Asal Usul Ikan Sidat

Ikan Sidat

Ikan Sidat

Ikan sidat telah menjadi perhatian bagi kalangan penggemar kuliner makanan laut. Belakangan ini, ikan sidat telah menjadi salah satu jenis ikan yang marak dibudidayakan. Sebenarnya ikan sidat telah lama ada dan dikembangkna oleh masyarakat terutama di wilayah Indonesia bagian Timur. Ikan yang menyerupai belut ini juga sering disebut sebagai ikan ular laut.

Seperti halnya keluarga belut pada umumnya, ikan sidat berasal dari genus Anguilla, ikan ini merupakansalah satu dari 20 spesies yang telah ada dimana empat diantaranya mirip dengan yang banyak ditemukan di perairan Australia. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya gen identik karena seperti ikan Anguilla laut lainnya, migrasi ikan sidat dari Australia ke Indonesia atau sebaliknya berlangsung sangat cepat mengikuti musim tropis dan temperatur perairan. Dari laut inilah pertama kalinya sidat dicoba untuk dikembangkan di tambak air tawar dan uniknya ikan sidat ini juga dapat berkembang baik saat dibudidayakan di air tawar.

Habitat Ikan Sidat

Distribusi ikan sidat di seluruh penjuru dunia terdapat di beberapa titik, yakni laut timur pasifik, laut atlantik selatan, pantai barat Amerika, dan perairan timur laut Australia. Indonesia merupakan titik strategis untuk ikan sidat karena arus migrasi dari setiap distribusi laut di penjuru dunia selalu melewati perairan nusantara.

Morfologi Ikan Sidat

Ikan sidat yang dalam bahasa inggris disebut dengan eels ini memiliki bentuk tubuh mirip seperti belut atau ular laut. Sidat hidup di laut dan mampu bertahan hidup baik di air tawar dalam kolam budidaya buatan. Ikan sidat memiliki panjang sekitar 0,5-2,5 meter dengan bentuk moncong seperti ikan pada umumnya. Hidung sidat terletak pada ujung moncong dan tepat di belakangnya terdapat sepasang mata lateral. Sidat memiliki sirip

Sidat

Sidat

yang memanjang dari dada hingga mendekati ekor. Selain itu, sirip pada bagian punggung juga ditemukan memanjang hampir ke ekor. Tepat di pangkal kepala terdapat sepasang insang sebelah kanan dan kiri dan masing-masing memiliki sirip. Warna sisik sidat terlihat putih keabu-abuan, transparan sehingga seperti memendarkan apabila terkena cahaya.

Seperti halnya belut, sisik sidat memiliki kutikula dan kolagen yang licin. Sidat tergolong ikan pemakan zooplankton dan vertebrata air seperti larva serangga, ikan kecil. Dalam kondisi sumber bahan makanan yang menipis, sidat dapat menkonsumsi avertebrata seperti molusca dan kerang. Ketersediaan fitoplankton juga menjadi alternatif makanan bagi sidat.

Baca: Jenis Burung Madu yang hidup di Indonesia

Reproduksi Ikan Sidat

Sidat termasuk jenis hewan ovipar. Sidat memerlukan waktu 8 hingga 10 tahun untuk menjadi sidat dewasa yang matang dan siap melangsungkan proses reproduksi. Pada saat memasuki masa maturasi, sidat betina akan bermigrasi menuju perairan laut zona neritik untuk menaruh telur yang siap dibuahi sidat jantan. Zona neritik ini merupakan zona ideal karena banyak terdapat zooplankton dan vertebrata kecil sebagai makanan sidat dewasa. Saat masa metamorfosis telur telah selesai, telur akan menetas dan mengeluarkan larva sidat atau disebut elvers atau glass eels.

Larva sidat sangat transparan, bahkan masih terlihat pembuluh darah tepi. Sidat ini akan berkembang hingga mencapai usia 5 bulan yang biasa dibudidayakan oleh petambak sidat, dan yang lainnya akan terus berkembang bertahun-tahun dan bermigrasi pada semua area laut. Pola reproduksi sidat juga bisa dimanipulasi pada kolam budidaya buatan. Budidaya sidat dewasa menghasilkan larva sidat pada air tawar juga sama baiknya seperti perkembangan sidat di perairan laut dengan syarat pemenuhan nutrisi dikondisikan sama seperti ekologi alaminya.

Kisah: Lumba-lumba Humpback

Referensi :

Bastrop, R., B. Strehlow, K. Jürss & C. Sturmbauer. 2000. A new molecular phylogenetic hypothesis for the evolution of freshwater eels. Molecular Phylogenetics and Evolution 14(2): 250–258.

Teng, H.-Y., Y.-S. Lin & C.-S. Tzeng. 2009. A new Anguilla species and a reanalysis of the phylogeny of freshwater eels. Zoological Studies 46(6): 808-822.

 

Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, drh., M.Si.
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master Biologi Reproduksi UNAIR (2014), Praktisi Large Animal (Beef Cattle) & Aquatic Animal dan Dosen Dep. Reproduksi Fak. Kedokteran Hewan UNAIR Banyuwangi.