Mengenal Owa Jawa

owa jawa

owa jawa

Jauh di pedalaman hutan pegunungan Gunung Gede-Pangrango, dua bayangan besar terlihat berayun-ayun di kanopi pohon. Dengan lincah mereka mengayunkan tangan dari satu dahan ke dahan lain, berlompatan dengan manuver akrobatik di pucuk-pucuk tertinggi hutan. Sekilas mereka tampak sangat menikmati kegiatan ini, seakan-akan tidak takut akan ketinggian tempat mereka bermain-main. Secara serentak mereka berhenti di salah satu dahan hutan, berteriak kencang dengan suara tinggi tapi lembut, lalu berayun-ayun kembali ke lebatnya rimba yang tersisa. Mereka adalah Owa Jawa (Hylobates moloch), para pesinden dari pulau Jawa Dwipa.

Owa Jawa merupakan primata non-manusia yang paling besar jumlahnya di pulau Jawa. Seperti namanya, Owa Jawa merupakan satwa endemik yang hanya bisa ditemukan di pulau ini, mendiami beberapa fragmen-fragmen hutan yang tersisa di Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Persebarannya terbatas di daerah hutan dengan tegakan pohon yang tinggi, tempat mereka tinggal dan mencari makan. Mereka adalah satwa omnivora yang memakan berbagai jenis buah, dedaunan, serangga, vertebrata kecil, hingga telur burung yang diambil dari sarangnya.

Ciri Khusus Owa Jawa

Dalam bahasa inggris, Owa Jawa disebut Silvery Gibbon, merujuk pada warna bulu keperakan yang mereka miliki. Mereka memiliki tubuh berukuran sedang, dengan berat mencapai 8 kilogram. Ciri khas dari owa ini adalah warna hitam/abu-abu gelap di bagian atas kepalanya, membentuk pola seperti topi yang khas. Tangannya panjang bila dibandingkan dengan anggota tubuhnya yang lain, dan sering diangkat ke atas untuk menyembangkan tubuhnya ketika berjalan di tanah. Mukanya berwarna gelap, dengan pola seperti alis pucat yang membuatnya terlihat menggemaskan.

Bersama dengan beberapa jenis owa dan ungko lainnya, mereka digolongkan dalam keluarga Hylobatidae alias lesser apes, terdiri atas kera berukuran sedang dengan ciri khas lengan yang sangat panjang, kemampuan berayun di kanopi hutan, serta suara panggilannya yang khas. Owa jawa memiliki tubuh yang termodifikasi dengan baik untuk hidup di tajuk-tajuk tertinggi pepohonan hutan. Lengannya yang panjang berfungsi sebagai alat gerak utama untuk berayun-ayun dari satu dahan ke dahan lain, berbeda dengan hewan arboreal lain yang lebih suka melompat menggunakan tungkai belakangnya. Kemampuan berayun atau branchiating ini membuat mereka sangat lincah di pepohonan, dengan kecepatan maksimal 55 km/jam dan dinobatkan sebagai satwa arboreal tercepat di dunia!

Baca: Surili – Primata Endemik Pulau Jawa

Seperti jenis owa lain, Owa Jawa merupakan satwa monogami yang setia pada satu pasangan seumur hidupnya. Mereka dapat hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil berjumlah 4 ekor, terdiri dari sepasang induk dan anak-anaknya yang belum tumbuh besar. Owa Jawa betina dapat melahirkan satu ekor anak setiap 3 tahun, dengan masa kebuntingan 17 bulan. Anak Owa Jawa akan tinggal bersama induk mereka dalam 8 hingga 10 tahun, sebelum akhirnya pergi dan mencari pasangan untuk membentuk keluarga baru.

Habitat Owa Jawa

Satu keluarga Owa Jawa hidup dalam daerah teretori yang luas. Mereka sangat sensitif dengan individu lain yang masuk ke daerah kekuasaan mereka, dan akan menyerang begitu melihat ada penyusup yang datang. Untuk menandai daerah kekuasaan masing-masing, Owa Jawa betina menggunakan suaranya yang khas, menyanyikan lagu khusus yang disebut dengan morning call setiap pagi. Suara panggilan satwa ini cenderung lembut layaknya pesinden, namun sangat kuat dan bisa terdengar hingga jarak 1500 meter. Suaranya terdiri atas intro berupa nada yang pendek, diikuti dengan 8 nada yang lebih panjang, lalu nada ‘ref’ berupa nada panjang yang semakin meninggi, sebelum berakhir dengan nada-nada pendek lagi. Tidak seperti jenis owa lain, hanya Owa Jawa tidak melakukan duet antar jenis kelamin, dan hanya Owa Jawa betina yang bernyanyi setiap pagi.

Sama seperti kebanyakan primata lainnya, Owa Jawa mengalami penurunan populasi yang drastis di alam. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, namun yang paling berpengaruh adalah kerusakan habitat dan perburuan untuk dijadikan hewan peliharaan. Pembangunan besar-besaran di pulau Jawa telah merusak sebagian besar habitat satwa cantik ini, menyisakan beberapa fragmen hutan kecil yang terpencar-pencar seperti Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dan Taman Nasional Ujung Kulon. Bentuk dan kelakuannya yang lucu membuat banyak orang memburunya untuk dijual sebagai hewan peliharaan, meskipun hal tersebut dilarang oleh undang-undang.

Simak: Kukang Jawa yang makin Langka

Ancaman-ancaman ini membuat populasi Owa Jawa turun dengan cepat hingga hanya ada kurang dari 2500 individu dewasa yang tersisa, membuatnya digolongkan sebagai hewan terancam punah (Edangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Pemerintah Indonesia juga melindungi keberadaan spesies ini dalam UU no 5 tahun 1990 dan melarang segala jenis tindakan perdagangan, perburuan, maupun penyimpanan satwa ini dalam keadaan hidup dan mati; dengan ancaman penjara bagi siapapun yang melanggarnya. Beberapa upaya konservasi pun dilakukan untuk mendukung populasi satwa ini, baik secara eks-situ maupun in-situ, seperti pelepasliaran hewan hasil sitaan, pengembak-biakan di dalam penangkaran, dan lain-lain.

Semoga cucu-cucu kita masih bisa melihat keindahan satwa ini, para penyinden  hutan dari tanah Jawa Dwipa.

Baca pula: Tentang Kancil

 

Panji Gusti Akbar