Persebaran dan Habitat Penyu Hijau

Indonesia masih menyimpan banyak kekayaan alam laut yang patut mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakatnya. Sebagai negara megabiodiversity, tentu bukan sebutan yang asal diberikan kepada Negeri kaya akan sumber daya alam ini. Keanekaragaman fauna laut yang melimpah ruah tetap menjadi salah satu priotitas penting dalam menjaga kelestarian populasi suatu individu.

Penyu Hijau

Penyu Hijau

Penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan jenis penyu yang mayoritas mendiami perairan pasifik Indonesia. Serupa dengan namanya, penyu hijau memiliki corak warna hijau pada cangkangnya yang disebabkan oleh struktur lemak yang dikonsumsi berasal dari alga, rumput laut dan plankton sebagai makanannya. Penyu hijau yang sering ditemukan saat ini, di Indonesia mulai ditangkarkan salah satunya di Pulau Penyu, Nusa Penida, Pulau Bunaken dan Pantai Sukamade, Banyuwangi.

Penyu hijau dapat ditemukan di daerah perairan zona neritik yakni kedalaman kurang dari 200 meter. Pada zona tersebut, penyu dapat diketahu sedang mengambil makanan dan menjaga keseimbangan sirkulasi dan metabolisme tubuh dengan muncul ke permukaan dalam waktu tertentu untuk mengambil oksigen. Penyu hijau juga dapat beradaptasi dalam laut dengan kadar garam yang berbeda-beda. Kelebihan kadar garam akan dikeluarkan melalui air mata sehingga meskipun dalam konsentrasi kadar garam tinggi, penyu tidak akan mengalami hipernatremia (kelebihan natrium).

Morfologi dan Behaviour Penyu Hijau

Penyu hijau termasuk ke dalam hewan ovipar / bertelur. Penyu hijau dinyatakan dewasa seksual saat usia 25 tahun. Penyu dapat berusia hingga 80 tahun dengan berat 400 Kg. Cangkang penyu sangat kuat dan berbentuk konkaf sehingga menjadi alat perlindungan sekaligus mempercepat akselerasi di perairan. Penyu dapat hidup di balik batu karang dan mempunyai tugas menjaga ekosistem perairan dangkal. Keberadaan penyu juga menyeimbangkan rantai makanan laut serta membantu mengurangi populasi ubur-ubur dan invertebrata laut yang sifatnya parasitisme.

Migrasi Penyu Hijau

Migrasi Penyu Hijau

Penyu lebih suka mendiami perairan dengan suhu 20 derajat celcius atau perairan subtropik. Banyak penyu hijau yang bermigrasi tiap tahunnya telah ditemukan terdampar di pantai Sukamade. Melihat fenomena ini memang ada indikasi bahwa penyu-penyu tersebut ingin menemukan suaka baru untuk melestarikan individunya disamping memang behaviour penyu yang ingin memperluas wilayah teritorialnya. Penyu jantan dewasa akan memperluas wilayahnya dengan menempuh perjalanan panjang setiap setahun sekali. Berbeda dengan betina yang akan bermigrasi tiap 4-5 tahun sekali, selain untuk membuat wilayah teritorial juga untuk meletakkan

telurnya. Sebagai hewan yang terancam kepunahan, usaha pelestarian penyu harus digalakkan baik oleh pemerintah, masyarakat dan lembaga peduli konservasi.

Upaya Pelestarian Penyu Hijau

Penyu hijau telah diketahui masuk IUCN Red List. Sebagai salah satu satwa yang terancam punah, penyu hijau layak mendapat perhatian lebih dan membantu proses kelestariannya. Menurunnya populasi penyu hijau banyak disebabkan oleh pembangunan wilayah pesisir dan perusakan habitat penyu hijau disamping eksploitasi secara besar-besaran di laut. Selain itu minimnya pengetahuan dalam sistem penetasan telur penyu juga menjadi kendala minimnya populasi telur penyu yang dilahirkan.

Wilayah pesisir pantai yang menjadi sarang bagi penyu betina untuk meletakkan telurnya (nesting) saat ini sudah mulai tidak aman. Pada malam hari, penyu betina akan menggali lubang di dalam pasir untuk meletakkan kurang lebih 100-120 butir telur. Perlu adanya upaya untuk menampung dan membantu penetasan telur penyu dari ancaman baik itu kerusakan pesisir pantai maupun predator seperti biawak, babi hutan, dan ular.

Penangkaran Penyu HijauKonservasi penyu di pantai Sukamade patut menjadi contoh bagi peduli penyu yang lain. Untuk memelihara kelestarian penyu memang dibutuhkan usaha yang ekstra, namun manfaat dengan menjaga kelangsungan penyu akan sangat bermanfaat bagi pengetahuan generasi masa depan. Penguasaan terhadap keanekaragaman fauna harus tertanam pada setiap benak masyarakat sehingga keseimbangan alam juga terjaga yakni alam membutuhkan manusia dan manusia membutuhkan alam.

Referensi :

Broderick, A. et al. 2006. Are green turtles globally endangered? Global Ecology and Biogeography, 15: 21-26.

 

Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, drh., M.Si.
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master Biologi Reproduksi UNAIR (2014), Praktisi Large Animal (Beef Cattle) & Aquatic Animal dan Dosen Dep. Reproduksi Fak. Kedokteran Hewan UNAIR Banyuwangi.