Kukang (Nycticebus coucang)

PecintaSatwa.com – Mungkin jenis primata yang paling akrab dengan sahabat PESAT adalah si monyet ekor panjang atau nama lainnya Macaca fasicularis. Memang jenis primata itulah yang lebih banyak di eksploitasi oleh para oknum-oknum tidak bertanggung jawab dengan memaksanya menjadi hewan pekerja, lepas dari sifat bebasnya di alam liar. selain itu, dapat pula dipelihara oleh para “penyanyang hewan” yang kurang paham dengan konsep animal welfare. Sebagai seorang Pecinta Satwa, sebaiknya hal ini benar-benar harus kita hindari, karena jenis-jenis primata tersebut merupakan golongan hewan liar, dan bukan termasuk hewan-hewan terdomestikasi alami layaknya hewan kesayangan (anjing dan kucing) dan hewan ternak.

Selain monyet ekor panjang, jenis primata kecil seperti kukang mulai banyak diburu menjadi hewan peliharaan, hingga populasi kukang di alam liar pun merosot tajam dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, saat ini konservasi kukang terus digalakkan baik oleh pemerintah maupun NGO swasta demi lestarinya si primata bermata belok.

Sebaran dan Habitat Kukang

Kukang (Nycticebus coucang) tersebar di berbagai wilayah nusantara dengan sebutan yang berbeda beda. Di pulau jawa ia disebut pukang atau tukang, di Sumatera bernama kamalasan dan bulang, di Sunda terkenal sebagai muka dan di Kalimantan biasa dengan sebutan kalkang atau pukang.

Baca: Kukang Jawa yang Langka

Karakteristik kukang yang paling khas terletak pada ukuran tubuhnya yang kecil, dengan telapak tangan empuk dan lebar, telinga kecil, ekor pendek, kepala bulat dengan moncong runcing dan pendek. Rambut kukang berwarna coklat atau keabu-abuan di seluruh tubuhnya, dengan garis dari kepala sampai punggung atau hingga pangkal ekor bewarna cokelat gelap. Bayi kukang berwarna abu-abu keperakan, kemudian akan berubah warna menjadi cokelat keabu-abuan setelah berusia lebih dari sebelas minggu. Panjang tubuh kukang 25-38 cm, dan berat badannya 1-2 kg saja.

Masa kawin kukang terjadi dua kali dalam satu tahun. Kukang biasanya beranak tunggal, kadang dapat kembar meski jarang sekali. Induk kukang akan bunting selama 90-193 hari sebelum akhirnya melahirkan. Bayi kukang akan diasuh oleh induknya hingga 90 hari, dan kemudian dapat hidup mandiri di hutan hingga 12-20 tahun.

Sebagai hewan nokturnal, kukang sangat peka dengan cahaya dengan intensitas tinggi. Ia lebih banyak beraktivitas di malam hari. Sebelum matahari terbit ia akan segera kembali ke sarangnya setelah semalaman berburu makanan. Jenis makanan yang disukai kukang terdiri dari serangga, buah-buahan kecil, cicak, tikus kecil, dan hewan kecil lainnya.

Simak pula: 6 Hal yang Harus di ketahui tentang Kukang

Kukang dapat memanjat pohon dengan kecepatan 2 km/jam, namun tidak secepat itu di tanah (200-300 m/jam). Ia lebih suka hidup di atas pepohonan, jarang berada di tanah. Sehari kukang dapat tidur lebih dari 15 jam di dahan pohon atau rumpun bambu, dengan posisi menekuk tubunya hingga kepala dan tangan berada di antara kedua pahanya. (Rind)

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.