Penyebab Rabies pada Ayam

PecintaSatwa.com – Jika sebelumnya ramai-ramai kasus rabies terjadi pada anjing dan manusia di Bali, kali ini di India ditemukan kasus rabies yang menyerang ayam. Sebagaimana  yang dilaporkan oleh para peneliti, dan dipublikasikan oleh Julie Baby dkk. dalam jurnal ilmiah PLOS Neglected Tropical Disease, pada tanggal 22 Juli 2015

Rabies disebabkan virus genus Lissavirus, dalam family Rhabdoviridae. Virus tersebut mengakibatkan terjadinya radang otak fatal (encephalitis).  Sebelumnya, diyakini bahwa rabies hanya menyerang golongan mamalia, tidak hanya anjing, kucing dan kera, bahkan di Indonesia pertama kali kasus rabies ditemukan pada seekor kuda (1884), kerbau (1889), kemudian seorang anak di Cirebon (1894). Kendati demikan, ternyata rabies juga rentan pada golongan hewan berdarah panas lainnya seperi unggas dan burung yang berada di daerah endemic dengan populasi anjing dalam jumlah besar. (Simak: 7 Hal Penting Keberhasilan Biosecurity Area Peternakan)

Penelitian Rabies pada Ayam

Rabies pada ayamPara peneliti India ini mempelajari beberapa sampel ayam (Gallus domesticus) yang mati secara normal, dimana dilaporkan telah tergigit anjing 1 bulan yang lalu di bagian otot dadanya. Semula, ayam itu terlihat normal, diobati oleh pemiliknya dibagian lukanya, namun sebulan kemudian, kondisi ayamnya semakin memburuk, mulai lemah, menurun nafsu makannya dan mati. Saat di nekropsi (autopsi untuk hewan), tidak terdapat tanda-tanda lesi atau kerusakan organ dalam yang berarti, luka pada otot dadanya pun sudah sembuh. Bangkai ayam tersebut kemudian dibawa Rabies Diagnostic Laboratory – The Chief Disease Investigation Office – Departement of Animal Husbandry, Kerala-India, untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. (Baca: Tips Tekan Resiko Outbreak Avian Influenza saat musim hujan)

Setelah jaringan otak diperiksa lebih detail dengan metode Flourescent Antibody Test dilanjutkan dengan metode TagMan Real Time PCR, terdeteksi adanya nucleoprotein antigen virus rabies. Bahkan kode genetic yang didapat dari sampel tersebut memiliki kedekatan dengan kode genetic virus rabies yang berasal dari India, Srilanka dan Nepal.

Gejala Infeksi Rabies pada Ayam

Kasus rabies yang menyerang unggas memang belum umum, dan sangat jarang dilaporkan terjadi. Dalam kasus ini pun terdapat keunikan tersendiri, unggas yang digigit anjing tersebut masih dapat bertahan hidup hingga satu bulan tanpa menunjukkan gejala-gejala infeksi rabies yang khas, kecuali sebelum mati ayam tersebut tidak mau makan dan melemah. Luka bekas gigitan anjing juga dapat sembuh setelah diobati lokal oleh pemiliknya.

Hingga saat ini belum terdapat laporan tentang keganasan virus rabies yang menyerang unggas di India. Belum juga dapat dijawab apakah rabies tersebut dapat ditularkan oleh ayam sebagaimana anjing menularkannya, ataukah ayam hanya menjadi tempat transit virus rabies sementara waktu, apakah terjadi perkembang biakan dan berubahan struktur genetic virus rabies selama berada dalam otak ayam, dan apakah daging ayam tersebut tetap aman untuk dikonsumsi. Tentu dunia penasaran dengan fenomena ini dan bagaimana kelanjutannya, kita tunggu saja laporan berikutnya dari peneliti. Meski demikan tidak ada salahnya kita sebagai makhluk social yang hidup diantara manusia, hewan ternak, dan hewan peliharaan lebih hati-hati, waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini. (Rind)

 

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.