Penyebab Canine Distemper Anjing

PecintaSatwa.comCanine Distemper merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus, hingga saat ini belum ada pengobatan yang efektif untuk mengatasinya, hanya terapi supportif yang dapat dilakukan, dengan harapan stamina dan kondisi tubuh anjing dapat optimal sehingga antibody tubuhnya mampu melawan virus yang menyebar di dalam tubuh.

Canine Distemper biasanya menyerang anjing, namun beberapa spesies hewan liar ternyata juga peka terhadap penyakit ini, seperri rakun, serigala, dan golongan anjing liar lainnya. Selain itu, hewan peliharaan dirumah dan ferret dapat juga menjadi pembawa agen penyakit tanpa menyebabkan sakit pada dirinya sendiri (carriers). ( Simak: Beberapa keadaan Darurat pada Anjing)

Virus penyebab Canine Distemper termasuk kelas Morbilivirus family Paramyxoviridae, bersama dengan measles virus yang menyerang manusia, dan Rinderpest virus pada bangsa sapi. Anak anjing yang belum tervaksinasi, dan anjing dewasa yang rendah kekebalan tubuhnya lebih rentan terhadapa Canine Distemper.

Penyebaran Virus Distemper

Virus distemper menyebar melalui udara, dan menginfeksi anjing baik secara langsung maupun tidak langsung (dapat menempel, pada bedding, karpet dan lingkungan lainnya). Virus ini akan menyerang kelenjar tonsil dan kelenjar limpa, di dalamnya ia akan memperbanyak diri selama kurang lebih satu minggu, kemudian secara progresif virus-virus tersebut akan menyerang organ pernafasan, perkemihan, pencernaan dan system syaraf.

Pada kejadian penyakit yang mulai parah, akan menunjukkan gejala demam tinggi (39,7oC atau lebih), mata kemerahan, dan leleran encer dari mata dan hidung. Anjing penderita biasanya akan terlihat lemah, lethargic dan kehilangan nafsu makan. Terus menerus batuk, muntah dan diare dapat pula terjadi pada kasus ini. Pada level penyakit yang sudah menyerang system syaraf, anjing dapat menunjukkan gejala, kejang, gemetar, inkordinasi, kelumpuhan dan histeris. (Perlu juga: Waspadai Demodekosis – Parasit pada Anjing)

Telapak Kaki Menebal

Telapak Kaki Menebal

Canine Distemper juga dapat menyebabkan telapak kaki anjing membesar, menebal, dan mengeras secara abnormal, sehingga penyakit ini juga disebut sebagai hard pad disease. Pada anjing atau hewan lainnya yang memiliki imunitas rendah, kematian mungkin akan terjadi setelah 2-5 minggu setelah infeksi virus.

Diagnosa dan Pengobatan Canine Distemper

Diagnosa Canine Distemper dapat dilakukan dengan pemeriksaan biokima dan analisa urin, dimana akan menunjukkan penurunan jumlah limfosit (lymphopenia). Tes serologis dapat mendeteksi adanya antibody, namun tes ini tidak dapat membedakan antibody yang timbul karena vaksinasi atau antibody yang dipicu dari paparan virus yang menginfeksi.  Antigen virus kemungkinan dapat dideteksi pada sedimen urin dan vaginal imprints. Gambaran radiografi melalui X-Ray dapat digunakan untuk melihat progress virus pada paru-paru yang biasanya menyebabkan pneumonia. CT Scan dan MRI akan menggambarkan keadaan otak, dan lesi-lesi yang kemungkinan sudah terbentuk di otak dan sel syaraf penderita distemper.

Hingga saat ini belum diketahui obat penawar dari penyakit Canine Distemper. Pengobatan yang dilakukan pada penderita lebih difokuskan pada pengobatan gejala klinis yang tampak dan terapi supportif. Pada anjing yang mengalami diare atau anorexia (kehilangan nafsu makan), terapi cairan akan dilakukan untuk mestabilkan kondisi tubuhnya, begitu pula dengan terapi antibiotic juga akan diberikan untuk mencegah adanya infieksi sekunder yang dapat memperburuk keadaan penderita. Juga akan ditambahkan jenis obat-obatan yang berpengaruh untuk mencegah terjadinya konvulsi dan kejang. (baca juga: Perlunya Vaksinasi pada Anjing dan Kucing)

Pencegahan Canine Distemper

Langkah terbaik untuk menangkal penyakit Canine Distemper adalah dengan melakukan pencegahan sedini mungkin. Tindakan preventif dilakukan dengan vaksinasi rutin, dan segera melakukan isolasi pada anjing terinfeksi. Karena itu, jangan tunggu anjing anda menderita penyakit ini baru anda melakukan vaksinasi, sedini mungkin berikan pengebalan tubuh pada hewan kesayangan anda, dan terus terapkan programnya secara rutin. Semoga Anda dan anjing kesayangan Anda selalu sehat dan bahagia. (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.