Cacing Hati pada Sapi

PecintaSatwa.com – Pernah jadi panitia kurban, atau melihat proses penyembelihan sapi? Pernah melihat hati sapi yang berlubang-lubang tidak normal sperti spons baik di pasar maupun penyembelihan?, hal demikian biasanya disebabkan karena adanya infestasi parasit cacing hati (Fasciola sp.) pada liver sapi tersebut. Berbahayakah bagi sapi, dan bagi kita yang mengkonsumsi dagingnya, mari kita simak ulasan berikut ini.

Fasciolasis disebut juga distomatosis merupakan penyakit yang disebabkan cacing jenis trematoda, Fasciola sp, lebih sering terjadi di daerah basah, berhujan, dan memikili aliran air berlimpah,  sangat jarang terjadi di daerah kering. di Indonesia, kejadian faciolasis umumnya disebabkan oleh spesies Fasciolas gigantica yang menyerang hewan-hewan ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan kadang dijumpai pada babi. Cacing ini dapat masuk dan menyebabkan penyakit pada hewan diperantai oleh sejenis siput air, Limnea rubigenosa. ( Simak: Sapi Bali – Ternak Asli Nusantara)

Didalam tubuh siput, cacing mengalami pertumbuhan dan perkembang biakan, setelah itu keluar ke alam bebas, berenang-renang di air dan menempel pada tumbuham dalam bentuk metacercaria, hingga setinggi 2/3 tinggi tumbuhan. Metacercaria akan terus tumbuh menjadi cacing muda saat menempel di tumbuhan. Apabila tumbuhan tersebut termakan oleh ternak, maka cacing akan terus berkembang dalam perut ternak, hingga pecah kistanya dan mengeluarkan cacing muda. Cacing tersebut akan menembus usus halus (duodenum), ke perineum, menuju hati dan menembusnya hingga saluran empedu, ditempat tersebut cacing muda akan terus berkembang dan bertelur selama 10-12 minggu.

Didalam liver penderita, cacing dewasa akan menghisap  darah hewan hingga terjadi anemia, mengurangi produksi empedu dan menyebabkan pengerasan (fibrosis) pada hati, terkadang disertai dengan diare. Kerusakan hati yang parah akan memicu teradinya ikterus (penyakit kuning), pembengkakan, dan ascites (penimbunan cairan di rongga perut). Kejadian ini akan mengurangi produksi ternak secara signifikan. Sapi akan berangsur angsur semakin kurus, meski makan nya banyak ia tidak akan tampak gemuk, produksi wool pada domba pun akan berkurang drastis.

Ciri-ciri Sapi Terkena Cacing Hati

fasciola gigantica, penyebab fasciolasis sapi di indonesia

fasciola gigantica, penyebab fasciolasis sapi di indonesia

Sapi yang terkena fasciolasis, akan Nampak tidak segar, lemah, kurus, anemia, pembengkakan pada daerah rahang bawah, suara jantung mendebur, kotoran sapi setengah cair dan berwarna hitam sering dijumpai, dan terkadang hingga ambruk jika kejadian penyakit sudah terlalu berat. (Baca: Simethal – Sapi Bule di Indonesia)

Pada sapi yang telah disembelih atau di nekropsi, sapi penderita akan menampakkan organ dalam yang pucat hingga kekuningan, pembengkakan dapat dilihat pada daerah rahang bawah, kelenjar susu, atau disekitar testis, terjadi penebalan dan pengapuran pada saluran empedu, hati sapi mengeras dengan permukaan tidak rata, apabila dibelah akan terlihat banyak cacing dewasa baik pada saluran-saluran maupun pada jaringan hati.

Adanya infestasi cacing hati dalam tubuh sapi dapat didiagnosa secara sederhana menggunakan mikroskop, dengan melihat keberadaan telur cacing dalam kotoran sapi. Pemeriksaan ini biasanya rutin dilakukan industri peternakan dengan metode random sampling sebelum dilakukan terapi  untuk memantau perkiraan angka timbulnya penyakit.

Pencegahan Cacing Hati pada Sapi

Pada industry sapi pedaging, pencegahan sekaligus terapi fasiolasis dilakukan mulai ternak datang ke peternakan dengan pemberian obat cacing per oral. Pemberian obat cacing ini dapat setiap 1,5 hingga 2 bulan. Pengobatan tunggal sekali waktu, tidak terbukti efektif karena sapi selalu berpotensi terinfestasi fasciola karena konsumsi pakan hariannya adalah rumput-rumputan yang dapat mengandung sejumlah metacercaria.

Untuk meminimalisir timbulnya fasciolasis, sebaiknya hijauan untuk pakan ternak dipotong setelah pukul sepuluh pagi, dimana matahari sudah bersinar menghangatkan tumbuh-tumbuhan. Hijauan yang telah dipotong lebih baik tidak langsung diberikan kepada ternak, angin-anginkan ditempat yang teduh minimal 12 jam, atau esok hari nya baru diberikan kepada ternak. (Baca: Tips Memilih Sapi Bakalan yang Menguntungkan)

Karena kehidupan ternak merupakan bagian dari hidup kita, pemeliharaan yang baik harus kita usahakan semaksimal mungkin, demi sehatnya ternak dan stabilnya usaha peternakan yang kita jalankan. Selamat beternak..! (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.