Asal Usul Kambing PE

Ternak Kambing PEKambing Ettawa menjadi salah satu jenis ruminansia kecil yang dimanfaatkan produksi susunya. Kambing yang diyakini berasal dari India ini memang memiliki keunggulan sebagai hewan produksi susu selain susu sapi yang biasa dikonsumsi oleh manusia. Kambing ettawa dikatakan berasal dari India karena memiliki ciri fisik layaknya kambing “Jamnapari” yang banyak diternakkan dan memiliki populasi kolosal di daerah Agra dan Ettawa. Kambing ettawa yang ‘diimpor’ dari India ini telah disilangkan dengan kambing lokal Indonesia oleh masyarakat dan menghasilkan kambing peranakan ettawa (PE) yang kini banyak digandrungi oleh komunitas pecinta kambing. Bahkan melalui usaha peternakan baik skala kecil maupun besar, keberadaan kambing PE kini bisa menjadi produsen susu alternatif disamping hasil sapi perah.

Kambing PE sangat mudah dipelihara karena beberapa alasan, yakni kecocokan dengan kondisi lingkungan terutama daerah dingin, postur tubuh yang proporsional, serta tidak membutuhkan lahan dan modal yang terlalu banyak untuk memeliharanya. Alasan itulah yang membuat banyak kambing PE diternakkan, terlebih lagi masih banyak masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani, sehingga dengan memelihara kambing PE dapat menjadi tabungan dan aset tersendiri diluar panenan sebagai penghasilan utamanya.

Ciri Khas Kambing PE

Kambing PE memiliki ciri fisik yang khas. Seperti asal bibitnya dari India yakni kambing ettawa, kambing PE memiliki gesture tubuh tegak dengan kepala dan leher yang tinggi menjulang, sementara tulang punggung hingga pinggul melengkung ke bawah. Ekor kambing PE juga pendek dan tegak. Keempat kakinya sangat kokoh, sehingga apabila dilihat tampak sangat gagah untuk seekor kambing. Kambing PE identik dengan perpaduan waran hitam, putih dan cokelat dengan mayoritas didominasi warna hitam pada kepala hingga leher dan putih pada seluruh tubuhnya. Bagiandahi juga tampak lebih cembung, bergelambir dan cukup besar.

Dominasi bulu lebat dan panjang juga membuat kambing PE tampak lebih elegan. Ciri khas yang lebih spesifik adalah kambing PE memiliki telinga yang panjang dan menjulur ke bawah serta struktur rahang bawah yang tampak lebih maju dari rahang atas. Tak heran dengan struktur rahang tersebut, kambing PE lebih menyukai pakan yang digantung daripada di atas tanah. Terlebih pakan rumput yang berukuran pendek akan sangat menyulitkan proses prehensi sebelum dimastikasi oleh hewan ruminan ini. Bahkan begitu panjangnya telinga dari kambing PE akan menyulitkan melihat pakan yang berada di atas tanah karena ketika menundukkan kepala bisa jadi telinga akan sampai terlebih dahulu di atas tanah dan menutupi area pakan rumput.

Masa Reproduksi Kambing PE

Kambing PE akan mencapai masa siap kawin pada usia 18-19 bulan. Selanjutnya betina yang telah bunting dapat melahirkan anak pertama pada kisaran usia 23-24 bulan. Berdasarkan pengalaman seringkali kambing PE malahirkan 2 ekor anak bahkan bisa jadi 3-4 ekor anak yang dilahirkan dalam sekali proses partus. Pertambahan bobot lebih cepat pada anakan jantan. Pasca kelahiran baik jantan maupun betina memiliki bobot kisaran 3-4 Kg. Namun pada usia setahun bobot jantan bisa mencapai 40 Kg. Bobot tersebut 10 Kg lebih tinggi dari betina yang berusia setahun yang hanya berkisar 30-35 Kg.

Keunggulan Kambing PE

Pemerahan Susu Kambing PE

Pemerahan Susu Kambing PE

Keunggulan beternak kambing PE terikat erat dengan fungsi dan manfaatnya. Kambing PE memiliki produksi susu yang cukup tinggi dengan volume antara 1-4 liter per hari. Komposisi solid non fat (SNF) yang rendah dan nutrisi yang tak kalah dari susu sapi menjadikan konsumsi susu kambing PE juga digemari oleh konsumen. Hanya saja dibutuhkan cara tertentu untuk mengurangi bau dan aroma susu yang sedikit ‘prengus’ karena identik dengan lemak kambing pada umumnya.

Beternak kambing PE juga dapat dimanfaatkan dagingnya,karenaproposidagingnya relative lebihbanyakdarikambinglokal. Tidak jarang apabila sudah tidak berproduksi susu secara ideal, maka pilihan untuk mengambil manfaat daging kambing PE sering dilakukan peternaknya, khususnya untuk hari raya idul qurban dan peringatan aqiqah anak serta pesta dan perayaan hari-hari tertentu.

Sebagian penghobi dan penggemar kambing PE juga sering mengikutkan ke dalam kontes dan memiliki kelas tersendiri dengan kategori yang sesuai dengan porsi kambing kontes. Begitu multigunanya kambing PE, sehingga memang tak salah apabila masyarakat kita sangat mengaguminya.

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.