Si Hama Padi

Burung Bondol Jawa – Si Hama Padi

Burung Bondol Jawa

Indonesia merupakan salah satu negara prioritas utama dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati karena memiliki keanekaragaman hayati yang paling besar di dunia. Kepulauan Sunda Besar yaitu Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (termasuk Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam) memiliki peran yang sangat penting dalam penyelidikan alam oleh Alfred Russel Wallace pada jaman Ratu Victoria (Mc Kinnon, 1998). Setelah lebih dari seratus lima puluh tahun masa penelitian Wallace hubungan antar fauna yang ada pada saat ini semakin parah karena rusaknya hutan-hutan kita. Jika kita tidak menyusun dokumentasi mengenai penyebaran burung secara cepat dan tepat maka informasi mengenai burung dapat hilang selamanya.

Simak juga: Jenis Burung Kacamata (Pleci)

Burung merupakan salah satu satwa yang dijumpai hampir di setiap tempat dan mempunyai posisi penting sebagai salah satu kekayaan satwa Indonesia. Jenisnya sangat beranekaragam dan masing-masing jenis memiliki nilai keindahan tersendiri. Hidupnya memerlukan syarat-syarat tertentu yaitu adanya kondisi habitat yang cocok dan aman dari segala macam gangguan (Hernowo, 1985).

Ada banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi para petani padi sebelum sampai pada masa panen, salah satu diantaranya adalah masalah hama. Salah satu hama padi yang sangat mengganggu petani adalah burung pemakan padi. Burung pemakan padi ini banyak jenisnya, antara lain burung pipit atau bondol jawa (Lonchura lecogastroides), bondol peking (Lonchura punctulata), bondol haji (Lonchura maja), manyar jambul (Ploceus manyar), manyar emas (Ploceus hypoxanthus), dan burung gereja erasia (Passer montanus) (Sumariadi dkk, 2013).

Jenis Burung Bondol

Jenis burung yang paling tinggi tingkat konsumsinya terhadap gabah adalah burung bondol. Itulah sebabnya burung-burung jenis ini dikatagorikan sebagai burung yang merugikan bagi petani. Burung bondol juga termasuk burung yang mudah bergabung dengan jenis burung lain yang satu spesies dengannya.Setidaknya ada 21 spesies burung bondol. Beberapa diantaranya adalah Bondol peking (Lonchura punctulata) Bondol jawa (Lonchura leucogastroides) Bondol haji (Lonchura maja) Bondol perut-putih (Lonchura leucogastra). Bondol peking (Lonchura leucogastroides) disebut juga bondol dada sisik, pipit pinang, emprit, piit bondol atau Scaly-breasted munia termasuk dalam Famili Estrildidae.

Morfologi Burung Bondol Jawa

Bondol jawa dewasa mempunyai bentuk tubuh padat berukuran kecil (sekitar 11 cm), berat 9-10 gr, berwarna coklat hitam dan putih. Tubuh bagian atas coklat tidak berburik, muka dan bagian dada atas hitam bagian samping perut dan bagian rusuk putih bagian bawah ekor coklat gelap. Burung muda dengan dada dan perut coklat kekuningan kotor.

Baca: Cara Menikmati Kicauan tanpa Mengurung

Burung jantan tidak berbeda dengan betina dalam penampakannya. Iris mata coklat; paruh bagian atas kehitaman, paruh bawah abu-abu kebiruan (MacKinnon, 1993). Paruh burung bondol jawa berbentuk kecil, lancip, pipih dengan panjang paruh atas dan bawah hampir sama. Bentuk paruh ini disesuaikan untuk mengambil makanan berupa biji-bijian dan mampu untuk memisahkan kulit luar pembungkus padi maupun biji-bijian kecil lainnya. Sayap butung ini mempunyai bentang sayap ┬▒ 16 cm, mempunyai kemempuan terbang rendah dan mengepakkan sayapnya dengan cepat untuk membentuk gerakan seperti melompat dengan jangkauan yang cukup panjang. Bentuk kaki ramping kecil, mempunyai empat jari yang terdiri dari tiga jari berada di posisi depan dan satu jari berada diposisi belakang yang membuat burung ini mampu bertengger pada batang pohon maupun rumput. Masing-masing jari memiliki kuku. Secara fisiologis bondol jawa mempunyai kemiripan dengan jenis burung-finch yang lain. Mempunyai metabolisme yang cepat, denyut jantung sangat cepat sehingga dalam auskultasi jantung sangat sulit untuk menghitungnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hernowo JB dan Prasetyo. 1985. Studi Pengaruh Tanaman Pekarangan Terhadap Keanekaragaman Jenis Burung Daerah Pemukiman Penduduk Perkampungan DI Wilayah Tingkat II Bogor. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Mac Kinnon J., Phillips K, Van Balen B., 1998. Burung-burung di sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Puslitbang Biologi – LIPI

Sumariadi, Wildian, Yusfi M., 2013. Aplikasi Mikrokontroler AT89S52 Sebagai Pengontrol Sistem Pengusir Burung Pemakan Padi dengan Bunyi Sirine. Jurnal Fisika Unand Vol. 2.

 

Memilih Terrarium untuk Kura-kura Darat

Memilih Terrarium untuk Kura-kura Darat

Kura-Kura Darat atau Tortoise

kura-kura yang mengalami pyramiding memiliki bentuk cangkang yang tidak normal

Akhir-akhir ini, kura-kura darat atau tortoise semakin digandrungi oleh para pecinta reptil di tanah air. Terdapat banyak spesies yang sudah umum dijual di Indonesia, seperti sulcata, indian star, dan lain-lain semuanya memiliki bentuk yang unik dan motif yang menarik. Perilakunya pun lucu dan jinak, berbeda dengan jenis-jenis reptil lain seperti ular dan monitor lizard. Selain itu, perawatan kura-kura darat juga tergolong mudah, apalagi jika dibandingkan dengan kura-kura aquatik alias terrapin. Tapi, benarkah kura-kura ini sangat mudah untuk dipelihara? Kenyataannya ada banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum Anda memelihara kura-kura darat, dan terkadang sedikit lebih rumit dari terrapin. Ya, Anda mungkin tidak perlu memperhatikan kondisi air seperti di akuarium kura-kura akuatik, namun Anda juga harus mengawasi kondisi substrat yang Anda gunakan untuk kura-kura darat. Anda juga harus memperhatikan asupan protein pada pakan dan kelembapan kandang untuk mencegah pyramiding, suatu kondisi yang sangat ditakuti pecinta kura-kura di dunia.

 

Cara Menyiapkan Terrarium (Kandang Kura-kura)

Salah satu hal yang harus diperhatikan sebelum membeli kura-kura darat adalah menyiapkan kandang atau terrarium yang pas. Terrarium yang digunakan harus sesuai dengan ukuran kura-kura yang akan dipelihara, semakin besar semakin baik. Kura-kura ukuran baby dibawah 10 cm bisa dipelihara di terrarium berukuran standar dari mika, namun hindari penggunaan akuarium kaca karena menyulitkan sirkulasi udara di dalam kandang. Untuk kura-kura berukuran besar, Anda harus menyiapkan kandang yang lebih besar pula.

Simak juga: Penetasan Tukik – Penyelamatan Penyu Hijau

contoh terrarium untuk kura-kura darat, dengan kolam untuk minum dan berendam, tempat bersembunyi, serta substrat karpet reptil

Untuk substrat atau dasar terrarium, ada berbagai pilihan yang bisa Anda gunakan. Beberapa orang lebih suka menggunakan karpet tanpa bulu atau karpet khusus reptil yang dijual di petshop, karena lebih praktis dan mudah dibersihkan. Sebenarnya akan lebih baik jika Anda menggunakan substrat alami seperti pasir, sehingga kura-kura Anda bisa menggali dan membuat lubang persembunyian seperti di habitat alaminya. Sayangnya, beberapa pasir justru berbahaya karena kandungan kimia di dalamnya, jadi Anda harus memilih jenis pasir yang tepat untuk substrat. Hindari menggunakan serutan kayu hamster karena mengandung bahan kimia berbahaya dan bisa melukai mata kura-kura.

 

Hal yang harus diperhatikan memilihTerrarium

terrarium menggunakan substrat pasir memudahkan kura-kura untuk menggali seperti di habitat aslinya

Kura-kura kecil mungkin mudah stress bila ditempatkan di terrarium tembus pandang, karena mereka mudah merasa terancam oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Untuk mengatasinya, Anda bisa menempelkan lakban buram atau gelap di sisi terbawah terrarium sehingga membatasi pandangan kura-kura dunia luar. Selain itu, tempatkan beberapa tempat bersembunyi yang mudah diakses kapanpun mereka merasa terancam, sehingga tingkat stress si kura-kura meningkat. Meskipun kura-kura darat tidak membutuhkan air sebanyak kura-kura akuatik, bukan berarti hewan ini tidak butuh air sama sekali. Seperti makhluk hidup lainnya, kura-kura darat membutuhkan air untuk minum, berendam, dan mencegah dehidrasi. Nah, jika kandang terrarium Anda berukuran cukup besar, Anda bisa menggunakan wadah dangkal yang dibenamkan ke dalam substrat sehingga kura-kura bisa berendam tanpa tenggelam. Hindari teknik ini jika terrarium Anda berukuran kecil, karena air bisa tumpah kemana-mana dan membuat substrat terlalu lembab.

Baca Pula: Penyu Hijau – Penjelajah Laut Pasifik

Terakhir, Anda juga harus menempatkan lampu penghangat di dalam terrarium kura-kura Anda. Kura-kura adalah hewan berdarah dingin dan tidak bisa menghangatkan dirinya sendiri, jadi keberadaan lampu penghangat sangat krusial bagi kehidupannya. Gunakan lampu khusus reptil atau full-spectrum lamp yang bisa meransang pembentukan vitamin D3 yang penting bagi pertumbuhan si kura-kura. Perhatikan pula lokasi penempatan lampu, jangan terlalu dekat dan jangan terlalu tinggi dari substrat, sehingga bisa memberikan suhu yang optimal bagi kura-kura Anda.

Kandang Outdoor untuk Kura-kura

kandang outdoor untuk kura-kura bisa menggunakan pagar rendah seperti ini

Selain terrarium, beberapa orang lebih suka menggunakan kandang luar ruangan (outdoor) atau yang lebih sering disebut enklosur. Kandang seperti ini lebih baik bagi kura-kura berukuran besar yang membutuhkan ruang yang luas, namun kurang baik bagi kura-kura kecil yang mudah kabur dan hilang. Kandang outdoor tidak membutuhkan lampu penghangat seperti pada terrarium indoor, namun juga harus memiliki tempat untuk berteduh dan bersembunyi di hari yang panas. Pastikan juga kandang outdoor ini dilengkapi oleh sistem pengaliran air yang baik agar tidak banjir disaat hujan. Nah begitulah sedikit cerita mengenai terrarium yang tepat bagi kura-kura darat Anda. Semoga kura-kura darat Anda bisa hidup dengan tenang di rumah barunya, dan semoga Anda terhibur dengan kehadiran satwa unik yang satu ini di rumah Anda.

Selamat memelihara!