Macan Tutul – Kucing Besar Pemanjat

jaguar dari amerika selatan mirip dengan macan tutul, namun sedikit lebih berotot dengan pola roseta yang lebih jarang

jaguar dari amerika selatan mirip dengan macan tutul, namun sedikit lebih berotot dengan pola roseta yang lebih jarang

Siapa sih yang tidak kenal dengan predator yang satu ini? Kucing besar bernama latin Panthera pardus ini memang terkenal dengan pola tutul di bulunya yang cantik. Selain kecantikannya, macan tutul juga dikenal dengan keahliannya dalam memanjat pohon, berbeda dengan kucing besar lain yang cenderung lebih suka berada di tanah. Namun, tahukah Anda bahwa macan tutul merupakan kucing liar dengan persebaran paling luas di dunia—serta diakui sebagai salah satu predator paling sukses di muka bumi? Macan tutul atau yang dikenal sebagai leopard dalam bahasa inggris merupakan satu dari lima kucing besar yang ada di dunia yang tergabung dalam genus Panthera. Ciri khas dari kelompok ini adalah tengkorak yang besar, kemampuan untuk mengaum, serta ketidakmampuan untuk mendengkur (purring) seperti kucing pada umumnya. Dibandingkan dengan kucing besar lain seperti singa (P. leo), harimau (P. tigris) dan Jaguar (P. onca), macan tutul memiliki badan yang kecil, dengan kaki yang pendek, tengkorak yang besar, serta ekor yang panjang. Baca pula: Binturong – Antara Musang, Kucing dan Beruang

macan tutul jawa hanya bisa ditemukan di pulau Jawa

macan tutul jawa hanya bisa ditemukan di pulau Jawa

Warna bulu macan tutul bervariasi dari kuning pucat hingga keemasan. Pola bulunya lebih tepat disebut sebagai ‘roseta’ daripada ‘tutul’ yang solid, berbentuk seperti lingkaran terbuka dengan warna kuning di tengahnya. Badannya penuh dengan otot yang kuat yang digunakan untuk memanjat pohon. Ekornya yang panjang digunakan untuk menjaga keseimbangan di atas kanopi pohon yang tinggi, membuatnya lebih ahli bermanuver di ketinggian dibandingkan kucing besar lain seperti harimau dan singa.

Macan Tutul, Macan Kumbang, dan Jaguar

Selain warna yang normal, beberapa populasi macan tutul juga memiliki variasi bulu yang berwarna hitam polos di seluruh tubuhnya, atau sering disebut sebagai macan kumbang. Variasi warna ini merupakan kelainan genetik yang disebut dengan melanisme, menyebabkan produksi pigmen hitam yang berlebihan dan membuatnya terlihat hitam polos—meskipun sebenarnya masih terdapat pola tutul di badannya ketika dilihat dari dekat. Macan tutul berwarna hitam ini lebih umum ditemukan di habitat hutan yang lebat, karena membuatnya lebih mudah menyamar di kegelapan hutan untuk berburu mangsa.

macan tutul memiliki tubuh yang lebih kecil dan pola roseta yang lebih rapat dari jaguar

macan tutul memiliki tubuh yang lebih kecil dan pola roseta yang lebih rapat dari jaguar

Beberapa orang sering salah kaprah dan menyebut macan tutul berwarna hitam sebagai jaguar (Panthera onca). Jaguar memang mirip dengan macan tutul, dan beberapa populasi juga memiliki variasi warna hitam layaknya macan tutul. Perbedaan kedua jenis ini terletak pada bentuk tubuh jaguar yang lebih besar dan lebih berisi. Pola roseta pada jaguar juga lebih padat daripada macan tutul, dengan warna oranye terang di dalam pola tersebut. Wilayah persebarannya keduanya pun berbeda—macan tutul bisa dijumpai di Asia dan Afrika, sementara jaguar hanya bisa ditemui di Amerika Selatan.

Habitat Macan Tutul Sang Predator Tersukses

Macan tutul memang memiliki wilayah persebaran yang sangat luas di dua benua: Afrika dan Asia. Habitatnya pun sangat beragam; mulai dari hutan musim di Siberia, hutan hujan tropis di Asia Tenggara, hingga ke daerah sub sahara di Afrika dan India. Tidak ada kucing liar lain yang bisa hidup di tipe habitat yang begitu beragam seperti macan tutul, membuatnya menjadi kucing paling sukses di muka bumi setelah kucing domestik dan anjing peliharaan. Simak juga: Owa Jawa – Sang Pesinden yang terancam Punah Kemampuan macan tutul untuk hidup di berbagai tipe habitat ini tentunya didukung oleh daya adaptasi yang sangat hebat. Macan tutul diketahui memiliki variasi mangsa yang sangat luas, mulai dari hewan kecil—seperti tikus, ikan dan burung—hingga rusa dan kerbau liar yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Hewan ini juga sering disebut sebagai pemangsa oportunis yang mampu memangsa apapun di sekitarnya, termasuk bangkai hewan yang sudah mati. Hal inilah yang membuat macan tutul dapat bertahan hidup di wilayah yang keras, termasuk di wilayah yang tidak bisa ditempati oleh kucing besar lainnya. Selain kemampuan berburu, kesuksesan macan tutul juga didukung oleh keahliannya dalam memanjat pohon. Badan macan tutul tergolong kecil namun kuat, dengan kaki yang pendek dan kepala yang besar, membuatnya dapat memanjat pohon sambil membawa mangsa berukuran besar. Otot lehernya yang sangat kuat mampu menahan beban yang berat—bahkan pernah ada catatan seekor macan tutul membawa seekor jerapah muda ke atas pohon di Afrika. Kemampuan memanjat ini membantu macan tutul untuk bersaing dengan predator lain seperti harimau, singa dan hyena yang tidak bisa memanjat pohon sebaik macan tutul. Mangsa berukuran besar bisa disimpan diatas pohon, mengurangi resiko kelaparan ketika populasi mangsa menurun. Terakhir, macan tutul juga diberkati dengan kemampuan berkamuflase yang luar biasa. Baik macan tutul ‘normal’ maupun macan kumbang hitam dapat bersembunyi dengan baik di habitatnya, mempermudah proses berburu dan membantunya bersembunyi dari bahaya—termasuk dari manusia. Kemampuan ini membuat macan tutul sulit untuk dideteksi, bahkan di wilayah yang cukup padat dengan manusia, tanpa ada satu orangpun yang mengetahuinya. Bisa jadi ada seekor macan tutul yang hidup di kebun Anda saat ini, namun Anda tidak mengetahuinya sama sekali. Hiii!

Konflik Macan Tutul dan Manusia

macan tutul terkenal akan kemampuan memanjatnya, yang merupakan salah satu faktor keberhasilannya menghuni berbagai habitat di dunia

macan tutul terkenal akan kemampuan memanjatnya, yang merupakan salah satu faktor keberhasilannya menghuni berbagai habitat di dunia

Meskipun disebut sebagai predator puncak, macan tutul sangat jarang sekali menyerang manusia, kecuali ketika sedang terdesak. Hanya ada sedikit kasus dimana macan tutul menyerang manusia, dan lebih sedikit lagi manusia yang terbunuh dalam serangan tersebut. Macan tutul sendiri sangat pemalu dan lebih suka menjauhi daerah yang ramai oleh manusia, dan hanya ada segelintir kasus dimana macan tutul memasuki pedesaan untuk ‘mencuri’ hewan ternak—bukan memangsa manusia itu sendiri. Konflik antara macan tutul dan manusia ini sebagian besar terjadi akibat habitat macan tutul yang telah rusak. Perambahan hutan besar-besaran membuat macan tutul kehabisan mangsa dan tidak punya pilihan lain selain ‘mencuri’ ternak manusia yang telah merusak habitatnya. Masyarakat yang marah seringkali memburu macan tutul ini—baik untuk membalas dendam maupun untuk diambil kulitnya—membuat populasi macan tutul turun drastis selama beberapa dekade terakhir. Hal ini membuat macan tutul dikategorikan sebagai ‘hampir terancam punah’ (Near Threatened) oleh IUCN—sedikit lebih baik dibandingkan harimau dan singa, namun tetap dapat punah dalam waktu dekat. Ada juga: Kancil – Spesies Rusa Kecil yang makin Langka Di Indonesia sendiri macan tutul hanya bisa dijumpai di pulau Jawa, diwakili oleh anak jenis endemik (P. pardus melas) yang tidak bisa ditemui di tempat lain di dunia. Persebarannya terpencar-pencar di beberapa fragmen hutan yang tersisa di pulau ini, mulai dari Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat hingga Taman Nasional Baluran di ujung timur. Beberapa konflik antara macan tutul dan manusia terjadi di Jawa Barat dan Jawa Tengah, dan seringkali macan tutul itu sendiri yang menjadi korban dan semakin menekan jumlah populasinya mendekati kepunahan. Selain perburuan, kerusakan habitat juga menjadi musuh besar bagi macan tutul, khususnya di pulau Jawa yang padat dengan penduduk. Hal ini tentu disayangkan, mengingat macan tutul merupakan satwa kharismatik yang dilindungi undang-undang. Jangan sampai keserakahan manusia menghapuskan keberadaan macan tutul dari bumi pertiwi, biarkan sang pemburu dapat hidup dan lestari. 

 

Panji Gusti Akbar