Apa Saja Persiapan Kelahiran Sapi

PecintaSatwa.com – Kelahiran pedet tentu sangat ditunggu-tunggu oleh para peternak, terlebih peternak rakyat yang manjadikan sapinya sebagai tabungannya, pedetlah bonus dari tabungan yang sudah lama dinanti. Secara alami sapi dapat melahirkan sendiri tanpa bantuan manusia, akan tetapi ada beberapa kondisi yang disebabkan kebiasaan-kebiasaan saat pemeliharaan seperti selalu mengikat sapi dalam kandang, membuat resiko kesulitan kelahiran terjadi pada induk sapi. Karena itu pada masa-masa menjelang kelahiran, peternak harus ekstra waspada dan memberi perhatian lebih pada sang “mama sapi”.

Sejak diketahui bunting muda melalui pemeriksaan per rektal (ngrogoh jawa red.), peternak harus sudah mulai berhati-hati memelihara sapinya. Induk sapi sebaiknya tidak dipekerjakan di ladang, kebersihan kandang pun harus diperhatikan, jangan sampai ada lantai licin yang membahayakan sapi. Dokter hewan atau paramedic yang memeriksa kebuntingan muda biasanya akan memberikan suntikan vitamin dan menyarankan peternak untuk menambahkan mineral pada makanan sapi dengan menjaga kebuntingan dan mengoptimalkan tumbuh kembang janin dalam rahim sapi. (Perlu Anda tau: Apa Saja Penyebab Keracunan pada Ternak? )

Persiapan Kelahiran Pedet

Setelah masuk kebuntingan 8 bulan, sebaiknya kandang melahirkan dan kandang pedet sudah mulai dipersiapkan. Lebih baik sapi tidak ditali terus menerus. Pemeliharaan sistem koloni / beberapa ekor sapi dilepaskan dalam satu kandang terbukti lebih baik dan dapat mengurangi kemungkinan kesulitan melahirkan / distokia pada sapi.  Lantai kandang sebaiknya berupa lantai bermatras, atau lantai yang telah dilapisi sebuk gergaji, untuk memudahkan induk sapi berdiri dalam keadaan bunting tua dan  bergerak melatih otot panggul, hindari lantai ubin yang licin agar sapi tidak terpeleset.

Pada usia kebuntingan akhir, tenaga medis veteriner akan melakukan pemeriksaan per rektal kembali untuk memastikan posisi sapi. Dikatakan normal tanpa kesulitan apabila kepala dan kaki depan pedet sudah berada di depan mulut rahim, besar kepala dan bahu pedet tidak lebih besar dari rongga panggul induknya. Apabila terdiagnosa adanya abnormalitas posisi, tenaga medis akan memberikan sedikit pijatan lembut untuk merangsang janin berotasi ke posisi normal, kemudian akan diinformasikan kepada peternak tentang kondisi ini, sehingga pada hari kelahiran peternak telah siap apabila perlu dilakukan penarikan, atau bahkan operasi Caesar jika diperlukan, sebagai langkah terakhir.

Pakan untuk Sapi Hamil

Sejak kebuntingan 8 bulan biasanya mulai dilakukan pemberian konsentrat dengan porsi lebih banyak, sebagai support produksi susunya kelak, terutama pada sapi perah, yang biasa disebut “nyethut (Jawa red.)”. induk sapi diberi konsentrat sebanyak perkiraan susu yang dapat dihasilkan sapi dengan rumus ½ X prediksi produksi susu. Apabila diperkirakan sapi tersebut dapat memproduksi 20 Liter susu / hari, maka konsentrat yang diberikan sebanyak 10 kg / hari. Perlakuan ini tetap dilanjutkan hingga induk sapi melahirkan dan masuk masa laktasi, disesuaikan dengan peningkatan jumlah porduksi.

Konsentrat yang diberikan harus memiliki imbangan mineral kalsium dan fosfor yang cukup, idealnya 2:1 untuk mencegah terjadinya ambruk pada masa menjelang dan pasca kelahiran. Karena selama masa kebuntingan mineral untuk tumbuh kembang janin dan produksi susu diserap dari tulang, karena itu sebagai imbangan harus diberi asupan mineral tambahan dari makanan.

Masa-masa mendekati kelahiran biasanya induk sapi mulai mengalami penurunan nafsu makan, padahal untuk melahirkan dibutuhkan tenaga yang cukup besar, berasal dari asupan nutrisi yang cukup. Peternak harus pintar-pintar membujuk sang induk untuk makan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nafsu makan sapi adalah dengan menaburkan jenis pakan tertentu yang memiliki aroma lezat yang disukai sapi, sehingga pakan dibawahnya pun dimakan, seperti ditambahkan buah nangka, kelapa, atau konsentrat yang wangi dan disukai sapi.

Tanda-Tanda Sapi Sebelum Melahirkan

Beberapa hari menjelang kelahiran, akan terlihat leleran bening atau kekuningan pada alat kelamin luar sapi (vulva), konsistensinya kental dan semakin banyak saat mendekati hari kelahiran. Ambing sapi akan terlihat besar merekah, keempat putingnya terlihat menegang memerah dan membesar, beberapa induk sudah terlihat meneteskan susu. Pergerakan sapi mulai terlihat berat, dan lebih sering duduk.

Saat masa-masa melahirkan, akan terlihat sapi mulai gelisah. Duduk sambil melihat bagian perutnya, berdiri, pindah mencari tempat yang nyaman, dengan mengendus-ngendus daerah disekitranya. Pada proses kelahiran, sapi biasanya dalam posisi rebah samping, terus merejan, keluar air ketuban (pecah ketuban), mulai keluar kaki depan sapi, kemudian moncong mulai terlihat, hingga setengah badan mulai terlihat keluar, diakhiri dengan keluarnya pedet secara sempurna. Beberapa ekor sapi, akan berdiri saat pedet baru keluar setengah badan, kemudian karena gerakan tubuh induk dan tarikan gaya gravitasi, tubuh pedet pun keluar dengan sempurna dan jatuh di alas kandang. ( Simak pula: Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?)

Proses Kelahiran Pedet

Pedet baru lahir

Pedet baru lahir

Induk akan menjilati pedetnya sesaat setelah melahirkan. Jilatan ini berfungsi untuk membersihkan tubuh pedet dari sisa-sisa air ketuban, sekaligus sebagai pijatan untuk merangsang kinerja syaraf dan pernafasan pedet. 15-30 menit kemudian, pedet akan mulai belajar berdiri, kemudian terjatuh, kemudian berdiri lagi, terus menerus hingga dapat berdiri dan melangkah mencari puting susu induk. Kurang dari 60 menit setelah kelahiran biasanya pedet sudah mulai menyusu pada induknya untuk pertama kali, dengan lahapnya menghisap kolostrum yang berperan penting bagi daya kekebalan tubuh pedet.

Proses kelahiran diatas terjadi dalam keadaan normal dan alami tanpa kesulitan. Peternak atau anak kandang cukup memantaunya dari jauh, tidak perlu terlalu dekat karena dapat membuat sang induk tidak nyaman, sehingga lebih lama prosesnya. Anak kandang dapat meninggalkan induk dan pedet tersebut setelah pedet menyusu dan menyundul ambing induknya, sebagai tanda pedet tersebut sehat, dan normal.

Untuk kasus khusus yang diperlukan penarikan atau perlakuan tertentu, peternak dapat berkordinasi dengan tenaga medis setempat atau bersama-sama kelompok ternak melakukan pemantauan hingga pertolongan darurat jika diperlukan. Bagaimana pun saat melahirkan sang induk akan berjuang keras untuk anaknya, sudah seharusnya sebagai peternak kita menyayanginya dengan memberi dukungan dan pertolongan secepat mungkin jika diperlukan. (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.