Pembibitan Babi

PecintaSatwa.com – Usaha breeding farm agaknya sudah harus dikembangkan maksimal. Tingginya kebutuhan daging konsumsi nasional menjadi tantangan tersendiri untuk dipenuhi, belum lagi kenaikannya setiap tahun. Bakalan dan ternak pasca sapih akan terus menipis apabila usaha pembibitan tidak digalakkan karena dari usaha tersebutlah dihasilkan calon-calon ternak sebagai bahan baku industri feedlot. Tak terkecuali untuk peternakan babi.

Babi tergolong hewan ternak yang berprospek tinggi. Kemampuan beradaptasi yang tinggi didukung dengan jumlah anakan sekali lahir dapat lebih dari 10 menjadikannya sebagai hewan ternak primadona di dunia. Oleh karena itu, dalam artikel sederhana ini akan dibahas seluk-beluk pembibitan babi dan tips untuk para peternak.

Target ideal pembibitan Babi

  • Tingkat reproduksi: 10-11 piglet/kelahiran, sehingga 2 gilt/sow (induk babi) minimal menghasilkan 20-22 piglet yang sehat setiap tahun
  • Survival rate 85% hingga sapih. Kadang kala banyaknya anakan yang dilahirkan induk babi, terdapat beberapa ekor yang tidak bertahan, bisa kerena lahir lemah, kalah bersaing saat menyusu, jumlah ambing induk kurang dari jumlah anak yang dilahirkan, atau karena induk tidak memiliki sifat keibuan (maternity) yang baik.
  • Laju pertumbuhan: dari anak babi (piglet) baru lahir dengan berat 1-1,5 kg dapat mencapai 90 kg setelah 170 hari dan karkas 77%,
  • Feed Confertion Rate / FCR 3,5 kg, maksudnya untuk menghasilkan pertambahan berat hidup 1 kg, dibutuhkan pakan tidak lebih dari 3,5 kg bahan kering.
  • Untuk penggemukan dapat dipanen pada umur 4-6 bulan dengan berat 45-65 kg, dengan catatan tumbuh sehat dengan average daily gain minimal 0,2 kg / hari
  • Induk betina dapat berproduksi bagus hingga berumur 5 thn, atau 4-6 kali beranak. Apabila lebih dari umur tersebut produktivitas indukan masih bagus, dapat dibibitkan kembali hingga performa reproduksi turun atau kondisi tubuh tidak optimal

Baca : Tahukah Anda Tanda Babi Betina Birahi dan Perkawinannya?

superior gilt

superior gilt

Indukan babi betina yang baik:

  • Induk (gilts) superior, dapat beranak 9-10 anakan (piglet)/kebuntingan
  • Meternity bagus
  • Memiliki 12-14 ambing
  • Sehat, berkaki kuat, otot tebal dan performa tubuh proporsional

Reproduksi Babi

  • Pejantan minimal berumur 7,5 bulan, paling optimal setelah 15 bulan-4 tahun, rasio: 1 pejantan untuk 10-12 betina
  • Betina minimal 7 bulan
  • Siklus birahi / estrus betina 18-24 hari, normalnya 21 hari sekali, panjang birahi 12-60 jam
  • Lama kebuntingan 114 hari (3 bulan, 3 minggu, 3 hari)

Merawat induk babi dan piglet

  • Sejak 1 minggu sebelum melahirkan tempatkan di kandang yang bersih, kering dan hangat, dilapisi bedding berupa pasir, jerami atau serbuk gergaji
  • 35% piglet yang lahirkan tidak bertahan hingga sapih, kerena diserang induk, lahir lemah, diare, persaingan menyusu, tidak mampu bertahan dengan lingkungan
  • Apabila jumlah piglet yang dilahirkan lebih dari jumlah ambing, kelebihan jumlah piglet tersebut disusukan ke induk lain atau diberi susu sapi
  • Piglet yang baru lahir dipotong gigi runcing nya, dan tali pusarnya hingga tersisa 2,5-3,5cm, beri iodin
  • Piglet umur 3-5 hari dan umur 2 minggu diberi multivitamin yang mengandung zat besi (Fe) untuk mencegah anemia
  • Piglet mulai diajari makan setelah berumur 1 minggu
  • Deworming / pemberian obat cacing piglet dilakukan umur 3-5 minggu
  • Penyapihan umur 8 minggu
  • Terapi anti kutu mulai umur 7-8 minggu
  • Indukan dapat dikawinkan hingga 6 kali beranak atau hingga umur 4-5 tahun, apabila produksi masih baik, dapat trus menjadi bibit.

Simak: Ini Lho Ragam Babi Asli Indonesia

Recording yang perlu dilakukan

  • Performa Pejantan
  • Produktifitas indukan betina
  • Pertumbuhan piglet pasca sapih
  • Pertumbuhan grower dan finisher

Selamat beternak…! (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.