Burung Gelatik Jawa

Burung gelatikBagi Anda yang menghabiskan masa kecil di daerah pedesaan, burung yang satu ini tidak akan asing di mata Anda. Paruhnya yang besar mencolok selalu menandakan kehadirannya yang paling tidak disukai para petani. Konon, satu gerombolan besar Gelatik Jawa (Padda oryzivora) bisa menghabiskan satu petak sawah hanya dalam satu hari, membuatnya menjadi salah satu hama padi paling berbahaya sebelum tahun 1990. Anehnya, sekarang burung ini menjadi sangat jarang terlihat, bahkan hilang bak ditelan bumi. Tidak ada lagi suara cicitannya yang khas, pipi putihnya yang lucu, atau siluet hitamnya saat terbang dari satu petak sawah ke petak lain—pemandangan yang sangat berbeda dari 2 dekade yang lalu. Kemana mereka pergi?

Gelatik Jawa atau dalam bahasa inggris disebut Javan Sparrow merupakan burung berukuran sedang (16 cm) yang berasal dari suku estrildidae. Seperti spesies lain di suku tersebut, Gelatik Jawa memiliki paruh yang tebal dan kuat, digunakan untuk memecahkan biji-bijian seperti padi yang menjadi makanan utamanya. Burung ini memiliki tubuh yang agak bantet, dengan warna merah yang mencolok di paruh, kaki dan irisnya, sementara bagian tubuh yang lain didominasi oleh bulu abu-abu gelap. Kepalanya hitam dengan corak putih yang terlihat kontras, sementara bagian perutnya berwarna merah keabu-abuan.

Baca juga: Lassie – Anjing Gembala

Burung endemik Pulau Jawa dan Bali ini merupakan hewan yang cukup sosial, hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil serta berpergian bersama-sama. Mereka sangat aktif di pagi dan sore hari, mencari makan di areal persawahan atau rerumputan yang tinggi, kemudian tidur bersama-sama di dahan-dahan pohon yang cukup tinggi di malam hari. Burung ini termasuk cavity nester alias bersarang di lubang pohon, meskipun mereka juga sering membangun sarang di lubang-lubang lain, seperti celah-celah tebing, lubang-lubang di bangunan, atau bahkan di sela-sela batuan candi yang berumur ratusan tahun.

Gelatik Jawa yang mulai terusik

Seperti yang disinggung di atas, John MacKinnon—salah satu ornitolog ternama yang menuliskan buku tentang burung-burung di Indonesia—menyebut bahwa burung ini awalnya merupakan salah satu burung paling umum di tanah Jawa. Burung ini sering membentuk koloni besar yang bergerilya dari satu sawah ke sawah lain, mencari bulir-bulir padi yang sudah matang dan merunduk. Bersama jenis-jenis burung pemakan biji lain, Gelatik Jawa dapat menciptakan kerusakan yang cukup parah bagi para petani yang sedang panen, sehingga dijuluki sebagai salah satu hama paling berbahaya bagi industri pertanian di Indonesia.

Hal ini berubah pada tahun 1960 hingga 1970-an, ketika tren memelihara burung sedang memuncak di Indonesia. Warna yang menarik, bentuk tubuh yang unik, rupa yang menggemaskan serta perilaku yang lucu membuat banyak orang tertarik untuk menangkap dan memelihara burung ini di dalam kandang. Hal ini memicu penangkapan besar-besaran burung ini demi memenuhi kebutuhan pasar—bukan hanya domestik, tapi juga pasar internasional. Penangkapan besar-besaran ini ditambah perubahan habitat yang cukup signifikan membuat populasi Gelatik Jawa berkurang drastis. Hanya dalam beberapa tahun, burung ini seakan ‘lenyap’ dari daerah asalnya, hingga International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukan spesies ini dalam daftar ‘rentan punah’ (Vulnurable).

Di Pulau Jawa, burung ini sudah sangat sulit ditemukan, kecuali di beberapa titik yang sangat tersebar seperti di kota Yogyakarta dan Taman Nasional Baluran, Situbondo. Di Bali, keberadaannya masih cukup baik dan masih bisa ditemukan di beberapa areal persawahan, meskipun tidak seumum beberapa dekade yang lalu. Sawah-sawah yang dulunya penuh dengan suara unik mereka kini menjadi sepi, lebih sering dikunjungi oleh burung-burung bondol yang bentuknya tidak semenarik Gelatik Jawa.

Gelatik Jawa Menyebar ke beberapa Negara

Yang mengejutkan, populasi burung ini justru hadir dalam jumlah besar di negara lain, seperti Singapura, Vietnam, China, hingga Brazil dan Hawaii. Burung-burung ini berasal dari burung peliharaan yang terlepas, baik sengaja maupun tidak disengaja, dan berkembang biak hingga membentuk populasi yang cukup stabil—tanpa ancaman penangkapan seperti yang mereka alami di ‘tanah air’ mereka sendiri. Gelatik Jawa seakan terusir dari rumah mereka sendiri—di Pulau Jawa—dan akhirnya memilih untuk hidup di tanah perantauan yang jauh lebih aman. Ironis.

Sebagai pecinta satwa, sudah seharusnya kita menjaga keberadaan satwa identitas Pulau Jawa ini agar tidak punah di rumahnya sendiri. Mari, kita undang kembali kicauan mereka ke sawah, karena Sang Gelatik harus pulang ke Negerinya..

Simak pula: Alap-alap Kawah – Satwa Tercepat didunia

 

Panji Gusti Akbar