Mengapa Sapi Tidak Birahi

Sapi Birahi

Sapi Birahi

Di pedesaan, pada peternakan rakyat sering kali dijumpai kasus-kasus gangguan reproduksi, hal ini tentunya sangat meresahkan para peternak, karena sapi betina yang dipelihara terus membutuhkan biaya pakan dan pemeliharaan, namun tak kunjung bunting dan beranak sebagai keuntungan utama peternak. Umumnya kasus yang terjadi adalah sapi sapi indukan atau dara (belum pernah melahirkan) tidak kunjung menunjukkan gejala birahi  / brai / bengah, sehingga tidak dapat dikawinkan baik menggunakan metode kawin suntik maupun kawin alam.

Apa sih Tanda-tanda Sapi Birahi?

Tanda-tanda sapi birahi biasa disingkat  dengan 3A (Abang-Aboh-Anget / Alat kelamin luar merah, bengkak dan hangat), 2B (Bengah-Bengah / teriak-teriak), 2C (Clingak-Clinguk / Gelisah dan menaiki atau dinaiki sapi lain), dan 1D (Dlewer / keluar lendir kental trasparan dari kelamin).Meski tidak kesemua tanda terlihat jelas, gejala birahi tersebut sangat khas pada sapi betina yang telah mengalami pubertas dan sehat, lain hal nya dengan ternak yang mengalami gangguan reproduksi seperti hipofungsi ovarium, tidak satupun tanda birahi diatas terlihat, bahkan hingga berbulan bulan atau bertahun tahun, dimana semestinya birahi terus berulang 21 hari sekali setiap periodenya, jika ternak tidak bunting.

Postur indukan yang baik - siap dikawinkan

Postur indukan yang baik – siap dikawinkan

Tidak terjadinya siklus reproduksi normal pada ternak, yang disebabkan karena kegagalan atau insufisiensi produksi hormon gonadotropin yang berdampak pada tidak optimalnya atau bahkan kegagalan folliculogenesis (pembentukan folikel) di dalam ovarium / indung telur.

Karena di dalam ovarium tidak terbentuk folikel yang mengandung sel telur, hormon-hormon yang berasal dari ovarium pun tidak dapat diproduksi, seperti esterogen dan progesterone, sehingga hewan tidak mengalami gejala birahi.

Etiologi Hipofungsi ovarium

Hipofungsi ovarium, biasanya terjadi pada sapi perah dengan produksi tinggi, indukan yang baru pertama kali beranak, dan sapi yang masih menyusui pedetnya. Ada beberapa factor yang menyebabkan kondisi ini:

  • Defisiensi nutrisi yang menyebabkan hipofungsi (penurunan kinerja) organ;
  • Efek musim dan suhu lingkungan yang ekstrim;
  • Masalah genetik dengan lamanya rekondisi fungsi ovarium pasca beranak;
  • Respon suckling / menyusui (endocrine feedback reaction).Aktifitas menyusui akan menstimulasi sekresi hormon prolactin, yang menyebabkan perpanjangan masa unoestrous (tidak birahi) pasca melahirkan. Prolactin dapat mengurangi sensitifitas ovarium khususnya pada tingkatan kadar hormon-hormon pemicu birahi

Dampak produksi tinggi sapi perah terhadap hipofungsi ovarium, masih menjadi perdebatan, beberapa peneliti melaporkan terjadinya efek yang signifikan dan berpengaruh langsung, akan tetapi beberapa peneliti lainnya menyatakan bahwa produksi susu yang tinggi tidak memiliki pengaruh langsung terhadap fungsi ovarium, hanya saja keadaan ini akan menyebabkan penurunan berat badan dan defisiensi nutrisi yang menyebabkan terjadinya penurunan fungsi indung telur.

Defisiensi nutrisi karena gangguan metabolisme atau kurang pakan

Defisiensi nutrisi karena gangguan metabolisme atau kurang pakan

Kekurangan energi merupakan hal yang penting, terutama jika menyebabkan penurunan berat badan yang drastis, hal ini biasanya terjadi pada sapi dara yang baru pertama kali melahirkan dimana fisiknya masih dalam keadaan bertumbuh. Terlebih jika sapi setiap harinya hanya menkonsumsi jerami padi, sebagai limbah pertanian dari sawah peternak, tanpa selingan pakan tinggi protein seperti konsentrat, penurunan bobot badan drastis setelah melahirkan rawan terjadi, bahkan saat kebuntingan trakhir pun hewan dalam kondisi berat badan kurang dari standar, sedang kebutuhan energi sangat besar untuk penopang kehidupan janin dan sapi itu sendiri.

Defisiensi mineral seperti pospor, copper, cobalt, magnesium, serta asupan fito-esterogen (tanaman yang memiliki kandungan kimia mirip hormon reproduksi) dapat menginisiasi terjadinya hipofungsi ovarium. Disamping itu gangguan metabolism yang parah seperti ketosis juga menyebabkan gejala serupa.

Gejala Klinis Hipofungsi Ovarium

  • Hewan tidak menunjukkan gejala birahi baik itu dara maupun indukan (dapat terjadi selama beberapa siklus).
  • Pada pemeriksaan palpasi rektal yang dilakukan dokter hewan atau petugaskesehatan hewan, ovarium teraba kecil, rata dan halus, khususnya pada dara, folikel masih premature sebesar 1.5cm; tidak teraba adanya corpus luteum baik yang sedang berkembang maupun regresi; pada sapi indukkan, terkadang ovarium teraba dengan bentuk yang tidak beraturan karena adanya sisa korpus luteum dan korpus albican yang telah lama teregresi sehingga terkadang rancu untuk membedakannya dengan folikel yang baru berkembang

Untuk meneguhkan diagnosis, pemeriksaan kedua dapat dilakukan pada hari ke 10 setelah pemeriksaan pertama, jika ovarium tersebut hipofungsi maka tidak aka nada perubahan yang terjadi dari pemeriksaan pertama, namun jika ovarium tersebut normal, maka akan terbentuk corpus luteum.

Terapi Siklus Birahi Sapi

Perbaikan pakan dan nutrisi harus dilakukan, khususnya peningkatan asupan energi, untuk rekondisi berat badan ternak dan menjaga kestabilan metabolism tubuhnya.

Stimulasi aktivitas ovarium dapat dilakukan dengan menginduksi pertumbahan folikel dan siklus birahi normal menggunakan obat-obatan hormonal berdasarkan dari pemeriksaan dokter hewan sebelumnya. Pengobatan ini juga akan mengakibatkan terjadinya superovulasi, karena itu pada birahi pertama yang terjadi setelah pengobatan tidak disarankan untuk mengawinkan ternak tersebut.

 

Literatur: Arthur GH, dkk. 1989. Veterinary Reproduction and Obstetric – 6th Edition. Bailliere Tindal: London

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.