Orangutan Sumatra dan Orangutan Kalimantan Apa bedanya?

“Masuk ke hutan, nyolong rambutan, dikejar-kejar sama orangutan.”

Anda tentu masih ingat lagu di atas bukan? Ya, plesetan dari lagu ‘Potong Bebek Angsa’ ini memang cukup populer bagi anak-anak, meskipun bukan bagian ‘resmi’ dari lagu tersebut. Anda pasti juga tahu hewan unik yang disebut di lagu tersebut, orangutan!, yang gambarnya tercetak jelas di uang kertas Rp.500,- lama. Hampir seluruh kebun binatang di Indonesia memiliki Orangutan, sehingga bentuk kera besar ini memang tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Tapi, tahukah Anda kalau sebenarnya ada 2 spesies Orangutan di Indonesia?

orang utan sumatera

Orang utan sumatera

Ya, orangutan terbagi menjadi 2 spesies berdasarkan tempat asalnya, yaitu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatra (Pongo abelli). Satwa ini awalnya tersebar di seluruh Asia Tenggara beberapa ribu tahun yang lalu, namun sekarang hanya bisa ditemui di kedua pulau tersebut (Kalimantan dan Sumatra). Satwa ini merupakan anggota dari familypongidae, satu keluarga dengan kerabesar lainnya seperti Gorila, Simpanse, dan Bonobo. Seperti jenis lain dari familypongidae, orangutan memiliki kedekatan genetis yang sangat besar dengan manusia, dengan kesamaan DNA mencapai 97%. Hal ini menjelaskan bagaimana hewan ini memiliki bentuk yang mirip dengan manusia.

Perbedaan antara Orangutan Kalimantan dan Orangutan Sumatra

orang utan kalimantan

Orang utan kalimantan

Seperti namanya, Orangutan Kalimantan (P. pygmaeus) hanya bisa ditemukan di pulau Kalimantan, baik di Indonesia maupun Malaysia. Karena kemiripannya dengan manusia, para penjelajah Eropa di masa lalu mengira satwa ini merupakan suku manusia yang terasing, dan mendeskripsikannya sebagai ‘manusia kerdil berambut merah yang tidak bisa bicara’. Hal inilah yang menjadi asal-usul kata pygmaeus di nama hewan ini, merujuk pada nama ilmiahnya pada masa lampau, Homo pygmaeus alias manusia kerdil—meskipun sebenarnya, Orangutan Kalimantan merupakan primata terbesar ketiga yang masih hidup di muka bumi.

Terdapat 3 subspesies Orangutan Kalimantan dengan populasi yang terpisah satu sama lain, yaitu P. pygmaeus pygmaeus di Serawak dan Kalimantan Barat, P. pygmaues wurmbi di Kalimantan Barat dan Tengah, serta P. pygmaeus morio di Kalimantan Timur dan Sabah. Ketiga subspesies ini sama-sama memiliki tubuh yang besar dan mencapai berat 100 kg, dengan berat rata-rata 75 kg untuk pejantan dan 38.5 kg untuk betina dewasa. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh rambut berwarna merah bata yang tersebar agak jarang, menunjukan warna kulitnya yang kehitaman. Tangannya panjang dan kuat, berfungsi untuk mengcengkram pohon untuk mendukung gaya hidup arborealnya. Orangutan jantan dewasa memiliki piringan muka (facial disk) berupa pipi yang melebar sehingga terlihat tembem.

Ketahui: 6 Hal Tentang Kukang

Berbeda dengan Orangutan Kalimantan, Orangutan Sumatra (P. abelii) memiliki badan yang lebih kecil, dengan berat maksimal 90 kg dan perawakan yang lebih kurus. Badan yang lebih kecil ini lebih mempermudah mereka untuk hidup di atas pohon dan menghindari permukaan tanah, dimana terdapat predator seperti Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang tidak ada di Kalimantan. Rambut Orangutan Sumatra pada umumnya lebih panjang dan berwarna lebih pucat, hampir kecoklatan dibandingkan dengan Orangutan Kalimantan yang kemerahan. Kepala Orangutan Sumatra cenderung lebih lonjong dan memanjang dibandingkan Orangutan Kalimantan, dengan facial disk yang tidak terlalu lebar.

Habitat Orangutan Yang Terancam

orang utan kalimantan vs orang utan sumatera

orang utan kalimantan vs orang utan sumatera

Baik Orangutan Sumatra dan Orangutan Kalimantan sama-sama terancam akibat perubahan habitat dan perburuan liar untuk dijadikan hewan peliharaan—meskipun hal tersebut melanggar undang-undang. International Union for Conservation of Nature menggolongkan Orangutan Kalimantan dalam kategori “terancam” (edangered) dengan populasi total sekitar 54500 individu yang ada di alam liar. Nasib Orangutan Sumatra jauh lebih mengenaskan, dengan sisa populasi hanya 6600 individu di alam liar, sehingga digolongkan dalam kategori “sangat terancam punah” (critically edangered). Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat satwa ini merupakan satwa asli Indonesia yang tidak bisa ditemui di tempat lain di dunia.

Jika Anda benar-benar mencintai orangutan, jangan pernah membeli bayi orangutan untuk dipelihara di rumah. Selain melanggar hukum, membeli seekor orangutan sama saja memberi untung bagi si pemburu orangutan tersebut, sehingga dia akan kembali berburu orangutan untuk mendapatkan untung yang lebih banyak. Jika Anda melihat bayi orangutan yang dipelihara atau diperjualbelikan, segera laporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, sehingga orangutan tersebut bisa diamankan dan dikembalikan ke habitatnya yang sesuai.

Mari kita jaga kelestarian kera besar ini, agar anak cucu kita masih bisa melihat satwa yang suka mengejar maling rambutan!

Kenali: 4 Jenis Macaca Asli Indonesia

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.