Panjangnya Siklus Birahi Babi Betina

PecintaSatwa.com – Di alam bebas babi betina yang memulai mencari pejantan beberapa hari sebelum terjadinya birahi. Signoret dkk (1979) telah melakukan pengujian dengan menggunakan suatu jalan / lorong bersimpang yang berbentuk “T”. ia mendapatkan, babi-babi betina yang mendekati waktu birahi (pro estrus), dan yang sedang birahi (estrus), sangat merangsang pejantan. Rangsangan tersebut berlanjut sampai dua hari setelah mencapai puncak birahi. Dalam keadaan uji memilih, pejantan memperlihatkan reaksi agak memilih antara babi betina yang birahi dan yang tidak birahi. Hal ini mendukung pengamatan tentang peranan awal babi betina dalam hubungan seksual.

Peternak Duduk di Punggung Babi

Peternak Duduk di Punggung Babi

Babi betina birahi akan menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut: pembengkakkan dan memerahnya vulva sejak 2-6 hari sebelum birahi, keluarnya lendir dari vagina, malas, dan terkadang menciumi vulva betina lainnya dalam satu koloni. Mereka juga menaiki dan diam jika dinaiki sesamanya, serta menurun nafsu makannya, pada beberapa breed juga terlihat babi betina menegakkan dan menggerakkan telinganya (ear pricking) ketika birahi. Tanda birahi lainnya yang sangat penting ialah babi betina akan berdiri kaku dan tidak bergerak, kemudian membungkukkan punggungnya (Lordosis) bahkan diam  jika peternak duduk diatas punggungnya. Apabila dipelihara dalam suatu kelompok, babi betina juga akan melakukan gerakan gigi yang khas, dan juga berkeliling, berjalan-jalan mencari pejantan dalam koloni tersebut.

Siklus birahi babi betina

Siklus birahi babi betina

Panjangnya siklus birahi babi betina berkisar 21 hari ± 3 hari. lama birahi rata-rata 40-60 jam  jam, meski terdapat beberapa kasus babi betina yang dapat birahi hingga 5 hari. estrus pubertal biasanya terjadi lebih singkat (47 jam), diperiode selanjutnya akan lebih lama hingga 57 jam bahkan lebih, singkat dan lamanya siklus birahi juga dipengaruhi oleh breed, musim, panjang pencahayaan matahari, dan abnormalitas endokrin. Ovulasi akan terjadi pada paruh  terakhir masa birahi (38-42 jam setelah terjadinya oestrus), karena itu paling baik jika babi betina birahi dikawinkan 2 kali, pada saat awal diketahuinya birahi dan akhir birahinya. Proses ovulasi terjadi selama 3,8 jam (Buisson dkk, 1970), ovulasi akan terjadi 4 jam lebih cepat pada babi betina yang telah dikawinkan daripada yang tidak dikawinkan (signoret, 1973).

Intensitas birahi babi betina dapat ditingkatkan dengan  rangsangan bau pejantan yang berasal dari feromonnya, penglihatan, kontak fisik, dan rangsangan suara music (pernah diteliti penggunakan kaset chant de Coeur dari Perancis, responnya sangat baik). Aroma feromon dapat diproduksi secara sintetis dalam bentuk spray, disamping itu secara alami dapat juga dibuat dengan mengisolasi cairan gelain dari preputium, dan menghangatkannya dengan sebuah pot/cawan, hingga mengeluarkan aroma menggoda untuk babi betina.

Interaksi Sosial Pre-Mating pada Babi

Interaksi social antara babi betina dan pejantan dimulai dengan kontak hidung satu sama lain dan terus berlanjut ke proses selanjutnya. Dengan memperlihatkankan punggung saja betina tidak cukup merangsang pejantan, untuk memberikan respon selanjutnya dan juga mempercepat pejantan menaikinya. Setelah kontak hidung dengan hidung, diikuti dengan tahapan rangsangan selanjutnya, seperti menciumi vulva dan bagiang samping betina, menggigit dan mendorong betina, respon berteriak pejantan, dan peran serta hormone feromon yang diproduksi dari gugus androsten kelenjar ludah pada mandibula pejantan.

Interaksi social antara babi betina dan pejantan

Interaksi social antara babi betina dan pejantan

Hemsworth dkk (1978) melaporkan bahwa lamanya pejantan menciumi badan samping betina berkorelasi positif dengan tingkat konsepsi dan jumlah anak yang lahir (litter size). Selain itu, memberikan kesempatan bagi babi betina yang dikandangkan berpasangan dengan pejantan, akan mengoptimalkan rangsangan pejantan sebelum perkawinan, juga dapat meningkatkan angka konsepsi dan litter size. Sedangkan pada babi betina yang dikandangkan secara individu, rangsangan sebelum dilakukan inseminasi buatan akan menurunkan angka konsepsi dan litter size secara signifikan.

Pada kandang berpasangan, pejantan akan merangsang efisiensi reproduksi secara efektif dengan mempengaruhi waktu dan tingkat ovulasi, serta tingkat fertilitas. Kebalikannya dengan betina yang dikandangkan secara individu, jika dicampurkan dengan pejantan saat sebelum dikawinkan, terlebih pejantan tersebut adalah babi jantan dewasa yang pertama kali dipasangkan dengannya, akan terjadi stress scara psikologis sehingga berpengaruh pada performa reproduksinya. Penelitian-penelitian tersebut diatas membuktikan pentingnya faktor-faktor psiko-seksual kompleks yang berpengaruh pada fertilitas dan fekunditas babi.

Pejantan akan merangsang efisiensi reproduksi

Pejantan akan merangsang efisiensi reproduksi

Perkawinan pada Babi

Tanda terakhir akan terjadinya kopulasi adalah ketika seekor babi betina berdiri tanpa bergerak selama 5 menit, kemudian terjadilah kopulasi dengan waktu yang cukup panjang sekitar 3-20 menit. Pada peternakan babi intensif, babi jantan sering dikenakan kawat ring di hidungnya untuk mempermudah penanganannya, mencegah perusakan lantai kandang, dan juga mencegah babi jantan menyeruduk betinanya yang dapat berpengaruh buruk pagi tingkat reproduksinya, termasuk keberhasilan perkawinannya. (Baca: Tingkah Laku Reproduksi Babi)

Babi Betina BirahiPada saat menaiki, pejantan memegang betina dengan kaki depannya dan meletakkan perutnya sepanjang punggung betina. Panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan penis dan memasukkannya ke dalam vagina bervariasi, tergantung pada pengalaman pejantan. Pejantan yang tidak berpengalaman, beberapa kali menaiki dari depan, dan samping sebelum dapat memasukkan penisnya. Ejakulasi terjadi pada saat kepala penis terkait pada serviks babi betina.

Sikap diam betina merupakan suatu stimulus yang paling penting untuk terjadinya kopulasi pada semua jenis hewan. akan tetapi, dalam kasus perkawinan babi, betina harus berdiri diam selama beberapa menit, karena proses ejakulasi babi jantan cukup lama. Selama kopulasi terjadi, pejantan beberapa kali mendorong betina. Pejantan mengeluarkan semen dalam jumlah cukup banyak dibandingkan sapi jantan, sekitar 500ml. jika tahapan ejakulasi selesai, pejantan akan turun, menarik penisnya dan memasukkannya kembali kedalam preputium. kemudian pada fase istirahat pejantan akan menjilati betinanya.

Dalam peternakan babi, disarankan untuk mengawinkan babi betina muda dengan pejantan tua yang berpangalaman, dan sebaliknya betina tua yang berpengalaman dalam masa puncak birahi dapat dikawinkan dengan pejantan muda untuk melatihnya. Babi betina muda, biasanya menolak jika akan dikawinkan pertama kali, karena itu babi betina muda dapat ditemani oleh babi betina lainnya yang lebih dewasa dan tidak dalam keadaan birahi, karena dapat mengacaukan focus pejantan. Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengawinkan babi betina muda adalah dengan mengikatnya, namun cara ini akan menyebabkan stress yang berdampak pada angka konsepsi dan litter size sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. ( Simak: Babi Bali – Babi Liar Bernilai Tinggi)

Perlu diingat dalam manajemen perkawinan babi, babi betina yang akan aktif mencari pejantan. Kontak social yang terjadi akan berkembang menjadi konkat seksual. Dilain pihak, pejantan akan menunggu tanda-tanda komunikasi birahi dari babi betina yang mendekat. Proses perangsangan pada perkawinan babi membutuhkan waktu yang cukup lama. Di alam, sepasang babi akan tetap bersama selama satu minggu dan kawin 7-11 kali dalam 70 jam periode kawin.

 

Pecinta Satwa
Freelance Contributor at Pecinta Satwa [dot]com
Beberapa kontributor lepas yang menulis artikel untuk Pecinta Satwa [dot]com. Masih ada yang aktif menulis dan ada yang sudah tidak aktif.