Peningkatan Populasi Penyu Hijau

Tukik dilepasPenyu hijau (Chelonia mydas) merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan IUCN Red list. Upaya untuk mempertahankan populasi penyu salah satunya dengan menjaga reproduksi penyu saat penetasan bayi penyu atau tukik. Tukik merupakan anakan penyu yang ditetaskan dalam jumlah banyak.

Jumlah Telur Penyu

Penyu merupakan hewan ovipar yang bereproduksi dengan mengeluarkan telur-telur bakalan tukik. Normalnya penyu dapat bertelur sekitar 90-120 butir telur per sekali masa bertelur (nesting). Masa nesting penyu pada malam hari dan bisa mencapai 5 kali selama 11 hingga 18 hari. Praktis ada sekitar 500-800 butir telur yang bisa dihasilkan oleh seekor penyu betina dewasa dalam seminggu.

Ancaman Telur Penyu

Kolam tukik

Kolam tukik

Dengan jumlah telur per nesting yang luar biasa banyak, mengapa jumlah penyu masih termasuk daftar merah satwa yang harus dipertahankan eksistensinya? Kemanakah tukik yang berasal dari 500-800 butir telur yang dihasilkan oleh seekor penyu betina dewasa? Tentu bukan hanya disebabkan oleh kerusakan habitat maupun perburuan penyu secara besar-besaran melainkan sistem penetasan penyu yang tidak didukung sehingga presentase tetas tukik masih rendah. Bahaya bagi telur-telur penyu setelah masa nesting induk penyu antara lain, abrasi pesisir laut, kerusakan yang dibuat manusia, serta ancaman predator bagi telur penyu. Faktor-faktor itulah yang justru menyebabkan populasi penyu hijau masih perlu mendapat perhatian.

Sistem Penetasan Telur Penyu

Pentingnya membuat sistem hatchery yakni pola penetasan buatan untuk menggantikan telur yang telah ditaruh induk penyu di dalam pasir akan sangat membantu meningkatkan presentase tetas tukik.

Rumah hatchery tukik

Rumah hatchery tukik

Berikut ini adalah hal yang bisa dilakukan untuk membuat sistem hatchery telur penyu :

  1. Membuat sebuah pondokan untuk rumah hatchery dengan ventilasi yang cukup. Diperlukan jarak sekitar 10-25 meter dari garis pantai untuk mengantisipasi pasang surut air dan abrasi pesisir oleh air laut.
  2. Dari hasil riset Burgess et al., (2006) dianjurkan bahwa temperatur yang digunakan selama masa inkubasi adalah 26 derajat celcius. Temperatur maksimal adalah 30 derajat celcius, namun pertumbuhan tukik tidak seoptimal ketika pada suhu 26 derajat celcius baik dari ukuran tubuh maupun aktivitas pasca tetas..
  3. Di sekitar rumah pondokan lebih baik diberi kawat untuk mencegah bahaya predator seperti tikus, biawak, ular, dan musang.
  4. Dalam satu lubang pasir yang dibuat oleh seekor induk penyu bisa untuk menampung seluruh jumlah telur dalam sekali masa nesting, artinya perlu dibuat lubang yang sama dengan kedalaman kurang lebih 15-20 cm untuk menampung sejumlah telur dari satu induk. Penting juga untuk diberi jaring disekitar timbunan pasir untuk menghindari predator dari tanah. Timbunan pasir sebaiknya tidak basah dan tidak terlalu kering agar temperatur yang telah diterapkan tidak berubah.
  5. Langkah terakhir adalah pemberian name tag berupa papan penanda yang berisikan identitas telur, jumlah telur, tanggal dipindah, serta spesies penyu apabila ditemukan ada perbedaan varian.
  6. Penting juga diperhatikan bahwa selama pemindahan telur penyu dari dalam pasir asal nesting ke sistem hatchery dianjurkan tidak melebihi 2 jam serta posisi telur harus tetap sama dan tidak diperkenankan untuk dibolak-balik karena akan mengganggu masa embrionik.
  7. Telur-telur tersbut akan menetaskan tukik kurang lebih selama 45-60 masa inkubasi. Setelah masa tersebut, tukik sebaiknya jangan dilepaskan ke laut. Biarkan di kolam berisi air laut dan beradaptasi selama 14 hari. Terkadang tukik yang kurang aktif akan diketahui saat berada di dalam kolam sedangkan tukik yang aktif bisa langsung dilepaskan ke laut.
  8. Pelepasan tukik-tukik ke laut juga diperkenankan untuk disebar pada berbagai arah. Hal ini untuk meminimalisir adanya populasi besar dalam satu arus yang memancing perhatian predator seperti burung elang untuk memangsa.
  9. Tukik-tukik yang telah dilepaskan ke laut akan cepat beradaptasi dengan memakan fitoplankton, zooplankton maupun alga yang terdapat di permukaan laut.

Penerapan sistem hatchery untuk membantu penetasan telur penyu memegang peranan penting dalam meningkatkan populasi tukik sebagai bakal penyu. Efisiensi tetas hingga mencapai 100% akan memberi manfaat lebih untuk menyelamatkan populasi penyu hijau dari daftar merah IUCN. Tindakan konservasi secara nyata terhadap satwa-satwa di Indonesia sudah selayaknya menjadi upaya kita bersama untuk menjaga daftar plasma nutfah yang terselamatkan.

 

Referensi :

Burgess, E., Booth, D., Lanyon, J. 2006. Swimming performance of hatchling green turtles is affected by incubation temperature. Coral Reefs, 25: 341-349.

 

Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, drh., M.Si.
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master Biologi Reproduksi UNAIR (2014), Praktisi Large Animal (Beef Cattle) & Aquatic Animal dan Dosen Dep. Reproduksi Fak. Kedokteran Hewan UNAIR Banyuwangi.