Kisah si Kancil yang (Tidak Lagi) Suka Mencuri Ketimun

“Si Kancil anak nakal,suka mencuri ketimun … Ayo lekas diburu, jangan diberi ampun”

Anda pasti ingat lirik lagu di atas, kan? Ya, lagu anak-anak ini selalu mengingatkan kita pada hewan bernama Kancil, si rusa kecil yang konon bersifat cerdik, usil, dan nakal. Hampir di setiap kisah anak-anak, kancil selalu dideskripsikan sebagai satwa antagonis yang suka menipu satwa lain, seperti buaya, harimau, hingga manusia. Lirik lagu di atas pun mengisahkan betapa nakalnya kancil yang suka mencuri ketimun pak Tani, sehingga harus diburu tanpa diberi ampun. Lantas, benarkah kancil benar-benar nakal hingga layak untuk diburu sampai punah?

kancil jawa

kancil jawa

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengenal lebih dekat satwa imut yang pernah muncul di film “Petualangan Sherina” ini. Kancil atau dalam bahasa inggris disebut chevrotain atau mousedeer (“rusa tikus”) merupakan sejenis rusa yang berukuran sangat kecil, hampir sebesar kelinci atau tikus yang agak besar. Hewan ini merupakan anggota keluarga ungulata (hewan berkaki kuku, seperti rusa, sapi, kambing dan babi), terdiri atas beragam jenis yang tersebar di Asia dan Afrika, dan dikelompokan dalam keluarga Tragulidae. Semua anggota keluarga tersebut memiliki ciri yang sama, yaitu kepala memanjang tanpa tanduk, kaki belakang yang lebih panjang dari kaki depan, serta ukuran kaki yang lansing seperti pensil.

Jenis-jenis dan Spesies Kancil

Terdapat sekitar 12 jenis kancil di dunia, 11 spesies menghuni hutan tropis di Asia Selatan dan Asia Tenggara, dan hanya ada 1 spesies yang hidup di hutan hujan Afrika bagian tengah. Di Indonesia, ada 3 jenis kancil yang dikenal, yaitu Kancil Jawa (Tragulus javanicus), Kancil Kecil (T. kanchil) dan Kancil Besar (T. napu). Dari ketiga spesies tersebut, Kancil besar memiliki ukuran yang paling besar, dengan berat mencapai 8 kilogram dan panjang sekitar 75 cm.

kancil kecil

kancil kecil

Kancil kecil dan Kancil Jawa memiliki ukuran 4 kali lebih kecil dari kancil besar, dengan berat 2 kilogram dan panjang tubuh hanya sekitar 45 cm, sehingga dinobatkan sebagai hewan berkaki kuku terkecil di dunia. Kancil Besar dan Kancil Kecil dapat ditemukan di seluruh hutan hujan di Semenanjung Malaya, Sumatra dan Kalimantan; sementara Kancil Jawa hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa.

Simak: Surili – Primata Endemik Pulau Jawa

Seperti jenis rusa lainnya, Kancil hidup sendirian atau dalam kelompok kecil. Mereka menghuni daerah lantai hutan yang dipenuhi semak-semak, dan jarang keluar ke tempat terbuka kecuali jika terpaksa. Satwa ini bersifat crepuscular atau hanya aktif di saat senja dan fajar, ketika cahaya matahari masih tidak terlalu terang. Hewan ini sangat pemalu dan lebih suka bersembunyi di bawah semak-semak hutan di siang hari, sehingga jarang sekali terlihat oleh manusia. Ketika terancam, hewan ini akan berlari ke semak-semak yang lebat untuk bersembunyi hingga merasa aman.

Makanan Utama Kancil

kancil besar

kancil besar

Tidak seperti di lirik “si Kancil”, mentimun bukanlah makanan utama satwa unik yang satu ini. Kancil lebih suka memakan dedaunan yang tersedia di lantai hutan, sehingga disebut sebagai hewan ‘foliofora’ alias pemakan daun. Kancil juga mengkonsumsi umbi tanaman dan berbagai jenis buah-buahan berukuran kecil dengan berat antara 1-5 gram. Di penangkaran, kancil memakan berbagai jenis sayur-sayuran seperti kacang panjang dan wortel. Sifatnya yang pemalu membuatnya jarang pergi ke daerah perkebunan, khususnya kebun mentimun yang bersifat terbuka, sehingga tuduhan ‘pencuri ketimun’ di lagu tersebut agaknya kurang tepat.

Habitat dan Populasi Kancil

Lalu, apakah satwa ini benar-benar layak untuk diburu tanpa diberi ampun?

Sayangnya, bagi sebagian besar masyarakat kancil tetaplah satwa yang harus diburu dengan alasan yang berbeda-beda. Hingga saat ini, keberadaan Kancil masih terancam akibat perburuan untuk diambil daging dan kulitnya, atau ditangkap hidup-hidup untuk dijadikan hewan peliharaan. Hal ini membuat populasi satwa cantik ini semakin menurun dari hari ke hari, khususnya Kancil Jawa yang memiliki daerah persebaran paling kecil dari dua spesies lain yang ada di Indonesia. Meskipun Kancil Besar dan Kancil Kecil berstatus resiko rendah atau low risk (LR) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), Kancil Jawa masih belum memiliki status yang jelas dan masih digolongkan sebagai ‘kurang data’ (Data Deficient). Hal ini diakibatkan oleh minimnya penelitian tentang populasi spesies ini yang tersisa di alam, sifatnya yang pemalu dan sulit ditemui, dan habitatnya yang semakin menyusut dari waktu ke waktu. Dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin Kancil Jawa akan dinaikan statusnya menjadi terancam (Vulnurable), dan dapat punah dalam beberapa puluh tahun ke depan jika tidak ada aksi nyata untuk melindungi satwa yang satu ini.

Kisah : Gelatik Jawa yang Terusir dari rumahnya Sendiri

Melihat kenyataan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa kancil bukanlah satwa yang harus diburu tanpa diberi ampun, melainkan dilindungi agar tetap lestari di habitatnya. Jangan sampai satwa cerdik yang satu ini hilang dari muka bumi, sehingga anak-cucu kita hanya bisa mendengar cerita tentang kenakalan si Kancil tanpa pernah melihatnya secara lansung. Mari kita jaga kehidupan kancil di alam, dan biarkan hewan pemalu ini hidup dengan damai di rumahnya yang lestari.

“Si Kancil tidak nakal, sekarang jadi langka

Ayo jangan diburu! dia sangat pemalu”

Baca: Wiwik – Burung Pembawa Pesan Kematian

 

Panji Gusti Akbar