Sahabat pecinta satwa setelah mengetahui ciri dan morfologi burung bondol jawa atau yang lebih dikenal dengan sebutan burung pipit – Lengkapnya simak disini

Tingkah laku Burung Bondol

Kebiasaan burung bondol adalah hidup berpasangan atau berkelompok dan mudah bercampur dengan bondol jenis lain. Makanan utama burung ini adalah padi dan biji rumput. Bondol jawa juga sering ditemui di lingkungan pedesaan dan kota, terutama di dekat persawahan. Memakan padi dan aneka biji-bijian, bondol jawa kerap mengunjungi sawah, padang rumput, lapangan terbuka bervegetasi dan kebun. Burung ini sering turun ke atas tanah atau berayun-ayun pada tangkai bunga rumput memakan bulir biji-bijian.

Penyebaran Burung Bondol

Penyebaran bondol jawa meliputi Singapura, Sumatera Selatan, Jawa, Bali dan Lombok. Bondol Jawa di daerah Jawa dan Bali umum ditemui dan tersebar luas sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, mengunjungi daerah garapan dan padang rumput alami, membentuk kelompok pada masa panen padi tetapi biasanya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bondol jawa makan di permukaan tanah atau mengambil biji dari bulir rumput, menghabiskan banyak waktu dengan bersiul dan membersihkan bulunya di pohon-pohon besar. Sarang berbentuk bola berongga longgar terbuat dari potongan rumput dan bahan lain, diletakkan cukup tinggi di atas pohon di antara benalu, ketiak tangkai palem atau tempat tertutup lainnya. Berbiak sepanjang tahun. Telur empat atau lima butir berwarna putih (MacKinnon, 1993).

Baca: Jenis-jenis Burung Madu di Indonesia

Bondol jawa umumnya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil, termasuk bercampur dengan jenis bondol lainnya seperti dengan bondol peking (L. punctulata). Kelompok pada mulanya terdiri dari beberapa ekor saja, akan tetapi di musim panen padi kelompok ini dapat membesar mencapai ratusan ekor. Kelompok akan tampak di sore hari pada saat terbang dan hinggap bersama-sama di pohon tempat tidurnya. Kelompok yang besar seperti ini dapat menjadi hama yang sangat merugikan petani padi.

Bondol jawa

Bondol jawa

Bondol jawa dapat berkembang biak sepanjang tahun dan bertelur empat atau lima butir setiap kali peneluran dengan telur berwarna putih (MacKinnon 1990, Priyambodo 2009). Burung ini sering bersarang di pekarangan dan halaman rumah, di pohon-pohon yang bertajuk rimbun, pada ketinggian 2 – 10 m di atas tanah. Bondol jawa tercatat berkembang biak sepanjang tahun, setiap kali bertelur bondol jawa meletakkan 4-5 butir telur yang berwarna putih. Besarnya sekitar 14 x 10 mm. Namun dalam kelompok, terutama ketika bertengger bersama, suara-suara ini jadi cukup membisingkan. Demikian pula suara anak-anaknya yang baru menetas. Bondol jawa terutama tersebar di Jawa dan Bali, hingga ketinggian 1.500 m dpl.

Simak: 7 Jenis Burung Kakatua Nusantara

Konsumsi pakan Burung Bondol

Bondol jawa memiliki peran yang lebih penting sebagai hama padi karena kemampuan reproduksi dan konsumsi yang tinggi sehingga memiliki kemampuan merusak lebih besar dibandingkan bondol peking. Di area pertanian biasanya, burung mulai menyerang tanaman padi ketika padi sudah mulai berisi. Penyerangan ini bisa sangat merugikan petani karena dilakukan secara berkoloni atau berkelompok dalam jumlah yang besar. Satu kelompok bisa terdiri dari paling sedikit 5 ekor, dan tiap kelompok mudah bergabung dengan jenis kelompok lainnya membentuk kelompok yang lebih besar. Meskipun dianggap sebagai hama namun keberadaannya dapat digunakan sebagai indikator kerusakan lingkungan. Keberadaan burung bondol jawa semakin berkurang akhir-akhir ini. Faktor yang menjadi penyebabnya antara lain adalah penggunaan insektisida dan pestisida yang berpengaruh terhadap kesehatan burung bondol jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Hernowo JB dan Prasetyo. 1985. Studi Pengaruh Tanaman Pekarangan Terhadap Keanekaragaman Jenis Burung Daerah Pemukiman Penduduk Perkampungan DI Wilayah Tingkat II Bogor. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Mac Kinnon J., Phillips K,  Van Balen B., 1998. Burung-burung di sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Puslitbang Biologi – LIPI

Sumariadi, Wildian, Yusfi M., 2013. Aplikasi Mikrokontroler AT89S52 Sebagai Pengontrol Sistem Pengusir Burung Pemakan Padi dengan Bunyi Sirine. Jurnal Fisika Unand Vol. 2.

 

Hizriah Alief Jainudin, drh.
Alumni Dokter hewan UGM (2013), Mahasiswa S2 Medis Klinis FKH UGM, Praktisi Pet and Exotic Animal di Sleman Yogyakarta.