Penanganan Bobot Sapi yang Merosot

PecintaSatwa.com – Bisnis feedlot atau penggemukkan sapi terus menggeliat dengan aktif di Indonesia. Setiap tahun permintaan pasar selalu meningkat, sehingga tiada habisnya Pemerintah mencanangkan Program-Program Strategis demi meningkatkan produksi daging dalam negeri, akan tetapi upaya tersebut agaknya masih terkalahkan dengan besarnya kebutuhan masyarakat, dan Importasi pun tak dapat dihindari. Oleh karena itu, para peternak rakyat dan industri feedlot terus berpacu meningkatkan kualitas produksi mereka dengan mengotimalkan performa sapi-sapi yang dipelihara. (baca juga: Sapi Kembung, bagaimana mengatasinya)

Pemeliharaan sapi pedaging, baik dalam skala kecil maupun besar kerap mengalami berbagai masalah yang menjadi kendala meningkatnya kualitas kesehatan sapi yang berimbas pada Peningkatan Bobot Harian (PBH) / Average Daily Gain (ADG). Hal tersebut sebenarnya hanyalah persoalan sederhana, namun kecepatan dan ketepatan penanganan menjadikan hal-hal kecil berdampak signifikan, seperti bobot sapi menurun drastis, dan harga jual dipasaran menukik tajam karena dianggap sapi sakit atau sapi potong paksa. Peternak dan petugas kandang dalam industri feedlot, harus cepat tanggap dan terampil mengatasi permasalahan-permasalahan kesehatan, terlebih pada pertolongan pertama dan darurat sebelum penanganan medis lanjut oleh dokter hewan, karena penanganan pertama tersebut mengambil peran utama pada besar tidaknya kerugian yang ditimbulkan selanjutnya.

Beberapa hal dibawah ini adalah kasus-kasus kesehatan yang kerap terjadi di peternakan sapi pedaging, dan penanganan pertama yang harus segera dilakukan:

Stress Transportasi

Sapi stress transportasi

Sapi stress transportasi

Kasus ini hampir selalu terjadi pada sapi-sapi bakalan yang baru datang. Di minggu pertama bobot hidupnya dapat turun 10-20% dari bobot awal pembelian. Stress transportasi disebabkan karena sapi kelelahan saat didistribusikan dari pasar atau antar peternakan yang kebanyakan berbeda kabupaten, provinsi, bahkan pulau. Saat diangkut menggunakan truk, sapi berdiri berjam jam dengan kondisi truk yang padat, apabila sapi tersebut duduk, akan segera diberdirikan karena khawatir terinjak sapi lainnya. Kadang kala sapi-sapi tersebut diistirahatkan sebentar untuk makan dan minum, namun tak jarang sapi langsung didistribusikan tanpa jeda istirahat.(Simak juga: Merawat PedetSapi Pedaging)

Setibanya di peternakan tujuan, sapi-sapi akan tiba dalam kondisi kelelahan, hal inilah yang memicu stress fisik, diperparah lagi dengan kondisi yang berbeda di peternakan baru, sapi harus beradaptasi dengan pakan dan lingkungan dalam keadaan yang kurang fit, akibatnya sapi-sapi bakalan ini menurun nafsu makannya, dan bahkan hingga sakit, sehingga bobotnya pun merosot drastis di bulan pertama, selanjutnya baru recovery di bulan selanjutnya.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya sapi yang menempuh perjalanan lebih dari 3 jam, diberi kesempatan istirahat makan dan minum di wilayah pertengahan antara tempat asal dan tempat tujuan. Sebelum diberangkatkan sapi sebaiknya diberi obat anti stress yang dilarutkan dalam minumnya. Obat ini banyak terdapat dipasaran, biasa digunakan juga pada unggas, di dalamnya mengandung kombinasi vitamin A, D, E dan suplemen lainnya. Selain itu, truk pengangkut sapi diusahakan merupakan truk yang memang benar-benar mumpuni untuk transportasi ternak, tidak terlalu padat dan tidak dikendarai dengan kecepatan terlalu tinggi. selanjutnya, handling sapi di dalam truk dilakukan dengan baik khususnya cara penalian sapi, pastikan tali tidak terlalu pendek, karena dapat menyakiti atau melukai sapi, dan juga tidak terlalu panjang, karena berpotensi memperlebar ruang gerak sapi di dalam truk sehingga sapi sulit dikendalikan.

Musim Pancaroba

Demam 3 Hari Sapi

Demam 3 Hari Sapi

Keadaan cuaca yang berubah-ubah, seperti panas menyengat dan hujan deras biasa terjadi saat pergantian musim, dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Keadaan yang tidak nyaman ini membuat tubuh sapi down karena harus beradaptasi dari satu keadaan dengan keadaan lain yang sangat berberda, sapi pun akan mengalami stress fisik yang berdampak pada menurunnya nafsu makan, jika berlanjut sapi dapat menjadi demam atau terjangkit penyakit BEF / demam 3 hari, sehingga berat badannya menurun.

Solusi permasalahan ini hampir sama dengan penanganan stress transportasi, prinsipnya jika peternak melihat adanya potensi stress fisik pada sapi, segera campurkan anti stress dalam minum selama 2-5 hari tergantung keadaan. Perlakuan ini dapat didukung dengan pemberian pakan konsentrat yang harum dan pakan hijauan yang disukai oleh sapi, sehingga sapi tetap lahap makan setiap harinya, kekebalan tubuhnya kuat dan terhindar dari penyakit.

Lanjut ke Segera Tangani – Sebelum Bobot Sapi Merosot (part2)

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.