Mengenal Kukang Jawa Yang Langka

Di dunia terdapat 14 jenis kukang yang 3 diantaranya hidup di Indonesia. Ketiga jenis kukang

kukang jawa (Nycticebus javanicus)

kukang jawa (Nycticebus javanicus)

tersebut adalah kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang borneo (N. menagensis), dan kukang besar (N. coucang). Kukang  Jawa merupakan satwa liar yang banyak ditemukan di beberapa hutan dan perkebunan dipropinsiJawa Timur dan Jawa Tengah. Akibat tingginya nilai ekonomi dan kepercayaan mistis masyarakat terhadap kukang jawa, hewan ini sering menjadi buruan warga, sehingga populasinya terus menurun dari tahun ke tahun, karena itulah kukang jawa berstatus “endangered” /  jumlahnya didunia sangat sedikit. Kukang jawa bahkan termasuk dalam Daftar 25 Primata Terlangka di Dunia (Top 25 Most Endangered Primates) versi IUCN.

Kukang vs Kuskus

Beberapa orang berpikir kukang dan kuskus (genus  Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, Strigocuscus, dan Trichosurus) adalah hewan yang sama, akan tetapi hal ini tidak tepat. Untuk membedakan kukang dan kuskus sangatlah muda kuskus memiliki kantong dan berekor panjang sementara kukang tidak. Selain itu, kukang memiliki ciri fisik yang khas dan membedakannya dengan primata lain yaitu pola garpu tala diatas mata. Pola inilah yang dijadikan acuan untuk membedakan antar spesies dalam genus Nycticebus.

Permasalahan Kukang Jawa

jenis- jenis kukang

jenis- jenis kukang

Perburuan dan rusaknya habitat Kukang jawa merupakan masalah besar yang dihadapi oleh primata ini. Akibat perburuan, populasi kukang jawa menurun drastis di alam. Tidak hanya itu, setiap kukang jawa yang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal juga tidak bernasib lebih baik. Kukang hasil buruan biasanya telah melalui berbagai perlakuan,  salah satunya pemotongan gigi. Pemotongan gigi dilakukan dengan alasan untuk melindungi pemilik dari gigitan kukang tetapi hal ini sungguh salah. Gigi depan kukang yang tajam merupakan sarana untuk melindungi diri dan hidupnya. Pemotongan gigi yang dilakukan pedagang hanya menggunakan alat seadanya dan tidak sampai pada akarnya, yang mengakibatkan sisa gigi dalam gusi lama kelamaan akan membusuk, sehingga kukang akan susah makan yang berakibat pada terganggunya kesehatan. Beberapa kukang juga mengalami proses bleaching atau pemutihan dengan tujuan untuk memudarkan warna bulunya sehingga dapat dijual dengan harga yang mahal. Semua hal itu dilakukan untuk menambah pundi-pundi uang pedagang hewan liar bukan untuk kebaikan kukang.

Kukang Bukan Binatang Peliharaan

Beberapa orang berpikir dengan memelihara kukang dan berbagai satwa liar lain yang mereka temui di pasar hewan akan membantu. Dengan memberi satwa liar rumah baru dan kasih sayang maka hidup mereka akan lebih baik. Tetapi hal ini tidaklah benar. Satwa liar haruslah hidup di alam, alam merupakan tempat terbaik untuk mereka bukan rumah kita. Yang harus kita lakukan adalah mulai menempatkan kembali satwa liar pada habitatnya. Dengan menjaga habitat satwa liar kita dapat membantu mereka tetap lestari.

 

(Kontributor: drh. Mardini KusumoJati)

 

Pecinta Satwa
Freelance Contributor at Pecinta Satwa [dot]com
Beberapa kontributor lepas yang menulis artikel untuk Pecinta Satwa [dot]com. Masih ada yang aktif menulis dan ada yang sudah tidak aktif.