Gejala Klinis Avian Infuenza Subklinik

Ayam terlihat sehat - belum tentu terbebas dari flu burung subklinis

Ayam terlihat sehat – belum tentu terbebas dari flu burung subklinis

Avian Influenza (AI) merupakan penyakit viral yang mempengaruhi sistem pernbafasan, pencernaan, reproduksi, dan syaraf pada berbagai spesies burung. Penyakit AI memiliki dampak ekonomis yang penting pada industri perunggasan karena tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, penurunan produksi, dan peningkatan biaya penanggulangan, khususnya biaya sanitasi/desinfeksi Sudah umum diketahui bahwa ada dua jenis kelompok gejala klinis yang muncul ketika ada infeksi AI, dibedakan berdasarkan agen penyebabnya, apakah dari jenis LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza) atau HPAI (High Pathogenic Avian Influenza). Gejala klinis LPAI antara lain

  1. Penurunan produksi dengan kualitas kerabang lembek atau produksi terhenti
  2. Gangguan pernafasan (batuk, bersin, ngorok)
  3. Depresi
  4. Mortalitas rendah.

Sedangkan, gejala klinis HPAI antara lain

  1. Produksi turun drastis
  2. Gangguan pernafasan, sinusitis, edema kepala dan muka
  3. Perdarahan jaringan di bawah kulit diikuti kebiruan pd kulit terutama di kaki, kepala, dan pial
  4. Mortalitas tinggi (sampai 100%)
  5. Pada kasus perakut ayam mati mendadak tanpa ada gejala klinis.

Serangan Avian Infuenza juga bisa terjadi secara Subklinik

Manifestasi subklinik AI adalah suatu keadaan dimana unggas tampak sehat tetapi di dalam tubuhnya dapat dijumpai virus HPAI H5N1. Apa penyebabnya? Beberapa penyebab terjadinya manifestasi subklinik AI antara lain:

  1. Kondisi penyakit AI yang sudah endemik, dalam kondisi ini akan terjadi infeksi virus HPAI subtipe H5N1 secara alamiah dan menimbulkan respon kebal dengan titer antibodi yang tidak memadai.
  2. Penggunaan bibit vaksin AI yang kurang tepat, yaitu homologi bibit vaksin dan virus lapangan sangat rendah sehingga tidak terjadi netralisasi virus AI secara sempurna.
  3. Aplikasi vaksin yang tidak tepat, misalnya unggas hanya divaksin 1x saja tanpa adanya vaksinasi yang ke 2 (booster) sehingga terbentuk titer antibody yang tidak memadai.

Baca pula: Tips Pengaturan Pakan dan Minum Peternakan Ayam Broiler

Bagaimana jika Ayam sudah divaksin AI

Flu burung (ayam mati mendadak, kebiruan)

Flu burung (ayam mati mendadak, kebiruan)

Nah, itu dia, pada dasarnya manifestasi subklinik AI terjadi apabila unggas membentuk respon kebal yang tidak memadai (“tanggung”), sehingga tidak mampu mengeliminasi virus yang menginfeksinya secara sempurna. Jadi, titer antibodi AI yang beredar di dalam tubuh tidak cukup tinggi dibandingkan dengan jumlah virus AI yang menginfeksi, sehingga masih ada virus yang lolos dari pemblokiran antibodi. Manifestasi subklinik bisa juga terjadi apabila  vaksin dan virus lapangan secara serologis memiliki homologi yang rendah. Atau kemungkinan yang lainnya adalah, adanya kebocoran vaksin (vaccine break) pada penggunaan vaksin konvensional (resiko jika seed virus yang bersifat Pathogen tidak terinaktivasi sempurna) Karena itu, vaksin yang TEPAT seharusnya  memiliki kemampuan membentuk antibodi (performa titer antibodi) yang baik, dengan level protektivitas yang tinggi, dan mampu melindungi dalam waktu yang lama. Selain itu vaksin juga harus memiliki tingkat homologi yang tinggi dengan virus lapangan dan Seed virus dalam vaksin TIDAK PATHOGEN. Vaksin yang TEPAT itu ibarat seorang petinju hebat yang mampu memukul KO lawannya dalam sekali pukulan! à Sehingga tidak ada manisfestasi subklinik, pun tidak ada shedding

MANIFESTASI SUBKLINIK DAN PENURUNAN PRODUKSI

Pernah suatu ketika peternak dihadapkan kepada masalah penurunan produksi telur yang sangat serius, meskipun diketahui faktor penyebabnya sangat banyak dan tidak berdiri sendiri. Opini yang terbentuk di kalangan peternak adalah penurunan produksi telur yang luar biasa ini ( 25-55%) dikaitkan dengan infeksi subklinik virus HPAI H5N1. Hipotesa yang bisa dibangun adalah, titer antibodi yang tidak memadai (“tanggung”) tidak mampu melakukan netralisasi virus yang menginfeksi secara sempurna dan virus HPAI yang lolos ini akan berpredileksi (menempati, menginfeksi) berbagai sel, termasuk sel telur. Mekanisme imunologi yang terjadi adalah sel tubuh akan melakukan penghancuran sel yang terinfeksi virus. Jika hal ini terjadi pada sel telur, maka proses pembentukan telur akan terhenti dan menyebabkan penurunan produksi telur. Semoga informasi ini bermanfaat.   Referensi : Wibawan IWT. 2012. Manifestasi Subklinik Avian Influenza pada Unggas: Ancaman Kesehatan dan Penanggulangannya. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Bogor, 22 Desember 2012.

 

(Kontributor: drh. M. Arief Ervana)

 

Pecinta Satwa
Freelance Contributor at Pecinta Satwa [dot]com
Beberapa kontributor lepas yang menulis artikel untuk Pecinta Satwa [dot]com. Masih ada yang aktif menulis dan ada yang sudah tidak aktif.