Beberapa Penyebab Bobot Sapi Menurun

PecintaSatwa.com – Pada tulisan sebelumnya telah diulas penyebab Bobot Sapi merosot, masih ada beberapa hal lagi yang perlu ditangani agar berat sapi tidak terus menurun. Hal itu antara lain:

Terpeleset dan Keplengkang

Lantai kandang yang licin sering kali berakibat fatal bagi sapi. Kabanyakan peternak sapi potong tidak menggunakan matras karet sebagai alas kandang. Lantai ubin atau lantai cor banyak menjadi pilihan utama, karena mudah dibersihkan dan tidak membutuhkan biaya tambahan. Akan tetapi, lantai tipe tersebut jika dibersihkan dengan air setiap harinya, tanpa disikat dengan baik rawan ditumbuhi lumut yang membuat lantai kandang licin, dan tak jarang membuat sapi terpeleset. Banyak pula kasus terpeleset yang diikuti dengan posisi jatuh sapi yang tidak tepat, dengan kaki belakang menekuk ke sisi berlawanan atau bisa dikatakan posisi “katak” atau keplengkang.

Apabila peternak atau anak kandang menjumpai keadaan diatas, pertama kali yang dilakukan adalah melihat keadaan umum sapi, pastikan kondisi sapi stabil, tidak lemah, atau tidak kolaps dan tidak ada tulang yang patah. Kemungkinan besar sapi akan terlihat lebih galak, karena kaget atau panik. Selanjutnya dengan bantuan satu atau dua orang, usahakan untuk memposisikan sapi ke posisi duduk normal, dengan menarik salah satu kaki kearah dalam, upaya ini dapat dilakukan dengan menggunakan pengungkit dari bambu, kayu, atau pipa besi.

Setelah sapi dalam keadaan duduk normal, segera beri pakan yang cukup, suapkan hijauan yang disukai sapi dan konsentrat yang masih beraroma harum, jika sapi menolak dapat dicontang air gula dan telur. Hal ini penting karena selama sapi keplengkang biasanya tenaganya telah habis untuk mencoba berdiri, sehingga tenaga sapi dalam keadaan lemah.

Setelah sapi makan cukup banyak, dan keadaannya membaik, oleskan balsam ke bagian dalam paha sapi dan pangkal ekor, kedua lokasi tersebut memiliki syaraf-syaraf yang berfungsi pada anggota gerak belakang. Gunakan balsam dengan tingkat panas sedang, jangan terlalu panas. Pemberian balsam dibutuhkan untuk merangsang syaraf dan otot-otot kaki belakang untuk dapat berdiri.

Selang beberapa menit setelah diolesi balsam, coba berdirikan sapi, yang dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan berikut: kagetkan dan tepuk keras bagian pantat sapi, sapi yang masih kuat biasanya akan otomatis langsung berdiri. Jika cara tersebut tidak ber-efek, coba gigit ujung ekor sapi, pada beberapa kasus cara ini cukup berhasil. Apabila sapi masih belum dapat berdiri, berdirikan sapi dengan kayu pengungkit, cara ini membutuhkan bantuan beberapa orang. Setelah sapi berdiri, biarkan beberapa saat agar dapat menyeimbangkan tubuhnya, pantau terus dan pastikan sapi tetap berdiri, jika dirasa cukup kuat segera pindahkan sapi ke kandang karantina yang beralas pasir atau tanah liat selama 1-2  minggu, hal ini berfungsi untuk exercise kaki belakang, dan mencegah kepincangan pasca tepeleset.

Hardware Disease

sisa mata gerinda dalam pakan

sisa mata gerinda dalam pakan

Bukan seperti komputer yang memiliki hardware dan software. Hardware disease dalam pemeliharaan sapi, merupakan istilah apabila di dalam lambung sapi terdapat benda non pakan yang tajam, seperti paku, besi, kawat, dan pecahan seng. Benda asing biasanya berasal dari bahan pakan, dapat pula dari sampah-sampah pasca perbaikan kandang yang tidak dibersihkan dengan baik.

Normalnya, sapi memiliki behavior memilih pakan yang terbaik dan menghindari benda-benda non-pakan, akan tetapi pengecualian terjadi pada sapi-sapi yang kelaparan, pakan akan dimakan seluruhnya dengan lahap tanpa memilah-milah lagi. Benda tajam pada lambung sapi dapat menusuk lambung hingga tembus melukai organ lain disekitarnya seperi hati, pangkreas, usus, dan diafraghma. Apabila diafraghma berlubang, makan rongga dada yang semula bertekanan negative akan bocor, akibatnya paru-paru dan jantung akan kolaps, keadaan ini sangat berbahaya.(Baca: Penyebab Keracunan pada Ternak)

Quality control peternakan harus memastikan pakan yang diproses aman dari benda asing. Mixer pencampur pakan dapat dipasang magnet untuk menarik besi-besi tajam seperti paku dan kawat yang bercampur pada bahan pakan. Selain itu petugas kandang harus melakukan pemeriksaan rutin pada palungan pakan dan minum sapi minimal 2 kali sehari, sebagai langkan prefentif adanya benda tajam dalam tempat pakan sapi.

Kembung

sapi kembung

sapi kembung

Penyakit kembung atau tymphani jika ditanggulangi sejak dini memiliki prognosa yang baik. Apabila petugas kandang melihat sapi tidak makan, dan terlihat gelisah di jam makan saat sapi-sapi lain aktif makan dengan lahap, harus diwaspadai dan dipantau dengan cermat. Periksa suhu sapi dengan memegang daun telinganya, dan lihat apakah ada lendir pada hidungnya, apabila tampak normal segera beralih perut bagian kiri, dorong dengan tangan mengepal, apabila teraba berisi udara, kemungkinan besar sapi mengalami kembung, segera contang dengan obat anti kembung saat itu juga. Satu jam kemudian contang dengan air gula dan telur. Apabila setelah diberi obat anti kembung sapi sudah makan sendiri, petugas kandang cukup memantaunya saja, pastikan sapi makan dengan cukup dan tidak terlihat kesakitan.(Simak juga: Sapi Kembung – Bagaimana Mengatasinya?)

Terjerat Tali Keluh

kaki sapi terjerat tali keluh

kaki sapi terjerat tali keluh

Tali keluh yang telalu pendek dapat menyusahkan sapi mengambil pakan di palungan, sehingga sapi tidak dapat makan dengan bebas. Di lain sisi, tali keluh yang terlalu panjang sering menjerat kaki atau kuku sapi, menyebabkan perlukaan hingga sapi terpeleset. Oleh karena itu periksa keadaan kandang sesering mungkin, pastikan tali keluh sapi tidak terlalu pendek atau terlalu panjang, segera betulkan saat itu juga jika menemui sapi dengan panjang tali keluh yang tidak tepat.

Hal kecil dapat berakibat fatal jika diabaikan. Tidak ada salahnya sebagai peternak kita lebih berhati-hati dan sesering mungkin memantau kondisi dilapangan. Semakin dini permasalahan diatasi, makan semakin kecil pula kerugian yang ditimbulkan. (Rind)

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.