Apa Itu Vector Borne Disease?

Hari Sabtu terakhir di bulan April selalu diperingati sebagai “World Veterinary Day” atau Hari Kedokteran Hewan Dunia. Tahun 2015 ini, WVD tepat jatuh di tanggal 24 April 2015. Peringatan yang digagas oleh World Veterinary Association (WVA) sejak tahun 2000 ini bertujuan untuk mendengungkan eksistensi profesi dokter hewan, yang bukan hanya menjadi dokter hewan kesayangan dan ternak peliharaan anda, namun juga bertanggung jawab terhadap kualitas bahan pangan asal hewan, mencegah penularan penyakit zoonosis, hingga kesehatan lingkungan.

Simak : Peradangan Telinga Hewan Kesayangan (Otitis)

Tema “Vector Borne Disease with a Zoonotic Potential” dipilih oleh OIE selaku Badan Kesehatan Dunia sebagai tema WVD tahun 2015 ini. Vector Bornee Disease merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor (umumnya ektoparasit). Sebagai penyakit yang melibatkan interaksi hewan, manusia, vektor, dan lingkungan, penyakit ini tidak hanya mewabah di negara-negara tropis dan sub tropis saja, melainkan juga di negara-negara continental yang mayoritas merupakan negara maju. Menurut Harrus dan Baneth (2005), perubahan pola epidemiologi tersebut diakibatkan oleh beberapa hal, seperti peningkatan arus globalisasi, perubahan gaya hidup manusia serta perubahan kondisi lingkungan (perubahan iklim, deforestasi, dan urbanisasi).

Penyakit yang melibatkan interaksi hewan, manusia, vektor, dan lingkungan

parasit demodec sp. dapat menyebar ke tubuh manusia menyebabkan penyakit kulit

parasit demodec sp. dapat menyebar ke tubuh manusia menyebabkan penyakit kulit

Keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan akhirnya memicu munculnya kembali konsep “One World, One Health, One Medicine” yaitu konsep yang melibatkan berbagai macam profesi untuk mewujudkan kesehatan dunia. Sebenarnya konsep tersebut sudah ada sejak 250 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1761 oleh Claude Bourgelat, pendiri sekolah kedokteran hewan pertama di Lyon. Kemudian konsep tersebut dideklarasikan kembali pada tahun 2010 saat pelaksanaan The International Ministerial Conference on Animal and Pandemic Influenza di Hanoi, Vietnam lalu dipublikasikan dalam bentuk Tripartite Concept Note oleh FAO, OIE, dan WHO.

Ancaman vector borne disease dan zoonosis

Hewan kesayangan, mayoritas anjing dan kucing, terkadang luput dari perhatian ketika fokus konsep ‘One Health’ lebih tertuju pada vector borne disease zoonosis bersifat emerging (muncul baru) dan re-emerging (penyakit lama muncul kembali) yang ditularkan oleh hewan ternak produktif penghasil bahan pangan dan satwa liar.

anjing demodek (salah satu vector borne disease)

anjing demodek (salah satu vector borne disease)

Pada kepemilikan hewan peliharaan/kesayangan terutama pada negara-negara maju dan berkembang kian meningkat. Meskipun hewan kesayangan umumnya terperhatikan kesehatannya oleh pemilik, tetapi tetap saja ancaman vector borne disease dan zoonosis tetap mengintai. Faktor-faktor seperti status vaksinasi dan kontrol parasit, kontak dengan hama, hewan domestik lain dan satwa liar (termasuk satwa liar yang sudah terdomestikasi), serta aktivitas di lingkungan tertentu (misalnya exercise di taman yang ada populasi caplaknya) perlu anda perhatikan.

Baca juga: Tips Perlunya Vaksinasi pada Anjing dan Kucing

P

erubahan iklim yang telah dijelaskan sebelumnya terbukti meningkatkan populasi arthropoda serta mengubah periode siklus hidup serta berefek terhadap biodiversitas dan variasi distribusi hewan dan microflora secara geografis (Sachan dan Singh, 2010; Beugnet dan Chalvet-Monfray, 2013).

Penyebaran Melalui Anjing dan Kucing

Berikut merupakan vector borne disease yang berpotensi sebagai zoonosis pada anjing (Canine Vector Borne Disease– CVBD) dan kucing (Feline Vector Borne Disease-FVBD):

 

PENYAKIT PENYEBAB PERANTARA (VECTOR)
Leishmaniosis Protozoa Leishmania infantum Lalat pasir Phlebotomus
Borreliosis (Lyme disease) Bakteri Borrelia sp. Caplak genus Ixodes
Bartonellosis Bakteri Bartonella henselae Caplak Rhipicephalus sanguineus

Pinjal Ctenocephalides sp.

Ehrilchiosis Bakteri Ehrilichia canis Caplak Amblyomma americanum
Rickettsiosis Bakteri Rickettsia Caplak

Pinjal

Anaplasmosis Bakteri Anaplasma sp. Caplak Rhipicephalus sanguineus, Ixodes ricinus
Dirofilariosis Cacing Dirofilaria immitis Nyamuk Culicidae
Yersiniosis Pinjal
Tularemia Bakteri Francisella tularensis Caplak Ixodes spp., Dermacentor spp., Haemaphysallis spp., Rhipicephalus sanguineus
Coxiellosis Caplak
Tick-borne Enchepalitis TBE Virus (Flavivirus) Caplak Ixodes ricinus, Ixodes persulcatus
Louping ill Louping ill-Virus (Flavivirus) Caplak Ixodes ricinus
West Nile Virus Enchepalitis West Nile Virus (WNV), Flavivirus Nyamuk Culex spp. dan lainnya

 

Penanggulangan vector borne disease harus melibatkan pendekatan ekosistem yang terintegrasi, sehingga WHO mencanangkan strategi Integrated Vector Management (IVM) yang secara umum memiliki fokus sebagai berikut:

  • Edukasi masyarakat untuk meningkatkan public awareness dan behavioral change,
  • Manajemen lingkungan (termasuk modifikasi atau manipulasi lingkungan)
  • Kontrol hama vektor menggunakan baik menggunakan agen biologis, (bakteri ataupun ikan larvivorus) maupun agen kimia (larvasidal, insektisidal, dll). (WHO, 2004)

Simak: Problem Kulit pada Anjing

Pencegahan vector born disease

kucing scabiosis (salah satu vector borne disease)

kucing scabiosis (salah satu vector borne disease)

Pemilik hewan kesayangan diharapkan juga aktif terlibat dalam mencegah penularan vector born disease dengan cara memperhatikan kesehatan hewan dan lingkungannya serta kebersihan personal, seperti:

  1. Rutin membawa hewan kesayangan ke dokter hewan,
  2. Secara berkala melakukan grooming,
  3. Teratur memberikan obat cacing dan obat antiparasit minimal 3 bulan sekali atau sesuai petunjuk dokter hewan,
  4. Selalu mencuci kandang hewan kesayangan menggunakan desinfektan dan membersihkan lingkungan sekitarnya,
  5. Meminimalisir kontak, terutama bagi anak kecil, terhadap hewan kesayangan yang beresiko tinggi,
  6. Cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan hewan.

 

Referensi

Beugnet, F., dan K. Chalvet-Monfray. 2013. Impact of Climate Change in Epidemiology of Vector Borne Diseases in Domestic Carnivores. Comparative Immunology, Microbiology, and Infectious Disease 36: 559-566.

Day, M.J. 2011. One Health: The Importance of Companion Animal Vector-Borne Disease (Review). Day Parasites & Vectors 4 (49): 1-6.

ESCCAP. 2012. Guideline 03: Control of Ectoparasites in Dogs and Cats. United Kingdom (UK): European Scientific Counsel Companion Animal Parasites.

Sachan, N., dan V.P. Singh. 2010. Effect of Climatic Change on The Prevalence of  Zoonotic Disease. Veterinary World Vol. 3 (11): 519-522.

WHO. 2004. Global Strategic Framework for Integrated Vector Management. WHO, Geneva, Switzerland.

 

(Kontributor: drh. Galuh Pawestri Prameswari)

 

Pecinta Satwa
Freelance Contributor at Pecinta Satwa [dot]com
Beberapa kontributor lepas yang menulis artikel untuk Pecinta Satwa [dot]com. Masih ada yang aktif menulis dan ada yang sudah tidak aktif.