Tips Memaksimalkan Produksi Telur Unggas

PecintaSatwa.com – Telur sudah menjadi makanan sehari-hari kita, sebagai salah satu sumber protein utama selain daging dan susu, karena itu industry peternakan ayam petelur sedemikan getol mengembangan bisnis hingga dapat mencapai hasil maksimal untuk memenuhi permintaan pasar yang tiada habisnya, salah satu jalan ditempuh adalah dengan mengembangkan teknologi pemeliharaan untuk meningkatkan performa produksi ayam, salah satunya dengan pengaturan sistem pencahayaan dalam  pemeliharaan ayam untuk meningkatkan jumlah telur yang dihasilkan setiap harinya. Bagaimana caranya? (Simak: Beberapa Penyebab Produksi Telor Ayam Menurun)

Peran Cahaya dalam Meningkatkan Produksi Telur

Bagi bangsa unggas seperti ayam, cahaya memiliki beberapa peran penting, yaitu untuk fungsi penglihatan, sintesis vitamin D dan pelepasan hormon. Peran penting dalam mekanisme pelepasan hormon sudah terjadi sejak awal kehidupan unggas. Sebagaimana yang telah dilakukan para peternak yang memberikan lampu pada anak-anak ayam yang baru menetas (fase starter), selain berfungsi sebagai penghangat, cahaya lampu tersebut dapat memicu keluarnya hormon pertumbuhan pada anak ayam sehingga ia dapat mengkonsumsi pakan lebih banyak dengan konversi maksimal sehingga tumbuh pesat. Di masa-masa pertumbuhan berikutnya (fase grower), peran cahaya lebih khusus lagi, selain memicu hormon-hormon pertumbuhan, cahaya juga merangsang keluarnya hormon-hormon reproduksi yang dapat mempercepat atau  mencegah tertundanya dewasa kelamin, sehingga unggas dapat segera menghasilkan  telur-telur yang berkualitas. Selanjutnya bagaimana bisa penambahan cahaya dapat meningkatkan produksi  telur unggas dibandingkan dengan unggas yang hanya mendapatkan cahaya matahari?

Perpanjangan waktu pencahayaan bagi unggas terus berlanjut hingga fase produksinya (layer). Unggas-unggas yang diberi pencahayaan matahari dan lampu tambahan atau lampu saja lebih dari 12 jam terbukti dapat meningkatkan produksi telurnya hingga 20-35% . Hal ini terjadi karena cahaya yang diterima oleh retina mata mempengaruhi otak unggas, tepatnya pada kelenjar pineal. Hormon melantonin yang dihasilkan oleh kelenjar pineal akan tertahan, sehingga kadarnya dalam plasma darah tidak berlebihan. Rendahnya kadar hormon melantonin dalam tubuh unggas merangsang hipotalamus untuk memproduksi hormon GnRH (Gonadotropin releasing hormon), hormon ini akan menstimulasi hipofisa anterior untuk meningkatkan produksi FSH (Follicle stimulating hormon) dan LH (Leutening hormon).

FSH dan LH merupakan hormon-hormon yang berpengaruh vital pada produksi telur. FSH akan  merangsang pematangan sel telur dalam indung telur, peningkatan hormon FSH dapat membuat bakal telur yang terbentuk semakin banyak, di samping itu tingginya jumlah sel telur yang matang juga meningkatkan produksi hormon estrogen dan progesterone yang juga andil peran penting dalam kinerja reproduksi.

Setelah FSH bekerja, selanjutanya giliran hormon LH yang beraksi. LH akan merangsang terjadinya ovulasi atau terlontarnya sel telur matang (oosit) dari indung telur ke saluran reproduksi bagian oviduk, uterus, hingga kloaka. Dalam saluran-saluran tersebut, oosit akan menyempurnakan wujudnya menjadi telur seutuhnya, seperti pertambahan komponen putih telur dan pembentukan kerabang / kulit telur. Setelah telur sempurna terbentuk dengan cangkang yang kuat, maka akan segera dikeluarakan melalui kloaka oleh unggas tersebut, proses ini lah yang disebut dengan “bertelur”. (Baca: Tips Pembersihan Kandang Unggas)

Secara alami, jika diperlihara dengan ventilasi pencahayaan yang baik, unggas di daerah tropis seperti Indonesia telah mendapatkan sekitar 12 jam cahaya matahari. Berdasarkan beberapa penelitian  terdahulu yang dilakukan, untuk memaksimalkan produksi telur unggas, lamanya pencahayaan dapat ditingkatkan hingga 16-17 jam, dengan rincian 12 jam cahaya matahari ditambah 4-5 jam  pencahayaan lampu, atau dapat juga 16-17 jam penuh dengan cahaya lampu berintensitas 5 lux dan pakan dengan kadar protein kasar lebih dari 22,5%. Literature lain menyebutkan lamanya pencahayaan dapat ditingkatkan hingga 20 jam. Akan tetapi, lamanya cahaya yang diterima oleh unggas tidak disarankan hingga 24 jam, karena unggas membutuhkan waktu untuk beristirahat, apabila  hal ini diabaikan, akan terjadi stress fisik yang berpengaruh besar pada produksi telur dan kesehatan unggas secara umum.

yuk kita panen telur… (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.