Inseminasi Buatan pada Sapi

Istilah Inseminasi Buatan (IB) / artificial insemination (AI) / Kawin suntik pasti sudah menjadi bahasan sehari-hari bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia peternakan dan medis veteriner. Akan tetapi, apakah sahabat PecintaSatwa.com  juga mengetahuinya?. Meski ini sudah bukan suatu hal yang baru lagi, mari kita ulas kembali untuk memperkaya wawasan kita mengenai reproduksi hewan, dan mungkin dapat menjadi inspirasi bagi sahabat PESAT.

Apakah Inseminasi Buatan (IB) itu?

Pelaksanaan Inseminasi Buatan

Pelaksanaan Inseminasi Buatan

Sederhananya, IB merupakan metode perkawinan hewan dengan bantuan manusia. Semen dari pejantan yang berisi spermatozoa dimasukkan ke saluran reproduksi betina dengan menggunakan alat yang disebut Gun. Pada umumnya, semen yang digunakan telah mengalami mengenceran terlebih dahulu, sehingga dapat digunakan oleh banyak betina. Pengenceran semen tersebut dilakukan dalam laboratorium khusus yang telah diberi lisensi Pemerintah, seperti Balai Inseminasi Buatan (BIB) seperti yang ada di FKH UNAIR, dan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB), contohnya BBIB Singosari dan BBIB Lembang.

Baca juga: Sapi Freemartin, Apakah itu?

Inseminasi buatan bertujuan untuk memperbaiki mutu genetik sapi lokal dengan menyilangkannya dengan sapi-sapi jenis unggul seperti Frisian Holstein, Jersey, Limosin, Simenthal, Brahman, dan Angus secara luas di masyarakan Indonesia. Diharapkan beberapa tahun kemudian didapat sapi-sapi lokal Indonesia dengan performa yang lebih baik, karkas tinggi, peningkatan produksi susu, pertumbuhan pesat, postur besar dan tahan terhadap penyakit, sehingga dapat memenuhi kebutuhan daging dan susu nasional.

Kelebihan dan Kekurangan kawin Alami dibandingkan Inseminasi Buatan (IB)?

Kawin Alami

Kelebihan Kekurangan
Dapat dilakukan secara mandiri oleh ternak, cukup dengan pengawasan peternak Diperlukan biaya lebih mahal untuk memelihara pejantan unggul, atau untuk meminjam penjantan unggul dari peternak lainnya
Dapat dilakukan dimanapun Postur tubuh ternak yang dikawinkan harus seimbang, karena apabila ras betina kecil dikawinkan dengan ras pejantan yang besar, rawan terjadinya distocia / kesulitan melahirkan
Peternak tidak membutuhkan ketrampilan khusus untuk mengawinkan ternaknya Tidak dapat dilakukan recording atau riwayat ternak secara akurat
Deteksi birahi secara alami oleh ternak sangat akurat Sering kali hewan melakukan kawin alam sendiri sehingga mutu genetik anakan tidak dapat diprogram dengan baik.

 

Inseminasi Buatan

Kelebihan Kekurangan
Tidak diperlukan biaya ekstra untuk memelilhara pejantan unggul Hanya dapat dilakukan oleh inseminator, karena dibutuhkan keahlian tersendiri
Tingkat keberhasilan tinggi, terlebih dengan program deteksi birahi yang detail serta program sinkronisasi birahi Rawan terjadinya penyakit reproduksi apabila operator melakukannya dengan tidak hygene
Bibit bakalan berkualitas karena berasal dari BIB atau BBIB yang khusus menyediakan bakalan terseleksi ketat Sering terjadi distocia pada sapi dara yang di IB dengan bibit sapi ras besar
Biaya yang dibutuhkan relatif terjangkau Dibutuhkan keterampilah deteksi birahi yang baik oleh peternak untuk memperbesar kemungkinan berhasil.
Lebih efektif dan efisien, karena semen satu pejantan unggul dapat mengawini ribuan betina Kegagalan sering terjadi apabila operator kurang terampil, penanganan straw bibit kurang baik, atau deteksi birahi kurang akurat
Semen pejantan berkualitas dapat disimpan hingga puluhan tahun  

 

Dapatkah Inseminasi Buatan (IB)  dilakukan pada hewan kesayangan seperti anjing dan kucing?

Tentu Saja!. Thailand dan Australia, negara terdekat yang telah mengaplikasikan teknologi IB pada hewan kesayangan. Rumah sakit hewan setempat telah memiliki fasilitas khusus untuk memproses semen dan melakukan IB pada hewan tersebut. Akan tetapi, hingga saat ini masih terjadi perdebatan tentang aplikasi IB pada hewan kesayangan berkenaan dengan animal welfare dimana salah satu kriterianya adalah memberi kebebasan hewan untuk mengekspresikan tingkah laku alaminya termasuk kawin alam. Berbeda halnya dengan hewan ternak sebagai hewan produksi untuk pemenuhan kebutuhan bahan pangan, IB lebih digalakkan untuk meningkatkan jumlah populasi ternak nasional setiap tahunnya.

 

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.