Penyebab Radang Rahim pada Anjing atau Kucing

PecintaSatwa.com – Kasus radang rahim / pyometra sering ditemui pada anjing atau kucing tua yang tidak disteril, belum pernah dikawinkan, dan belum pernah beranak. Mekanisme hormonal yang abnormal memicu terjadinya penebalan dinding rahim / uteri dan adanya kista, keadaan ini cocok sebagai tempat perkembangbiakan bakteri-bakteri yang masuk melalui kemaluan anjing dan kucing.

Pyometra disebabkan oleh infeksi banteri, penyakit ini berpotensi mengancam jiwa hewan kesayangan jika tidak ditangani dengan baik. Ketika hewan kesayangan sedang birahi, hormon yang dominan mempengaruhi siklus ini adalah esterogen, dilanjutkan dengan peningkatan hormon progesterone di akhir birahi.. setelah terjadinya gejala birahi sekian tahun tanpa pernah dilakukan perkawinan, akan menyebabkan tumbuhnya lapisan-lapisan jaringan uterus bagian dalam, penebalan dan terbentuknya kista, kondisi ini lah yang disukai bakteri untuk tumbuh berkembang. ( Baca juga: Peradangan Telinga Hewan / Otitis)

Pyometra terjadi ketika bakteri yang masuk dari vagina ke dalam uterus hewan terus tumbuh dan berkembang biak, kemudian secara alami dilawan oleh sistem imunitas tubuh dengan sel-sel darah putih sehingga menyebabkan adanya akumulasi cairan dan nanah dalam uterus, sehingga uterus membesar dan menebal.

Klasifikasi Pyometra

Pyometra diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni pyometra tertutup dan terbuka. Dikatakan pyometra terbuka apabila serviks / mulut rahim terbuka selama terjadinya infeksi dan akumulasi cairan, sehingga terdapat leleran dari uterus keluar ke vagina berupah nanah, atau cairan bening bercampur darah.

Gambar X-ray pyometra

Gambar X-ray pyometra

Sebaliknya, pada kasus pyometra tertutup, serviks tidak terbuka sehingga nanah dan cairan yang ada dalam uterus terus terakumulasi, menyebabkan pembesaran uterus, hal ini dapat memicu kerusakan uterus dan menekan organ-organ lain disekitarnya. Infeksi dalam uterus pun dapat menyebar ke organ lainnya, mengakibatkan radang selaput abdomen (peritonitis), juga mungkin menyebar ke aliran darah (septikemia), yang berlanjut pada terjadinya shock dan tutup usia.

Anjing atau kucing yang dikawinkan dan pernah beranak pun memilki resiko terjadinya pyometra, apabila dilakukan terapi hormon dalam jangka panjang untuk mencegah kebuntingan, sebagaimana yang banyak disebut pemilik hewan sebagai “suntik KB”. Terapi hormonal untuk mencegah kebuntingan memang tidak dilarang, akan tetapi biasanya sebelum dokter hewan melakukan treatment tersebut, owner akan diberi penjelasan oleh dokter hewan tentang efek samping nya, dan anjuran agar tidak melakukannya dalam kurun waktu yang lama. ( Pelajari: Alergi Makanan pada Anjing dan Kucing)

Hewan penderita pyometra akan mengeluarkan leleran dari kemaluannya (tipe pyometra terbuka) yang bewarna bening atau keruh kekuningan bercampur darah dan berbau tidak sedap, disamping itu hewan akan tampak lemas, tidak bersemangat, kurang bernafsu makan, muntah, lebih banyak minum dan kencing, adanya pembengkakan daerah perut, dan terjadi demam meski tidak selalu terlihat.

Penanganan Pyometra (Radang Rahim) pada Anjing atau Kucing

Di rumah sakit hewan / klinik hewan, dokter hewan akan melakukan foto x-ray atau USG untuk melihat progress pembengkakan yang terjadi di pyometra dan mengidentifikasi adanya penyebaran atau tidak, selanjunya leleran dari dari vagina akan diperiksa untuk mengetahui bakteri spesifik yang menginfeksi. (Simak: 5 Tanda Cacingan pada Hewan)

Bedah ovariohisterectomy (OH) adalah terapi terbaik untuk mengatasi pyometra. Pada bedah OH, uterus dan ovarium hewan akan diangkat sebagaimana operasi steril, namun berbeda dangan OH yang dilakukan pada hewan sehat dengan tujuan kebiri / steril, operasi OH kasus pyometra memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi, karena adanya penurunan kondisi tubuh pasien, penyebaran infeksi dan umur pasien yang tua, sehingga biasanya terapi ini lebih mahal dibandingkan OH normal, karena itu lebih disarankan melakukan OH sejak dini pada hewan kesayangan Anda apabila Anda tidak menghendaki ia beranak lagi, untuk mengurangi resiko terjadinya pyometra saat ia tua kelak. Tetap jaga kesehatan Anda dan hewan kesayangan Anda. (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.