Persebaran lumba-lumba Humpback

Migrasi Lumba-lumba Humpback

Migrasi Lumba-lumba Humpback

  Keanekaragaman mamalia laut Indonesia kembali dikuak untuk menambah pengetahuan kita demi ikut melestarikan dan menjaga populasi yang tersisa. Dari laut Pasifik Indonesia diketahui telah menjadi habitat bagi salah satu populasi lumba-lumba yang masuk daftar apendiks I dan apendiks II Convention on the Conservation  of Migratory Species of Wild Animals (CMS). Lumba-lumba berjenis humpback disinyalir banyak mendiami laut pasifik dan sering melakukan migrasi hingga ke laut India, Cina dan Australia. Lumba-lumba ini sering terlihat di Laut Maluku, Laut Bali, Wakatobi, Laut Jawa hingga Sumatera. Taukah kamu, Lumba-lumba humpback (Sousa chinensis) ini disebut juga sebagai lumba-lumba putih pasifik. Meskipun warna kulitnya abu-abu seperti lumba-lumba pada umumnya, dikatakan lumba-lumba putih karena bisa memendarkan cahaya saat terpantul sinar matahari. Lumba-lumba ini berasal dari genus Sousa sehingga masih memiliki kedekatan dengan species dari genus yang sama seperti lumba-lumba India (Sousa plumbeans), lumba-lumba Australia (Sousa sahulensis), dan lumba-lumba atlantik (Sousa teuszil).

Karakteristik lumba-lumba Humpback

Lumba-lumba humback ini memiliki ciri-ciri spesifik memiliki sirip yang panjang pada punggungnya. Sirip ini bisa dibedakan dengan ikan hiu karena struktur sirip berbentuk segitiga yang memanjang dari sisi atas depan (dorsal cranial fins) hingga seperempat pangkal (dorsal caudal fins). Selain itu, keberadaan sepasang sirip pada bagian dada (pectoral ventral fins) dan ekor sangat membantu pergerakan lumba-lumba menyusuri tingginya gelombang air laut. Ciri lain yang dimiliki yakni moncong lumba-lumba ini yang mengerucut dengan panjang sekitar 30-35 cm dengan susunan gigi-gigi rata pada daerah moncong. Baca pula: Penetasan Tukik Pada saat melahirkan anak lumba-lumba ini akan disembunyikan pada tempat rahasia di daerah semiprofunda yang bertujuan agar terhindar dari predator. Bayi lumba-lumba ini akan berkembang dengan cepat dan mulai bisa berenang mengikuti arah induk bermigrasi. Pada saat dewasa lumba-lumba ini bisa mencapai panjang 2-3 meter dengan berat mencapai 120-140 Kg sehingga mirip sekali dengan ikan paus beluga yang hidup di laut antartika. Untuk memudahkan dalam bermigrasi, lumba-lumba ini hidup dengan membentuk kelompok kecil seperti kebiasaan lumba-lumba yang lain. Keberadaan komunitas kelompok dapat meminimalisir penyerangan dari populasi lain yang merasa teritorialnya dilewati oleh lumba-lumba humpback ini. Lumba-lumba Humpback Jenis makanan lumba-lumba ini tergolong sangat mudah karena dalam setiap harinya bisa ditemukan hewan lunak molusca laut dan ikan kecil yang menjadi menu makanan utamanya. Terkadang sekumpulan cephalopoda dan crustacea menjadi makanan pengganti bagi lumba-lumba. Pada musim dingin, lumba-lumba akan bermigrasi ke perairan hangat dan sering menampakkan diri di permukaan dalam kelompok tertentu. Keberadaannya sering diketahui di pinggir pantai, tanjung, laguna dan selat dengan arus gelombang laut yang rendah.

Usaha pelestarian lumba-lumba Humpback

Penurunan populasi lumba-lumba humback ini lebih disebabkan ulah manusia baik sengaja ataupun tidak. Pemasangan jaring untuk menangkap ikan dan termasuk tertabrak oleh kincir mesin diesel perahu nelayan dan kapal komersial mengakibatkan sebagian kecil kematian lumba-lumba. Bahkan tindakan yang lebih ekstrem yakni perburuan dengan tujuan yang tidak dibenarkan oleh hukum dan etika telah merusak wilayah teritorial lumba-lumba yang berujung pada penurunan populasi secara signifikan sebesar 30% pertahun. Berkat ketetapan IUCN dan CMS, upaya untuk menyelamatkan kurang lebih 10.000 spesies tersisa dari lumba-lumba humpback ini. Dengan tidak melakukan manuver berlebihan di wilayah teritorial lumba-lumba dan mencegah penangkapan ilegal, merupakan upaya kita semua dari diri sendiri untuk menjaga dan ikut melestarikan populasi lumba-lumba ini.   Referensi : Kahn, B. Discussion paper on the establishment of a Protected Marine Mammal Fisheries Area in Indonesias national and EEZ waters, TNC Indonesia Program Technical Report prepared for the Government of the Republic of Indonesia – the Ministry of Marine Affairs and Fisheries, 55pp.

Penting untuk disimak: Penyu Hijau dalam Ancaman yang serius

 

Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, drh., M.Si.
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master Biologi Reproduksi UNAIR (2014), Praktisi Large Animal (Beef Cattle) & Aquatic Animal dan Dosen Dep. Reproduksi Fak. Kedokteran Hewan UNAIR Banyuwangi.