Waspada Mikotoksin, Pastikan Pakan Ternak dalam Keadaan Baik

waspada mikotoksin

Sektor pertanian merupakan salah satu poros perekonomian Indonesia yang menjadi penopang sumber pendapatan negara. Bentang alam dan faktor geologis Indonesia yang subur mendukung negeri ini sebagai kawasan agraris. Sektor pertanian juga sangat erat dikaitkan dengan sektor peternakan yang sama-sama mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Beberapa hasil pertanian seperti jagung, padi, gandum, dan hijauan tak lepas dari fungsinya juga sebagai bahan pakan ternak komersial. Selain menjadi bahan makanan pokok bagi manusia, komoditas pertanian juga bisa diolah menjadi pendukung aspek peternakan.

Mikotoksin Yang Mencemari Komoditas

Masalah baru di sektor pertanian adalah adanya mikotoksin yang mencemari komoditas hasil para petani. Telah ditemukan mikotoksin jenis zearalenon yang bisa memberi dampak sistemik pada ternak yang mengkonsumsi pakan hasil komoditas pertanian tersebut. Berdasarkan laporan FAO menyatakan bahwa 25% tanaman yang menjadi bahan pakan ternak di dunia telah terkontaminasi mikotoksin yang berakibat menurunnya produktifitas ternak dan terganggunya fungsi reproduksi. Laporan tersebut dikuatkan oleh hasil riset dari Nuryono yang menemukan kontaminasi mikotoksin zearalenon sebesar 85,7% pada komoditas jagung di Indonesia melalui uji Enzyme  Linked  Immuno-Sorbent  Assay  (ELISA)  dan  High  Performance Liquid Chromatography (HPLC).

Gambar jagung yang terkontaminasi Fusarium graminearum

Gambar jagung yang terkontaminasi Fusarium graminearum

Infeksi Jamur Fusarium sp

Kondisi iklim Indonesia yang termasuk kawasan tropis dengan kelembaban yang tinggi juga menjadi salah satu faktor tingginya infeksi jamur Fusarium sp yang dapat menghasilkan mikotoksin pada hasil tanaman. Dampak yang diakibatkan oleh infeksi jamur bila disertai dengan produk mikotoksin pada tanaman akan sangat berbahaya bila dikonsumsi ternak. Zearalenon bersifat fitoestrogenik yang artinya adalah senyawa estrogen yang berasal dari tumbuhan. Bahaya yang diakibatkan pada ternak yang keracunan zearalenon dapat mengganggu siklus birahi, kematian embrio dini, abortus, bahkan menurunnya fungsi reproduksi ternak dan infertilitas.

Waspada Termakannya Mikotoksin

Kondisi tersebut jelas merugikan terutama pada industri peternakan ayam dan sapi komersial. Industri ayam dan sapi yang salah satu bahan pakannya mengandalkan hasil tani untuk pakan ternak, tentu harus diwaspadai dengan baik untuk mencegah termakannya mikotoksin ke dalam tubuh. Zearalenon telah diamati sebagai salah satu mikotoksin yang berbahaya pada tanaman jagung, oat dan hijauan kering (hay). Upaya pencegahan dari bahaya mikotoksin telah banyak dilakukan dengan mencampurkan bahan absorber yang digunakan untuk menetralisir pakan yang tercemar. Senyawa aluminosilikat dan charcoal disinyalir dapat mendegradasi bahan aktif mikotoksin yang sangat reaktif bila masuk metabolisme tubuh. Penambahan vitamin dan mineral sebagai bahan tambahan juga sangat membantu meningkatkan proses recovery tubuh bila terkena mikotoksin.

Upaya Pencegahan

Peternak dan pengusaha di bidang peternakan kini harus tetap mewaspadai bahaya mikotoksin lain yang mengkontaminasi pakan ternaknya seperti aflatoksin, okratoksin, deoksinivalenol, dan fumonisin. Bukan tidak mungkin upaya pencegahan dengan menggunakan senyawa aluminosilikat dan charcoal menjadi tidak efektif lagi karena membutuhkan bahan pakan tambahan untuk mendegradasi kompleks mikotoksin. Namun, upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah masuknya mikotoksin secara bijak adalah dengan memastikan bahan pakan ternak bebas dari jamur dengan penyimpanan yang higiene dan tentunya memenuhi kaidah BAIK (Bebas hama, Aman, Ideal dan Komplit).

 

Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, drh., M.Si.
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master Biologi Reproduksi UNAIR (2014), Praktisi Large Animal (Beef Cattle) & Aquatic Animal dan Dosen Dep. Reproduksi Fak. Kedokteran Hewan UNAIR Banyuwangi.