Mengenal Sapi Bali

sapi baliDikalangan peternak sapi dan masyarakat pulau Bali-Lombok, sapi bali sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di padang gembala yang hijau dan luas di kedua pulau tersebut sering terlihat koloni sapi bali sedang merumput, turun minum dan bermain bersama kawannannya. Sepintas sapi-sapi tersebut terlihat liar tak bertuan, bahkan kadang kala tak bertali dan bebas berlarian, namun jika dicermati lagi,  disisi padang gembala itu akan kita temui para peternak yang menggembala ternaknya. Hal ini umum dilakukan masyarakat pedesaan pulau Bali dan Lombok, memelihara ternaknya dengan sistem pasture (gembala).

Sapi yang bernama latin Bos sondaicus ini merupakan sapi asli Indonesia yang populasinya terbanyak dengan penyebaran yang luas dibanding dengan jenis sapi lokal lainnya, seperti sapi madura dan sapi aceh. Sapi bali terdapat di sebagian besar propinsi di Indonesia, jumlah sapi bali terbanyak hingga saat ini terdapat di propinsi Bali, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan.

Ciri Khas Sapi Bali

Warna coklat bata hingga kehitaman merupakan ciri khas sapi bali, disamping warna putih di kaki bagian bawah yang membuat sapi bali sering dijuluki sebagai “sapi berkaus kaki”. Warna ternak sapi balitubuh sapi bali dapat berubah sesuai dengan umur nya, pada sapi jantan akan terlahir dengan warna sawo matang, kemudian puber di usia 1,5 tahun dengan warna coklat kemerahan, selanjutnya akan terus menggelap dan menjadi coklat gelap hingga hitam pada umur 3 tahun. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh hormone reproduksi yang dihasilkannya, karena itulah, sapi dewasa yang dikebiri akan dapat berubah warna dari coklat kehitaman menjadi coklat muda atau merah bata.

Selain warnanya yang menciri, sapi bali dapat dikenali dengan badannya yang sedang padat dengan dada dalam, tidak berpunuk, kaki ramping pendek menyerupai kerbau, memiliki garis belut/garis hitam memanjang mulai gumba hingga pangkal ekor, cermin hidung dan ujung ekor berwana hitam dan bertanduk arah keluar untuk jantan dan kedalam untuk betina.

Sejarah Sapi Bali

Para peneliti menduga bahwa sapi bali berasal dari banteng liar (Bibos bantheng) terdomestikasi sebelum 3500 SM di Indonesia atau Indochina, kemiripan genetic antara kedua jenis family bovidae ini sangatlah dekat, hingga kini populasi banteng liar masih dapat dijumpai di hutan lindung Baluran di ujung timur pulau jawa dan di hutan ujung kulon, Jawa Barat. Pusat terjadinya domestikasi diperkirakan di pulau bali, karena pulau bali diketahui sebagai pusat gen / bank gen sapi bali, disamping itu sapi bali yang berasal dari Nusa Penida diyakini sebagai pure breed sapi bali di Indonesia.

Penyebaran sapi bali mulai tercatat pada tahun 1890 dimana pemerintah Belanda mengirimkan ribuan sapi bali ke Sulawesi untuk langsung didistribusikan kepada para peternak disana, sejak saati itulah sapi bali mulai berkembang pesat di seulawesi.

Sedangkan perjalanan sapi bali ke pulau Lombok terjadi mulai abad ke-19, dibawa oleh Raja-Raja yang datang dan pergi dari pulau Bali. Selain penyebaran dalam negeri, sejarah juga mencatat popularitas sapi bali pada abad ke 19 yang diekspor ke luar negeri, yakni ke semenajung Cobourg – Australia untuk diperkenalkan pada tahun 1827 dan 1849, kemudian diekspor sebagai sapi kebiri untuk dipotong di Hongkong, Filipina, dan hawai, juga dikirim ke Texas, USA dan New South Wales untuk diteliti lebih lanjut.

Ketenaran pengiriman sapi bali dari pulau dewata ternayata tidak dapat bertahan lama, sejak wabah penyakit jembarana pada tahun 1964, pulau bali sudah tidak diperbolehkan mengeluarkan sapi bakalan, peran ini pun akhirnya digantikan oleh propinsi Nusa Tenggara Barat yang juga memiliki populasi sapi bali dalam jumlah besar.

Keunggulan Sapi Bali

Minat masyarakat terhadap sapi bali dari jaman ke jaman terjadi sedemikian rupa karena sapi asli nusantara ini memiliki banyak keunggulan yang prospek bagi dunia peternakan, diantaranya: mudah beradaptasi bahkan dilingkungan yang buruk, subur / cepat beranak, Conception Rate (jumlah ternak bunting dari populasi yang dikawinkan) sekitar 85,9%, Calving Rate (jumlah kelahiran yang terjadi dari populasi yang bunting) berkisar 70-81%, Karkasnya sebesar 52-57,7%, cita rasa daging yang kuat, dan kadar lemak rendah dan tanpa marbling cocok untuk masakan asli indonesia seperi rending dan bakso, namun memang kurang cocok untuk di olah sebagai steak.

Dilain pihak, sapi bali juga memiliki beberapa kelemahan yang harus diperhatikan, yakni: peka terhadap penyakit jembrana dan Malignant Catarrhal Fever dimana tingkat kematiannya dapat mencapai 100%, akan tetapi diketahui sapi bali asli Nusa Penida memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut, sehingga saat ini telah dimanfaatkan untuk pembuatan vaksinnya. Selain itu, produktifitas dan reproduktifitas sapi bali dapat menurun jika dilakukan perkawinan silang dengan sapi yang berbeda sub genusnya, hal tersebut akan menghasilkan sapi jantan steril, yang mana struktur dan fungsi organ reproduksinya tidak berkembang normal. Oleh karena itulah, saat ini sedang digalakkan pemurnia genetic sapi bali dengan mengawinkannya dengan Banteng liar yang merupakan asal muasal variasi genetic sapi bali.

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.