Owa Indonesia

siamang dengan kantung suara

siamang dengan kantung suara

Jika Anda berkunjung ke kebun binatang di pagi hari, Anda pasti akan mendengar berbagai macam suara binatang yang bernyanyi bersahut-sahutan. Salah satu ‘nyanyian’ paling mencolok datang dari area primata, dihuni oleh puluhan monyet dan kera yang sedang bersemangat di pagi hari. Di sinilah Anda akan menemukan kera berlengan panjang yang sibuk bergelayutan dari satu dahan ke dahan lain, berteriak sesuka hati, dan bernyanyi dengan suara keras yang bisa didengar hingga jarak 1 kilometer. Kera-kera berlengan panjang ini adalah Owa, para penyanyi hutan dari hutan hujan Asia Tenggara.

Tidak banyak orang yang mengenal Owa, kelompok primata yang termasuk dalam suku hylobatidae. Kelompok kera berlengan panjang ini disebut gibbon dalam bahasa inggris, dan hanya bisa ditemukan di hutan hujan tropis di seluruh daratan Asia Tenggara; termasuk Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Kelompok primata ini juga sering disebut “lesser ape” atau kera kecil, merujuk pada perawakannya yang tidak berekor (ciri khas kera) dan ukurannya yang lebih kecil dari kera-kera lain di dunia (seperti Orangutan, Simpanse dan Gorila).

Jenis Owa

Keluarga hylobatidae sendiri terdiri atas setidaknya 17 jenis owa dari 4 genus yang berbeda, beberapa bersifat endemik dan hanya bisa ditemukan di daerah atau pulau tertentu. Di Indonesia terdapat setidaknya 7 jenis Owa yang tersebar di beberapa hutan hujan yang tersisa di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Owa Jawa (Hylobates moloch), misalnya, hanya bisa ditemukan di beberapa hutan yang tersisa di Jawa Barat hingga Jawa Tengah; sementara Siamang Kerdil atau Bilou (Hylobates klossi) hanya ditemukan di Mentawai. Siamang (Symphalangus syndactyus) merupakan anggota terbesar dari keluarga ini, dan tersebar di Sumatra dan beberapa daerah di Semenanjung Malaya.

Owa merupakan hewan arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktunya di atas kanopi pohon yang tinggi, dan jarang sekali turun ke tanah kecuali sedang terdesak. Tidak seperti hewan arboreal lain yang melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, Owa memiliki teknik khusus yang disebut dengan branchiating; berayun-ayun dari dahan ke dahan dengan tangannya yang panjang. Kemampuan berayun ini didukung oleh beberapa fitur spesial di tubuhnya, seperti bahu yang fleksibel, jari yang panjang, serta sendi pergelangan tangan yang dapat ‘terlepas’ sementara waktu untuk mendukung manuvernya di pepohonan. Ketiga hal ini membuat Owa dinobatkan sebagai hewan arboreal tercepat di dunia, dengan kecepatan maksimal hingga 55 km/jam!

Baca: Tentang kukang

Tidak seperti primata lain, Owa merupakan hewan monogami yang setia pada pasangannya. Mereka hidup berpasangan atau dalam kelompok keluarga kecil, terdiri dari 2 ekor induk dan 1-2 ekor anak yang akan pergi mencari daerah sendiri setelah dewasa. Mereka tinggal dalam satu daerah teretori yang cukup luas, mencakup puluhan hektar hutan dengan berbagai sumber makanan yang tersedia di dalamnya. Satwa ini cukup sensitif dengan kehadiran Owa asing di daerah kekuasannya, dan akan bertindak agresif pada setiap penyusup yang datang. Untuk menandai daerah kekuasaan masing-masing.

Ciri Khas Owa

hylobates albibarbis ungko branchiating

hylobates albibarbis ungko branchiating

Ciri lain dari Owa adalah suaranya yang unik dan keras yang digunakan untuk menandai daerah kekuasaan mereka. Beberapa jenis owa memiliki ‘kantung tenggorokan’ yang dapat membesar dan berfungsi sebagai ruang resonansi untuk menghasilkan suara yang keras dengan nada yang tepat—bahkan bisa terdengar hingga jarak 1 km. Satwa ini memiliki berbagai tipe suara yang unik, mulai dari lengkingan, dengungan, hingga teriakan keras dan bersemangat. Setiap jenis owa memiliki ‘lagu’ dan ‘genre’ sendiri, yang merupakan perpaduan yang khas dari masing-masing jenis suara tersebut. Misalnya saja, Siamang memiliki suara yang keras dan mengentak seperti penyanyi rock, sementara Owa Jawa memiliki lagu yang lebih lembut seperti jazz atau campursari. Unik sekali ya?

Sayangnya, keberadaan satwa cantik ini terganggu akibat ulah beberapa manusia yang tidak bertanggung jawab. Beberapa jenis Owa terancam karena kehilangan habitat hidupnya yang terus dirambah untuk dijadikan kebun sawit, perumahan, pertambangan, dan penebangan liar. Tingkahnya yang unik juga membuat Owa sering diburu untuk dijadikan hewan peliharaan, membuat harganya cukup mahal di pasaran. Hal ini membuat beberapa jenis Owa digolongkan dalam daftar spesies terancam punah (edangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Di Indonesia, seluruh jenis Owa dilindungi oleh undang-undang no 5 tahun 1990 dan dilarang untuk dipelihara, diburu, maupun diperjual-belikan atas alasan apapun, dengan hukuman maksimal 5 tahun penjara bagi siapapun yang melanggarnya.

Sebagai satwa khas Asia Tenggara, sudah sepantasnya kita mengenal dan melindungi keberadaan dan habitat para penyanyi hutan ini. Atas alasan tersebut, selama beberapa minggu ke depan kami akan menyajikan beberapa artikel mengenai jenis-jenis owa dengan suara unik yang ada di Indonesia, mulai dari Siamang si penyanyi rock dan seriosa, Owa jawa yang beraliran jazz, siamang kerdil yang blues, dan lain-lain. Semoga Anda bisa menikmati artikel tersebut, dan semoga kita bisa mengenal lebih dekat satwa unik yang satu ini. Salam!

Simak pula: Penetasan Tukik – Penyelamatan Penyu Hijau

 

Panji Gusti Akbar