Toxoplasma

kucing makan tikus

kucing makan tikus

Kucing merupakan salah satu binatang yang lucu dan menggemaskan, tak heran jika banyak sekali yang menjadikannya sebagai peliharaan. Namun tanpa kita sadari ada penyakit yang dapat kucing tularkan kepada kita (zoonosis). Salah satunya adalah Toxoplasmosis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii. Parasit tersebut umum menyerang manusia dan hewan berdarah panas lainnya (lebih dari 30 spesies burung dan 300 spesies mamalia) dalam bentuk stadium infektifnya: sporozoit, takizoit, bradizoit. Menurut Nurcahyo (2011), tingkat kejadian penyakit akibat T. gondii di Indonesia berkisar antara 2-63% pada manusia, 35-73% pada kucing, 11-36% pada babi, 11-61% pada kambing, 75% pada anjing, dan  <1% pada ternak lainnya.

 

 

Penyebaran Toxoplasma

Penyebaran T. gondii diawali dari keluarnya ookista (telur parasit) melalui feses kucing. Seekor kucing yang terinfeksi dapat mengeluarkan hingga 100-juta ookista per-harinya. Pada suhu lingkungan, ookista yang mengandung sporozoit bersporulasi dan menjadi infektif dalam waktu 1-3 hari. Setelah ookista tertelan oleh hospes perantara (manusia, burung, rodensia, dan hewan domestic lainnya), ookista akan pecah dan sporozoit yang keluar berubah menjadi takizoit. Takizoit memeliki kemampuan untuk menyerang sel-sel hospes dan memperbanyak diri disana hingga kemudian beredar ke seluruh tubuh dalam waktu 3-10 hari lalu berubah menjadi bradizoit yang mampu bertahan pada jaringan otak dan otot hospes berbulan-bulan lamanya.

Gejala Toxoplasmosis

life cycle of toxoplasma

life cycle of toxoplasma

Kucing yang menderita toxoplasmosis umumnya tidak menunjukkan gejala spesifik. Hanya gejala ringan berupa demam ringan, nafsu makan dan aktivitas menurun. Tetapi pada kucing-kucing yang daya tahan tubuhnya rendah, seperti pada kucing penderita Feline Leukimia Virus (FeLV) atau Feline Immunodeficiency Virus (FIV), T. gondii dapat menyebabkan kelainan pada sistem pernapasan, mata, dan syaraf. Pada sistem pernapasan, T. gondii akan menimbulkan pneumonia (radang paru-paru). Pada mata dan syaraf, T. gondii dapat menyebabkan inflamasi pada retina atau ruang anterior mata, ukuran pupil abnormal, kebutaan, inkoordinasi, perubahan sifat dan tingkah laku, gejala berputar, kejang, penurunan fungsi pendengaran, kesulitan mengunyah dan menelan makanan, hingga kesulitan mengontrol urinasi (pee) dan defekasi (poop).

Akibat Toxoplasmosis

Pada hewan ternak, Toxoplasmosis juga berakibat pada kerugian ekonomi karena menyebabkan abortus pada kebuntingan serta kematian janin bahkan kecacatan dan kelumpuhan pada anak yang dilahirkan.

Baca: 14 Penyebab Keracunan pada Kucing

Pada Manusia juga umumnya Toxoplasmosis tidak menunjukkan gejala spesifik apapun, hanya seperti gejala flu (flu like syndrome) dengan pembengkakkan limfoglandula dan nyeri otot selama beberapa hari hingga minggu. Namun pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah, gejala klinis yang ditimbulkan bisa lebih parah dan mempengaruhi organ-organ lainnya seperti gangguan syaraf, saluran pernapasan, dan jantung hingga kematian. Pada Ibu hamil, Toxoplasmosis dapat menyebabkan keguguran pada trimester pertama, kematian janin dalam kandungan, hidrosefalus atau mikrocefalus, pengapuran pada otak, gangguan psikologis dan perkembangan mental pada anak setelah dilahirkan, penurunan kemampuan melihat dan mendengar, hingga kejang.

Cermati : Kucing dan Karakternya sebgai Peliharaan

Untuk memastikan apakah kucing anda mengalami Toxoplasmosis atau tidak, dokter hewan akan melakukan serangkaian test untuk menegakkan diagnosa yang diawali dari analisis riwayat dan gejala klinis hingga uji laboratorium.

Manusia dapat tertular Toxoplasmosis melalui beberapa cara, antara lain:

  1. Memakan makanan, meminum air, atau secara tidak sengaja terkena tanah yang terkontaminasi feses kucing yang mengandung ookista.
  2. Meminum susu yang belum di-pasteurisasi.
  3. Memakan daging mentah atau setengah matang yang telah terinfeksi Toxoplasma gondii.
  4. Penularan langsung terjadi pada anak ketika sebelum atau selama kehamilan Ibu menderita Toxoplasmosis.
  5. Melalui transplantasi organ dari donor yang seropositif Toxoplasma. (angka kejadiannya hanya 5%) (Barsoum, 2006).
  6. Melalui transfusi darah dan stem cell (Derouin and Pelloux, 2012).

Agar Terhindar dari Penularan Toxoplasmosis

toxoplasma dalam jaringan

toxoplasma dalam jaringan

Yang perlu diperhatikan, ookista yang keluar melalui feses kucing dan bersporulasi mampu bertahan dalam kondisi yang lembab dan hangat, seperti pada kebun, litter box, dan tanah, hingga 18 bulan lamanya. Kista T. gondii juga masih mampu bertahan pada suhu kulkas 4° C dan tidak mati pada pemanasan menggunakan microwave.

Simak: Parahnya Infeksi Bakteri akibat Cakaran/Gigitan Kucing

Namun bagi anda pecinta kucing, jangan takut dan mengurungkan niat untuk memelihara si hewan menggemaskan ini. Anda dapat menerapkan tips-tips berikut agar terhindar dari penularan toxoplasmosis.

Sanitasi dan Higien Personal dan Lingkungan

  1. Masak daging hingga benar-benar matang (>67° C selama min. 20 menit).
  2. Penyimpanan daging harus dilakukan pada lemari pembeku (freezer) dengan suhu -20° C.
  3. Jangan meminum air dan susu yang belum dimasak.
  4. Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
  5. Cuci tangan dan peralatan memasak dengan air sabun hangat setelah memproses daging mentah.
  6. Gunakan sarung tangan dan cuci tangan setelah berkebun dan membersihkan pasir/litter box kucing.
  7. Cuci tangan sebelum makan.
  8. Mengontrol populasi tikus/rodensia lain.
  9. Jangan biarkan Ibu hamil, anak-anak, serta orang dengan daya tahan tubuh rendah membersihkan litter box.

Sanitasi dan Higien Kucing Peliharaan

  1. Jangan berikan kucing anda daging, air minum, dan susu yang belum dimasak.
  2. Jangan biarkan kucing anda berburu dan memakan tikus/rodensia lainnya.
  3. Jangan biarkan kucing menggunakan taman/area bermain anak anda serta pot bunga sebagai litter box.
  4. Bersihkan feses dan litter box serta kandang setiap hari. Cuci dengan sabun, air hangat, dan disinfektan.

 

Nah, walaupun sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk mencegah Toxoplasmosis, namun kejadiannya bisa diminimalisir dengan cara menjaga kebersihan diri, kucing peliharaan, dan lingkungan sekitar. Selamat bermain dengan kucing kesayangan anda 🙂

 

Referensi

Barsoum, R.S. 2006. Parasitic Infection in Transplant Recipients. Nature Review Nephrology 2(9): 490-503..

Cornell Feline Health Center. 2008. Toxoplasmosis in Cats. New York: College of Veterinary Medicine, Cornell University.

Derouin, F., and H. Pelloux. 2012. Prevention of Toxoplasmosis in Transplant Patients. Clinical Microbiology and Infection 14: 1089-1101.

Dubey, J.P., and J.L. Jones. 2008. Toxoplasma gondii Infection in Human and Animals in The United States. International Journal for Parasitology 38 (2008): 1257-1278.

Flegr, J., J. Prandota., M. Sovickova., Z.H. Israili. 2014. Toxoplasmosis – a Global Threat. Correlation of Latent Toxoplasmosis with Spesific Disease Burden in a Set of 88 Countries. PLoS ONE 9(3): e90203. doi: 10.1371/journal.pone.0090203.

Nurcahyo, W., J. Prastowo., dan A. Sahara. 2011. Toxoplasmosis Prevalence in Sheep in Daerah Istimewa Yogyakarta. Anim. Product 13(2):11-15

 

(Kontributor: drh. Galuh Prawesti Prameswari)

 

Pecinta Satwa
Freelance Contributor at Pecinta Satwa [dot]com
Beberapa kontributor lepas yang menulis artikel untuk Pecinta Satwa [dot]com. Masih ada yang aktif menulis dan ada yang sudah tidak aktif.