Meningkatkan Budidaya Udang Vanami

Budidaya vanami memiliki prospek yang tinggi dengan metode pemeliharaan yang kian bertambah pesat. Seiring dengan pengetahuan para pembudidaya vanami, dampak positif dari produksi vanami dapat dirasakan dan mampu mencukupi permintaan pasar. Bahkan, beberapa negara produsen vanami sedang berlomba-lomba untuk mengurangi ketergantungan warganya dengan sumber protein alternatif dari hasil panen vanami ini. Pertimbangan bahwa konsumsi lauk dari vanami dapat menggantikan sumber protein hewani lain merupakan salah satu upaya memanfaatkan kelebihan dari meningkatnya hasil panen vanami.

Baca: Vanami – Udang Populer yang mudah Dibudidaya

Namun, patut diketahui bagaimana cara mempertahankan produksi vanami agar tetap tinggi. Pengendalian terhadap penyakit yang sering menyerang vanami harus menjadi prioritas penting disamping manajemen yang baik untuk mencegah mewabahnya penyakit vanami. Berikut ini beragam jenis penyakit yang sering menjadi penyebab menurunnya kualitas produksi vanami :

White Spot Disease (WSD)

Vanami white spot

Vanami white spot

 

Dikenal juga sebagai penyakit White Spot Boone Virus (WSBV) dan White Spot Syndrome Virus (WSSV) karena disebabkan oleh agen infeksi yang sama yakni famili Nimavirus. Penyakit WSD ini bersifat akut dengan manifestasi klinis berupa penurunan rasio konsumsi pakan pada vanami, letalergi, dan kematian mencapai 100% dalam 3-10 hari.

Tanda spesifik akan ditemukan white spot pada kutikula dengan diameter 0,5-2,0 mm. Beberapa cara pencegahan penyakit WSD yang dapat dilakukan, yakni dengan memilih induk vanami yang bebas dari carrier WSD, melakukan desinfeksi kolam dengan formalin dan iodin, mempertahankan suhu air minimal 30°C, mencegah perubahan volume air secara mendadak, dan mendesinfeksi peralatan yang menunjang budidaya vanami. Penyakit WSD ini bisa menjadi wabah dan bila terjadi pada salah satu kolam dianjurkan untuk mendesinfeksi dengan 30 ppm klorin agar tidak menyebar ke kolam yang lain.

Taura Syndrome (TS)

Vanami Taura syndrome

Vanami Taura syndrome

 

Taura syndrome disebabkan oleh virus famili RNA Picornaviridae. Penyakit ini terjadi pada benih vanami usia 5-20 setelah ditebar di kolam. Taura syndrome ini bersifat kronis selama beberapa bulan dengan ditandai kekosongan antara kutikula dan tubuh, daging tidak berisi, serta akan ditemukan lesi merah di dalam kutikula. Akibat Taura syndrom ini kematian dapat terjadi sekitar 5-95%. Pencegahan penyakit Taura syndrome ini lebih kepada upaya biosecurity dengan desinfeksi pada semua peralatan budidaya, dan mencegah adanya burung sebagai vektor yang mendekat ke kolam. Semua upaya pencegahan itu tentu harus didukung dengan pemilihan bibit vanami yang bebas dari Taura syndrome dari pusat perbenihan.

Infectious Hypodermal & Hematopoietic Necrosis (IHHNV)

Vanami IHHNV

Vanami IHHNV

 

Disebabkan oleh Parvovirus dengan manifestasi klinis penurunan konsumsi pakan, deformitas kutikula dan struktur tubuh, serta penurunan berat panen vanami yang signifikan. Penyakit IHHNV ini memiliki angka kematian yang rendah. Angka morbiditasnya / penyebarannya juga berada <30% dari total populasi dalam satu kolam. Pencegahan dapat dilakukan dengan memprioritaskan aspek biosecurity yang sama seperti pada penyakit vanami lain.

Baculoviral Midgut Gland Necrosis (BMN)

Vanami Baculoviral

Vanami Baculoviral

 

Enteric baculovirus merupakan agen infeksi utama dengan menyerang stadium larva dan post larva vanami. Penyakit BMN ini mengakibatkan angka kematian yang tinggi dan akan tampak mengapung pada kolam. Manifestasi klinis penyakit BMN ini yang paling spesifik akan terlihat nekrosis jaringan tubulus epitel dan kekeruhan pada hepatopankreas. Indukan vanami yang positif BMN merupakan sumber utama wabah dalam satu kolam. Dianjurkan untuk memisahkan telur dari feses dengan mencuci menggunakan iodin. Penggunaan sumber air yang bersih serta mendesinfeksi peralatan budidaya akan mencegah wabah enteric baculovirus.

Vibriosis

Vanami Vibrio

Vanami Vibrio

 

Jenis penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi dan Vibrio parahaemolyticus. Vibriosis ini juga dikenal dengan nama lain luminescence; zoea-2; atau bolitas syndrome. Pada saat larva lebih sering dikenal sebagai luminescence yang dapat mengakibatkan kekerdilan dan angka kematian yang tinggi.

 

Vibriosis pada vanami dewasa akan tampak kemerahan terutama pada ekor. Saat dilakukan pembedahan akan tampak jaringan nekrosis dan penurunan kualitas daging akibat infeksi kronis vibrio. Pencegahan dapat dilakukan saat masa hatchery dengan mendesinfeksi peralatan, menjaga kualitas air, dan menutup kolam dengan plastik sheet untuk mencegah cemaran dari luar. Pada kolam budidaya vanami dewasa dapat dilakukan dengan memberi aerasi dan penyebaran vanami untuk mengurangi kepadatand dalam satu kolam. Hal yang paling efektif untuk mencegah beragam penyakit vanami adalah dengan manajemen biosecurity yang benar.

Referensi :

Taw, N. 2005. Indonesia Shrimp Production. Presented in the Indonesian shrimp farmers session of World Aquaculture

Walkel, PJ. and Winton, JR. 2010. Emerging viral disease of fish and shrimp. Biomed Cent 41(6):51

Simak pula : Lumba-lumba Humpback

 

Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, drh., M.Si.
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master Biologi Reproduksi UNAIR (2014), Praktisi Large Animal (Beef Cattle) & Aquatic Animal dan Dosen Dep. Reproduksi Fak. Kedokteran Hewan UNAIR Banyuwangi.