Penyebab Radang Ambing pada Sapi (Mastitis)

PecintaSatwa.com – Radang ambing (mastitis) lebih sering diderita oleh sapi perah dari pada sapi potong. Penyakit ini tergolong penyakit strategis, bukan karena keganasannya yang membahayakan nyawa ternak, namun karena penurunan produksi susu secara drastis yang sangat membahayakan “dompet” peternak, sehingga bukan hanya sapinya yang sakit, peternaknya pun bisa sakit-sakitan karena stress dengan penurunan pendapatannya. (Simak juga: Hati-hati Cacing Hati pada Sapi)

Faktor Terjadinya Mastitis pada Sapi

Mastitis terjadi karena adanya infeksi mikroorganisme baik bakteri, jamur maupun ragi yang menyerang ambing sapi, level infeksi dipengaruhi beberapa faktor seperti tingkat laktasi, umur sapi, dan ketuntasan pemerahan. Bakteri yang menyerang dapat berbagai macam, biasanya merupakan bakteri normal yang ada di lingkungan, namun menjadi berbahaya ketika jumlahnya berlebihan, contohnya Staphylococcus sp. dan Streptococcus sp..

california mastitis test

california mastitis test

Bakteri-bakteri infeksius tersebut dapat masuk ke ambing sapi dan menyerangnya disebabkan adanya situasi mendukung perkembangbiakan, seperti adanya luka pada ambing karena kasarnya proses pemerahan, atau karena tergores sesuatu di lantai kandanag sehingga menjadi jalan masuknya bakteri, hal ini diperparah dengan kebersihan kandang yang kurang optimal, jumlah bakteri di sekitar sapi pun semakin banyak dan siap menyerang sapi disaat pertahanan tubuhnya lemah, seperti pada masa-masa pergantian cuaca, panas menyengat atau hujan deras yang sangat dingin.

Selain keadaan diatas, kemungkinan terjadinya mastitis dapat meningkat ketika usia ternak semakin tua, setelah mengalami masa laktasi yang begitu lama menyebabkan otot-otot disekitar ambingnya tidak sekuat dan serapat waktu muda, terlebih pada ternak dengan riwayat produksi susu tinggi. (Baca pula: Demam 3 Hari pada Sapi)

Proses pemerahan yang tidak higene dan tidak tuntas juga memperbesar potensi mastitis. Pemerahan harus dilakukan secara teratur dan tuntas, biasanya sehari dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Pemerahan yang tidak tuntas akan menyebabkan terbentuknya endapan / pengapuran susu di diambing sapi yang dapat menginisiasi terjadinya keradangan. Pemerahan dengan menggunakan milking machine pun harus diperhatikan dengan baik penggunaannya. Alat harus selalu bersih sebelum dipakai, dan dicuci dengan air hangat dicampur desinfektan setelah digunakan. Meski diperah menggunakan mesin, pada akhir pemerahan peternak juga harus memerah dengan menggunakan tangan untuk memastikan proses pemerahan telah tuntas, tidak terdapat sisa susu lagi yang keluar.

Gejala Klinis Radang Ambing pada Sapi (Mastitis)

Gejala klinis mastitis yang dapat diamati oleh peternak antara lain: terjadi penggumpalan pada susu saat diperah bahkan warna susu dapat berubah menjadi kekuningan, adanya penurunan produksi susu, saat dilakukan uji alkohol di tempat penampungan susu maka susu akan terlihat pecah. Pada kondisi yang cukup parah, nafsu makan sapi akan berkurang, sapi mengalami demam, pada bagian ambing akan teraba panas, merah dan lebih sensitif. Apabila mastitis telah diderita dalam jangka waktu yang lama (kronis), ambing sapi dapat mengeras, tampak adanya luka radang bahkan membusuk, ambing tidak dapat menghasilkan susu, dan hanya keluar cairan bening kekuningan. Mastitis biasanya menyerang ambing per-quartir (bagian), dari keempat ambing, mungkin hanya satu atau dua yang terinfeksi, namun tetap waspada karena infeksi dapat menular ke ambing yang lain, hingga kesemua ambing terkena mastitis. (Ketahui pula: Persiapan Kelahiran pada Sapi)

Tidak semua kasus mastitis menunjukkan gejala klinis yang jelas. Pada kasus mastitis subklinis, gejala-gejala diatas sangat jarang terlihat, akan tetapi secara pelan dan pasti, lambat laun produksi susu akan terus menurun. Karena itu, biasanya tenaga medis veteriner melakukan pemeriksaan rutin tahunan untuk mengetahui timbulnya penyakit ini menggunakan tes CMT (California Mastitis Test).

Pencegahan Radang Ambing pada Sapi

Tindakan pencegahan mastitis harus dilakukan secara sinergis antara peternak dan tenaga medis kedokteran hewan dari dinas peternakan di kawasan peternak, atau bersama dengan perusahan kemitraan setempat. Penanggulangan mastitis dapat diawali dengan menjagaaan sanitasi kandang yang baik, kebersihan lantai, alat perah, dan tangan peternak saat pemerahan harus diperhatikan. Manajamen pemeliharaan, pakan dan kandang juga harus sesuai dengan standard peternakan yang baik dan benar. Vaksinasi juga dapat dilakukan dengan menggunakan strain vaksin yang sesuai dengan agen infeksi di daerah setempat. Saat ini dinas peternakan sudah mulai menggalakkan vaksinasi mastitis sebagai pencegahan aktif dan mendukung produski susu dalam negeri.

Kerja sama antar pihak yang sinergis akan menghasilkan pencegahan optimal, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati kan.. (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.