Cara Memelihara Ulat Sutra

Sahabat PESAT masih ingat pelajaran sejarah di masa pendidikan dasar? Tentang jalan Sutera??. Ya! Benar, jalur perdagangan yang awal mulanya digunakan para saudagar kain sutera mendistribusikan komoditasnya dari Cina ke dunia belahan lain melalui jalur darat, sekitar tahun 2500 SM. Lampau sekali bukan?

Kain sutera, memang sangat berharga sejak jaman dahulu kala. Kain ini berasal dari serat-serat yang dihasilkan oleh ulat sutera, jenis serangga penghasil serat berkualitas sebagai bahan textil. Selain negeri tirai bambu, Indonesia juga merupakan salah satu negeri yang cocok untuk tumbuh kembang jenis serangga ini. Keadaan iklim dan alam yang mendukung disertai dengan tumbuhnya pohon murbey dengan pesat dan baik di tanah air kita menjadi si ulat produsen bahan kain mahal ini kerasan.

Ulat Sutera termasuk jenis serangga dengan tipe metamorfosis yang sempurna. Berawal dari telur, menjadi larva, kemudian kepompong (pupa), hingga akhirnya menjadi ngengat dewasa. Dari satu fase ke fase lainnya, ulat sutera akan melakukan “pertapaan”, yakni fase istirahat atau dorman tanpa makan.

Klasifikasi Ulat Sutra

Di alam, ulat sutera diklasifikasikan menjadi beberapa ras, meliputi:

  1. ulat sutera ras Cina (Antherea pernyi),
  2. Eropa (Phylosamia cynthia dan Ricini hutt),
  3. Jepang ( yamamai) dan
  4. India ( Mylitta)

Keunggulan ulat sutera ras jepang dan eropa  terletak pada umur produksi dan produktivitas yang tinggi, ras Cina pada katahan tubuhnya terhadap penyakit.

Budidaya Ulat Sutra Bombyx mori

Meningkatkan Produksi Ulat SutraRas-ras ulat sutera tersebut merupakan jenis spesies ulat sutera liar, sedangkan jenis ulat sutera yang umum dibudidayakan adalah  Bombyx mori.

Berdasarkan dari banyaknya keturunan yang dihaslkan setiap tahunnya, Bombyx mori  digolongkan menjadi 3, diantaranya:

  1. mutivoltien (mengalami lebih dari dua generasi),
  2. bivoltine (dua generasi pertahun), dan
  3. univoltine (satu generasi setiap tahun).

Ulat sutera ini juga mengalami empat kali pergantian kulit (tetramoulters) pada tahap larva di fase “semedi” dan lima kali masa instar (makan).

Siklus dan masa hidup ulat sutera sangat bergantung pada faktor-faktor alam disekitarnya seperti kelembapan, intensitas cayaha dan suhu. Sifat resisten suhu pada tubuh ulat sutera merupakan faktor genetik yang diturUnkan dari generasi ke generasi, ada yang rentan, ada pula yang resisten. Karena itu seleksi individu sangat penting dilakukan pada saat awal usaha budi daya ulat sutera, agar didapat populasi unggul dengan ketahanan tubuh yang baik dan resisten terhadap temperatur tinggi, khususnya di Indonesia yang beriklim tropis.

Meningkatkan Produksi Ulat Sutra

Pada tahun 2010, Negeri kita memiliki lahan perkebunan murbei seluas 8.500 ha. Lahan tersebut sekaligus digunakan dalam proses pemeliharaan, pemintalan serat, hingga penenunan kain sutera.  Sayangnya produktivitas kebun murbei Indonesia masih jauh dibawah Cina yang dapat mencapai 12-16 ton/ha/tahun dan kolombia hingga 20-36 ton/ha/tahun, sedangkan produksi dalam negeri hanya berkisar 7-10 ton/ha/tahun

Untuk mengatasi hal tersebut, barbagai penelitian banyak dilakukan untuk memaksimalkan produksi ulat sutera dalam negeri, salah satunya adalah dengan modifikasi pakan ulat sutera. Sebagaimana dengan penelitian yang dilakukan oleh Masitta Tanjung (2010) dengan penambahan Giberelin pada pakan ulat sutera untuk merangsang pertumbuhan dan meningktakan produktivitas ulat sutera. Giberelin (GA3) sendiri merupakan growth factor bagi tumbuhan yang berbentuk hormon. Hormon ini terbukti juga dapat meningkatkan produktivitas ulat sutera dan memacu pertumbuhannya.

Banyak tumbuhan yang memiliki kandungan Giberelin yang cukup tinggi, diantaranya: daun Fragaria xannassa, Abies alba, Pisum sativum, dan biji  Arabidopsis thaliana. Suplementasi giberelin dengan dosis tertentu pada pakan dapat meningkatkan bobot dan presentase kulit kokon pada ulat sutera sehingga meningkatkan panen serat-serat bahan benang sutera dari 17,5% menjadi 23,4% per kokon ulat sutera. Kualitas filamen yang dihasilkan pun mengalami peningkatan yang cukup drastis, meliputi panjangnya dan juga persentase filamennya lebih dari 25% dibandingkan hasil dari ulat sutera dengan pemeliharaan standard.

Tertarik untuk mencoba?

 

Kontributor: Herinda Pertiwi, drh., M.Si.