Regulasi Perdagangan Satwa Internasional

Trenggiling (Manis javanica)

Trenggiling (Manis javanica)

Beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas soal IUCN Red List, standar kelangkaan satwa di dunia. Dari daftar ini, kita bisa mengetahui bagaimana status suatu spesies makhluk hidup di alam—terancam punah, punah di alam, atau aman-aman saja. Hal ini tentu sangat penting untuk diperhatikan para pecinta satwa agar bisa dengan bijak memilih satwa yang ingin dipelihara, sehingga tidak mengganggu populasinya di alam. Dengan memahami regulasi nasional dan international, kita juga bisa serta berperan aktif dalam mencegah perdagangan satwa langka di Indonesia, sehingga satwa-satwa yang luar biasa tersebut masih bisa memenuhi perannya yang penting di ekosistem.

Bicara soal perdagangan satwa liar, sebenarnya ada satu sistem lagi yang kita pahami untuk mengetahui legalitas aktifitas jual-beli satwa dan tumbuhan secara internasional—disebut sebagai CITES (Convention on International Trade of Edangered Species). Berbeda dengan IUCN yang merupakan sebuah lembaga internasional, CITES merupakan perjanjian multilateral (antar-negara) yang mengatur perdagangan satwa liar yang disepakati oleh 180 negara di dunia, termasuk Indonesia (diratifikasi dalam Keputusan Pemerintah no. 43 tahun 1978). Tujuan dari kesepakatan ini adalah melindungi spesies-spesies langka yang terancam punah terutama akibat perburuan dan perdagangan, baik hidup maupun mati—seperti badak dan gajah yang diburu karena permintaan yang tinggi terhadap cula dan gading mereka.

Nah, dalam konvensi ini terdapat skala prioritas yang hampir mirip seperti skala keterancaman IUCN, hanya saja lebih sederhana dan hanya terdiri dari 4 kategori yang disebut sebagai Appendix. Masing-masing kategori memiliki peraturan dengan tingkat keketatan yang berbeda, tergantung dari tingkat keterancaman spesies tersebut dan seberapa besar pengaruh perdagangan internasional terhadap populasi globalnya. Semakin tinggi tingkatannya, spesies tersebut semakin dilarang untuk diperjualbelikan secara internasional, baik dalam keadaan hidup atau mati, dan baik dalam keadaan utuh ataupun fragmen tubuhnya (misal, cula badak, gading gajah dan kulit harimau). Nah, penasaran kan kategori apa saja yang ada di konvensi ini? Yuk kita bahas!

CITES (Convention on International Trade of Edangered Species)

  1. Appendix I

Terdiri dari sekitar 1200 spesies hewan dan tumbuhan, dan menempati prioritas tertinggi di konvensi ini. Spesies yang termasuk dalam Appendix 1 pada dasarnya dilarang untuk diperjualbelikan di lingkungan internasional, kecuali untuk tujuan tertentu seperti penelitian dan konservasi eks-situ. Hampir seluruh spesies yang termasuk dalam daftar ini dilindungi oleh undang-undang negaranya masing-masing, termasuk di Indonesia. Beberapa contoh dari satwa yang termasuk dalam daftar ini antara lain Kukang (Nycticebus spp), Gajah Asia (Elephas maximus), Badak Sumatra (Dirhinocreros sumatrae), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Harimau Sumatra (Pantherra tigris sumatrae), dan kedua jenis Orangutan (Pongo pygmaeus dan P. abelii).

Diperlukan izin expor dan impor yang ketat untuk memindahkan spesies dari daftar ini dari satu negara ke negara lain. Negara pengekspor harus memeriksa bahwa izin impor dari negara pengimpor sudah benar, dan memasikan negara tersebut mampu merawat satwanya dengan baik. Khusus untuk keturunan dari satwa liar Appendix I yang dilahirkan di dalam penangkaran, statusnya turun menjadi Appendix II dengan sistem regulasi yang lebih longgar—namun bukan berarti bisa dijual bebas dari satu negara ke negara lain.

  1. Appendix II

Terdiri dari 21000 spesies, dan merupakan prioritas perlindungan kedua setelah Appendix 1. Spesies dalam daftar  ini tidak benar-benar terancam kepunahan, namun bisa saja terancam apabila tidak ada regulasi yang ketat mengenai perdagangannya. Selain itu, keturunan dari satwa Appendix 1 yang dilahirkan/ditetaskan di penangkaran juga termasuk dalam kategori ini. Beberapa contoh dari satwa di kategori Appendix II antara lain Paok Pancawarna (Pitta guajana), Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus), Tiong Emas (Graculus religiosa) Trenggiling (Manis javanica) dan Tarsius (Tarsius spp).

Sama seperti Appendix I, pemindahan satwa dalam kategori ini diatur dalam sistem regulasi yang ketat, namun dalam batasan tertentu dapat diperjual-belikan untuk kepentingan komersial. Diperlukan surat-surat yang lengkap untuk dapat mengekspor individu atau bagian tubuh satwa tersebut dari suatu negara anggota, namun tidak selalu membutuhkan izin impor untuk memasuki negara lain (tergantung kebijakan negara masing-masing). Spesies di kategori ini pada dasarnya masih diperjualbelikan setiap tahun, namun suatu saat bisa statusnya dinaikan ke Appendix I.

  1. Appendix III

Terdiri dari 150 jenis satwa dan tumbuhan. Berbeda dari kedua kategori sebelumnya, spesies-spesies di daftar ini disarankan oleh negara anggota yang berusaha melindungi spesies tersebut di wilayah payung hukumnya masing-masing, dan memerlukan kerjasama negara lainnya untuk membatasi perdagangan spesies tersebut di dunia internasional. Spesies yang termasuk dalam daftar ini perdagangannya dibatasi dari negara pengusul, namun biasanya tidak dibatasi di negara lain. Tidak ada satupun satwa dari Indonesia yang masuk ke dalam kategori ini.

  1. Non-appendix

Seluruh spesies satwa dan tumbuhan selain daftar termasuk dalam kategori ini dan bisa diperdagangkan bebas secara internaisonal, meskipun ada kemungkinan statusnya ditingkatkan di masa depan.

Nah, bila Anda berniat untuk mengimpor atau mengekspor hewan tertentu, ada baiknya Anda memahami peraturan ini. Perlu diperhatikan bahwa meskipun suatu satwa bisa diperjualbelikan secara internasional, belum tentu satwa tersebut benar-benar legal untuk dipelihara dan diperjualbelikan secara nasional sesuai perundang-undangan (misalnya, burung-madu dari famili Nectarinidae termasuk non-appendix namun dilindungi oleh undang-undang). Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai jenis hewan yang termasuk dalam kategori tertentu, Anda bisa mengunjungi situs resmi CITES (http://www.cites.org/eng/app/appendices.php) atau bertanya pada organisasi konservasi satwa di kota Anda.

Mari, kita lindungi satwa liar asli Indonesia!

 

Panji Gusti Akbar