International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia begitu kaya dengan berbagai macam fauna yang tersebar di seluruh pulaunya. Jutaan spesies hewan menghuni kepulauan ini, beberapa bersifat endemik dan hanya bisa dijumpai di daerah-daerah tertentu. Sayangnya, dari jumlah yang besar ini, tidak sedikit fauna asli Indonesia yang terancam punah akibat berbagai alasan, mulai dari perusakan habitat, perburuan, hingga kehadiran spesies invasif yang berbahaya. Hal ini tentu membuat kita bertanta-tanya, seberapa banyak satwa Indonesia yang benar-benar terancam punah? Hewan apa saja yang benar-benar terancam punah di kepulauan ini?

Tidak semua orang tahu tentang jawaban dari dua pertanyaan di atas. Meskipun sebagian besar masyarakat mengerti tentang terancamnya beberapa jenis hewan ‘tenar’ seperti Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), hanya sedikit yang benar-benar paham tentang status keterancaman satwa di negeri ini. Sebut saja Kukang (Nycticebus sp), primata nokturnal imut yang sebenarnya amat terancam punah dan dilindungi undang-undang, tapi masih sering dijumpai di pasar hewan dan dipelihara oleh masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh ketidak-tahuan masyarakat tentang betapa terancamnya suatu spesies satwa dan status perlindungannya, sehingga permintaan jenis tersebut di pasar hewan selalu bertambah dari waktu ke waktu.

Daftar Merah IUCN (IUCN Red List)

Lantas, bagaimana sih cara mengetahui status konservasi dan tingkat keterancaman suatu satwa di alam?

Salah satu jawaban paling mudah adalah dengan memahami Daftar Merah IUCN (IUCN Red List), daftar paling komprehensif mengenai status keterancaman berbagai spesies organisme yang ada di Bumi. Daftar ini mulai disusun pada tahun 1964 oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), organisasi internasional yang beranggotakan 1200 institusi pemerintah dan non-pemerintah dari seluruh dunia yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Pada tahun 2012, daftar ini berisi sekitar 42000 spesies hewan dan tumbuhan dari berbagai takson di seluruh dunia—termasuk Indonesia.

Dalam IUCN Red List, seluruh organisme digolongkan dalam 7 kategori berdasarkan kemungkinan spesies tersebut untuk punah di masa depan. Penggolongan ini didasarkan pada perkiraan populasi di alam, persebaran alami, habitat dan ekologi, serta berbagai ancaman yang dapat menyebabkan kepunahan bagi spesies tersebut. Hal ini membuat daftar merah IUCN menjadi rujukan utama berbagai kalangan dalam menentukan status perlindungan suatu spesies dan prioritas konservasinya—baik institusi pemerintah, peneliti, organisasi non-profit, dan lain-lain.

Ketujuh kategori dalam IUCN Red List

  1. Low Concern (LC), berisi jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang tidak mengalami keterancaman yang dapat mempengaruhi populasinya secara ekstrem. Jenis organisme yang termasuk dalam kategori ini bisa dikatakan aman dari kepunahan, dengan jumlah populasi yang besar, persebaran yang luas, dan memiliki tingkat adaptasi tinggi. Berbagai hewan yang biasa kita temui di sekitar kita termasuk dalam kategori ini, seperti Burung Gereja (Passer montanus) dan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster).
  2. Near Threatened (NT) atau Low Risk (LR), terdiri atas jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang mulai mengalami keterancaman dengan penurunan populasi yang nyata, meskipun belum mengarah ke kepunahan. Jenis organisme yang termasuk dalam kategori ini biasanya mengalami tren penurunan jumlah di alam, namun populasinya masih cukup besar dengan kemungkinan punah yang kecil. Meskipun begitu, ancaman yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan penurunan populasi yang lebih besar, sehingga spesies tersebut dapat dinaikan statusnya ke kategori selanjutnya (Vulnurable). Di Indonesia terdapat sekitar 388 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, beberapa di antaranya adalah Walet Gunung (Collocalia vulcanorum), Itik Benjut (Anas gibberifrons), dan Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus).
  3. Vulnurable (VU), merupakan kategori organisme yang mulai menunjukan keterancaman yang serius dengan trend penurunan populasi yang sangat tajam. Jenis-jenis hewan dan tumbuhan di kategori ini belum tentu bisa punah dalam waktu dekat, namun bila ancaman dibiarkan dapat menyebabkan keberadaan spesies ini semakin terancam dan statusnya dapat dinaikan ke kategori selanjutnya, Edangered. Terdapat sekitar 550 jenis hewan di Indonesia yang berada di kategori ini, seperti berbagai macam karang (Acropora sp), Kuskus Beruang (Auilorps ursinus) dan Luntur Gunung (Apalharpactes reindwardtii).
  4. Edangered (EN), berisi jenis-jenis organisme yang keberadaanya di alam benar-benar terancam dan dengan kemungkinan punah lebih dari 50% dalam 20 tahun ke depan. Organisme dalam kategori ini biasanya dilindungi oleh undang-undang, dan memiliki populasi yang kecil dengan persebaran yang terbatas. Ada 195 spesies satwa yang termasuk dalam kategori ini di Indonesia, seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), Paus Fin (Balaenoptera physalus), Banteng (Bos javanicus), Anoa dataran rendah (Bubalus depresicornis), dan Penyu Hijau (Chelonia mydas).
  5. Critically Edangered (CR), merupakan kategori yang sangat kritis dan berisi berbagai jenis satwa dan tumbuhan yang sangat rentan terhadap kepunahan. Spesies yang termasuk dalam kategori ini bisa punah dalam waktu dekat, dengan populasi yang sangat kecil, persebaran yang sangat terbatas, dan ancaman yang benar-benar besar. Satwa yang termasuk dalam kategori ini sebagian besar dilindungi oleh undang-undang dan dilarang untuk dipelihara atau diperjual-belikan. Indonesia memiliki 72 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, beberapa diantaranya cukup terkenal seperti Orangutan Sumatra (Pongo abelii), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), dan Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea).
  6. Extinct in Wild (EW), salah satu kategori terburuk dimana tidak ada lagi populasi yang tersisa dari spesies tersebut di alam, namun masih ada beberapa individu yang hidup di penangkaran. Spesies dalam kategori ini tidak ditemui lagi di habitat aslinya dalam waktu yang lama, sehingga dianggap telah punah secara ekologis. Terkadang, suatu spesies dapat diturunkan statusnya dari kategori ini ketika individu di penangkaran berkembang biak dan dilepasliarkan di alam, atau ditemukan populasi yang masih tersisa di habitat aslinya. Contoh: Kondor Kalifornia (Gymnogyps californianus) di Amerika Serikat sempat dinyatakan punah di alam pada tahun 1987, sebelum usaha captive breeding yang dilakukan pemerintah membuahkan hasil berupa beberapa individu yang dilepaskan kembali ke alam, menurunkan statusnya menjadi Critically Edangered.
  7. Extinct (EX), merupakan kategori paling buruk dan berisi jenis-jenis satwa dan tumbuhan yang benar-benar dianggap punah, baik di alam maupun di penangkaran. Organisme dalam kategori ini dianggap telah hilang dari muka bumi secara keseluruhan, meskipun ada kemungkinan beberapa individu yang tersisa di alam. Pada tingkat spesies, Indonesia hanya memiliki 2 jenis satwa yang termasuk dalam kategori ini, yaitu Coryphomis buehleri (tikus raksasa) dan Macrobrachium leptodactylus (sejenis udang air tawar), namun pada tingkat subspesies terdapat beberapa nama yang cukup dikenal masyarakat, seperti Harimau Jawa (Pantherra tigris sondaicus) dan Harimau bali (P. t. balica).

Perlu dipahami: Satwa Liar Bukan Hewan Peliharaan

Selain ketujuh kategori di atas, ada juga 2 kategori tambahan bagi jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang masih belum jelas statusnya, yaitu Not Evaluated (NE) dan Data Deficient (DD). Not Evaluated berisi daftar jenis organisme yang belum diketahui informasi apapun mengenai populasinya, sementara Data Deficient merupakan kategori organisme dengan hasil penelitian yang minim. Organisme dalam kategori ini belum tentu langka atau sebaliknya, namun sulit untuk diteliti karena pemalu atau sebab alasan lainnya. Salah satu contoh hewan Indonesia yang termasuk dalam kategori ini adalah Kancil Jawa (Tragulus javanicus), rusa pemalu yang sangat sulit ditemukan di habitat aslinya.

Nah, begitulah sedikit penjelasan tentang IUCN Red List, standar kelangkaan dan keterancaman satwa di seluruh dunia. Dengan pengetahuan tentang daftar ini, Anda bisa mengerti tentang satwa apa saja yang terancam di Indonesia dan mengetahui status konservasi satwa tersebut. Sebagai pecinta satwa yang baik, ada baiknya kita tidak memelihara satwa liar apapun, apalagi satwa langka yang termasuk dalam kategori terancam seperti yang dijelaskan di atas. Bila Anda menemukan satwa langka yang dipelihara atau diperjual-belikan, segera laporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat untuk ditindak dan dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Untuk mengetahui daftar lengkap mengenai tingkat keterancaman suatu spesies, Anda bisa mengunjungi situs IUCN Red list di http://iucnredlist.org. Semoga satwa liar Indonesia tetap lestari selamanya!

Sumber: IUCN Red List

 

Panji Gusti Akbar