Mitologi Kucing

Nomenklatur kucing modern

Felis silvestris spp

Siapa yang tak kenal dengan kucing, hewan manis manja dan popular sebagai pet animal di hamper seluruh penjuru dunia. Hewan bernama latin Felissilvestricatus ini sudah dekat dengan manusia sejak ribuan tahun silam. Simbosis mutualisme dengan manusialah yang menjadikannya dekat dengan kehidupan masyarakat sejak jaman dahulu kala. Bahkan di mesir, kucing adalah hewan yang diagungkan, dan puja sebagaimana pemujaan mereka pada dewi cantik berkepala kucing, Dewi Bastet, sebagai symbol kesuburuan, kehidupan dan kematian. Hukuman berat akan diberlakukan oleh pemerintah kerajaan saat itu (600-200 SM) jika diketahui ada penduduk yang menyakiti atau membunuh kucing, titisan sang Dewi. Karnivora kecil ini memang sekeluarga dengan kucing besar lainnya seperi harimau, singa, dan cheeta. Namun sifatnya yang manja dan suka bermain menjadikan kucing aman hidup berdampingan dengan manusia, bahkan sudah dianggap sebagai anggota keluarga yang dipelihara dengan penuh kasih sayang. Dari fosil kucing yang ditemukan di Pulau Syprus, diduga pasukan Dewi Bastetini sudah melakukan asosiasi saling menguntungkan dengan manusia sejak 6000 SM. Selain itu dalam mitologi Mesir kuno juga diceritakan bahwa di tahun 3500 SM, kucing telah dimanfaatkan para penduduk untuk menjaga hasil panenan mereka di gudang dari pencurian tikus, burung dan mamalia kecil lainnya yang menyusup ke lumbung. Kucing modern saat ini, disinyalir berasal dari kucing liar Africa (Felissilvestralibica), dimana mulai menyebar ke asia barat sejak 8000 SM, selanjutnya penyebarannya meluas keseluruh penjuru dunia bersama dengan perkembangan area perdagangan saudagar Cina yang gemar menjelajah.

Nomenklatur kucing modern

Kingdom   : Animalia Filum   : Chordata Class    : Mamalia Ordo    : Carnivora Family   : Felidae Genus   : Felis Species    : Felissilvestris Sub Species   : Catus Insting kucing yang suka bermain, bersahabat, dan manja, mejadikan karnivora berkromosom 38 ini tidak berbahaya. Kesan jinak dan lucu membuatnya menjadi hewan peliharaan favorit diseluruh dunia. Kucing pun termasuk hewan yang bersih, karena suka menjilat rambutnya sendiri, air liur kucing dapat membersikan kotoran dengan efektif tanpa menyebabkan alergi pada manusia, kecuali pada kasus khusus yang sangat jarang terjadi. Selain itu kucing juga dapat menstimulasi dirinya untuk muntah dengan memakan beberapa daun dengan tujuan mengelurakan hairball yang tertelan karena menjilati tubuhnya, sehingga pencernaannya tetap sehat dan tidak tersumbat.

Nutrisi Kucing

Secara alami, kucing biasanya mengkonsumsi mamalia yang lebih kecil dari dirinya seperti tikus dan burung. Mirip seperti singa dan harimau, kucing membuat mangsanya tak berdaya dengan manancapkan taringnya di leher sang mangsa dan menahannya beberapa saat. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan syaraf vertebrae cervicalis jika mengenai tulang leher, dan mengoyak tenggorokan jika mengenai leher bagian dalam sehingga mangsa kehabisan nafas, dua hal tersebu akan berakibat fatal pada mangsa, dan kemudian sikucing pun dapat melahapnya. Akan tetapi dijaman modern ini, kabanyakan kucing peliharaan sudah tidak menkonsumsi hewan hidup lagi, konsumsi kucing diarahkan ke komersial cat food baik dalam bentuk kering maupun basah. Pakan inipun dibuat berdasarkan kebutuhan nutrisinya terlebih pada kadar protein, vitamin dan mineralnya. Karena memang kebutuhan protein kucing lebih tinggi daripada anjing. Bahan asalikan, baik kering ataupun segar kerap digunakan sebagai bahan dasar cat food karena kandungan proteinnya yang tinggi.

Kebiasaan Kucing Peliharaan

Kucing memiliki indra penciuman dan pendengaran yang tajam, dengan frekuensi lebih tinggi daripada yang dapat ditangkap oleh manusia, kemampuan inilah yang mempermudah kucing untuk mendeteksi letak simangsa dan menyergapnya tanpa suara. Selain itu, kucing juga dapat melihat dalam gelap meski memiliki visi wana tidak sebaik manusia. Walaupun musuh tikus satu ini merupakan pemburu soliter yang mandiri, kucing juga merupakan spesies yang sosialis, komunikasi yang biasanya digunakannya meliputi jenis vocal yang berbeda (mengeong-mengeram); hormonal (feromon untuk menarik lawan jenis), dan bahasa tubuhnya yang khas.Karena itulah, behavior atau tabiat kucing dapat dipelajari para pemelihara untuk lebih memahami hewan kesayangannya sebagai bagian dari keluarga yang dicintai.

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.