Penyebab Sapi Pilek/Flu

Musim pancaroba yang biasa terjadi setiap pergantian musim sering kali meresahkan para peternak sapi. Hawa yang terkadang dingin kemudian panas dan gerah setiap harinya membuat daya tahan tubuh menurun, tidak hanya pada peternaknya namun juga pada sapi-sapi yang dipeliharanya. Sapi-sapi tersebut biasanya terlihat lesu, demam dan nafsu makan menurun. Leleran hidung yang menyertai terjadinya gejala lainnya menjadikan penyakit ini khas disebut peternak “sapi pilek” atau sapi flu, sedangkan di dunia kedokteran hewan lebih umum dikatakan sebagai penyakit “demam tiga hari”.

Demam 3 Hari Sapi

Demam 3 Hari Sapi

Penyakit yang bersinonim dengan Bovine Ephimeral Fever (BEF) ini merupakan penyakit yang bersifat akut (terjadi dengan cepat dalam hitungan hari), dengan angka kejadian penyakit yang tinggi, namun angka kematian dibawah 1%. BEF secara alami terdapat di benua Afrika, dan Asia. Pada tahun 1963 diketahui mulai memasuki benua Australia yang mana disinyalir berasal dari Indonesia.

BEF disebabkan oleh virus Rhabdovirus, satu family dengan virus penyebab penyakit Rabies. Virus tersebut menyebar melalui bantuan vector / agen pembawa, yaitu serangga dan nyamuk. Di dalam tubuh nyamuk, virus tidak hanya terangkut dan berpindah namun juga bertumbuh kembang menjadi banyak. Sapi menjadi sakit apabila mengalami kontak langsung berupa gigitan dengan vector, terlebih saat hawa berangin basah dan lembab yang dapat menyebarkan vector hingga radius 100 Km, bahkan lebih.

Ciri-ciri Sapi Bovine Ephimeral Fever

Ciri-ciri BEF

Ciri-ciri BEF

Sapi yang mengalami BEF, akan terlihat lesu, nafsu makannya dan minumnya menurun, agak gemetar, demam sekitar 2-40C lebih tinggi dari suhu normal, lebih sering tiduran, frekuensi nafas dan detak jantung meningkat, terdapat leleran hidung dan mata, terjadi kepincangan sehari setelah demam dimana kaki yang pincang dapat berbeda setiap harinya, kontraksi rumen terhenti, kadang disertai diare atau konstipasi, dan pada sapi perah produksi terjadi penurunan jumlah susu yang dihasilkan secara drastik.

Pencegahan dan Pengobatan BEF

Pada dasarnya tidak terdapat metode pengobatan secara khusus pada penyakit ini. Apabila keadaan ternak baik, masih mau makan minum meski tidak sebanyak biasanya saat sehat, demam tiga harinya akan mulai membaik di hari ke-3 dan sembuh seperti semula pada hari ke 5. Untuk mendukung kondisi tubuh ternak dalam proses penyembuhan, pemberian vitamin A,D,E, B dan C dalam air minum dapat dilakukan oleh peternak selama 3-5 hari.

Saat kondisi demam, sapi lebih sering memilih makanan, lebih menyukai makanan yang segar dan berair seperti hijauan, dan mengacuhkan makanan kering seperti konsentrat. Makanan beraroma kuat, manis dan disukai sapi seperti buah nangka dan jagung muda dapat diberikan untuk meningkatkan nafsu makan ternak, namun tidak berlebihan, cukup sebagai topping atau taburan diatas pakan hijauan.

BEF3

Infeksi Sekunder BEF

Penyakit BEF dapat menjadi berbahaya apabila disertai dengan infeksi sekunder. Saat virus penyebab BEF menurunkan kekebalan tubuh sapi, bakteri disekitarnya akan mudah menginfeksi dan terjadilah demam yang semakin lama dan disertai kondisi ternak yang memburuk setiap harinya. Oleh karena itu, apabila peternak melihat kondisi sapinya semakin lesu, atau tidak menyentuh makanan sama sekali sehari penuh, maka sebaiknya peternak memanggil dokter hewan setempat, sehingga dapat dilakukan terapi infeksi sekunder dan supportif pada hewan penderita.

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.