Burung Bondol Jawa

Indonesia merupakan salah satu negara prioritas utama dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati karena memiliki keanekaragaman hayati yang paling besar di dunia. Kepulauan Sunda Besar yaitu Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (termasuk Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam) memiliki peran yang sangat penting dalam penyelidikan alam oleh Alfred Russel Wallace pada jaman Ratu Victoria (Mc Kinnon, 1998). Setelah lebih dari seratus lima puluh tahun masa penelitian Wallace hubungan antar fauna yang ada pada saat ini semakin parah karena rusaknya hutan-hutan kita. Jika kita tidak menyusun dokumentasi mengenai penyebaran burung secara cepat dan tepat maka informasi mengenai burung dapat hilang selamanya.

Simak juga: Jenis Burung Kacamata (Pleci)

Burung merupakan salah satu satwa yang dijumpai hampir di setiap tempat dan mempunyai posisi penting sebagai salah satu kekayaan satwa Indonesia. Jenisnya sangat beranekaragam dan masing-masing jenis memiliki nilai keindahan tersendiri. Hidupnya memerlukan syarat-syarat tertentu yaitu adanya kondisi habitat yang cocok dan aman dari segala macam gangguan (Hernowo, 1985).

Ada banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi para petani padi sebelum sampai pada masa panen, salah satu diantaranya adalah masalah hama. Salah satu hama padi yang sangat mengganggu petani adalah burung pemakan padi. Burung pemakan padi ini banyak jenisnya, antara lain burung pipit atau bondol jawa (Lonchura lecogastroides), bondol peking (Lonchura punctulata), bondol haji (Lonchura maja), manyar jambul (Ploceus manyar), manyar emas (Ploceus hypoxanthus), dan burung gereja erasia (Passer montanus) (Sumariadi dkk, 2013).

Jenis Burung Bondol

Jenis burung yang paling tinggi tingkat konsumsinya terhadap gabah adalah burung bondol. Itulah sebabnya burung-burung jenis ini dikatagorikan sebagai burung yang merugikan bagi petani. Burung bondol juga termasuk burung yang mudah bergabung dengan jenis burung lain yang satu spesies dengannya.Setidaknya ada 21 spesies burung bondol. Beberapa diantaranya adalah Bondol peking (Lonchura punctulata) Bondol jawa (Lonchura leucogastroides) Bondol haji (Lonchura maja) Bondol perut-putih (Lonchura leucogastra). Bondol peking (Lonchura leucogastroides) disebut juga bondol dada sisik, pipit pinang, emprit, piit bondol atau Scaly-breasted munia termasuk dalam Famili Estrildidae.

Morfologi Burung Bondol Jawa

Bondol jawa dewasa mempunyai bentuk tubuh padat berukuran kecil (±11 cm), berat 9-10 gr, berwarna coklat hitam dan putih. Tubuh bagian atas coklat tidak berburik, muka dan bagian dada atas hitam bagian samping perut dan bagian rusuk putih bagian bawah ekor coklat gelap. Burung muda dengan dada dan perut coklat kekuningan kotor.

Baca: Cara Menikmati Kicauan tanpa Mengurung

Burung jantan tidak berbeda dengan betina dalam penampakannya. Iris mata coklat; paruh bagian atas kehitaman, paruh bawah abu-abu kebiruan (MacKinnon, 1993). Paruh burung bondol jawa berbentuk kecil, lancip, pipih dengan panjang paruh atas dan bawah hampir sama. Bentuk paruh ini disesuaikan untuk mengambil makanan berupa biji-bijian dan mampu untuk memisahkan kulit luar pembungkus padi maupun biji-bijian kecil lainnya. Sayap butung ini mempunyai bentang sayap ± 16 cm, mempunyai kemempuan terbang rendah dan mengepakkan sayapnya dengan cepat untuk membentuk gerakan seperti melompat dengan jangkauan yang cukup panjang. Bentuk kaki ramping kecil, mempunyai empat jari yang terdiri dari tiga jari berada di posisi depan dan satu jari berada diposisi belakang yang membuat burung ini mampu bertengger pada batang pohon maupun rumput. Masing-masing jari memiliki kuku. Secara fisiologis bondol jawa mempunyai kemiripan dengan jenis burung-finch yang lain. Mempunyai metabolisme yang cepat, denyut jantung sangat cepat sehingga dalam auskultasi jantung sangat sulit untuk menghitungnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hernowo JB dan Prasetyo. 1985. Studi Pengaruh Tanaman Pekarangan Terhadap Keanekaragaman Jenis Burung Daerah Pemukiman Penduduk Perkampungan DI Wilayah Tingkat II Bogor. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Mac Kinnon J., Phillips K,  Van Balen B., 1998. Burung-burung di sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Puslitbang Biologi – LIPI

Sumariadi, Wildian, Yusfi M., 2013. Aplikasi Mikrokontroler AT89S52 Sebagai Pengontrol Sistem Pengusir Burung Pemakan Padi dengan Bunyi Sirine. Jurnal Fisika Unand Vol. 2.

 

Hizriah Alief Jainudin, drh.
Alumni Dokter hewan UGM (2013), Mahasiswa S2 Medis Klinis FKH UGM, Praktisi Pet and Exotic Animal di Sleman Yogyakarta.